Tampilkan postingan dengan label luar negeri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label luar negeri. Tampilkan semua postingan

Selasa, September 15, 2020

Social Justice Warrior Balapan


Lewis Hamilton memenangkan seri Gran Prix F1 di Mugello 13 September 2020. Bukan berita yang mengagetkan. Sudah bertahun-tahun Mercedes mendominasi gelaran F1. Hampir selalu lewat Lewis Hamilton. Yang tidak biasa adalah kaos yang dikenakan Lewis pada saat menerima trofi. Selain berpotensi membuat sponsor kesal karena logo di overall balapannya tertutup, tulisan yang tertera juga sangat tendensius.

Arrest The Cops Who Killed Breonna Taylor

Sementara bagian belakang kaosnya menampakkan gambar Breonna dengan tulisan, "Say her name." Maka tidak heran jika FIA sekarang sedang menginvestigasi apakah Lewis Hamilton melakukan pelanggaran dengan mengenakan kaos tersebut.


Breonna adalah seorang perawat yang ditembak delapan kali oleh polisi di kediamannya pada Maret lalu. Dor dor dor dor dor dor dor dor. Delapan kali. Namanya adalah yang paling sering disebut oleh demonstran Black Lives Matter setelah nama George Floyd.

Musim F1 2020 memang beda dari biasanya. Selain berbagai penyesuaian yang terjadi sebagai imbas dari pandemi Covid-19, Balapan tahun ini juga disusupi agenda pejuang HAM. Motornya siapa lagi kalau bukan Lewis Hamilton.

Mulai dari tagline #WeRaceAsOne, bergantinya desain livery Mercedes dari perak menjadi hitam, sampai seremonial moment of reflection tiap sebelum balapan menjadi hal baru yang sebelumnya belum pernah dilakukan FIA di ajang F1.

Lewis Hamilton sebagai satu-satunya pembalap berkulit hitam di F1 justru seperti merasa pesan yang disampaikan tak pernah cukup. Terlihat dari bagaimana kecewanya dia ketika beberapa pembalap memilih untuk tidak berlutut pada saat moment of reflection. Padahal semua pembalap mendukung, turut hadir, dan mengenakan kaos hitam berisi pesan anti rasisme.

Kejadian podium di Mugello dapat dibaca sebagai usaha Lewis untuk mendobrak batasan yang selama ini. Langkah yang kemungkinan besar akan berbuah teguran dan denda. Namun bukan berarti resiko tersebut tidak diperhitungkan. 

Agenda Black Lives Matter penting dan universal, tapi memasukkan agenda tersebut ke dalam F1 rasanya terlalu berlebihan. Selain tidak bersentuhan langsung, sebenarnya F1 sendiri punya batasan sendiri yang mengatur penyampaian pandangan politik lewat platform F1.

Tapi FIA ternyata merestui agenda ini. Sama seperti FIFA yang manut-manut saja ketika agenda Black Lives Matter dimasukkan ke dalam pertandingan sepakbola. Padahal sebelumnya, setiap ekspresi politik di lapangan sepakbola hampir pasti akan berakhir dengan kartu kuning. Mungkin karena kasus rasisme sepakbola cukup tinggi, maka agenda Black Lives Matter cukup relevan dengan sepakbola dan bisa dikecualikan. 
Semangat Aktivisme Lewis adalah nilai lebih. Namun, lebih baik jika Lewis melanjutkan kampanyenya di luar ajang balapan. Peningkatan kesadaran publik mestinya bisa dilakukannya lewat jejaring media sosial miliknya. Lagipula sejauh ini tidak ada kasus rasisme atau diskriminasi apapun di F1. Jadi relevansinya dengan F1 agak kurang pas.

Mungkin akan lain ceritanya kalau kasusnya seperti yang diutarakan Dandhy Laksono. Dandhy meminta dukungan dari pembalap-pembalap MotoGP untuk memberi perhatian pada pembangunan sirkuit Mandalika yang terlilit sengketa lahan dengan penduduk lokal. 


Terlepas dari setuju tidaknya kita dengan pandangan politik beliau, namun desakan yang dia minta dari para pembalap MotoGP ini relevan. Sirkuit ini rencananya akan dipakai sebagai salah satu seri MotoGP mulai 2021 nanti. Maka meminta perhatian pembalap MotoGP adalah hal yang lumrah.

Meminta kesadaran para pihak yang berhubungan dengan keberadaan sirkuit ini mestinya tidaklah mengada-ada. Bagaimana para pembalap tersebut merespon isu ini adalah perkara lain. Kemungkinan besar pembalap MotoGP tidak akan menggubris seruan Dandhy. 

Namun kalau misalnya nanti mereka sepakat mengadakan moment of reflection berjilid-jilid tiap mau balapan di sisa seri tahun ini untuk memprotes penyerobotan tanah di Sirkuit Mandalika, maka itu sebenarnya akan jauh lebih relevan daripada moment of reflection di F1 untuk mengkampanyekan Black Lives Matter. Terdengar lebay? Ya seperti itulah rasanya melihat F1 yang penuh agenda para Social Justice Warrior mancanegara. Lebay.

Senin, Maret 08, 2010

Bisakah Sholat Jumat di hari Sabtu?

Terkadang, suatu bahasan bisa menjadi tidak jelas dan bias jika dipaparkan melalui sekedar tulisan dan gambar. Beberapa orang menganggap karena kapasitas media tulisan dan gambar tidak cukup untuk menanggung beban bahasan tersebut - padahal ada ungkapan satu gambar dapat menjelaskan seribu kata. Untuk lebih memperjelas sebuah bahasan, maka terkadang dibutuhkan diskusi sehingga terjadi dialog dua arah dari pendonor ke orang yang hendak diberi penjelasan olehnya.

Tulisan saya kali ini pun mungkin akan bernasib demikian, tidak jelas dan bias. Akan tetapi, saya ingin menantang diri saya sendiri untuk bisa menjelaskan sebuah ide yang tidak umum dipahami manusia kebanyakan melalui media yang cenderung satu arah, blog.

Substansi dari tulisan ini sendiri bisa jadi dinilai penting, jika penyampaian saya tepat. Tetapi bisa juga hal ini hanya terlihat sebagai ide konyol yang sebaiknya diacuhkan saja. Mari kita mulai.

Seperti yang kita ketahui, penanggalan yang umum digunakan di dunia adalah penanggalan Gregorian yang mendasarkan perhitungannya pada pergerakan matahari. Dalam perkembangannya, sistem penanggalan ini telah beberapa kali mengalami revisi. Salah satu revisi yang terkenal adalah penambahan satu hari dalam salah satu tahun pada siklus empat tahun. Tahun yang kebagian jatah hari lebih banyak ini kemudian lebih dikenal dengan nama tahun kabisat.

Islam, sebagai agama langitan, tidak menggunakan penanggalan Gregorian, yang penuh revisi dan intervensi manusia, dalam menetapkan hari-hari rayanya. Penanggalan yang digunakan adalah penanggalan Hijriah yang mendasarkan perhitungannya pada pergerakan bulan. Berbeda dengan penanggalan Gregorian, penanggalan Hijriah sampai saat ini masih steril dari intervensi manusia. Salah satu konsekuensinya adalah kesulitan dalam membuat kalender satu tahun penuh di awal tahun. Maka tidak heran jika kemudian banyak umat Islam yang berselisih dalam menentukan hari raya Idul Fitri karena perbedaan hasil metode Hisab dan Ruqyat.

Saya tidak tertarik untuk membahas perselisihan tersebut karena sudah banyak yang memberikan pendapatnya. Namun jika anda tertarik, saya merekomendasikan satu artikel menarik mengenai penentuan hari Idul Fitri yang bisa dilihat di sini.

Permasalahan perbedaan waktu di dalam menentukan waktu-waktu ibadah di dalam Islam sebenarnya bisa menjadi kajian yang menarik. Kebetulan beberapa tahun yang lalu saya tiba-tiba memikirkan,"Daerah pertama di dunia yang memulai hari itu sebenarnya di mana sih?"

Akhirnya saya mendapatkan jawaban dari pertanyaan tersebut. Batas penanggalan dunia ada di garis bujur 180°. Garis batas ini adalah garis maya yang di beberapa bagian meliuk-liuk untuk disesuaikan dengan garis batas negara yang bersangkutan. Beberapa revisi untuk garis ini terjadi pada perbatasan Rusia - Amerika Serikat di Selat Bering dan di perbatasan Kiribati - Amerika Serikat. Garis batas penanggalan yang jelas dapat anda lihat dengan mengklik gambar di bawah ini.

Garis Batas Penanggalan Hari. Klik untuk memperbesar Gambar.
(Sumber: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/6/61/International_Date_Line.png)

Garis maya hasil kesepakatan orang-orang inilah yang kemudian menjadi batas hari. Seberapa signifikan garis tersebut? Ferdinand Magellan pernah dibuat bingung ketika mengelilingi bumi ke arah barat karena ketika dia sampai di titik awal keberangkatannya, ternyata dia telat satu hari dibandingkan jurnal pelayaran yang dia buat. Fenomena unik ini juga diracik secara menarik oleh Jules Verne melalui novel cerdasnya, Around The World in 80 Days.

Jika anda masih bingung dengan fenomena apa yang saya maksud, maka ijinkanlah saya untuk memberi contoh yang saya ambil dari artikel Wikipedia Indonesia berikut ini:
Tonga dan Samoa adalah dua negara yang berdekatan. Jarak tempuh dua negara ini dengan menggunakan pesawat hanyalah dua jam. Akan tetapi Tonga berada di sebelah barat garis batas penanggalan sedangkan Samoa berada di sebelah timurnya. Artinya, ketika di Tonga adalah hari Selasa, maka di Samoa adalah hari Senin. Jika seseorang naik penerbangan dari Tonga pada hari selasa pukul 12.00 siang hari, maka ia akan sampai di Samoa pada pukul 14.00. Tetapi ia tiba di Samoa bukan pada hari Selasa, melainkan hari Senin, atau Ia berjalan mundur satu hari.
Bayangkan apa yang terjadi bila saya, yang seorang muslim, berangkat dari Tonga selepas mengerjakan sholat Jumat menuju Samoa. Maka saya akan tiba di Samoa pada hari Kamis dan artinya dalam waktu kurang dari 24 jam berikutnya, saya memiliki kewajiban untuk menunaikan Sholat Jumat kembali. Saya mengerjakan sholat Jumat di saat, beberapa mil di sebelah barat saya sudah bukan hari Jumat lagi, melainkan Sabtu.

Kemudian yang mengusik pertanyaan saya adalah, apakah boleh umat Islam menggunakan batas penanggalan yang sama dengan kebanyakan orang di muka bumi ini, yaitu mendasarkan penggantian hari pada sebuah garis maya yang ditetapkan melalui konvensi? Jika tidak, lantas di manakah garis batas penanggalan menurut versi Islam?

Wallahu'alam bish-showab

Selasa, Januari 05, 2010

menitipkan asa bumi pada film kartun dan komik

bagaimana sebuah tontonan yang ringan ternyata bisa memuat muatan politis yang amat besar tentu amat menarik. rasanya sedikit yang menyangka bahwa kehidupan Smurf yang imut-imut itu ternyata adalah sebuah alegori kehidupan masyarakat komunis.

sebenarnya bukan hanya smurf, banyak cerita anak-anak lain yang memiliki "pembonceng". tentunya hal ini sah-sah saja. sebuah cerita yang baik tentunya adalah cerita yang menyisipkan pesan moral di dalamnya, baik yang sifatnya bisa diterima secara umum (seperti cerita Doraemon yang mengajarkan adab dalam berkawan), sampai yang ditujukan untuk pengembangan satu ideologi tertentu seperti smurf dan masyarakat komunisnya.

beberapa cerita anak lain yang sarat dengan propaganda antara lain adalah Dora yang mengajarkan anak-anak Amerika Serikat sedari dini untuk memiliki rasa tenggang rasa terhadap warga keturunan latin, Si Unyil yang tema tiap episodenya selalu disesuaikan dengan kebijakan pemerintah yang sedang in di waktu tersebut, sampai upin-ipin yang merupakan propaganda Islam.

penanaman moral, paham, dan ideologi kepada anak sedari dini menjadi penting karena semua itu dapat terekam dalam area sub-conscious sang anak. pertarungan ideologi di masa anak-anak merupakan investasi jangka panjang yang buahnya baru akan terlihat 15-20 tahun kemudian. ketimbang berkampanye kepada orang dewasa, tentunya berkampanye kepada anak kecil akan lebih mudah diterima. anak kecil, dengan keterbatasan pengalamannya, tentu tidak memiliki banyak pembanding (benchmark) atas apa yang disodorkan kepada mereka hingga mereka menjadi tidak terlalu banyak membantah dan lebih mudah mengimani apa saja yang dikatakan padanya. tentunya semua itu hanya dapat berhasil apabila dilakukan dengan komunikasi yang tepat untuk anak kecil.


di tengah kefrustasian warga negara-negara dunia ketiga atas arogansi gaya hidup warga Amerika Serikat, yang menghambur-hamburkan sumber daya alam, sedangkan pemerintahnya tidak memiliki komitmen untuk mendorong warganya agar lebih berhemat, tentunya kampanye terhadap anak usia dini menjadi pilihan yang semakin realistis.

rasanya sulit sekali untuk mengajak Amerika Serikat berkomitmen untuk mengurangi emisi karbonnya. mereka menolak untuk meratifikasi Protokol Kyoto, dan di tiap pertemuan COP pun Amerika Serikat selalu menjadi peserta yang paling ngeyel. entah apa yang salah dengan Amerika Serikat sehingga mereka enggan sekali berkomitmen.

mungkin komitmen dari mereka tidak dapat kita capai sekarang, tapi komitmen itu masih bisa kita harapkan pada tahun-tahun mendatang. kembali ke cerita anak-anak, saya teringat dengan kartun Captain Planet yang pernah saya tonton di dekade 90-an. sebuah cerita superhero yang berusaha menyelamatkan bumi dari kerusakan alam seperli limbah cair, radioaktif, sampai pembalakan hutan.

rasanya Amerika Serikat butuh menayangkan kartun-kartun seperti ini kembali. sebuah kartun dengan misi khususnya yang mengajarkan anak untuk lebih menghargai bumi dan lebih bertanggung jawab atas segala perbuatannya.

Jumat, Desember 25, 2009

recount: menghitung ulang demokrasi kotak suara

beberapa hari yang lalu iseng-iseng beli film kerjasamanya HBO sama Warner Brothers, judulnya recount. ternyata filmnya bagus juga. gak semua orang bakal suka dengan film ini, tapi kalo yang suka dengan intrik-intrik politik sama lobi-lobi tingkat tinggi, rasanya film ini patut ditonton.

pemain di film ini juga gak sembarangan, aktor utamanya aja Kevin Spacey. pemain-pemain lainnya antara lain adalah Laura Dern, Tom Wilkinson, dan Denis Leary. di film produksi 2008 ini, Jay Roach sebagai sutradara mencoba menuturkan apa yang terjadi pada pemilu amerika serikat di tahun 2000.

yah, film ini tentang bagaimana persaingan George W. Bush dan Al Gore. konflik dimulai ketika Wakil Presiden Al Gore hendak berpidato untuk menyatakan kekalahannya terhadap George W. Bush. namun di detik-detik terakhir sebelum pidato, ternyata tim sukses Gore mengetahui bahwa ada kesalahan perhitungan di wilayah Florida yang menyebabkan hasil perhitungan bisa saja berubah arah. Ron Klain, salah seorang tim sukses Al Gore akhirnya berjuang mati-matian untuk mencari kebenaran mengenai siapa pemenang pemilu yang sebenarnya. Undang-Undang negara bagian yang sudah tidak layak digunakan, kesalahan mesin penghitung (ya, di USA, mereka menghitung suara dengan mesin, bukan secara manual seperti negara kita), perbedaan interpretasi mengenai pasal di dalam Undang-undang, semua itu digunakan oleh kedua pihak (Gore maupun Bush) untuk melancarkan jalannya menuju kursi presiden.

sebagaimana yang telah kita ketahui bersama, sejarah mencatat bahwa akhirnya Bush yang akhirnya terpilih menjadi presiden. akan tetapi seberapa konstitusionalkah kemenangan Bush? memang Bush selalu unggul dalam setiap perhitungan ulang, namun jalannya perhitungan ulang tersebut tidak selalu didasarkan pada kesepakatan bersama. itulah yang dipaparkan oleh film ini. kita memang sudah tahu seperti apa hasil akhirnya, tapi menonton film ini benar-benar bisa membuat kita lupa dengan kenyataan yang ada dan secara tidak sadar kita menjadi menaruh harapan akan terjadinya perubahan pada hasil akhir.

catatan:
kalau di pemilu Indonesia 2009, saya dibuat kesal dengan KPU, maka setelah menonton film ini saya menjadi bisa agak lebih memaklumi. karena bahkan di Amerika Serikat pun, masalah yang timbul sama-sama saja. Amerika Serikat yang katanya adalah salah satu pionir dalam kehidupan berdemokrasi di dunia pun bisa kalang kabut, apalagi Indonesia yang masih harus banyak belajar. sebagai penutup, rasanya film ini mengajarkan bahwa, Demokrasi kotak suara memang telah gagal.

sebagai hiburan akhir, silahkan mendengarkan lagu satir yang dibuat oleh Armada Racun dengan judul Amerika.

sumber audio: deathrockstar.info

Rabu, Desember 09, 2009

lagu lama menyatukan dua dunia

ruang besar atau kecil, bangunan angker atau berbunga-bunga, patung atau kaligrafi - semuanya kemeriahan panca indera untuk memuliakan Tuhan.

(Goenawan Muhammad)

sebenarnya tidak ada masalah dengan dilarangnya menara masjid di Swiss. toh, tanpa menara, ummat Islam masih bisa melaksanakan ibadahnya tanpa mengurangi sedikitpun maknanya. Menara hanyalah perlambang yang tidak esensial - berbeda halnya jika yang dilarang adalah pembangunan masjid atau pemakaian jilbab.

meskipun demikian, jangan salahkan juga jika ummat Islam bereaksi keras terhadap hal yang terlihat sepele ini. permasalahan yang ada bukan keberadaan materialistik dari menara masjid, akan tetapi lebih kepada apa yang mendasari pelarangan ini.

pelarangan menara masjid di swiss diputuskan melalui referendum rakyatnya dengan hasil lebih dari 57% warga swiss menolak pendirian masjid dengan kemenangan di 22 dari 26 propinsi yang ada di swiss. dari sini kita sudah bisa melihat bahwa ada ketakutan rakyat swiss terhadap islam.

jika ditarik lebih lebar, ketakutan akan islam tidak hanya terjadi di swiss, akan tetapi sudah mulai menginfeksi keseluruhan eropa. demonstrasi anti islam garis keras yang berubah menjadi demonstrasi anti islam (saja) di inggris, pelarangan jilbab di sekolah-sekolah umum perancis, pembuatan kartun yang menghina nabi Muhammad SAW di Denmark, dan kontroversi pendirian masjid terbesar se-eropa di jerman telah menjadi pembuka islamophobia sebelum keputusan swiss melarang pembangunan menara masjid.

ketakutan ini sendiri memang bukan tanpa alasan. adanya kelompok islam garis keras yang kerap menebar teror dengan sasaran orang-orang barat (amerika serikat dan eropa) harus kita akui dengan sesadar-sadarnya. maka dari itu mengetahui akar permasalahan menjadi penting, karena dengan demikian kita bisa mendapatkan panduan tepat dalam menentukan solusi yang diambil.

penolakan atas kebijakan yang sangat diskriminatif memang sangat diperlukan. dengan langkah apa hal itu dilakukan, inilah yang harus dipilih dengan cermat. melakukan demonstrasi dengan poster-poster yang provokatif rasanya bukanlah pilihan yang tepat. apalagi jika sampai melakukan perusakan yang ujung-ujungnya hanya menimbulkan rasa tidak nyaman. hal ini sama saja dengan menebalkan anggapan bahwa islam memang agama dengan ummat yang brutal.

komunikasi dunia barat dengan islam yang damai harus lebih sering dijalin. sudah saatnya islam membuka dirinya kepada dunia. mengundang masuk - bukan hanya mempersilahkan, tapi mengundang - siapa saja dengan senyum terindah ke lingkungan kita. izinkanlah mereka satu kesempatan untuk memahami apa yang kita rasakan. memahami bahwa islam sebagai (mungkin) satu-satunya agama yang tidak hanya mengatur urusan akherat saja.

semua pemaparan di atas sebenarnya hanyalah lagu lama yang kembali dimainkan dengan aransemen berbeda. sebuah lagu usang yang mulai membosankan mengenai bagaimana cara menyatukan dua dunia. akan tetapi lagu ini akan terus berkumandang selama paparan ini hanya berhenti sebagai sekadar pendaran layar monitor atau sapuan tinta di atas kertas.

how long must we sing this song? (Sunday, bloody sunday - U2)

Minggu, September 13, 2009

siapa punya kebudayaan?

kalau kita coba ingat-ingat kembali pelajaran PKn, PPKn, atau PMP di jaman SD dulu, mungkin ada beberapa dari kita yang masih ingat syarat berdirinya suatu negara. syarat berdirinya suatu negara ada tiga,
  1. memiliki wilayah,
  2. memiliki penduduk, dan
  3. memiliki pemerintahan yang berdaulat.

dari ketiga syarat tersebut sama sekali tidak ada yang menyinggung soal kebudayaan sebagai syaratnya. sebagaimana yang dikemukakan oleh Mitchell,
kebudayaan adalah suatu perulangan aktivitas manusia yang telah memasyarakat secara sosial dan bukan sekedar dialihkan secara genetikal.
dengan mengambil definisi dari Mitchell tersebut, maka kita bisa mengambil kesimpulan bahwa apapun kebudayaan yang berasal dari wilayah Indonesia yang dilakukan secara terus menerus oleh suatu kelompok manusia di wilayah non-Indonesia dapat dianggap sebagai kebudayaan kelompok manusia tersebut.

menyebalkan yah? tapi masih ada yang lebih menyebalkan. sesuai dengan definisi Mitchell itu juga, apabila kita sebagai bangsa Indonesia tidak lagi melakukan aktivitas budaya kita, maka kita tidak berhak lagi mengakui kebudayaan itu sebagai kebudayaan kita karena kebudayaan tidak sekedar dialihkan secara genetikal.

Selasa, September 01, 2009

sekali ini, kita bicara soal orisinalitas

walau hanya sekejap, tapi saya berani bilang bahwa saya pernah berkecimpung di dunia kreatif. sebagaimana anak muda lain yang sedang meraba identitasnya, saya memilih untuk nge-band bersama teman-teman sekolah ketika itu. dengan modal suara pas-pasan dan pengetahuan struktur lagu yang jauh dari memadai, saya masih mampu membuat beberapa lagu. ya, beberapa lagu.

lagu-lagu yang selalu dengan bangga saya dendangkan sambil bersusah payah menarikan jemari mengganti kuncian pada frat-frat gitar. tidak peduli ada atau tidak ada yang mendengar, tidak peduli ada atau tidak ada yang mengapresiasi. untuk saya, dengan kemampuan minimal, mampu merangkai lagu sendiri adalah kebanggaan.

dengan gitar ini, lagu-lagu itu biasa saya mainkan.

tak jarang teman berkomentar tentang lagu-lagu saya. tidak terlalu banyak yang mengapresiasi memang. tetapi sering kali komentar mereka seperti ini, "ini lagu siapa sih? kayaknya gue pernah denger." mahfum mereka menanyakan lagu siapa, karena memang lagu-lagu tersebut baru saya perkenalkan ke telinga mereka. tetapi banyak dari mereka yang seperti sudah familiar dengan lagu-lagu saya. seperti berusaha mengingat, tapi kemudian ingatan tersebut tersangkut di salah satu lekukan otak.

rasanya tidak ada orang yang mau disebut plagiat. namun bagaimanapun juga, pengaruh luar akan selalu ada di dalam setiap karya, termasuk karya musik. dengan wawasan musik yang ada, tentunya saya pun secara tidak sadar menjadi "dituntun" ketika membuat lagu. dituntun oleh wawasan saya. saya dituntun intuisi saya untuk membuat progresi yang enak dilangkahkan, saya dituntun oleh intuisi saya untuk merangkai lirik yang megah, dan intuisi saya digerakkan oleh pengetahuan musik yang saya miliki.

karya-karya saya tidak mungkin orisinil. sama seperti karya orang-orang lain juga. dari pee wee gaskins sampai Sebastian Bach, mereka semua pasti memiliki pengaruh dari luar. bisa dipastikan tidak ada yang orisinil.

maka ketika ribut-ribut lagu kebangsaan Malaysia dituduh menjiplak lagu Terang Bulan, saya memilih untuk tidak ambil pusing. ternyata pilihan sikap saya seperti mendapatkan pembenaran. selang beberapa hari kemudian Remy Silado pun memberi klarifikasi bahwa ternyata lagu Terang Bulan pun menyadur lagu perancis. lucu sekaligus ironis.

untuk apa capek-capek menuduh mereka penjiplak? toh sehebat apapun progresi not yang bisa dibuat tetap saja maksimal berpijak pada 7 not yang ada pada tangga nada diatonis. orisinalitas dalam musik sudah hilang sejak awal. orisinalitas di dalam musik sudah habis ketika bunyi pertama terdengar di dunia ini. orisinalitas itu hanya milik Ia, Yang Maha Mencipta.

Minggu, Desember 10, 2006

USAparanoia

amerika negara yang paranoid abis. terlepas dari emang banyak ancaman terhadap negaranya. tapi... siapa menebar angin, dia menuai badai...

berikut adalah beberapa satuan keamanan yang dimiliki negara oom sam tersebut

national security agency = dari namanya juga udah ketauan dong....

secret service = tugas utamanya untuk melindungi pak presiden dan pejabat2 negara penting lainnya seperti senator

cia = badan intelijen-nya amerika serikat. ngerjain tugas2 kotor negara. mereka juga punya agen2 yang tidak diakui secara resmi. kalo agen mereka yang tidak diakui secara resmi tersebut meninggal, maka penghargaan yang diberikan pemerintah hanya berupa tanda bintang tanpa nama yang dipajang di depan kantor utama mereka.

fbi = ini polisi federal. jadi kalo ada kasus2 yang udah ngelewatin yuridiksi negara bagian, biasanya dialihin ke fbi. bukan lagi di departemen kepolisian negara bagian seperti lapd ato nypd.

US Marshals Service = biasanya kerja bareng degan kehakiman. tugas rutinnya ngasih perlindungan terhadap saksi dan mengawal penjahat2 dalam proses persidangan dan kemana aja.

atf = polisi khusus yang nanganin perdagangan senjata ilegal

dea = polisi khusus yang nanganin perdagangan obat bius

swat = tim taktis yang biasanya dipake untuk nanganin situasi2 khusus

homeland security = dibentuk setelah serangan 911. tugas utamanya untuk mengawasi pergerakan teroris yang ada di USA.