Tampilkan postingan dengan label politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label politik. Tampilkan semua postingan

Selasa, September 15, 2020

Social Justice Warrior Balapan


Lewis Hamilton memenangkan seri Gran Prix F1 di Mugello 13 September 2020. Bukan berita yang mengagetkan. Sudah bertahun-tahun Mercedes mendominasi gelaran F1. Hampir selalu lewat Lewis Hamilton. Yang tidak biasa adalah kaos yang dikenakan Lewis pada saat menerima trofi. Selain berpotensi membuat sponsor kesal karena logo di overall balapannya tertutup, tulisan yang tertera juga sangat tendensius.

Arrest The Cops Who Killed Breonna Taylor

Sementara bagian belakang kaosnya menampakkan gambar Breonna dengan tulisan, "Say her name." Maka tidak heran jika FIA sekarang sedang menginvestigasi apakah Lewis Hamilton melakukan pelanggaran dengan mengenakan kaos tersebut.


Breonna adalah seorang perawat yang ditembak delapan kali oleh polisi di kediamannya pada Maret lalu. Dor dor dor dor dor dor dor dor. Delapan kali. Namanya adalah yang paling sering disebut oleh demonstran Black Lives Matter setelah nama George Floyd.

Musim F1 2020 memang beda dari biasanya. Selain berbagai penyesuaian yang terjadi sebagai imbas dari pandemi Covid-19, Balapan tahun ini juga disusupi agenda pejuang HAM. Motornya siapa lagi kalau bukan Lewis Hamilton.

Mulai dari tagline #WeRaceAsOne, bergantinya desain livery Mercedes dari perak menjadi hitam, sampai seremonial moment of reflection tiap sebelum balapan menjadi hal baru yang sebelumnya belum pernah dilakukan FIA di ajang F1.

Lewis Hamilton sebagai satu-satunya pembalap berkulit hitam di F1 justru seperti merasa pesan yang disampaikan tak pernah cukup. Terlihat dari bagaimana kecewanya dia ketika beberapa pembalap memilih untuk tidak berlutut pada saat moment of reflection. Padahal semua pembalap mendukung, turut hadir, dan mengenakan kaos hitam berisi pesan anti rasisme.

Kejadian podium di Mugello dapat dibaca sebagai usaha Lewis untuk mendobrak batasan yang selama ini. Langkah yang kemungkinan besar akan berbuah teguran dan denda. Namun bukan berarti resiko tersebut tidak diperhitungkan. 

Agenda Black Lives Matter penting dan universal, tapi memasukkan agenda tersebut ke dalam F1 rasanya terlalu berlebihan. Selain tidak bersentuhan langsung, sebenarnya F1 sendiri punya batasan sendiri yang mengatur penyampaian pandangan politik lewat platform F1.

Tapi FIA ternyata merestui agenda ini. Sama seperti FIFA yang manut-manut saja ketika agenda Black Lives Matter dimasukkan ke dalam pertandingan sepakbola. Padahal sebelumnya, setiap ekspresi politik di lapangan sepakbola hampir pasti akan berakhir dengan kartu kuning. Mungkin karena kasus rasisme sepakbola cukup tinggi, maka agenda Black Lives Matter cukup relevan dengan sepakbola dan bisa dikecualikan. 
Semangat Aktivisme Lewis adalah nilai lebih. Namun, lebih baik jika Lewis melanjutkan kampanyenya di luar ajang balapan. Peningkatan kesadaran publik mestinya bisa dilakukannya lewat jejaring media sosial miliknya. Lagipula sejauh ini tidak ada kasus rasisme atau diskriminasi apapun di F1. Jadi relevansinya dengan F1 agak kurang pas.

Mungkin akan lain ceritanya kalau kasusnya seperti yang diutarakan Dandhy Laksono. Dandhy meminta dukungan dari pembalap-pembalap MotoGP untuk memberi perhatian pada pembangunan sirkuit Mandalika yang terlilit sengketa lahan dengan penduduk lokal. 


Terlepas dari setuju tidaknya kita dengan pandangan politik beliau, namun desakan yang dia minta dari para pembalap MotoGP ini relevan. Sirkuit ini rencananya akan dipakai sebagai salah satu seri MotoGP mulai 2021 nanti. Maka meminta perhatian pembalap MotoGP adalah hal yang lumrah.

Meminta kesadaran para pihak yang berhubungan dengan keberadaan sirkuit ini mestinya tidaklah mengada-ada. Bagaimana para pembalap tersebut merespon isu ini adalah perkara lain. Kemungkinan besar pembalap MotoGP tidak akan menggubris seruan Dandhy. 

Namun kalau misalnya nanti mereka sepakat mengadakan moment of reflection berjilid-jilid tiap mau balapan di sisa seri tahun ini untuk memprotes penyerobotan tanah di Sirkuit Mandalika, maka itu sebenarnya akan jauh lebih relevan daripada moment of reflection di F1 untuk mengkampanyekan Black Lives Matter. Terdengar lebay? Ya seperti itulah rasanya melihat F1 yang penuh agenda para Social Justice Warrior mancanegara. Lebay.

Jumat, Juni 09, 2017

Warisan, Tapi Bukan yang Itu

Kebetulan saja kita lahir di Indonesia, jadi bisa pasang avatar "Aku Indonesia, Aku Pancasila". Coba kalo kita lahirnya di Nikaragua, mungkin gak kita teriak-teriak bilang "Aku Nikaragua, Aku Pancasila"?

Kita gak bisa milih lahir di mana, dari rahim siapa. Ke-Indonesia-an kita ini warisan. Pancasilanya juga warisan. Apakah pancasila ini paling benar? Mungkin gak sih ada yang lebih adiluhung dari Pancasila?

Gak semua orang di dunia ini mewarisi pancasila. Orang-orang di Nikaragua itu contohnya. Terus, patutkah kita mengasihani mereka karena tidak kenal pancasila?

Orang Amerika ga kenal pancasila. Negara mereka menjadi adidaya tanpa pancasila. Mereka liberal. Bertentangan dengan pancasila. Tapi adidaya.

Cina itu komunis. Bertentangan dengan pancasila. Tapi maju.

Setau saya, tidak ada negara maju yang kenal pancasila. Patutkah kita mengasihani mereka karena mereka tidak pancasila? Atau justru mereka yang harusnya mengasihani kita karena Negara Indonesia begini-begini saja.

HTI mau dibubarin (sudah dibubarin?) karena bertentangan dengan pancasila. HTI mau menegakkan khilafah berdasarkan syariat Islam.

Kenapa dilarang? Pancasila lebih hebat dari syariat Islam? Mungkin. Belum ada buktinya.

Tapi kalau ada negara Islam yang pernah mahsyur menjadi pusat peradaban dunia dengan para cendikianya, itu sudah ada buktinya. Haruskah kita mengasihani mereka yang mau menegakkan khilafah? atau justru kita yang harusnya dikasihani?

Bangsa kita, ngeliat Tatan masuk 9gag aja udah menggelinjang setengah mati. Liat ada bule belajar jadi dalang bangganya sampe ke bulan pulang-pergi 3 rit. Kata Om Joko Anwar, bangsa kita terlalu inferior. Orang Amerika ngeliat orang Indonesia pake celana jeans biasa aja. Kita, liat bule pake batik langsung mabuk kepayang.

Kalo kata pak presiden, negara lain sudah bicara mobil fantasi masa depan, spaceX, kita masih sibuk dengan urusan cantrang. Terlalu remeh.

Oke, udah mulai melenceng. Kembali ke pancasila. Kenapa kita gak bisa menerima orang yang berideologi lain. Boleh saja fanatik dengan satu ideologi, tapi jangan berlebihan juga. Yang pancasilais ga perlu ngelarang-larang yang Islamis. Yang Islamis, juga mestinya gak perlu ngelarang-larang yang komunis.

Yang nasionalis dipersekusi. Yang agamis dikriminalisasi. Yang komunis digebuk. Terus siapa yang menang?

Kita bisa hidup rukun dengan orang yang beda agama, tapi kenapa kita gak bisa hidup rukun dengan orang yang beda ideologi?

Kalau beragama itu urusan personal, harusnya berideologi juga. Yang dibutuhin tinggal saling pengertian, kurangi rasa curiga. Sekali lagi kita perlu belajar untuk bisa menerima perbedaan.

Semoga Indonesia bisa segera damai.

*) Tulisan ini dibuat untuk lucu-lucuan menanggapi tulisan berjudul Warisan buatan Afi Nihaya Faradisa yang sempat jadi viral dan kontroversi. Kalau ada yang nanggepin secara serius tulisan ini, ya itu masalah dia sendiri. =)

Rabu, Juli 02, 2014

Janji Joni, Janji Joko Anwar, dan Janji Joko Widodo

Karya pertama Joko Anwar sebagai sutradara film panjang adalah Janji Joni. Wajar jika Janji Joni disebut sebagai manifesto idealisme seorang Joko Anwar. Dalam film yang ringan namun sarat muatan ini Joko hendak mengungkapkan betapa agungnya sebuah janji. Seriusnya Joko memegang janji, sampai-sampai Ia rela bertelanjang bulat di salah satu gerai Circle-K Bintaro pada medio 2009 lalu. Bahkan sebagai bukti, Ia turut melampirkan foto aksi gilanya tersebut (walau sepertinya sekarang sudah dihapus).

Meskipun terbilang nekad, tidak sedikit pula orang yang mengapresiasi Joko Anwar karena mau menepati janjinya. Apalagi dalam kicauannya, Joko turut menyindir politisi-politisi yang kerap mengingkari janji yang sudah dibuat.

A promise is a promise, Mr. Politicians!
(Joko Anwar, 2009)

Waktu bergulir, 5 tahun berlalu. Sebuah acara skala nasional digelar, Pemilihan Presiden. Joko Anwar bersikap untuk mendukung calon presiden dengan nama depan yang sama dengan dirinya, Joko Widodo. Tidak ada yang salah dengan urusan dukung mendukung calon presiden. Semua punya kelebihan dan kekurangannya. Namun ada yang berubah pada Joko Anwar. Jika sebelumnya Joko Anwar tampil sebagai sosok yang begitu menjunjung sebuah janji, kini Joko Anwar justru memberikan pembelaan atas janji yang diingkari.

Menanggapi tudingan Joko Widodo yang mengingkari janji, Joko Anwar justru memberi pembenaran. Tidak ada lagi Joko Anwar yang dengan gagah berkata, “A promise is a promise, Mr. Politicians!”


Gini. Janji apapun itu, apalagi janji politik, harus kalah demi kepentingan nasional. Jadi udah deh. Tuduhan gak nepatin janji itu lemah.
(Joko Anwar, 2014)

Sekali lagi, tidak salah mendukung Joko Widodo untuk menjadi presiden. Namun sikap ambivalen Joko Anwar patut dikritisi. Jika hari ini Joko Anwar mentolerir ingkar janjinya seseorang, bukan tidak mungkin di kemudian hari Joko Anwar akan mentolerir penyalahgunaan wewenang dengan dalih “for a greater good”. Joko Anwar harus diingatkan. Bukan diingatkan untuk tidak mengkampanyekan Joko Widodo, namun diingatkan untuk tidak membenarkan perbuatan yang salah.

Mendiamkan ingkar janjinya Joko Widodo mungkin lebih baik daripada membenarkannya. Harusnya Joko Anwar tetap bisa kritis walau mengkampanyekan Joko Widodo. Pandji Pragiwaksono yang juga mengkampanyekan Joko Widodo saja bisa tetap bersikap kritis dengan menolak ide Jusuf Kalla, pasangan Joko Widodo.

Perubahan sikap Joko Anwar tidak ekslusif ada pada dirinya. Kecenderungan seperti ini selalu ada di sekitar kita, bahkan dalam diri kita. Sejarah mencatat Soekarno hancur karena sikap-sikap kritis pada dirinya diberangus. Soeharto pun runtuh karena sikap kritis orang-orang di sekitarnya hilang. Jangan sampai sikap kritis dimatikan oleh pengkultusan.

Jumat, April 04, 2014

Penting, Tapi Gak Penting-Penting Amat

Musim kampanye kadang memang bikin jengkel. Ada sih elit partai semacam Fadli Zon atau Fahri Hamzah yang gayanya provokatif. Tapi sejujurnya, yang lebih sering bikin sebel itu justru di akar rumputnya. Debat gak karuan ngebela jagoannya sambil nyela lawan.

Histeria penonton memang kadang lebih seru daripada pelakonnya. Supporter sepakbola -yang cuma hiburan- aja bisa bunuh-bunuhan, apalagi supporter politik yang bawa agenda-agenda serius.

Kadang kalau diperhatiin, mereka justru lebih asyik dengan cela-celaannya ketimbang hal yang lebih fundamental, program kerja. Konyol.

Program kerja itu isu utama, yang lainnya cuma isu pinggiran. Tapi isu pinggiran ternyata lebih sering dibawa ke tengah pusaran. Pinjem istilahnya Fahri Hamzah, karnavalisasi. Sementara isu utamanya justru kelempar ke sudut yang gelap. Gak seksi untuk dibahas.

Gimana pemilih bisa jadi cerdas? Levelnya gak naik-naik. Jongkok terus cela-celaan. Gak bisa lompat mikirin program.

Personality mendapat porsi perhatian lebih besar. Yang katanya ingkar janji lah. Yang penjahat HAM lah. Yang pebisnis kotor lah. Selagi yang nyalon bukan malaikat, bakal tetep aja ketemu aibnya. Yakin deh.

Kampanye juga sebelas dua belas kandungan gizinya. Isinya cuma janji rakyat bakal sejahtera, korupsi diberantas, harga beras murah. Itu kan ujungnya. Tapi cara sampai ke sananya gak pernah dibahas. Masuk akal gak cara-cara yang ditawarin? Boro-boro ada yang nawarin, ada yang maparin juga mungkin bisa diitung jari.

Yang ada nantinya, orang milih lebih karena sentimen-sentimen pribadi. Bukan milih karena desain politik yang diusung jagoannya.

Beneran mubadzir yang kayak begini. Ekornya pasti sakit hati pas jagoannya kalah. Orang yang kayak begini mah ga lebih baik daripada penganut golput.

Yang lebih penting dari milih wakil rakyat dan pemimpin itu justru ada di diri kita sendiri. Penguatan kapasitas, bersinergi, itu lebih penting.

Coba, seberapa besar sih peran presiden ato wakil rakyat hasil coblos-coblosan itu buat perjuangan Butet Manurung membuka jendela cakrawala dunia bagi anak-anak suku Kubu? Mungkin nyaris tidak ada. Tapi perubahan tetap terjadi. Itu baru satu contoh.

Tanpa kehadiran sistem yang diproduksi demokrasi a la kotak suara pun kita ternyata tetap bisa melakukan perubahan. Tahun-tahun terakhir ini banyak yang menganggap Indonesia sebagai negara autopilot. Toh negara ini bertahan.

Nyoblos itu penting, tapi gak penting-penting banget.
Dapet pemimpin jelek itu derita, tapi bukan kiamat.

Sekalipun nanti hasil pemilu tidak sesuai keinginan, tetap ada harapan untuk terjadinya perubahan. Caranya ya itu tadi, dari diri sendiri.

Selasa, Desember 18, 2012

Pulang: Kerinduan Akan Tanah Air



Pertama kali melihat sampul buku “Pulang” di toko buku, ingatan saya langsung menerawang pada sebuah  buku karangan Andre Gorz yang diterbitkan oleh Resist Book, Sosialisme & Revolusi. Pilihan warna, dan font serta corat-coret ilustrasi yang sejenis membuat saya menduga bahwa buku ini pasti juga nyerempet hal-hal yang berbau kiri. Ketika saya membalik buku tersebut untuk membaca sinopsis ceritanya di belakang, tentu saja, bulls eye!

Bandingkan cover Sosialisme & Revolusi
(Andre Gorz) dengan cover Pulang
Begitu eksotisnya tema kiri di Indonesia hingga tak terhitung lagi berapa banyak novel yang menyematkan peristiwa G30S(/PKI?) ke dalam isinya. Ayu Utami dalam buku “Manjali & Cakrabirawa” atau ‘Blues Merbabu”-nya Gitanyali mungkin bisa menjadi dua contoh aktual bagaimana novel populer era 2000-an pun masih menganggap seksi tema tersebut. “Pulang” pun mencoba peruntungannya di tema tersebut.
Dengan tebal cerita mencapai 451 halaman, “Pulang” mampu mencapai spektrum yang luas dalam ceritanya. Andai saya menjadi Leila S. Chudori, sang penulis, mungkin saya akan memilih untuk membagi cerita ini menjadi 2 buku seperti Ayu Utami yang membelah cerita “Laila Tak Mampir di New York” menjadi “Saman” dan “Larung”. Namun ternyata Leila tak memilih opsi itu dan cukup percaya diri melepas “Pulang” yang setebal batu bata ini dengan harga yang tidak ekonomis.
Kisah berputar pada kehidupan dua tokoh utama ayah-anak, Dimas Suryo dan Lintang Utara. Diceritakan bahwa Dimas Suryo, seorang jurnalis yang sedang mendapat tugas kantor untuk menghadiri pertemuan jurnalis di Santiago, Chile, tiba-tiba mendapati dirinya tidak bisa pulang ke tanah air. Bertepatan dengan kepergiannya tersebut, ternyata di Indonesia meletus peristiwa G30S. Sialnya dia dianggap salah satu simpatisan partai komunis yang dianggap sebagai pemberontak tersebut hingga paspornya dicabut.
Namun di balik kesialan tersebut, ada untungnya juga. Andai saja ia ada di dalam negeri, bukan tidak mungkin Dimas Suryo akan ikut diculik, dibunuh, lalu mayatnya berakhir mengapung di sungai seperti yang diceritakan Aji Suryo, adiknya, ketika berkorespondensi dengannya. Bersama 3 kawan lainnya yang menjadi eksil politik, Dimas, Nugroho, Tjai, dan Risjaf meretas jalan panjangnya sampai akhirnya berlabuh di Paris. Di kota yang indah ini, empat sahabat ini mencoba memulai hidup baru, termasuk memulai keluarga baru.
Cerita kedua kemudian beralih ke Lintang Utara. Anak dari Dimas Suryo hasil perkawinannya dengan Vivienne Deveraux, gadis Prancis yang ditemuinya pada sebuah peristiwa demonstrasi di Universitas Sorbonne pada Mei 1968. Lahir dan besar di Paris tidak membuat Lintang tercerabut dari akar leluhur ayahnya yang asli Indonesia. Kisah-kisah perwayangan, batik, kebaya, dan makanan-makanan khas Indonesia akrab dengan dirinya meskipun ia tak sekalipun pernah menjejakkan kakinya di indonesia. Sampai akhirnya, pada usia 22 tahun, dosennya di Universitas Sorbonne, memerintahkannya untuk membuat film dokumenter yang amat berkaitan dengan masa lalu ayahnya di Indonesia.
“Pulang” adalah sebuah novel yang boros tokoh. Namun tidak perlu khawatir, kemampuan Leila S. Chudori memberi karakter yang kuat pada tokoh-tokohnya membantu pembaca untuk dapat mengenali dengan baik tokoh-tokoh yang hadir di buku ini. Meskipun demikian, beberapa tokoh tetap terasa tidak penting sama sekali. Sebagai contoh Sumarno “Si Telunjuk” yang kehadirannya hanya ada di dua scene sama sekali tidak signifikan. Begitu pula rekan-rekan Segara Alam di LSM Satu Bangsa yang namanya bahkan tidak sampai sepuluh kali disebut di dalam novel.
Cerita kekejaman yang menimpa para anggota PKI dan keluarganya sudah banyak  kita dengar. Namun hanya sedikit yang mampu memberi kesan seperti yang dituturkan dalam kisah Surti Anandari berikut ketiga anaknya di buku ini. Uniknya, meskipun mampu memberi kesan yang mendalam, pendeskripsian kekejaman pihak militer yang dituturkan di dalam buku ini tidak brutal. Sebagai istri dari pegiat kiri, Hananto Prawiro, Surti harus merasakan beratnya tekanan mental ketika diinterogasi berbulan-bulan lamanya oleh pihak militer. Kisah yang dibumbui cinta segitiga antara Dimas-Surti-Hananto ini kemudian diakhiri dengan pilu ketika akhirnya Hananto ditangkap di tempat persembunyiannya. Tenang, ini bukan spoiler, scene tertangkapnya Hananto ini justru menjadi pembuka cerita novel ini.
Buku ini secara cerdas juga mampu menangkap fenomena Stockholm Syndrome seperti yang digambarkan dalam pernikahan Rukmini, mantan istri Nugroho yang buronan politik dengan Letkol Prakosa, tentara yang turut andil dalam membantai simpatisan komunis di Indonesia. Pernikahan antara yang diteror dengan yang meneror seperti yang terjadi pada kisah Rukmini dan Letkol Prakosa ini memang benar-benar banyak terjadi di dunia nyata.
Fragmen lain yang baik sekali ditampilkan dalam buku ini adalah bagaimana konflik yang terjadi ketika Rama, anak Aji Suryo, yang hendak menikahi Rininta, anak seorang Direktur di Perusahaan BUMN. Bagaimana sulitnya keluarga yang di KTP-nya diberi cap ET (Eks Tapol) dalam membangun kehidupan sosial di masyarakat yang sudah kadung benci kepada apapun yang berbau komunis. Saya sampai harus sejenak mengatupkan buku ini ketika Lintang berkata,”Bukan hanya nasi goreng!” kepada keluarga Rininta sebagai bentuk protesnya atas diskriminasi yang diberlakukan kepada ayah dan teman-temannya di Paris.
Untuk anak-anak generasi 2000-an seperti sekarang ini mungkin akan amat sulit membayangkan bagaimana “kesalahan” salah seorang anggota keluarga, katakanlah seorang paman, bisa diwariskan kepada keluarganya yang lain hingga harus menerima sanksi sosial yang dilegitimasi dalam peraturan pemerintah. Saya masih ingat sebuah film komedi jadul yang saya lupa judulnya (rasanya yang main adalah grup Pancaran Sinar Petromaks; PSP). Seorang pria hendak melamar pekerjaan sebagai sopir pada sebuah keluarga. Sebagai bekal melamar, dia melampirkan Surat Keterangan Bebas G30S/PKI. Saya yang naif ketika itu tertawa terbahak-bahak karena menyangka surat itu adalah bagian dari komedi. Namun ternyata tidak, Surat Keterangan Bebas G30S/PKI itu memang benar ada. Ketika mengetahui hal tersebut, saya tidak habis pikir. Betapa absurdnya surat tersebut. Betapa absurdnya Negara Indonesia. Betapa absurdnya Orde Baru.
Cara bertutur buku ini yang ringan mampu mengimbangi cerita sejarah politik Indonesia yang centang-prenang. Walaupun sebenarnya kadang saya sedikit terganggu dengan diksi yang dipakai Leila. Sebagai contoh, saya sangsi seorang Surti akan menggunakan kata “kuliner” dalam suratnya ke Dimas pada tahun tujuh puluh-delapan puluhan. Rasanya kata “kuliner” amat asing di Indonesia sampai pada tahun 2000-an akhirnya dipopulerkan oleh Bondan Winarno berikut frase “mak nyus” dan “top markotop”.
Korespondensi antara Lintang Utara dan Dimas Suryo juga terasa aneh dengan hadirnya diksi yang terlalu puitis seperti kata “kerap”. Memang Lintang dibesarkan dengan berbagai karya sastra, termasuk sastrawan Indonesia semacam Chairil Anwar atau Rivai Apin. Namun tetap saja aneh menggunakan kata seperti kata “kerap” di dalam korespondensi.
Bagaimanapun, “Pulang” mampu membalut roman kehidupan Dimas Suryo dengan kejadian-kejadian sejarah tanpa membuatnya terasa “kering”. Kisah-kisah kelam yang terjadi sepanjang medio 1965-1968 sudah banyak dituangkan dalam berbagai media seperti film dokumenter atau buku. Namun menceritakan kisah tersebut dengan mengangkat sisi humanis dalam sebuah novel seperti yang dilakukan Leila S. Chudori melalui “Pulang” jarang dilakukan. Bagaimana seseorang yang dibenci oleh bangsanya sendiri akan selalu merindukan tanah airnya. Bagaimana seseorang yang sudah sedemikian hangatnya diterima di negeri rantau akan selalu memendam hasratnya untuk dapat pulang.

Rabu, Oktober 19, 2011

Strategi untuk Fadel


Sosok Fadel Muhammad sebenarnya menyisakan kontroversi. Sebagian besar orang mengagumi prestasi beliau baik ketika sebagai Gubernur Gorontalo, tapi tidak sedikit juga yang menuding beliau masih terjangkit penyakit lama Orde Baru.
Keputusan Presiden memberhentikan Fadel secara misterius sebenarnya bisa dimanfaatkan pihak Fadel. Sebagai menteri yang memiliki catatan cukup baik sekaligus pro rakyat, momen ini bisa dijadikan sarana promosi untuk jabatan yang lebih tinggi, presiden.
Langkah politik SBY mendepak Fadel bisa menjadi bumerang. Sebelumnya, SBY pun keluar dari kabinet Megawati untuk menyiapkan diri menjadi presiden. Dengan mencitrakan dirinya sebagai sosok yang di-“dzalimi”, SBY pun sukses mendulang suara untuk memenangkan kursi presiden medio 2004 yang lalu.
Adapun perbedaannya, jika dulu SBY mengundurkan diri, kini Fadel justru didepak. Dengan menggunakan strategi yang sama digunakan SBY dulu, Fadel harusnya bisa mendulang simpati lebih banyak lagi, karena dia lebih ter-“dzolimi” (dan lebih ganteng =P). Langkah politik SBY ini dapat berubah menjadi bumerang. Adalah sebuah tamparan telak bagi kubu SBY apabila hal ini terjadi.
Pertanyaan utamanya kemudian adalah, relakah Golkar, terutama sang ketua umum, mencalonkan Fadel Muhammad sebagai presiden pada pemilu 2014 mendatang? Mengingat ambisi Aburizal Bakrie pun cukup tinggi untuk menjadi RI-1.

*Jarang-jarang nih tema current affair masuk ke blog ini. Hehehe.

Jumat, Agustus 12, 2011

(A)Politik dalam Lagu

Sebenarnya iklim kebebasan berpendapat di Bandung sangat baik. Banyak muncul diskursus yang menelurkan dan mengembangkan berbagai jenis pemikiran. Mulai dari yang paling idealis sampai yang paling oportunis. Mulai dari kanan habis sampai kiri mentok.
Manifestonya dalam budaya musik mereka bisa dengan terang kita lihat. Mulai dari musik bling-bling urban sampai sampai shoegaze yang muram. Mulai dari pop yang terkena gejala ADHD sampai metal yang mencekam.
Dari sekian banyak lirik yang mengalir, ada satu catatan mengenai sikap politik yang dipilih oleh sebagian musisi kota Ini. Dari sekian banyak lirik politik yang ada, ternyata pilihan untuk menjadi apolitis adalah tema yang paling jamak diramu dalam nomor-nomor yang dihadirkan.
Saya mencatat pertama kali sikap apolitis tersirat dalam lagu "impresi" yang dibawakan Pas Band. Secara gamblang mereka tidak pernah menyatakan sebagai pribadi yan apolitis, tetapi dari liriknya jelas tersirat hal tersebut.
"Aku sudah bosan dengarkan kata-kata, Aku sudah muak dengarkan ceritamu. Dan aku sudah lelah dengar harapan." (Impresi - Pas Band)
Lagu yang video klipnya dilarang untuk diputar di seluruh stasiun TV nasional ini adalah sebuah pernyataan yang lugas bahwa mereka apolitis tanpa harus menyebut bahwa mereka adalah apolitis.
Sikap ini kemudian dipertebal beberapa belas tahun kemudian ketika kemudian Pas Band mengeluarkan lagu "Jengah". "Jengah" adalah sebuah "Impresi 2.0". Jengah adalah Impresi yang di-remake. Untungnya, remake ini adalah remake yang sukses.
"Kita bosan dengarkan banyak alasan. Kita bosan dengarkan cerita." (Jengah - Pas Band)
Lepas dari Pas Band, sikap apolitis juga dihadirkan oleh Homicide. Grup yang dalam salah satu pertunjukannya menyebut bahwa pilihan ideologi mereka adalah ideologi pertemanan. Entah ideologi macam apa itu.
Homicide adalah sebuah grup hip-hop yang berotakkan budayawan kontemporer bernama Ucok. Entah sudah berapa ratus judul literatur yang dilahap sampai Ia mampu merapalkan sikap apolitisnya dalam ide orang berdasi namun dengan "dialek" preman pasar.
Di banyak lagu, Ia menyatakan berbagai hal, namun muaranya sama, apolitis. Mulai dari ketidakpercayaannya pada demokrasi kotak suara sampai pada ajakannya untuk melawan dengan "botol kecap", sebuah pilihan majas yang unik untuk merujuk pada bom molotov.
Salah satu lirik yang patut menjadi sorotan adalah "Barisan Nisan". Sebuah sajak yang dibalut dengan nada monoton yang membangun suasana mencekam. Sebuah sajak yang bercerita mengenai kegundahan dalam menghadapi hidup. Sebuah perenungan mengenai apa perlunya untuk menjadi pribadi yang peduli terhadap politik versus apolitis.

"Jangan ijinkan aku mendisiplinkan diri ke dalam barisan." (Barisan Nisan - Homicide)
Terakhir adalah Cupumanik. Band grunge ini menjadi pelengkap gerbong musisi apolitis. Dalam lagu "Luka Bernegara", Cupumanik menyatakan sikapnya. Dengan lirik yang naratif namun tetap tak kehilangan keindahan yang puitis, Cupumanik mencoba bercerita mengenai keheranan mereka atas keadaan politik negara mereka. Lirik lagu ini adalah sebuah esai kausalitas mengenai pilihan hidup mereka. Sebuah runutan kejadian dan pembenaran atas sikap mereka.

"Tinggal di negara yang sakit, kami harus menjaga diri kami tetap waras." (Luka Bernegara - Cupumanik)
Menjadi apolitis adalah pilihan. Sebuah pilihan yang biasanya diambil setelah dikecewakan oleh sebuah sistem. Inilah dasar dari seorang anarcho (saya menghindari pemakaian kata anarkis, karena biasanya diasosiasikan dengan keadaan yang kacau-balau). Mengutip perkataan orang lain, "Karena sebaik apapun, sebuah sistem tetap beresiko mati oleh potensi mereka sendiri."

Selasa, Mei 17, 2011

Rumahnya di mana, Pak?

Mahasiswa : Pak, minta alamat bapak dong. Kali-kali pengen maen.

Wakil Rakyat : Oh.. boleh-boleh.. Jalan kesatuan nomor 8.

Mahasiswa : Yah.. jangan alamat rumah pribadi dong. Alamat rumah dinasnya di mana?

Wakil Rakyat : (eeee buset.. emang gue dapet rumah dinas ya?) emh.. mm.. alamat rumah dinas ya? Mmm.. di mana ya? (manggil staff ahli) Coba kamu kasih tau adek mahasiswa ini rumah dinas saya di mana.

Mahasiswa : Pak, jangan bercanda dong, pak. Rumah dinas bapak di mana?

Wakil Rakyat : Iya.. iya.. Nanti biar dikoordinasikan dengan staff ahli saya saja ya..
Rakyat : Pak rumah dinas bapak di mana jadi sebenernya?

Wakil Rakyat (2) : Rumah dinas kami di Gedung DPR/MPR Senanyan.

Rakyat : *gedubrak*

* * *

Mau rumah pribadi kek, rumah dinas kek, email pribadi kek, email resmi kek. Esensinya kan untuk menjalin komunikasi?

Buat apa ngirim aduan ke alamat email resmi anggota DPR, kalau inboxnya sendiri gak pernah dibuka? Mendingan ngirim ke email pribadinya yang jelas-jelas rutin dibuka sama dia.

Buat apa ngotot minta alamat email resmi anggota DPR itu? Cuma buat nge-bully/ ngeledek/ mlonco mereka? Mungkin ini ya mental hasil didikan ospek?

Sabtu, Desember 11, 2010

Kedinastian Indonesia



Untuk orang yang tinggal di luar Yogyakarta, mungkin aneh melihat keinginan sebagian masyarakat di sana yang ngotot menjadikan Sri Sultannya sebagai Gubernur langsung tanpa proses pemilihan. Lama tinggal di alam demokrasi membuat saya tidak habis pikir,"Kok masih ada orang yang pikirannya seperti mereka?"

Rasa gasal itu kemudian terkikis ketika saya mengenal lebih baik Sri Sultan Hamengkubuwono X. Sebagai seorang pemimpin, beliau amat perhatian pada rakyat. Besarnya rasa cinta beliau pada rakyatlah yang membuat Ia pun begitu dicintai. Andaikan Sri Sultan bukan orang yang bijak, rasanya rakyat Yogya tidak akan sengotot itu untuk mempertahankannya sebagai Gubernur.

Sikap pemerintah pusat yang "memaksakan" demokrasi berlaku secara merata di Indonesia bukan hal yang salah. Wajar-wajar saja, karena Indonesia memang negara demokrasi. Bahkan konon kabarnya, Indonesia adalah salah satu negara demokrasi terbesar di dunia.

Namun demikian, mungkin rakyat negara ini belum terlalu siap untuk berdemokrasi. Akar sejarah kita yang terdiri dari ratusan kerajaan agaknya masih terlalu kuat menempel pada cara pikir bangsa ini. Tidak sedikit dari bangsa kita yang masih menyimpan romantisme indahnya sebuah kedinastian. Kejadian di Yogya tadi hanya satu contoh.

Mungkin kita masih ingat bagaimana Soeharto di ujung kekuasaannya pun sebenarnya sudah mulai mempersiapkan suksesor. Di periode terakhir masa pemerintahannya kita melihat nama Siti Hardiyanti Rukmana, yang merupakan anak kandung Soeharto, sebagai menteri sosial. Capable-kah beliau? Yang jelas, program kupon makan gratis, salah satu program andalan Departemen Sosial ketika itu, gagal.

Apakah hanya itu contoh kedinastian di pemerintahan Indonesia? Tentu tidak. Dinasti Soekarno lebih dahsyat lagi. Megawati Soekarnoputri berhasil menjadi presiden perempuan pertama Indonesia sedikit banyak karena mendompleng terbantu oleh kharisma bapaknya. Tidak sedikit pendukung Megawati yang sebenarnya hanya orang yang merindukan kepemimpinan Soekarno. Ketika mereka mengharapkan sosok Soekarno dapat sekali lagi muncul melalui anaknya, ternyata harapan mereka hanya pepesan kosong belaka.

Tidak berhenti sampai di situ. Masih dari Dinasti Soekarno, Megawati agaknya juga mulai mempersiapkan suksesor. Masih ingat menjelang Pemilihan Umum 2009 yang lalu? Ketika calon-calon presiden mulai mempersiapkan calon-calon wakil presidennya, tiba-tiba entah terbawa angin apa, muncul nama Puan Maharani, anak Megawati, di bursa calon wakil presiden. Padahal kalau dipikir-pikir, andil Puan dalam perpolitikan Indonesia ketika itu masih amat minim. Sekarang pun kontribusinya belum bisa dibilang banyak.

Inilah wajah politik Indonesia. Hasil dari dipaksakannya sistem demokrasi ke dalam sebuah bangsa yang sejatinya masih enggan menggunakannya. Tentunya Pemilu 2014 nanti menarik untuk kita tunggu. Apakah dinasti SBY masih akan berlanjut? Entah itu melalui anaknya atau seperti wacana yang dilontarkan Hayono Isman, yaitu melalui Ani Yudhoyono, istri Pak SBY.

Jumat, Oktober 22, 2010

Bangsa ini butuh waktu untuk memaafkan

Bukan kemurahan maaf dari kita, orang Indonesia kebanyakan, yang menjadi penting. Kemurahan maaf dari mereka yang menjadi korban langsungnyalah yang harusnya menjadi pertimbangan utama. Sesuatu yang mungkin, maaf-maaf saja, tidak akan pernah ditemukan harga jadinya.

Maaf dari mereka yang pernah terkencing-kencing ketika orang tuanya ditarik paksa karena cap komunis. Maaf dari istri orang-orang seperti Wiji Tukul. Juga maaf dari orang tua seperti Herman Hendrawan yang hilang tak tentu rimba hingga saat ini.

Empati kita, yang orang Indonesia kebanyakan, rasanya tidak akan pernah bisa memahami kepiluan yang mereka rasakan. Ini bukan konsensus di mana suara terbanyak yang akan menentukan arah. Tidak adil jika suara kita, yang hanya menikmati swasembada pangan dan kesiapan menuju era tinggal landas, harus diberi harga yang sama dengan suara mereka yang telah didesain dalam keadaan rugi.

Mungkin sulit untuk meminta keikhlasan mereka di generasi ini. Maka hanya waktu yang bisa menyembuhkan. Hanya waktu yang bisa mereduksi kemarahan di tiap kelanjutan generasi kita. Sesuatu yang mungkin tidak akan tercapai dalam dekade ini. Sebuah proses panjang yang sadar tidak sadar telah kita mulai. Sampai waktunya nanti kita bisa dengan ikhlas mengatakan,"Terima kasih, pahlawan."

Senin, Januari 18, 2010

politik statistik

politik bukan hanya sekedar angka-angka, karena yang seperti itu namanya statistik. tapi apa boleh buat, partai politik sekarang hanya peduli dengan angka, sudah enggan menyentuh akar rumput. bilapun iya, maka setiap belaian yang mereka usap ke akar rumput harus terkonversi menjadi sederet angka.

akar rumput lebih dipandang sebagai komoditas, bukan sebagai playground di mana mereka bisa saling membenturkan ideologi dan konsep. padahal program-program berkelanjutan di akar rumput bisa menjadi media promosi kesuksesan suatu ideologi. hanya cuap-cuap dengan saos kecap.

filantrofi bukan sebagai tanggung jawab moral, boro-boro menambah amal. hanya menjadi penting jika bisa menjadi kemenangan di pemilu dan pilkada. tatkala pemilihan usai, bendera warna-warni tersimpan rapat di lemari partai. tidak ada lagi yang berkibar di lokasi korban bencana.

kacamata kuda partai politik, mereka yang dididik dengan demokrasi statistik. di mana pemenang ditentukan dengan jumlah dan rakyat tak pernah mendapat kesempatan untuk menelaah.

Rabu, Januari 13, 2010

ideologi

dengan alasan menutupi defisit anggaran, pemerintah kota pekanbaru akhirnya memberlakukan pajak daerah sebesar sepuluh persen untuk nasi bungkus. ironis, ketika salah satu propinsi terkaya di indonesia justru lebih memilih untuk meminta kepada rakyat kecilnya, bukan dari mereka yang mapan yang bekerja di perusahaan-perusahaan multinasional di sana.

mungkin keadaan seperti ini juga yang kemudian membulatkan tekad H. Misbach untuk kemudian bergabung dalam gerakan awal PKI. marah dengan kraton yang tidak henti-hentinya menghisap darah rakyat dan kecewa dengan melempemnya perjuangan HOS Cokroaminoto dengan Muhammadiyahnya serta Serikat Islam yang justru sibuk memperkaya diri sendiri.

tidak banyak yang mengenal siapa H. Misbach saat ini. wajar saja, "fatwa haram" komunis oleh pemerintah orde baru memang membuat tenggelam banyak nama pejuang komunis di Indonesia. padahal kalau mau kita gali, kontribusi orang-orang komunis terhadap kemerdekaan Indonesia tidak bisa dibilang kecil. mulai dari aktivis-aktivis yang "menculik" Soekarno ke Rengasdengklok untuk memaksanya menyatakan kemerdekaan Indonesia sampai Ki Hajar Dewantara adalah orang-orang komunis.

tulisan ini tidak ditujukan untuk membela atau memutihkan nama PKI. mungkin memang CIA memainkan peran belakang panggung yang luar biasa hebatnya pada medio 1965 yang lalu. tidak bisa disangkal bahwa memang ada keterlibatan beberapa petinggi PKI dalam gerakan tersebut seperti yang dipaparkan oleh John Roosa. namun apa tujuan semua itu? semua masih kabur.

ide yang ditawarkan pada tulisan ini lebih membahas mengenai komunisme sebagai sebuah ideologi. dilarangnya ideologi ini di Indonesia lebih disebabkan karena pemberontakan Madiun dan G30/S-PKI. sebenarnya tidak adil memutus haram suatu ideologi hanya karena satu dua tindakan. bayangkan saja bagaimana tidak logisnya apabila Islam dilarang hanya karena adanya gerakan NII-DI/TII yang ingin makar atau karena FPI main hakim sendiri mengacak-acak tempat yang mereka sebut maksiat.

dalam perkembangannya komunisme pun memiliki banyak mazhab, ada leninisme, maoisme, anarcho-communist, dan lain-lain. kalau memang ada hal-hal yang bertentangan dengan ideologi pancasila, bukan tidak mungkin mengadopsi komunisme dengan citarasa yang lebih Indonesia.

kebencian masyarakat terhadap komunis sebenarnya lebih disebabkan sentimen tanpa alasan. alasan atheisme dengan mudah dapat dipatahkan. jika memang komunisme tidak mempercayai tuhan, lantas bagaimana mungkin komunis jutru masuk ke Indonesia pertama kali melalui organisasi Serikat Islam?

sebagai sebuah ideologi yang berlandaskan materialisme, komunisme memang cenderung mengabaikan eksistensi tuhan. tapi hal ini tidak membuat mereka bisa dicap sebagai atheis. lawan utama komunisme, kapitalisme, pun melandaskan prinsip-prinsip materialisme dan cenderung mengabaikan eksistensi tuhan. tapi mengapa ideologi ini dapat lebih diterima di Indonesia? kedua ideologi ini bukanlah sebuah paket dengan harga pas yang tidak dapat ditawar. lihat saja bagaimana H. Misbach yang berjuang bersama komunis dengan tetap meletakkan Al-Quran sebagai landasannya.

obrolan ideologi memang bukan makanan ringan yang bisa disantap santai di warung-warung kopi. banyak orang yang mengaku pancasilais tetapi mengancam akan membunuh siapapun yang ingin membangkitkan kembali komunisme. di mana letak kemanusiaan yang adil dan beradab-nya? maka mahfumlah apabila sedikit yang paham benar dengan apa itu komunisme. pancasila pun saat ini hanya sekedar lima sila tanpa makna yang menggema tanpa jiwa di upacara hari senin.

tidak banyak yang tahu bahwa tataran ideal komunis adalah sebuah masyarakat yang adil, sejahtera, dan bahagia, pun menyenangkan. tidak banyak yang paham bahwa komunis yang menganut paham internasionalisme (lawan dari nasionalisme) adalah penentang keras setiap bentuk penjajahan di muka bumi ini.

saya sendiri tidak dalam posisi mendukung berkembangnya komunisme di Indonesia. tapi saya juga tidak akan melarang-larang. kalau Islam pun bisa semoderat PKS, maka komunisme maupun ideologi-ideologi lainnya pun bisa menjadi moderat.

buat saya, semua ideologi adalah utopia, sesempurna apapun ideologi tersebut. karena dalam praktiknya, ideologi tersebut tetap harus dijalankan oleh manusia, yang memiliki berjuta kealpaan.

Selasa, September 01, 2009

sekali ini, kita bicara soal orisinalitas

walau hanya sekejap, tapi saya berani bilang bahwa saya pernah berkecimpung di dunia kreatif. sebagaimana anak muda lain yang sedang meraba identitasnya, saya memilih untuk nge-band bersama teman-teman sekolah ketika itu. dengan modal suara pas-pasan dan pengetahuan struktur lagu yang jauh dari memadai, saya masih mampu membuat beberapa lagu. ya, beberapa lagu.

lagu-lagu yang selalu dengan bangga saya dendangkan sambil bersusah payah menarikan jemari mengganti kuncian pada frat-frat gitar. tidak peduli ada atau tidak ada yang mendengar, tidak peduli ada atau tidak ada yang mengapresiasi. untuk saya, dengan kemampuan minimal, mampu merangkai lagu sendiri adalah kebanggaan.

dengan gitar ini, lagu-lagu itu biasa saya mainkan.

tak jarang teman berkomentar tentang lagu-lagu saya. tidak terlalu banyak yang mengapresiasi memang. tetapi sering kali komentar mereka seperti ini, "ini lagu siapa sih? kayaknya gue pernah denger." mahfum mereka menanyakan lagu siapa, karena memang lagu-lagu tersebut baru saya perkenalkan ke telinga mereka. tetapi banyak dari mereka yang seperti sudah familiar dengan lagu-lagu saya. seperti berusaha mengingat, tapi kemudian ingatan tersebut tersangkut di salah satu lekukan otak.

rasanya tidak ada orang yang mau disebut plagiat. namun bagaimanapun juga, pengaruh luar akan selalu ada di dalam setiap karya, termasuk karya musik. dengan wawasan musik yang ada, tentunya saya pun secara tidak sadar menjadi "dituntun" ketika membuat lagu. dituntun oleh wawasan saya. saya dituntun intuisi saya untuk membuat progresi yang enak dilangkahkan, saya dituntun oleh intuisi saya untuk merangkai lirik yang megah, dan intuisi saya digerakkan oleh pengetahuan musik yang saya miliki.

karya-karya saya tidak mungkin orisinil. sama seperti karya orang-orang lain juga. dari pee wee gaskins sampai Sebastian Bach, mereka semua pasti memiliki pengaruh dari luar. bisa dipastikan tidak ada yang orisinil.

maka ketika ribut-ribut lagu kebangsaan Malaysia dituduh menjiplak lagu Terang Bulan, saya memilih untuk tidak ambil pusing. ternyata pilihan sikap saya seperti mendapatkan pembenaran. selang beberapa hari kemudian Remy Silado pun memberi klarifikasi bahwa ternyata lagu Terang Bulan pun menyadur lagu perancis. lucu sekaligus ironis.

untuk apa capek-capek menuduh mereka penjiplak? toh sehebat apapun progresi not yang bisa dibuat tetap saja maksimal berpijak pada 7 not yang ada pada tangga nada diatonis. orisinalitas dalam musik sudah hilang sejak awal. orisinalitas di dalam musik sudah habis ketika bunyi pertama terdengar di dunia ini. orisinalitas itu hanya milik Ia, Yang Maha Mencipta.

Kamis, Juli 05, 2007

Mencari ondel-ondel pengganti Sutiyoso

terus terang, akhir-akhir ini gue lagi tertarik sama pilkada di jakarta. walopun gue bukan orang jakarta, tapi sebagai warga negara yang peduli terhadap ibukota negara kita, gue milih untuk peduli.

gue bukan pendukung adang atopun fauzi. malahan, i don't give a damn for them. gue lebih milih merhatiin kerjaan partai-partai yang ada. asal lo tau baik adang (diusulkan oleh PKS) maupun fauzi (diusulkan oleh beberapa partai), kalo gak salah mereka itu sebenernya bukan kader dari partai manapun. yah... bisa dibilang sebenernya mereka adalah calon independen.

kenapa hal ini bisa terjadi? kenapa partai-partai yang ada nggak nyalonin kader-kadernya aja? apa susahnya sih? apa mereka nggak punya kader yang kompeten buat ngegantiin sutiyoso? alesannya bukan itu. ini semua terkait dengan UUD. bukan UUD sebelum amandemen ataupun UUD sesudah amandemen. UUD adalah "Ujung- Ujungnya Duit". kalo misalnya partai A majuin kader dari partai mereka, maka biaya kampanye (yang sangat-sangat tidak sedikit itu) harus ngucur dari kas mereka. sementara kalo mereka mengusulkan "orang lain" justru kas mereka bisa keisi. kalo lo ngikutin berita yang ada, kan sempet muncul berita mantan jenderal udah nyerahin duit milyaran rupiah biar bisa jadi wakil gubernur ngedampingin fauzi bowo, taunya gagal. tapi duitnya tetep ngelayang.

hal kayak begini gak cuma kejadian di jakarta aja. di banten juga ada kejadian serupa. marissa haque, yang merupakan kader PDIP, diusulkan jadi gubernur Banten oleh PKS. tapi anehnya PDIP-nya sendiri gak mau nyalonin Marissa Haque. kenapa? yah... karena kalo dia nyalonin kadernya, "ongkos" partainya bakalan gede. mendingan nyalonin orang dari luar biar bisa dapet setoran.

busuk? emang busuk! politik itu busuk! gak salah kalo ada yang jadi skeptis dengan politik. kalo masih ada yang bilang,"ah... itu cuma oknum. masih ada koq partai yang nggak kaya gitu...", itu semua omong kosong. udah nyata kalo yang namanya partai itu kerjaan utamanya nyari duit. ngebelain rakyat itu optional aja. gue nggak bilang kalo gue anti partai. gue cuma bilang kalo partai-partai itu busuk. mungkin aja 15 taun dari sekarang gue jadi fungsionaris utama partai apaan gitu... kalo sampe gue begitu, artinya gue udah mulai dibutakan oleh uang. (tolong ingetin gue ya... ;P)

fungsi partai politik sebenernya adalah untuk menghasilkan birokrat-birokrat ulung. tapi dengan kenyataan bahwa nggak ada partai yang ngebawa kadernya ke posisi utama di bidang eksekutif, maka udah secara jelas ngebuktiin kalo partai politik telah gagal mengemban tugas ini. gagal karena tidak mampu, atau gagal karena "tidak mau" mengemban tugas ini? lo konklusiin aja sendiri.

kalo nyata-nyata partai politik udah gagal ngasilin kader yang mumpuni untuk mimpin tangkup kekuasaan dan lebih milih "boneka" dari luar untuk dimainkan sebagai pemimpin, kenapa calon independen terus dilarang?

kenapa calon gubernur jakarta nggak boleh berasal dari orang non-partai yang tidak diusulkan oleh partai? padahal jelas statusnya bakalan sama aja dengan orang non-partai yang diusulkan oleh partai kan? kalo alesannya karena secara hukum itu nggak memungkinkan, ya ubah aja aturannya. jelas-jelas aturan itu kebukti belum bebas masalah (ato kalo kata orang IT, gak bugs-free).

gue di sini nggak dalam posisi ngebuat lo (yang warga jakarta) bingung harus milih yang mana... milih iblis ato milih setan. terlepas dari segala kekurangan yang bejibun, pasti setiap orang masih punya hal yang baek (sekaligus membuktikan bahwa calon yang ada bukanlah iblis atopun setan, as real as their flesh and blood!).

pilih apapun, tapi jangan pilih "boneka ondel-ondel" yang digerakin parpol untuk mimpin ibukota jakarta.

nb: tidak memilih adalah sebuah PILIHAN yang juga harus dihargai.

Senin, Juni 25, 2007

pilih langsung... ini demokrasi, bung!

"syahdan tersebutlah "sapta" sebuah kedai makan yang ramai akan pikuk manusia. terutama di kala mentari berteriak dengan lantangnya. tak hanya mereka yang beristirahat barang sejenak dari ladang ilmu pengetahuannya, tapi vertebrata lain pun banyak yang menilik berkah yang terkandung dari sapta.

kala itu, dua ekor kucing sedang menanti berkah yang turun dari sisa makan kaum cerdik pandai. kebetulan sekali, kaum cerdik pandai itu adalah dua orang rekan sejawatku. dalam aroma sop murah mereka bercengkrama laiknya dua sahabat yang baru bertemu selepas perpisahan yang panjang. selesai makan, tertinggallah onggokan piring kotor beserta sisa makanannya. sepotong tulang ayam adalah yang paling jelas terlihat di atas piring tersebut. perut sudah kenyang, piring telah kotor, namum kedua cerdik pandai itu belum lagi menanggalkan tempat duduk mereka. kedua piring tadi disingkirkan ke samping mereka.

satu kucing sadar bahwa apa yang masih tersisa di atas piring itu adalah halal baginya. maka dari itu, ia melompat ke atas kursi, lalu naik ke atas meja. dengan seksama dia mengendus isi piring. mengharap ada barang sepotong rejeki untuknya. tatkala tulang ayam terendus, salah seorang rekan saya itu mengusir kucing yang dengan lancangnya naik ke atas meja. agaknya dia tidak suka kaki kucing yang kotor itu berada di tempat makan yang seharusnya bersih.

kucing turun dengan tangan hampa. cerdik pandai yang lain lalu berkata, "wah, lo MUTUSIN REJEKI kucing tuuuh... kan dia mau makan...." , sembari berkata demikian, ia mengambil tulang ayam itu, lalu melemparnya ke hadapan kucing yang tadi naik ke atas meja. dengan sigap sang kucing menangkap tulang yang melayang di hadapannya. si kucing lalu menikmati santap siangnya.

kucing satu makan, kucing lain masih melongo. kucing lain mendekati kucing satu. mengharap sedikit welas asih dari kucing satu. bukan untung, malah buntung yang didapat. kucing satu rupanya tidak sudi berbagi tulang. tulang adalah miliknya dan itu berlaku untuk selamanya. kucing satu menyerang kucing lainnya karena merasa santapannya berada dalam situasi yang tak menguntungkan. dua kucing berkelahi karena sepotong tulang.

melihat hal itu, rekan cerdik pandai yang tadi mengusir kucing satu dari meja berkata,"tuuh kan... gara-gara lo! lo malah MUTUSIN TALI SILATURAHMI kucing jadinya." "

sepenggal cerita gak mutu tadi memulai postingan gue kali ini. gue mau ngomong, gak selamanya yang lo liat bener itu, bakal jadi bener dalam kondisi makro. hidup selalu dipenuhi dengan pilihan-pilihan. beberapa pilihan amat mudah untuk diambil solusinya. beberapa yang lain rumit. beberapa yang lain menjadi jebakan, terlihat mudah jika dipandang sekilas, tapi menjadi rumit apabila dipikirkan masak-masak. contoh dua kucing dan dua cerdik pandai itu adalah salah satunya. setiap kita mungkin akan menilai tindakan memberi tulang ke kucing adalah pilihan yang baik. tapi taunya malah bikin kucing berantem.

pengambilan keputusan adalah kunci dari baik ato nggaknya hasil yang kita dapet nantinya. lalu apa yang menjadi dasar pengambilan keputusan? sayang banget... di alam demokrasi ini kita terlalu mengagung-agungkan suara rakyat. vox populis, vox Dei. suara rakyat, suara Tuhan. siapa yang mengklaim? emangnya begitu? gak selamanya yang dimauin itu adalah yang terbaik.

sebenernya dalam demokrasi yang dianut indonesia ada nilai-nilai kearifan dengan mengambil keputusan secara musyawarah untuk mufakat. dalam bermusyawarah, kita kedepankan segala argumen dan pertimbangan untuk mencapai mufakat. dengan berlandaskan pada akal sehat dan budi pekerti yang luhur, sangat mungkin keputusan yang diambil memang adalah yang terbaik.

tapi apa kabar indonesia hari ini? pemilihan umum secara langsung. kalo begini caranya, ini lebih mirip yang kuat, yang berkuasa. siapa yang bermassa, dia yang berjaya.

pertanyaannya...
apakah pemilihan umum secara langsung memang lebih baik?
atau musyawarah anggota DPR (walopun katanya anggota DPR itu korup-korup) untuk memilih presiden itu lebih baik?
ato ada mekanisme laen yang bisa lebih mengedepankan akal sehat dan lebih menghargai hak-hak kaum minoritas?

ini pertanyaan yang amat menjebak. dan dibutuhkan kearifan untuk menjawabnya. terus terang gue nggak punya jawabannya, tapi kalo lo punya, kenapa gak dibagi ke yang laen?