Tampilkan postingan dengan label transportasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label transportasi. Tampilkan semua postingan

Rabu, November 09, 2011

Bogor-Serang via Jasinga

Tidak banyak informasi tersedia di internet mengenai jalur yang bisa dilalui sepeda motor antara Bogor-Merak. Kalau lewat jalan tol sih gampang. Maka dari itu, rasanya tidak ada salahnya juga jika pengalaman minggu lalu yang saya lakukan dari Bogor ke Bandar Lampung saya rangkumkan ke dalam tulisan. Siapa tahu bermanfaat jika ada yang ingin iseng-iseng bersepeda motor ke Merak, Anyer, atau menyeberang ke Sumatera dari Bogor.
Sebelum memulai perjalanan ini, satu-satunya jalan yang saya tahu adalah melintasi jalan raya Bogor sampai Cililitan, kemudian membelah Jakarta melalui Jl. MH Thamrin dan Gatot Subroto, lalu berbelok ke Jl. Daan Mogot. Dari Jl. Daan Mogot sudah tidak terlalu sulit menemukan petunjuk jalan menuju Serang dan Merak. Namun rute ini terlalu memutar. Padahal Bogor sendiri sudah agak lebih barat daripada Cililitan.
Maka dari itu saya nekad mengandalkan fitur Google Map untuk mencari rute terpendek (lihat keterangan a pada gambar di bawah). Setelah men-set direction (keterangan b) antara Komplek IPB, Dramaga dan Serang. Jangan  lupa memberi tanda centang pada pilihan "avoid toll" argar Google Map tidak memberi petunjuk jalan yang melewati jalan tol. Google Map memberi 3 alternatif jalan (keterangan c) lengkap dengan jarak dan perkiraan waktu tempuh. Saya memilih jalan alternatif pertama. Rute yang ditempuh adalah IPB Dramaga - Leuwiliang - Jasinga - Tenjo - Serang. Dari Serang, perjalanan sudah lebih mudah karena banyak marka jalan  dan orang untuk ditanyai yang bisa dijadikan sebagai pedoman. 


Sebelum memulai perjalanan, pastikan kendaraan dalam keadaan baik. Lebih baik jika sebelumnya diservis terlebih dahulu. Manfaatkan odometer (penghitung jarak) yang ada di panel speedometer untuk memverifikasi jarak yang sudah kita lalui dengan jarak yang ditunjukkan oleh Google Map. Keterangan d pada gambar di atas menunjukkan arahan detil yang harus kita tempuh termasuk nama jalan dan jarak.

Keterangan d. Detil Rute Perjalanan
Dengan adanya odometer, kita dapat memverifikasi apakah jalan yang kita tempuh sudah benar (ditunjukkan dengan jarak tempuh yang tepat).
Perjalanan saya mulai sekitar pukul 05.15 pagi dari Taman Pagelaran. Sesampai di depan Kampus IPB Darmaga, saya me-reset odometer menjadi 0. Perjalanan dimulai dengan menyusuri jalan raya Dramaga. Tidak terlalu sulit menempuh perjalanan dari Dramaga menuju Leuwiliang dengan mengikuti petunjuk jalan dari Google Map di sebelah kiri ini. Satu-satunya percabangan jalan yang ada adalah antara arah Leuwiliang dan Ciampea. Ambil arah kiri untuk tetap berada di jalan Cibadak Raya.

Lepas dari pasar Leuwiliang, perlahan-lahan jalanan mulai terasa sepi. Jika bahan bakar kendaraan sedikit, disarankan untuk membeli bahan bakar di SPBU terlebih dahulu setelah pasar Leuwiliang. Perjalanan ke Ciampea cukup jauh. Jalanan yang dilewati tidak terlalu baik, walaupun untuk kendaraan roda dua masih bisa memilih-milih jalan yang tidak berlubang. Di sini juga ada pertigaan jalan dengan tugu kecil di tengah-tengah yang agak membingungkan. Tidak ada marka jalan yang bisa memandu. Satu-satunya cara adalah bertanya. Ternyata jalan ke kanan adalah ke Jasinga sementara jalan ke kiri menuju Pongkor, salah satu tambang emas milik PT Aneka Tambang.
Untuk sampai di Ciampea, ternyata kita harus melewati gunung. Pemandangan di sini cukup indah, tetapi saya memilih untuk tidak berhenti karena saya menargetkan harus sudah masuk kapal Ferry sebelum pukul 11.00. Ternyata ada areal kelapa sawit PTPN juga yang dilewati. Di areal ini, saya juga sempat melihat tentara yang sedang berlatih perang lengkap dengan meriam.
Lepas dari perkebunan sawit, jalanan berbalik menjadi turun. Ada masa sekitar satu menit ketika saya bisa menetralkan transmisi dan berjalan dengan hanya dilayani gravitasi dan rem saja. Suasana mulai kembali menjadi ramai. rumah-rumah penduduk bisa ditemui di kiri dan kanan jalan, akhirnya sampai juga di Jasinga. Namun perjalanan masih jauh.
Setelah mengikuti jalan utama, selepas pasar Jasinga, ada pertigaan ke kanan menuju Tenjo. Ada sebuah marka jalan tua yang hurufnya sudah tidak terlalu jelas sebelum pertigaan ini. Perjalanan dilanjutkan dengan berbelok ke kanan, masuk ke jalan Letnan Sayuti. Ciri-ciri pangkal jalan ini ada sebuah tugu kecil dan pangkalan angkutan mobil suzuki carry plat hitam semacam angkot.
Jalan Letnan Sayuti sepi. Kanan kiri jalan kebanyakan adalah kebun milik warga. Sesekali pemukiman penduduk tampak, kemudian berganti kembali dengan kebun. Kondisi jalan menuju Tenjo agak membuat kesal. Sebenarnya jalanan cukup bagus, namun seringkali setelah sekitar 50 meter menjadi jelek tanpa bisa memilih-milih. 
Terus saja lalui jalan utama ini. Setelah beberapa saat, jalan akan melintasi perlintasan kereta api. Ketika saya melalui jalan ini minggu lalu, ada satu ruas jalan yang tidak bisa dilewati sehingga kendaraan roda dua terpaksa dibuang ke jalan tanah melintasi petak kebun milik orang.

Melintasi kebun warga. Untung gak becek.
Sekitar pukul 07.20, akhirnya kondisi jalan membaik dan melebar. Sampai satu persimpangan besar, terlihat papan marka jalan, yang menunjukkan arah kiri ke Serang dan kanan ke Serpong. Belok kiri, jalanan semakin nyaman. Nampaknya jalan ini baru diperbaiki. Jalanan mulus, membawa saya pada semacam bunderan. Saya tidak ingat persis keterangan marka jalan yang ada, tapi saya ambil ke arah kanan.
Terus terang, sebenarnya saya merasa agak tersesat di jalanan ini. Saya merasa jalan ini tidak lagi sesuai dengan petunjuk yang ada di Google Map. data odometer saya tidak lagi bisa memberi verifikasi apakah rute saya masih sesuai petunjuk Google Map atau tidak. praktis, kertas hasil print Google Map sudah tidak saya jadikan patokan lagi. Sempat terpikir untuk menggunakan panduan GPS yang tertanam di ponsel saya saja untuk melanjutkan perjalanan. Untungnya, suasana jalan sudah ramai. Ternyata saya berada di sekitar pusat pemerintahan Kabupaten Tangerang.
Saya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan saya dengan terus menyusuri jalan yang bagus tersebut, akhirnya sekali lagi saya dihadapkan pada sebuah bunderan. Firasat saya mengatakan bahwa saya harusnya belok kiri ke arah Cikande, tapi saya tidak yakin. Akhirnya saya bertanya pada seorang tukang ojek yang sedang mangkal di situ. Dari keterangan beliau, saya disarankan ambil jalan ke kanan sampai sekitar 5 km. Di ujung jalan itu ada lampu lalu lintas. Sesuai dengan instruksi si abang ojek, saya ambil jalan ke kiri. Ternyata, jalan itu adalah jalan raya Serang. Tak lama dari lampu lintas tadi, ada marka jalan yang menunjukkan bahwa Serang masih berjarak 40 lagi dan Merak masih 75 km. Dari sini perjalanan sudah mudah menuju Serang.
Sesampai di tujuan, saya kembali mengecek odometer saya. Ternyata berdasarkan perhitungan odometer saya, ada selisih 8 km lebih jauh daripada yang tercantum di Google Map. Tidak terlalu meleset jauh untuk jarak yang demikian jauh. Margin error tidak sampai 10%. Dari yang tertera di odometer 121 km, sedangkan menurut perhitungan Google Map hanya 113 km. Namun untuk waktu tempuh, perkiraan Google Map ternyata meleset jauh sampai 2x. Menurut Google Map, waktu tempuh hanya 2 jam lebih sedikit, namun kenyataannya saya menghabiskan waktu sampai 4 jam (dengan sekali istirahat sekitar 15 menit). Bisa dimaklumi karena waktu tempuh memang sangat bergantung pada kecepatan masing-masing kendaraan. Sedangkan kecepatan masing-masing kendaraan sangat dipengaruhi berbagai hal mulai dari kondisi jalan, kepadatan jalan, dan konsentrasi pengemudi.

Jumat, September 23, 2011

Supeltas: Bentuk Komodifikasi dari Kepolisian?


Pernah dengar istilah Supeltas? Kepanjangannya adalah "Sukarelawan Pengatur Lalu Lintas". Dulu biasa dikenal dengan istilah Pak Ogah atau Polisi Cepek. Kegiatannya mengatur lalu lintas di persimpangan sibuk dengan mengharapkan imbalan sukarela dari pengguna jalan.

Seorang Supeltas lengkap dengan atribut rompi hijau khasnya.

Meski dari kegiatan terlihat sama saja, ada perbedaan mendasar antara Supeltas dengan Pak Ogah. Supeltas diakui keberadaannya oleh pihak Kepolisian, sedangkan Pak Ogah tidak. Sebegitu tidak berdayakah polisi kita mengatur lalu lintas sampai-sampai harus mencari "tenaga outsource"?

Setelah di beberapa kota, air bersih mengalami komodifikasi, sekarang giliran pelayanan dari polisi yang juga mengalami komodifikasi. Air dan pelayanan lalu lintas yang harusnya menjadi hak setiap orang kini tidak lagi bisa dinikmati secara percuma.

Luar biasa geliat bisnis "tenaga outsource" di Indonesia. Bahkan sampai-sampai Polri pun menggunakannya. Satu lagi tenaga outsource Polri mungkin adalah apa yang telah disuarakan Wikileaks, FPI. Meskipun berita ini masih terlampau sumir, namun ormas ini disinyalir telah digunakan untuk melakukan "dirty job"-nya Polri.

Minggu, November 08, 2009

mobil profit: sebuah angkutan alternatif?

pernahkan anda terpikir dari mana datangnya mobil-mobil yang biasa nangkring di etalase dealer mobil di berbagai kota? sebagian besar mobil-mobil tersebut dibuat di daerah jakarta utara, bekasi, tangerang, dan beberapa kota lain di jawa tengah seperti semarang dan magelang. dari tempat dibuat, mobil-mobil tersebut kemudian dibawa ke berbagai kota, dari jawa timur sampai jambi, dengan cara dikendarai.

sopir-sopir yang mengemudikan mobil-mobil tersebut biasa disebut dengan istilah sopir profit atau sopir profit engine. entah apa artinya, tidak ada yang benar-benar tahu dari mana dan sejak kapan istilah ini dipakai. untuk perjalanan satu malam, biasanya sopir tersebut dapat mengantongi uang sebesar Rp 60.000,00, setelah dipotong ongkos kembali ke jakarta. bukan jumlah yang besar memang, bahkan amat kecil jika dibandingkan dengan usaha yang harus dilakukan. tidak heran jika kemudian banyak sopir profit yang "nakal".

sesuai dengan peraturan perusahaan, sopir sebenarnya dilarang menaikkan penumpang selama perjalanan. sudah tentu tidak ada perusahaan yang mau mengambil resiko interior kendaraan baru yang siap jual itu menjadi rusak atau kotor akibat ulah penumpang gelap. akan tetapi, minimnya penghasilan dan banyaknya kesempatan yang terbuka membuat sopir-sopir profit banyak yang menjadi acuh dengan peraturan perusahaan.

contohnya di dalam kapal ferry merak-bakauheni. mobil-mobil profitan biasa menyeberang ke sumatera antara pukul 22.00 sampai 03.00 WIB. tujuan akhir mobil-mobil ini beragam, mulai dari bandar lampung sampai jambi. tidak sulit membedakan mobil ini dengan mobil pribadi lainnya. ciri-ciri mobil profitan antara lain adalah tidak berlapis film pada kacanya, jok masih berlapis plastik, dan biasanya ada coret-coretan spidol pada kaca depan. mobil-mobil ini sudah jamak mencari penumpang di atas kapal.

biasanya di atas kapal sudah ada calo yang siap mencarikan penumpang. calo-calo ini sudah menjadi penguasa di atas kapal. sopir tidak diperkenankan mencari penumpangnya sendiri. untuk perjalanan dari kapal sampai bandar lampung, tarif yang dikenakan adalah Rp 30.000,00. penarikan uang pun biasanya dilakukan oleh calo. dari jumlah tersebut, calo biasanya mendapatkan Rp 10.000,00. tapi tidak jarang calo meminta lebih. jika dihitung-hitung, sopir biasanya hanya mendapatkan tambahan sekitar Rp 100.000,00 - 140.000,00 sampai di bandar lampung.

tidak sedikit penumpang tujuan bandar lampung yang tergiur untuk memakai jasa angkutan gelap ini. bagaimana tidak, jika mereka turun di bakauheni dan melanjutkan perjalanan dengan menggunakan bus, maka ongkos yang harus mereka keluarkan adalah sebesar Rp 17.000 untuk bus non AC dan Rp 25.000 untuk bus AC. selisih uang tersebut dinilai memadai karena bus-bus tersebut tentu berjalan lebih lambat dari mobil-mobil profitan. belum lagi bus-bus tersebut biasa mengetem terlebih dahulu sampai penumpang penuh.

opsi lain dengan menggunakan jasa travel juga masih kalah pamor bagi mereka yang sudah merasakan menjadi penumpang gelap. banyak penumpang yang enggan berjalan kaki cukup jauh dari kapal ke terminal pelabuhan. belum lagi calo-calo yang setengah memaksa sehingga sering meresahkan. alasan lain untuk tidak naik travel adalah karena tarif yang dikenakan masih lebih mahal Rp 5.000,00 dibandingkan dengan tarif mobil profitan, belum lagi jika sopir dengan seenak jidatnya tiba-tiba meminta ongkos lebih karena menilai jarak tujuan sangat jauh.

setiba di pelabuhan bakauheni, mobil-mobil dengan penumpang gelap tersebut langsung menempuh jalan menuju bandar lampung. lepas dari genggaman calo, bukan berarti tantangan bagi sopir profit menjadi usai. "bahaya predator" masih mengintai. polisi adalah predator yang dimaksud. paham akan "dosa" yang dilakukan sopir profitan, polisi pun acap kali mengail di air keruh. jika sial dan diberhentikan polisi, sopir harus rela berbagi uang hasil menarik penumpangnya dengan polisi. jika beruntung, mereka cukup memberi Rp 10.000,00 saja. tapi kalau lagi apes, polisi bisa meminta Rp 10.000,00/penumpang yang ada. ini setara dengan setengah dari penghasilan tambahan sopir profit yang hanya Rp 20.000,00/penumpang! untuk mengelabui mata polisi, beberapa sopir memilih untuk mengosongkan kursi penumpang depan sehingga sekilas terlihat tidak ada penumpang di dalam mobil.

jika beruntung mendapatkan sopir yang baik hati, maka anda bisa diantarkan sampai dengan alamat tujuan. akan tetapi, mobil-mobil profit biasanya diisi dengan bahan bakar yang tepat dengan jarak yang ditempuh. maka untuk mengakali tambahan jarak ini, sopir biasanya tidak mengaktifkan pendingin ruangan selama perjalanan. dengan demikian maka bahan bakar yang ada dapat menempuh jarak yang lebih jauh dari seharusnya.

Selasa, Maret 06, 2007

tipikal sopir angkot

sebagai salah satu warga negara yang mendukung gerakan transportasi massal, maka semenjak dahulu kala gue lebih sering make angkutan umum ketimbang kendaraan pribadi. mmm... sebenernya alesan tadi cuma sebagai alasan tambahan, alasan utamanya sih lebih karena gue nggak mampu beli motor. he... he... he...

nah, sebagai salah seorang yang berpengalaman dengan angkutan kota, maka gue bisa mendeskripsikan secara general sifat-sifat sopir di beberapa kota.

1. jakarta
sangat tipikal jakarta seperti yang sudah menjadi stereotipe: UGAL-UGALAN



2. bandar lampung
tipikal sopirnya banyak gaya. liat aja mobil-mobil angkot gaulnya. kalo speaker aktif segede-gede gaban-sariban di belakang udah dianggap lumrah di beberapa kota, sekarang mulai marak angkot-angkot yang make tivi portabel segala. masya allah... belagunya sopir-sopir di bandar lampung gak cuma nyampe situ aja, ada satu pengalaman gue yang bikin gue tercengang:

sopir: ais... gua ni lagi males narik lah...

kenek: ya udah, kita nonton bioskop aja di arto (arto singkatan dari artomoro yang sering didefinisikan sebagai tempat gaul anak-anak bandar lampung).

sopir: tapi gua belom kemek (kemek: makan) nih. makan dulu geh.

kenek: ya udah makan di cfc aja di sebelah twenty one-nya itu.

perjalanan terus berlanjut, sementara gue mulai mereka-reka berapa keuntungan sopir angkot dalam satu hari

seseorang naik, duduk di sebelah sopir. rupanya masih rekan dari si sopir dan kenek.

sopir: wedeeeee... ke mana aja lo ni. ga pernah keliatan. jadi orang geh sombong bener.

seseorang yang duduk di depan: aisss... gue ini ada lah, lo orang aja yang jarang liat gue.

kenek: wei... kita orang mo nonton nih, lo mau ikut gak?

seseorang yang duduk di depan: wah boleh juga. udah banyak duit tah lo orang ni? udah dapet berapa rit (rit: satu kali pulang-pergi jurusan)?

kenek: baru setengah rit (yang artinya baru sekali jalan), kita orang lagi males narik aja.

rae (dalam hati): kek mana lo orang mau kaya, kerjaannya geh foya-foya mulu...



3. bogor
entah kenapa, gue ngerasa sopir angkot di bogor jauh lebih goblok dibandingin dengan sopir-sopir angkot di tempat laen. berikut adalah beberapa contoh:

A. ngetem
sopir: ayo bu... ayo bu... dua lagi berangkat... dua lagi berangkat...
(dua orang naek ke dalem angkot)

sopir: ayo bu... ayo bu... dua lagi berangkat... dua lagi berangkat...
(dua orang naek ke dalem angkot)

sopir: ayo bu... ayo bu... dua lagi berangkat... dua lagi berangkat...
(dua orang naek ke dalem angkot)

sopir: ayo bu... ayo bu... dua lagi berangkat... dua lagi berangkat...
(dua orang naek ke dalem angkot)

sopir: ayo bu... ayo bu... dua lagi berangkat... dua lagi berangkat...
(dua orang naek ke dalem angkot)

sopir: ayo bu... ayo bu... dua lagi berangkat... dua lagi berangkat...
(dua orang naek ke dalem angkot)

sopir: ayo bu... ayo bu... dua lagi berangkat... dua lagi berangkat...
(dua orang naek ke dalem angkot)

sopir: ayo bu... ayo bu... dua lagi berangkat... dua lagi berangkat...
(dua orang naek ke dalem angkot)

kesimpulan: sopir angkot itu baru bisa berhitung sampe angka dua (2).

B. kembalian
mobil angkot udah penuh dengan orang-orang, akhirnya mobil pun berjalan...

penumpang: kiri ya...
mobil menepi, lalu si penumpang memberikan ongkos yang seharga dua ribu dengan uang pecahan sepuluh ribu.

sopir: waduh mas, saya baru keluar nih. nggak ada uang kecil aja?

penumpang: wah ga ada... itu udah yang paling kecil (sembari memperlihatkan isi dompetnya).

sopir: oh, ya udah deh. bawa aja uangnya...
mobil pun berjalan melanjutkan kembali petualangannya...

GEBLEK BANGET!!!!
kenapa si sopir gak nyoba nyari tukeran duit dulu ke penumpang yang laen. ato gak, narikin ongkos dari penumpang laen. dengan narikin ongkos dari empat orang aja kan artinya dia udah bisa ngasih kembalian delapan ribu perak (4 x @2.000= 8.000)!