Keterangan d. Detil Rute Perjalanan |
![]() |
Melintasi kebun warga. Untung gak becek. |
Keterangan d. Detil Rute Perjalanan |
![]() |
Melintasi kebun warga. Untung gak becek. |
Label: bogor, catatan terbuka, transportasi
Dirangkai oleh Rae pada 12:42:00 PM 5 tanggapan
Pernah dengar istilah Supeltas? Kepanjangannya adalah "Sukarelawan Pengatur Lalu Lintas". Dulu biasa dikenal dengan istilah Pak Ogah atau Polisi Cepek. Kegiatannya mengatur lalu lintas di persimpangan sibuk dengan mengharapkan imbalan sukarela dari pengguna jalan.
![]() |
Seorang Supeltas lengkap dengan atribut rompi hijau khasnya. |
Label: mimbar terbuka, transportasi
Dirangkai oleh Rae pada 8:39:00 PM 0 tanggapan
pernahkan anda terpikir dari mana datangnya mobil-mobil yang biasa nangkring di etalase dealer mobil di berbagai kota? sebagian besar mobil-mobil tersebut dibuat di daerah jakarta utara, bekasi, tangerang, dan beberapa kota lain di jawa tengah seperti semarang dan magelang. dari tempat dibuat, mobil-mobil tersebut kemudian dibawa ke berbagai kota, dari jawa timur sampai jambi, dengan cara dikendarai.
sopir-sopir yang mengemudikan mobil-mobil tersebut biasa disebut dengan istilah sopir profit atau sopir profit engine. entah apa artinya, tidak ada yang benar-benar tahu dari mana dan sejak kapan istilah ini dipakai. untuk perjalanan satu malam, biasanya sopir tersebut dapat mengantongi uang sebesar Rp 60.000,00, setelah dipotong ongkos kembali ke jakarta. bukan jumlah yang besar memang, bahkan amat kecil jika dibandingkan dengan usaha yang harus dilakukan. tidak heran jika kemudian banyak sopir profit yang "nakal".
sesuai dengan peraturan perusahaan, sopir sebenarnya dilarang menaikkan penumpang selama perjalanan. sudah tentu tidak ada perusahaan yang mau mengambil resiko interior kendaraan baru yang siap jual itu menjadi rusak atau kotor akibat ulah penumpang gelap. akan tetapi, minimnya penghasilan dan banyaknya kesempatan yang terbuka membuat sopir-sopir profit banyak yang menjadi acuh dengan peraturan perusahaan.
contohnya di dalam kapal ferry merak-bakauheni. mobil-mobil profitan biasa menyeberang ke sumatera antara pukul 22.00 sampai 03.00 WIB. tujuan akhir mobil-mobil ini beragam, mulai dari bandar lampung sampai jambi. tidak sulit membedakan mobil ini dengan mobil pribadi lainnya. ciri-ciri mobil profitan antara lain adalah tidak berlapis film pada kacanya, jok masih berlapis plastik, dan biasanya ada coret-coretan spidol pada kaca depan. mobil-mobil ini sudah jamak mencari penumpang di atas kapal.
biasanya di atas kapal sudah ada calo yang siap mencarikan penumpang. calo-calo ini sudah menjadi penguasa di atas kapal. sopir tidak diperkenankan mencari penumpangnya sendiri. untuk perjalanan dari kapal sampai bandar lampung, tarif yang dikenakan adalah Rp 30.000,00. penarikan uang pun biasanya dilakukan oleh calo. dari jumlah tersebut, calo biasanya mendapatkan Rp 10.000,00. tapi tidak jarang calo meminta lebih. jika dihitung-hitung, sopir biasanya hanya mendapatkan tambahan sekitar Rp 100.000,00 - 140.000,00 sampai di bandar lampung.
tidak sedikit penumpang tujuan bandar lampung yang tergiur untuk memakai jasa angkutan gelap ini. bagaimana tidak, jika mereka turun di bakauheni dan melanjutkan perjalanan dengan menggunakan bus, maka ongkos yang harus mereka keluarkan adalah sebesar Rp 17.000 untuk bus non AC dan Rp 25.000 untuk bus AC. selisih uang tersebut dinilai memadai karena bus-bus tersebut tentu berjalan lebih lambat dari mobil-mobil profitan. belum lagi bus-bus tersebut biasa mengetem terlebih dahulu sampai penumpang penuh.
opsi lain dengan menggunakan jasa travel juga masih kalah pamor bagi mereka yang sudah merasakan menjadi penumpang gelap. banyak penumpang yang enggan berjalan kaki cukup jauh dari kapal ke terminal pelabuhan. belum lagi calo-calo yang setengah memaksa sehingga sering meresahkan. alasan lain untuk tidak naik travel adalah karena tarif yang dikenakan masih lebih mahal Rp 5.000,00 dibandingkan dengan tarif mobil profitan, belum lagi jika sopir dengan seenak jidatnya tiba-tiba meminta ongkos lebih karena menilai jarak tujuan sangat jauh.
setiba di pelabuhan bakauheni, mobil-mobil dengan penumpang gelap tersebut langsung menempuh jalan menuju bandar lampung. lepas dari genggaman calo, bukan berarti tantangan bagi sopir profit menjadi usai. "bahaya predator" masih mengintai. polisi adalah predator yang dimaksud. paham akan "dosa" yang dilakukan sopir profitan, polisi pun acap kali mengail di air keruh. jika sial dan diberhentikan polisi, sopir harus rela berbagi uang hasil menarik penumpangnya dengan polisi. jika beruntung, mereka cukup memberi Rp 10.000,00 saja. tapi kalau lagi apes, polisi bisa meminta Rp 10.000,00/penumpang yang ada. ini setara dengan setengah dari penghasilan tambahan sopir profit yang hanya Rp 20.000,00/penumpang! untuk mengelabui mata polisi, beberapa sopir memilih untuk mengosongkan kursi penumpang depan sehingga sekilas terlihat tidak ada penumpang di dalam mobil.
jika beruntung mendapatkan sopir yang baik hati, maka anda bisa diantarkan sampai dengan alamat tujuan. akan tetapi, mobil-mobil profit biasanya diisi dengan bahan bakar yang tepat dengan jarak yang ditempuh. maka untuk mengakali tambahan jarak ini, sopir biasanya tidak mengaktifkan pendingin ruangan selama perjalanan. dengan demikian maka bahan bakar yang ada dapat menempuh jarak yang lebih jauh dari seharusnya.
Label: gaya hidup, tips, transportasi
Dirangkai oleh Rae pada 10:12:00 PM 23 tanggapan
sebagai salah satu warga negara yang mendukung gerakan transportasi massal, maka semenjak dahulu kala gue lebih sering make angkutan umum ketimbang kendaraan pribadi. mmm... sebenernya alesan tadi cuma sebagai alasan tambahan, alasan utamanya sih lebih karena gue nggak mampu beli motor. he... he... he...
nah, sebagai salah seorang yang berpengalaman dengan angkutan kota, maka gue bisa mendeskripsikan secara general sifat-sifat sopir di beberapa kota.
1. jakarta
sangat tipikal jakarta seperti yang sudah menjadi stereotipe: UGAL-UGALAN
2. bandar lampung
tipikal sopirnya banyak gaya. liat aja mobil-mobil angkot gaulnya. kalo speaker aktif segede-gede gaban-sariban di belakang udah dianggap lumrah di beberapa kota, sekarang mulai marak angkot-angkot yang make tivi portabel segala. masya allah... belagunya sopir-sopir di bandar lampung gak cuma nyampe situ aja, ada satu pengalaman gue yang bikin gue tercengang:
sopir: ais... gua ni lagi males narik lah...
kenek: ya udah, kita nonton bioskop aja di arto (arto singkatan dari artomoro yang sering didefinisikan sebagai tempat gaul anak-anak bandar lampung).
sopir: tapi gua belom kemek (kemek: makan) nih. makan dulu geh.
kenek: ya udah makan di cfc aja di sebelah twenty one-nya itu.
perjalanan terus berlanjut, sementara gue mulai mereka-reka berapa keuntungan sopir angkot dalam satu hari
seseorang naik, duduk di sebelah sopir. rupanya masih rekan dari si sopir dan kenek.
sopir: wedeeeee... ke mana aja lo ni. ga pernah keliatan. jadi orang geh sombong bener.
seseorang yang duduk di depan: aisss... gue ini ada lah, lo orang aja yang jarang liat gue.
kenek: wei... kita orang mo nonton nih, lo mau ikut gak?
seseorang yang duduk di depan: wah boleh juga. udah banyak duit tah lo orang ni? udah dapet berapa rit (rit: satu kali pulang-pergi jurusan)?
kenek: baru setengah rit (yang artinya baru sekali jalan), kita orang lagi males narik aja.
rae (dalam hati): kek mana lo orang mau kaya, kerjaannya geh foya-foya mulu...
3. bogor
entah kenapa, gue ngerasa sopir angkot di bogor jauh lebih goblok dibandingin dengan sopir-sopir angkot di tempat laen. berikut adalah beberapa contoh:
A. ngetem
sopir: ayo bu... ayo bu... dua lagi berangkat... dua lagi berangkat...
(dua orang naek ke dalem angkot)
sopir: ayo bu... ayo bu... dua lagi berangkat... dua lagi berangkat...
(dua orang naek ke dalem angkot)
sopir: ayo bu... ayo bu... dua lagi berangkat... dua lagi berangkat...
(dua orang naek ke dalem angkot)
sopir: ayo bu... ayo bu... dua lagi berangkat... dua lagi berangkat...
(dua orang naek ke dalem angkot)
sopir: ayo bu... ayo bu... dua lagi berangkat... dua lagi berangkat...
(dua orang naek ke dalem angkot)
sopir: ayo bu... ayo bu... dua lagi berangkat... dua lagi berangkat...
(dua orang naek ke dalem angkot)
sopir: ayo bu... ayo bu... dua lagi berangkat... dua lagi berangkat...
(dua orang naek ke dalem angkot)
sopir: ayo bu... ayo bu... dua lagi berangkat... dua lagi berangkat...
(dua orang naek ke dalem angkot)
kesimpulan: sopir angkot itu baru bisa berhitung sampe angka dua (2).
B. kembalian
mobil angkot udah penuh dengan orang-orang, akhirnya mobil pun berjalan...
penumpang: kiri ya...
mobil menepi, lalu si penumpang memberikan ongkos yang seharga dua ribu dengan uang pecahan sepuluh ribu.
sopir: waduh mas, saya baru keluar nih. nggak ada uang kecil aja?
penumpang: wah ga ada... itu udah yang paling kecil (sembari memperlihatkan isi dompetnya).
sopir: oh, ya udah deh. bawa aja uangnya...
mobil pun berjalan melanjutkan kembali petualangannya...
GEBLEK BANGET!!!!
kenapa si sopir gak nyoba nyari tukeran duit dulu ke penumpang yang laen. ato gak, narikin ongkos dari penumpang laen. dengan narikin ongkos dari empat orang aja kan artinya dia udah bisa ngasih kembalian delapan ribu perak (4 x @2.000= 8.000)!
Label: gaya hidup, persaingan, transportasi
Dirangkai oleh Rae pada 11:36:00 AM 0 tanggapan