Dalam satu dekade ini, konsumen Indonesia semakin sadar akan hidup sehat. Dua hal yang kemudian dianggap penting dijaga untuk menghasilkan hidup sehat adalah olahraga dan pola makan. Lihat saja bagaimana banyaknya pusat kebugaran yang dibuka dalam sepuluh tahun terakhir ini. Selain itu, beragam jenis diet juga dikenalkan. Mulai dari diet serat, diet jus, diet buah, dan berpuluh-puluh jenis diet lainnya. Tak pelak, pola hidup sehat sudah menjadi gaya hidup bagi beberapa kalangan.
Kecenderungan dari diet-diet yang dikenalkan di Indonesia, mengacu pada diet yang telah diterapkan di negara-negara maju. Umumnya, mereka cenderung mengurangi konsumsi pangan hewani dan memperbanyak konsumsi pangan nabati. Pada beberapa golongan yang "ekstrim", mereka bahkan merekomendasikan untuk menghentikan sama sekali pangan hewani.
Gaya Hidup Sehat di Indonesia: Tidak Makan Produk Hewani?
Di Indonesia, kampanye-kampanye ini hadir lewat berbagai media. Mulai dari obrolan yang menyebar melalui pergaulan sehari-hari sampai media dunia maya seperti blog. Kampanye yang paling populer mungkin adalah kampanye untuk menghentikan konsumsi daging merah, seperti daging sapi dan kambing. Alasan tingginya lemak dan kolesterol yang terkandung pada daging merah memberi ketakutan akan serangan jantung dan stroke.
Anjuran untuk menghentikan konsumsi pangan hewani yang paling baru terjadi pada susu. Seakan tidak cukup isu susu yang terkontaminasi bakteri E. Sakazakii, kini "nama baik" susu yang selama ini kita kenal sebagai makanan yang bergizi dan penting kembali diuji. Seorang profesor Jepang bernama Hiromi Shinya dalam bukunya, The Miracle of Enzym, menuturkan buruknya susu bagi kesehatan pencernaan manusia. Apakah benar susu selalu buruk pada manusia?
Mari kita melihat konsumsi pangan hewani di Indonesia. Konsumsi per kapita warga Indonesia untuk daging ayam hanya 4,7-7 kg per tahun (bandingkan dengan Brazil yang mencapai 30 kg per kapita per tahun), konsumsi daging sapi 1,9-2,2 kg (bandingkan dengan Argentina yang mencapai 60 kg per kapita per tahun). Hal ini amat jauh dari rata-rata konsumsi daging per kapita negara-negara berkembang yang mencapai 23 kg untuk daging sapi dan ayam.
Lalu bagaimana dengan susu sapi? Menyitir ucapan Prof. Bustanul Arifin dalam acara Indolivestock beberapa tahun lalu, tanpa perlu menyebutkan angka, konsumsi susu sapi di Indonesia per kapita per tahun hanya beberapa tetes. Tidak sampai 1 Liter! Menghitungnya hanya dalam satuan cc! Jika dirata-rata, masyarakat Indonesia nyaris tidak mengkonsumsi susu.
Dengan fakta di atas, maka tidak heran kalau seringkali kita menjumpai kasus gizi buruk bahkan sampai busung lapar di Indonesia. Kasus-kasus ini tidak hanya ditemui di daerah rural, tapi juga di daerah sub-urban bahkan urban.
Pangan hewani dikenal memiliki kandungan protein yang tinggi. Protein amat dibutuhkan pada masa pertumbuhan dan di saat masa penyembuhan. Tercukupinya kebutuhan protein seseorang di masa pertumbuhannya akan berimplikasi pada terbentuknya tubuh yang sehat dan otak yang cemerlang.
Keunggulan Susu
Protein yang berasal dari hewan memiliki kandungan asam amino esensial yang lebih lengkap dibandingkan dengan protein nabati. Asam amino esensial sendiri tidak bisa dihasilkan dari metabolisme tubuh manusia sehingga asupannya dari makanan amat penting. Di antara protein hewani, lainnya, susu memiliki kandungan lemak yang lebih sedikit dibandingkan dengan telur atau daging ayam, sehingga relatif lebih sehat.
Susu relatif lebih terjangkau untuk dibeli oleh warga Indonesia. Harga susu segar tidak sampai Rp 10.000/ L. Bandingkan dengan telur ayam yang mencapai Rp 19.000,00/ kg atau daging ayam yang lebih dari Rp 25.000/ kg. Tidak perlu pula dibandingkan dengan daging sapi yang mencapai 70.000/ kg.
Mengkonsumsi susu pun lebih terjamin kehalalannya jika dibandingkan dengan mengkonsumsi daging. Berbeda dengan daging yang mensyaratkan penyembelihan yang halal, maka susu tidak memiliki syarat perlakuan untuk menjadi halal.
Dibandingkan beternak sapi potong, beternak sapi perah lebih feasible dilakukan di Indonesia. Sapi perah tidak membutuhkan ladang penggembalaan yang luas seperti sapi potong. Sapi perah cukup ditaruh di kandang yang kebersihannya terjamin.
Produktivitas susu sapi di Indonesia masih bisa ditingkatkan lagi. Saat ini produksi susu dari seekor sapi di Indonesia baru sekitar 8 Liter per hari. Idealnya, seekor sapi mampu memproduksi hingga 20 Liter per hari. Pemberian pakan yang tepat dengan cara yang tepat dapat meningkatkan produktivitas susu yang dihasilkan. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan mencacah pakan menjadi ukuran yang lebih kecil. Perlakuan ini amat sederhana, namun sayangnya masih jarang dipraktekkan oleh peternak sapi perah di Indonesia.
Peningkatan konsumsi susu adalah alternatif pemenuhan kebutuhan protein yang paling masuk akal dilakukan di Indonesia. Selain kandungan gizinya yang lengkap, harganya juga relatif lebih murah, dan terjamin kehalalannya. Belum lagi potensi produktivitas susu di Indonesia yang masih bisa ditingkatkan lagi.
Gaya hidup sehat adalah dengan hidup yang seimbang. Tidak terlalu banyak mengkonsumsi satu jenis makanan, tidak pula terlalu sedikit mengkonsumsi terlalu sedikit satu jenis makanan. Dengan berkaca pada terjadinya berbagai kasus gizi buruk dan busung lapar di Indonesia, maka peningkatan konsumsi protein ini amat mendesak untuk dilakukan. Maka tidaklah tepat apabila ada kampanye untuk mengurangi atau bahkan menghentikan konsumsi produk pangan hewani di Indonesia. Warga Indonesia masih membutuhkan lebih banyak protein untuk dikonsumsi. Tidak berlebihan apabila ada yang menyatakan bahwa kekurangan protein berpotensi menghasilkan generasi yang hilang (The Lost Generation). Bangsa ini masih membutuhkan lebih banyak pangan hewani untuk menghasilkan generasi yang dapat diandalkan untuk membangun Indonesia.