Tampilkan postingan dengan label monolog dua arah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label monolog dua arah. Tampilkan semua postingan

Selasa, Januari 20, 2026

Petani vs Pelaku Usaha Tani

Sambil mengemudikan mobil bak-nya, Agus bertanya, “Kenapa gak ada jabatan untuk petani yang level atas-atas?”

Kami baru saja melakukan asesmen kompetensi kepada kelompok tani di daerah Pamijahan. Kelompok tani yang beberapa anggotanya bahkan masih kesulitan baca tulis. Ketika mereka mengisi form aplikasi, sempat tidak sengaja terdengar, “Lamun kemis teh kumaha nulisna?”

Bahkan menulis “kamis” pun mereka butuh validasi. K-A-M-I-S.

Sertifikasi profesi di bidang pertanian ini memang lebih banyak berkutat di jenjang-jenjang bawah. Jabatan yang dapat diduduki langsung oleh sekadar tamatan SD. Pekerjaan yang lebih membutuhkan ketrampilan ketimbang daya analisis. Membaca dan menulis jadi tidak penting-penting amat. Makanya pertanyaan Agus tadi cukup mengusik.

Saya menjawab pertanyaan Agus sambil separuh berkilah, ”Lah, kan ada jabatan manajer produksi agribisnis, manajer pemasaran agribisnis, dll. Itu sudah jenjang 6, lho.”

Agus tidak puas dengan jawaban saya, “Itu kan untuk yang kerja di kebun. Di perusahaan. Kalau yang seperti saya ini bagaimana? Yang usaha sendiri. Saya ingin ada jabatan petani, tapi levelnya tinggi. Petani tapi setara dengan manajer, bukan yang level 3.”

Mendengar itu, saya jadi teringat percakapan saya dengan Pak Iman, atasan saya di kantor LSP. Pernah sekali waktu saya menanyakan kenapa nama-nama skema sertifikasi kita terlalu birokratis: pelaksana budidaya sayuran, pelaksana budidaya tanaman anggrek, pelaksana budidaya tanaman buah. Kenapa tidak langsung saja petani sayuran, petani anggrek, dan seterusnya. 

Alasan pak Iman ketika itu adalah pelaksana budidaya itu berbeda dengan petani. Pelaksana budidaya itu orang yang bekerja di lahan, sedangkan petani sudah harus memikirkan aspek penjadwalan, penjualan, pemasaran dan lain-lain. 

Ternyata pekerjaan “petani” memang tidak rendahan. Ternyata pemahaman saya soal "petani" sudah paripurna sedari lama, hanya tertutupi oleh persepsi umum yang mengasosiasikan petani dengan pekerjaan rendahan.

Mengutip senior saya yang lain di kesempatan yang lain juga, “Petani itu harusnya kaya. Yang miskin itu biasanya buruh tani. Sama dengan buruh pabrik, biasanya miskin. Tapi yang punya pabrik, ya harusnya kaya.”

***

Pada satu kesempatan, saya lupa bagaimana ceritanya, tiba-tiba saya ikut serta di sebuah rapat yang diadakan Kementerian Pertanian. Rapat itu sedang membahas susunan Kualifikasi Kerja Nasional Indonesia (KKNI) untuk bidang hortikultura. 

Ketika sedang membahas kemungkinan-kemungkinan jabatan di tiap jenjang, saya ingat dengan kegusaran Agus ketika itu. Saya pun mengusulkan untuk jenjang 5, diisi dengan aneka rupa jabatan dengan awalan petani. Petani sayuran, petani tanaman buah, petani tanaman hias, dan seterusnya.

Salah satu argumen saya ketika itu adalah sebagai penghormatan kepada petani sekaligus menempatkan petani pada posisi yang seharusnya. Bahwa petani bukan sekadar bercocok tanam, tapi juga merencakanan produksi dan berjualan layaknya pengusaha. Terasa populis sekali ya? Hehe

Resistensi terhadap usul tersebut langsung terasa. Walaupun tidak konfrontatif, tapi ada masukan-masukan untuk tidak mengganti istilah “petani”, menjadi “pelaku usaha tani”. Sekali lagi, menurut saya, penamaan jabatan ini terasa sangat birokratis. Argumen mereka yang kontra adalah jabatan “petani” terasa sulit untuk dijual. Argumen yang sangat bisa saya pahami.

Untungnya ada beberapa anggota rapat yang pro terhadap usul jabatan “petani”. Bahwa memang kenyataannya saat ini mulai banyak petani yang tersadarkan bahwa profesinya bukanlah sesuatu yang harus membuatnya minder. 

Bahwa saat ini mulai banyak anak-anak muda yang tertarik dengan dunia pertanian. Bahkan Agus yang keluhannya dijadikan pembuka tulisan ini pun selalu bangga bilang bahwa kolom pekerjaan di KTP-nya adalah petani. Tidak seperti petani-petani angkatan lama yang lebih senang berkamuflase di balik kata “wiraswasta”.

Pertanian yang sempat teralienasi, perlahan-lahan mulai kembali ke arus utama. Banyak anak muda kota yang tertarik untuk bercocok tanam. Budidaya hidroponik, pertanian organik, sampai perkebunan kopi menjadi hal yang menarik untuk dipelajari. 

Maka hanya soal waktu sampai profesi “petani” menjadi sesuatu yang normal dicita-citakan. Bersanding dengan polisi, dokter, dan presiden.

Senin, Maret 11, 2024

Hal-hal yang tidak saya setujui tentang IKN Nusantara

Disusun sekenanya aja, bukan berdasarkan derajat kepentingan. 

1. Keputusan diambil sepihak, bahkan oleh 1 orang. Idealnya ide pemindahan ibu kota melalui referendum atau setidaknya lewat konsultasi dengan DPR.

2. Lokasi terlalu jauh dari Jakarta. Hal ini akan mengakibatkan biaya sosial yang tinggi.

3. Membangun kota dari nol. Akan lebih murah jika ibu kota baru dibuat dengan mengembangkan kota yang sudah ada.

4. Mungkin tidak perlu pindah ibu kota, cukup pindah pusat pemerintahan. Pindah ibu kota punya konsekuensi yang tidak hanya ditanggung pemerintah, tapi juga instansi atau organisasi lain. Misal: (1) kedutaan besar negara lain harus ada di ibu kota. Otomatis mereka harus pindah. (2) Mungkin banyak organisasi yang di AD/ART-nya memuat bahwa kedudukan organisasinya harus ada di ibu kota, misal: PSSI di statutanya menyebutkan bahwa PSSI harus ada di ibu kota (bukan Jakarta). Mereka juga harus pindah. 

5. Nama ibu kota "Nusantara" juga ditetapkan secara sepihak tanpa melalui konsultasi publik seperti poin nomor 1. Selama ini istilah "Nusantara" selalu digunakan sebagai sinonim dari "Indonesia" setelah sebelumnya direduksi dari konsep kenegaraan kerajaan Singosari. Menyebut ibu kota negara baru sebagai "Nusantara" adalah ahistoris, mengerdilkan, dan membingungkan. Sebagai usul, sebaiknya nama IKN tetap menggunakan nama wilayah setempat sebagai bentuk penghormatan kepada warga setempat.

6. Terlalu banyak proyek infrastruktur mercusuar. Cont: istana negara. Selain mahal, proyek seperti ini juga kurang fungsional. Penggambaran IKN selama ini lebih banyak dinarasikan sebagai suatu tempat yang "wah" dan menarik untuk dikunjungi. Lebih mirip membangun kota wisata ketimbang pusat pemerintahan. 

Jumat, Desember 19, 2014

Atribut Keagamaan, Stereotipe, dan Kebebasan Berkeyakinan

Seperti pernah saya ceritakan sebelumnya, guru agama saya pernah mencubit perut saya karena sholat tanpa peci. Padahal peci bukan syarat sah sholat. Peci juga tidak berfungsi menutupi aurat. Orang yang naik haji saja tidak berpenutup kepala. Lalu kenapa saya harus dicubit? Guru saya sudah mencampuradukkan antara kebudayaan dan ibadah.

Peci bukan bagian dari ibadah sholat. Memang peci kerap dipakai ketika orang sholat. Tapi sebenarnya kehadiran peci tidak lebih penting daripada ketupat yang selalu ambil bagian ketika Idul Fitri. Siapa saja bisa makan ketupat. Siapa pun bisa memakai peci. Bahkan ketika masa orde baru, peci menjadi semacam identitas nasional, bukan atribut keagamaan.

Derajat keimanan seseorang tidak bisa dinilai dari pakai peci atau tidak. Maka tidak mungkin juga mengetahui keyakinan seseorang hanya melalui pakai peci atau tidak. Memang peci identik dengan orang Islam, tapi bukan berarti orang bukan Islam tidak boleh memakai peci. Bukan berarti tiap orang yang memakai peci seketika itu juga tiba-tiba menjadi beragama Islam.

Peci hanya stereotipe. Sama saja dengan topi sinterklas. Sama juga dengan ketupat. Saya yakin penganut agama nasrani di awal-awal penyebarannya pun tidak berdakwah dengan cerita seorang kakek di kutub utara yang tiap akhir tahun berkeliling dunia dalam satu malam memberikan hadiah ke rumah-rumah melalui cerobong asap. Bahkan saya tidak yakin apa ada cerobong asap di rumah-rumah Yerusalem ketika itu. Sama tidak yakinnya apakah konsep kutub utara sudah bisa diterima dengan baik ketika itu. Lha, Galileo Galilei yang lahir belakangan dan mengenalkan konsep bumi itu bulat saja tidak langsung diterima pihak gereja.

Ini simbol salju, bukan simbol keagamaan

Diskusi soal bagaimana seharusnya sikap umat Islam dalam menyikapi natal selalu menjadi perbincangan tiap tahun. “Gak selesai-selesai,” kata orang.

Tentu saja tidak akan pernah selesai, lha wong natalnya memang datang tiap tahun. Jadi wajar saja kalau adu argumen soal bagaimana menyikapi natal oleh umat Islam akan terus dibahas tiap tahun. Tiap Ramadhan juga selalu yang dibahas adalah soal berpuasa agar menjadi orang bertaqwa, tapi tidak ada yang komentar, “temanya ini melulu.”

Semua orang boleh berpendapat, memberikan argumen, dan juga dalil. Yang tidak boleh adalah memaksakan pendapatnya. Jika ada orang Islam yang meyakini bahwa mengucapkan selamat natal itu tidak apa-apa, maka orang lain harus menghormatinya. Boleh mempengaruhinya, menasihatinya, dan mengajaknya diskusi. Tapi tidak perlu melarang-larang sambil membawa pentungan. Cukup diingatkan saja.

Di lain sisi, jika ada orang Islam yang meyakini memakai topi sinterklas itu haram, maka orang lain pun tidak punya hak memaksanya. Sekedar memintanya untuk mengenakan sih boleh saja. Tapi kalau yang bersangkutan menolak, ya jangan dipaksa-paksa, tidak usah disindir-sindir. Apalagi diancam potong gaji, diberi surat peringatan, sampai dipecat.


Lalu bagaimana dengan peringatan natal yang rencananya akan dihadiri oleh presiden –yang adalah muslim-. Harusnya tetap berpulang kepada keyakinan pribadi presiden itu sendiri. Kalau menurutnya tidak apa-apa baginya yang seorang muslim untuk datang ke acara tersebut, ya silahkan saja. Toh peringatan natal bukan bagian dari ibadah natal.

Teman-teman yang bukan Islam pun banyak yang datang ke acara buka puasa bersama atau halal bil halal. Tidak ada yang melarang. Lain halnya kalau orang tersebut ikut sholat Ied, bolehlah dikeluarkan dari shaf.

Namun jika presiden memiliki keyakinan bahwa menghadiri acara tersebut bertentangan dengan ajaran yang dia anut, maka keyakinan presiden ini harus dihormati juga. Tidak perlu merengek-rengek dengan berkata bahwa presiden adalah milik rakyat Indonesia, bukan hanya warga muslim Indonesia. Rasanya muslim manapun, mulai dari yang puritan semacam Habib Rizieq sampai yang paling liberal macam Ulil Abshar pun, tidak akan ambil pusing apakah Ahok akan mengucapkan selamat Idul Fitri atau tidak kepada warga DKI Jakarta.



Kalau ada orang yang menolak mengucapkan selamat hari raya kepada umat agama lain, tidak perlu juga dicap sebagai bigot. Selama orang-orang ini tidak mengganggu ibadah orang lain, tidak menutup paksa rumah ibadah agama lain, ya biarkan saja. Keyakinan itu urusan masing-masing. Beda agama jelas beda cara beribadahnya, namun yang satu keyakinan pun bisa jadi beda cara mengamalkan. Di mana pun letak perbedaannya, yang penting tetap saling menghormati. 

Rabu, Agustus 06, 2014

Kacamata Biru dan Langit yang Tak Pernah Mendung

Jadi ceritanya beberapa bulan yang lalu gua kembali iseng ikut kompetisi-kompetisian. Kompetisi kali ini adalah membuat video klip dari The Fly. Hadiah utamanya adalah dua unit telepon seluler, sedangkan hadiah hiburannya memorabilia dari personil The Fly.


Video klip berhasilkan diselesaikan sesuai dengan tenggat yang disyaratkan. Awalnya sih lumayan optimis menang. Gimana gak optimis, lha wong peserta yang masukin video klip cuma satu orang. hehehe... Eh ternyata, batas pengumpulan video klipnya diundur sampai dua kali. Dalam periode itu masuklah dua video klip dari peserta lain. Di akhir pengumuman jadilah video klip gua di urutan paling bontot. 


Agak gondok juga sih gara-gara batas waktu pengumpulannya diundur dua kali. Kalo gak kan, gua sekarang lagi megang box ponsel baru. Tapi dibandingin dua video klip lainnya, emang video klip gua yang paling sedikit effort-nya sih. Jadi emang pantes di posisi ke-3. Heu...

Nah, salah satu memorabilia yang jadi hadiah ternyata adalah sun glasses warna biru. Dalam hati gua terkekeh karena punya pengalaman konyol dengan kacamata biru (mau nulis istilah "kacamata hitam" kayaknya kurang pas).

Gak jadi dapet Galaxy Champ. Hiks...

Jadi cerita kacamata biru ini terjadi di 2010. Gua masih jadi petani tebu di grup perusahaan tebu yang punya areal kebun paling luas se-Sumatera. Sebagai petani, tentu kerjaan sehari-hari adalah keliling-keliling kebun. Areal yang jadi tanggung jawab gua ketika itu sekitar 4.500 hektar, lumayan luas. Untuk operasional sehari-hari, kendaraan yang dipakai adalah sepeda motor. Beda dengan di jalan aspal di mana standar pelengkapnya adalah helm, di perkebunan ini tradisinya adalah memakai topi cap, slayer, dan kacamata hitam. Memakai helm di tengah cuaca panas dan berdebu membuat kepala mudah berkeringat dan sama sekali gak nyaman. Makanya orang lebih banyak yang milih pakai topi, slayer, dan kacamata sehingga kontak kulit dengan angin lebih banyak.

Sebagai nubie di bidang perkacamataan, gua milih beli sun glasses di abang-abang pinggir jalan yang harganya cuma Rp 15.000,-. Dari beberapa model yang ada di display, gua milih kacamata dengan film berwarna biru.

Sekedar saran, kalau mau beli sun glasses sebaiknya jangan yang dari abang-abang di pinggir jalan. Sun glasses yang baik adalah yang punya anti-UV. Ketika kita memakai sun glasses, pupil kita cenderung membesar karena cahaya yang masuk ke retina sedikit. Walaupun cahaya yang masuk sedikit, sinar ultra violet dari matahari yang masuk tetap banyak. Ketika pupil mata membesar, UV yang masuk tentu makin banyak. Di situlah perlunya sun glasses dengan anti-UV.

Pengalaman pertama gua make kacamata itu adalah dalam perjalanan dari rumah ke areal kebun yang jaraknya sekitar tiga jam perjalanan sepeda motor. Helm full face dengan visor dibuka ditambah sun glasses. Kecepatan motor biasanya di atas 60 km/ jam. Beberapa kali sempat pasang 110 km/ jam di atas aspal mulus Lintas Timur Sumatera. 

Sepanjang perjalanan sebenarnya gua gak khawatir sama sekali dengan perubahan cuaca, langit selalu cerah. Sampai sekitar dua jam perjalanan tiba-tiba tetesan rintik hujan menerpa punggung tangan. Padahal langit masih cerah. Karena merasa aneh, akhirnya gua lepas kacamata murahan itu. Eng ing eng... ternyata mendung berat sudah menggantung. Gara-gara film kacamata yang warna biru, gua ngeliat langit masih biru, padahal kenyataannya sudah kelabu.

Kacamata itu akhirnya hilang. Entah diambil anak buah di meja kantor kontrol radio atau sekedar tertumpuk kertas-kertas laporan harian operasional truk yang tak kunjung diperiksa atasan. 

Sekarang kacamata biru itu "kembali" lagi dengan cara yang tak diduga. Seolah Tuhan hendak berkata pakailah kacamata ini, maka kau akan melihat semua baik-baik saja. Langit masih biru, tidak kelabu.

Minggu, Juli 04, 2010

Semangkuk Mie Ayam

Semangkuk Mie Ayam Polos


Beberapa meter setelah gerbang Sekolah Dasar di mana saya menimba ilmu dulu, tepat di pojokan depan Gedung Cabang Muhammadiyah, ada tenda mie ayam yang benar-benar laris. Pelanggannya beragam. Mulai dari sopir antar jemput sampai orang tua murid. Dari pedagang mainan yang berjejer di sekitarnya sampai guru-guru. Setiap hari dagangannya hampir pasti habis. Lepas jam satu siang, sang pedagang biasanya sudah berkemas-kemas untuk pulang.



Saya masih ingat harganya. Satu porsi Rp 700,00 dan setengah porsi Rp 500,00. Untuk saya yang ketika itu uang jajannya hanya dijatah Rp 6.000,00 per bulan, tentu saja mie ayam saya kategorikan ke dalam barang mewah. Barang tersier. Bukan hanya untuk saya, teman-teman yang lain pun menganggapnya demikian. Mie ayam adalah sebuah kasta dengan prestise selanjutnya setelah somay dan es serut berbentuk payung kuncup. Makanan para priyayi. Makanan anak orang kaya. Makanan yang oleh sebagian anak lain hanya bisa dinikmati setelah merengek setengah mati ke orang tuanya yang kebetulan sedang menjemput. Makanan yang biasa dihadiahkan orang tua kepada anaknya setelah pembagian raport.



Beberapa kali teman-teman saya patungan untuk membeli mie ayam. seratus rupiah per anak. Jadilah setengah porsi mie ayam dikeroyok lima anak. Saya sendiri lebih memilih untuk menahan-nahan untuk hemat jajan di awal bulan, agar ketika akhir bulan bisa mendapatkan sisa uang untuk membeli mie ayam.



Dulu saya suka sekali menambahkan banyak-banyak saus murahan khas yang biasa ada di tukang mie ayam ke dalam mangkuk. Entah kenapa. Padahal sekarang saya tidak pernah menambahkan saus pun kecap ke dalam mie ayam. Mungkin warna kuning genteng menyalanya yang membuat saya tertarik ketika itu.



Seiring perjalanan waktu, saya menemukan bahwa mie ayam tidak lagi menjadi makanan yang wah. Apalagi setelah berkali-kali menemukan mie ayam dengan rasa gak karuan. Sekarang, tiga belas tahun lebih setelah pengalaman saya ketika sekolah dasar, saya menemukan sekelompok masyarakat yang menganggap mie ayam sebagai lambang kemewahan. Makanan khusus yang dimakan pada waktu khusus pula.



Tersebutlah pasar payroll. Pasar yang hanya hadir di hari sabtu dari siang sampai sore. Disebut pasar payroll karena hadir di dekat loket payroll. Loket pembagian gaji untuk buruh tani di sebuah perusahaan perkebunan tebu di pangkal Sumatera.



Pedagang yang berjualan di sana tidak sampai tiga puluh. Sebagian menjual kaos murah meriah dan kemeja bekas. Sebagian yang lain menjual peralatan rumah tangga. Namun dari sekian banyak pedagang tersebut, yang paling banyak adalah pedagang mie ayam.



Makan mie ayam menjadi semacam lambang penghargaan atas jerih payah buruh tani yang telah seminggu penuh membanting tulang untuk dua sampai tiga ratusan ribu rupiah. Terkadang kurang. Enam sampai delapan jam sehari. Enam hari seminggu, bahkan tujuh. Itulah waktu yang harus mereka setor demi menyambung hidup keluarganya. Untuk semua kerja keras itu, semangkuk mie ayam di akhir pekan adalah cara mereka untuk merayakannya. Sebuah cara yang meriah untuk mereka, tapi mungkin biasa-biasa saja untuk orang-orang kebanyakan.

Jumat, Maret 05, 2010

rumputpagi: sebuah penjelasan

Tidak seperti blogger lain yang sangat antusias untuk membangun komunitas, saya lebih menikmati kesolitarian saya di dalam teduhnya rumputpagi.tk. Sebenarnya sempat juga menjadi banci traffic dengan koar-koar di blog-blog tetangga untuk mampir ke blog ini, tapi ternyata itu bukan gaya saya. Apalagi sampai bercita-cita untuk menjadi sosialita blog. Ah, tidak-tidak, terima kasih.

Jika menapak tilas perjalanan blog ini, akan terlihat adanya perubahan gaya maupun tema tulisan. Proses ini berjalan secara siklistik. Kadang santai kadang serius. Kadang tema yang diangkat sangat berat tapi di lain waktu bisa jadi sangat remeh. Mengapa demikian? Sebenarnya tidak ada jawaban khusus, hanya menyesuaikan dengan mood saja. Yang pasti, blog ini saya posisikan sebagai sebuah jendela untuk memetakan pikiran-pikiran saya. Sebagai sebuah simpulan atas pertempuran yang terjadi di otak saya sebagai playground.

Ya, blog ini dibangun dengan pendekatan inside-out. Saya termasuk orang yang percaya bahwa apapun yang dikerjakan dengan hati akan menghasilkan produk yang disukai. Tanpa perlu merasa terbebani dengan kualitas ataupun keharusan untuk terikat pada satu bidang tertentu, akhirnya blog ini berkembang sampai hari ini.

Nama rumputpagi sendiri dipilih karena beberapa alasan. Meski demikian, tidak ada arti khusus dari rumputpagi, hanya saja saya merasa nama ini memberi nuansa damai sekaligus semangat di saat yang sama ketika membacanya. Jelas ini pendapat pribadi saya saja, orang lain boleh tidak setuju.

Header blog ini adalah salah satu bagian favorit saya. Sangat catchy. Sekali lagi, ini hanya selera pribadi saya. Sebenarnya, header ini adalah salah satu personal joke dari saya untuk pengunjung blog ini. Banyak orang yang tertipu dengan header ini dengan menyangka bahwa gambar header ini adalah gambar rumput, mengingat nama blog ini adalah rumputpagi. Padahal pada kenyataannya, tanaman yang ada di gambar ini adalah tanaman padi. Jika anda jeli, di sisi kiri gambar terlihat sedikit tangkai yang berisi bulir-bulir padi. Gambar ini diambil di salah satu areal persawahan di Rancaekek, Kabupaten Bandung.

Umur enam tahun untuk manusia biasanya ditandai dengan mulainya proses pendidikan formal, ditandai dengan mulai masuk sekolah dasar. Umur enam tahun untuk kucing rasanya sudah cukup tua. Lalu bagaimana untuk blog? Untuk blog, umur hanyalah sebuah angka yang signifikansiny amat relatif. Namun bagaimana pun juga, enam tahun nge-blog di rumputpagi.tk adalah pengalaman tersendiri untuk saya.

selamat ulang tahun rumputpagi dan selamat untuk postingan ke 200.

Kamis, Desember 24, 2009

wisuda


mereka yang mantap melangkahkan kakinya di acara wisuda adalah orang-orang hebat. bagaimana tidak, sebagian besar dari mereka tidak memiliki apa-apa untuk hari berikutnya kecuali semangat dan cita-cita. tanpa kejelasan atas sumber penghidupan di hari esok mereka tetap bisa tersenyum bangga, membusungkan dada, lalu melempar topi ke udara.

saya? saya tidak sehebat itu. wisuda adalah sebuah seremoni yang terlalu mewah mengingat masa depan saya yang terlampau kabur. saya merasa lebih nyaman menikmati pikuk manusia dari luar gedung ketimbang menjadi bagian dari acara wisuda tersebut. terlalu beresiko.

itulah pilihan saya. sebuah pilihan yang saya syukuri dan sama sekali tidak saya sesali. =)

Kamis, Desember 17, 2009

sepenggal cerita dari danau LSI

di kampus saya dulu, ada sebuah danau buatan. kita biasa menyebutnya danau LSI, karena letaknya yang bersebelahan dengan Gedung LSI. danau itu menjadi satu ekosistem yang cukup kompleks karena terdiri dari air, rawa, dan daratan. banyak makhluk yang hidup di sana, mulai dari burung kowak malam kelabu, katak, ular, ilalang, sampai ikan. di siang hari, biasanya ada saja satu dua bapak yang mencoba memancing ikan.

setiap hari mungkin ada ratusan lebih orang yang melintasi tepian danau itu. mulai dari mereka yang tergesa-gesa dengan urusannya di rektorat ataupun yang hanya sekedar ingin menumpang akses internet di perpustakaan. dari sekian banyak orang yang lewat itu, rasanya hanya sedikit yang sering memperhatikan keindahan danau ini. di tepi danau ini, dibangun sebuah kantin. tetapi anehnya si pengelola justru menyekat keindahan di luar sana dengan lembaran plastik tebal.

saya sering menikmati indahnya danau ini, sekedar menikmati terpaan angin sejuk di pinggir danau ketika berjalan melintas. sesekali saya juga mengamati kawanan burung yang mengepakkan sayapnya terbang dan mendarat. jika sedang bosan tidak jarang saya berhenti sejenak hanya untuk menikmati lingkaran-lingkaran yang terbentuk dari tetesan pelimbahan di permukaan danau yang bergerak menjauh dari pusatnya.

banyak keindahan yang terlewat dari bidang lihat mereka yang melintas. bukan karena mereka tidak melihat, tapi karena mereka tidak mau melihat.

buat saya, danau LSI adalah sebuah panggung kesenian megah. setiap saat selalu mempertontonkan kemegahan karya Sang Pencipta. sampai saat malam, ketika tirai panggung utama tersingkap dan orkestrasi jangkrik mengawal ratusan bahkan ribuan kunang-kunang memainkan simfoni cahaya. kerlap-kerlip pendaran hijau-kuning tak putus-putusnya mengalir, apalagi jika hujan baru saja singgah. sesekali jika sedang beruntung, satu kunang-kunang terbang mendekat seakan memberi ucapan terima kasih atas kehadiran saya pada malam itu.

seorang penonton lain yang pernah hadir bersama saya pernah memaksa saya untuk mengeluarkan kamera untuk mengabadikan keindahan tersebut. namun saya tak menggubris, hanya tersenyum dan berkata,"tidak semua keindahan harus diabadikan. yang seperti ini, harus dinikmati langsung tanpa perantara."

Rabu, Desember 09, 2009

lagu lama menyatukan dua dunia

ruang besar atau kecil, bangunan angker atau berbunga-bunga, patung atau kaligrafi - semuanya kemeriahan panca indera untuk memuliakan Tuhan.

(Goenawan Muhammad)

sebenarnya tidak ada masalah dengan dilarangnya menara masjid di Swiss. toh, tanpa menara, ummat Islam masih bisa melaksanakan ibadahnya tanpa mengurangi sedikitpun maknanya. Menara hanyalah perlambang yang tidak esensial - berbeda halnya jika yang dilarang adalah pembangunan masjid atau pemakaian jilbab.

meskipun demikian, jangan salahkan juga jika ummat Islam bereaksi keras terhadap hal yang terlihat sepele ini. permasalahan yang ada bukan keberadaan materialistik dari menara masjid, akan tetapi lebih kepada apa yang mendasari pelarangan ini.

pelarangan menara masjid di swiss diputuskan melalui referendum rakyatnya dengan hasil lebih dari 57% warga swiss menolak pendirian masjid dengan kemenangan di 22 dari 26 propinsi yang ada di swiss. dari sini kita sudah bisa melihat bahwa ada ketakutan rakyat swiss terhadap islam.

jika ditarik lebih lebar, ketakutan akan islam tidak hanya terjadi di swiss, akan tetapi sudah mulai menginfeksi keseluruhan eropa. demonstrasi anti islam garis keras yang berubah menjadi demonstrasi anti islam (saja) di inggris, pelarangan jilbab di sekolah-sekolah umum perancis, pembuatan kartun yang menghina nabi Muhammad SAW di Denmark, dan kontroversi pendirian masjid terbesar se-eropa di jerman telah menjadi pembuka islamophobia sebelum keputusan swiss melarang pembangunan menara masjid.

ketakutan ini sendiri memang bukan tanpa alasan. adanya kelompok islam garis keras yang kerap menebar teror dengan sasaran orang-orang barat (amerika serikat dan eropa) harus kita akui dengan sesadar-sadarnya. maka dari itu mengetahui akar permasalahan menjadi penting, karena dengan demikian kita bisa mendapatkan panduan tepat dalam menentukan solusi yang diambil.

penolakan atas kebijakan yang sangat diskriminatif memang sangat diperlukan. dengan langkah apa hal itu dilakukan, inilah yang harus dipilih dengan cermat. melakukan demonstrasi dengan poster-poster yang provokatif rasanya bukanlah pilihan yang tepat. apalagi jika sampai melakukan perusakan yang ujung-ujungnya hanya menimbulkan rasa tidak nyaman. hal ini sama saja dengan menebalkan anggapan bahwa islam memang agama dengan ummat yang brutal.

komunikasi dunia barat dengan islam yang damai harus lebih sering dijalin. sudah saatnya islam membuka dirinya kepada dunia. mengundang masuk - bukan hanya mempersilahkan, tapi mengundang - siapa saja dengan senyum terindah ke lingkungan kita. izinkanlah mereka satu kesempatan untuk memahami apa yang kita rasakan. memahami bahwa islam sebagai (mungkin) satu-satunya agama yang tidak hanya mengatur urusan akherat saja.

semua pemaparan di atas sebenarnya hanyalah lagu lama yang kembali dimainkan dengan aransemen berbeda. sebuah lagu usang yang mulai membosankan mengenai bagaimana cara menyatukan dua dunia. akan tetapi lagu ini akan terus berkumandang selama paparan ini hanya berhenti sebagai sekadar pendaran layar monitor atau sapuan tinta di atas kertas.

how long must we sing this song? (Sunday, bloody sunday - U2)

Senin, November 23, 2009

karena hukum tidak melihat

jika anda termasuk korban film india di TPI pada dekade 90-an, maka pasti anda jamak melihat gambar patung justitia, dewi keadilan berdasarkan mitologi romawi. dalam pendeskripsiannya, digambarkan bahwa justitia memegang pedang di tangan kanan, neraca di tangan kiri, serta penutup mata.

penutup mata menggambarkan bahwa hukum harus (atau setidaknya diharapkan) berlaku imparsial atau tidak memihak. hukum akan berlaku adil tanpa memandang bulu, pangkat, strata, kasta, status ekonomi, derajat pendidikan, umur, gender, ataupun pendikotomian lainnya.

maka tidak ada yang salah ketika seorang minah, nenek yang tertangkap tangan karena mencuri 3 buah kakao, kemudian dihukum 1 bulan 15 hari dengan masa percobaan 3 bulan. mencuri 3 buah kakao mungkin memang terdengar sepele, tapi itulah hukum. suka tidak suka, hukum telah disepakati dan sebagai konsekuensinya, hukum harus kita taati.

muncul suara-suara yang menyayangkan jaksa karena tidak memberikan kebijaksanaannya, misalnya mengeluarkan surat keputusan penghentian penuntutan (skp2). rasanya kebijaksanaan (atau lebih tepatnya pengecualian) adalah sebuah keistimewaan yang tidak dimiliki hukum. hanya presiden yang memiliki hak prerogatif seperti abolisi atau amnesti. badan yudikatif seperti kejaksaan tidak memiliki hak istimewa semacam itu.

lantas bagaimana dengan koruptor-koruptor kakap yang terkesan sulit diusut padahal telah menimbulkan kerugian jauh lebih banyak ketimbang 3 buah kakao? situasi ini memang adalah sebuah ketidakadilan dan kita harus bergerak menuju keadilan tersebut. akan tetapi keadilan tersebut bukan didapat dengan cara menafikan hukum.

hukum harus ditegakkan, bukan justru dibaringkan. bagaimanapun juga, sang nenek bersalah karena telah mencuri. untuk itu beliau harus menerima konsekuensi hukumnya sesuai dengan keputusan majelis hakim. masih bebasnya koruptor di luar tidak dapat dijadikan alasan untuk membebaskan sang nenek dari tuntutan. keadilan hanya bisa didapat dengan memenjarakan koruptor-koruptor tersebut.

hukum memang buta, namun masyarakat tidak. masyarakat yang kemudian memiliki keistimewaan untuk membuat kebijaksanaan-kebijaksanaan dalam menyikapi situasi. seandainya sang mandor, yang melaporkan nenek minah, memanfaatkan keistimewaannya untuk berlaku bijaksana dengan tidak melaporkan perbuatan nenek minah, maka sistem hukum tidak perlu bergerak. hukum hanyalah suatu sistem yang tidak memiliki hati. kitalah, manusia-manusia bebas, yang memiliki hati.

sumber gambar: http://www.kuemin-law.ch/Angebot/justitia.gif

Minggu, September 13, 2009

siapa punya kebudayaan?

kalau kita coba ingat-ingat kembali pelajaran PKn, PPKn, atau PMP di jaman SD dulu, mungkin ada beberapa dari kita yang masih ingat syarat berdirinya suatu negara. syarat berdirinya suatu negara ada tiga,
  1. memiliki wilayah,
  2. memiliki penduduk, dan
  3. memiliki pemerintahan yang berdaulat.

dari ketiga syarat tersebut sama sekali tidak ada yang menyinggung soal kebudayaan sebagai syaratnya. sebagaimana yang dikemukakan oleh Mitchell,
kebudayaan adalah suatu perulangan aktivitas manusia yang telah memasyarakat secara sosial dan bukan sekedar dialihkan secara genetikal.
dengan mengambil definisi dari Mitchell tersebut, maka kita bisa mengambil kesimpulan bahwa apapun kebudayaan yang berasal dari wilayah Indonesia yang dilakukan secara terus menerus oleh suatu kelompok manusia di wilayah non-Indonesia dapat dianggap sebagai kebudayaan kelompok manusia tersebut.

menyebalkan yah? tapi masih ada yang lebih menyebalkan. sesuai dengan definisi Mitchell itu juga, apabila kita sebagai bangsa Indonesia tidak lagi melakukan aktivitas budaya kita, maka kita tidak berhak lagi mengakui kebudayaan itu sebagai kebudayaan kita karena kebudayaan tidak sekedar dialihkan secara genetikal.

Kamis, Juli 16, 2009

saya mulai berpikir untuk mundur

ketika anda membaca tulisan ini, bisa dipastikan bahwa saat ini saya sudah tidak lagi berstatus sebagai mahasiswa. bukan hal besar, tapi apakah saya masih sebagai orang yang sama? itu adalah pertanyaannya.

tulisan ini saya buat di pinggiran kota bandung. di dalam sebuah kamar kecil, ketika mendung mulai mengarsir langit sore. saat tulisan ini dibuat, saya masih sedang berusaha menyelesaikan sisa tanggung jawab saya sebagai salah satu korban budaya feodal pendidikan yang bernama SEKOLAH dan KAMPUS. sebuah budaya yang sama sekali tidak saya suka. mungkin itu juga yang menjadi inhibitor kelulusan saya dari kampus. saya tidak akan memberikan argumen yang akan membenarkan kenapa masa pendidikan formal saya menjadi amat lama dengan hasil yang minim. terus terang saat ini saya sudah lelah jungkir balik untuk menuntut gelar ilmu.

saya hanya berandai-andai, apakah ketika tulisan ini anda baca, saya sudah bisa menikmati itu semua? apakah saya sudah bisa mencapai semua yang dulu pernah saya cita-citakan yang tergambar dalam sebuah plot besar idealisme saya. kalaupun memang belum, apakah saya masih bisa tetap bertapak di sisi yang semakin mengecil ini? apakah saya tetap bisa melangkah di sisi yang semakin sempit yang anginnya semakin kencang bertiup.

di penghujung satu fase masa pendidikan formal saya ini, saya mulai memikirkan satu tahun ke depan. di manakah saya satu tahun lagi? apa yang sedang saya lakukan? apakah hati saya masih tetap teguh meyakini dan membela apa yang selama ini saya bela dan yakini? apakah saya masih tetap memandang konsep kapitalisme, neo-liberalisme, pasar global, dan segala macam derivatnya sebagai perpanjangan tangan dari orang-orang rakus egois yang menggunakan kacamata kuda dan tidak peduli dengan orang lain di sekitarnya? atau justru saya tidak ubahnya laik mereka yang mengemis-ngemis pada kasta tertinggi konsep ini. mengemis untuk sebuah jaminan hidup yang akan baik, hidup yang nyaman, namun dengan jalan menggilas orang-orang yang pinggir dan semakin terdesak ke pinggir.

kapal saya sudah hampir berlabuh. semakin jelas daratan itu di hadapan saya. semakin gentar saya menatapnya. sungguh, hati kecil saya masih menolak untuk berdamai dan menyerah. saya ingin melawan semua yang saya anggap tidak benar, tapi saya juga merasa kecil. merasa tak berdaya. merasa lebih baik menyerah saja. merasa lebih baik menerima segala kemewahan yang bisa ditawarkan sebagai suatu anugerah. sebagai modal untuk membangun hidup yang baik, berkeluarga, membahagiakan orang tua, dan segala macam pembenaran dan pemaksaan yang dengan mudahnya bisa kita temukan. saya mulai berpikir untuk mundur, tidak lagi keras seperti karang yang menantang, tidak juga seperti bunglon yang membaur sembari menunggu mangsanya lengah. saya hanya ingin mundur.

bandung, 15 desember 2008

Selasa, Agustus 26, 2008

sekali lagi, penampilan

pernah nggak lo ngerasa lebih dihormatin karena apa yang lo pake? ato mungkin lo justru disepelein karena sesuatu yang lo pake? buat gue kemeja adalah salah satu pakaian yang jarang banget gue pake. satu ketika, pas gue beli pulsa ke tempat langganan gue, kebetulan gue lagi make kemeja. si penjual yang biasa nyapa gue dengan kata "mas" tiba-tiba berubah jadi "pak". penampilan emang bakal ngebuat lo memiliki kelas sosial tertentu.

pertanyaannya kemudian adalah yang mana yang mengintervensi yang mana. faktor apa yang memberi persepsi kepada faktor laennya. apakah penampilan yang memberi justifikasi atas status sosial atau justru status sosial yang mempengaruhi penampilan? kalo nggak ngerti dengan kalimat barusan, gue kasih gambarannya deh. anak-anak yang make baju seragam mengindikasikan bahwa dia anak sekolahan, ini mendukung premis satu sedangkan ketika kita membicarakan mengenai seorang ustadz maka yang kita pikirkan adalah orang dengan baju koko, mungkin berjenggot, dan dahinya item-item (ini ngedukung premis kedua). gue rasa dua kemungkinan itu bisa jadi bener dan pendekatannya harus kasus per kasus. tapi yang pasti status sosial dengan penampilan bakal selalu berkaitan. ini yang perlu digarisbawahin.

seperti apa yang pernah gue bahas di bahasan beberapa waktu yang lalu, penampilan sangat bisa membawa persepsi yang salah. orang yang rambutnya acak-acakan dan bajunya gak pernah disetrika gak selamanya adalah gembel dan gak terhormat begitu juga sebaliknya, copet pun bisa aja berpenampilan rapi dan memakai dasi.

penampilan emang hal yang paling gampang dijadiin sebagai acuan untuk menilai status sosial seseorang. untuk mereka yang memilih penampilan yang berkonotasi dengan status sosial yang baik, adalah sangat manis kalo dia bisa menjaga persepsi-persepsi positif yang dibawa oleh penampilan itu. kalo aja ini bisa terjadi, mungkin gue nggak bakal pernah dapet pertanyaan dari sahabat gue yang beda kepercayaan. pertanyaan yang kemudian parahnya menggeneneralisir dan merusak seluruh persepsi yang selama ini sudah terbangun dengan baik. pertanyaan seperti, "cewek-cewek yang make jilbab itu tetep aja bajingan ya, rae?"

Jumat, Oktober 20, 2006

suatu sore di pangkal bara (akhiran Ramadhan)

hari ini sekitar kampus udah sepi banget ya...

(ada yang dikangenin?)

nggak juga.

(penyangkalan ya?)

he... he...
(sambil mbayar belanjaannya di tukang es cincau)

(nggak mudik?)

nanti-nanti ajalah, gampang itu...

(kayaknya lagi ada yang dipikirin...)

ah, biasa aja. sama aja kayak kemaren-kemaren.

(buka bareng yuk!)

makasih, tapi udah janji sama orang rumah
(sambil ngangkat es cincau)

(sekarang mau ke mana?)

paling pulang...

(loh, dari tadi bengong di sana ngapain)

nungguin kamu lewat...

(hah? kalo saya nggak lewat, sampe kapan kamu berdiri di situ? (senyum))

saya tau kamu pasti lewat. jangan tanya gimana, saya cuma tau...