Disusun sekenanya aja, bukan berdasarkan derajat kepentingan.
1. Keputusan diambil sepihak, bahkan oleh 1 orang. Idealnya ide pemindahan ibu kota melalui referendum atau setidaknya lewat konsultasi dengan DPR.
2. Lokasi terlalu jauh dari Jakarta. Hal ini akan mengakibatkan biaya sosial yang tinggi.
3. Membangun kota dari nol. Akan lebih murah jika ibu kota baru dibuat dengan mengembangkan kota yang sudah ada.
4. Mungkin tidak perlu pindah ibu kota, cukup pindah pusat pemerintahan. Pindah ibu kota punya konsekuensi yang tidak hanya ditanggung pemerintah, tapi juga instansi atau organisasi lain. Misal: (1) kedutaan besar negara lain harus ada di ibu kota. Otomatis mereka harus pindah. (2) Mungkin banyak organisasi yang di AD/ART-nya memuat bahwa kedudukan organisasinya harus ada di ibu kota, misal: PSSI di statutanya menyebutkan bahwa PSSI harus ada di ibu kota (bukan Jakarta). Mereka juga harus pindah.
5. Nama ibu kota "Nusantara" juga ditetapkan secara sepihak tanpa melalui konsultasi publik seperti poin nomor 1. Selama ini istilah "Nusantara" selalu digunakan sebagai sinonim dari "Indonesia" setelah sebelumnya direduksi dari konsep kenegaraan kerajaan Singosari. Menyebut ibu kota negara baru sebagai "Nusantara" adalah ahistoris, mengerdilkan, dan membingungkan. Sebagai usul, sebaiknya nama IKN tetap menggunakan nama wilayah setempat sebagai bentuk penghormatan kepada warga setempat.
6. Terlalu banyak proyek infrastruktur mercusuar. Cont: istana negara. Selain mahal, proyek seperti ini juga kurang fungsional. Penggambaran IKN selama ini lebih banyak dinarasikan sebagai suatu tempat yang "wah" dan menarik untuk dikunjungi. Lebih mirip membangun kota wisata ketimbang pusat pemerintahan.
Kebetulan saja kita lahir di Indonesia, jadi bisa pasang avatar "Aku Indonesia, Aku Pancasila". Coba kalo kita lahirnya di Nikaragua, mungkin gak kita teriak-teriak bilang "Aku Nikaragua, Aku Pancasila"?
Kita gak bisa milih lahir di mana, dari rahim siapa. Ke-Indonesia-an kita ini warisan. Pancasilanya juga warisan. Apakah pancasila ini paling benar? Mungkin gak sih ada yang lebih adiluhung dari Pancasila?
Gak semua orang di dunia ini mewarisi pancasila. Orang-orang di Nikaragua itu contohnya. Terus, patutkah kita mengasihani mereka karena tidak kenal pancasila?
Orang Amerika ga kenal pancasila. Negara mereka menjadi adidaya tanpa pancasila. Mereka liberal. Bertentangan dengan pancasila. Tapi adidaya.
Cina itu komunis. Bertentangan dengan pancasila. Tapi maju.
Setau saya, tidak ada negara maju yang kenal pancasila. Patutkah kita mengasihani mereka karena mereka tidak pancasila? Atau justru mereka yang harusnya mengasihani kita karena Negara Indonesia begini-begini saja.
HTI mau dibubarin (sudah dibubarin?) karena bertentangan dengan pancasila. HTI mau menegakkan khilafah berdasarkan syariat Islam.
Kenapa dilarang? Pancasila lebih hebat dari syariat Islam? Mungkin. Belum ada buktinya.
Tapi kalau ada negara Islam yang pernah mahsyur menjadi pusat peradaban dunia dengan para cendikianya, itu sudah ada buktinya. Haruskah kita mengasihani mereka yang mau menegakkan khilafah? atau justru kita yang harusnya dikasihani?
Bangsa kita, ngeliat Tatan masuk 9gag aja udah menggelinjang setengah mati. Liat ada bule belajar jadi dalang bangganya sampe ke bulan pulang-pergi 3 rit. Kata Om Joko Anwar, bangsa kita terlalu inferior. Orang Amerika ngeliat orang Indonesia pake celana jeans biasa aja. Kita, liat bule pake batik langsung mabuk kepayang.
Kalo kata pak presiden, negara lain sudah bicara mobil fantasi masa depan, spaceX, kita masih sibuk dengan urusan cantrang. Terlalu remeh.
Oke, udah mulai melenceng. Kembali ke pancasila. Kenapa kita gak bisa menerima orang yang berideologi lain. Boleh saja fanatik dengan satu ideologi, tapi jangan berlebihan juga. Yang pancasilais ga perlu ngelarang-larang yang Islamis. Yang Islamis, juga mestinya gak perlu ngelarang-larang yang komunis.
Yang nasionalis dipersekusi. Yang agamis dikriminalisasi. Yang komunis digebuk. Terus siapa yang menang?
Kita bisa hidup rukun dengan orang yang beda agama, tapi kenapa kita gak bisa hidup rukun dengan orang yang beda ideologi?
Kalau beragama itu urusan personal, harusnya berideologi juga. Yang dibutuhin tinggal saling pengertian, kurangi rasa curiga. Sekali lagi kita perlu belajar untuk bisa menerima perbedaan.
Semoga Indonesia bisa segera damai.
*) Tulisan ini dibuat untuk lucu-lucuan menanggapi tulisan berjudul Warisan buatan Afi Nihaya Faradisa yang sempat jadi viral dan kontroversi. Kalau ada yang nanggepin secara serius tulisan ini, ya itu masalah dia sendiri. =)
Seperti pernah saya ceritakan sebelumnya, guru agama saya pernah mencubit perut saya karena sholat tanpa peci. Padahal peci bukan syarat sah sholat. Peci juga tidak berfungsi menutupi aurat. Orang yang naik haji saja tidak berpenutup kepala. Lalu kenapa saya harus dicubit? Guru saya sudah mencampuradukkan antara kebudayaan dan ibadah.
Peci bukan bagian dari ibadah sholat. Memang peci kerap dipakai ketika orang sholat. Tapi sebenarnya kehadiran peci tidak lebih penting daripada ketupat yang selalu ambil bagian ketika Idul Fitri. Siapa saja bisa makan ketupat. Siapa pun bisa memakai peci. Bahkan ketika masa orde baru, peci menjadi semacam identitas nasional, bukan atribut keagamaan.
Derajat keimanan seseorang tidak bisa dinilai dari pakai peci atau tidak. Maka tidak mungkin juga mengetahui keyakinan seseorang hanya melalui pakai peci atau tidak. Memang peci identik dengan orang Islam, tapi bukan berarti orang bukan Islam tidak boleh memakai peci. Bukan berarti tiap orang yang memakai peci seketika itu juga tiba-tiba menjadi beragama Islam.
Peci hanya stereotipe. Sama saja dengan topi sinterklas. Sama juga dengan ketupat. Saya yakin penganut agama nasrani di awal-awal penyebarannya pun tidak berdakwah dengan cerita seorang kakek di kutub utara yang tiap akhir tahun berkeliling dunia dalam satu malam memberikan hadiah ke rumah-rumah melalui cerobong asap. Bahkan saya tidak yakin apa ada cerobong asap di rumah-rumah Yerusalem ketika itu. Sama tidak yakinnya apakah konsep kutub utara sudah bisa diterima dengan baik ketika itu. Lha, Galileo Galilei yang lahir belakangan dan mengenalkan konsep bumi itu bulat saja tidak langsung diterima pihak gereja.
Ini simbol salju, bukan simbol keagamaan
Diskusi soal bagaimana seharusnya sikap umat Islam dalam menyikapi natal selalu menjadi perbincangan tiap tahun. “Gak selesai-selesai,” kata orang.
Tentu saja tidak akan pernah selesai, lha wong natalnya memang datang tiap tahun. Jadi wajar saja kalau adu argumen soal bagaimana menyikapi natal oleh umat Islam akan terus dibahas tiap tahun. Tiap Ramadhan juga selalu yang dibahas adalah soal berpuasa agar menjadi orang bertaqwa, tapi tidak ada yang komentar, “temanya ini melulu.”
Semua orang boleh berpendapat, memberikan argumen, dan juga dalil. Yang tidak boleh adalah memaksakan pendapatnya. Jika ada orang Islam yang meyakini bahwa mengucapkan selamat natal itu tidak apa-apa, maka orang lain harus menghormatinya. Boleh mempengaruhinya, menasihatinya, dan mengajaknya diskusi. Tapi tidak perlu melarang-larang sambil membawa pentungan. Cukup diingatkan saja.
Di lain sisi, jika ada orang Islam yang meyakini memakai topi sinterklas itu haram, maka orang lain pun tidak punya hak memaksanya. Sekedar memintanya untuk mengenakan sih boleh saja. Tapi kalau yang bersangkutan menolak, ya jangan dipaksa-paksa, tidak usah disindir-sindir. Apalagi diancam potong gaji, diberi surat peringatan, sampai dipecat.
Lalu bagaimana dengan peringatan natal yang rencananya akan dihadiri oleh presiden –yang adalah muslim-. Harusnya tetap berpulang kepada keyakinan pribadi presiden itu sendiri. Kalau menurutnya tidak apa-apa baginya yang seorang muslim untuk datang ke acara tersebut, ya silahkan saja. Toh peringatan natal bukan bagian dari ibadah natal.
Teman-teman yang bukan Islam pun banyak yang datang ke acara buka puasa bersama atau halal bil halal. Tidak ada yang melarang. Lain halnya kalau orang tersebut ikut sholat Ied, bolehlah dikeluarkan dari shaf.
Namun jika presiden memiliki keyakinan bahwa menghadiri acara tersebut bertentangan dengan ajaran yang dia anut, maka keyakinan presiden ini harus dihormati juga. Tidak perlu merengek-rengek dengan berkata bahwa presiden adalah milik rakyat Indonesia, bukan hanya warga muslim Indonesia. Rasanya muslim manapun, mulai dari yang puritan semacam Habib Rizieq sampai yang paling liberal macam Ulil Abshar pun, tidak akan ambil pusing apakah Ahok akan mengucapkan selamat Idul Fitri atau tidak kepada warga DKI Jakarta.
Kalau ada orang yang menolak mengucapkan selamat hari raya kepada umat agama lain, tidak perlu juga dicap sebagai bigot. Selama orang-orang ini tidak mengganggu ibadah orang lain, tidak menutup paksa rumah ibadah agama lain, ya biarkan saja. Keyakinan itu urusan masing-masing. Beda agama jelas beda cara beribadahnya, namun yang satu keyakinan pun bisa jadi beda cara mengamalkan. Di mana pun letak perbedaannya, yang penting tetap saling menghormati.
Jadi ceritanya beberapa bulan yang lalu gua kembali iseng ikut kompetisi-kompetisian. Kompetisi kali ini adalah membuat video klip dari The Fly. Hadiah utamanya adalah dua unit telepon seluler, sedangkan hadiah hiburannya memorabilia dari personil The Fly.
Video klip berhasilkan diselesaikan sesuai dengan tenggat yang disyaratkan. Awalnya sih lumayan optimis menang. Gimana gak optimis, lha wong peserta yang masukin video klip cuma satu orang. hehehe... Eh ternyata, batas pengumpulan video klipnya diundur sampai dua kali. Dalam periode itu masuklah dua video klip dari peserta lain. Di akhir pengumuman jadilah video klip gua di urutan paling bontot.
Agak gondok juga sih gara-gara batas waktu pengumpulannya diundur dua kali. Kalo gak kan, gua sekarang lagi megang box ponsel baru. Tapi dibandingin dua video klip lainnya, emang video klip gua yang paling sedikit effort-nya sih. Jadi emang pantes di posisi ke-3. Heu...
Nah, salah satu memorabilia yang jadi hadiah ternyata adalah sun glasses warna biru. Dalam hati gua terkekeh karena punya pengalaman konyol dengan kacamata biru (mau nulis istilah "kacamata hitam" kayaknya kurang pas).
Gak jadi dapet Galaxy Champ. Hiks...
Jadi cerita kacamata biru ini terjadi di 2010. Gua masih jadi petani tebu di grup perusahaan tebu yang punya areal kebun paling luas se-Sumatera. Sebagai petani, tentu kerjaan sehari-hari adalah keliling-keliling kebun. Areal yang jadi tanggung jawab gua ketika itu sekitar 4.500 hektar, lumayan luas. Untuk operasional sehari-hari, kendaraan yang dipakai adalah sepeda motor. Beda dengan di jalan aspal di mana standar pelengkapnya adalah helm, di perkebunan ini tradisinya adalah memakai topi cap, slayer, dan kacamata hitam. Memakai helm di tengah cuaca panas dan berdebu membuat kepala mudah berkeringat dan sama sekali gak nyaman. Makanya orang lebih banyak yang milih pakai topi, slayer, dan kacamata sehingga kontak kulit dengan angin lebih banyak.
Sebagai nubie di bidang perkacamataan, gua milih beli sun glasses di abang-abang pinggir jalan yang harganya cuma Rp 15.000,-. Dari beberapa model yang ada di display, gua milih kacamata dengan film berwarna biru.
Sekedar saran, kalau mau beli sun glasses sebaiknya jangan yang dari abang-abang di pinggir jalan. Sun glasses yang baik adalah yang punya anti-UV. Ketika kita memakai sun glasses, pupil kita cenderung membesar karena cahaya yang masuk ke retina sedikit. Walaupun cahaya yang masuk sedikit, sinar ultra violet dari matahari yang masuk tetap banyak. Ketika pupil mata membesar, UV yang masuk tentu makin banyak. Di situlah perlunya sun glasses dengan anti-UV.
Pengalaman pertama gua make kacamata itu adalah dalam perjalanan dari rumah ke areal kebun yang jaraknya sekitar tiga jam perjalanan sepeda motor. Helm full face dengan visor dibuka ditambah sun glasses. Kecepatan motor biasanya di atas 60 km/ jam. Beberapa kali sempat pasang 110 km/ jam di atas aspal mulus Lintas Timur Sumatera.
Sepanjang perjalanan sebenarnya gua gak khawatir sama sekali dengan perubahan cuaca, langit selalu cerah. Sampai sekitar dua jam perjalanan tiba-tiba tetesan rintik hujan menerpa punggung tangan. Padahal langit masih cerah. Karena merasa aneh, akhirnya gua lepas kacamata murahan itu. Eng ing eng... ternyata mendung berat sudah menggantung. Gara-gara film kacamata yang warna biru, gua ngeliat langit masih biru, padahal kenyataannya sudah kelabu.
Kacamata itu akhirnya hilang. Entah diambil anak buah di meja kantor kontrol radio atau sekedar tertumpuk kertas-kertas laporan harian operasional truk yang tak kunjung diperiksa atasan.
Sekarang kacamata biru itu "kembali" lagi dengan cara yang tak diduga. Seolah Tuhan hendak berkata pakailah kacamata ini, maka kau akan melihat semua baik-baik saja. Langit masih biru, tidak kelabu.
Kenapa Indonesia gak maju-maju padahal banyak orang pinternya? Udah gitu, kenapa orang pinternya justru banyak yang kerja di luar negeri?
Mungkin gak, karena waktu kuliah banyak yang motokopi buku? Buku kan dilindungi hak cipta, gak boleh difotokopi tanpa ijin pemegang hak ciptanya.
Jadi aja ilmunya gak berkah. Gak memberi manfaat. Ilmunya dapet tapi gak bisa dipraktekin. Udah gitu, kena karma juga. Banyak orang pinter Indonesia yang malah kerja di luar negeri. Negaranya si pengarang-pengarang buku yang difotokopi itu.
"Pohon kebaikan berbuah baik, begitu pun bibit kejahatan yang kau bawa"Sabda Alam // Cupumanik
Moral :
beli buku yang asli, jangan bajakan apalagi fotokopian.
rajin nyatet waktu di kelas atau perpustakaan.
motokopi slide dari dosen saja, jangan buku yang difotokopi. jangan lupa minta ijin ke dosennya dulu untuk digandakan slide-nya.
Bukan kemurahan maaf dari kita, orang Indonesia kebanyakan, yang menjadi penting. Kemurahan maaf dari mereka yang menjadi korban langsungnyalah yang harusnya menjadi pertimbangan utama. Sesuatu yang mungkin, maaf-maaf saja, tidak akan pernah ditemukan harga jadinya.
Maaf dari mereka yang pernah terkencing-kencing ketika orang tuanya ditarik paksa karena cap komunis. Maaf dari istri orang-orang seperti Wiji Tukul. Juga maaf dari orang tua seperti Herman Hendrawan yang hilang tak tentu rimba hingga saat ini.
Empati kita, yang orang Indonesia kebanyakan, rasanya tidak akan pernah bisa memahami kepiluan yang mereka rasakan. Ini bukan konsensus di mana suara terbanyak yang akan menentukan arah. Tidak adil jika suara kita, yang hanya menikmati swasembada pangan dan kesiapan menuju era tinggal landas, harus diberi harga yang sama dengan suara mereka yang telah didesain dalam keadaan rugi.
Mungkin sulit untuk meminta keikhlasan mereka di generasi ini. Maka hanya waktu yang bisa menyembuhkan. Hanya waktu yang bisa mereduksi kemarahan di tiap kelanjutan generasi kita. Sesuatu yang mungkin tidak akan tercapai dalam dekade ini. Sebuah proses panjang yang sadar tidak sadar telah kita mulai. Sampai waktunya nanti kita bisa dengan ikhlas mengatakan,"Terima kasih, pahlawan."
Terkadang, suatu bahasan bisa menjadi tidak jelas dan bias jika dipaparkan melalui sekedar tulisan dan gambar. Beberapa orang menganggap karena kapasitas media tulisan dan gambar tidak cukup untuk menanggung beban bahasan tersebut - padahal ada ungkapan satu gambar dapat menjelaskan seribu kata. Untuk lebih memperjelas sebuah bahasan, maka terkadang dibutuhkan diskusi sehingga terjadi dialog dua arah dari pendonor ke orang yang hendak diberi penjelasan olehnya.
Tulisan saya kali ini pun mungkin akan bernasib demikian, tidak jelas dan bias. Akan tetapi, saya ingin menantang diri saya sendiri untuk bisa menjelaskan sebuah ide yang tidak umum dipahami manusia kebanyakan melalui media yang cenderung satu arah, blog.
Substansi dari tulisan ini sendiri bisa jadi dinilai penting, jika penyampaian saya tepat. Tetapi bisa juga hal ini hanya terlihat sebagai ide konyol yang sebaiknya diacuhkan saja. Mari kita mulai.
Seperti yang kita ketahui, penanggalan yang umum digunakan di dunia adalah penanggalan Gregorian yang mendasarkan perhitungannya pada pergerakan matahari. Dalam perkembangannya, sistem penanggalan ini telah beberapa kali mengalami revisi. Salah satu revisi yang terkenal adalah penambahan satu hari dalam salah satu tahun pada siklus empat tahun. Tahun yang kebagian jatah hari lebih banyak ini kemudian lebih dikenal dengan nama tahun kabisat.
Islam, sebagai agama langitan, tidak menggunakan penanggalan Gregorian, yang penuh revisi dan intervensi manusia, dalam menetapkan hari-hari rayanya. Penanggalan yang digunakan adalah penanggalan Hijriah yang mendasarkan perhitungannya pada pergerakan bulan. Berbeda dengan penanggalan Gregorian, penanggalan Hijriah sampai saat ini masih steril dari intervensi manusia. Salah satu konsekuensinya adalah kesulitan dalam membuat kalender satu tahun penuh di awal tahun. Maka tidak heran jika kemudian banyak umat Islam yang berselisih dalam menentukan hari raya Idul Fitri karena perbedaan hasil metode Hisab dan Ruqyat.
Saya tidak tertarik untuk membahas perselisihan tersebut karena sudah banyak yang memberikan pendapatnya. Namun jika anda tertarik, saya merekomendasikan satu artikel menarik mengenai penentuan hari Idul Fitri yang bisa dilihat di sini.
Permasalahan perbedaan waktu di dalam menentukan waktu-waktu ibadah di dalam Islam sebenarnya bisa menjadi kajian yang menarik. Kebetulan beberapa tahun yang lalu saya tiba-tiba memikirkan,"Daerah pertama di dunia yang memulai hari itu sebenarnya di mana sih?"
Akhirnya saya mendapatkan jawaban dari pertanyaan tersebut. Batas penanggalan dunia ada di garis bujur 180°. Garis batas ini adalah garis maya yang di beberapa bagian meliuk-liuk untuk disesuaikan dengan garis batas negara yang bersangkutan. Beberapa revisi untuk garis ini terjadi pada perbatasan Rusia - Amerika Serikat di Selat Bering dan di perbatasan Kiribati - Amerika Serikat. Garis batas penanggalan yang jelas dapat anda lihat dengan mengklik gambar di bawah ini.
Garis Batas Penanggalan Hari. Klik untuk memperbesar Gambar. (Sumber: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/6/61/International_Date_Line.png)
Garis maya hasil kesepakatan orang-orang inilah yang kemudian menjadi batas hari. Seberapa signifikan garis tersebut? Ferdinand Magellan pernah dibuat bingung ketika mengelilingi bumi ke arah barat karena ketika dia sampai di titik awal keberangkatannya, ternyata dia telat satu hari dibandingkan jurnal pelayaran yang dia buat. Fenomena unik ini juga diracik secara menarik oleh Jules Verne melalui novel cerdasnya, Around The World in 80 Days.
Jika anda masih bingung dengan fenomena apa yang saya maksud, maka ijinkanlah saya untuk memberi contoh yang saya ambil dari artikel Wikipedia Indonesia berikut ini:
Tonga dan Samoa adalah dua negara yang berdekatan. Jarak tempuh dua negara ini dengan menggunakan pesawat hanyalah dua jam. Akan tetapi Tonga berada di sebelah barat garis batas penanggalan sedangkan Samoa berada di sebelah timurnya. Artinya, ketika di Tonga adalah hari Selasa, maka di Samoa adalah hari Senin. Jika seseorang naik penerbangan dari Tonga pada hari selasa pukul 12.00 siang hari, maka ia akan sampai di Samoa pada pukul 14.00. Tetapi ia tiba di Samoa bukan pada hari Selasa, melainkan hari Senin, atau Ia berjalan mundur satu hari.
Bayangkan apa yang terjadi bila saya, yang seorang muslim, berangkat dari Tonga selepas mengerjakan sholat Jumat menuju Samoa. Maka saya akan tiba di Samoa pada hari Kamis dan artinya dalam waktu kurang dari 24 jam berikutnya, saya memiliki kewajiban untuk menunaikan Sholat Jumat kembali. Saya mengerjakan sholat Jumat di saat, beberapa mil di sebelah barat saya sudah bukan hari Jumat lagi, melainkan Sabtu.
Kemudian yang mengusik pertanyaan saya adalah, apakah boleh umat Islam menggunakan batas penanggalan yang sama dengan kebanyakan orang di muka bumi ini, yaitu mendasarkan penggantian hari pada sebuah garis maya yang ditetapkan melalui konvensi? Jika tidak, lantas di manakah garis batas penanggalan menurut versi Islam?
Orang yang tidak membayar pajak bisa dikenai kurungan penjara karena perbuatannya melanggar hukum. Orang yang tidak memiliki SIM bisa ditilang polisi lalu lintas di jalan. Alasannya pun sama, melanggar hukum.
Meskipun bersalah di mata hukum, bukan berarti orang-orang tersebut berdosa. Berdosa dan bersalah adalah dua hal yang berbeda, meskipun seringkali terjadi irisan dari dua himpunan tersebut, bersalah sekaligus berdosa.
Kata "bersalah" akan merujuk pada hukum yang dipakai sebagai kesepakatan bersama. Sedangkan "berdosa" merujuk pada aturan agama. Rasanya tidak ada satupun agama yang menyebutkan kewajiban untuk membayar pajak dan keharusan memiliki SIM untuk orang yang membawa kendaraan. Maka ada perbedaan sumber aturan yang dipakai untuk memutuskan status bersalah dan berdosa.
Hal ini terjadi sebagai konsekuensi atas penerapan hukum yang dibuat dengan konsensus. Suka tidak suka, ini yang harus diterima. Apabila pemerintah kemudian membuat peraturan yang menyatakan bahwa nikah siri dilarang, maka orang yang melakukan nikah siri tersebut akan memiliki status yang sama dengan pengemplang pajak dan pengemudi kendaraan yang tidak memiliki SIM, bersalah tapi tidak berdosa.
Memilih pakaian tentunya selalu memperhitungkan dua aspek, fungsi dan estetika. Pakaian yang dapat melindungi tubuh dan nyaman dikenakan harusnya menjadi pertimbangan pertama. Baru kemudian indah tidaknya pakaian tersebut dilihat yang menjadi perhitungan.
Anomali terjadi pada dasi dan selendang. Pada hakikatnya, dasi dan selendang sama sekali tidak memiliki fungsi. Kedua jenis pakaian ini digunakan hanya untuk kepentingan estetika belaka. Mungkin beberapa orang ada yang memfungsikan ujung dasi atau selendang untuk mengelap mulut sehabis makan. Tapi tentu harusnya bukan itu fungsi kedua benda tersebut.
Jika dilihat dari sisi kepentingannya yang hanya untuk memenuhi syarat estetika, maka dasi dan selendang lebih tepat dikatakan sebagai aksesoris, bukan sebagai pakaian. Namun demikian, beberapa orang memposisikan benda ini, khususnya dasi, sebagai batas kepatutat pakaian untuk dikategorikan sebagai pakaian resmi. Beberapa kantor menghendaki karyawannya selalu berdasi. Di pesta-pesta yang sifatnya resmi pun demikian, yang pria berdasi sementara yang perempuan berselendang melengkapi kebayanya.
Maka jadilah dasi dan selendang berada pada status abu-abu. Di antara pakaian dan aksesoris. Tidak bisa disebut pakaian karena tidak memiliki fungsi. Tidak pula bisa dikatakan sebagai sekedar aksesoris karena kehadirannya menjadi syarat formal tidaknya sebuah pakaian.
ruang besar atau kecil, bangunan angker atau berbunga-bunga, patung atau kaligrafi - semuanya kemeriahan panca indera untuk memuliakan Tuhan.
(Goenawan Muhammad)
sebenarnya tidak ada masalah dengan dilarangnya menara masjid di Swiss. toh, tanpa menara, ummat Islam masih bisa melaksanakan ibadahnya tanpa mengurangi sedikitpun maknanya. Menara hanyalah perlambang yang tidak esensial - berbeda halnya jika yang dilarang adalah pembangunan masjid atau pemakaian jilbab.
meskipun demikian, jangan salahkan juga jika ummat Islam bereaksi keras terhadap hal yang terlihat sepele ini. permasalahan yang ada bukan keberadaan materialistik dari menara masjid, akan tetapi lebih kepada apa yang mendasari pelarangan ini.
pelarangan menara masjid di swiss diputuskan melalui referendum rakyatnya dengan hasil lebih dari 57% warga swiss menolak pendirian masjid dengan kemenangan di 22 dari 26 propinsi yang ada di swiss. dari sini kita sudah bisa melihat bahwa ada ketakutan rakyat swiss terhadap islam.
jika ditarik lebih lebar, ketakutan akan islam tidak hanya terjadi di swiss, akan tetapi sudah mulai menginfeksi keseluruhan eropa. demonstrasi anti islam garis keras yang berubah menjadi demonstrasi anti islam (saja) di inggris, pelarangan jilbab di sekolah-sekolah umum perancis, pembuatan kartun yang menghina nabi Muhammad SAW di Denmark, dan kontroversi pendirian masjid terbesar se-eropa di jerman telah menjadi pembuka islamophobia sebelum keputusan swiss melarang pembangunan menara masjid.
ketakutan ini sendiri memang bukan tanpa alasan. adanya kelompok islam garis keras yang kerap menebar teror dengan sasaran orang-orang barat (amerika serikat dan eropa) harus kita akui dengan sesadar-sadarnya. maka dari itu mengetahui akar permasalahan menjadi penting, karena dengan demikian kita bisa mendapatkan panduan tepat dalam menentukan solusi yang diambil.
penolakan atas kebijakan yang sangat diskriminatif memang sangat diperlukan. dengan langkah apa hal itu dilakukan, inilah yang harus dipilih dengan cermat. melakukan demonstrasi dengan poster-poster yang provokatif rasanya bukanlah pilihan yang tepat. apalagi jika sampai melakukan perusakan yang ujung-ujungnya hanya menimbulkan rasa tidak nyaman. hal ini sama saja dengan menebalkan anggapan bahwa islam memang agama dengan ummat yang brutal.
komunikasi dunia barat dengan islam yang damai harus lebih sering dijalin. sudah saatnya islam membuka dirinya kepada dunia. mengundang masuk - bukan hanya mempersilahkan, tapi mengundang - siapa saja dengan senyum terindah ke lingkungan kita. izinkanlah mereka satu kesempatan untuk memahami apa yang kita rasakan. memahami bahwa islam sebagai (mungkin) satu-satunya agama yang tidak hanya mengatur urusan akherat saja.
semua pemaparan di atas sebenarnya hanyalah lagu lama yang kembali dimainkan dengan aransemen berbeda. sebuah lagu usang yang mulai membosankan mengenai bagaimana cara menyatukan dua dunia. akan tetapi lagu ini akan terus berkumandang selama paparan ini hanya berhenti sebagai sekadar pendaran layar monitor atau sapuan tinta di atas kertas.
how long must we sing this song? (Sunday, bloody sunday - U2)
seorang pria lari ke arah gue. di belakangnya ada beberapa orang lain yang juga ikutan lari. semakin deket ke gue, jarak antara orang di depan dengan orang-orang di belakangnya semakin deket. dan ketika jarak si pria itu tinggal sekitar dua langkah dari gue, tiba-tiba dia ditinju dari belakang oleh orang-orang yang lari di belakangnya. tauknya orang itu adalah pengutil yang ketauan lagi mau maling di mini market di sekitar situ. gue yang cuma berjarak dua langkah langsung berusaha untuk ngelindungin si maling dari hajaran massa. gue bilang, "udah pak! jangan digebukin! dibawa ke kantor polisi aja!" orang-orang yang tadinya asyik ngegebukin emang berenti mukulin, tapi bukannya dibawa ke kantor polisi, si pengutil itu justru dibawa ke dalem kantor lurah. di dalem kantor lurah itu dia digebukin lagi deh.
apa si pengutil bisa disalahin gitu aja, terus dihakimin kayak begitu? gue rasa jawabannya nggak. bisa aja kalo si pengutil itu ngelakuin kegiatan ngutil karena terpaksa. bisa aja kalo dulunya dia punya usaha warung kaki lima kecil-kecilan, tapi terus gak bisa dilanjutin lagi karena tempat usahanya digusur. digusur karena bakal dibangun hypermarket yang bisa jualan beribu-ribu kali lebih besar kapasitasnya dibandingin dia. keadaanlah yang ngebuat dia harus ngutil ke minimarket. minimarket yang notabene adalah makhluk dari spesies yang sama dengan hypermarket. hanya ukuranlah yang membedakannya. mengutil ke minimarket buat si pengutil berarti dua hal. yang pertama adalah untuk menyambung remah di mulut dia dan keluarganya. yang kedua adalah sebagai bentuk pengambilan haknya yang telah dirampas oleh sebuah sistem yang menaungi makmurnya pengusaha berbagai ukuran, mulai dari hypermarket sampai minimarket.
mungkin sama juga seperti HAMAS yang ngerusak gencatan senjata dengan nembakin roket-roket ke arah Israel? Palestina yang wilayahnya semakin hari semakin menciut merasa gerah. hak mereka yang secara sistematis terkebiri membuat mereka melakukan perlawanan. ketika "warung kaki lima" palestina sedikit-sedikit dikonversi menjadi "hypermarket" Israel, maka HAMAS yang mewakili Palestina merasa perlu untuk "mengutil" dari daerah yang harusnya menjadi haknya.
lalu apa yang dilakukan Israel? merasa kedaulatannya terganggu, tentunya mereka akan berusaha menangkap setiap pelaku penembak roket. dibantu dengan dukungan sekutu-sekutunya "pengutil-pengutil" itu dikejar. setelah tertangkap, bukannya di bawa ke "polisi" yang bernama mahkamah internasional, mereka merasa lebih baik kalau masalah ini mereka selesaikan sendiri. "gebukin rame-rame" pake serangan udara, darat, bom fosfor, dan semua yang menakutkan lainnya.
di tengah pemberitaan mengenai masalah timur-tengah yang sama sekali gak berimbang saat ini, gue rasa sangat perlu bagi kita untuk memahami keadaan kedua belah pihak. perlu banget buat kita berempati gak cuma ke warga palestina, tapi juga berempati ke pihak Israel. tak sudikah anda ketika membaca tulisan saya untuk berempati ke Israel? merasa terlecehkankah anda? apakah penilaian anda sudah terganggu dengan segala macam stereotipe yang selama ini tercetak melalui sejarah, berita, atau bahkan ayat-ayat di kitab suci yang telah diartikan sedemikian rupa untuk membakar api permusuhan?
gue rasa analogi pengutil dan warga yang menghakimi sendiri si pengutil tadi sudah mendekati kenyataan yang ada di timur tengah. siapakah yang salah? apakah pengutil atau warga? dua-duanya bisa disalahkan. dan di saat yang sama, tindakan keduanya juga bisa dimaklumi.
tulisan ini nggak ditujukan untuk membenarkan tindakan Israel, tapi gak juga untuk ngedukung HAMAS untuk ngerusak kesepakatan damai. bahkan sebenernya gue gak bikin tulisan ini untuk ngebahas masalah timur tengah. hahaha...
gue justru jadi tertarik dengan fakta bahwa, di tengah kecaman rakyat indonesia atas aksi biadab Israel, rakyat indonesia pun masih ada yang sama kejemnya dengan israel. maen hakim sendiri, gebukin maling dengan berlebihan. sudah kehilangan nuranikah dunia ini? apakah orang salah nggak bisa dibuat sadar dengan cara yang santun dan damai? saya cuma ingin ngungkap satu fakta mengerikan dan menyedihkan, bahwa masih ada saudara sebangsa kita ini, dan jumlahnya juga gak sedikit, yang ternyata gak lebih baik dari Israel.
secara sederhana, rahasia dapat dijabarkan sebagai kebenaran yang disembunyikan. beberapa rahasia ditutupi dengan kebohongan, sementara yang lainnya berusaha dihilangkan dari ingatan orang lain.
kalau kita menyimak perdebatan hollocaust, bisa jadi ada sebuah rahasia yang ditutupi dengan kebohongan di balik cerita itu. mungkin saja ada beberapa pihak yang diuntungkan dengan cerita ini, sehingga kebohonganlah yang kini dianggap publik sebagai kebenaran.
ada juga cerita lain, satu keluarga yang bahagia. sepasang suami-istri dengan dua anak mereka. hidup mereka damai dan tentram, persis seperti yang diidamkan oleh banyak orang. tapi bisa jadi sang suami menyimpan cerita kelam di masa lalunya yang dia tidak ingin diketahui keluarganya. sebuah aib yang bisa membuat keluarganya sedih dan menghancurkan hidup mereka yang sudah mapan. dengan sekuat tenaga sang suami berusaha agar keluarganya berada jauh dari akses terhadap informasi masa lalu dia.
rahasia menjadi rahasia hanya karena dua hal. rahasia menjadi rahasia karena dapat menguntungkan seseorang atau rahasia menjadi rahasia karena dapat merugikan seseorang. mungkin memang benar, tidak semua kebenaran harus diungkap. beberapa kebenaran mungkin memang lebih baik disembunyikan.
maka ampunilah saya dan orang-orang seperti saya yang terlalu haus akan segala macam informasi kebenaran. sekarang saya harus menanggung beban yang cukup besar karena dengan lancangnya telah mengetahui kebenaran yang sebaiknya tidak diketahui oleh banyak orang. doakan saja semoga saya bisa membawa rahasia ini sampai ke akhir hayat saya. sebuah rahasia kecil di pundak saya. rahasia kecil saja, sayangnya, rahasia itu memiliki densitas yang sangat besar.
alkisah ketika Rasulullah sedang duduk, ada seorang pria yang lari ketakutan lewat di depan Rasulullah. tak lama kemudian ada seseorang lain yang ternyata sedang mengejar dan berniat untuk membunuh pria tadi. orang itu bertanya kepada Rasulullah, "apakah engkau melihat ada seseorang yang berlari ketakutan lewat jalan ini?" rasulullah pun bangkit dari duduknya dan berkata,"selama saya berdiri, saya tidak melihat siapapun yang lewat jalan ini."
berapa umur anda? pernah gak lo ngerayain ulang tahun lo pake kue tart yang "coklat banget", terus di atasnya dihiasin lilin yang jumlahnya sama dengan umur lo?
gue sendiri sebenernya tipe orang yang gak begitu suka dengan pesta-pesta semacem ini. dan yang lebih gak gue ngerti kenapa harus ada seremonial tiup lilin. apa makna yang ada di dalemnya?
nah untuk yang satu ini gue punya sedikit filosofi ngawur yang mungkin bisa ngebuat seremonial gak jelas ini jadi sedikit punya makna. kita anggep aja lilin itu sebagai diri kita. semakin hari seiring dengan bertambahnya umur kita, rupa kita akan semakin buruk, sama seperti yang lilin yang berpijar di atas kue itu. semakin lama dia menyala maka akan semakin gak karuan bentuknya. itulah hidup, waktu akan terus menggerogoti rupa kita.
apa sampai di situ aja? rasanya nggak. kenapa lilin yang dilambangkan sebagai diri kita? jawabannya adalah karena fungsinya. di dalam hidup, kita dituntut untuk selalu memberi manfaat kepada sekitar kita. sama seperti lilin yang menerangi sekitarnya.
sampai kapan kita harus menerangi sekitar kita? tentunya sampai akhir hayat kita. sampai cahaya lilin itu ditiup angin, lalu mati.
nb: selamat ulang tahun untuk yang berulang tahun.
era pangan murah sudah berakhir. sebuah majalah pertanian besar di negeri ini menuliskan kata itu besar-besar di kertasnya. sadar atau tidak, memang harga pangan yang kita nikmati selama ini amat murah. bandingkan jika kita harus makan di banyak negara lain, apalagi di negara miskin dengan warga yang dianngap sebagai warga dunia kelas III.
saya rasa semua dari kita sudah sadar kalau yang namanya petani adalah orang-orang yang selalu saja terpinggirkan, padahal mereka punya peranan paling vital dalam penyediaan pangan kita semua. selama ini kita bisa menikmati makanan yang enak, bergizi, dan murah di atas kesengsaraan petani dan keluarganya. tidakkah ada sedikit rasa bersalah di diri kita ketika kita tidak menghabiskan makanan kita? kita sudah memaksa petani-petani itu untuk menjual hasil jerih payah mereka dengan harga yang membuat mereka tidak berkutik hanya untuk dibuang-buang.
ketika harga beras tiba-tiba melonjak tinggi kita selalu saja protes merengek-rengek. dengan mengatasnamakan rakyat kecil, kita selalu menuntut harga pangan yang murah. tetapi sekali lagi, kita terlampau sering menyia-nyiakan harga yang murah itu.
dan kini, era pangan murah sudah berakhir. bukan karena petani sudah berhasil mendapatkan posisi tawar yang lebih baik, tapi karena memang adanya krisis pangan global.
masih tegakah kita membuang-buang makanan kita begitu saja?
beberapa kasus kekerasan akhir-akhir ini lagi jadi pembicaraan di media. Genk Nero, bentrokan mahasiswa, sebut aja! terus terang gue bingung, apa dasar doktrin yang selalu dicekokin ke anak SD yang bilang kalo yang namanya orang indonesia itu ramah-ramah, berbudi pekerti yang luhur, dan seterusnya dan seterusnya. apakah kita udah mulai kehilangan sifat asli kita? atau sifat asli kita yang katanya bagus-bagus itu sebenernya gak pernah ada?
gue rasa opsi kedua adalah opsi yang terlalu pesimis. gue yakin bangsa kita adalah bangsa yang santun, dan bla bla bla... tapi masalahnya, fakta telah berbicara sebaliknya. artinya mungkin telah ada kesalahan pemahaman dalam menyikapi hidup ini sehingga kekerasan menjadi pilihan yang semakin diprioritaskan.
orang-orang yang lebih senior sering bilang ke gue kalo yang namanya hidup itu keras. saling jegal, saling sikut, makan temen itu adalah hal biasa. dan kehidupan gue sekarang ini (yang sangat identik dengan kehidupan mahasiswa) sama sekali belum ada apa-apanya dibandingan kehidupan di dunia nyata. maka dari itu, kemudian ada orang-orang yang sudah merasakan pahitnya kehidupan dunia nyata merasa perlu untuk "mengedukasi" adik-adiknya yang masih mahasiswa guna mempersiapkan mereka menghadapi dunia nyata. pikiran-pikiran inilah yang melahirkan penggemblengan ala ospek yang sarat dengan plonco-ploncoan.
apakah dunia emang keras? gue rasa jawabannya relatif. dunia akan jadi keras ketika orang-orang yang tinggal di dalemnya merasa harus menjadi keras. hidup juga bisa jadi lembek kalo orang-orang yang tinggal di dalemnya ngerasa hidup dengan santai-santai aja gak apa-apa. orang-orang yang merasa perlu mempersiapkan penerusnya untuk dicemplungkan ke dunia yang keras adalah orang-orang yang memandang bahwa kehidupan adalah sebuah kondisi yang terberikan. padahal setiap individu manusia punya kemampuan untuk merubah kehidupan.
kehidupan manusia saat ini mungkin memang keras, bahkan mungkin terlampau keras. seandainya ada lebih banyak lagi orang yang mau berfikir bahwa kehidupan akan lebih baik kalau kita perlunak, rasanya tidak perlu ada korban yang jatuh di IPDN, STPDN, maupun STIP.
beberapa tahun yang lalu gue pernah baca satu artikel di majalah islami (boleh ketawa kalo ada yang gak percaya gue baca majalah begituan). cerita itu kurang lebih begini:
seorang pria yang lagi naek motor tiba-tiba dihentiin sama polisi. pemeriksaan rutin. pak polisi minta surat-surat kelengkapan motor itu ke si pria berikut izin mengemudinya. tapi taunya si pria ini gak bisa nunjukin SIM dia. pak polisi nanya ke mana SIMnya? si pria jawab, "saya gak punya, pak."
ujung bibir pak polisi semakin mendekati kuping, sumringah karena bakal dapet korban. dia bilang," kalo gak punya SIM, bapak gak boleh bawa motor. bapak tau itu kan?" si bapak ngangguk-ngangguk. pak polisi ngelanjutin lagi,"kalo tau, terus kenapa nekad tetep bawa motor?"
si pria kemudian ngejawab, "karena saya butuh bawa motor, pak. kantor saya jauh dari rumah. saya bukannya gak mau bikin SIM, tapi temen-temen bapak yang ngurusin SIM itu selalu aja mintain duit di luar ketentuan yang ada. saya gak mau mendukung kegiatan korupsi, makanya saya nggak selesai-selesai bikin SIM-nya." ngedenger alesan si pria ini, pak polisi jadi mikir dan sedikit malu. akhirnya singkat kata, si pria ini dilepasin sama si polisi untuk kembali berkendara tanpa SIM.
konon katanya, cerita ini bener adanya alias bener-bener pernah kejadian. selesai baca artikel itu, di dalem hati gue semept muncul perasaan nggak enak. perasaan itu cuman muncul sesaat aja, abis itu ilang begitu aja.
sampai tanggal 26 juni 2008... tiba-tiba sebuah kejadian membuka lagi onak kecil yang sempet timbul beberapa tahun lalu itu. (beberapa orang yang ngaku-ngaku) mahasiswa tiba-tiba ngerobohin pager DPR, ngebakar mobil plat merah, dan ngebuat kerusakaan di jalan tol dalem kota jakarta. pada saat salah satu pentolan mereka ditanyain kenapa mereka berbuat seperti itu, mereka bilang, mereka mengatasnamakan rakyat. perobohan pager DPR melambangkan keinginan mereka kepada para wakil rakyat untuk lebih mendengar suara rakyat. mobil plat merah dibakar karena mobil tersebut melambangkan pemerintah yang selalu menyengsarakan rakyat sebuah alat yang dibeli oleh uang rakyat melalui pajak, tetapi kemudian digunakan untu menyerang rakyat.
sinting? mungkin juga. tapi yang jelas, dari dua cerita yang gue kemukain barusan, gue nangkep satu kecenderungan: ketika korupsi sudah menjadi gaya hidup, maka perbuatan anarkis adalah reaksi yang paling umum mengemuka. membakar mobil adalah perbuatan anarkis. merobohkan pagar juga perbuatan anarkis. ngerusak kerusakan di jalan tol pun perbuatan anarkis. tapi apa naek motor tanpa SIM itu adalah perbuatan anarkis? ya! anarki kan artinya keadaan ketika tidak ada aturan. semua perbuatan di atas kan menafikan aturan yang ada. walopun pada konsep awalnya kekerasan nggak termasuk di dalam agenda anarki.
semua perbuatan di atas nggak bisa dibenarkan secara hukum, dan mereka telah memilih cara perlawanan dengan menantang langsung peraturan. setuju tidak setuju, gue nggak dalem kapasitas untuk menghakimi. tapi yang jelas gue bakal lebih milih cara perlawanan yang laen, karena gue percaya bahwa konflik akan selalu memakan collateral damage.
beberapa minggu yang lalu, gue dikejutkan dengan kehadiran seseorang di depan pintu rumah gue. ada satu temen gue yang pernah sama-sama berjuang di sd dan smp yang sama, tau-tau nongol di depan rumah gue di bogor. sebagai informasi, dia kuliah di jogja, dan kemaren dia lagi maen ke rumah temen kampusnya yang ternyata adalah tetangga gue di bogor. dari lampung, mencar ke jogja dan bogor, terus malah bisa ketemuan lagi.... tergantung siapa yang berkehendak, kan?
apa sih arti temen? gue sama dia yang tau2 nongol di depan rumah gue dulu itu dulu gak pernah akrab. bukan karena kita punya sentimen atas diri yang laen, tapi emang kebetulan aja kita nggak pernah punya kesamaan yang mempertemukan kita dalam satu komunitas selain rekan sejawat satu kelas. (eh, kayaknya bahasa gue agak susah dimengerti ya? gue biasain deh, biar nggak bingung... akhir-akhir ini sering diprotes lagi sih...)
walopun kita nggak pernah akrab, tapi somehow, gue seneng banget waktu ketemu dia. kayaknya asik aja. padahal di sini juga gue nggak kekurangan temen. tapi perasaan itu...gimana ya jelasinnya... susah.. tapi SUMPAH!!!! perasaan itu bukan CINTA!!! :P
beralih ke hal lain. ada satu temen gue... *berfikir...* yang terpaksa berurusan sama yang berwajib. dia emang ngelakuin kesalahan, tapi terlepas dari itu, gue nggak pernah ngerasa keganggu sama dia. temen gue ini sebenernya adalah salah satu orang yang sama dengan gue berjuang untuk sesuatu yang sama-sama ingin kita raih.
ketika temen ini ketauan bermasalah, gue baru bisa ngeliat kalo diantara temen-temen gue rupanya banyak yang hipokrit. mulai banyak ungkapan, "aduh... jangan sampe aja nama **N kebawa-bawa." ato, "dari dulu sebenernya gue malu punya temen kayak dia...".
herannya, waktuu dia belum bermasalah nggak pernah ada omongan kayak begitu. kenapa di saat dia jatoh, harus ditambah lagi dengan omongan yang semakin ngejatohin dia. omongan-omongan yang seolah mendeklarasikan: sori, kita gak bisa bantu. lo urus sendiri, dan lo jangan bawa-bawa nama kita.
gue yakin, bukan cuma gue yang kepikiran,"yuk, kita tengokin di tahanan," pastiyang laen ada juga yang prihatin. tapi kenapa yang justru berputar haluan juga mesti sebanyak itu...
di mana gue bisa nyari temen? yang mau ikut senyum ketika gue seneng, dan ngasih tangannya ketika gue jatoh?
musik rock gak pernah mati. rock selalu berevolusi dari waktu ke waktu. kalo mbah-mbah ngomong rock, maka rock yang dimaksud bakalan beda dengan apa yang terbayang oleh angkatan bapak-ibu kita. penafsiran rock dari kedua zaman itu pun bakalan beda dengan apa yang dimaksud dengan rock jaman kita-kita. dedengkot rock emang beatles, tapi sebenernya gue lebih sepakat kalo led zeppelin-lah yang meletakkan dasar-dasar rock n' roll secara kuat.
musik rock adalah musik pemberontakan dan poros utama dari perkembangan aliran musik mainstream saat ini. dari rock kemudian lahir punk dengan dedengkot mereka si sex pistol jahanam itu. dari punk kemudian bergeser lagi jadi grunge yang diaku-akuin asalnya dari seattle. aliran musik yang make embel-embel rock juga gak sedikit, progresif rock yang dimotorin the who sama genesis sempet jadi pedoman musik "pintar" dunia di era 70 sampe 80-an. glam rock juga salah satu cabang rock, walo menurut gue glam rock lebih ke arah attitude si artis ketimbang roh dari musik yang mereka bawain. garage rock yang akhir-akhir ini naek daon lagi menurut gue adalah jenis rock yang paling sederhana sekaligus paling nendang. gue rasa dari jenis inilah rock kemudian bergeser jadi punk. kalo lo liat acara grammy jaman sekarang, nggak jarang pemenang untuk kategori best rock performance ato best rock album justru jatoh ke musisi metal. ini juga nunjukin kalo (r)evolusi rock bener-bener dahsyat. maka dari itu, rock lebih daripada sekedar aliran musik. ngomong-ngomong soal rock n' roll, gak banyak orang yang tau kalo sebenernya jargon rock n' roll ini sebenernya adalah sebuah filosofi hidup. penafsirannya kira-kira begini, hidup itu keras, sekeras batu karang (ROCK), namun demikian, sekeras apapun hidup, hidup tetep harus bergulir (ROLL). [maksa lu!] bodo amat!
sayangnya kayaknya falsafah ini gak dianut oleh banyak rocker. sayang banget kurt cobain harus mati bunuh diri. jim morrisonnya the doors juga sama ajah. sayang juga banyak rocker yang lari ke narkotika. hidup emang keras, tapi hidup harus tetep bergulir.
banyak yang bilang kalo gue ngomong itu sering ketinggian. padahal sebenernya gak jarang omongan yang keluar dari mulut gue itu cuman meluncur begitu aja. begitu selesai ngomong, baru deh gue nyerna apa yang gue omongin barusan. ini beneran!!! nah, cerita kemudian beralih ke meja kantin sapta tercinta yang kian hari kian kotor. di sebuah sore yang mendung, empat mahasiswa tingkat akhir kurang kerjaan sedang berleha-leha di salah satu bangku. amet, detri, inda, dan gue. dalam rileksasi otak yang amat santai itu, tiba-tiba amet ngajakin kita maen domikado. tau dong maenan domikado! domikado mikado eska eskado eskado bia bio crit... crit... kalo waktu kecil lo gak pernah maen maenan ini artinya lo bukan anak kecil yang funky! he...3x
di tengah permaenan bergabunglah widya yang hendak berleha-leha juga. akhirnya kita memaenkan permaenan ini berlima. di akhir permaenan kan ada orang yang kalah tuuh... nah, kita yang menang ngasih hukuman ke yang kalah. awalnya sih kita mau ngukum dengan nyuruh orang tersebut ngelakuin sesuatu, tapi karena kita semua lagi males gerak, akhirnya entah gimana yang kalah malah disuruh ngejawab satu pertanyaan dengan jujur.
pernah maen truth or dare? kalo di kampung gue dulu biasa disebut jurtang (it stands for "jujur ato tantangan"). kalo lo gak tau maenan domikado ato jurtang artinya kehidupan masa kecil lo patut dipertanyakan tuuuh... permaenan domikado pun berakhir. kita malah maen truth or dare. tapi karena semua pemaennya sepakat milih ngambil "truth"-nya aja, akhirnya kita malah maen truth doang tanpa dare. aturan permaenan pun berubah. setiap pemaen punya hak dan kewajiban yang sama. dalam satu putaran permaenan, tiap pemaen cuma ditanya satu kali. urutan siapa yang ditanya duluan ditentuin pake hompimpah alaium gambreng ato gak pake suit.
naah... di tengah permaenan inilah tiba-tiba mulut gue tiba-tiba nyerocos gak karuan. di permaenan kayak begini ada nilai-nilai yang bisa kita petik sebagai latihan bagi kita untuk percaya dan mempercayain orang. ada dua omongan yang merepresentasikan nilai dari permaenan ini.
1. di dalem permaenan ini, kita belajar untuk bisa percaya sama orang laen. yup.. itulah yang gue omongin beberapa menit setelah permaenan ini dilaksanain. seperti biasa, dalem permaenan semacem ini, apapun yang ada di dalem permaenan, apapun yang diomongin di permaenan ini, cuma ada di forum ketika permaenan ini dilaksanain. gak boleh dibawa keluar. gak boleh diceritain ke orang laen. dengan begini, kita belajar untuk bisa percaya sama orang laen. kita berusaha menitipkan sebuah rahasia dari diri kita ke orang laen.
2. di dalem permaenan ini, kita belajar untuk bisa ngejaga kepercayaan yang udah dikasih orang laen ke kita. itu omongan kedua gue yang secara gak sadar gue ucapin. sumpah, man! pasti rasanya gatel banget kalo kita tau satu rahasia yang orang laen juga penasaran pengen tau, tapi kita nggak bisa omongin itu walopun sebenernya kita tau.
jadi... maenan kayak begini, gak cuma buat cekikik-cekikikan kayak mak lampir, ato buat tau aib orang laen, ato buat tau si inih lagi gebet sape. ada nilai-nilai yang bisa ngebuat kita belajar. daripada lo maen dead or alive di play station? ehehehehe....
siang ini gue nggak ngerjain sholat dzuhur. karena sekarang hari Jumat, jadi gue sholat Jumat. =P dalam perjalanan menuju masjid, gue berbincang-bincang dengan satu temen gue. dalam pembicaraan itu terungkap satu fakta yang ngebuat gue jadi lumayan shock. sampe sekarang gue masih kepikiran terus. gue masih inget tiap kata yang kelontar dari temen gue itu.
pelajaran yang gue dapet hari ini adalah... gue akhirnya ngerasa dan ngakuin bahwa gue agak... mm... bukan agak sih... tapi terlalu mudah menaruh kepercayaan kepada orang laen. selama ini kalo gue ditegor orang karena terlalu mudahnya gue percaya sama orang, gue cuma jawab,"gue milih untuk percaya sama dia." tapi taunya orang yang deket sama lo pun rupanya bisa aja nggak sesuai harepan lo. because everyone has a secret that unrevealed to others. sedikit demi sedikit pandangan gue yang terlampau utopis mulai terkikis, dan mulai mengendapkannya sebagai dasar atas tataran realitas yang sesungguhnya ada. (MAMPUS LO!!! GUE NGOMONG APAAN BARUSAN? GUE AJA KAGAK NGARTI!!!) yah... ini jalan menuju kedewasaan. walo ada beberapa orang yang nggak berusaha menjadi dewasa. orang-orang yang seperti peter pan. gak mau jadi dewasa, karena menjadi dewasa itu rumit! tapi mengutip omongan mel gibson di film braveheart,"everyman dies, not everyman really lives." gak semua orang yang hidup itu bener-bener hidup! cuma mereka yang memberi makna pada sekitarnyalah yang idup. dan untuk memberi makna pada sekitar lo, yang lo butuhin adalah kedewasaan.