Tampilkan postingan dengan label film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label film. Tampilkan semua postingan

Jumat, Mei 06, 2022

Kim Wexler & Saul Goodman: Ketika Dua Dunia Bertumbukan

Better Call Saul bukan serial pertama dengan latar dunia pengacara bagi Rhea Seahorn. Jauh sebelumnya, Ia sudah membintangi serial "Franklin & Bash". Serial yang bercerita tentang dua pengacara muda dengan metode tidak lumrah dan kerapkali mengakali aturan di persidangan. Hmm... Terdenger familiar bukan? :D

Ellen Swatello di dalam lift gedung pengadilan bersama Jared Franklin


Ellen Swatello adalah seorang jaksa yang kemudian berpindah haluan ke sisi pengacara setelah terlibat cinta lokasi dengan Jared Franklin. Walaupun hanya hadir dalam 10 episode selama 4 musim "Franklin & Bash", karakter Ellen sangat kuat. Ellen digambarkan sebagai sosok alpha yang suka mendominasi dalam suatu hubungan. Karakter yang berbeda dengan Kim Waxler. Terus terang, terkadang saya tidak sengaja mencampuradukkan karakter Ellen dan Kim ketika menonton Better Call Saul. Saking kuatnya karakter Ellen Swatello.

Karakter Kim di Better Call Saul menarik untuk dikuliti. Perkembangan karakternya benar-benar tidak bisa ditebak. Di awal, Kim Wexler digambarkan sebagai perempuan yang tangguh, gigih, dan tentu saja cerdas. 

Di awal-awal, saya sempat menebak kalau Jimmy dan Kim akan berpisah jalan karena perbedaan prinsip. Karena sejujurnya, mereka berdua ini benar-benar seperti berasal dari dunia yang berbeda. Kim yang cenderung kaku dengan aturan adalah antitesis dari Jimmy yang tak segan membengkokkkan aturan. Vince Gilligan memang selalu punya cara untuk membuat kita menengok ke arah yang keliru terkait jalan cerita maupun karakternya.

Pada satu titik, kita bisa lihat Kim yang sebenarnya tidak setuju dengan keputusan-keputusan Jimmy. Contoh paling nyata adalah ketika Jimmy memutuskan akan mewakili Lalo Salamanca di pengadilan. Atau ketika Jimmy memutuskan untuk mengganti namanya menjadi Saul Goodman. Contoh lain yang paling baru adalah kita bisa melihat muka Kim yang risau ketika Jimmy berniat menyewa ruang untuk kantornya. 

Kerisauan Kim tak pernah menemukan tepiannya. Tidak sekalipun Kim pernah mengkonfrontasi ide-ide Jimmy. Pada akhirnya, Kim selalu memberikan dukungan kepada Jimmy. 100%!

James Morgan McGill alias Jimmy alias Saul Goodman adalah sisi lembut (soft spot) dari Kim Wexler. Di hadapan Jimmy, Kim berubah dari perempuan yang pintar, tangguh, dan gigih menjadi submisif. Apa pun yang dilakukan Jimmy akan selalu didukung oleh Kim.

Sifat Kim ini mungkin yang -entah bagaimana- pada akhirnya akan membawanya pada perpisahan dengan Jimmy. Harusnya, inilah premis utama Better Call Saul. Bukan tentang klan Salamanca atau sindikat Los Pollos Hermanos. Namun tentang perjalanan cinta Jimmy. 

Jimmy yang malang. Jimmy yang dipandang sebelah mata oleh kakaknya. Jimmy yang tidak pernah dianggap serius oleh rekan-rekan kerjanya. Dan sejauh ini, nasib Kim, satu-satunya orang yang selalu ada di samping Jimmy, tidak jelas. 

Setelah perjalanan selama 8 tahun dan 6 musim (atau 14 tahun, 11 musim, dan 1 episode lepas; jika dihitung dari pertama kali Breaking Bad mengudara), maka bolehlah kita berharap semesta Breaking Bad ini ditutup dengan happy ending dari seorang Saul Goodman.

*tulisan ini dibuat di tengah musim ke-6 Better Call Saul tayang, tepatnya setelah episode 06x04 "Hit & Run"

Kamis, Desember 06, 2012

Life of Pi: Film yang Menyempurnakan

Banyak film adaptasi novel yang gagal menemui ekspektasi pembaca bukunya. Mungkin boleh dibilang trilogi Lord of The Ring adalah salah satu yang sukses. Sisanya, berakhir dengan cibiran penggemar novelnya. Sebut saja seri Harry Potter, dari 7 (atau 8?) filmnya tidak ada yang benar-benar bisa memuaskan penggemar fanatiknya.
Langkah yang kemudian bisa diambil adalah dengan membuat diferensiasi, sehingga penonton tidak melulu membandingkan film dengan novelnya. Langkah ini bisa dengan mengubah alur cerita atau mengubah sudut pandang dan cara bertutur. Saya masih ingat ketika menonton "A Walk to Remember", penyesuaian latar belakang tokoh dan sudut pandang bercerita cukup membantu penonton untuk tidak melulu membandingkan film dengan novelnya. Namun langkah ini tidak selalu berhasil. Langkah ini bisa jadi juga justru menjadi bumerang seperti twist yang coba disajikan Breaking Dawn part II dari saga Twilight.
Dalam film adaptasi novel karya Yann Martell, Life of Pi, Ang Lee sebagai sutradara ternyata memilih untuk strict (bahkan cenderung terlalu ketat) pada cerita yang ada di novel. Baik dari sisi cerita maupun cara bertuturnya. Sebuah langkah bijaksana, karena Ang Lee mendapat keuntungan dari kelemahan novel tersebut. 
Bukan, bukan berarti Life of Pi sebagai novel adalah buruk. Namun keterbatasan novel dalam memvisualisasikan kehidupan Pi di tengah laut mampu dieksploitasi dengan sangat baik oleh Ang Lee melalui gambar yang megah dan memukau. Apalagi kalau dinikmati dalam format 3D.

Life of Pi sendiri berkisah mengenai perjuangan Piscine Molitor Pattel, yang biasa dipanggil Pi (baca: Pay), anak muda dari India yang harus mempertahankan hidupnya di atas sekoci setelah kapal yang ditumpanginya karam di Samudera Pasifik. Tidak hanya berjuang melawan Samudera Pasifik, Pi juga harus menghadapi seekor Harimau Benggala yang ikut menumpang di sekocinya. Harimau yang juga selamat dari kapal karam setelah sebelumnya hendak dijual dari Kebun Binatang Pondicherry, India ke sebuah kebun binatang di Amerika Utara.  
Dalam perjalanannya tersebut, Pi mendapatkan keyakinan bahwa Tuhan selalu bersamanya. Di saat ia merasa Tuhan telah menelantarkannya, ternyata Tuhan kemudian memberinya harapan-harapan baru. Satu pesan moral yang sejujurnya saja tidak tergarap dengan terlalu baik. Cerita mengenai perjalanan spiritualitas Pi yang unik tidak tergarap dengan detil. Contohnya saja mengenai proses pengenalan Pi pada sinkretisme agama terasa terlalu cepat. Soal setuju tidaknya anda pada sinkretisme itu tentu soal lain.
Namun demikian, hal ini tidak membuat film ini menjadi lemah. Mungkin di sinilah diferensiasi Life of Pi sebagai novel dan sebagai film. Jika di novelnya, Life of Pi sering memunculkan sisi spiritualitasnya, maka di film, Life of Pi lebih menekankan pada petualangannya. 
Sebagian pembaca novel Life of Pi mungkin akan menganggap film ini tidak menemui ekspektasi mereka, namun sebagian yang lain mungkin justru menganggap film ini melampaui ekspektasi mereka. Tergantung bagaimana anda menaruh skala prioritas. Apakah lebih penting bagi sebuah film untuk menghibur atau lebih penting untuk menyelipkan pesan moral yang kuat. 
Sebagai jalan tengah, saya berpendapat, bahwa film Life of Pi menyempurnakan novel yang telah dibuatnya. Keterbatasan novel mampu ditutup dengan baik oleh filmnya, tanpa merasa perlu menyaingi kemahsyuran yang sudah dimiliki oleh novel tersebut. 

Selasa, November 06, 2012

Skyfall: Akhir Dari Sebuah Era


James Bond kembali hadir. Di serinya yang ke... mmm.. 20-an ini, Bond nampaknya ingin menerapkan standar baru bagi penerus franchise ini.

Everyone needs a hobby. Whats yours? | Resurrection

Pertanyaan Silva, musuh Bond pada seri kali ini, menjadi semacam pernyataan dari Sam Mendes, sang sutradara, bahwa James bond akan bangkit (dengan wajah baru). Tidak terlalu banyak film action bersekuel yang yahud. Beberapa dari sedikit itu adalah Rambo, Die Hard, dan yang terbaru tentu Bourne. Nama terakhir ini lah yang nampaknya akan menjadi penantang serius bagi sang mata-mata flamboyan. Bahkan sekalipun jika harus mengikutsertakan Bourne Legacy yang ceritanya sangat maksa itu.

Transformasi James Bond

James Bond dengan sejarahnya yang panjang tentu memiliki keunggulan pengalaman dibanding karakter-karakter film action lain. Namun perlahan-lahan, orang, atau setidaknya saya, akan semakin sering membandingkan James Bond dengan Jason Bourne. Apalagi kedua film ini selalu mengangkat isu yang sama, yakni seputar keamanan nasional. Maka mau tidak mau, James Bond harus siap adu head to head dengan Jason Bourne.

Salah satu kekuatan Bond adalah karakternya yang nyaris sempurna. Dikelilingi perempuan-perempuan cantik dan segudang peralatan canggih sudah menjadi rumus di tiap film Bond. Namun demikian, kekuatan ini juga menjadi kelemahan bagi Bond. Terus terang saja, karakter yang terlalu sempurna tidak terlalu menarik untuk dijual di era sekarang.

Maka sesuai dengan siklus daur produk, transformasi karakter maupun cerita James Bond adalah keharusan. Masa transformasi sebenarnya sudah mulai terlihat semenjak Casino Royale di mana karakter Bond, yang diperankan Daniel Craig, digambarkan sebagai sosok yang lebih jantan ketimbang flamboyan. Hal ini juga ditunjukkan dengan semakin dikesampingkannya peran Bond's girl di dalam cerita. Coba bandingkan dengan Octopussy yang dari namanya saja sudah sangat tendensius.

Transformasi gaya James Bond, baik sebagai karakter maupun film, sepertinya dituntaskan pada film ini. Ada dua hal yang dirombak drastis di film ini.

Hal pertama adalah tidak adanya lagi gadget-gadget aneh yang diberikan Q kepada Bond. Bond dipaksa menjadi sebagaimana agen mata-mata pada umumnya ketimbang menjadi Batman. Dalam operasi kali ini, Bond hanya dibekali pistol otomatis dengan pengenal sidik jari dan tracking device. Sudah. Itu saja. Tidak ada yang spesial.

Hal kedua yang juga coba dirombak adalah redefinisi posisi Q dan M yang.. ah sudahlah, untuk yang satu ini lebih baik ditonton langsung saja. Tonton sampai akhir.

Cerita yang nanggung

Siapa ancaman dunia saat ini? Amerika Serikat dengan hegemoninya? Korea Utara dengan nuklirnya? China dengan ekonominya? Apakah masih relevan menganggap entitas negara sebagai ancaman ketika organisasi macam Al-Qaeda, Hizbut Tahrir, atau Ikhwanul Muslimin mampu menunjukkan eksistensinya lintas negara? Dengan segala perkembangan geopolitik dan teknologi saat ini, masih efektifkah agen-agen spionase ala James Bond melakukan dirty job atas nama negara?

Banyak pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya bisa digali lebih dalam. Sayang, ide cerita yang cukup menarik ini tidak dapat dimaksimalkan menjadi alur cerita yang lebih kompleks. Padahal potensi untuk mengarah ke sana sebenarnya sangat terbuka lebar.

Cerita Skyfall diawali dengan aksi kejar-kejaran Bond dan pencuri harddisc yang berisi data rahasia agen-agen yang sedang menyamar di berbagai organisasi. Aksi ini berujung kegagalan, harddisc jatuh ke tangan musuh, bahkan Bond sempat dianggap gugur dalam tugas. Hilangnya harddisc tersebut berujung pada ancaman bagi agen-agen yang namanya ada di dalam cakram padat tersebut.

Secara politis, posisi M pun menjadi rawan. Kepemimpinan M yang oldskull dinilai sudah tidak cocok lagi dengan kondisi dunia saat ini. Di saat yang sama, M harus menghindar dari kejaran Silva, mantan operatif di bawah pimpinannya yang punya dendam pribadi.

James Bond Skyfall hadir sebagai film action dengan intensitas adegan berantem, yang terus terang saja, agak berlebihan. Penonton tidak ditantang untuk berpikir lebih intelek, padahal film ini menceritakan kehidupan intelejen. Semua disajikan dengan lurus-lurus saja. Untungnya kekurangan ini sifatnya lebih ke arah selera ketimbang kualitas.

Skyfall menuntut James Bond lebih mengeksplorasi kekuatan dari dalam dirinya sendiri. Mungkin ini akhir dari sebuah era, sekaligus awal dari era yang baru. Dengan cerita yang lebih masuk akal dan manusiawi, James Bond dapat melebarkan penggemarnya. Terutama dari kalangan yang selama ini antipati dengan karakter sempurna Bond. Apakah transformasi James Bond akan berhasil? Tentu akan diuji di film-film berikutnya. Namun yang jelas, me too product semacam xXx yang berusaha mengikuti pakem cerita Bond klasik justru gagal di pasaran.

Rabu, Agustus 08, 2012

[VIDEO] Be Smart: Get Knowledge, Not Rubbish

Beberapa bulan lalu, ICTwatch sempet bikin lomba video dengan tema "Kebebasan Berekspresi". Hadiahnya lumayan juga, jalan-jalan ke kantor Google di Singapura untuk 2 orang. Awalnya semangat juga pengen ikutan, tapi ternyata susah nyari partner yang bisa diajak tuker ide untuk proses kreatif videonya.
Setelah deket-deket deadline, baru deh nemu ide yang lumayan out of the box. Dari awal, gue emang gak mau kalo video yang gue bikin pesan moralnya udah ketebak. Akhirnya dengan modal kamera saku digital pinjeman berikut tripodnya, gue mulai ambil gambar di rumah. Lumayan dapet setengah materi. Proses nyari pemerannya gak ribet kok. Cast-nya ya gue sendiri (=P), meskipun yang keliatan cuma tangan. Modal lain cuma TV LCD, radio vintage, sama laptop berikut koneksi internetnya.
Selesai di situ, ternyata gue masih ngerasa gambarnya kurang. Mulai deh tuh males-malesan bikin ide. Akhirnya sekitar 18 jam sebelum deadline, dapet ide lagi di kantor. Sekarang modalnya cuma tempat sampah sama beberapa eksemplar koran. Sebenernya pengennya pake koran Tempo karena halaman mukanya biasanya gambarnya menarik dan isinya juga nyentil (urusan ada hubungan antara judul sama isi itu soal laen). Berhubung kantor cuma langganan koran Investor's Daily, ya sudah, seadanya saja.
Untuk lagu pengiring, gue make Si Hebat (/rif) karena ada keselarasan ide dengan materi yang gue ambil. Tadinya sih maunya pake lagu Pas Band, tapi takut dikira Pas Band oriented banget, gak jadi deh. Font yang dipake untuk caption sengaja nyari yang futuristik (poho euy nama font-nya, lagi gak di komputer yang dipake buat filmnya nih). Semenjak Helvetica terlalu sering muncul di 9gag, rasanya kok kayaknya gak kreatif amat kalo Helvetica lagi Helvetica lagi.

Dengan teknik ulead seadanya, akhirnya jadi juga video ini dengan durasi 2 menit 29 detik.  Berhubung untuk ikutan lomba ini harus mengatasnamakan komunitas Blogger, ya udah pake aja nama BogorWatch di mana gue emang terafiliasi. Terus menang gak? NGGAK! Abis itu video (lebih pantes disebut klip pendek sih daripada video) ini terlupakan begitu aja sama gue. Sampe akhirnya sekarang gue sadar kalo video ini ternyata belom pernah dipromosiin di mana-mana selaen di Youtube. Yah, kalau memang lagi ada waktu, kebetulan juga labih dilimpahkan koneksi internet lancar, bolehlah cek dulu videonya di bawah ini. =D


Jumat, Januari 07, 2011

Lubang Hitam itu Bernama Jakarta

Digdayanya Amerika Serikat sampai-sampai ribuan bahkan jutaan orang di dunia berusaha datang ke sana untuk mengadu nasib. Itulah benang merah dari flm Crossing Over. Diceritakan dalam beberapa fragmen, nasib para imigran dari berbagai latar budaya yang datang bukan hanya untuk uang, tapi juga demi mendapatkan kewarganegaraan. Bagaimana haru-biru perjuangan imigran ini sampai dapat mengucapkan sumpah untuk menjadi warga negara Amerika Serikat.

Hal yang sama mungkin yang mendasari Warga Yahudi "pulang kampung" ke Tanah yang Dijanjikan, The promised land. Merasa Tuhan telah menjanjikan cukilan tanah di perbatasan tiga benua tersebut sebagai haknya, maka apapun akan mereka lakukan. Meraka tidak merasa sedang mengokupasi siapapun. Mereka hanya merasa sedang memperjuangkan haknya.

Untuk mendapatkan hidup yang lebih baik, manusia akan mengusahakan banyak hal, termasuk berpindah. Rasulullah pun mengajarkan hijrah. Lalu bagaimana dengan Jakarta? Dengan segala baik dan buruknya, Jakarta masih mampu menarik banyak orang untuk mengadu peruntungannya di metropolis ini. Sebagian berhasil, sebagian gagal. Di manapun rasanya ceritanya akan sama. Tapi untuk saya, Jakarta punya rasa yang sedikit berbeda dibandingkan dengan Amerika Serkat atau tanah yang dijanjikan. Buat saya, Jakarta lebih mirip lubang hitam. Sesuatu yang tidak hanya menarik, tapi juga menelan apapun yang masuk ke dalamnya.

Apapun itu, sebagai penutup, mari kita nikmati lagu dari Bangkutaman. Sebuah persembahan untuk Jakarta.

Jumat, Februari 19, 2010

Negeri Maling VS Sueurs

Kalau di Januari lalu anda sempat hadir di Goethe Institut Jakarta, kemudian kebetulan ikut menyaksikan rangkaian film di hari terakhir South to South Film Festival 2010, maka mungkin anda masih ingat dengan film yang berjudul "Negeri Maling". Film ini diputar di rally film pendek yang juga memutar "Pemburu Minyak", "Purnama di Pesisir", "Ilha das Flores", dan "Heureux Qui Comme Edouard".

Secara garis besar, "Negeri Maling" menceritakan perjalanan pengemudi truk yang menemukan banyak sekali ketidakjujuran di sepanjang perjalanan dia dan truk yang dibawanya. Sepertinya cukup banyak orang yang mengapresiasi film ini. Salah satu buktinya adalah film ini didaulat sebagai film pembuka di ajang Festival Film Mahasiswa Indonesia tahun 2009 yang lalu.

Sayangnya, ternyata ide film ini sama sekali tidak orisinal. Ketika menonton, saya langsung sadar kalau ceritanya terlalu mirip dengan salah satu film Perancis, Sueurs (di internasional lebih dikenal dengan judul SWEAT).


Mungkin sebenarnya sah-sah saja jika ada dua film yang ceritanya sama saja, bahkan sampai sama plek. James Cameron pun jelas-jelas hanya menulis ulang cerita Pocahontas ke dalam Avatar. Tapi tentu jika ingin nekad mengikuti jejak Cameron, ada syarat yang mendampinginya: film tersebut harus memiliki nilai lebih.


Dari segi cerita, Avatar memang mendompleng ramuan Pocahontas. Akan tetapi, Avatar jelas memiliki banyak nilai lebih. Kombinasi teknologi grafis CGI dan 3D yang dipakai jelas menjadi salah satu pionir di era baru perfilman dunia. Bahkan film ini mungkin bisa disejajarkan dengan "Cupid Angling" yang diklaim sebagai film berwarna pertama di dunia.

Lantas bagaimana dengan "Negeri Maling"? Apa yang membuatnya lebih baik dibandingkan dengan Sueurs? Jawabannya adalah: tidak ada. Sebagai film independen, "Negeri Maling" tetap tampil tipikal dengan gaya pas-pasan. Sayang sekali jika ternyata di tengah keterbatasan teknologi yang bisa diadopsi saat ini, sineas-sineas Indonesia tetap malas untuk menggali ide-ide cerita yang lebih orisinal. Pada akhirnya, judul film ini menjadi satire sendiri untuk keseluruhan film ini, "Negeri Maling".

Sabtu, Januari 30, 2010

Pintu Terlarang: sebuah kritik untuk televisi?


awas bocoran!
tapi kalo mau tetep nekad baca ya saya mau bilang apa. untuk kenyamanan anda sendiri saya sudah berusaha sebisa mungkin untuk menyamarkan apa-apa yang menjadi bagian film. maka dari itu jika anda belum menonton film ini kemungkinan besar anda tidak akan menangkap maksud tulisan ini.
hehehe.

setelah dua kali menonton film ini sekitar hampir satu tahun yang lalu, akhirnya saya tergelitik juga untuk beropini. dengan berbekal mesin pencari google, akhirnya saya berkesempatan membaca beberapa review tentang pintu terlarang. langkah yang tidak bijak ternyata karena pada akhirnya saya jadi pusing sendiri di tengah malam ini.

pusing karena setiap review mengembangkan imajinasinya masing-masing untuk menginterpretasi film ini. sementara semua orang tidak henti-hentinya memberi puja-puji untuk film ini, saya justru memilih sikap anti populis dan berusaha realistis. dengan berusaha untuk tidak terjebak pada bayang-bayang prestasi dan portofolio joko anwar, akhirnya saya memberanikan diri untuk mengambil konklusi bahwa film ini sampah biasa-biasa saja!

yah, mungkin memang gak sampah sih. film ini hanya film yang beda dari pakem film-film arus utama. saya hanya orang awam yang buta soal film-film festival dan lebih memilih untuk dibodoh-bodohi holywood untuk membayar karya-karya tipikal mereka.

tapi yang mengganjal adalah, dari sekian banyak review dan reka-reka sok pintar yang berhamburan di dunia maya, tidak ada satupun yang bisa menjelaskan (apa yang seharusnya menjadi) inti film ini: PINTU TERLARANG itu apaan? maka dari itu, saya tergerak untuk ikut-ikutan sok pintar menulis ide yang terbersit di kepala saya kali ini mengenai apa sesungguhnya pintu terlarang tersebut.

akhirnya saya memasrahkan diri untuk ikut dalam permainan joko anwar dalam mereka-reka isi otaknya. oh, sungguh kejamnya joko anwar karena pasti dia sangat girang bukan kepalang melihat reviewer-reviewer yang mencoba memahami film ini. belum tentu benar namun tetap saja segala puja-puji untuk beliau mengucur deras. arggh, saya membayangkan wajah joko anwar tersenyum licik.

parahnya lagi adalah jika ternyata joko anwar pun sebenarnya hanya sedang mempermainkan penonton dengan membuat plot-plot yang seolah terkembang dalam banyak persimpangan dan memang membebaskan imajinasi setiap penontonnya menginterpretasi filmnya sementara ia sendiri tidak punya interpretasi sendiri untuk film ini. semoga saja tidak. amin.

saya mendasarkan reka cerita ini pada dua resensi yang saya temukan di sini dan di sana. untuk lebih memudahkan anda membaca tulisan ini, saya persilahkan anda untuk membaca terlebih dahulu dua tulisan tersebut (dan menonton filmnya terlebih dahulu tentu saja). tapi kalau tidak mau ya tidak apa-apa. silahkan saja melanjutkan perhatian anda pada paragraf di bawah ini.

saya sepakat dengan pernyataan bahwa joko anwar memang sedang bercerita tentang sebuah jarak. bagaimana kamera dan monitor memberikan sebuah jarak yang aman bagi penonton untuk menikmati apa-apa yang seharusnya tabu dalam kehidupan nyata. sebuah jarak yang memberi kesempatan bagi penonton untuk menikmati "dosa" tanpa harus menjadi berdosa. kenikmatan itulah yang ditawarkan sebuah klub gak jelas bernama herosase. memberikan sajian fragmen-fragmen kehidupan beberapa orang yang diambil melalui kamera pengintai yang tersaji dalam beberapa kanal televisi.

film ini jelas penuh dengan metafora dan metafora yang (dengan sesuka hati) saya tangkap adalah kebudayaan pop televisi. bagaimana kita didoktrin bahwa televisi memuat berjuta informasi yang amat berguna bagi kita namun pada saat yang sama juga memuat paradoks berupa proses yang bernama dehumanisasi.

tayangan sadis, tidak realistis, dan imajinatif seolah mendapatkan pemakluman ketika ditonton melalui sekat berupa lembaran gelas pada tabung televisi (maafkan saya untuk mengabaikan teknologi layar yang sudah tidak menggunakan tabung). sebuah pemakluman yang kemudian sering mewujud dalam kalimat,"yaelaaah... namanya juga pelem".

namun sang tokoh utama dalam film ini, Gambir, merasakan keresahan karena menangkap realitas yang berlebihan pada televisi yang ia tonton. jika kita mendekatkan cerita ini ke kehidupan nyata pun kita akan mendapati tayangan-tayangan televisi seperti ini (yang sok realistis) semacam termehek-mehek dan realigi.

keresahan Gambir berbuntut pada kehidupan nyatanya. Ia merasa bahwa ada yang tidak benar dalam dunianya. tidak benar karena, entah di mana, ada seorang anak yang menjadi obyek kekerasan orang tuanya. sebuah realitas dalam wujud seorang anak yang ia lihat melalui layar televisi. Ia pun berhalusinasi bahwa ia memiliki tanggung jawab untuk menyelamatkan sang anak. ia merasa ada dialog yang mampu menembus sekat tabung televisi. sebuah dialog antara dia dan sang anak. akhirnya Gambir justru "terpaksa" untuk selalu melihat penyiksaan anak tersebut demi mendapatkan petunjuk di mana anak itu berada.

seperti yang sudah saya bilang tadi, bahwa layar televisi memberi jaminan batas aman bagi penonton untuk memahami mana yang nyata dan mana yang tidak. televisi menjadi saluran imajinasi yang tidak dimungkinkan untuk terjadi di alam nyata bahkan untuk menjadi saluran bagi apa-apa yang tabu. namun ketika kita sudah terpapar dengan sedemikian massifnya dengan pendaran cahaya dari televisi, maka bukan tidak mungkin semua yang ada di televisi tersebut mampu melangkah melalui sebuah PINTU TERLARANG tepat menuju otak kita melalui mata. inilah pintu terlarang yang dimaksud. tanpa disadari, tayangan televisi telah mencengkram kehidupan kita dengan begitu erat. hal ini pun telah diangkat oleh Neil Postman melalui bukunya, Amusing Ourselves to Death.

sebuah pintu yang membuat mereka mampu menjadi kewajaran di alam nyata. ya wajar-wajar saja, jika kita telah terpapar televisi dalam intensitas yang sedemikian tinggi, maka kehidupan kita pun adalah seputar yang ditayangkan televisi itu juga toh?

paparan-paparan ini kemudian secara tidak sadar membuat Gambir merasa sah-sah saja untuk mempraktekkan apa yang dia tonton di kehidupan nyata. maka ia pun menyelesaikan masalah di rumahnya dengan cara yang sudah dia pahami benar melalui televisi yang selalu ia lihat, yaitu kekerasan.

potongan metafora lain yang ada di film ini menurut saya adalah bahwa Gambir bukanlah satu orang. Gambir mewakili semua penonton yang menjadi korban adiksi televisi. Gambir dapat berupa orang biasa-biasa saja, bisa jadi seorang pematung, bisa jadi seorang suami, seorang anak, seseorang yang akhirnya menjadi gila, atau bahkan seorang pastor sekalipun (dua contoh terakhir tertuang dalam fragmen akhir film ini).

bukti kalo udah nonton dua kali!

Selasa, Januari 05, 2010

menitipkan asa bumi pada film kartun dan komik

bagaimana sebuah tontonan yang ringan ternyata bisa memuat muatan politis yang amat besar tentu amat menarik. rasanya sedikit yang menyangka bahwa kehidupan Smurf yang imut-imut itu ternyata adalah sebuah alegori kehidupan masyarakat komunis.

sebenarnya bukan hanya smurf, banyak cerita anak-anak lain yang memiliki "pembonceng". tentunya hal ini sah-sah saja. sebuah cerita yang baik tentunya adalah cerita yang menyisipkan pesan moral di dalamnya, baik yang sifatnya bisa diterima secara umum (seperti cerita Doraemon yang mengajarkan adab dalam berkawan), sampai yang ditujukan untuk pengembangan satu ideologi tertentu seperti smurf dan masyarakat komunisnya.

beberapa cerita anak lain yang sarat dengan propaganda antara lain adalah Dora yang mengajarkan anak-anak Amerika Serikat sedari dini untuk memiliki rasa tenggang rasa terhadap warga keturunan latin, Si Unyil yang tema tiap episodenya selalu disesuaikan dengan kebijakan pemerintah yang sedang in di waktu tersebut, sampai upin-ipin yang merupakan propaganda Islam.

penanaman moral, paham, dan ideologi kepada anak sedari dini menjadi penting karena semua itu dapat terekam dalam area sub-conscious sang anak. pertarungan ideologi di masa anak-anak merupakan investasi jangka panjang yang buahnya baru akan terlihat 15-20 tahun kemudian. ketimbang berkampanye kepada orang dewasa, tentunya berkampanye kepada anak kecil akan lebih mudah diterima. anak kecil, dengan keterbatasan pengalamannya, tentu tidak memiliki banyak pembanding (benchmark) atas apa yang disodorkan kepada mereka hingga mereka menjadi tidak terlalu banyak membantah dan lebih mudah mengimani apa saja yang dikatakan padanya. tentunya semua itu hanya dapat berhasil apabila dilakukan dengan komunikasi yang tepat untuk anak kecil.


di tengah kefrustasian warga negara-negara dunia ketiga atas arogansi gaya hidup warga Amerika Serikat, yang menghambur-hamburkan sumber daya alam, sedangkan pemerintahnya tidak memiliki komitmen untuk mendorong warganya agar lebih berhemat, tentunya kampanye terhadap anak usia dini menjadi pilihan yang semakin realistis.

rasanya sulit sekali untuk mengajak Amerika Serikat berkomitmen untuk mengurangi emisi karbonnya. mereka menolak untuk meratifikasi Protokol Kyoto, dan di tiap pertemuan COP pun Amerika Serikat selalu menjadi peserta yang paling ngeyel. entah apa yang salah dengan Amerika Serikat sehingga mereka enggan sekali berkomitmen.

mungkin komitmen dari mereka tidak dapat kita capai sekarang, tapi komitmen itu masih bisa kita harapkan pada tahun-tahun mendatang. kembali ke cerita anak-anak, saya teringat dengan kartun Captain Planet yang pernah saya tonton di dekade 90-an. sebuah cerita superhero yang berusaha menyelamatkan bumi dari kerusakan alam seperli limbah cair, radioaktif, sampai pembalakan hutan.

rasanya Amerika Serikat butuh menayangkan kartun-kartun seperti ini kembali. sebuah kartun dengan misi khususnya yang mengajarkan anak untuk lebih menghargai bumi dan lebih bertanggung jawab atas segala perbuatannya.

Jumat, Desember 25, 2009

recount: menghitung ulang demokrasi kotak suara

beberapa hari yang lalu iseng-iseng beli film kerjasamanya HBO sama Warner Brothers, judulnya recount. ternyata filmnya bagus juga. gak semua orang bakal suka dengan film ini, tapi kalo yang suka dengan intrik-intrik politik sama lobi-lobi tingkat tinggi, rasanya film ini patut ditonton.

pemain di film ini juga gak sembarangan, aktor utamanya aja Kevin Spacey. pemain-pemain lainnya antara lain adalah Laura Dern, Tom Wilkinson, dan Denis Leary. di film produksi 2008 ini, Jay Roach sebagai sutradara mencoba menuturkan apa yang terjadi pada pemilu amerika serikat di tahun 2000.

yah, film ini tentang bagaimana persaingan George W. Bush dan Al Gore. konflik dimulai ketika Wakil Presiden Al Gore hendak berpidato untuk menyatakan kekalahannya terhadap George W. Bush. namun di detik-detik terakhir sebelum pidato, ternyata tim sukses Gore mengetahui bahwa ada kesalahan perhitungan di wilayah Florida yang menyebabkan hasil perhitungan bisa saja berubah arah. Ron Klain, salah seorang tim sukses Al Gore akhirnya berjuang mati-matian untuk mencari kebenaran mengenai siapa pemenang pemilu yang sebenarnya. Undang-Undang negara bagian yang sudah tidak layak digunakan, kesalahan mesin penghitung (ya, di USA, mereka menghitung suara dengan mesin, bukan secara manual seperti negara kita), perbedaan interpretasi mengenai pasal di dalam Undang-undang, semua itu digunakan oleh kedua pihak (Gore maupun Bush) untuk melancarkan jalannya menuju kursi presiden.

sebagaimana yang telah kita ketahui bersama, sejarah mencatat bahwa akhirnya Bush yang akhirnya terpilih menjadi presiden. akan tetapi seberapa konstitusionalkah kemenangan Bush? memang Bush selalu unggul dalam setiap perhitungan ulang, namun jalannya perhitungan ulang tersebut tidak selalu didasarkan pada kesepakatan bersama. itulah yang dipaparkan oleh film ini. kita memang sudah tahu seperti apa hasil akhirnya, tapi menonton film ini benar-benar bisa membuat kita lupa dengan kenyataan yang ada dan secara tidak sadar kita menjadi menaruh harapan akan terjadinya perubahan pada hasil akhir.

catatan:
kalau di pemilu Indonesia 2009, saya dibuat kesal dengan KPU, maka setelah menonton film ini saya menjadi bisa agak lebih memaklumi. karena bahkan di Amerika Serikat pun, masalah yang timbul sama-sama saja. Amerika Serikat yang katanya adalah salah satu pionir dalam kehidupan berdemokrasi di dunia pun bisa kalang kabut, apalagi Indonesia yang masih harus banyak belajar. sebagai penutup, rasanya film ini mengajarkan bahwa, Demokrasi kotak suara memang telah gagal.

sebagai hiburan akhir, silahkan mendengarkan lagu satir yang dibuat oleh Armada Racun dengan judul Amerika.

sumber audio: deathrockstar.info

Kamis, November 12, 2009

Suara-suara di dalam toilet

akhirnya setelah sekian lama gak nonton ke bioskop, akhirnya tadi nonton lagi! bener-bener pengalaman yang gak nyenengin lho tadi... bukan, bukan karena filmnya yang serem! well, pelmnya emang sadis sih, tapi kejadian di toilet bioskop itu yang bener-bener bikin shock!

berhubung gue anti make urinoir, apalagi setelah diceritain pengalaman buruk seorang temen di urinoir, maka untuk sekedar pipis pun gue milih untuk make kloset. nah.. pas di toilet ini pengalaman buruk itu terjadi.

jadi, toilet ketika itu lagi dalam keadaan sepi. pas lagi sibuk menghadapi kloset, tiba-tiba dari bilik toilet sebelah terdengar suara itu. suara yang berbunyi:




eee.... eeemph... hmmmppffft... *plung*

AAAAARGH!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Moral: musik di dalam toilet adalah inovasi mahsyur untuk mengkamuflasekan suara-suara seperti tadi.

Senin, Januari 05, 2009

The Prestige: ambisi yang menghancurkan

jangan heran kalo akhir-akhir ini dan beberapa tulisan gue ke depan bakal berkisar soal film. tadinya gue mau bikin blog yang gue khususin untuk rekomendasi film, musik, tempat nongkrong (cem yang biasa nongkrong aja kau ni...), atau apalah. tapi setelah gue pikir-pikir, mending konsentrasi di satu blog ini aja daripada harus memecah crowd. ha ha ha... jadi materi-materi yang udah gue kumpulin buat blog yang yang kemaren bakalan gue obral di sini aja.

gue di sini bukan sebagai resensator (istilah buat orang yang bikin resensi itu apa sih? sementara kita pake istilah resensator ajalah, ok?), jadi gue cuma bakal menarik pelajaran-pelajaran yang cukup menarik dari film ini.

oke, ada satu film spesial yang cukup berkesan di hati gue yang kebetulan gue dapetin dengan harga diskonan di counter film gramedia. judulnya adalah THE PRESTIGE.

film ini menceritakan tentang persaingan dua pesulap muda yang ambisius. saling berusaha ngebongkar trik saingannya. selalu berusaha untuk lebih unggul daripada yang lainnya. dua pesulap ambisius yang saling mengalahkan dan pada akhirnya selalu berakhir pada kekalahan diri mereka sendiri.

kalo lo sering denger ato ngeliat gue ngutip kalimat oscar wilde dari buku dia "the picture of dorian grey" yang bunyinya, "ambition is the last refugee of failure," rasanya film ini juga punya moral yang sama. ambisi yang berlebihan cuman bakal ngebawa kehancuran buat kita.

ada satu kutipan menarik di film ini, "obsessions is young man's game." darah muda, minjem istilah bang roma irama, adalah darah yang paling rentan untuk terjebak dalam obsesi. terpaku pada satu tujuan yang sebenernya cuma bakal ngebuat dia lalai akan hal-hal lain yang sebenernya udah dia milikin dan patut buat disyukuri. obsesi ini yang ngebuat dua pesulap muda lupa bahwa sebenernya mereka udah memiliki lebih dari cukup daripada harus mempertaruhkan lebih banyak hal lagi. dan parahnya lagi, kekalahan dari pertaruhan mereka nggak ngebuat mereka sadar, tapi justru ngebuat mereka makin tenggelam dalam persaingan yang ngebuat mereka semakin banyak kalah sampai mereka bener-bener hampir kehilangan semuanya.

ide cerita film yang diangkat dari novel ini sebenernya biasa aja. tapi, cara bertuturnya bener-bener ngebuat gue tercengang. alur maju mundur, mungkin gak bakal disukain sama beberapa penikmat film yang punya visi bahwa: nonton adalah hiburan, jadi jangan buat kami capek mikir. tapi buat yang suka dengan keindahan bertutur, gue rasa film ini cukup berhasil dengan indah ngerangkai tautan antar kejadian di masa yang udah lewat dan masa yang akan datang.

ending cerita yang fantastis juga ngebuat film ini bener-bener ngebekas di hati gue (halah... lebay...). ending ini bener-bener sebuah the prestige dari film ini yang nerapin filosofi pertunjukan sulap, bahwa harus ada tiga bagian di dalam pertunjukan untuk memukau penonton: the pledge (bagian basa-basi), the turn (ketika sesuatu yang biasa berubah menjadi luar biasa), dan the prestige (akhiran yang membuat orang berdecak kagum)...

Pagar

ada banyak banget pager di sekitar kita. sampe-sampe orang demo pun dihalangin pake pager kawat berduri yang dilapis pake pager polisi anti huru-hara (PHH; bukan pasukan haha-hihi) dan masih dilapis lagi dengan pager yang laen. semua itu tujuannya cuma satu. biar wilayah yang dijaga gak diterobos sama demonstran.

beralih ke laen cerita, gue baru aja pergi ke tempat yang udah agak lama gak gue kunjungin. gue agak bingung dengan tempat itu, karena gak serame dulu. biasanya dulu banyak orang jualan di taman kecil yang memanjang antara trotoar dan jalan aspal. tapi sekarang pedagang-pedagang itu udah gak ada. gak ada lagi karena sekarang taman yang memanjang itu udah dipagerin. sebenernya, ada ataupun gak ada pager mustinya pedagang-pedagang itu tau, bahwa taman itu gak boleh ditempatin untuk dagang.

kalo kita liat perumahan di negara-negara yang udah maju, jarang ada rumah yang make pager. biasanya rumah cuma dibatesin halaman aja untuk sampe ke jalan aspal, tanpa embel-embel pager. beda banget dengan di indonesia. kalo ada rumah yang gak pake pager justru rasanya aneh. udah ada pager pun masih harus digembok tiap malem biar gak ada maling.

sadar ato gak, banyak hal yang bisa diindikasiin dari kehadiran (atau ketidakhadiran) sebuah pagar. kehadiran pagar mengindikasikan bahwa daerah itu rawan terhadap pelanggaran, baik itu pelanggaran sosial ataupun pelanggaran terhadap hukum positif.

terus kemudian pertanyaannya adalah apakah pager itu jelek? kalo gue bilang sih ya nggak juga. pager itu cuma sebagai indikator, sekaligus alat kontrol sosial. pager cuma sebagai akibat, bukan sebagai sebab. memang ada daerah-daerah yang harus dipagerin, ada juga juga daerah-daerah yang gak ngebutuhin pager, karena kesadaran komunitas di dalemnya udah cukup bagus.

pager gak cuma terwujud di dalem bentuk fisik batang-batang besi atau bambu, atau tanaman yang dibentuk memanjang. pagar pun ada yang tidak mewujud secara kasat mata. salah satunya adalah lembaga sensor film di indonesia. saat ini sineas-sineas muda kita sedang berusaha membubarkan segala bentuk penyensoran untuk film yang beredar di masyarakat. sineas-sineas ini memberikan ide untuk sekedar memberikan rating pada film-film yang beredar berdasarkan umur (contoh: film untuk semua umur, untuk remaja (13+), untuk dewasa (21+)).

pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah jika memang pagar sensor ini dicabut akan ada jaminan bahwa tidak akan ada pelanggaran batas wilayah oleh orang-orang yang ada di dalamnya. apakah akan ada jaminan seorang anak SMP tidak akan diizinkan oleh penjaga bioskop untuk membeli tiket film yang bukan masuk ke golongan umurnya? apakah ada jaminan bahwa tukang rental DVD bakalan cuma mau minjemin film dewasa ke orang yang dewasa? apakah kita yakin bahwa gak bakalan ada "pedagang" usil yang "jualan" di "taman" yang bukan pertanyaan-pertanyaan di atas tentunya harus bisa dijawab dulu, sebelum kita memutuskan untuk mencabut pagar.

Jumat, Januari 02, 2009

THE KINGDOM: bukan sekedar tentang perlawanan terhadap teroris Arab

sebut satu judul film holywood yang mengangkat tema tentang teroris arab, maka kemungkinan besar saya akan bilang film itu adalah SAMPAH. tapi berbeda dengan film THE KINGDOM.

buat saya, inti dari film ada di dalam ceritanya, dan saya harus memberikan apresiasi setinggi-tingginya untuk film ini. yang pertama, aksi terorisme yang dilakuin di film ini bener-bener brilian! sangat brilian! teroris arab di film ini bukan cuma sekedar make rompi bom terus lari-lari di tengah orang buat ngebom ato nabrakin mobil yang penuh dengan C4 ke gedung, tapi mereka pake taktik. bener-bener keren!

terlepas dari aksi kebut-kebutan mobil pengawal dan ledakan-ledakan bom, saya ngeliat kalo jiwa film ini justru adalah soal humanisme. kalo di film-film teroris arab biasanya kita disuguhin aksi heroik orang-orang amerika, hegemoni amerika, kedigdayaan amerika, maka di film ini semua dibuat seimbang. film ini emang bukan dibuat untuk meng-counter film-film teroris yang temanya mainstream seperti yang udah saya sebutin di atas, tapi saya yakin kalo film ini dibuat dengan sangat berimbang. bahwa kebencian dan ketakutan orang-orang amerika terhadap orang arab sama dengan kebencian masyarakat islam terutama yang tinggal di jazirah arab terhadap amerika. hal ini dengan sangat indah tertuang di dalam adegan ketika Abu Hamzah (pimpinan teroris) membisikkan kata-kata kepada cucunya yang kemudian dibandingkan dengan adegan ketika Jamie Foxx membisikkan kata-kata penghibur ke Jennifer Garner. sebuah adegan yang membuat skor menjadi 1-1 baik untuk sang teroris maupun untuk tim anti-teroris.

kekuatan laen di film ini juga ditunjukin oleh lakon seorang polisi arab yang ngebantu jamie foxx selama di Arab (sial... gue lupa namanya...). lakon ini megang peran yang amat penting untuk menunjukkan kepada dunia bahwa arab (dan Islam tentunya) tidak selalu tentang keangkuhan, kemewahan, korupnya, dan segala hal buruk lainnya yang selalu ditunjukkan oleh keluarga Istana Saud, dan juga tidak selalu tentang kerasnya pejuang-pejuang Islam ala HAMAS, Al-Qaeda, dan gerakan-gerakan intifada lainnya. warna-warni arab digambarkan dengan indah di dalam film ini.

akhir kata dari cuap-cuap saya tentang film ini adalah bahwa The Kingdom bukan sekedar tentang perlawanan amerika terhadap teroris Arab, tetapi film ini adalah sebuah cermin bagi rakyat amerika. sebuah cermin yang ditaruh dengan samar karena tujuannya bukan untuk menghakimi, tapi untuk memberikan hikmah bagi mereka yang mau menilai dari garis tengah.

Jumat, Januari 26, 2007

bunga-bunga mulai bermekaran

di awal tahun 2004, temen sekamar gue di asrama (mr. rayadeyaka), beresolusi: pokoknya taun ini gue harus bisa bikin film sama novel. anehnya, gue yang biasanya paling anti ikut-ikutan orang laen, merasa tertantang: kenapa nggak? gue juga harus bisa bikin buku dan film! di tengah perjalanan, gue yang memang sejatinya menggandrungi musik, malah nambah janji yang muluk-muluk: mau bikin lagu yang direkam terus disebarluasin. akhirnya, taun 2004 lewat tanpa ada satupun dari cita-cita itu yang tercapai.

rupanya sekedar semangat untuk ngewujudin sesuatu itu masih jauh dari cukup untuk bisa membuatnya jadi nyata. masih butuh kerja keras, ketekunan, dan persistensi untuk menggapainya. tapi satu per satu impian itu mulai terwujud. sebuah buku yang isinya kumpulan esai berhasil gue selesaiin. beberapa komentar bagus juga dateng dari temen-temen gue (mungkin mereka cuma sekedar ingin berbaik hati aja ama gue, jadi muji-muji =D), tapi ada juga yang bilang buku gue gak mutu (bisa dipastiin orang-orang yang ngomong ini adalah orang-orang yang nggak berwawasan luas =P).

lepas dari 2005, gue mulai pesimis kalo cita-cita gue yang dua (bikin lagu ma bikin film) gak bakal kesampean. tapi tadi sore segala sesuatu berubah dengan drastis. tiba-tiba gue menawarkan diri untuk ikut ngebantu pembuatan sebuah film dokumenter ttg kelas gue. bukan film yang terlalu serius dengan storyboard yang mantabh, tapi okelah untuk pemula. dari empat orang yang berkecimpung di proyek ini, gak ada satupun yang sebelumnya pernah ikut dalam sebuah proyek film. banyak maunya, padahal kemampuannya sedikit banget. alhasil, untuk nyelesein durasi 2 menit 30 detik aja dibutuhkan waktu 3 jam pengeditan. mr odonx (orang yang ngaku-ngaku sebagai kembaran gue) pernah bilang: itulah kalo kemampuan terbatas, tapi banyak maunya, jadinya repot sendiri. emang repot sih, tapi asyik juga belajar sesuatu yang baru. make software juga seadanya aja. seorang temen lama gue yang kini menimba ilmu di depok mr fiki (orang satu ini juga diakui sebagai sodara kembar gue, walo secara fisik lebih mirip langit dan bumi) pernah bilang ke gue: dream a lot, think a lot, do a lot. dan itulah yang kita lakuin, banyak bermimpi, banyak berfikir, dan lebih banyak lagi bekerja. (credits goes to: deri, mayang, and detri)

artinya, tinggal satu misi yang belum terlaksana, bikin rekaman. tapi tenang aja, dalam dua hari ini, gue udah mulai ngebentuk tim untuk mewujudkan cita-cita gue ini.

sampai saatnya nanti gue bakal nikmatin indahnya rekahan mekar kuncup bunga yang gue tanam selama ini.

Minggu, Desember 10, 2006

padang pasir

gue inget dua cerita tentang padang pasir. betapa tidak, padang pasir bisa menceritakan berjuta kisah bijak dalam kemonotonan warna dan komponennya

satu video klip dari scorpions, band gaek dari jerman, yang punya judul "under the same sun". video klip ini bukan cuma nampilin band rock dengan jaket kulit yang maenin musik, tapi juga ada cerita yang dikandungnya.

ceritanya itu kalo nggak salah (maaf, udah lama nggak liat video klipnya sih...) ada tiga orang di padang pasir. mereka tersesat dan mulai kehabisan tenaga. tak lama, mereka melihat sebuah kendi air di kejauhan. mereka bergegas berusaha mendekati kendi tersebut. dengan sisa tenaga mereka berlari. namun kemudian, salah satu dari mereka berusaha menjegal yang lainnya. berlanjut dengan yang lainnya menjegal yang lainnya lagi. mereka bertiga berkelahi dalam perjalanan mendapatkan kendi tersebut. tiga orang berkelahi, dan hanya ada satu yang bertahan hidup meninggalkan dua mayat temannya. akhirnya dengan tertatih-tatih ia mendekati kendi tersebut. sesampainya, diraihnya kendi tersebut dan diangkatnya tinggi-tinggi dengan senyum puas. lalu dia berusaha menuang isi kendi tersebut ke mukanya untuk mendapatkan kesegaran dan melepas dahaganya. namun apa dinyana, rupanya bukan air yang menerpa wajahnya, namun hanya pasir. kendi tersebut hanya berisi pasir. sama seperti yang ada di sekitarnya. kalah jadi abu, menang jadi arang

cause we all live under the same sky
we all look up to the same stars
then why can't we live as one.

(jadi inget cerita invasi amerika serikat ke irak...)

cerita kedua gue ambil dari film "sweat" buatan perancis. ceritanya tentang pengkhianatan yang dilakukan diantara sekomplotan penjahat yang baru saja merampok emas. dalam pelariannya, mereka menempuh rute padang pasir yang ada di maroko dengan menggunakan truk gandeng. salah satu adegan yang menarik adalah manakala salah seorang diantara mereka diturunkan di tengah padang pasir dengan kaki terikat pada sebuah jerigen yang berisi air dengan menggunakan rantai baja yang kuat. akhirnya orang tersebut harus berjalan tertatih-tatih di padang pasir sambil menggeret jerigen yang berisi air yang berat. seperti buah simalakama. air dibuang, artinya mati kehausan. air dibiarkan, artinya memperlambat jalan dia. pada akhir kisah diceritakan rupanya kesemua komplotan tersebut tidak ada yang berhasil mendapatkan emas. emas yang ada diambil oleh rekanan mereka yang mengkhianati mereka dan meninggalkan satu-satunya "survivor" dari komplotan penjahat tersebut di pinggir pantai yang berbatasan langsung dengan padang pasir. di depannya membentang samudera, dan di belakangnya padang pasir panas yang penuh dengan ranjau sisa perang. gambar film tersebut ditutup dengan adegan si survivor yang hanya bisa menghitung burung camar yang lewat sambil menunggu ajalnya.

the countdown

gue nyoba ngumpulin beberapa hal yang menjadi favorit gue dan gue pisahin dalam beberapa kategori.

pemain sepakbola:
1. jose luis chilavert
2. franz beckenbauer
3. fachry husaeni
4. stefan effenberg
5. paolo maldini

cewek kece yang kebetulan agak ngetop:
1. liz hurley
2. paramitha rusadi
3. desy ratnasari
4. cameron diaz
5. oline "mendeng"

musisi:
1. scorpions
2. phil collins
3. rida sita dewi
4. pas band
5. U2

film:
1. the green mile
2. the matchstickmen
3. badut-badut ibukota
4. love actually
5. forest gump

ada yang keberatan dengan selera gue?

Rabu, Oktober 18, 2006

love actually is....

hue...
baru nonton film love actually (lagi) nih! entah kenapa, menurut gue, tiap kali abis nonton film ini, gue selalu ngerasa punya energi lebih buat nembak cewek. he...3x.
sangat gue sarankan buat lo yang punya gebetan, dan udah pengen banget lo tembak, tapi lo nggak punya keberanian, lo mesti nyoba doping yang satu ini. bener2 dahsyat deeh!
Love_actually
oke!
oke!
OKE!!!!
gue tau pertanyaan lo berikutnya!
pasti lo nanya,"jadi sebenernya rae nonton film itu biar punya keberanian untuk nembak siapa sih?".

itu dia yang jadi masalah. sesaat gue emang jadi menggebu2 (ato sebenernya itu nafsu ya? hue...3x).selesai nonton, gue jadi belingsatan nggak karuan di kamar. gue langsung ngambil ponsel buat ngubungin cewek. tapi, booster itu hanya berhenti sampai saya menatap daftar nama yang ada di phonebook. gue sadar satu hal... GUE NGGAK YAKIN DENGAN YANG GUE MAU!!!! gue nggak tau siapa yang mau gue deketin (kenapa di posting ini, seolah2 gue mendeskripsikan bahwa nembak cewek adalah satu hal yang sepele ya...).

akhirnya gue urungkan niat gue untuk ngegombal2, dan memilih untuk melanjutkan nonton film kedua:"herbie:fully loaded"

I love lindsay lohan!!!!!!!