Tampilkan postingan dengan label cerita orang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita orang. Tampilkan semua postingan

Kamis, Desember 07, 2017

Tambah, Uda

Siang itu mendung. Hujan dari pagi turun. Sesekali berhenti. Tak lama kemudian kembali guyur. Beriterasi dalam siklusnya. Di sempitnya salah satu celah waktu itu saya keluar dari ruangan. Menjejaki aspal-aspal basah, melompati satu dua genangan yang memantulkan bayang kanopi pucuk merah. Sesekali saya harus mengalah pada genangan yang menganak sungai. Sumbat serasah yang terlambat diangkat pada selokan di sisi kanan membuat air memintas ke selokan di sisi kiri yang lebih rendah.

Empat menit empat puluh delapan detik kemudian saya sampai di muka pintu rumah makan Padang. Pas pula adzan dzuhur menggaung di udara. Belum ada pembeli lain di ruang makan. Seorang bapak muda melayani saya sembari diusili anaknya yang tingginya baru sedengkul lewat. Bapak sudah hapal lauk-lauk pilihan saya. Asam padeh, kembung bakar, atau ayam goreng. Tiga pilihan itu ditawarkannya. Hari itu saya agak malas makan ikan, maka ayam goreng yang saya pilih. Tak lupa catatan tambahan, "Minta dada ya."

Dengan sigap, ia memilah-milih dari potongan yang ada. Saya pun duduk di salah satu meja. Menghadap meja makan beralas kaca gelap, memunggungi pintu masuk, beralas kursi lipat merah. Tujuh detik berselang, Istri bapak tadi datang membawa segelas belimbing teh tawar hangat bersama air kobokan dalam cawan baja tahan karat - lengkap dengan irisan jeruk nipis a la kadarnya. Belum selesai teh disajikan, sang suami sudah datang bersama sepiring makan siang saya. Setangkup nasi, sejumput daun singkong rebus, sepotong kecil nangka, campuran sayur kacang panjang dan kol, serta tak lupa ayam goreng. Oh, iya. sesendok makan bumbu rendang di sisi dan sesendok sayur kuah gulai mengguyur nasi putih yang uapnya masih menguar. 

Makan siang dimulai. Sesekali mata saya memperhatikan siaran berita di TV yang tergantung di atas lemari. Masih di ruang pandang, ada sebuah etalase tinggi yang tadinya biasa menjajakan berbotol-botol minuman berkarbonasi. Kacanya berhias tulisan R. M. Rimpun Padi dengan motif tulisan yang junjung di bagian tepinya menyerupai rumah gadang. Etalase itu sudah berubah fungsi. Dari balik kaca samar terlihat tumpukan baju yang belum disetrika. Tidak ada lagi warna-warni hitam, hijau, dan merah botol minuman. 

Di balik etalase itu terlihat si bapak yang tadi keluar dari kamar mandi. Wajahnya basah terkena wudhu. Lepas berdoa, dia kenakan sarung kotak-kotak coklat muda. Masuk lewat kepala, dililit di bagian pinggang, dan digulung hingga mata kakinya tampak. Kemudian digelar sejadahnya. Ujungnya nampak menyembul melewati hadangan pandang etalase botol tadi. Ia hendak menunaikan sholatnya. Posisinya sudah menghadap kiblat, namun belum lagi niatnya terucap, Ia justru membalik badannya. Melihat-lihat ke arah pintu masuk. Khawatir jangan-jangan ada pembeli yang datang. Sudah jam 12 lewat, sudah waktunya makan siang. Tapi mungkin karena rintik kembali mengguyur, belum lagi ada pelanggannya yang datang.

Ia atur lagi posisi sholatnya, namun kembali terinterupsi. Kini Ia bicara dengan istrinya. Suaranya tenggelam dibalut gelombang penyiar TV yang sedang mewartakan penggerebekan pabrik narkoba. Dalam percakapan tersebut, beberapa kali lagi ia melongok ke arah pintu masuk. 

Ia kembali ke sejadahnya. Namun sekali lagi dia urungkan dzuhurnya. Kali ini dia keluar dari ruang di balik etalase botol minuman ke arah ruang makan. Masih dengan sarung kotak-kotak coklat mudanya, dihampirinya satu-satunya pelanggan yang ada di ruangan itu lalu berkata, "Tambah, bang?"

Saya pun tersenyum sambil mengacungkan telunjuk kanan. Segera diambilnya sebuah piring kecil, dibukanya termos nasi, lalu dengan centong dari batok kelapa, diambilnya setangkup bulir-bulir putih. Tak lupa diluberinya nasi dengan sedikit kuah gulai, lalu diserahkannya piring tersebut di atas meja.

Ia kembali ke dalam ruang di balik etalase minuman botol. Berdiri di atas sejadahnya, mengangkat kedua tangannya, dan tenggelam dalam khusyuknya iftitah.

Rabu, Juli 02, 2014

Janji Joni, Janji Joko Anwar, dan Janji Joko Widodo

Karya pertama Joko Anwar sebagai sutradara film panjang adalah Janji Joni. Wajar jika Janji Joni disebut sebagai manifesto idealisme seorang Joko Anwar. Dalam film yang ringan namun sarat muatan ini Joko hendak mengungkapkan betapa agungnya sebuah janji. Seriusnya Joko memegang janji, sampai-sampai Ia rela bertelanjang bulat di salah satu gerai Circle-K Bintaro pada medio 2009 lalu. Bahkan sebagai bukti, Ia turut melampirkan foto aksi gilanya tersebut (walau sepertinya sekarang sudah dihapus).

Meskipun terbilang nekad, tidak sedikit pula orang yang mengapresiasi Joko Anwar karena mau menepati janjinya. Apalagi dalam kicauannya, Joko turut menyindir politisi-politisi yang kerap mengingkari janji yang sudah dibuat.

A promise is a promise, Mr. Politicians!
(Joko Anwar, 2009)

Waktu bergulir, 5 tahun berlalu. Sebuah acara skala nasional digelar, Pemilihan Presiden. Joko Anwar bersikap untuk mendukung calon presiden dengan nama depan yang sama dengan dirinya, Joko Widodo. Tidak ada yang salah dengan urusan dukung mendukung calon presiden. Semua punya kelebihan dan kekurangannya. Namun ada yang berubah pada Joko Anwar. Jika sebelumnya Joko Anwar tampil sebagai sosok yang begitu menjunjung sebuah janji, kini Joko Anwar justru memberikan pembelaan atas janji yang diingkari.

Menanggapi tudingan Joko Widodo yang mengingkari janji, Joko Anwar justru memberi pembenaran. Tidak ada lagi Joko Anwar yang dengan gagah berkata, “A promise is a promise, Mr. Politicians!”


Gini. Janji apapun itu, apalagi janji politik, harus kalah demi kepentingan nasional. Jadi udah deh. Tuduhan gak nepatin janji itu lemah.
(Joko Anwar, 2014)

Sekali lagi, tidak salah mendukung Joko Widodo untuk menjadi presiden. Namun sikap ambivalen Joko Anwar patut dikritisi. Jika hari ini Joko Anwar mentolerir ingkar janjinya seseorang, bukan tidak mungkin di kemudian hari Joko Anwar akan mentolerir penyalahgunaan wewenang dengan dalih “for a greater good”. Joko Anwar harus diingatkan. Bukan diingatkan untuk tidak mengkampanyekan Joko Widodo, namun diingatkan untuk tidak membenarkan perbuatan yang salah.

Mendiamkan ingkar janjinya Joko Widodo mungkin lebih baik daripada membenarkannya. Harusnya Joko Anwar tetap bisa kritis walau mengkampanyekan Joko Widodo. Pandji Pragiwaksono yang juga mengkampanyekan Joko Widodo saja bisa tetap bersikap kritis dengan menolak ide Jusuf Kalla, pasangan Joko Widodo.

Perubahan sikap Joko Anwar tidak ekslusif ada pada dirinya. Kecenderungan seperti ini selalu ada di sekitar kita, bahkan dalam diri kita. Sejarah mencatat Soekarno hancur karena sikap-sikap kritis pada dirinya diberangus. Soeharto pun runtuh karena sikap kritis orang-orang di sekitarnya hilang. Jangan sampai sikap kritis dimatikan oleh pengkultusan.

Selasa, Desember 18, 2012

Pulang: Kerinduan Akan Tanah Air



Pertama kali melihat sampul buku “Pulang” di toko buku, ingatan saya langsung menerawang pada sebuah  buku karangan Andre Gorz yang diterbitkan oleh Resist Book, Sosialisme & Revolusi. Pilihan warna, dan font serta corat-coret ilustrasi yang sejenis membuat saya menduga bahwa buku ini pasti juga nyerempet hal-hal yang berbau kiri. Ketika saya membalik buku tersebut untuk membaca sinopsis ceritanya di belakang, tentu saja, bulls eye!

Bandingkan cover Sosialisme & Revolusi
(Andre Gorz) dengan cover Pulang
Begitu eksotisnya tema kiri di Indonesia hingga tak terhitung lagi berapa banyak novel yang menyematkan peristiwa G30S(/PKI?) ke dalam isinya. Ayu Utami dalam buku “Manjali & Cakrabirawa” atau ‘Blues Merbabu”-nya Gitanyali mungkin bisa menjadi dua contoh aktual bagaimana novel populer era 2000-an pun masih menganggap seksi tema tersebut. “Pulang” pun mencoba peruntungannya di tema tersebut.
Dengan tebal cerita mencapai 451 halaman, “Pulang” mampu mencapai spektrum yang luas dalam ceritanya. Andai saya menjadi Leila S. Chudori, sang penulis, mungkin saya akan memilih untuk membagi cerita ini menjadi 2 buku seperti Ayu Utami yang membelah cerita “Laila Tak Mampir di New York” menjadi “Saman” dan “Larung”. Namun ternyata Leila tak memilih opsi itu dan cukup percaya diri melepas “Pulang” yang setebal batu bata ini dengan harga yang tidak ekonomis.
Kisah berputar pada kehidupan dua tokoh utama ayah-anak, Dimas Suryo dan Lintang Utara. Diceritakan bahwa Dimas Suryo, seorang jurnalis yang sedang mendapat tugas kantor untuk menghadiri pertemuan jurnalis di Santiago, Chile, tiba-tiba mendapati dirinya tidak bisa pulang ke tanah air. Bertepatan dengan kepergiannya tersebut, ternyata di Indonesia meletus peristiwa G30S. Sialnya dia dianggap salah satu simpatisan partai komunis yang dianggap sebagai pemberontak tersebut hingga paspornya dicabut.
Namun di balik kesialan tersebut, ada untungnya juga. Andai saja ia ada di dalam negeri, bukan tidak mungkin Dimas Suryo akan ikut diculik, dibunuh, lalu mayatnya berakhir mengapung di sungai seperti yang diceritakan Aji Suryo, adiknya, ketika berkorespondensi dengannya. Bersama 3 kawan lainnya yang menjadi eksil politik, Dimas, Nugroho, Tjai, dan Risjaf meretas jalan panjangnya sampai akhirnya berlabuh di Paris. Di kota yang indah ini, empat sahabat ini mencoba memulai hidup baru, termasuk memulai keluarga baru.
Cerita kedua kemudian beralih ke Lintang Utara. Anak dari Dimas Suryo hasil perkawinannya dengan Vivienne Deveraux, gadis Prancis yang ditemuinya pada sebuah peristiwa demonstrasi di Universitas Sorbonne pada Mei 1968. Lahir dan besar di Paris tidak membuat Lintang tercerabut dari akar leluhur ayahnya yang asli Indonesia. Kisah-kisah perwayangan, batik, kebaya, dan makanan-makanan khas Indonesia akrab dengan dirinya meskipun ia tak sekalipun pernah menjejakkan kakinya di indonesia. Sampai akhirnya, pada usia 22 tahun, dosennya di Universitas Sorbonne, memerintahkannya untuk membuat film dokumenter yang amat berkaitan dengan masa lalu ayahnya di Indonesia.
“Pulang” adalah sebuah novel yang boros tokoh. Namun tidak perlu khawatir, kemampuan Leila S. Chudori memberi karakter yang kuat pada tokoh-tokohnya membantu pembaca untuk dapat mengenali dengan baik tokoh-tokoh yang hadir di buku ini. Meskipun demikian, beberapa tokoh tetap terasa tidak penting sama sekali. Sebagai contoh Sumarno “Si Telunjuk” yang kehadirannya hanya ada di dua scene sama sekali tidak signifikan. Begitu pula rekan-rekan Segara Alam di LSM Satu Bangsa yang namanya bahkan tidak sampai sepuluh kali disebut di dalam novel.
Cerita kekejaman yang menimpa para anggota PKI dan keluarganya sudah banyak  kita dengar. Namun hanya sedikit yang mampu memberi kesan seperti yang dituturkan dalam kisah Surti Anandari berikut ketiga anaknya di buku ini. Uniknya, meskipun mampu memberi kesan yang mendalam, pendeskripsian kekejaman pihak militer yang dituturkan di dalam buku ini tidak brutal. Sebagai istri dari pegiat kiri, Hananto Prawiro, Surti harus merasakan beratnya tekanan mental ketika diinterogasi berbulan-bulan lamanya oleh pihak militer. Kisah yang dibumbui cinta segitiga antara Dimas-Surti-Hananto ini kemudian diakhiri dengan pilu ketika akhirnya Hananto ditangkap di tempat persembunyiannya. Tenang, ini bukan spoiler, scene tertangkapnya Hananto ini justru menjadi pembuka cerita novel ini.
Buku ini secara cerdas juga mampu menangkap fenomena Stockholm Syndrome seperti yang digambarkan dalam pernikahan Rukmini, mantan istri Nugroho yang buronan politik dengan Letkol Prakosa, tentara yang turut andil dalam membantai simpatisan komunis di Indonesia. Pernikahan antara yang diteror dengan yang meneror seperti yang terjadi pada kisah Rukmini dan Letkol Prakosa ini memang benar-benar banyak terjadi di dunia nyata.
Fragmen lain yang baik sekali ditampilkan dalam buku ini adalah bagaimana konflik yang terjadi ketika Rama, anak Aji Suryo, yang hendak menikahi Rininta, anak seorang Direktur di Perusahaan BUMN. Bagaimana sulitnya keluarga yang di KTP-nya diberi cap ET (Eks Tapol) dalam membangun kehidupan sosial di masyarakat yang sudah kadung benci kepada apapun yang berbau komunis. Saya sampai harus sejenak mengatupkan buku ini ketika Lintang berkata,”Bukan hanya nasi goreng!” kepada keluarga Rininta sebagai bentuk protesnya atas diskriminasi yang diberlakukan kepada ayah dan teman-temannya di Paris.
Untuk anak-anak generasi 2000-an seperti sekarang ini mungkin akan amat sulit membayangkan bagaimana “kesalahan” salah seorang anggota keluarga, katakanlah seorang paman, bisa diwariskan kepada keluarganya yang lain hingga harus menerima sanksi sosial yang dilegitimasi dalam peraturan pemerintah. Saya masih ingat sebuah film komedi jadul yang saya lupa judulnya (rasanya yang main adalah grup Pancaran Sinar Petromaks; PSP). Seorang pria hendak melamar pekerjaan sebagai sopir pada sebuah keluarga. Sebagai bekal melamar, dia melampirkan Surat Keterangan Bebas G30S/PKI. Saya yang naif ketika itu tertawa terbahak-bahak karena menyangka surat itu adalah bagian dari komedi. Namun ternyata tidak, Surat Keterangan Bebas G30S/PKI itu memang benar ada. Ketika mengetahui hal tersebut, saya tidak habis pikir. Betapa absurdnya surat tersebut. Betapa absurdnya Negara Indonesia. Betapa absurdnya Orde Baru.
Cara bertutur buku ini yang ringan mampu mengimbangi cerita sejarah politik Indonesia yang centang-prenang. Walaupun sebenarnya kadang saya sedikit terganggu dengan diksi yang dipakai Leila. Sebagai contoh, saya sangsi seorang Surti akan menggunakan kata “kuliner” dalam suratnya ke Dimas pada tahun tujuh puluh-delapan puluhan. Rasanya kata “kuliner” amat asing di Indonesia sampai pada tahun 2000-an akhirnya dipopulerkan oleh Bondan Winarno berikut frase “mak nyus” dan “top markotop”.
Korespondensi antara Lintang Utara dan Dimas Suryo juga terasa aneh dengan hadirnya diksi yang terlalu puitis seperti kata “kerap”. Memang Lintang dibesarkan dengan berbagai karya sastra, termasuk sastrawan Indonesia semacam Chairil Anwar atau Rivai Apin. Namun tetap saja aneh menggunakan kata seperti kata “kerap” di dalam korespondensi.
Bagaimanapun, “Pulang” mampu membalut roman kehidupan Dimas Suryo dengan kejadian-kejadian sejarah tanpa membuatnya terasa “kering”. Kisah-kisah kelam yang terjadi sepanjang medio 1965-1968 sudah banyak dituangkan dalam berbagai media seperti film dokumenter atau buku. Namun menceritakan kisah tersebut dengan mengangkat sisi humanis dalam sebuah novel seperti yang dilakukan Leila S. Chudori melalui “Pulang” jarang dilakukan. Bagaimana seseorang yang dibenci oleh bangsanya sendiri akan selalu merindukan tanah airnya. Bagaimana seseorang yang sudah sedemikian hangatnya diterima di negeri rantau akan selalu memendam hasratnya untuk dapat pulang.

Rabu, November 21, 2012

Orang Madura & Stereotipe di Sekitarnya

Beberapa suku di Indonesia punya stereotipe tertentu mengenai pekerjaannya. Misalnya, orang batak identik dengan sopir bus & angkot, tukang tambel ban, atau pengacara. Contoh lainnya orang padang identik sebagai pedagang.
Selain ada stereotipe yang sifatnya nasional seperti di atas, ada juga yang sifatnya lokal. Maksudnya lokal adalah, stereotipe itu cuma berkembang di daerah tertentu saja. Misal di Jabotabek ada stereotipe kalau orang Tasikmalaya identik sebagai tukang kredit. Orang di Sumatera mungkin tidak akan "ngeh" dengan stereotipe ini.
Orang Madura pun punya stereotipe atas pekerjaannya. Beberapa stereotipe yang sudah level nasional tentu saja adalah tukang sate dan tukang bubur. Selain stereotipe yang sifatnya nasional, orang madura juga punya stereotipe yang sifatnya lokal. Misalnya di Magelang, orang madura sering diasosiasi dengan tukang pangkas rambut. Hal ini tidak dikenal di Jabotabek, karena di Jabotabek tukang pangkas rambut identik dengan para Asgar (Asli Garut).
Satu stereotipe terkenal lain mengenai orang madura adalah sebagai tukang pengumpul besi tua. Sebenarnya stereotipe ini hanya bersifat lokal di Jabotabek, tapi menjadi terkenal karena arus informasi berpusat di Jakarta, lokasi di mana stereotipe ini berkembang.

Jembatan Suramadu (sumber gambar)


Medio 2009 lalu, ketika Jembatan Suramadu baru diresmikan, sempat ada kabar kalau baut-baut di Suramadu hilang. Awalnya Saya tidak percaya, namun ternyata memang benar kabar itu. Kemudian muncul tuduhan bahwa orang Madura, yang menurut orang Jakarta "rajin mungutin" besi-besi di jalan, sebagai penyebabnya.
Sebuah tuduhan yang tidak berdasar menurut Saya. Beberapa argumen yang bisa Saya gali antara lain adalah  sebagai berikut:


Stasiun Kereta Kamal 
  1. Pertama, ada kemungkinan bahwa baut-baut itu memang belum terpasang. Jadi ketiadaan baut-baut dan plat penutup jalan tersebut bukan dikarenakan hilang, namun lebih karena pekerjaannya yang memang belum selesai.
  2. Stereotipe orang Madura adalah pengumpul besi adalah stereotipe lokal. Kebetulan karena stereotipe ini berkembang di Jakarta, kicauan ini lebih cepat tersebar, bahkan sampai masuk ke dalam meja redaksi media-media arus utama.
  3. Kereta api dulu pernah beroperasi di Madura. Sampai saat ini, sisa-sisa rel besinya masih membentang dari Pelabuhan Kamal sampai pusat Kota Bangkalan, bahkan sampai terus ke Sampang di sisi timur. Jika memang orang-orang di Madura memang oportunis dalam mengumpulkan besi, lalu kenapa sisa-sisa rel ini masih tergeletak begitu saja dari tahun 1987 sampai hari ini?
Rel Kereta yang Terbengkalai Masih Ada Sampai Saat Ini

Rabu, Oktober 19, 2011

Strategi untuk Fadel


Sosok Fadel Muhammad sebenarnya menyisakan kontroversi. Sebagian besar orang mengagumi prestasi beliau baik ketika sebagai Gubernur Gorontalo, tapi tidak sedikit juga yang menuding beliau masih terjangkit penyakit lama Orde Baru.
Keputusan Presiden memberhentikan Fadel secara misterius sebenarnya bisa dimanfaatkan pihak Fadel. Sebagai menteri yang memiliki catatan cukup baik sekaligus pro rakyat, momen ini bisa dijadikan sarana promosi untuk jabatan yang lebih tinggi, presiden.
Langkah politik SBY mendepak Fadel bisa menjadi bumerang. Sebelumnya, SBY pun keluar dari kabinet Megawati untuk menyiapkan diri menjadi presiden. Dengan mencitrakan dirinya sebagai sosok yang di-“dzalimi”, SBY pun sukses mendulang suara untuk memenangkan kursi presiden medio 2004 yang lalu.
Adapun perbedaannya, jika dulu SBY mengundurkan diri, kini Fadel justru didepak. Dengan menggunakan strategi yang sama digunakan SBY dulu, Fadel harusnya bisa mendulang simpati lebih banyak lagi, karena dia lebih ter-“dzolimi” (dan lebih ganteng =P). Langkah politik SBY ini dapat berubah menjadi bumerang. Adalah sebuah tamparan telak bagi kubu SBY apabila hal ini terjadi.
Pertanyaan utamanya kemudian adalah, relakah Golkar, terutama sang ketua umum, mencalonkan Fadel Muhammad sebagai presiden pada pemilu 2014 mendatang? Mengingat ambisi Aburizal Bakrie pun cukup tinggi untuk menjadi RI-1.

*Jarang-jarang nih tema current affair masuk ke blog ini. Hehehe.

Selasa, Mei 17, 2011

Rumahnya di mana, Pak?

Mahasiswa : Pak, minta alamat bapak dong. Kali-kali pengen maen.

Wakil Rakyat : Oh.. boleh-boleh.. Jalan kesatuan nomor 8.

Mahasiswa : Yah.. jangan alamat rumah pribadi dong. Alamat rumah dinasnya di mana?

Wakil Rakyat : (eeee buset.. emang gue dapet rumah dinas ya?) emh.. mm.. alamat rumah dinas ya? Mmm.. di mana ya? (manggil staff ahli) Coba kamu kasih tau adek mahasiswa ini rumah dinas saya di mana.

Mahasiswa : Pak, jangan bercanda dong, pak. Rumah dinas bapak di mana?

Wakil Rakyat : Iya.. iya.. Nanti biar dikoordinasikan dengan staff ahli saya saja ya..
Rakyat : Pak rumah dinas bapak di mana jadi sebenernya?

Wakil Rakyat (2) : Rumah dinas kami di Gedung DPR/MPR Senanyan.

Rakyat : *gedubrak*

* * *

Mau rumah pribadi kek, rumah dinas kek, email pribadi kek, email resmi kek. Esensinya kan untuk menjalin komunikasi?

Buat apa ngirim aduan ke alamat email resmi anggota DPR, kalau inboxnya sendiri gak pernah dibuka? Mendingan ngirim ke email pribadinya yang jelas-jelas rutin dibuka sama dia.

Buat apa ngotot minta alamat email resmi anggota DPR itu? Cuma buat nge-bully/ ngeledek/ mlonco mereka? Mungkin ini ya mental hasil didikan ospek?

Jumat, Oktober 22, 2010

Bangsa ini butuh waktu untuk memaafkan

Bukan kemurahan maaf dari kita, orang Indonesia kebanyakan, yang menjadi penting. Kemurahan maaf dari mereka yang menjadi korban langsungnyalah yang harusnya menjadi pertimbangan utama. Sesuatu yang mungkin, maaf-maaf saja, tidak akan pernah ditemukan harga jadinya.

Maaf dari mereka yang pernah terkencing-kencing ketika orang tuanya ditarik paksa karena cap komunis. Maaf dari istri orang-orang seperti Wiji Tukul. Juga maaf dari orang tua seperti Herman Hendrawan yang hilang tak tentu rimba hingga saat ini.

Empati kita, yang orang Indonesia kebanyakan, rasanya tidak akan pernah bisa memahami kepiluan yang mereka rasakan. Ini bukan konsensus di mana suara terbanyak yang akan menentukan arah. Tidak adil jika suara kita, yang hanya menikmati swasembada pangan dan kesiapan menuju era tinggal landas, harus diberi harga yang sama dengan suara mereka yang telah didesain dalam keadaan rugi.

Mungkin sulit untuk meminta keikhlasan mereka di generasi ini. Maka hanya waktu yang bisa menyembuhkan. Hanya waktu yang bisa mereduksi kemarahan di tiap kelanjutan generasi kita. Sesuatu yang mungkin tidak akan tercapai dalam dekade ini. Sebuah proses panjang yang sadar tidak sadar telah kita mulai. Sampai waktunya nanti kita bisa dengan ikhlas mengatakan,"Terima kasih, pahlawan."

Minggu, Juli 04, 2010

Semangkuk Mie Ayam

Semangkuk Mie Ayam Polos


Beberapa meter setelah gerbang Sekolah Dasar di mana saya menimba ilmu dulu, tepat di pojokan depan Gedung Cabang Muhammadiyah, ada tenda mie ayam yang benar-benar laris. Pelanggannya beragam. Mulai dari sopir antar jemput sampai orang tua murid. Dari pedagang mainan yang berjejer di sekitarnya sampai guru-guru. Setiap hari dagangannya hampir pasti habis. Lepas jam satu siang, sang pedagang biasanya sudah berkemas-kemas untuk pulang.



Saya masih ingat harganya. Satu porsi Rp 700,00 dan setengah porsi Rp 500,00. Untuk saya yang ketika itu uang jajannya hanya dijatah Rp 6.000,00 per bulan, tentu saja mie ayam saya kategorikan ke dalam barang mewah. Barang tersier. Bukan hanya untuk saya, teman-teman yang lain pun menganggapnya demikian. Mie ayam adalah sebuah kasta dengan prestise selanjutnya setelah somay dan es serut berbentuk payung kuncup. Makanan para priyayi. Makanan anak orang kaya. Makanan yang oleh sebagian anak lain hanya bisa dinikmati setelah merengek setengah mati ke orang tuanya yang kebetulan sedang menjemput. Makanan yang biasa dihadiahkan orang tua kepada anaknya setelah pembagian raport.



Beberapa kali teman-teman saya patungan untuk membeli mie ayam. seratus rupiah per anak. Jadilah setengah porsi mie ayam dikeroyok lima anak. Saya sendiri lebih memilih untuk menahan-nahan untuk hemat jajan di awal bulan, agar ketika akhir bulan bisa mendapatkan sisa uang untuk membeli mie ayam.



Dulu saya suka sekali menambahkan banyak-banyak saus murahan khas yang biasa ada di tukang mie ayam ke dalam mangkuk. Entah kenapa. Padahal sekarang saya tidak pernah menambahkan saus pun kecap ke dalam mie ayam. Mungkin warna kuning genteng menyalanya yang membuat saya tertarik ketika itu.



Seiring perjalanan waktu, saya menemukan bahwa mie ayam tidak lagi menjadi makanan yang wah. Apalagi setelah berkali-kali menemukan mie ayam dengan rasa gak karuan. Sekarang, tiga belas tahun lebih setelah pengalaman saya ketika sekolah dasar, saya menemukan sekelompok masyarakat yang menganggap mie ayam sebagai lambang kemewahan. Makanan khusus yang dimakan pada waktu khusus pula.



Tersebutlah pasar payroll. Pasar yang hanya hadir di hari sabtu dari siang sampai sore. Disebut pasar payroll karena hadir di dekat loket payroll. Loket pembagian gaji untuk buruh tani di sebuah perusahaan perkebunan tebu di pangkal Sumatera.



Pedagang yang berjualan di sana tidak sampai tiga puluh. Sebagian menjual kaos murah meriah dan kemeja bekas. Sebagian yang lain menjual peralatan rumah tangga. Namun dari sekian banyak pedagang tersebut, yang paling banyak adalah pedagang mie ayam.



Makan mie ayam menjadi semacam lambang penghargaan atas jerih payah buruh tani yang telah seminggu penuh membanting tulang untuk dua sampai tiga ratusan ribu rupiah. Terkadang kurang. Enam sampai delapan jam sehari. Enam hari seminggu, bahkan tujuh. Itulah waktu yang harus mereka setor demi menyambung hidup keluarganya. Untuk semua kerja keras itu, semangkuk mie ayam di akhir pekan adalah cara mereka untuk merayakannya. Sebuah cara yang meriah untuk mereka, tapi mungkin biasa-biasa saja untuk orang-orang kebanyakan.

Senin, November 23, 2009

karena hukum tidak melihat

jika anda termasuk korban film india di TPI pada dekade 90-an, maka pasti anda jamak melihat gambar patung justitia, dewi keadilan berdasarkan mitologi romawi. dalam pendeskripsiannya, digambarkan bahwa justitia memegang pedang di tangan kanan, neraca di tangan kiri, serta penutup mata.

penutup mata menggambarkan bahwa hukum harus (atau setidaknya diharapkan) berlaku imparsial atau tidak memihak. hukum akan berlaku adil tanpa memandang bulu, pangkat, strata, kasta, status ekonomi, derajat pendidikan, umur, gender, ataupun pendikotomian lainnya.

maka tidak ada yang salah ketika seorang minah, nenek yang tertangkap tangan karena mencuri 3 buah kakao, kemudian dihukum 1 bulan 15 hari dengan masa percobaan 3 bulan. mencuri 3 buah kakao mungkin memang terdengar sepele, tapi itulah hukum. suka tidak suka, hukum telah disepakati dan sebagai konsekuensinya, hukum harus kita taati.

muncul suara-suara yang menyayangkan jaksa karena tidak memberikan kebijaksanaannya, misalnya mengeluarkan surat keputusan penghentian penuntutan (skp2). rasanya kebijaksanaan (atau lebih tepatnya pengecualian) adalah sebuah keistimewaan yang tidak dimiliki hukum. hanya presiden yang memiliki hak prerogatif seperti abolisi atau amnesti. badan yudikatif seperti kejaksaan tidak memiliki hak istimewa semacam itu.

lantas bagaimana dengan koruptor-koruptor kakap yang terkesan sulit diusut padahal telah menimbulkan kerugian jauh lebih banyak ketimbang 3 buah kakao? situasi ini memang adalah sebuah ketidakadilan dan kita harus bergerak menuju keadilan tersebut. akan tetapi keadilan tersebut bukan didapat dengan cara menafikan hukum.

hukum harus ditegakkan, bukan justru dibaringkan. bagaimanapun juga, sang nenek bersalah karena telah mencuri. untuk itu beliau harus menerima konsekuensi hukumnya sesuai dengan keputusan majelis hakim. masih bebasnya koruptor di luar tidak dapat dijadikan alasan untuk membebaskan sang nenek dari tuntutan. keadilan hanya bisa didapat dengan memenjarakan koruptor-koruptor tersebut.

hukum memang buta, namun masyarakat tidak. masyarakat yang kemudian memiliki keistimewaan untuk membuat kebijaksanaan-kebijaksanaan dalam menyikapi situasi. seandainya sang mandor, yang melaporkan nenek minah, memanfaatkan keistimewaannya untuk berlaku bijaksana dengan tidak melaporkan perbuatan nenek minah, maka sistem hukum tidak perlu bergerak. hukum hanyalah suatu sistem yang tidak memiliki hati. kitalah, manusia-manusia bebas, yang memiliki hati.

sumber gambar: http://www.kuemin-law.ch/Angebot/justitia.gif

Selasa, Agustus 04, 2009

Urip Ariyanto (1949-2009)

di saat anak-anak gamang mencari pegangan akan siapa yang dapat dijadikan sebagai role model, mbah surip hadir untuk manjadi tempat berpegangan sementara. krisis lagu anak-anak membuat lagu tak gendong menjadi sangat dekat dengan dunia anak-anak.

yah, lagu ini sejatinya tidaklah dibuat untuk membidik pasar anak-anak. tetapi lirik dan musik yang sederhana justru membuat lagu ini amat kuat menggamit konstituen anak-anak. lebih dari itu, lagu ini tidak perlu membuat orang tua khawatir, karena temanya bukan sesuatu yang menyangkut selingkuh, putus cinta, dan "blablabla"-nya orang dewasa.

mbah surip bukan anak kemaren sore di dunia musik indonesia. kiprahnya sudah semenjak bertahun-tahun yang lalu. perjuangannya tidak mudah. kalau sekarang ia sesukses saat ini, nyata bahwa ia bukanlah buah karbitan ala acara talent show seperti aindoensian idol. ia adalah buah dari kerja keras dan konsistensi.

maka dari itu, mari lupakan soal kualitas, lupakan keindahan vokal, lupakan kekuatan napas, vibra, falset, lirik puitis, atau apapun itu. karena itu semua bukanlah dagangan yang ada di tiap lapak lagu mbah surip. mbah surip adalah seorang penyanyi yang tidak hanya bernyanyi untuk mereka yang mendengarkan, tapi lebih dari itu, dia bernyanyi untuk dirinya sendiri dengan jujur. setiap nyanyian yang jujur akan selalu dapat diapresiasi dengan baik oleh orang lain, seaneh apapun lagu itu. mbah surip sudah membuktikannya.

Jumat, Februari 20, 2009

Mental Pengemis

beberapa hari yang lalu, iseng-iseng bikin note di facebook via ponsel. note itu dibuat sepanjang perjalanan angkot dari terminal laladon bogor sampe balai penelitian teknologi karet yang ada di bogor. maksudnya sih iseng-iseng ngabisin waktu di angkot. eh taunya diskusinya jadi menarik... berikut gue lampirin


Mental pengemis mungkin emang udah ngedarah daging di sebagian warga kita.
Gimana gak ngedarah daging? Lha dari umur balita udah diajakin ngegembel sama ibunya di lampu merah. Nanti kalo udah sanggup jalan sendiri, disuruh beroperasi sendiri. Umur bocah emang paling potensial untuk ngegembel, karena orang biasanya lebih gampang iba.

Di satu sisi kita kasian, tapi di sisi laen kalo kita ngasih recehan itu juga gak ngedidik. Kalo kita ngasih mereka uang, itu sama aja nanemin di otak mereka kalo 'beginilah harusnya cara saya nyari uang'. Semakin sering mereka dapet uang, semakin kuat mental mengemis mereka.

Beberapa orang lantas nganjurin kalo emang kasian sama pengemis, jangan ngasih uang, tapi kasih aja makanan. Temen gue, si iqbal, pernah punya kejadian konyol dengan cara ini. Seorang pengemis minta uang ke dia, alesannya untuk beli makanan. Karena gak mau ngasih uang, maka dibawalah pengemis itu ke warung makan terdekat dan dibeliin soto. Bukannya dimakan, gembel itu malah ninggalin warung makan itu tanpa sedikitpun nyentuh makanannya. Dia cuma mau uang.

Kejadian 3 hari yang lalu yang gue alamin agak beda dengan yang dialamin iqbal. Pas gue lagi makan di warung makan, seorang bocah gembel umur 12 taunan masuk. Dengan suara dibuat-buat melas dia minta-minta duit ke orang di meja sebelah gue. Karena gak mau ngasih duit, si mbak yang dimintain itu malah nawarin makan aja,"makan aja ya, tapi di sini aja," mbak itu ngasih tawaran. Si bocah langsung ngangguk-ngangguk setuju. Mbak itupun akhirnya mempersilahkan si bocah mesen apa yang dimau.

Dengan sigap dan suara lantang si bocah mesen ayam bakar pedes ke pelayannya.

Selesai mesen, dia ngedatengin meja gue, suaranya berubah lagi jadi memelas. Ngeliat itu, si mbak yang tadi ngomong,"udah, jangan minta-minta lagi, kan udah dibeliin makan. Duduk sini," si bocah pun nurut.

Sambil nunggu ayam pesenannya dibakar, si bocah taunya berulah lagi. Tanpa malu-malu dia ngomong,"teh, sekalian jus juga ya. Pengen jus nih!"

Lha ne bocah kok malah ngelunjak? Si mbak dengan muka asem bilang,"yey, saya aja cuma minum es teh, kok kamu malah minta jus. Udah, es teh aja!"

Akhirnya si bocah mesen es teh.


Ngadepin pengemis emang susah-susah gampang. Dikasih uang salah, dikasih makan lha kok malah ngelunjak.
Ck ck ck

ternyata, banyak juga yang nanggepin dan semakin nguak fakta muka pengemis-pengemis di sekitar kita. beberapa komentar yang relevan untuk memperkaya khasanah pengetahuan kita antara lain adalah sebagai berikut:

Arban Khoiri pada 22:32 19 Februari
Gua pernah denger cerita dr supir taksi (dan dah gua liat sendiri orang-orangnya). Ada ibu-ibu yang sekeluarga ngemis semue. Yang miris, anak-anaknya aja yang disuruh ngemis. Dari jaman anaknya masiy kecil mpe sekarang dah layak nikah (diatas 18an). Sekarang anaknya yang paling kecil juga ikut-ikutan disuruh ngemis. Ortunya cuma ngawasin aja. Daerah mangkalnya sama dari dulu mpe sekarang, depan Poins Square Lebak Bulus pas bawah jembatan layang. Katanye lagi, dari hasil ngemis, rumahnya dah gedong. Ya iya lah... Sehari bisa dapet 700-800 ribu.

Kukuh Anggoro Wicaksono pada 23:49 19 Februari
gw juga mau koment ah...
waktu itu gw makan batagor or somay sehabis shalat ashar di mesjid raya bogor. dan waktu itu gw n doni bayar tuh makanan pake duit 100rban. dan tukang batagor or somay tsb gak pny kembalian. trus dia tuker ke pengemis di dpn mesjid raya.
yang buat gw kaget adalah saat pengemis tersebut buka dompetnya...
tada..... trnyata isinya lebih dari 100rb dan itu pendapat bersih sehari (gw yang kerja aje cuma 60 rb/hari). sejak itu gw gak pernah ngasih pengemis di depan msjid raya tsb...

ternyata ada pengemis yang mengemis bukan karena mereka nggak bisa atau gak sanggup untuk bekerja, tapi lebih karena lebih mudah mendapatkan uang dengan mengemis, daripada harus capek-capek kerja. tentunya sekarang yang jadi dilema adalah orang yang mau bersedekah. apakah harus memberi atau tidak. peraturan daerah jakarta yang melarang kegiatan mengemis dan memberi uang ke pengemis rasanya emang bener banget. karena hal seperti itu cuma ngebuat budaya ngemis jadi semakin tertanam.

Rabu, Agustus 13, 2008

senang bisa berteman dan bekerja sama dengan kalian, kawan-kawan...

gajah mada pernah bersumpah untuk tidak menikmati dunia sebelum berhasil menyatukan nusantara. dan gue... gue pernah bercanda kalo gak bakal lulus sebelum temen-temen kuliah gue beres. tolong maafin gue karena dengan berani-beraninya membandingkan seorang maha patih kesohor dengan seorang mahasiswa tingkat akhir yang terlambat lulus.

pas gue ngomong itu, gue sebenernya bukan cuma bercanda. well, okelah setengah bercanda. dan sekarang ternyata gue kena batunya... DAMN... demi menebus hal itu, beberapa bulan ini gue berusaha untuk mencari tau rekan-rekan sejawat gue yang lagi bermasalah dengan tugas akhirnya. setengah nyesel juga sih pernah ngomong gitu, karena sekarang gue harus ngebayar omongan gue. huehehehe.... tapi gue yakin bakal ada kebaikan yang bisa gue petik kalo gue bisa belajar dari pengalaman gue ini. apalagi niat gue ngomong gitu sebenernya baek, walopun agak sesumbar (ampun ya Allah...=(( ).

beberapa minggu yang lalu, salah seorang temen gue dengan sangat tidak sengaja ketemu dengan temen sekelas gue, yang selanjutnya akan disebut sebagai A (yang juga temen sekelas temen gue ini, yang selanjutnya akan disebut sebagai B). perlu diketahui bahwa si B sudah menghilang dari peredaran pergaulan temen-temen sekelas gue selama lebih dari satu tahun. sampai semua temen gue (dan gue juga sih...) sibuk dengan tugas akhir masing-masing, temen kita yang satu ini agak terlupakan, dan tidak diketahui rimbanya. bahkan dosen pembimbingnya juga tidak tahu menahu keberadaan sang anak.

pertemuan tidak sengaja antara si A dan si B ini rupanya membuka apa yang terjadi. si B ternyata sedang mengalami masalah finansial. sudah satu semester SPP-nya belum dibayar, dan pihak rektorat sudah melayangkan surat peringatan pertama. si A kemudian sempat bertemu dengan beberapa temen yang laen yaitu si C, si D, si E, si F, dan si G sempet muncul ide untuk urunan demi ngebantu temen kita si A tersebut. tapi agaknya hal ini dengan mudahnya terhapus dari ingatan laik seoles aseton tertiup angin. ketika kabar itu sampai ke gue, gue pun mengecek kebenaran berita tersebut sambil membawa si A ke kosannya si B. dan ternyata benar adanya.

ide penggalangan dana gue endapkan dulu untuk mempertimbangkan beberapa hal seperti, tanggapan dari temen-temen sekelas yang laen, kemungkinan salah pengertian dari si A atas niat baik ini dan lain sebagainya. akhirnya setelah berkonsultasi dengan beberapa temen (si B dan si H), maka gue memanfaatkan jabatan gue di kelas untuk mengutarakan hal ini. (padahal jabatannya cuma moderator milis... HUUUUU.....) setelah nawaytu dan bismillah, akhirnya gue utarakan di milis kelas gue tentang keadaan temen kita si B.

singkat kata, singkat cerita, respon temen-temen yang laen sangat bagus. dalam waktu seminggu, akhirnya tergalang dana yang lumayan banget buat ngebantu si B bayar SPP. selaen ngegalang dana, ada temen gue yang laen, si I, yang berinisiatif untuk melaporkan hal ini ke departemen (a.k.a jurusan). meskipun kita sekelas gak terlalu ngarepin bantuan dari departemen (berdasarkan pengalaman-pengalaman sebelumnya), tapi upaya ini juga perlu untuk ngebuka mata orang-orang di departemen.

satu masalah selesai, dan masalah laen menghadang. sekarang gue bingung gimana cara nyampein duit yang menggunung itu ke si B. berhubung kemampuan gue dalam berkomunikasi soal persuasi agak kurang (gue lebih jago kalo disuruh ngomong dalam suasana intimidasi. ha ha ha..), akhirnya gue ngajak temen gue yang laen, si L (bukan L yang ada di komik deathnote) untuk nganterin gue sekaligus untuk ngomong ke si B. dan ternyata semuanya berjalan mulus...

okeh... gue sama sekali nggak bermaksud untuk "ngejual" kesulitan orang sebagai bahan postingan gue. yang mau gue bilang adalah, gue merasa amat sangat beruntung bisa kenal dan bertemen dengan orang-orang hebat, orang-orang simpatik, solider, gak egois, dan memiliki rasa kekeluargaan yang tinggi seperti yang ada di kelas gue. meskipun sekarang kita udah hidup kepencar-pencar karena tuntutan pekerjaan, gue tetep bisa ngeliat ada ikatan yang kuat di antara kita semua. nilai-nilai kekeluargaan seperti inilah yang gue harap gak bakal luntur sampai kapanpun nanti.

senang bisa berteman dan bekerja sama dengan kalian, kawan-kawan...


(gambar dipinjam demi kepentingan kelas. hak cipta oleh Mayang, diambil dari berbagai sumber)

Senin, Juni 30, 2008

aksi dan reaksi

beberapa tahun yang lalu gue pernah baca satu artikel di majalah islami (boleh ketawa kalo ada yang gak percaya gue baca majalah begituan). cerita itu kurang lebih begini:

seorang pria yang lagi naek motor tiba-tiba dihentiin sama polisi. pemeriksaan rutin. pak polisi minta surat-surat kelengkapan motor itu ke si pria berikut izin mengemudinya. tapi taunya si pria ini gak bisa nunjukin SIM dia. pak polisi nanya ke mana SIMnya? si pria jawab, "saya gak punya, pak."

ujung bibir pak polisi semakin mendekati kuping, sumringah karena bakal dapet korban. dia bilang," kalo gak punya SIM, bapak gak boleh bawa motor. bapak tau itu kan?" si bapak ngangguk-ngangguk. pak polisi ngelanjutin lagi,"kalo tau, terus kenapa nekad tetep bawa motor?"

si pria kemudian ngejawab, "karena saya butuh bawa motor, pak. kantor saya jauh dari rumah. saya bukannya gak mau bikin SIM, tapi temen-temen bapak yang ngurusin SIM itu selalu aja mintain duit di luar ketentuan yang ada. saya gak mau mendukung kegiatan korupsi, makanya saya nggak selesai-selesai bikin SIM-nya." ngedenger alesan si pria ini, pak polisi jadi mikir dan sedikit malu. akhirnya singkat kata, si pria ini dilepasin sama si polisi untuk kembali berkendara tanpa SIM.

konon katanya, cerita ini bener adanya alias bener-bener pernah kejadian. selesai baca artikel itu, di dalem hati gue semept muncul perasaan nggak enak. perasaan itu cuman muncul sesaat aja, abis itu ilang begitu aja.

sampai tanggal 26 juni 2008...
tiba-tiba sebuah kejadian membuka lagi onak kecil yang sempet timbul beberapa tahun lalu itu. (beberapa orang yang ngaku-ngaku) mahasiswa tiba-tiba ngerobohin pager DPR, ngebakar mobil plat merah, dan ngebuat kerusakaan di jalan tol dalem kota jakarta. pada saat salah satu pentolan mereka ditanyain kenapa mereka berbuat seperti itu, mereka bilang, mereka mengatasnamakan rakyat. perobohan pager DPR melambangkan keinginan mereka kepada para wakil rakyat untuk lebih mendengar suara rakyat. mobil plat merah dibakar karena mobil tersebut melambangkan pemerintah yang selalu menyengsarakan rakyat sebuah alat yang dibeli oleh uang rakyat melalui pajak, tetapi kemudian digunakan untu menyerang rakyat.

sinting? mungkin juga. tapi yang jelas, dari dua cerita yang gue kemukain barusan, gue nangkep satu kecenderungan: ketika korupsi sudah menjadi gaya hidup, maka perbuatan anarkis adalah reaksi yang paling umum mengemuka. membakar mobil adalah perbuatan anarkis. merobohkan pagar juga perbuatan anarkis. ngerusak kerusakan di jalan tol pun perbuatan anarkis. tapi apa naek motor tanpa SIM itu adalah perbuatan anarkis? ya! anarki kan artinya keadaan ketika tidak ada aturan. semua perbuatan di atas kan menafikan aturan yang ada. walopun pada konsep awalnya kekerasan nggak termasuk di dalam agenda anarki.

semua perbuatan di atas nggak bisa dibenarkan secara hukum, dan mereka telah memilih cara perlawanan dengan menantang langsung peraturan. setuju tidak setuju, gue nggak dalem kapasitas untuk menghakimi. tapi yang jelas gue bakal lebih milih cara perlawanan yang laen, karena gue percaya bahwa konflik akan selalu memakan collateral damage.

Jumat, April 27, 2007

cakram

3 minggu yang lalu akhirnya gue punya sim. bikin sim pake calo. sebenernya gue agak dilema juga melakukan hal ini [njissss]. tapi setelah dipikir2, mendingan melakukan kesalahan satu kali (bikin sim pake calo) daripada bikin salah berulang2 kali (bawa motor ke mana-mana nggak pake sim). setelah 3 minggu bikin sim, gue baru bawa motor tadi siang. keliling-keliling bogor. (sebenernya sih beli taneman di pajajaran buat penelitian gue...).

nah... pas di parkiran fateta, gue inget kejadian sekitar setengah taun yang lalu. di tempat parkir fateta, seorang perempuan berteriak panik ke satpam,"pak satpam... pak satpam... ada yang maling kunci cakram saya!!!". si perempuan itu rupanya ketika menaruh motor di tempat parkir, juga menyempatkan diri untuk mengunci cakram motornya. tapi sekarang kunci cakramnya lenyap tak tentu rimbanya. pak satpam segera bertindak. motor si perempuan ditilik dalam-dalam. setiap lekuk dan gores dilihat lekat-lekat. anehnya... tak ada yang hilang di motor tersebut kecuali kunci cakramnya. di bagian cakramnya pun tidak ada tanda-tanda dibuka paksa. tak ada gores, tak ada lecet. si satpam berkata,"aneh... aneh sekali kasus ini... semakin dipikirkan... semakin aneh." menirukan gaya conan edogawa [mulai ngarang nih si rae...]. akhirnya setelah beberapa saat berdiskusi tak tentu arah, si perempuan ngeloyor pergi dari parkiran fateta dengan tanda tanya besar di benaknya.

sekitar setengah jam kemudian, muncullah seorang pemuda di tempat parkir fateta. maksud hati ia ingin pulang dengan mengendarai sepeda motornya. tapi ketika ia sampai di tempat motornya, ia menjerit sekeras-kerasnya,"SIAPA YANG NGUNCI CAKRAM GUE!!!!!".

rupanya si perempuan yang tadi salah ngunci motor. bukannya motor dia yang dikunci, malah motor orang yang dikancing. koq bisa ya....

Senin, Januari 29, 2007

roy suryo lagi... roy suryo lagi...

kenapa sih kalo ada kasus yang berhubungan dengan sesuatu yang agak hi-tech pasti roy suryo nongol.

sarah azhari diintip ganti baju di kamar mandi...
roy suryo nongol...

kasus skandal ME YZ...
roy Suryo nongol...

alda koit di hotel...
roy suryo nongol...

nyari black box adam air...
roy suryo nongol...

emang di indonesia ini gak ada ahli telematika laen apa?

Jumat, Januari 26, 2007

mau... tau... ajah...

gue pengen ngebuat semacam otokritik bagi diri kita sendiri. bangsa indonesia dikenal ramah, baik hati, santun, dll. mungkin kalo cuma sekilas orang luar melihat kita seperti itu. tapi ada satu budaya bangsa kita yang tidak perlu kita banggakan namun semakin hari semakin mengkhawatirkan. BUDAYA INGIN TAHU.

liat aja gimana infotainment merebak dalam waktu satu dasawarsa terakhir. awal kehadiran infotainment memang masih berisi "informasi" dalam ranah hiburan atau "entertainment". tapi belakangan ini, segala macam eksploitasi terhadap pernak pernik keselebritisan yang dimiliki seorang selebritis semakin menggila. gak jarang gue ngeliat hal-hal sepele seperti: kenapa si A sekarang jarang maen sinetron, ato si B sekarang rambutnya dicat pirang. in the name ofGOD!!! apa pentingnya informasi semacam itu buat kita? seorang dosen saya mengatakan bahwa infotainment adalah proses pembodohan yang dilakukan secara massif dan simultan. gue sepakat banget. tapi anehnya... walaupun kita tau itu pembodohan, tapi kita tetep aja berpartisipasi sebagai peserta pembodohan tersebut.

hal ini dikarenakan kita yang memang memiliki budaya ingin tahu tinggi. sangat ingin tahu sampai-sampai melanggar batasan hak yang dimiliki orang. masih ingat bagaimana ketika kasus perceraian reza dan aji massaid merebak, ataupun kasus poligami aa gym yang baru saja kita bahas. siapa yang nggak berang kalo kehidupan pribadinya diusik? kenapa orang laen harus tau segala macem tentang selebritis.

gue sempet berdiskusi dengan beberapa temen gue ttg hal ini, ada temen gue yang berargumen: orang indonesia itu nggak sebegitunya pengen tau. mereka cuma pengen tau tentang orang ngetop aja. coba kalo misalnya orang biasa-biasa aja yang poligami... siapa yang peduli?

oh ya?
benarkah?

sekarang kita akan ngadain workshop virtual kecil-kecilan.
sekarang pejam mata lo, dan bayangkan lo keluar dari rumah lo. lo jalan di jalanan berjalan kaki. kemudian lo berpapasan dengan temen lo. nah sekarang bayangkan percakapan apa yang terjadi diantara lo berdua?

gue kasih waktu buat lo mikir selama 10 detik
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
time's up!

okay, let me guess!
lo papasan dan lo mungkin bakal ngasih salam
lo : hai!
temen lo : eh... hai!
lo : apa kabar?
temen lo : baek, lo sendiri gimana?
lo : alhamdulillah baek juga. eh, dari mana lo?
temen lo : oh, dari warung beli korek. lo sendiri mau ke mana?
lo : mau maen ke rumah candra.

yah, gue tebak kira-kira percakapan yang bakal terjadi bakal demikian. sekarang lo coba make gaya percakapan lo kayak tadi di amerika ato inggris. pasti gak bakal keterima sama society di sana.

mau kemana lo? dari mana lo? mungkin kita nganggep itu sebagai basa-basi, chit-chat ala kadarnya kalo ketemu temen. tapi jelas kalo pertanyaan kayak gitu bener-bener mau nyampurin urusan orang laen. bahkan budaya ingin tau yang berlebih ini begitu mengakarnya sampe-sampe dalam basa-basi pun muncul.
coba kalo kita bandingin dengan basa-basinya orang luar negeri. biasanya mereka bakalan bilang,"cuacanya cerah ya?" ato,"udah tiga hari ini gak turun hujan ya", ato mungkin yang agak berbobot (biasanya dipake kalo lagi nunggu ato lagi punya waktu banyak),"cuacanya cerah ya...", atau "badai katrina kemaren bener-bener ganas ya?". gak keliatan sama sekali ada usaha untuk nyampurin urusan orang laen.

chit chat is chit chat,
your business is your business,
and let my business just be my business,
don't even try to blend it!

Pengkultusan

Mulai hari ini semua akan berubah!

sekitar satu bulan yang lalu, gue dapet imel dari salah satu pembaca blog gue. dia bilang,"rae, coba dong lo bahas poligaminya aa gym dari perspektif lo. kan lo bisa ngeliat dari sudut-sudut yang gak kepikiran oleh orang lain.".

selesai membaca imel itu, rasanya gue ingin nangis...BLOG GUE MULAI DIGANDRUNGI!!!! uedan tenan iki!!! sampe-sampe ada surat pembaca di inbox frenster gue. setelah beberapa waktu (ya sekitar satu bulan itu...) larut dalam euforia kebahagiaan, akhirnya gue coba mulai menilik ulang apa yang terjadi di sekitar aa gym...

akhirnya gue menilai satu hal yang harus kita renungkan. sesuatu yang menurut gue lebih penting ketimbang menghujat aa gym (terlepas dari benar tidaknya perbuatan dia, gue di sini bukan untuk menjustifikasi). lebih penting ketimbang sakit hati yang (MUNGKIN) dialami istri pertama aa gym.

hal itu adalah: mengapa hal seperti ini harus diributkan?

gue ngeliat telah terjadi satu pengkultusan terhadap diri aa gym. aa gym hanya sebuah makhluk dengan jumlah kromosom yang sama dengan kita semua, dalam artian, dia hanya manusia biasa. mengapa kita harus mengkultuskan dia? jadi wajar saja kalo sekali waktu ia mengecewakan orang lain. karena tidak ada orang yang akan lepas dari khilaf. dan karena dari khilafnya itulah, manusia telah memanusiakan dirinya. bisa kita lihat bagaimana jumlah pengunjung ke daarut tauhid menurun dengan drastis. apalagi ini namanya kalo bukan pengkultusan yang gagal. rupanya selama ini banyak orang yang telah salah menyerap cahaya kebaikan yang selama ini berusaha dipancarkan aa gym. untuk itu sebagai epilog postingan gue ini, gue bakal menutup dengan pepatah lama yang sudah sangat familier di telinga kita, namun mungkin esensinya telah terlupakan oleh kita semua: jangan kau dengar omongan seseorang karena siapa dia, tapi dengar omongannya karena apa yang dia omongkan. apapun yang telah terjadi pada aa gym, dia jelas telah berusaha memberikan yang terbaik bagi perbaikan kehidupan bangsa ini.

Sabtu, Januari 06, 2007

semangkok berdua (bukan dari dangdutkah kita?)

kalo lo nanya ke gue, siapa temen kuliah yang paling "temen"... mungkin gue bakal ngejawab jawabannya adalah johannes sihombing. gue bener-bener penasaran gimana orang tua dia ngedidik anak ini. bener-bener santun. kakak dia juga gak kalah santunnya. johannes yang orang batak melepas stereotipe orang batak yang katanya kasar dan keras. sosok Jo bener-bener beda. senyum selalu nongol di wajah dia.



suatu hari anak2 jurusan gue maen futsal ngelawan anak2 jurusan kimia. di akhir pertandingan, jo ngajak kenalan pemaen2 lawan satu persatu.
tanpa pretensi pun tendensi.



di kantin kampus, jo paling seneng beli es campur. kalo mesen es campur dia selalu mesen untuk make dua sendok. satu sendok buat dia, dan satu lagi buat temennya kalo ada yang minta. jo adalah orang yang seneng berbagi.



pokoknya temen yang top abis daah!!!



tapi akhir-akhir ini dia lagi keranjingan nyari cewek. maklumlah, tingkat akhir masih jomblo kadang-kadang bikin ketar-ketir juga. jadi kalo ada cewek kece yang mau sama jo, bisa gue kenalin.
he... he... he...

digampar cewek

tinggal di harlem, artinya orang itu kulit hitam.
makan babi itu berkonotasi dengan orang itu bukan islam atau yahudi yang taat.
kalo ada orang yang make ganja, besar kemungkinan orang itu juga ngerokok.
kalo ada cowok yang digampar cewek, maka cowok itu besar kemungkinan adalah cowok brengsek.

sekarang gue tanya ke lo semua! lo bisa jawab di kolom comment di bawah postingan ini.
APA GUE KELIATAN KAYAK COWOK BRENGSEK?
APA GUE PERNAH MAENIN CEWEK?
APA GUE PERNAH FLIRTING KE SEMBARANGAN CEWEK (gue flirting cuma ke cewek tertentu aja...)?
nggak kan!

tapi semua reputasi yang selama ini sudah gue bangun kandas dengan sempurna.
karena nila setitik, rusaklah susu sebelanga.
kering padang karena kemarau sebulan, basah kuyup karena hujan sejenak.

kejadian ini terjadi pada hari rabu 8 desember 2006.
gue yang lagi on duty sbg asprak (asisten praktikum), merasakan rasa asam yang berlebihan di mulut gue (udah lama nggak ngerokok, dah lebih dari 21 taun). akhirnya turunlah gue sejenak ke kantin sapta fateta yang tercinta untuk minum minuman yang sudah meng-endorse gue (dengan nilai kontrak 0 rupiah), yaitu "tebs". rupanya, di kantin sedang ada kampanye general untuk pemilihan ketua himalogin (hima-himaan gitu). berbagai atribut pendukung dikenakan dan sorak sorai membahana di seantero lapisan udara sapta. gue yang merasa amat segar karena sudah minum tebs, merasa terpanggil untuk ikut berteriak-teriak!
WAAAA
WAAAA
WAAAA
WAAAA
4 kali teriakan WAAAA membahana dari mulut gue.
tapi rupanya gue menjadi orang yang salah di saat yang salah di tempat yang salah. di sebelah kiri gue ada isti yang dikenal sebagai margaret tecer-nya tin40. gue belum sadar dengan bahaya yang sedang mengintai gue. gue kembali teriak-teriak dan....

rupanya singa itu mengamuk! dia membalikkan badannya, lalu dengan sangat tiba-tiba menggampar gue!
PLAKKKK....
rupanya ia terganggu dengan suara bising gue.

sekarang gue harus menanggung hidup dengan predikat sebagai seorang pria baik-baik yang pernah digampar cewek.
hiks....

special feature: percakapan yang amat gue takutin untuk terjadi

calon mertua : menurut kamu... kamu ini brengsek, nggak?
rae : (dengan mantap dan tegas) nggak, om!
calon mertua : pernah digampar cewek?
rae : (merasa minder) pernah, om...

GIMANA CARA GUE NGEJELASIN SEMUA INI!!!!

Minggu, Desember 10, 2006

rae paradox

terus terang, gue punya masalah dengan cara berkomunikasi gue. entah kenapa, gue bisa begitu meyakinkan kalo lagi berbohong. dan entah kenapa, gue nggak bisa bersikap serius untuk sesuatu yang memang bener-bener serius.

jaman-jaman jahilliyah dulu, gue sering ngelakuin... emmm... lets say some dirty works. dan gue selalu ngandelin cara persuasi gue yang mumpuni kalo lagi ngebokis. profitnya? ho... ho... ho... lumayan juga... but as you know... hot money just easy come and easy go...

kemaren, ada adek kelas gue yang nyoba baca karakter gue dari tulisan tangan dan tanda tangan gue. kesimpulan dia begini: rae adalah orang yang ceria, mudah berkomunikasi dengan orang lain, dan selalu optimis. gue koq ngerasa sama sekali nggak ada yang bener dari semua itu. okelah, gue emang beberapa kali ketawa-ketiwi, tapi jauh di dalem hati gue, gue adalah orang yang gloomy abis. tipikal orang yang sering mengurung diri di kamar, duduk di sudut yang gelap sambil mendengarkan lagu-lagu mengeluhnya nirvana. edan!!! bahkan tulisan dan tanda tangan gue pun bisa gue manipulasi.

but c'mon forget the past. apa yang terjadi di waktu yang lalu, biarlah tetap bersemayam di sana. tapi sekarang gue sering banget nggak bisa mengkomunikasikan maksud dan suatu peristiwa dengan baik, karena orang susah percaya dengan gue.

dari analisis yang gue lakuin, gue nemuin beberapa fakta yang menurut gue menjadi penyebab dari semua ini:

1. rae adalah orang yang tak terduga
expect the unexpected, my dear fellows. banyak cerita tentang diri gue yang gue alamin terlalu fiktif untuk hadir dalam realitas kehidupan. mungkin ini adalah salah satu penyebab kenapa orang sulit percaya dengan yang gue bilang.

2. rae punya trauma.
waktu gue ikutan proyek kemanusiaan temen gue di bantul, gue diajarin satu hal menarik dari temen-temen psikologi UNPAD. mereka bilang, kalo ada anak kecil yang ketika mewarnai gambar, dia menggores pensil warna atau crayon mereka dengan kasar dan tekanan besar serta diikuti dengan alur pewarnaan yang tidak searah, maka besar kemungkinan anak itu mengalami trauma. nah, ketika ngedengerin itu, gue langsung inget dengan masa kecil gue. dulu gue nggak abis pikir kenapa gue nggak bisa ngewarnain gambar sebagus temen-temen gue di kelas. warna yang gue hasilin selalu nggak rata. dan selalu nggak searah. yah... walopun telat, akhirnya gue sadar... mungkin dulu gue ngalamin trauma. gue nggak tau, apa trauma itu masih ada sampe sekarang, tapi yang jelas gue sampe sekarang nggak bisa ngomong sesuatu dengan serius. kalo ada suatu omongan yang serius, biasanya gue selipin hal-hal konyol yang bisa mencairkan suasana. dan kalo gue berusaha untuk ngomong serius dengan cara serius, gue selalu tercekat. apa yang mau gue omongin gak bisa sampe di mulut. pikiran gue jernih, dan gue tau runutan apa yang mesti gue omongin, tapi entah kenapa gak pernah sampe keluar berupa "suatu hal yang bisa diukur dengan satuan desibel".

sebenernya ada satu jalan keluar untuk nunjukin siapa diri gue yang sebenernya tanpa distorsi yaitu lewat komunikasi tulisan. sayangnya gak semua orang bisa nanggepin secara serius tulisan gue. maka dari itu, gue harus terus meng-improve kemampuan menulis gue.
(tepatnya lagi, kemampuan mengetik gue, bukan kemampuan menulis. tulisan tangan gue jelek...)