Tampilkan postingan dengan label kampanye. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kampanye. Tampilkan semua postingan

Selasa, September 15, 2020

Social Justice Warrior Balapan


Lewis Hamilton memenangkan seri Gran Prix F1 di Mugello 13 September 2020. Bukan berita yang mengagetkan. Sudah bertahun-tahun Mercedes mendominasi gelaran F1. Hampir selalu lewat Lewis Hamilton. Yang tidak biasa adalah kaos yang dikenakan Lewis pada saat menerima trofi. Selain berpotensi membuat sponsor kesal karena logo di overall balapannya tertutup, tulisan yang tertera juga sangat tendensius.

Arrest The Cops Who Killed Breonna Taylor

Sementara bagian belakang kaosnya menampakkan gambar Breonna dengan tulisan, "Say her name." Maka tidak heran jika FIA sekarang sedang menginvestigasi apakah Lewis Hamilton melakukan pelanggaran dengan mengenakan kaos tersebut.


Breonna adalah seorang perawat yang ditembak delapan kali oleh polisi di kediamannya pada Maret lalu. Dor dor dor dor dor dor dor dor. Delapan kali. Namanya adalah yang paling sering disebut oleh demonstran Black Lives Matter setelah nama George Floyd.

Musim F1 2020 memang beda dari biasanya. Selain berbagai penyesuaian yang terjadi sebagai imbas dari pandemi Covid-19, Balapan tahun ini juga disusupi agenda pejuang HAM. Motornya siapa lagi kalau bukan Lewis Hamilton.

Mulai dari tagline #WeRaceAsOne, bergantinya desain livery Mercedes dari perak menjadi hitam, sampai seremonial moment of reflection tiap sebelum balapan menjadi hal baru yang sebelumnya belum pernah dilakukan FIA di ajang F1.

Lewis Hamilton sebagai satu-satunya pembalap berkulit hitam di F1 justru seperti merasa pesan yang disampaikan tak pernah cukup. Terlihat dari bagaimana kecewanya dia ketika beberapa pembalap memilih untuk tidak berlutut pada saat moment of reflection. Padahal semua pembalap mendukung, turut hadir, dan mengenakan kaos hitam berisi pesan anti rasisme.

Kejadian podium di Mugello dapat dibaca sebagai usaha Lewis untuk mendobrak batasan yang selama ini. Langkah yang kemungkinan besar akan berbuah teguran dan denda. Namun bukan berarti resiko tersebut tidak diperhitungkan. 

Agenda Black Lives Matter penting dan universal, tapi memasukkan agenda tersebut ke dalam F1 rasanya terlalu berlebihan. Selain tidak bersentuhan langsung, sebenarnya F1 sendiri punya batasan sendiri yang mengatur penyampaian pandangan politik lewat platform F1.

Tapi FIA ternyata merestui agenda ini. Sama seperti FIFA yang manut-manut saja ketika agenda Black Lives Matter dimasukkan ke dalam pertandingan sepakbola. Padahal sebelumnya, setiap ekspresi politik di lapangan sepakbola hampir pasti akan berakhir dengan kartu kuning. Mungkin karena kasus rasisme sepakbola cukup tinggi, maka agenda Black Lives Matter cukup relevan dengan sepakbola dan bisa dikecualikan. 
Semangat Aktivisme Lewis adalah nilai lebih. Namun, lebih baik jika Lewis melanjutkan kampanyenya di luar ajang balapan. Peningkatan kesadaran publik mestinya bisa dilakukannya lewat jejaring media sosial miliknya. Lagipula sejauh ini tidak ada kasus rasisme atau diskriminasi apapun di F1. Jadi relevansinya dengan F1 agak kurang pas.

Mungkin akan lain ceritanya kalau kasusnya seperti yang diutarakan Dandhy Laksono. Dandhy meminta dukungan dari pembalap-pembalap MotoGP untuk memberi perhatian pada pembangunan sirkuit Mandalika yang terlilit sengketa lahan dengan penduduk lokal. 


Terlepas dari setuju tidaknya kita dengan pandangan politik beliau, namun desakan yang dia minta dari para pembalap MotoGP ini relevan. Sirkuit ini rencananya akan dipakai sebagai salah satu seri MotoGP mulai 2021 nanti. Maka meminta perhatian pembalap MotoGP adalah hal yang lumrah.

Meminta kesadaran para pihak yang berhubungan dengan keberadaan sirkuit ini mestinya tidaklah mengada-ada. Bagaimana para pembalap tersebut merespon isu ini adalah perkara lain. Kemungkinan besar pembalap MotoGP tidak akan menggubris seruan Dandhy. 

Namun kalau misalnya nanti mereka sepakat mengadakan moment of reflection berjilid-jilid tiap mau balapan di sisa seri tahun ini untuk memprotes penyerobotan tanah di Sirkuit Mandalika, maka itu sebenarnya akan jauh lebih relevan daripada moment of reflection di F1 untuk mengkampanyekan Black Lives Matter. Terdengar lebay? Ya seperti itulah rasanya melihat F1 yang penuh agenda para Social Justice Warrior mancanegara. Lebay.

Rabu, Juli 02, 2014

Janji Joni, Janji Joko Anwar, dan Janji Joko Widodo

Karya pertama Joko Anwar sebagai sutradara film panjang adalah Janji Joni. Wajar jika Janji Joni disebut sebagai manifesto idealisme seorang Joko Anwar. Dalam film yang ringan namun sarat muatan ini Joko hendak mengungkapkan betapa agungnya sebuah janji. Seriusnya Joko memegang janji, sampai-sampai Ia rela bertelanjang bulat di salah satu gerai Circle-K Bintaro pada medio 2009 lalu. Bahkan sebagai bukti, Ia turut melampirkan foto aksi gilanya tersebut (walau sepertinya sekarang sudah dihapus).

Meskipun terbilang nekad, tidak sedikit pula orang yang mengapresiasi Joko Anwar karena mau menepati janjinya. Apalagi dalam kicauannya, Joko turut menyindir politisi-politisi yang kerap mengingkari janji yang sudah dibuat.

A promise is a promise, Mr. Politicians!
(Joko Anwar, 2009)

Waktu bergulir, 5 tahun berlalu. Sebuah acara skala nasional digelar, Pemilihan Presiden. Joko Anwar bersikap untuk mendukung calon presiden dengan nama depan yang sama dengan dirinya, Joko Widodo. Tidak ada yang salah dengan urusan dukung mendukung calon presiden. Semua punya kelebihan dan kekurangannya. Namun ada yang berubah pada Joko Anwar. Jika sebelumnya Joko Anwar tampil sebagai sosok yang begitu menjunjung sebuah janji, kini Joko Anwar justru memberikan pembelaan atas janji yang diingkari.

Menanggapi tudingan Joko Widodo yang mengingkari janji, Joko Anwar justru memberi pembenaran. Tidak ada lagi Joko Anwar yang dengan gagah berkata, “A promise is a promise, Mr. Politicians!


Gini. Janji apapun itu, apalagi janji politik, harus kalah demi kepentingan nasional. Jadi udah deh. Tuduhan gak nepatin janji itu lemah.
(Joko Anwar, 2014)

Sekali lagi, tidak salah mendukung Joko Widodo untuk menjadi presiden. Namun sikap ambivalen Joko Anwar patut dikritisi. Jika hari ini Joko Anwar mentolerir ingkar janjinya seseorang, bukan tidak mungkin di kemudian hari Joko Anwar akan mentolerir penyalahgunaan wewenang dengan dalih “for a greater good”. Joko Anwar harus diingatkan. Bukan diingatkan untuk tidak mengkampanyekan Joko Widodo, namun diingatkan untuk tidak membenarkan perbuatan yang salah.

Mendiamkan ingkar janjinya Joko Widodo mungkin lebih baik daripada membenarkannya. Harusnya Joko Anwar tetap bisa kritis walau mengkampanyekan Joko Widodo. Pandji Pragiwaksono yang juga mengkampanyekan Joko Widodo saja bisa tetap bersikap kritis dengan menolak ide Jusuf Kalla, pasangan Joko Widodo.

Perubahan sikap Joko Anwar tidak ekslusif ada pada dirinya. Kecenderungan seperti ini selalu ada di sekitar kita, bahkan dalam diri kita. Sejarah mencatat Soekarno hancur karena sikap-sikap kritis pada dirinya diberangus. Soeharto pun runtuh karena sikap kritis orang-orang di sekitarnya hilang. Jangan sampai sikap kritis dimatikan oleh pengkultusan.

Rabu, Juli 18, 2012

Bahasa Indonesia: Apa-Apa yang Belum Selesai Darinya

Tugas bahasa Indonesia untuk menjadi bahasa yang sempurna belum tuntas. Masih banyak hal-hal yang harus diputuskan mana yang benar. Kalaupun sudah benar, masih harus dipromosikan untuk digunakan oleh semua kalangan.


Namun sayangnya bahasa Indonesia semakin hari justru semakin rusak. Inkonsistensi pemakai bahasa Indonesia menjadi penyebab utamanya. Padahal secara struktur kalimat, bahasa Indonesia sudah amat baik. Hal ini amat penting, karena semakin baik struktur kalimat, semakin jarang ditemui kalimat-kalimat ambigu.


Struktur Kalimat yang Baik


Struktur kalimat yang baik ditopang dari jelasnya pemisahan antara masing-masing komponen kalimat. Bukan hanya subyek, predikat, obyek, dan keterangan dapat dipisahkan dengan jelas, namun juga antara komponen yang setara. Misalnya pada kalimat yang memiliki subyek atau obyek jamak. Sayangnya, kini seringkali kita jumpai kalimat yang tidak tepat penulisannya di ruang-ruang publik atau bahkan di media cetak atau maya.
Rusdi harus rela kehilangan dompet, uang serta ponsel.
Banyak sekali orang menuliskan kalimat seperti di atas. Padahal kalimat tersebut salah. Struktur kalimat ini memang seringkali ditemui di dalam kalimat bahasa Inggris, entah benar atau tidak. Tapi yang jelas, dalam struktur kalimat Bahasa Indonesia, penulisan tersebut adalah keliru.
Sekarang mari kita penggal komponen kalimat tersebut.
Rusdi = Subyek
harus rela kehilangan = Predikat
dompet = Obyek I
uang = Obyek II
serta ponsel = Obyek III.


Kalimat ini adalah kalimat majemuk setara dengan tiga obyek. Karena subyek dan predikatnya sama, maka kedua komponen tersebut melebur dan menyisakan tiga obyek di belakang yang harus dipisahkan dengan tanda baca koma (","). Kata sambung "serta" hanya digunakan untuk menandakan bahwa kalimat telah mencapai obyek terakhir dan tidak membuat tanda koma sebelum kata "serta" menjadi hilang. Maka penulisan yang benar adalah:
Rusdi harus rela kehilangan dompet, uang, dan ponsel.
Pemakaian tanda koma ini penting untuk menghindari struktur kalimat aneh apabila obyek kalimatnya adalah pasangan. Contoh kalimat nyeleneh yang saya maksud adalah sebagai berikut:
Pesta ini dihadiri oleh pasangan Tarzan dan Jane, Windu dan Devina serta Johan dan Erni.
Kalimat tersebut menjadi berantakan di bagian akhir karena ada banyak kata sambung yang tidak jelas pemenggalannya. Kata sambung "serta" tidak dapat menggantikan tanda baca koma (",") untuk memisahkan antara masing-masing komponen kalimat. Tanda koma (",") penting untuk memisahkan antar pasangan. 
Pesta ini dihadiri oleh pasangan Tarzan dan Jane, Windu dan Devina, serta Johan dan Erni.


Kejanggalan dalam bahasa Indonesia


Meskipun secara struktur kalimat sudah baik, namun bahasa Indonesia masih banyak memiliki kejanggalan yang lazim kita temui dalam percakapan sehari-hari. 
Siapa nama kamu?
Berapa nomor telepon kamu?
Dua kalimat di atas adalah salah satu contoh kalimat yang sebenarnya janggal namun lazim diucapkan. Kalimat pertama menggunakan kata tanya "siapa" untuk menanyakan nama. Sebenarnya lebih tepat menggunakan kata "apa", karena nama adalah benda, bukan orang. Jika ingin menggunakan kata tanya "siapa" maka kalimatnya cukup menjadi:
Siapa Kamu?
 atau
Apa Nama Kamu
Kalimat kedua juga janggal karena menggunakan kata tanya "berapa" untuk menanyakan nomor telepon. Sebenarnya tidak salah jika kemudian dijawab dengan jumlah nomor telepon yang dimiliki, seperti: 
Saya punya 2 buah nomor telepon.
Namun tentu bukan itu yang dimaksud dengan pertanyaan di atas. Fungsi kata tanya "berapa" digunakan untuk menanyakan jumlah. Sedangkan nomor telepon yang dimaksud adalah sebagai sebuah identitas, bukan sebagai jumlah. Maka kalimat yang lebih tepat adalah:
Apa nomor telepon kamu?
Merasa aneh? Mari kita bandingkan padanan dua kalimat tersebut di atas dengan bahasa Inggris. Kejanggalan dua kalimat tersebut tidak ditemukan di bahasa Inggris. 
What is your name?
What is your number?
Dalam bahasa inggris, kata tanya yang digunakan adalah "what" bukan "who" atau "how much". Dalam hal ini, bahasa Indonesia memang ketinggalan. Perlu ada evaluasi dari ahli bahasa untuk mengubah kebiasaan yang sebenarnya salah ini. Namun evaluasi saja hanyalah hal yang sepele. Permasalahan yang kemudian akan terbuka adalah bagaimana mempromosikan penggunaan kata yang benar ini.


Media Massa dan Bahasa Mereka (yang Seenaknya Saja)


Media massa, sebagai pengguna utama bahasa tulisan, sejatinya memegang tanggung jawab moral yang amat berat dalam menjaga kesahihan bahasa Indonesia. Celakanya, yang terjadi justru sebaliknya.


Tidak jarang media massa menggunakan kata yang tidak sesuai dengan maknya. Contoh yang paling mudah adalah "alih-alih". Media kebanyakan mengartikan "alih-alih" sebagai "jangankan" atau "bukannya". Contoh kalimatnya adalah:
Alih-alih turut serta memberantas korupsi, Presiden justru terkesan membiarkannya.
Penggunaan kata alih-alih sudah sedemikian massifnya, hingga semua orang pun kini "sepakat" memang seperti itulah arti kata "alih-alih".  Padahal menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti dari "alih-alih" adalah sebagai berikut:
alih-alih p 1 dengan tidak disangka-sangka 2 kiranya: disangkanya sudah pergi, -- masih tidur
Seakan tidak cukup "memberi" arti baru pada kata yang jarang digunakan, media massa juga merasa perlu merubah kata yang sebenarnya sudah tepat menjadi bentuk baru. Selama ini, kita sudah sepakat bahwa kata yang benar adalah "pembalap", namun media massa merasa perlu mengubahnya menjadi "pebalap". Pergeseran bentuk kata ini bahkan terjadi di media massa besar seperti pada tautan yang tersemat pada kompas.com, republika.co.id, tempo.co, dan detik.com.


Entah bagaimana wartawan dan redaktur-redaktur di media massa mendapat ide gila tersebut. Merujuk pada KBBI pun sudah jelas salah. Jika ditarik perbandingan dengan kata-kata sejenis pun juga salah. Awalan pe jika digabung dengan kata kerja yang berawalan dengan huruf "P" akan membentuk kata benda dengan bentuk melebur menjadi pem-, seperti yang kita temui pada kata pembunuh, pembabat, pembekap, dan tentu saja pembalap.


*          *          *


Bahasa Indonesia adalah bahasa yang masih amat muda. Berakar pada bahasa Melayu, Bahasa Indonesia baru mulai diakui sebagai bahasa sendiri pada 1928, bersamaan dengan ikrar ketiga pada Sumpah Pemuda. Masih banyak hal-hal yang belum tuntas untuk disepakati secara bersama penggunaannya. Masih panjang jalan bagi bahasa Indonesia untuk menemukan bentuk bakunya yang benar-benar solid.


Di tengah perjuangan menuju bahasa yang baku tersebut, rasanya tidak bijak jika kemudian kita membuat jalan menuju ke sana makin berat dengan memberikan arti-arti baru pada apa-apa yang sebenarnya sudah selesai disepakati. Media massa sebagai elemen yang paling sering menggunakan bahasa tulisan harusnya mampu memilih diksi yang tepat, bukannya justru membuka wacana-wacana baru. 

Rabu, Juli 04, 2012

Memperbaiki Gizi Bangsa Dengan Susu



Dalam satu dekade ini, konsumen Indonesia semakin sadar akan hidup sehat. Dua hal yang kemudian dianggap penting dijaga untuk menghasilkan hidup sehat adalah olahraga dan pola makan. Lihat saja bagaimana banyaknya pusat kebugaran yang dibuka dalam sepuluh tahun terakhir ini. Selain itu, beragam jenis diet juga dikenalkan. Mulai dari diet serat, diet jus, diet buah, dan berpuluh-puluh jenis diet lainnya. Tak pelak, pola hidup sehat sudah menjadi gaya hidup bagi beberapa kalangan.
Kecenderungan dari diet-diet yang dikenalkan di Indonesia, mengacu pada diet yang telah diterapkan di negara-negara maju. Umumnya, mereka cenderung mengurangi konsumsi pangan hewani dan memperbanyak konsumsi pangan nabati. Pada beberapa golongan yang "ekstrim", mereka bahkan merekomendasikan untuk menghentikan sama sekali pangan hewani.
Gaya Hidup Sehat di Indonesia: Tidak Makan Produk Hewani?
Di Indonesia, kampanye-kampanye ini hadir lewat berbagai media. Mulai dari obrolan yang menyebar melalui pergaulan sehari-hari sampai media dunia maya seperti blog. Kampanye yang paling populer mungkin adalah kampanye untuk menghentikan konsumsi daging merah, seperti daging sapi dan kambing. Alasan tingginya lemak dan kolesterol yang terkandung pada daging merah memberi ketakutan akan serangan jantung dan stroke. 
Anjuran untuk menghentikan konsumsi pangan hewani yang paling baru terjadi pada susu. Seakan tidak cukup isu susu yang terkontaminasi bakteri E. Sakazakii, kini "nama baik" susu yang selama ini kita kenal sebagai makanan yang bergizi dan penting kembali diuji. Seorang profesor Jepang bernama Hiromi Shinya dalam bukunya, The Miracle of Enzym, menuturkan buruknya susu bagi kesehatan pencernaan manusia. Apakah benar susu selalu buruk pada manusia?
Mari kita melihat konsumsi pangan hewani di Indonesia. Konsumsi per kapita warga Indonesia untuk daging ayam hanya 4,7-7 kg per tahun (bandingkan dengan Brazil yang mencapai 30 kg per kapita per tahun), konsumsi daging sapi 1,9-2,2 kg (bandingkan dengan Argentina yang mencapai 60 kg per kapita per tahun). Hal ini amat jauh dari rata-rata konsumsi daging per kapita negara-negara berkembang yang mencapai 23 kg untuk daging sapi dan ayam. 
Lalu bagaimana dengan susu sapi? Menyitir ucapan Prof. Bustanul Arifin dalam acara Indolivestock beberapa tahun lalu, tanpa perlu menyebutkan angka, konsumsi susu sapi di Indonesia per kapita per tahun hanya beberapa tetes. Tidak sampai 1 Liter! Menghitungnya hanya dalam satuan cc! Jika dirata-rata, masyarakat Indonesia nyaris tidak mengkonsumsi susu.
Dengan fakta di atas, maka tidak heran kalau seringkali kita menjumpai kasus gizi buruk bahkan sampai busung lapar di Indonesia. Kasus-kasus ini tidak hanya ditemui di daerah rural, tapi juga di daerah sub-urban bahkan urban.
Pangan hewani dikenal memiliki kandungan protein yang tinggi. Protein amat dibutuhkan pada masa pertumbuhan dan di saat masa penyembuhan. Tercukupinya kebutuhan protein seseorang di masa pertumbuhannya akan berimplikasi pada terbentuknya tubuh yang sehat dan otak yang cemerlang. 
Keunggulan Susu
Protein yang berasal dari hewan memiliki kandungan asam amino esensial yang lebih lengkap dibandingkan dengan protein nabati. Asam amino esensial sendiri tidak bisa dihasilkan dari metabolisme tubuh manusia sehingga asupannya dari makanan amat penting. Di antara  protein hewani, lainnya, susu memiliki kandungan lemak yang lebih sedikit dibandingkan dengan telur atau daging ayam, sehingga relatif lebih sehat. 
Susu relatif lebih terjangkau untuk dibeli oleh warga Indonesia. Harga susu segar tidak sampai Rp 10.000/ L. Bandingkan dengan telur ayam yang mencapai Rp 19.000,00/ kg atau daging ayam yang lebih dari Rp 25.000/ kg. Tidak perlu pula dibandingkan dengan daging sapi yang mencapai 70.000/ kg.
Mengkonsumsi susu pun lebih terjamin kehalalannya jika dibandingkan dengan mengkonsumsi daging. Berbeda dengan daging yang mensyaratkan penyembelihan yang halal, maka susu tidak memiliki syarat perlakuan untuk menjadi halal.
Dibandingkan beternak sapi potong, beternak sapi perah lebih feasible dilakukan di Indonesia. Sapi perah tidak membutuhkan ladang penggembalaan yang luas seperti sapi potong. Sapi perah cukup ditaruh di kandang yang kebersihannya terjamin.
Produktivitas susu sapi di Indonesia masih bisa ditingkatkan lagi. Saat ini produksi susu dari seekor sapi di Indonesia baru sekitar 8 Liter per hari. Idealnya, seekor sapi mampu memproduksi hingga 20 Liter per hari. Pemberian pakan yang tepat dengan cara yang tepat dapat meningkatkan produktivitas susu yang dihasilkan. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan mencacah pakan menjadi ukuran yang lebih kecil. Perlakuan ini amat sederhana, namun sayangnya masih jarang dipraktekkan oleh peternak sapi perah di Indonesia.
*     *     *




Peningkatan konsumsi susu adalah alternatif pemenuhan kebutuhan protein yang paling masuk akal dilakukan di Indonesia. Selain kandungan gizinya yang lengkap, harganya juga relatif lebih murah, dan terjamin kehalalannya. Belum lagi potensi produktivitas susu di Indonesia yang masih bisa ditingkatkan lagi. 
Gaya hidup sehat adalah dengan hidup yang seimbang. Tidak terlalu banyak mengkonsumsi satu jenis makanan, tidak pula terlalu sedikit mengkonsumsi terlalu sedikit satu jenis makanan. Dengan berkaca pada terjadinya berbagai kasus gizi buruk dan busung lapar di Indonesia, maka peningkatan konsumsi protein ini amat mendesak untuk dilakukan. Maka tidaklah tepat apabila ada kampanye untuk mengurangi atau bahkan menghentikan konsumsi produk pangan hewani di Indonesia. Warga Indonesia masih membutuhkan lebih banyak protein untuk dikonsumsi. Tidak berlebihan apabila ada yang menyatakan bahwa kekurangan protein berpotensi menghasilkan generasi yang hilang (The Lost Generation). Bangsa ini masih membutuhkan lebih banyak pangan hewani untuk menghasilkan generasi yang dapat diandalkan untuk membangun Indonesia.

Sabtu, Desember 31, 2011

Menuntut Edukasi Pasar yang Benar Mengenai Air

Pernah dengar air minum dengan merk Evian? Merk ini berasal dari Perancis. Berasal dari mata air pegunungan di sana yang jernih dan bersih. Konon, Evian adalah salah satu air minum dengan kualitas terbaik yang ada di dunia. Tentunya tidak ada yang salah dengan itu. Tidak ada yang salah, sampai akhirnya Evian beredar di seantero penjuru dunia, termasuk di Indonesia.

Mengapa Evian yang dibuat di Perancis harus beredar di Indonesia? Apakah Indonesia tidak mampu membuat air minum dengan kualitas baik? Tentu tidak. Banyak air minum merk lokal yang berkualitas baik. Lalu mengapa orang di Indonesia harus meminum air yang berasal dari Pegunungan Perancis? Bahkan dengan harga lebih dari dua kali lipat!
Tipu daya orang-orang pemasaranlah yang menjadi biang keladinya. Dengan embel-embel gengsi, dari mata air pegunungan yang jernih, dan gimmick-gimmick lainnya, air dari Perancis bisa mendapat pasar di negara yang bahkan jaraknya terpisah puluhan ribu kilometer. Inilah dunia yang dibentuk oleh pasar global.
Strategi orang-orang pemasaran telah mempermainkan nalar manusia. Celakanya, strategi ini ternyata dilakukan oleh hampir seluruh produsen Air Minum Dalam Kemasan (AMDK), termasuk di Indonesia. Konsumen diberikan informasi yang keliru dengan mengatakan bahwa air yang baik adalah yang bersumber dari mata air dan berasal dari pegunungan. Strategi ini telah membuat orang membeli apa yang sebenarnya tidak mereka butuhkan.
Idealnya AMDK memang tidak diperuntukkan bagi konsumsi sehari-hari. Eksploitasi yang berlebihan pada mata air dapat mengancam keberlangsungan mata air itu sendiri. Sebagai ilustrasi, rasanya sulit membayangkan bahwa kebutuhan minum orang-orang se-Jabodetabek dipenuhi hanya dengan mengandalkan mata air yang ada di Gunung Salak, Bogor. Semakin banyak orang yang bergantung pada AMDK, maka semakin masif mata air-mata air ini dieksploitasi. Semakin masif mata air ini dieksploitasi, maka akan semakin cepat mata air tersebut mengering dan rusak.
Upaya pelestarian kawasan mata air (supply) yang terus diupayakan tidak akan maksimal tanpa adanya usaha untuk mengendalikan sisi permintaan (demand). Laju permintaaan AMDK harus terus diupayakan untuk dikurangi, bukan justru ditambah.
Di sinilah peran PDAM sebenarnya dibutuhkan. Sesuai dengan namanya, perusahaan-perusahaan ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan air minum masyarakat dengan mengandalkan air baku dari sungai, bukan mata air. Terlepas dari segala kekurangannya, air PDAM-lah yang sebenarnya ideal untuk digunakan sebagai air minum.
Jika kita merujuk pada PerMenKes 492 Tahun 2010, sebenarnya air yang layak minum itu tidak ribet. Bahkan air PDAM yang mengalir di pipa-pipa rumah kita pun banyak yang sudah mendekati kualitas air layak minum. Saya sendiri tidak mengkonsumsi AMDK untuk kebutuhan sehari-hari. Dahaga saya lebih banyak dilegakan dengan air kran yang dimasak. Hal ini sudah berlangsung demikian lama dan saya tidak pernah mengalami keluhan karena hal ini.
Jika AMDK dalam kemasan tabung 19 Liter harganya bisa mencapai Rp 10.000,00 dan hanya cukup untuk konsumsi 3-5 hari. Maka dengan harga yang sama, saya sudah bisa memenuhi kebutuhan minum untuk satu bulan hanya dengan sedikit biaya tambahan untuk merebus air. Lalu kenapa saya harus menggunakan AMDK untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari?
AMDK masih dibutuhkan sesuai dengan kapasitas masing-masing orang. Kepraktisan AMDK masih dibutuhkan sebagian orang yang sedang dalam perjalanan.
AMDK juga masih dibutuhkan oleh mereka yang di daerahnya masih kesulitan air bersih. Mereka yang tinggal di daerah dengan kualitas air PDAM tidak terlalu baik atau mereka yang tinggal di daerah tanpa jaringan pipa PDAM dan kualitas air sumurnya tidak terlalu baik juga mungkin masih membutuhkan AMDK.
Masyarakat perlu informasi yang tepat dan tidak menyesatkan. Sayangnya, promosi dari perusahaan-perusahaan AMDK selama ini tidak cukup memadai dan bahkan cenderung missleading. Sebagai komoditas yang penggunaannya sebenarnya diatur oleh UUD, perdagangan air sudah sepatutnya hanya dikendalikan secara alami oleh permintaan, tanpa perlu menciptakan pasar-pasar baru. Hingga akhirnya masyarakat tidak dipermainkan, tidak merasa khawatir dengan air yang ada di rumah mereka, dan tentunya tidak harus membeli apa yang sebenarnya tidak mereka butuhkan.





Sabtu, September 11, 2010

Sst.. Environmentalist Tidak Ada yang Berjuang Untuk Alam


Mengapa mereka disebut environmentalist? Padahal, dasar dari segala dasar atas apa yang mereka lakukan bukan untuk menyelamatkan lingkungan kok. Apa yang mereka berjuangkan kan sebenarnya untuk menjamin eksistensi manusia di bumi ini.

Mereka terkesan sebagai penyelamat lingkungan karena mereka berusaha mempertahankan status quo bumi ini. Mempertahankan jumlah flora dan fauna pada tingkat yang aman. Mempertahankan keragaman spesies yang ada. Mempertahankan suhu bumi. Mempertahankan ketinggian air laut. Mempertahankan jumlah es di kutub utara. Ya, intinya mereka mempertahankan status quo di bumi ini yang kondisinya sudah sesuai dengan kebutuhan manusia.

Mungkin istilah yang tepat buat mereka memang bukan environmentalist (human-beingist mungkin lebih tepat). Mereka peduli ketika paus-paus dibantai, tapi tenang-tenang saja ketika sekerumunan nyamuk disemprot racun anti serangga. Ketika paus-paus, yang memang jumlahnya tinggal sedikit itu dibantai, maka keseimbangan alam akan terganggu dan cepat atau lambat akan mempengaruhi keberadaan manusia di muka bumi. Berbeda ketika nyamuk yang sudah over-populated itu dibantai, tidak ada keseimbangan yang terganggu. Kalaupun ada, setidaknya tidak akan mempengaruhi kehidupan manusia.

Lalu apakah environmentalist itu adalah sekumpulan hipokrit? Ya bukan itu konklusinya. Tidak ada yang salah ketika manusia ingin menyelamatkan hidupnya. Sama sekali tidak salah ketika manusia ingin mewariskan dunia yang indah ini kepada anak cucunya kelak.

Berita besarnya adalah bahwa bumi sebenarnya tidak perlu diselamatkan. Dia akan tetap ada meskipun oksigen tak lagi ada. Dia akan tetap ada meskipun semua fauna pun flora yang ada saat ini punah. Sialnya untuk kita, manusia, dunia akan tetap ada meskipun spesies kita tak lagi ada.

Manusialah yang perlu diselamatkan. Ketika setiap entitas manusia begitu sangat tergantung terhadap segala sesuatu yang terserak di seluruh penjuru dunia, maka manusialah yang paling terancam oleh perubahan sekecil apapun.

Sumber Gambar: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg5TQ5NDGStp_fah8LjblBHmVKaE2WfGe_0uxV-E_trfYDP1euE5x3Bh3Zol13zqhCS3bAwMG3njfglikqSJfnJlJnW84MPvL-AXY6iQEhwBtbRMzWt6myba7TXAEA7GVoYZUF-/s1600/901379_61707064.jpg

Selasa, Januari 05, 2010

menitipkan asa bumi pada film kartun dan komik

bagaimana sebuah tontonan yang ringan ternyata bisa memuat muatan politis yang amat besar tentu amat menarik. rasanya sedikit yang menyangka bahwa kehidupan Smurf yang imut-imut itu ternyata adalah sebuah alegori kehidupan masyarakat komunis.

sebenarnya bukan hanya smurf, banyak cerita anak-anak lain yang memiliki "pembonceng". tentunya hal ini sah-sah saja. sebuah cerita yang baik tentunya adalah cerita yang menyisipkan pesan moral di dalamnya, baik yang sifatnya bisa diterima secara umum (seperti cerita Doraemon yang mengajarkan adab dalam berkawan), sampai yang ditujukan untuk pengembangan satu ideologi tertentu seperti smurf dan masyarakat komunisnya.

beberapa cerita anak lain yang sarat dengan propaganda antara lain adalah Dora yang mengajarkan anak-anak Amerika Serikat sedari dini untuk memiliki rasa tenggang rasa terhadap warga keturunan latin, Si Unyil yang tema tiap episodenya selalu disesuaikan dengan kebijakan pemerintah yang sedang in di waktu tersebut, sampai upin-ipin yang merupakan propaganda Islam.

penanaman moral, paham, dan ideologi kepada anak sedari dini menjadi penting karena semua itu dapat terekam dalam area sub-conscious sang anak. pertarungan ideologi di masa anak-anak merupakan investasi jangka panjang yang buahnya baru akan terlihat 15-20 tahun kemudian. ketimbang berkampanye kepada orang dewasa, tentunya berkampanye kepada anak kecil akan lebih mudah diterima. anak kecil, dengan keterbatasan pengalamannya, tentu tidak memiliki banyak pembanding (benchmark) atas apa yang disodorkan kepada mereka hingga mereka menjadi tidak terlalu banyak membantah dan lebih mudah mengimani apa saja yang dikatakan padanya. tentunya semua itu hanya dapat berhasil apabila dilakukan dengan komunikasi yang tepat untuk anak kecil.


di tengah kefrustasian warga negara-negara dunia ketiga atas arogansi gaya hidup warga Amerika Serikat, yang menghambur-hamburkan sumber daya alam, sedangkan pemerintahnya tidak memiliki komitmen untuk mendorong warganya agar lebih berhemat, tentunya kampanye terhadap anak usia dini menjadi pilihan yang semakin realistis.

rasanya sulit sekali untuk mengajak Amerika Serikat berkomitmen untuk mengurangi emisi karbonnya. mereka menolak untuk meratifikasi Protokol Kyoto, dan di tiap pertemuan COP pun Amerika Serikat selalu menjadi peserta yang paling ngeyel. entah apa yang salah dengan Amerika Serikat sehingga mereka enggan sekali berkomitmen.

mungkin komitmen dari mereka tidak dapat kita capai sekarang, tapi komitmen itu masih bisa kita harapkan pada tahun-tahun mendatang. kembali ke cerita anak-anak, saya teringat dengan kartun Captain Planet yang pernah saya tonton di dekade 90-an. sebuah cerita superhero yang berusaha menyelamatkan bumi dari kerusakan alam seperli limbah cair, radioaktif, sampai pembalakan hutan.

rasanya Amerika Serikat butuh menayangkan kartun-kartun seperti ini kembali. sebuah kartun dengan misi khususnya yang mengajarkan anak untuk lebih menghargai bumi dan lebih bertanggung jawab atas segala perbuatannya.

Senin, Juni 30, 2008

ayo hemat listrik! supaya gak mati-mati listrik lagi!


m a t i i n
y a n g
g a k
p e r l u