Tampilkan postingan dengan label jelajah gizi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jelajah gizi. Tampilkan semua postingan

Kamis, Desember 07, 2017

Tambah, Uda

Siang itu mendung. Hujan dari pagi turun. Sesekali berhenti. Tak lama kemudian kembali guyur. Beriterasi dalam siklusnya. Di sempitnya salah satu celah waktu itu saya keluar dari ruangan. Menjejaki aspal-aspal basah, melompati satu dua genangan yang memantulkan bayang kanopi pucuk merah. Sesekali saya harus mengalah pada genangan yang menganak sungai. Sumbat serasah yang terlambat diangkat pada selokan di sisi kanan membuat air memintas ke selokan di sisi kiri yang lebih rendah.

Empat menit empat puluh delapan detik kemudian saya sampai di muka pintu rumah makan Padang. Pas pula adzan dzuhur menggaung di udara. Belum ada pembeli lain di ruang makan. Seorang bapak muda melayani saya sembari diusili anaknya yang tingginya baru sedengkul lewat. Bapak sudah hapal lauk-lauk pilihan saya. Asam padeh, kembung bakar, atau ayam goreng. Tiga pilihan itu ditawarkannya. Hari itu saya agak malas makan ikan, maka ayam goreng yang saya pilih. Tak lupa catatan tambahan, "Minta dada ya."

Dengan sigap, ia memilah-milih dari potongan yang ada. Saya pun duduk di salah satu meja. Menghadap meja makan beralas kaca gelap, memunggungi pintu masuk, beralas kursi lipat merah. Tujuh detik berselang, Istri bapak tadi datang membawa segelas belimbing teh tawar hangat bersama air kobokan dalam cawan baja tahan karat - lengkap dengan irisan jeruk nipis a la kadarnya. Belum selesai teh disajikan, sang suami sudah datang bersama sepiring makan siang saya. Setangkup nasi, sejumput daun singkong rebus, sepotong kecil nangka, campuran sayur kacang panjang dan kol, serta tak lupa ayam goreng. Oh, iya. sesendok makan bumbu rendang di sisi dan sesendok sayur kuah gulai mengguyur nasi putih yang uapnya masih menguar. 

Makan siang dimulai. Sesekali mata saya memperhatikan siaran berita di TV yang tergantung di atas lemari. Masih di ruang pandang, ada sebuah etalase tinggi yang tadinya biasa menjajakan berbotol-botol minuman berkarbonasi. Kacanya berhias tulisan R. M. Rimpun Padi dengan motif tulisan yang junjung di bagian tepinya menyerupai rumah gadang. Etalase itu sudah berubah fungsi. Dari balik kaca samar terlihat tumpukan baju yang belum disetrika. Tidak ada lagi warna-warni hitam, hijau, dan merah botol minuman. 

Di balik etalase itu terlihat si bapak yang tadi keluar dari kamar mandi. Wajahnya basah terkena wudhu. Lepas berdoa, dia kenakan sarung kotak-kotak coklat muda. Masuk lewat kepala, dililit di bagian pinggang, dan digulung hingga mata kakinya tampak. Kemudian digelar sejadahnya. Ujungnya nampak menyembul melewati hadangan pandang etalase botol tadi. Ia hendak menunaikan sholatnya. Posisinya sudah menghadap kiblat, namun belum lagi niatnya terucap, Ia justru membalik badannya. Melihat-lihat ke arah pintu masuk. Khawatir jangan-jangan ada pembeli yang datang. Sudah jam 12 lewat, sudah waktunya makan siang. Tapi mungkin karena rintik kembali mengguyur, belum lagi ada pelanggannya yang datang.

Ia atur lagi posisi sholatnya, namun kembali terinterupsi. Kini Ia bicara dengan istrinya. Suaranya tenggelam dibalut gelombang penyiar TV yang sedang mewartakan penggerebekan pabrik narkoba. Dalam percakapan tersebut, beberapa kali lagi ia melongok ke arah pintu masuk. 

Ia kembali ke sejadahnya. Namun sekali lagi dia urungkan dzuhurnya. Kali ini dia keluar dari ruang di balik etalase botol minuman ke arah ruang makan. Masih dengan sarung kotak-kotak coklat mudanya, dihampirinya satu-satunya pelanggan yang ada di ruangan itu lalu berkata, "Tambah, bang?"

Saya pun tersenyum sambil mengacungkan telunjuk kanan. Segera diambilnya sebuah piring kecil, dibukanya termos nasi, lalu dengan centong dari batok kelapa, diambilnya setangkup bulir-bulir putih. Tak lupa diluberinya nasi dengan sedikit kuah gulai, lalu diserahkannya piring tersebut di atas meja.

Ia kembali ke dalam ruang di balik etalase minuman botol. Berdiri di atas sejadahnya, mengangkat kedua tangannya, dan tenggelam dalam khusyuknya iftitah.

Minggu, Oktober 07, 2012

Ada Tiwul Goreng di Obrok-Obrok

Nama lokalnya obrok-obrok. Disebut demikian karena ketika sepeda motornya berjalan di areal perkebunan yang jalannya bergelombang, isi rak jualannya terbanting-banting sehingga menimbulkan suara "obrok-obrok-obrok-obrok".

Obrok-obrok

Obrok-obrok adalah istilah untuk pedagang makanan yang biasa berkeliaran di areal perkebunan tebu di Lampung. Mereka berkeliling dengan menggunakan sepeda motor. Sementara barang dagangannya disusun di dalam rak yang ada di bagian belakang sepeda motor.

Target pasar obrok-obrok adalah para buruh harian di areal perkebunan. Di mana ada kerumunan manusia, di sanalah obrok-obrok berada. Utamanya adalah di areal tebangan di mana banyak buruh tani memanen batang tebu untuk diangkut ke truk dan dibawa ke pabrik. Di satu areal tebangan, bisa ada dua sampai lima obrok-obrok parkir.

Umumnya pekerja ini membeli dengan sistem bon. Setiap kelompok kerja biasanya sudah punya obrok-obrok langganan. Makanan yang dibeli dicatat oleh si penjual. Pembayaran biasa dilakukan di akhir pekan tiap sabtu, hari ketika para pekerja menerima gaji.

Dagangan yang tersusun di rak obrok-obrok cukup variatif. Mulai dari gorengan sampai nasi uduk. Minuman es pun tersedia, yang paling populer adalah es marijan. Sebenarnya es marijan ini adalah air es dengan campuran minuman energi sachet-an. Disebut es marijan karena bintang iklan produk tersebut adalah almarhum Mbah Marijan, sang juru kunci Gunung Merapi.

Salah satu menu unik yang biasa ada di obrok-obrok adalah tiwul goreng. Saya pertama kali kenal makanan ini karena melihat teman saya, yang sesama pengawas lapangan, makan dengan lahap di atas sepeda motornya.

"Mau, Re?" dia menawarkan. Awalnya saya agak sangsi dengan apa yang ia makan.

"Tiwul goreng. Rasanya kayak nasi goreng," Dengan logat Jogja kota asalnya, ia menjelaskan panganan yang sedang dimakannya.

Dari namanya, tiwul jelas berasal dari Jawa. Tiwul terbawa ke Lampung bersama dengan arus transmigrasi yang demikian masif semenjak awal 1900-an. Demikian masifnya, sampai-sampai wilayah di Lampung pun banyak yang "berbau" Jawa, sebut saja Way Jepara dan Pringsewu. Di pedesaan, jangan heran jika menemui anak-anak bawah lima tahun yang tidak bisa berbahasa Indonesia dan hanya mengenal bahasa Jawa. Umumnya mereka baru mengenal bahasa Indonesia ketika duduk di bangku Sekolah Dasar.


Tiwul Goreng

Kembali ke tiwul. Tiwul sendiri sederhananya adalah tumbukan singkong yang sudah dikeringkan. Untuk membuat tiwul goreng, tiwul dicampur dengan beras kemudian dimasak menjadi nasi tiwul. Hasilnya kurang lebih seperti campuran nasi dan jagung pada nasi jagung. Selanjutnya nasi tiwul itu dimasak seperti membuat nasi goreng. Inilah yang disebut dengan tiwul goreng.

Berbeda dengan ekspektasi awal saya, ternyata rasa tiwul goreng itu enak, bahkan cenderung ke "enak banget". Sebungkus tiwul goreng lengkap dengan sepotong tempe hanya seharga Rp 2.500,00. Citarasanya tidak jauh berbeda jika dibandingkan dengan nasi goreng biasa. Sedikit perbedaan hanya pada teksturnya yang cenderung liat. Selain itu, Tiwul goreng juga lebih "nendang" daripada nasi biasa. Sebungkus kecil tiwul goreng sudah cukup untuk mengganjal perut selama seharian muter-muter di kebun  tebu.

Akhirnya, kegiatan mencari tiwul goreng untuk sarapan ini menjadi kebiasaan baru saya dan teman saya. Setiap pagi, setelah selesai memprogram rencana irigasi dan traktor untuk perawatan tebu bersama anak buah, kami selalu meluncur ke lokasi tebangan, mencari obrok-obrok. Setelah itu, biasanya kami mencari rimbunan tebu yang sepi untuk sarapan. Bersembunyi dari Manajer Wilayah yang sewaktu-waktu bisa saja memergoki kami mencuri waktu sejenak untuk sarapan.

Kebun Tebu

Tiwul yang selama ini identik dengan makanan inferior, ternyata jika ditilik dari harganya kini sudah layak untuk "naik kasta". Bukan karena saya dan teman saya yang orang kota bisa jatuh cinta pada cicipan pertama pada tiwul. Namun karena harga tiwul dari hari ke hari semakin meroket.

Di daerah Lampung Tengah dan Lampung Timur, harga tiwul mencapai Rp 8.000,00 per kilogramnya. bandingkan dengan harga beras kualitas sedang di sini yang hanya Rp 7.000,00 per kilogramnya. Berdirinya beberapa pabrik bioetanol berbasis singkong di Lampung agaknya turut punya andil dalam melambungkan harga tiwul.

Namun demikian, meskipun harganya kian hari makin meroket, rasanya tiwul tidak akan pernah dilupakan oleh penggemar awalnya. Ia akan tetap setia bersama mereka yang semenjak dulu telah mengenalnya,  para pekerja kelas bawah.