Tampilkan postingan dengan label mimbar terbuka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mimbar terbuka. Tampilkan semua postingan

Senin, Maret 11, 2024

Hal-hal yang tidak saya setujui tentang IKN Nusantara

Disusun sekenanya aja, bukan berdasarkan derajat kepentingan. 

1. Keputusan diambil sepihak, bahkan oleh 1 orang. Idealnya ide pemindahan ibu kota melalui referendum atau setidaknya lewat konsultasi dengan DPR.

2. Lokasi terlalu jauh dari Jakarta. Hal ini akan mengakibatkan biaya sosial yang tinggi.

3. Membangun kota dari nol. Akan lebih murah jika ibu kota baru dibuat dengan mengembangkan kota yang sudah ada.

4. Mungkin tidak perlu pindah ibu kota, cukup pindah pusat pemerintahan. Pindah ibu kota punya konsekuensi yang tidak hanya ditanggung pemerintah, tapi juga instansi atau organisasi lain. Misal: (1) kedutaan besar negara lain harus ada di ibu kota. Otomatis mereka harus pindah. (2) Mungkin banyak organisasi yang di AD/ART-nya memuat bahwa kedudukan organisasinya harus ada di ibu kota, misal: PSSI di statutanya menyebutkan bahwa PSSI harus ada di ibu kota (bukan Jakarta). Mereka juga harus pindah. 

5. Nama ibu kota "Nusantara" juga ditetapkan secara sepihak tanpa melalui konsultasi publik seperti poin nomor 1. Selama ini istilah "Nusantara" selalu digunakan sebagai sinonim dari "Indonesia" setelah sebelumnya direduksi dari konsep kenegaraan kerajaan Singosari. Menyebut ibu kota negara baru sebagai "Nusantara" adalah ahistoris, mengerdilkan, dan membingungkan. Sebagai usul, sebaiknya nama IKN tetap menggunakan nama wilayah setempat sebagai bentuk penghormatan kepada warga setempat.

6. Terlalu banyak proyek infrastruktur mercusuar. Cont: istana negara. Selain mahal, proyek seperti ini juga kurang fungsional. Penggambaran IKN selama ini lebih banyak dinarasikan sebagai suatu tempat yang "wah" dan menarik untuk dikunjungi. Lebih mirip membangun kota wisata ketimbang pusat pemerintahan. 

Jumat, Juni 09, 2017

Warisan, Tapi Bukan yang Itu

Kebetulan saja kita lahir di Indonesia, jadi bisa pasang avatar "Aku Indonesia, Aku Pancasila". Coba kalo kita lahirnya di Nikaragua, mungkin gak kita teriak-teriak bilang "Aku Nikaragua, Aku Pancasila"?

Kita gak bisa milih lahir di mana, dari rahim siapa. Ke-Indonesia-an kita ini warisan. Pancasilanya juga warisan. Apakah pancasila ini paling benar? Mungkin gak sih ada yang lebih adiluhung dari Pancasila?

Gak semua orang di dunia ini mewarisi pancasila. Orang-orang di Nikaragua itu contohnya. Terus, patutkah kita mengasihani mereka karena tidak kenal pancasila?

Orang Amerika ga kenal pancasila. Negara mereka menjadi adidaya tanpa pancasila. Mereka liberal. Bertentangan dengan pancasila. Tapi adidaya.

Cina itu komunis. Bertentangan dengan pancasila. Tapi maju.

Setau saya, tidak ada negara maju yang kenal pancasila. Patutkah kita mengasihani mereka karena mereka tidak pancasila? Atau justru mereka yang harusnya mengasihani kita karena Negara Indonesia begini-begini saja.

HTI mau dibubarin (sudah dibubarin?) karena bertentangan dengan pancasila. HTI mau menegakkan khilafah berdasarkan syariat Islam.

Kenapa dilarang? Pancasila lebih hebat dari syariat Islam? Mungkin. Belum ada buktinya.

Tapi kalau ada negara Islam yang pernah mahsyur menjadi pusat peradaban dunia dengan para cendikianya, itu sudah ada buktinya. Haruskah kita mengasihani mereka yang mau menegakkan khilafah? atau justru kita yang harusnya dikasihani?

Bangsa kita, ngeliat Tatan masuk 9gag aja udah menggelinjang setengah mati. Liat ada bule belajar jadi dalang bangganya sampe ke bulan pulang-pergi 3 rit. Kata Om Joko Anwar, bangsa kita terlalu inferior. Orang Amerika ngeliat orang Indonesia pake celana jeans biasa aja. Kita, liat bule pake batik langsung mabuk kepayang.

Kalo kata pak presiden, negara lain sudah bicara mobil fantasi masa depan, spaceX, kita masih sibuk dengan urusan cantrang. Terlalu remeh.

Oke, udah mulai melenceng. Kembali ke pancasila. Kenapa kita gak bisa menerima orang yang berideologi lain. Boleh saja fanatik dengan satu ideologi, tapi jangan berlebihan juga. Yang pancasilais ga perlu ngelarang-larang yang Islamis. Yang Islamis, juga mestinya gak perlu ngelarang-larang yang komunis.

Yang nasionalis dipersekusi. Yang agamis dikriminalisasi. Yang komunis digebuk. Terus siapa yang menang?

Kita bisa hidup rukun dengan orang yang beda agama, tapi kenapa kita gak bisa hidup rukun dengan orang yang beda ideologi?

Kalau beragama itu urusan personal, harusnya berideologi juga. Yang dibutuhin tinggal saling pengertian, kurangi rasa curiga. Sekali lagi kita perlu belajar untuk bisa menerima perbedaan.

Semoga Indonesia bisa segera damai.

*) Tulisan ini dibuat untuk lucu-lucuan menanggapi tulisan berjudul Warisan buatan Afi Nihaya Faradisa yang sempat jadi viral dan kontroversi. Kalau ada yang nanggepin secara serius tulisan ini, ya itu masalah dia sendiri. =)

Jumat, Desember 19, 2014

Atribut Keagamaan, Stereotipe, dan Kebebasan Berkeyakinan

Seperti pernah saya ceritakan sebelumnya, guru agama saya pernah mencubit perut saya karena sholat tanpa peci. Padahal peci bukan syarat sah sholat. Peci juga tidak berfungsi menutupi aurat. Orang yang naik haji saja tidak berpenutup kepala. Lalu kenapa saya harus dicubit? Guru saya sudah mencampuradukkan antara kebudayaan dan ibadah.

Peci bukan bagian dari ibadah sholat. Memang peci kerap dipakai ketika orang sholat. Tapi sebenarnya kehadiran peci tidak lebih penting daripada ketupat yang selalu ambil bagian ketika Idul Fitri. Siapa saja bisa makan ketupat. Siapa pun bisa memakai peci. Bahkan ketika masa orde baru, peci menjadi semacam identitas nasional, bukan atribut keagamaan.

Derajat keimanan seseorang tidak bisa dinilai dari pakai peci atau tidak. Maka tidak mungkin juga mengetahui keyakinan seseorang hanya melalui pakai peci atau tidak. Memang peci identik dengan orang Islam, tapi bukan berarti orang bukan Islam tidak boleh memakai peci. Bukan berarti tiap orang yang memakai peci seketika itu juga tiba-tiba menjadi beragama Islam.

Peci hanya stereotipe. Sama saja dengan topi sinterklas. Sama juga dengan ketupat. Saya yakin penganut agama nasrani di awal-awal penyebarannya pun tidak berdakwah dengan cerita seorang kakek di kutub utara yang tiap akhir tahun berkeliling dunia dalam satu malam memberikan hadiah ke rumah-rumah melalui cerobong asap. Bahkan saya tidak yakin apa ada cerobong asap di rumah-rumah Yerusalem ketika itu. Sama tidak yakinnya apakah konsep kutub utara sudah bisa diterima dengan baik ketika itu. Lha, Galileo Galilei yang lahir belakangan dan mengenalkan konsep bumi itu bulat saja tidak langsung diterima pihak gereja.

Ini simbol salju, bukan simbol keagamaan

Diskusi soal bagaimana seharusnya sikap umat Islam dalam menyikapi natal selalu menjadi perbincangan tiap tahun. “Gak selesai-selesai,” kata orang.

Tentu saja tidak akan pernah selesai, lha wong natalnya memang datang tiap tahun. Jadi wajar saja kalau adu argumen soal bagaimana menyikapi natal oleh umat Islam akan terus dibahas tiap tahun. Tiap Ramadhan juga selalu yang dibahas adalah soal berpuasa agar menjadi orang bertaqwa, tapi tidak ada yang komentar, “temanya ini melulu.”

Semua orang boleh berpendapat, memberikan argumen, dan juga dalil. Yang tidak boleh adalah memaksakan pendapatnya. Jika ada orang Islam yang meyakini bahwa mengucapkan selamat natal itu tidak apa-apa, maka orang lain harus menghormatinya. Boleh mempengaruhinya, menasihatinya, dan mengajaknya diskusi. Tapi tidak perlu melarang-larang sambil membawa pentungan. Cukup diingatkan saja.

Di lain sisi, jika ada orang Islam yang meyakini memakai topi sinterklas itu haram, maka orang lain pun tidak punya hak memaksanya. Sekedar memintanya untuk mengenakan sih boleh saja. Tapi kalau yang bersangkutan menolak, ya jangan dipaksa-paksa, tidak usah disindir-sindir. Apalagi diancam potong gaji, diberi surat peringatan, sampai dipecat.


Lalu bagaimana dengan peringatan natal yang rencananya akan dihadiri oleh presiden –yang adalah muslim-. Harusnya tetap berpulang kepada keyakinan pribadi presiden itu sendiri. Kalau menurutnya tidak apa-apa baginya yang seorang muslim untuk datang ke acara tersebut, ya silahkan saja. Toh peringatan natal bukan bagian dari ibadah natal.

Teman-teman yang bukan Islam pun banyak yang datang ke acara buka puasa bersama atau halal bil halal. Tidak ada yang melarang. Lain halnya kalau orang tersebut ikut sholat Ied, bolehlah dikeluarkan dari shaf.

Namun jika presiden memiliki keyakinan bahwa menghadiri acara tersebut bertentangan dengan ajaran yang dia anut, maka keyakinan presiden ini harus dihormati juga. Tidak perlu merengek-rengek dengan berkata bahwa presiden adalah milik rakyat Indonesia, bukan hanya warga muslim Indonesia. Rasanya muslim manapun, mulai dari yang puritan semacam Habib Rizieq sampai yang paling liberal macam Ulil Abshar pun, tidak akan ambil pusing apakah Ahok akan mengucapkan selamat Idul Fitri atau tidak kepada warga DKI Jakarta.



Kalau ada orang yang menolak mengucapkan selamat hari raya kepada umat agama lain, tidak perlu juga dicap sebagai bigot. Selama orang-orang ini tidak mengganggu ibadah orang lain, tidak menutup paksa rumah ibadah agama lain, ya biarkan saja. Keyakinan itu urusan masing-masing. Beda agama jelas beda cara beribadahnya, namun yang satu keyakinan pun bisa jadi beda cara mengamalkan. Di mana pun letak perbedaannya, yang penting tetap saling menghormati. 

Selasa, November 08, 2011

Jarak Antara Syariat Islam dan Islami


Prof. Komarudin Hidayat sabtu lalu (5 Nov 2011) bikin tulisan di kompas dengan judul "Keislaman Indonesia". Beliau banyak ngutip tulisan "How Islamic are Islamic Countries", tulisan Rehman dan Askari yang dimuat di Global Economy Journal 2010 lalu. Intinya, ternyata Indonesia dan negara-negara OKI umumnya gak lebih Islami daripada negara-negara sekuler yang ada di eropa atau bahkan New Zealand sekalipun.

Sementara gerakan keislaman di Indonesia masih banyak menghabiskan tenaganya untuk melabeli hukum dengan nama "syariat islam", di luar sana, negara yang sekuler justru lebih bisa mengedepankan apa-apa yang disyariatkan oleh Islam tanpa ada label syariat atau bahkan mungkin tanpa pernah mendapatkan referensi mengenai syariat Islam tersebut. Ternyata masih ada jarak antara label syariat dan kehidupan Islami itu sendiri.

Tapi tentunya tetap menarik untuk menyimak kelanjutan Undang-Undang Zakat, Infaq, dan Shodaqoh yang baru saja disahkan DPR. Apakah infiltrasi syariat Islam ke dalam hukum positif Indonesia bisa berhasil atau tidak?

NB: Iseng-iseng, nemu spin off dari How Islamic are Islamic Countries yang lebih menitikberatkan pembahasan ke soal ekonomi, An Economic Islamicity Index. Tentunya sektor ekonomi yang dibahas di sini tidak terbatas hanya soal finansial yang sering menggempur konsep bunga (riba). Ada 12 area yang dijadikan parameter, mulai dari sistem finansial sampai ke pengembangan kemakmuran dan struktur sosial dalam upaya menjamin persamaan hak dalam mendapatkan kemakmuran, kesehatan, dan lain sebagainya.

Jumat, September 23, 2011

Supeltas: Bentuk Komodifikasi dari Kepolisian?


Pernah dengar istilah Supeltas? Kepanjangannya adalah "Sukarelawan Pengatur Lalu Lintas". Dulu biasa dikenal dengan istilah Pak Ogah atau Polisi Cepek. Kegiatannya mengatur lalu lintas di persimpangan sibuk dengan mengharapkan imbalan sukarela dari pengguna jalan.

Seorang Supeltas lengkap dengan atribut rompi hijau khasnya.

Meski dari kegiatan terlihat sama saja, ada perbedaan mendasar antara Supeltas dengan Pak Ogah. Supeltas diakui keberadaannya oleh pihak Kepolisian, sedangkan Pak Ogah tidak. Sebegitu tidak berdayakah polisi kita mengatur lalu lintas sampai-sampai harus mencari "tenaga outsource"?

Setelah di beberapa kota, air bersih mengalami komodifikasi, sekarang giliran pelayanan dari polisi yang juga mengalami komodifikasi. Air dan pelayanan lalu lintas yang harusnya menjadi hak setiap orang kini tidak lagi bisa dinikmati secara percuma.

Luar biasa geliat bisnis "tenaga outsource" di Indonesia. Bahkan sampai-sampai Polri pun menggunakannya. Satu lagi tenaga outsource Polri mungkin adalah apa yang telah disuarakan Wikileaks, FPI. Meskipun berita ini masih terlampau sumir, namun ormas ini disinyalir telah digunakan untuk melakukan "dirty job"-nya Polri.

Jumat, Agustus 12, 2011

(A)Politik dalam Lagu

Sebenarnya iklim kebebasan berpendapat di Bandung sangat baik. Banyak muncul diskursus yang menelurkan dan mengembangkan berbagai jenis pemikiran. Mulai dari yang paling idealis sampai yang paling oportunis. Mulai dari kanan habis sampai kiri mentok.
Manifestonya dalam budaya musik mereka bisa dengan terang kita lihat. Mulai dari musik bling-bling urban sampai sampai shoegaze yang muram. Mulai dari pop yang terkena gejala ADHD sampai metal yang mencekam.
Dari sekian banyak lirik yang mengalir, ada satu catatan mengenai sikap politik yang dipilih oleh sebagian musisi kota Ini. Dari sekian banyak lirik politik yang ada, ternyata pilihan untuk menjadi apolitis adalah tema yang paling jamak diramu dalam nomor-nomor yang dihadirkan.
Saya mencatat pertama kali sikap apolitis tersirat dalam lagu "impresi" yang dibawakan Pas Band. Secara gamblang mereka tidak pernah menyatakan sebagai pribadi yan apolitis, tetapi dari liriknya jelas tersirat hal tersebut.
"Aku sudah bosan dengarkan kata-kata, Aku sudah muak dengarkan ceritamu. Dan aku sudah lelah dengar harapan." (Impresi - Pas Band)
Lagu yang video klipnya dilarang untuk diputar di seluruh stasiun TV nasional ini adalah sebuah pernyataan yang lugas bahwa mereka apolitis tanpa harus menyebut bahwa mereka adalah apolitis.
Sikap ini kemudian dipertebal beberapa belas tahun kemudian ketika kemudian Pas Band mengeluarkan lagu "Jengah". "Jengah" adalah sebuah "Impresi 2.0". Jengah adalah Impresi yang di-remake. Untungnya, remake ini adalah remake yang sukses.
"Kita bosan dengarkan banyak alasan. Kita bosan dengarkan cerita." (Jengah - Pas Band)
Lepas dari Pas Band, sikap apolitis juga dihadirkan oleh Homicide. Grup yang dalam salah satu pertunjukannya menyebut bahwa pilihan ideologi mereka adalah ideologi pertemanan. Entah ideologi macam apa itu.
Homicide adalah sebuah grup hip-hop yang berotakkan budayawan kontemporer bernama Ucok. Entah sudah berapa ratus judul literatur yang dilahap sampai Ia mampu merapalkan sikap apolitisnya dalam ide orang berdasi namun dengan "dialek" preman pasar.
Di banyak lagu, Ia menyatakan berbagai hal, namun muaranya sama, apolitis. Mulai dari ketidakpercayaannya pada demokrasi kotak suara sampai pada ajakannya untuk melawan dengan "botol kecap", sebuah pilihan majas yang unik untuk merujuk pada bom molotov.
Salah satu lirik yang patut menjadi sorotan adalah "Barisan Nisan". Sebuah sajak yang dibalut dengan nada monoton yang membangun suasana mencekam. Sebuah sajak yang bercerita mengenai kegundahan dalam menghadapi hidup. Sebuah perenungan mengenai apa perlunya untuk menjadi pribadi yang peduli terhadap politik versus apolitis.

"Jangan ijinkan aku mendisiplinkan diri ke dalam barisan." (Barisan Nisan - Homicide)
Terakhir adalah Cupumanik. Band grunge ini menjadi pelengkap gerbong musisi apolitis. Dalam lagu "Luka Bernegara", Cupumanik menyatakan sikapnya. Dengan lirik yang naratif namun tetap tak kehilangan keindahan yang puitis, Cupumanik mencoba bercerita mengenai keheranan mereka atas keadaan politik negara mereka. Lirik lagu ini adalah sebuah esai kausalitas mengenai pilihan hidup mereka. Sebuah runutan kejadian dan pembenaran atas sikap mereka.

"Tinggal di negara yang sakit, kami harus menjaga diri kami tetap waras." (Luka Bernegara - Cupumanik)
Menjadi apolitis adalah pilihan. Sebuah pilihan yang biasanya diambil setelah dikecewakan oleh sebuah sistem. Inilah dasar dari seorang anarcho (saya menghindari pemakaian kata anarkis, karena biasanya diasosiasikan dengan keadaan yang kacau-balau). Mengutip perkataan orang lain, "Karena sebaik apapun, sebuah sistem tetap beresiko mati oleh potensi mereka sendiri."

Senin, November 08, 2010

What makes blogger, blogger?

Terafiliasi dalam sebuah komunitas blogger tentu amat menyenangkan. Setidaknya untuk sebagian orang yang menganggapnya demikian. Asyiknya bercengkrama melalui konferensi-konferensi di ruang virtual atau bahkan lewat ajang kopi darat saat ini seakan menjadi kewajiban bagi blogger untuk dianggap eksis (eksis: ada, bermakna). Tapi kemudian muncul sebuah pertanyaan: apa yang menjadi esensi dari seorang blogger. Apakah dengan kopi darat dan tergabung dalam komunitas?
What makes blogger, blogger? Jika pertanyaan ini diajukan ke Saya, tentu Saya akan menjawab, posting. Ya, postingan atau tulisanlah yang membuat seorang blogger menjadi blogger secara kaffah. Blogger yang baik tentunya adalah yang rajin membuat tulisan-tulisan menarik di blog.
Tidak adil jika kemudian kita menilai kualitas blog dari keaktifan sang blogger di dunia nyata. Sama saja kita tidak bisa mengatakan bahwa kualitas suara Stevie Wonder adalah biasa-biasa saja hanya karena dia tidak bisa berkoreografi.
Tentu sebagai seorang manusia, blogger akan lebih baik jika tidak hanya jago berpropaganda di blog, tetapi juga aktif di kehidupan nyata. Namun menilai kualitas blog berbeda dengan menilai kualitas manusia. Ada hal yang tidak boleh dilupakan yaitu kenyataan yang "mengurung" blogger di ranah maya, bukan nyata. Lalu apakah bijak jika kemudiah keaktifan di dunia nyata dijadikan sebagai pertimbangan dalam menentukan kualitas blog seperti yang terjadi pada Blog Award Pesta Blogger+ 2010 yang lalu?


Jumat, Oktober 22, 2010

Bangsa ini butuh waktu untuk memaafkan

Bukan kemurahan maaf dari kita, orang Indonesia kebanyakan, yang menjadi penting. Kemurahan maaf dari mereka yang menjadi korban langsungnyalah yang harusnya menjadi pertimbangan utama. Sesuatu yang mungkin, maaf-maaf saja, tidak akan pernah ditemukan harga jadinya.

Maaf dari mereka yang pernah terkencing-kencing ketika orang tuanya ditarik paksa karena cap komunis. Maaf dari istri orang-orang seperti Wiji Tukul. Juga maaf dari orang tua seperti Herman Hendrawan yang hilang tak tentu rimba hingga saat ini.

Empati kita, yang orang Indonesia kebanyakan, rasanya tidak akan pernah bisa memahami kepiluan yang mereka rasakan. Ini bukan konsensus di mana suara terbanyak yang akan menentukan arah. Tidak adil jika suara kita, yang hanya menikmati swasembada pangan dan kesiapan menuju era tinggal landas, harus diberi harga yang sama dengan suara mereka yang telah didesain dalam keadaan rugi.

Mungkin sulit untuk meminta keikhlasan mereka di generasi ini. Maka hanya waktu yang bisa menyembuhkan. Hanya waktu yang bisa mereduksi kemarahan di tiap kelanjutan generasi kita. Sesuatu yang mungkin tidak akan tercapai dalam dekade ini. Sebuah proses panjang yang sadar tidak sadar telah kita mulai. Sampai waktunya nanti kita bisa dengan ikhlas mengatakan,"Terima kasih, pahlawan."

Senin, April 19, 2010

Remeh, tapi...

Pasca rentetan pengeboman di berbagai wilayah di Indonesia, hampir semua gedung perkantoran dan pusat bisnis di Jakarta memperketat pengamanannya. Satpam lengkap dengan metal detector siap menyambut setiap pengunjung yang hendak memasuki areal gedung.

Lucunya di sebagian gedung yang menerapkan pengamanan model tersebut, apapun hasil analisis metal detector, berbunyi atau tidak berbunyi, tidak berpengaruh terhadap keputusan satpam yang akan selalu mempersilahkan pengunjung untuk masuk ke dalam gedung. Kegiatan pemeriksaan dengan menggunakan metal detector ini seakan menjadi sia-sia. Toh, pada akhirnya semua orang diperbolehkan untuk masuk ke dalam gedung, hanya prosesnya saja yang dipersulit.

Sebagian orang mungkin akan berpikir bahwa lebih baik jika pintu masuk gedung-gedung tersebut tidak perlu memberlakukan proses pemindaian oleh satpam dengan metal detector. Hanya memperbesar biaya operasional saja.

Tentu pendapat tersebut amat tepat jika dilihat dari kacamata seorang pebisnis. Namun dibalik kemubadziran pada pekerjaan remeh tersebut, terselip sebuah manfaat yang tidak terlihat secara kasat mata.

* * *

Angka kemiskinan yang tinggi di Indonesia menjadi masalah tersendiri yang sulit ditangani. Sebagian dari mereka yang yang kurang beruntung karena miskin kemudian seolah mendapatkan penyelesaian jitu dengan jalan pintas, mengemis. Bayangkan saja, tanpa perlu bersusah payah, baik secara fisik maupun pikiran, mereka bisa mengumpulkan puluhan bahkan ratusan ribu rupiah per hari. Bebas potongan pajak pula! Akibatnya, terbentuklah mental-mental pengemis. Parahnya lagi adalah ketika mental-mental seperti itu tertanam pada mereka yang masih berusia belia.

Ketika mental mengemis sudah tertanam, maka mereka akan lupa bahwa sesungguhnya cara terbaik untuk mendapatkan uang adalah dengan berusaha, bukan dengan meminta-minta.

India pernah mengalami masalah yang kurang lebih sama dengan Indonesia, mental mengemis yang tinggi di kalangan masyarakat bawah. Untuk mengatasinya, mereka membuat sebuah program padat karya. Orang-orang usia kerja di sana direkrut untuk bekerja dengan gaji sedikit di bawah upah minimum.

Tolok ukur keberhasilan program ini bukanlah kualitas dari luaran proyek tersebut - setidaknya itu bukan yang paling utama. Tujuan utama proyek ini adalah untuk menumbuhkan semangat kerja di masyarakat mereka. Dengan memudahkan tersedianya pekerjaan, tentu angka pengangguran akan menurun terlebih dahulu. Kemudian selanjutnya, dengan diberikannya upah yang minim, pemerintah mendorong masyarakatnya untuk lebih giat mencari pekerjaan di tempat lain dengan modal pengalaman yang sudah mereka miliki.

Entah program di India tersebut memiliki tujuan yang sama atau tidak dengan pekerjaan-pekerjaan sepele seperti satpam dengan metal detector di Indonesia. Yang pasti, dengan membuat orang merasa sedang bekerja, maka ia telah terhindar dari terbentuknya mental pengemis di dalam dirinya.

Senin, Maret 08, 2010

Bisakah Sholat Jumat di hari Sabtu?

Terkadang, suatu bahasan bisa menjadi tidak jelas dan bias jika dipaparkan melalui sekedar tulisan dan gambar. Beberapa orang menganggap karena kapasitas media tulisan dan gambar tidak cukup untuk menanggung beban bahasan tersebut - padahal ada ungkapan satu gambar dapat menjelaskan seribu kata. Untuk lebih memperjelas sebuah bahasan, maka terkadang dibutuhkan diskusi sehingga terjadi dialog dua arah dari pendonor ke orang yang hendak diberi penjelasan olehnya.

Tulisan saya kali ini pun mungkin akan bernasib demikian, tidak jelas dan bias. Akan tetapi, saya ingin menantang diri saya sendiri untuk bisa menjelaskan sebuah ide yang tidak umum dipahami manusia kebanyakan melalui media yang cenderung satu arah, blog.

Substansi dari tulisan ini sendiri bisa jadi dinilai penting, jika penyampaian saya tepat. Tetapi bisa juga hal ini hanya terlihat sebagai ide konyol yang sebaiknya diacuhkan saja. Mari kita mulai.

Seperti yang kita ketahui, penanggalan yang umum digunakan di dunia adalah penanggalan Gregorian yang mendasarkan perhitungannya pada pergerakan matahari. Dalam perkembangannya, sistem penanggalan ini telah beberapa kali mengalami revisi. Salah satu revisi yang terkenal adalah penambahan satu hari dalam salah satu tahun pada siklus empat tahun. Tahun yang kebagian jatah hari lebih banyak ini kemudian lebih dikenal dengan nama tahun kabisat.

Islam, sebagai agama langitan, tidak menggunakan penanggalan Gregorian, yang penuh revisi dan intervensi manusia, dalam menetapkan hari-hari rayanya. Penanggalan yang digunakan adalah penanggalan Hijriah yang mendasarkan perhitungannya pada pergerakan bulan. Berbeda dengan penanggalan Gregorian, penanggalan Hijriah sampai saat ini masih steril dari intervensi manusia. Salah satu konsekuensinya adalah kesulitan dalam membuat kalender satu tahun penuh di awal tahun. Maka tidak heran jika kemudian banyak umat Islam yang berselisih dalam menentukan hari raya Idul Fitri karena perbedaan hasil metode Hisab dan Ruqyat.

Saya tidak tertarik untuk membahas perselisihan tersebut karena sudah banyak yang memberikan pendapatnya. Namun jika anda tertarik, saya merekomendasikan satu artikel menarik mengenai penentuan hari Idul Fitri yang bisa dilihat di sini.

Permasalahan perbedaan waktu di dalam menentukan waktu-waktu ibadah di dalam Islam sebenarnya bisa menjadi kajian yang menarik. Kebetulan beberapa tahun yang lalu saya tiba-tiba memikirkan,"Daerah pertama di dunia yang memulai hari itu sebenarnya di mana sih?"

Akhirnya saya mendapatkan jawaban dari pertanyaan tersebut. Batas penanggalan dunia ada di garis bujur 180°. Garis batas ini adalah garis maya yang di beberapa bagian meliuk-liuk untuk disesuaikan dengan garis batas negara yang bersangkutan. Beberapa revisi untuk garis ini terjadi pada perbatasan Rusia - Amerika Serikat di Selat Bering dan di perbatasan Kiribati - Amerika Serikat. Garis batas penanggalan yang jelas dapat anda lihat dengan mengklik gambar di bawah ini.

Garis Batas Penanggalan Hari. Klik untuk memperbesar Gambar.
(Sumber: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/6/61/International_Date_Line.png)

Garis maya hasil kesepakatan orang-orang inilah yang kemudian menjadi batas hari. Seberapa signifikan garis tersebut? Ferdinand Magellan pernah dibuat bingung ketika mengelilingi bumi ke arah barat karena ketika dia sampai di titik awal keberangkatannya, ternyata dia telat satu hari dibandingkan jurnal pelayaran yang dia buat. Fenomena unik ini juga diracik secara menarik oleh Jules Verne melalui novel cerdasnya, Around The World in 80 Days.

Jika anda masih bingung dengan fenomena apa yang saya maksud, maka ijinkanlah saya untuk memberi contoh yang saya ambil dari artikel Wikipedia Indonesia berikut ini:
Tonga dan Samoa adalah dua negara yang berdekatan. Jarak tempuh dua negara ini dengan menggunakan pesawat hanyalah dua jam. Akan tetapi Tonga berada di sebelah barat garis batas penanggalan sedangkan Samoa berada di sebelah timurnya. Artinya, ketika di Tonga adalah hari Selasa, maka di Samoa adalah hari Senin. Jika seseorang naik penerbangan dari Tonga pada hari selasa pukul 12.00 siang hari, maka ia akan sampai di Samoa pada pukul 14.00. Tetapi ia tiba di Samoa bukan pada hari Selasa, melainkan hari Senin, atau Ia berjalan mundur satu hari.
Bayangkan apa yang terjadi bila saya, yang seorang muslim, berangkat dari Tonga selepas mengerjakan sholat Jumat menuju Samoa. Maka saya akan tiba di Samoa pada hari Kamis dan artinya dalam waktu kurang dari 24 jam berikutnya, saya memiliki kewajiban untuk menunaikan Sholat Jumat kembali. Saya mengerjakan sholat Jumat di saat, beberapa mil di sebelah barat saya sudah bukan hari Jumat lagi, melainkan Sabtu.

Kemudian yang mengusik pertanyaan saya adalah, apakah boleh umat Islam menggunakan batas penanggalan yang sama dengan kebanyakan orang di muka bumi ini, yaitu mendasarkan penggantian hari pada sebuah garis maya yang ditetapkan melalui konvensi? Jika tidak, lantas di manakah garis batas penanggalan menurut versi Islam?

Wallahu'alam bish-showab

Selasa, Januari 26, 2010

selamat datang supremasi hukum di Indonesia

akhir-akhir ini banyak kasus yang sebenarnya tidak terlalu penting, dilaporkan ke polisi. dulu, yang biasa menggunakan modus operandi seperti ini hanya artis-artis yang sedang mencari sensasi. tapi sekarang, tiba-tiba fenomena ini menjadi milik semua orang.

jika saya tidak salah ingat, salah satu kasus awal yang cukup menyita perhatian adalah ketika seorang nenek dilaporkan ke polisi, sampai akhirnya diputuskan bersalah, karena mencuri tiga buah kakao. pasca booming kasus tersebut, mulai bertebaran aduan-aduan ke polisi yang sebenarnya hanya persoalan remeh. karena anaknya disengat oleh teman bermain anaknya, seorang bapak melaporkan kejadian tersebut kepada polisi. hanya karena dihina melalui facebook, lantas mengadu ke polisi. kasus-kasus tersebut, yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan jalan kekeluargaan.

sebenarnya tidak ada yang salah jika seorang korban kemudian memilih jalur hukum untuk menyelesaikan masalahnya ketimbang menggunakan jalan kekeluargaan, apalagi melalui jalur main hakim sendiri. toh, hukum dibuat memang untuk melindungi warga yang bernaung di wilayah yuridiksinya.

terlepas dari bijak atau tidaknya sang pelapor, justru ada sebuah kabar baik, karena ternyata sekarang rakyat mulai semakin percaya bahwa hukum bisa ditegakkan. disadari atau tidak, saat ini kita sedang berada di sebuah titik balik yang semoga saja bisa benar-benar membawa kebaikan bagi kita semua. setelah bertahun-tahun rakyat antipati terhadap hukum, ternyata sekarang keadaan mulai berbalik. selamat datang supremasi hukum.

Rabu, Januari 13, 2010

ideologi

dengan alasan menutupi defisit anggaran, pemerintah kota pekanbaru akhirnya memberlakukan pajak daerah sebesar sepuluh persen untuk nasi bungkus. ironis, ketika salah satu propinsi terkaya di indonesia justru lebih memilih untuk meminta kepada rakyat kecilnya, bukan dari mereka yang mapan yang bekerja di perusahaan-perusahaan multinasional di sana.

mungkin keadaan seperti ini juga yang kemudian membulatkan tekad H. Misbach untuk kemudian bergabung dalam gerakan awal PKI. marah dengan kraton yang tidak henti-hentinya menghisap darah rakyat dan kecewa dengan melempemnya perjuangan HOS Cokroaminoto dengan Muhammadiyahnya serta Serikat Islam yang justru sibuk memperkaya diri sendiri.

tidak banyak yang mengenal siapa H. Misbach saat ini. wajar saja, "fatwa haram" komunis oleh pemerintah orde baru memang membuat tenggelam banyak nama pejuang komunis di Indonesia. padahal kalau mau kita gali, kontribusi orang-orang komunis terhadap kemerdekaan Indonesia tidak bisa dibilang kecil. mulai dari aktivis-aktivis yang "menculik" Soekarno ke Rengasdengklok untuk memaksanya menyatakan kemerdekaan Indonesia sampai Ki Hajar Dewantara adalah orang-orang komunis.

tulisan ini tidak ditujukan untuk membela atau memutihkan nama PKI. mungkin memang CIA memainkan peran belakang panggung yang luar biasa hebatnya pada medio 1965 yang lalu. tidak bisa disangkal bahwa memang ada keterlibatan beberapa petinggi PKI dalam gerakan tersebut seperti yang dipaparkan oleh John Roosa. namun apa tujuan semua itu? semua masih kabur.

ide yang ditawarkan pada tulisan ini lebih membahas mengenai komunisme sebagai sebuah ideologi. dilarangnya ideologi ini di Indonesia lebih disebabkan karena pemberontakan Madiun dan G30/S-PKI. sebenarnya tidak adil memutus haram suatu ideologi hanya karena satu dua tindakan. bayangkan saja bagaimana tidak logisnya apabila Islam dilarang hanya karena adanya gerakan NII-DI/TII yang ingin makar atau karena FPI main hakim sendiri mengacak-acak tempat yang mereka sebut maksiat.

dalam perkembangannya komunisme pun memiliki banyak mazhab, ada leninisme, maoisme, anarcho-communist, dan lain-lain. kalau memang ada hal-hal yang bertentangan dengan ideologi pancasila, bukan tidak mungkin mengadopsi komunisme dengan citarasa yang lebih Indonesia.

kebencian masyarakat terhadap komunis sebenarnya lebih disebabkan sentimen tanpa alasan. alasan atheisme dengan mudah dapat dipatahkan. jika memang komunisme tidak mempercayai tuhan, lantas bagaimana mungkin komunis jutru masuk ke Indonesia pertama kali melalui organisasi Serikat Islam?

sebagai sebuah ideologi yang berlandaskan materialisme, komunisme memang cenderung mengabaikan eksistensi tuhan. tapi hal ini tidak membuat mereka bisa dicap sebagai atheis. lawan utama komunisme, kapitalisme, pun melandaskan prinsip-prinsip materialisme dan cenderung mengabaikan eksistensi tuhan. tapi mengapa ideologi ini dapat lebih diterima di Indonesia? kedua ideologi ini bukanlah sebuah paket dengan harga pas yang tidak dapat ditawar. lihat saja bagaimana H. Misbach yang berjuang bersama komunis dengan tetap meletakkan Al-Quran sebagai landasannya.

obrolan ideologi memang bukan makanan ringan yang bisa disantap santai di warung-warung kopi. banyak orang yang mengaku pancasilais tetapi mengancam akan membunuh siapapun yang ingin membangkitkan kembali komunisme. di mana letak kemanusiaan yang adil dan beradab-nya? maka mahfumlah apabila sedikit yang paham benar dengan apa itu komunisme. pancasila pun saat ini hanya sekedar lima sila tanpa makna yang menggema tanpa jiwa di upacara hari senin.

tidak banyak yang tahu bahwa tataran ideal komunis adalah sebuah masyarakat yang adil, sejahtera, dan bahagia, pun menyenangkan. tidak banyak yang paham bahwa komunis yang menganut paham internasionalisme (lawan dari nasionalisme) adalah penentang keras setiap bentuk penjajahan di muka bumi ini.

saya sendiri tidak dalam posisi mendukung berkembangnya komunisme di Indonesia. tapi saya juga tidak akan melarang-larang. kalau Islam pun bisa semoderat PKS, maka komunisme maupun ideologi-ideologi lainnya pun bisa menjadi moderat.

buat saya, semua ideologi adalah utopia, sesempurna apapun ideologi tersebut. karena dalam praktiknya, ideologi tersebut tetap harus dijalankan oleh manusia, yang memiliki berjuta kealpaan.

Kamis, Desember 24, 2009

wisuda


mereka yang mantap melangkahkan kakinya di acara wisuda adalah orang-orang hebat. bagaimana tidak, sebagian besar dari mereka tidak memiliki apa-apa untuk hari berikutnya kecuali semangat dan cita-cita. tanpa kejelasan atas sumber penghidupan di hari esok mereka tetap bisa tersenyum bangga, membusungkan dada, lalu melempar topi ke udara.

saya? saya tidak sehebat itu. wisuda adalah sebuah seremoni yang terlalu mewah mengingat masa depan saya yang terlampau kabur. saya merasa lebih nyaman menikmati pikuk manusia dari luar gedung ketimbang menjadi bagian dari acara wisuda tersebut. terlalu beresiko.

itulah pilihan saya. sebuah pilihan yang saya syukuri dan sama sekali tidak saya sesali. =)

Rabu, Desember 09, 2009

lagu lama menyatukan dua dunia

ruang besar atau kecil, bangunan angker atau berbunga-bunga, patung atau kaligrafi - semuanya kemeriahan panca indera untuk memuliakan Tuhan.

(Goenawan Muhammad)

sebenarnya tidak ada masalah dengan dilarangnya menara masjid di Swiss. toh, tanpa menara, ummat Islam masih bisa melaksanakan ibadahnya tanpa mengurangi sedikitpun maknanya. Menara hanyalah perlambang yang tidak esensial - berbeda halnya jika yang dilarang adalah pembangunan masjid atau pemakaian jilbab.

meskipun demikian, jangan salahkan juga jika ummat Islam bereaksi keras terhadap hal yang terlihat sepele ini. permasalahan yang ada bukan keberadaan materialistik dari menara masjid, akan tetapi lebih kepada apa yang mendasari pelarangan ini.

pelarangan menara masjid di swiss diputuskan melalui referendum rakyatnya dengan hasil lebih dari 57% warga swiss menolak pendirian masjid dengan kemenangan di 22 dari 26 propinsi yang ada di swiss. dari sini kita sudah bisa melihat bahwa ada ketakutan rakyat swiss terhadap islam.

jika ditarik lebih lebar, ketakutan akan islam tidak hanya terjadi di swiss, akan tetapi sudah mulai menginfeksi keseluruhan eropa. demonstrasi anti islam garis keras yang berubah menjadi demonstrasi anti islam (saja) di inggris, pelarangan jilbab di sekolah-sekolah umum perancis, pembuatan kartun yang menghina nabi Muhammad SAW di Denmark, dan kontroversi pendirian masjid terbesar se-eropa di jerman telah menjadi pembuka islamophobia sebelum keputusan swiss melarang pembangunan menara masjid.

ketakutan ini sendiri memang bukan tanpa alasan. adanya kelompok islam garis keras yang kerap menebar teror dengan sasaran orang-orang barat (amerika serikat dan eropa) harus kita akui dengan sesadar-sadarnya. maka dari itu mengetahui akar permasalahan menjadi penting, karena dengan demikian kita bisa mendapatkan panduan tepat dalam menentukan solusi yang diambil.

penolakan atas kebijakan yang sangat diskriminatif memang sangat diperlukan. dengan langkah apa hal itu dilakukan, inilah yang harus dipilih dengan cermat. melakukan demonstrasi dengan poster-poster yang provokatif rasanya bukanlah pilihan yang tepat. apalagi jika sampai melakukan perusakan yang ujung-ujungnya hanya menimbulkan rasa tidak nyaman. hal ini sama saja dengan menebalkan anggapan bahwa islam memang agama dengan ummat yang brutal.

komunikasi dunia barat dengan islam yang damai harus lebih sering dijalin. sudah saatnya islam membuka dirinya kepada dunia. mengundang masuk - bukan hanya mempersilahkan, tapi mengundang - siapa saja dengan senyum terindah ke lingkungan kita. izinkanlah mereka satu kesempatan untuk memahami apa yang kita rasakan. memahami bahwa islam sebagai (mungkin) satu-satunya agama yang tidak hanya mengatur urusan akherat saja.

semua pemaparan di atas sebenarnya hanyalah lagu lama yang kembali dimainkan dengan aransemen berbeda. sebuah lagu usang yang mulai membosankan mengenai bagaimana cara menyatukan dua dunia. akan tetapi lagu ini akan terus berkumandang selama paparan ini hanya berhenti sebagai sekadar pendaran layar monitor atau sapuan tinta di atas kertas.

how long must we sing this song? (Sunday, bloody sunday - U2)

Senin, November 23, 2009

karena hukum tidak melihat

jika anda termasuk korban film india di TPI pada dekade 90-an, maka pasti anda jamak melihat gambar patung justitia, dewi keadilan berdasarkan mitologi romawi. dalam pendeskripsiannya, digambarkan bahwa justitia memegang pedang di tangan kanan, neraca di tangan kiri, serta penutup mata.

penutup mata menggambarkan bahwa hukum harus (atau setidaknya diharapkan) berlaku imparsial atau tidak memihak. hukum akan berlaku adil tanpa memandang bulu, pangkat, strata, kasta, status ekonomi, derajat pendidikan, umur, gender, ataupun pendikotomian lainnya.

maka tidak ada yang salah ketika seorang minah, nenek yang tertangkap tangan karena mencuri 3 buah kakao, kemudian dihukum 1 bulan 15 hari dengan masa percobaan 3 bulan. mencuri 3 buah kakao mungkin memang terdengar sepele, tapi itulah hukum. suka tidak suka, hukum telah disepakati dan sebagai konsekuensinya, hukum harus kita taati.

muncul suara-suara yang menyayangkan jaksa karena tidak memberikan kebijaksanaannya, misalnya mengeluarkan surat keputusan penghentian penuntutan (skp2). rasanya kebijaksanaan (atau lebih tepatnya pengecualian) adalah sebuah keistimewaan yang tidak dimiliki hukum. hanya presiden yang memiliki hak prerogatif seperti abolisi atau amnesti. badan yudikatif seperti kejaksaan tidak memiliki hak istimewa semacam itu.

lantas bagaimana dengan koruptor-koruptor kakap yang terkesan sulit diusut padahal telah menimbulkan kerugian jauh lebih banyak ketimbang 3 buah kakao? situasi ini memang adalah sebuah ketidakadilan dan kita harus bergerak menuju keadilan tersebut. akan tetapi keadilan tersebut bukan didapat dengan cara menafikan hukum.

hukum harus ditegakkan, bukan justru dibaringkan. bagaimanapun juga, sang nenek bersalah karena telah mencuri. untuk itu beliau harus menerima konsekuensi hukumnya sesuai dengan keputusan majelis hakim. masih bebasnya koruptor di luar tidak dapat dijadikan alasan untuk membebaskan sang nenek dari tuntutan. keadilan hanya bisa didapat dengan memenjarakan koruptor-koruptor tersebut.

hukum memang buta, namun masyarakat tidak. masyarakat yang kemudian memiliki keistimewaan untuk membuat kebijaksanaan-kebijaksanaan dalam menyikapi situasi. seandainya sang mandor, yang melaporkan nenek minah, memanfaatkan keistimewaannya untuk berlaku bijaksana dengan tidak melaporkan perbuatan nenek minah, maka sistem hukum tidak perlu bergerak. hukum hanyalah suatu sistem yang tidak memiliki hati. kitalah, manusia-manusia bebas, yang memiliki hati.

sumber gambar: http://www.kuemin-law.ch/Angebot/justitia.gif

Senin, November 16, 2009

kiamat sudah (seberapa) dekat?

ketika akan meratifikasi protokol kyoto mengenai perubahan iklim, terjadi sidang alot di parlemen negara kita. di satu sisi ada pihak yang merasa protokol ini adalah harga mati karena menyangkut kemaslahatan ummat manusia, namun di sisi lain, ada pihak yang mempertanyakan apa untungnya bagi indonesia meratifikasi potokol ini. pihak kedua merasa indonesia mestinya perlu memanfaatkan posisi tawarnya untuk mendapatkan keuntungan lebih ketimbang meratifikasinya secara cuma-cuma.

singkat kata, sidang ini berjalan sengit hingga tiba waktu istirahat. entah atas ide siapa, sebagai hiburan di waktu istirahat tersebut, diputar film "the day after tomorrow" yang menceritakan petaka di berbagai penjuru dunia akibat perubahan iklim. selesai istirahat, sidang pun dilanjutkan. hiburan film tersebut ternyata mampu membuat pihak-pihak yang tadinya kontra menjadi lebih lunak hingga akhirnya parlemen indonesia meratifikasi protokol kyoto. penggambaran "kiamat" oleh rolland emmerich agaknya cukup membuat gentar anggota parlemen kita. mungkin bukan hanya anggota parlemen, banyak di antara kita mungkin juga mendapatkan sensasi yang serupa, gentar.

with great power comes great reponsibility. hal ini mungkin yang dilupakan emmerich. sukses membangun kesadaran atas kehidupan di bumi (walaupun terkadang kesadaran itu hanya sebatas slogan go green atau stop global warming), emmerich akhirnya kembali membuat film dengan tema kiamat, 2012. dengan memanfaatkan dongeng kiamat pada tahun 2012 (yang katanya berdasarkan pada kalender kuno bangsa maya), akhirnya film ini dicap sebagai salah satu film paling oportunis sepanjang masa.

ketidaknyamanan masyarakat dunia mengenai isu kiamat 2012 sebenarnya sudah ada semenjak bertahun-tahun yang lalu, namun promosi viral dari film ini membuat orang semakin mencari informasi dasar prediksi kiamat tersebut. celakanya tidak semua informasi yang tersedia teruji secara ilmiah sehingga menyebabkan semakin banyak orang menjadi resah.

berbagai bantahan akhirnya keluar, mulai dari pimpinan komunitas suku maya aztec, sebagai pewaris kalender kuno suku maya, sampai dari david morrison, yang merupakan ilmuwan astronomi senior di NASA. salah satu kutipan morrison di artikel tersebut adalah,

"As far as the safety of the Earth is concerned, the important threats are from global warming and loss of biological diversity, and perhaps someday from collision with an asteroid or comet, not the pseudoscientific claims about 2012."

beruntung di indonesia tidak banyak orang yang peduli dengan isu kiamat ini. namun bagaimanapun juga, segala cerita 2012 ini akhirnya membuat kita sedikit lupa dengan ancaman kiamat yang benar-benar sedang mengintai, yaitu perubahan iklim.

dalam konferensi UNFCC tahun 2007 yang lalu di Bali, presiden COP-13 menegaskan bahwa 2009 adalah tenggat waktu bagi negara-negara di dunia ini untuk menghasilkan kesepakatan baru untuk menggantikan protokol kyoto yang akan kadaluarsa pada 2012. besar harapan masyarakat pecinta lingkungan dunia akan lahirnya sebuah protokol baru yang memutakhirkan protokol kyoto. sebuah protokol yang disepakati negara-negara sedunia, yang bukan hanya akan menyepakati penurunan emisi, namun juga dapat mempertahankan kelestarian hutan yang ada dari ancaman keserakahan segelintir manusia.

konferensi UNFCCC di Coppenhagen yang akan berlangsung kurang lebih 3 minggu lagi akan menjadi penentunya. pertemuan ini bisa jadi akan amat menentukan apakah kiamat bagi ummat manusia sudah benar-benar di pelupuk mata, atau masih bisa "ditangguhkan".

Sabtu, September 12, 2009

Ramadhan oh Ramadhan

rasanya bulan Ramadhan dari tahun ke tahun semakin kehilangan kesakralannya. banyak acara yang bertema Ramadhan tapi sedikit yang memasukkan esensi Ramadhan itu sendiri ke dalamnya.

kalau dulu acara buka bersama selalu diisi dengan kajian keagamaan, maka saat ini buka bersama banyak yang hanya sekedar makan malam bersama. kalau dulu acara TV menyambut Ramadhan banyak yang bercerita tentang Ramadhan itu sendiri, sekarang acara TV hanya sekedar berganti baju menjadi baju Ramadhan. acara tanya jawab keagamaan di waktu sahur berganti wujud menjadi acara lawak-lawak dan kuis interaktif, yang tidak lebih baik daripada SDSB.

Tudinglah liberalisme dan semangat pluralisme kebablasan yang membebaskan ekspresi setiap insan manusia sehingga bau surga Ramadhan semakin pudar dari tahun ke tahun. salahkan kapitalis yang berusaha menggeser semua manfaat transterestrial menjadi apa saja yang sifatnya material.

akankah Ramadhan di negeri kita akan menjadi seperti natal di negeri menara kembar rubuh? menjadi sebuah budaya, bukan lagi ritual keagamaan. menjadi sebuah momen yang sah-sah saja untuk dirayakan dan dihayati oleh siapa saja? bahkan parahnya lagi, dengan cara bagaimana pun..

Jumat, Februari 20, 2009

Masalah

waktu SMP, sekitar tahun 1999, guru bahasa indonesia bertanya, "apakah masalah itu?" gue yang duduk di barisan paling belakang dengan spontan menjawab, "UHUUUY!!! kesenjangan antara harapan dan kenyataan!" seketika itu guru SMP gue terperangah, takjub, mengetahui bahwa muridnya, yang masih imut-imut SMP, sudah bisa mendefinisikan kata "masalah" dengan tepat.

okelah, cukup membangga-banggakan dirinya. gak bagus! jangan ditiru ya... masalah emang didefinisiin sebagai kesenjangan antara harapan dan kenyataan. kata orang dulu, setiap orang pasti punya masalah, karena manusia emang diciptakan dengan nafsu yang ngebuat manusia punya harapan-harapan.

gak ada yang salah dengan punya harapan, justru bagus banget (mungkin...). tapi akhir-akhir ini, entah baru keekspos atau emang baru "ngetren", orang banyak yang punya tendensi untuk ngelakuin bunuh diri. kenapa mereka sampe ngelakuin itu? kata mereka karena banyak masalah (tapi kalo kata pak ustadz sih karena mereka gak punya iman). masalah cinta (tssaaaaaah....) dan ekonomi biasanya yang paling sering ngelatarbelakangin aksi bunuh diri. dulu sih gue ketawa-ketawa aja kalo ngedenger kabar orang bunuh diri karena cinta ato desakan ekonomi, ya, gue emang freak, bisa ngetawain orang yang mati. tapi beberapa kejadian akhir-akhir ini ngebuat gue agak ngerem untuk ngetawain kekonyolan orang-orang itu. gak lucu aja kalo nanti tau-tau gue ketawa ngakak-ngakak pas nemuin jenasah temen gue di kamar kosannya.

siang tadi, satu temen gue bilang ke gue lewat pesen teks. dia bilang dia baru aja hampir bunuh diri. well, persisnya sejauh apa yang udah dia lakuin, gue juga gak tau. apakah cuma untuk nyari-nyari perhatian, atau niatnya emang tulus dari lubuk sanubarinya yang terdalam. sebagai orang yang emang jarang banget mau terlibat secara emosional dengan masalah orang lain, gue milih untuk gak nanya ada masalah apa. gue cuma bilang, "jangan pernah mikir kayak begitu lagi!"

ini bukan pertama kalinya gue nyaris keilangan temen gara-gara bunuh diri. untung semua usaha orang-orang itu gagal. mereka yang sudah sadar dari kekonyolannya selalu bilang, kalo masalah mereka terlalu banyak. gimana bisa masalah mereka terlalu banyak? mustinya masalah mereka ya gak jauh-jauh beda lah dengan temen-temennya. mustinya kalopun mereka punya masalah yang gede banget, gak mungkin bisa sampe empat kali lebih berat bebannya dibandingan dengan masalah temen-temen mereka. terus di mana letak perbedaan yang besar, sampe mereka nawaitu bunuh diri?

untuk ngejawab pertanyaan di atas, maka kita kembali ke definisi. masalah adalah kesenjangan antara harapan dan kenyataan. ada dua variabel di sana, yaitu harapan dan kenyataan. dua variabel itu independensinya berbeda. kenyataan gak bisa sepenuhnya kita kendalikan, karena akan selalu dikalikan dengan faktor x yang besarannya gak pernah bisa kita kendalikan, sementara harapan, (harusnya) selalu bisa kita kendalikan, karena tidak ada campur tangan yang lain untuk memiliki harapan kecuali dari diri kita sendiri.

sederhananya semakin banyak kita berharap, semakin besar kemungkinan kita punya masalah. semakin sedikit kita berharap, semakin sedikit juga kemungkinan kita untuk punya masalah. kenapa kita harus berharap menjadi lebih kaya, toh seperti sekarang pun masih bisa bertahan hidup. kenapa harus berharap punya pasangan, ada atau tidak ada pasangan juga nanti kita akan mati. kenapa harus berharap punya jabatan? toh nanti juga jabatan akan kita tinggalkan. kenapa harus berharap sekolah tinggi-tinggi? toh nyari kerja sama aja susahnya. kenapa harus begini? kenapa harus begitu? kenapa harus punya mimpi? orang yang bermimpi tidak akan pernah mendapatkan tidur yang nyenyak, meskipun mimpinya itu amat indah. dan lagi, itu hanya mimpi, pepesan kosong belaka...

Senin, Januari 05, 2009

Pagar

ada banyak banget pager di sekitar kita. sampe-sampe orang demo pun dihalangin pake pager kawat berduri yang dilapis pake pager polisi anti huru-hara (PHH; bukan pasukan haha-hihi) dan masih dilapis lagi dengan pager yang laen. semua itu tujuannya cuma satu. biar wilayah yang dijaga gak diterobos sama demonstran.

beralih ke laen cerita, gue baru aja pergi ke tempat yang udah agak lama gak gue kunjungin. gue agak bingung dengan tempat itu, karena gak serame dulu. biasanya dulu banyak orang jualan di taman kecil yang memanjang antara trotoar dan jalan aspal. tapi sekarang pedagang-pedagang itu udah gak ada. gak ada lagi karena sekarang taman yang memanjang itu udah dipagerin. sebenernya, ada ataupun gak ada pager mustinya pedagang-pedagang itu tau, bahwa taman itu gak boleh ditempatin untuk dagang.

kalo kita liat perumahan di negara-negara yang udah maju, jarang ada rumah yang make pager. biasanya rumah cuma dibatesin halaman aja untuk sampe ke jalan aspal, tanpa embel-embel pager. beda banget dengan di indonesia. kalo ada rumah yang gak pake pager justru rasanya aneh. udah ada pager pun masih harus digembok tiap malem biar gak ada maling.

sadar ato gak, banyak hal yang bisa diindikasiin dari kehadiran (atau ketidakhadiran) sebuah pagar. kehadiran pagar mengindikasikan bahwa daerah itu rawan terhadap pelanggaran, baik itu pelanggaran sosial ataupun pelanggaran terhadap hukum positif.

terus kemudian pertanyaannya adalah apakah pager itu jelek? kalo gue bilang sih ya nggak juga. pager itu cuma sebagai indikator, sekaligus alat kontrol sosial. pager cuma sebagai akibat, bukan sebagai sebab. memang ada daerah-daerah yang harus dipagerin, ada juga juga daerah-daerah yang gak ngebutuhin pager, karena kesadaran komunitas di dalemnya udah cukup bagus.

pager gak cuma terwujud di dalem bentuk fisik batang-batang besi atau bambu, atau tanaman yang dibentuk memanjang. pagar pun ada yang tidak mewujud secara kasat mata. salah satunya adalah lembaga sensor film di indonesia. saat ini sineas-sineas muda kita sedang berusaha membubarkan segala bentuk penyensoran untuk film yang beredar di masyarakat. sineas-sineas ini memberikan ide untuk sekedar memberikan rating pada film-film yang beredar berdasarkan umur (contoh: film untuk semua umur, untuk remaja (13+), untuk dewasa (21+)).

pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah jika memang pagar sensor ini dicabut akan ada jaminan bahwa tidak akan ada pelanggaran batas wilayah oleh orang-orang yang ada di dalamnya. apakah akan ada jaminan seorang anak SMP tidak akan diizinkan oleh penjaga bioskop untuk membeli tiket film yang bukan masuk ke golongan umurnya? apakah ada jaminan bahwa tukang rental DVD bakalan cuma mau minjemin film dewasa ke orang yang dewasa? apakah kita yakin bahwa gak bakalan ada "pedagang" usil yang "jualan" di "taman" yang bukan pertanyaan-pertanyaan di atas tentunya harus bisa dijawab dulu, sebelum kita memutuskan untuk mencabut pagar.

Kamis, November 27, 2008

balada loreng di bumi pertiwi

jalanan bandung emang terkenal nyebelin. banyak yang satu arah yang artinya ngebuat orang harus muter-muter untuk bisa nyampe ke satu tujuan. dalam satu kesempatan, gue sempet jadi korban kebiadaban jalanan bandung. gue terpaksa muter-muter nyasar tak tentu arah. pas lagi nyasar itu, gue sempet ngeliat ada gedung punya angkatan laut. sambil ngebawa motor muter-muter gak karuan gue sempet mikir, "ngapain ada gedung angkatan laut di Bandung? padahal Bandung sendiri gak punya laut!" agak susah juga buat gue ngedapetin logikanya, sampe akhirnya gue punya kesimpulan! oh iya!!! bandung kan ibukota propinsi! berhubung penyebaran militer di indonesia ngikutin hirarki pemerintahan sipil (pusat, daerah tingkat I, daerah tingkat II, dst), maka berdirilah gedung milik angkatan laut itu di tengah-tengah bandung yang kering akan laut.

kalo nyimak tuntutan aktivis-aktivis (terutama yang angkatan 98), mereka minta penghapusan dwi fungsi abri, yang intinya adalah menebalkan garis batas antara SIPIL dengan MILITER. salah satu tuntutan mereka yang sampai saat ini masih belum terpenuhi adalah sentralisasi kekuatan militer di pusat-pusat militer. artinya, bisa jadi militer gak perlu ada di tiap kabupaten atau kotamadya. gak perlu ada kodam, korem, sampe babinsa. gue sih setuju-setuju aja dengan ide ini. kalo gak, kejadiannya ya kayak yang tadi itu, bisa ada gedung angkatan laut di tengah kota yang nggak punya laut. bener-bener mubazir. seharusnya yang namanya militer adanya di pangkalan militer aja. bikin beberapa kota yang emang bener-bener jadi basis militer, gak perlu ada di tiap kota. kalo dalihnya untuk pengamanan ya serahin aja ke polisi (dan sipilkan polisi!)

pembauran militer dengan sipil pada beberapa kasus bener-bener ngeganggu. itung aja berapa banyak orang militer yang jadi beking diskotik ato beking perusahaan ekspedisi. militer yang ada di tengah sipil berpotensi menimbulkan praktek premanisme. gue sendiri beberapa kali (padahal mah sering banget) ngeliat orang-orang militer naek angkutan umum tapi gak bayar. kan kasian sopir sama keneknya. kalo cuma angkot mungkin masih okelah. si sopir cuma rugi paling mahal tiga rebu perak. lha kalo yang dinaekin bus antar kota? rugi berapa! aksi-aksi seenak jidatnya ini emang nggak dilakuin sama semua orang militer, tapi diakuin ato enggak, banyak banget kejadian kayak gini. gak cuma naek angkot gratisan, gue juga pernah ngeliat orang dengan modal kaos loreng, rambut cepak, dan berbadan tegap bisa lenggang kangkung masuk ke stadion untuk nonton pertandingan sepakbola tanpa keluar duit sepeser pun.




sampai kapankah stiker seperti di Bus Maya Raya jurusan Bogor-Bandung ini harus tetep terpasang? terus terang gue sih nggak terlalu ngarepin biar semua orang militer jadi sadar dan mau bayar dengan uang penuh, tapi rasanya bakal lebih banyak manfaatnya kalo militer emang dipusatin di pangkalan militer aja.