Tampilkan postingan dengan label indie. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label indie. Tampilkan semua postingan

Rabu, Agustus 08, 2012

[VIDEO] Be Smart: Get Knowledge, Not Rubbish

Beberapa bulan lalu, ICTwatch sempet bikin lomba video dengan tema "Kebebasan Berekspresi". Hadiahnya lumayan juga, jalan-jalan ke kantor Google di Singapura untuk 2 orang. Awalnya semangat juga pengen ikutan, tapi ternyata susah nyari partner yang bisa diajak tuker ide untuk proses kreatif videonya.
Setelah deket-deket deadline, baru deh nemu ide yang lumayan out of the box. Dari awal, gue emang gak mau kalo video yang gue bikin pesan moralnya udah ketebak. Akhirnya dengan modal kamera saku digital pinjeman berikut tripodnya, gue mulai ambil gambar di rumah. Lumayan dapet setengah materi. Proses nyari pemerannya gak ribet kok. Cast-nya ya gue sendiri (=P), meskipun yang keliatan cuma tangan. Modal lain cuma TV LCD, radio vintage, sama laptop berikut koneksi internetnya.
Selesai di situ, ternyata gue masih ngerasa gambarnya kurang. Mulai deh tuh males-malesan bikin ide. Akhirnya sekitar 18 jam sebelum deadline, dapet ide lagi di kantor. Sekarang modalnya cuma tempat sampah sama beberapa eksemplar koran. Sebenernya pengennya pake koran Tempo karena halaman mukanya biasanya gambarnya menarik dan isinya juga nyentil (urusan ada hubungan antara judul sama isi itu soal laen). Berhubung kantor cuma langganan koran Investor's Daily, ya sudah, seadanya saja.
Untuk lagu pengiring, gue make Si Hebat (/rif) karena ada keselarasan ide dengan materi yang gue ambil. Tadinya sih maunya pake lagu Pas Band, tapi takut dikira Pas Band oriented banget, gak jadi deh. Font yang dipake untuk caption sengaja nyari yang futuristik (poho euy nama font-nya, lagi gak di komputer yang dipake buat filmnya nih). Semenjak Helvetica terlalu sering muncul di 9gag, rasanya kok kayaknya gak kreatif amat kalo Helvetica lagi Helvetica lagi.

Dengan teknik ulead seadanya, akhirnya jadi juga video ini dengan durasi 2 menit 29 detik.  Berhubung untuk ikutan lomba ini harus mengatasnamakan komunitas Blogger, ya udah pake aja nama BogorWatch di mana gue emang terafiliasi. Terus menang gak? NGGAK! Abis itu video (lebih pantes disebut klip pendek sih daripada video) ini terlupakan begitu aja sama gue. Sampe akhirnya sekarang gue sadar kalo video ini ternyata belom pernah dipromosiin di mana-mana selaen di Youtube. Yah, kalau memang lagi ada waktu, kebetulan juga labih dilimpahkan koneksi internet lancar, bolehlah cek dulu videonya di bawah ini. =D


Jumat, Agustus 12, 2011

(A)Politik dalam Lagu

Sebenarnya iklim kebebasan berpendapat di Bandung sangat baik. Banyak muncul diskursus yang menelurkan dan mengembangkan berbagai jenis pemikiran. Mulai dari yang paling idealis sampai yang paling oportunis. Mulai dari kanan habis sampai kiri mentok.
Manifestonya dalam budaya musik mereka bisa dengan terang kita lihat. Mulai dari musik bling-bling urban sampai sampai shoegaze yang muram. Mulai dari pop yang terkena gejala ADHD sampai metal yang mencekam.
Dari sekian banyak lirik yang mengalir, ada satu catatan mengenai sikap politik yang dipilih oleh sebagian musisi kota Ini. Dari sekian banyak lirik politik yang ada, ternyata pilihan untuk menjadi apolitis adalah tema yang paling jamak diramu dalam nomor-nomor yang dihadirkan.
Saya mencatat pertama kali sikap apolitis tersirat dalam lagu "impresi" yang dibawakan Pas Band. Secara gamblang mereka tidak pernah menyatakan sebagai pribadi yan apolitis, tetapi dari liriknya jelas tersirat hal tersebut.
"Aku sudah bosan dengarkan kata-kata, Aku sudah muak dengarkan ceritamu. Dan aku sudah lelah dengar harapan." (Impresi - Pas Band)
Lagu yang video klipnya dilarang untuk diputar di seluruh stasiun TV nasional ini adalah sebuah pernyataan yang lugas bahwa mereka apolitis tanpa harus menyebut bahwa mereka adalah apolitis.
Sikap ini kemudian dipertebal beberapa belas tahun kemudian ketika kemudian Pas Band mengeluarkan lagu "Jengah". "Jengah" adalah sebuah "Impresi 2.0". Jengah adalah Impresi yang di-remake. Untungnya, remake ini adalah remake yang sukses.
"Kita bosan dengarkan banyak alasan. Kita bosan dengarkan cerita." (Jengah - Pas Band)
Lepas dari Pas Band, sikap apolitis juga dihadirkan oleh Homicide. Grup yang dalam salah satu pertunjukannya menyebut bahwa pilihan ideologi mereka adalah ideologi pertemanan. Entah ideologi macam apa itu.
Homicide adalah sebuah grup hip-hop yang berotakkan budayawan kontemporer bernama Ucok. Entah sudah berapa ratus judul literatur yang dilahap sampai Ia mampu merapalkan sikap apolitisnya dalam ide orang berdasi namun dengan "dialek" preman pasar.
Di banyak lagu, Ia menyatakan berbagai hal, namun muaranya sama, apolitis. Mulai dari ketidakpercayaannya pada demokrasi kotak suara sampai pada ajakannya untuk melawan dengan "botol kecap", sebuah pilihan majas yang unik untuk merujuk pada bom molotov.
Salah satu lirik yang patut menjadi sorotan adalah "Barisan Nisan". Sebuah sajak yang dibalut dengan nada monoton yang membangun suasana mencekam. Sebuah sajak yang bercerita mengenai kegundahan dalam menghadapi hidup. Sebuah perenungan mengenai apa perlunya untuk menjadi pribadi yang peduli terhadap politik versus apolitis.

"Jangan ijinkan aku mendisiplinkan diri ke dalam barisan." (Barisan Nisan - Homicide)
Terakhir adalah Cupumanik. Band grunge ini menjadi pelengkap gerbong musisi apolitis. Dalam lagu "Luka Bernegara", Cupumanik menyatakan sikapnya. Dengan lirik yang naratif namun tetap tak kehilangan keindahan yang puitis, Cupumanik mencoba bercerita mengenai keheranan mereka atas keadaan politik negara mereka. Lirik lagu ini adalah sebuah esai kausalitas mengenai pilihan hidup mereka. Sebuah runutan kejadian dan pembenaran atas sikap mereka.

"Tinggal di negara yang sakit, kami harus menjaga diri kami tetap waras." (Luka Bernegara - Cupumanik)
Menjadi apolitis adalah pilihan. Sebuah pilihan yang biasanya diambil setelah dikecewakan oleh sebuah sistem. Inilah dasar dari seorang anarcho (saya menghindari pemakaian kata anarkis, karena biasanya diasosiasikan dengan keadaan yang kacau-balau). Mengutip perkataan orang lain, "Karena sebaik apapun, sebuah sistem tetap beresiko mati oleh potensi mereka sendiri."

Jumat, Februari 19, 2010

Negeri Maling VS Sueurs

Kalau di Januari lalu anda sempat hadir di Goethe Institut Jakarta, kemudian kebetulan ikut menyaksikan rangkaian film di hari terakhir South to South Film Festival 2010, maka mungkin anda masih ingat dengan film yang berjudul "Negeri Maling". Film ini diputar di rally film pendek yang juga memutar "Pemburu Minyak", "Purnama di Pesisir", "Ilha das Flores", dan "Heureux Qui Comme Edouard".

Secara garis besar, "Negeri Maling" menceritakan perjalanan pengemudi truk yang menemukan banyak sekali ketidakjujuran di sepanjang perjalanan dia dan truk yang dibawanya. Sepertinya cukup banyak orang yang mengapresiasi film ini. Salah satu buktinya adalah film ini didaulat sebagai film pembuka di ajang Festival Film Mahasiswa Indonesia tahun 2009 yang lalu.

Sayangnya, ternyata ide film ini sama sekali tidak orisinal. Ketika menonton, saya langsung sadar kalau ceritanya terlalu mirip dengan salah satu film Perancis, Sueurs (di internasional lebih dikenal dengan judul SWEAT).


Mungkin sebenarnya sah-sah saja jika ada dua film yang ceritanya sama saja, bahkan sampai sama plek. James Cameron pun jelas-jelas hanya menulis ulang cerita Pocahontas ke dalam Avatar. Tapi tentu jika ingin nekad mengikuti jejak Cameron, ada syarat yang mendampinginya: film tersebut harus memiliki nilai lebih.


Dari segi cerita, Avatar memang mendompleng ramuan Pocahontas. Akan tetapi, Avatar jelas memiliki banyak nilai lebih. Kombinasi teknologi grafis CGI dan 3D yang dipakai jelas menjadi salah satu pionir di era baru perfilman dunia. Bahkan film ini mungkin bisa disejajarkan dengan "Cupid Angling" yang diklaim sebagai film berwarna pertama di dunia.

Lantas bagaimana dengan "Negeri Maling"? Apa yang membuatnya lebih baik dibandingkan dengan Sueurs? Jawabannya adalah: tidak ada. Sebagai film independen, "Negeri Maling" tetap tampil tipikal dengan gaya pas-pasan. Sayang sekali jika ternyata di tengah keterbatasan teknologi yang bisa diadopsi saat ini, sineas-sineas Indonesia tetap malas untuk menggali ide-ide cerita yang lebih orisinal. Pada akhirnya, judul film ini menjadi satire sendiri untuk keseluruhan film ini, "Negeri Maling".

Minggu, Desember 13, 2009

the same old richard is back!

it's been a while since my last attendance on their gig. it's more than five years ago at Pekan Raya Jakarta. I remember the night. the night, that made me poke someone there that I don't know and ask, "bang, boleh numpang tidur gak? saya dari bogor nih. udah kemaleman kalo mau balik sekarang." that was freak. yeah, that's one story when I was a young gun, not a rusty revolver like now.

so when i got the information that Pas will play at Taman Mini Indonesia Indah, I think this is something that I couldn't miss. well, not only because I haven't go to any gig in the last few years, but there is some several other reasons:

  1. it's free! free at all! I just bring my ass there, then enjoy the show. thank you so much for Vespa Antique Club that made this event.
  2. Taman Mini Indonesia Indah is not too far away from my residence. it just like two and half hour trip by bus or train.
  3. this is the main reason why i must attending the gig. the drummer for this gig is not Sandy Andarusman, but Mr. Richard Mutter, the former drummer of Pas Band itself. i heard that sandy is on his honeymoon. is it true? ah, just focus to richard mutter.

so this is a reunion concert. if I count it right, this is the third time in the last 2 years, richard sit behind his drum set, again, for Pas Band. He resigned from Pas Band after the Psycho I.D. album. the first reunion was held in Rolling Stone Indonesia Event and the second one was on Jakarta Rock Festival. from what I read on the paper, Richard was giving some influence in those Pas Performance. he's like trigging the bomb that made the gig become much more powerful.

in the first time, I think it just a subjective opinion from peoples that miss Richard so much to play for Pas Band. so I was there, in Taman Mini Indonesia Indah, to prove it by myself.

they start the show at 4.15 PM. well, i'm not really sure about the time precisely. it was pretty crowded and I start bang my head. I lost the repertoir. I don't even remember what was their first song, maybe it was Kembali. I was too excited to release my emotion by sing along, song after song.

trisnoize, richard, and beng-beng (just 2mega pixel phonecamera)

off course my major focus was to the only man who almost always sit during the gig. the drummer, richard mutter. he was so awful. he do not lost the way how to blend his beat to lead every song that Pas played. i feel that i was listening to their record when richard still as the drummer. the beat, the power, the style, name it! it's totally perfect! he is one of the best hard rock drummer that indonesia ever had. even when Pas was playing their soft song, the beat is still powerful, but not excessive. Richard got his style.

if i have to choose between richard and sandy, frankly i have to choose richard. well, sandy is okay, not bad. he is good enough, but the problem is Pas's songs need a powerful, a very very powerful drum beat. that is what Sandy doesn't has.

so the gig was closed by a powerful song, Jengah from their 2.0 album. overall, the show brings my memory back to my days when i was young. yeah, I'm not young anymore. i didn't put myself to the mosh-pit like what i always do when i was a high school boy. not only because i was bringing my lady, but i think i don't have any excess power to slam my body anymore. then the show is over. i ended the evening with a blasting memory from the past. hopely it will give me another stock of flush.

Selasa, Oktober 23, 2007

indie dan kebebasan berfikir

satu badge selalu menggantung di bagian belakang tas saya. tulisannya "straight edge drugs free youth xxx". satu-satunya yang tersisa dari diri saya atas pengembaraan yang telah lama saya tinggalkan. pengembaraan bersama komunitas underground yang sangat-sangat independent. komunitas indie diikat oleh budaya musik yang kuat. kalau di era 80-90an sangat kental nuansa undergroundnya, sekarang komunitas indie sudah lebih terbuka dengan masuknya berbagai jenis musik mulai dari trash sampai musik new wave.

sebagai orang lama yang baru selesai dorman dari hiruk pikuk dunia indie, terus terang saya cukup kaget dengan perkembangan scene indie dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. rupanya saya sudah tertinggal jauh. saya tidak lagi bisa memahami jalan berfikir anak-anak indie. bahkan saya melihat orang-orangnya pun sudah berubah.

jika 10 tahun yang lalu anak-anak indie hanyalah orang-orang yang dianggap sebagai sampah masyarakat (dan orang-orang yang menyampahkan diri mereka sendiri), sekarang semua itu sudah berubah. kesederhanaan yang dulu menjadi identitas komunitas indie telah lenyap tak berbekas. tidak ada lagi anak-anak grunge yang cuek mencari-cari sisa makanan orang yang tak habis di meja-meja restoran fast food (seperti yang dulu biasa dilakukan teman-teman saya). anak indie hari ini dibekali mobil yang nyaman, bahkan terkadang lengkap dengan sopirnya.

tidak ada lagi kaos-kaos murahan dengan tulisan yang isinya kritikan. sekarang distro lebih mirip butik ketimbang media propaganda. kalo dulu saya beli badge straight edge dengan harga sampah, sekarang harga barang-barang di distro semakin tidak masuk akal.

dulu fanzine amat ala kadarnya. majalah yang dibuat dengan serampangan, dengan tulisan yang berisi berbagai hal mulai dari referensi band, review gigs, sampai kritikan-kritikan yang sifatnya destruktif, sekarang sudah berubah. fanzine kini telah menjelma dalam halaman maya, bukan lagi lembaran fotokopian lusuh. memang tidak salah, tapi kenapa sekarang isinya berubah? tidak ada lagi tulisan yang mempertanyakan ketidakadilan. sekarang isinya lebih banyak tentang hal-hal yang berifat keduniawian. bahkan saya tidak habis pikir, kenapa harus mereview kehidupan seorang cewek cantik (secara rutin pula!)? fanzine sudah tidak beda dengan majalah-majalah remaja seperti "Hai" yang telah terjebak dalam selera pasar dan tidak lagi jujur dengan hati.

indie yang berasal dari akar kata independent pada awalnya adalah media untuk menyalurkan apa-apa yang disukai oleh orang-orang yang selama ini termarjinalkan. tempat di mana orang-orang kecil bisa didengar dan eksis. sungguh saya tidak dapat membohongi hati saya. siapa orang-orang yang ada di dalam komunitas ini saat ini? mengapa saya merasa dikhianati oleh komunitas yang pernah memberikan banyak pelajaran bagi saya, ataukah saya yang terlampau kolot? kurang terbuka dengan perubahan yang ada saat ini.

semua sah-sah saja. saya tidak berharap komunitas indie kembali seperti dulu lagi. ketika punk masih berjaya, bukannya pop retro. ketika mohawk masih dibuat dengan lem kayu, bukannya hasil tangan-tangan banci salon. saya juga tidak lantas membenci mereka yang ada saat ini. semua itu soal pilihan. dan bagi saya, komunitas kebanyakaan saat ini lebih banyak perbedaannya dengan saya ketimbang persamaan visi yang kita miliki. saat ini saya masih mencari media pembebasan diri saya. karena komunitas indie tidak lagi banyak memiliki saluran untuk hal itu. saat ini media blog lebih menjadi pilihan yang rasional di mana pemikiran terburuk pun dapat disampaikan dengan gamblang.

didedikasikan untuk ditha desfiana yang sudah mengajak saya bernostalgia sekaligus melongok jauh ke depan dalam luapan waktu.