Tampilkan postingan dengan label gaya hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gaya hidup. Tampilkan semua postingan

Jumat, Juni 27, 2014

Menolak Penolakan "Yuk Keep Smile"

Salah satu adegan “Yuk Keep Smile” (23/6/2014) kembali membuat berang sebagian masyarakat. Membandingkan anjing dengan Alm. Benyamin Sueb tentu amat melukai perasaan penggemar Bang Ben. Namun apakah permintaan menghentikan tayangan “Yuk Keep Smile” adalah solusi yang tepat di tengah masyarakat yang mengaku menjunjung demokrasi?
Seandainya yang meminta “Yuk Keep Smile” berhenti tayang adalah mereka yang tempo hari meminta penganut ajaran Ahmadiyah menghentikan kegiatan keagamaannya, maka saya bisa maklum. Orang-orang ini jelas tidak memahami –atau bahkan tidak mengakui- arti demokrasi. Namun jika ternyata yang meminta “Yuk Keep Smile” berhenti tayang adalah mereka yang membela penganut Ahmadiyah dengan dalih kebebasan beragama, maka maafkan saya apabila saya bilang mereka adalah orang-orang munafik.
Tayangan “Yuk Keep Smile” –sebodoh apapun itu- tetap harus dianggap sebagai manifestasi kebebasan berekspresi. Sama dengan penganut Ahmadiyah yang harusnya dijamin bebas menjalankan ibadahnya sebagai bagian dari kebebasan beragama. Kenapa harus dilarang? 
Apabila benar dihentikan, bukan tidak mungkin “Yuk Keep Smile” akan bermetamorfosis menjadi acara lain, namun esensinya sama-sama saja. Sejarah membuktikan bahwa acara “Empat Mata” yang dihentikan akhirnya lahir kembali sebagai “Bukan Empat Mata”. Bukan hanya kontennya yang tidak berubah, Pemilihan judul “Bukan Empat Mata” sendiri adalah sebuah cemoohan yang terang benderang bagi mereka yang sebelumnya minta acara “Empat Mata” dibredel.
Jika memang ada perlakuan yang tidak pantas dalam sebuah acara televisi, maka harusnya yang dihukum adalah orang-orangnya. Siapa mereka? Pengisi acara yang melakukan penghinaan. Produser acara yang bertanggung jawab atas acara tersebut. Bahkan, bukan tidak mungkin, penonton yang menertawakan hinaan tersebut. Namun jangan pernah sekali-kali meminta acaranya yang dihentikan.
Kondisi ini menunjukkan pada kita bahwa ternyata “demokrasi”, “kebebasan berpendapat”, “kebebasan beragama” tidak diletakkan sebagai pondasi berpikir dan bertindak. Jargon-jargon tersebut ternyata hanya senjata, dikeluarkan jika memang dibutuhkan. 
Setiap orang tentu memiliki kondisi idealnya masing-masing. Ada orang yang merasa resah ketika mengetahui tetangganya adalah penganut Ahmadiyah. Padahal kalau dipikir, solusinya mudah. Batasi saja pergaulan dengan tetangga tersebut. Ada juga orang yang resah ketika tontonan yang tayang di televisi adalah acara yang bodoh. Khawatir anaknya ikut menjadi bodoh. Padahal solusinya juga tidak kalah mudah. Ganti saja kanal televisinya atau sekalian matikan televisinya.

Sabtu, Juni 08, 2013

Ketika Indonesia Gagal Menemukan People’s Champion

Sumber: http://loymachedo.com/

William Hung, pria keturunan Asia, dengan kualitas suara di bawah rata-rata sekonyong-konyong menyedot perhatian Amerika Serikat. Kualitas penampilannya yang pas-pasan ternyata menjadi anti-tesis dari pakem yang selama ini dipegang industri musik Amerika Serikat. Angka penjualan album pertamanya mencapai 200.000 keping lebih. Dua album berikutnya juga mencatat hasil yang tidak terlalu mengecewakan, 35.000 dan 7.000 keping. 
Cerita William Hung di atas setidaknya membuktikan bahwa kualitas tidak selalu berbanding lurus dengan popularitas. Begitu banyak penyanyi dengan kualitas baik di dunia, tapi sejarah hanya mencatat segelintir saja. Hal ini amat disadari oleh industri musik dunia, termasuk di Indonesia. Kalau tidak, nama-nama seperti Kangen Band atau Mbah Surip tidak akan pernah menjadi fenomena di negeri ini.

William Hung; Sang Fenomena
Industri musik tidak melulu soal musik. Weird Al Yankovic menggabungkan musik dan humor. U2 memasukkan agenda-agenda politiknya dalam syair, Lady Gaga senantiasa tampil teatrikal. Industri musik bukanlah sekedar hiburan untuk memanjakan telinga. 
Ada sebuah pengalaman yang dituntut untuk bisa dinikmati dalam sebuah paket musik. Tuntutan yang lebih besar ketimbang sekedar suara indah. Maka dari itu, untuk menjadi seorang biduan yang populer dibutuhkan lebih dari teknik vokal yang mumpuni. Dapat dimengerti jika kemudian Simon Cowell mengkritik acara The Voice dengan blind audition-nya dengan berujar,”The Voice should have been on the radio.” 
Sebuah kritik mengenai bagaimana industri musik tidak bisa hanya mengandalkan kualitas vokal artisnya.
Dalam rangka mencari calon orang-orang populer di dunia musik, maka industri membutuhkan riset pasar. Industri berusaha memahami apa yang diinginkan konsumen. Tidak ada urusan soal bagus atau jelek. Apa yang pasar minta, maka itulah yang industri sediakan.
Maka lahirlah ajang pencarian bakat (talent show). Dengan penilaian yang didasarkan pada hasil voting masyarakat, setidaknya penyelenggara kemudian dapat menilai nilai jual seorang peserta dari dukungan yang didapat. Tujuan dari ajang ajang pencarian bakat seperti ini memang bukan mencari yang terbaik secara kualitas. Acara-acara model ini mencari apa yang disebut People’s Champion. Juara yang dipilih oleh rakyat. Serupa tapi tak sama dengan demokrasi.
Ajang pencarian bakat adalah sebuah riset pasar gaya baru. Jika sebelumnya riset pasar membutuhkan biaya yang besar, maka riset pasar melalui talent show tidak demikian. Riset ini justru menyenangkan banyak pihak dan yang utama bagi industri musik adalah: mengundang sponsor. 
Academia, Idol, X-Factor, The Voice, sebut saja yang lain. Semua acara tersebut adalah riset yang dilakukan industri musik untuk mencari tahu keinginan pasar. Terbukti, tak sedikit alumni dari acara-acara tersebut memang menjadi idola baru. Contoh yang paling gres tentu saja adalah One Direction yang merupakan jebolan X-Factor UK.
Indonesia, sebagai bagian dari masyarakat dunia, tentu tidak mau ketinggalan. Berbagai jenis franchise talent show mencoba peruntungannya di Indonesia. Mulai dari Akademi Fantasi, Indonesian Idol, sampai X-Factor berusaha “meriset” keinginan masyarakat Indonesia.
Setidaknya acara-acara model ini sudah berkiprah sekitar satu dasawarsa. Tiap musim acara berakhir, maka riset juga selesai. Idealnya, hasil riset kemudian di-up scale ke dalam skala industri. Namun ternyata, hasil riset yang ada selama ini lebih banyak melempem. Coba, alumni talent show Indonesia mana yang benar-benar sukses. Ada berapa banyak? T2 alumni AFI rasanya cukup lumayan. Kotak dari Dreamband juga cukup sukses. Sisanya? Hilang ditelan bumi. Delon? Justru lebih beruntung sebagai bintang film.

T2; Dari Sedikit yang Sukses (Sumber: http://music.oryn-cell.com
Mengapa riset pasar yang sudah dilakukan industri musik melalui talent show di Indonesia tidak “bunyi” di industri musik? Kalau boleh menduga, mungkin jawabannya adalah karena riset yang dilakukan di Indonesia tidak memenuhi “kaidah riset” yang baik dan benar untuk sebuah ajang pencarian bakat. 
Kegagalan ajang pencarian bakat Indonesia dalam menemukan sang People’s Champion amat berkaitan dengan sistem voting yang digunakan. Sebagai contoh, dalam acara American Idol, voting dilakukan melalui telepon. Satu nomor hanya memiliki jatah satu suara. Hal ini amat berbeda dengan sistem voting pada talent show yang ada di Indonesia di mana, penonton justru diminta untuk sebanyak-banyaknya melakukan voting
Adanya sampel yang terduplikasi dalam proses pemilihan, menjadikan hasil voting bias. Seorang peserta dengan seribu pendukung bisa saja mengalahkan peserta lainnya yang memiliki satu juta pendukung. Asalkan seribu pendukung peserta pertama tadi mengirim voting dengan akumulasi lebih dari satu juta kali. 
Jika hasil riset ini dinaikkan skalanya ke level industri musik sebenarnya, di mana prestasi ditunjukkan dari berapa kopi albumnya yang terjual, maka jelas sang pemenang akan melempem. Hasil maksimal pembelian kopi album hanya berkisar di angka seribu keping. Padahal data risetnya menunjukkan ada satu juta lebih penggemarnya. Realisasinya hanya 0,1%.
Hal ini amat mungkin terjadi. Salah satu faktor pendukung terjadinya hal ini adalah panjangnya durasi voting. Jika di ajang pencarian bakat luar negeri, voting biasanya baru dimulai setelah acara dan berakhir dalam beberapa jam, maka di Indonesia voting nyaris bisa dilakukan selama 24 jam, 7 hari seminggu. Voting terhadap seorang peserta bisa dilakukan bahkan sebelum peserta tersebut unjuk kebolehannya. Luar biasa.
Jumlah dan durasi voting yang begitu terbuka lebar tidak akan pernah menjawab siapa People’s Champion yang sebenarnya. Hasil voting hanya menunjukkan militansi dari pendukung masing-masing peserta. Dukungan terbesar mungkin tidak datang dari penilaian yang obyektif, melainkan dari kedekatan voter dengan peserta, entah itu sebagai keluarga, teman, satu sekolah, satu daerah, rekan kantor, dan sentimen-sentimen lain yang jelas tidak ada hubungannya dengan selera musik masyarakat pada umumnya.
Selain jumlah dan durasi voting, hal lain yang juga menjadi inhibitor ditemukannya sang People’s Champion adalah ongkos voting. Hampir seluruh ajang pencarian bakat di Indonesia menerapkan tarif kepada voter ketika memilih. Bukan hanya tarif biasa, namun tarif premium, yang harganya bisa sepuluh kali dari tarif normal! 
Mahalnya ongkos untuk menjadi seorang voter tentu saja berimbas pada para  swing voters, yang berasal dari masyarakat awam. Masyarakat yang tidak memiliki kedekatan emosional apapun dengan para peserta. Masyarakat yang justru paling obyektif untuk mendeskripsikan bagaimana selera pasar yang sesungguhnya.
Dengan diberlakukannya tarif premium, para swing voters justru akan lebih memilih menjadi golongan putih (golput). Hal yang kontras justru terjadi di Amerika Serikat di mana untuk melakukan voting, voter justru dikenakan layanan bebas pulsa sehingga swing voters tertarik untuk berpartisipasi. Semakin banyak swing voters bersuara, semakin handal hasil riset pasar tersebut.
Selama sistem voting yang diterapkan ajang pencarian bakat di Indonesia tidak berubah, maka jangan terlalu banyak mengharapkan People’s Champion lahir dari acara-acara model ini. Akan ada banyak People’s Champion gagal bersinar karena terkubur timbunan suara hasil voting bertarif premium peserta lain semenjak awal kompetisi.

Rabu, November 21, 2012

Orang Madura & Stereotipe di Sekitarnya

Beberapa suku di Indonesia punya stereotipe tertentu mengenai pekerjaannya. Misalnya, orang batak identik dengan sopir bus & angkot, tukang tambel ban, atau pengacara. Contoh lainnya orang padang identik sebagai pedagang.
Selain ada stereotipe yang sifatnya nasional seperti di atas, ada juga yang sifatnya lokal. Maksudnya lokal adalah, stereotipe itu cuma berkembang di daerah tertentu saja. Misal di Jabotabek ada stereotipe kalau orang Tasikmalaya identik sebagai tukang kredit. Orang di Sumatera mungkin tidak akan "ngeh" dengan stereotipe ini.
Orang Madura pun punya stereotipe atas pekerjaannya. Beberapa stereotipe yang sudah level nasional tentu saja adalah tukang sate dan tukang bubur. Selain stereotipe yang sifatnya nasional, orang madura juga punya stereotipe yang sifatnya lokal. Misalnya di Magelang, orang madura sering diasosiasi dengan tukang pangkas rambut. Hal ini tidak dikenal di Jabotabek, karena di Jabotabek tukang pangkas rambut identik dengan para Asgar (Asli Garut).
Satu stereotipe terkenal lain mengenai orang madura adalah sebagai tukang pengumpul besi tua. Sebenarnya stereotipe ini hanya bersifat lokal di Jabotabek, tapi menjadi terkenal karena arus informasi berpusat di Jakarta, lokasi di mana stereotipe ini berkembang.

Jembatan Suramadu (sumber gambar)


Medio 2009 lalu, ketika Jembatan Suramadu baru diresmikan, sempat ada kabar kalau baut-baut di Suramadu hilang. Awalnya Saya tidak percaya, namun ternyata memang benar kabar itu. Kemudian muncul tuduhan bahwa orang Madura, yang menurut orang Jakarta "rajin mungutin" besi-besi di jalan, sebagai penyebabnya.
Sebuah tuduhan yang tidak berdasar menurut Saya. Beberapa argumen yang bisa Saya gali antara lain adalah  sebagai berikut:


Stasiun Kereta Kamal 
  1. Pertama, ada kemungkinan bahwa baut-baut itu memang belum terpasang. Jadi ketiadaan baut-baut dan plat penutup jalan tersebut bukan dikarenakan hilang, namun lebih karena pekerjaannya yang memang belum selesai.
  2. Stereotipe orang Madura adalah pengumpul besi adalah stereotipe lokal. Kebetulan karena stereotipe ini berkembang di Jakarta, kicauan ini lebih cepat tersebar, bahkan sampai masuk ke dalam meja redaksi media-media arus utama.
  3. Kereta api dulu pernah beroperasi di Madura. Sampai saat ini, sisa-sisa rel besinya masih membentang dari Pelabuhan Kamal sampai pusat Kota Bangkalan, bahkan sampai terus ke Sampang di sisi timur. Jika memang orang-orang di Madura memang oportunis dalam mengumpulkan besi, lalu kenapa sisa-sisa rel ini masih tergeletak begitu saja dari tahun 1987 sampai hari ini?
Rel Kereta yang Terbengkalai Masih Ada Sampai Saat Ini

Minggu, Oktober 07, 2012

Ada Tiwul Goreng di Obrok-Obrok

Nama lokalnya obrok-obrok. Disebut demikian karena ketika sepeda motornya berjalan di areal perkebunan yang jalannya bergelombang, isi rak jualannya terbanting-banting sehingga menimbulkan suara "obrok-obrok-obrok-obrok".

Obrok-obrok

Obrok-obrok adalah istilah untuk pedagang makanan yang biasa berkeliaran di areal perkebunan tebu di Lampung. Mereka berkeliling dengan menggunakan sepeda motor. Sementara barang dagangannya disusun di dalam rak yang ada di bagian belakang sepeda motor.

Target pasar obrok-obrok adalah para buruh harian di areal perkebunan. Di mana ada kerumunan manusia, di sanalah obrok-obrok berada. Utamanya adalah di areal tebangan di mana banyak buruh tani memanen batang tebu untuk diangkut ke truk dan dibawa ke pabrik. Di satu areal tebangan, bisa ada dua sampai lima obrok-obrok parkir.

Umumnya pekerja ini membeli dengan sistem bon. Setiap kelompok kerja biasanya sudah punya obrok-obrok langganan. Makanan yang dibeli dicatat oleh si penjual. Pembayaran biasa dilakukan di akhir pekan tiap sabtu, hari ketika para pekerja menerima gaji.

Dagangan yang tersusun di rak obrok-obrok cukup variatif. Mulai dari gorengan sampai nasi uduk. Minuman es pun tersedia, yang paling populer adalah es marijan. Sebenarnya es marijan ini adalah air es dengan campuran minuman energi sachet-an. Disebut es marijan karena bintang iklan produk tersebut adalah almarhum Mbah Marijan, sang juru kunci Gunung Merapi.

Salah satu menu unik yang biasa ada di obrok-obrok adalah tiwul goreng. Saya pertama kali kenal makanan ini karena melihat teman saya, yang sesama pengawas lapangan, makan dengan lahap di atas sepeda motornya.

"Mau, Re?" dia menawarkan. Awalnya saya agak sangsi dengan apa yang ia makan.

"Tiwul goreng. Rasanya kayak nasi goreng," Dengan logat Jogja kota asalnya, ia menjelaskan panganan yang sedang dimakannya.

Dari namanya, tiwul jelas berasal dari Jawa. Tiwul terbawa ke Lampung bersama dengan arus transmigrasi yang demikian masif semenjak awal 1900-an. Demikian masifnya, sampai-sampai wilayah di Lampung pun banyak yang "berbau" Jawa, sebut saja Way Jepara dan Pringsewu. Di pedesaan, jangan heran jika menemui anak-anak bawah lima tahun yang tidak bisa berbahasa Indonesia dan hanya mengenal bahasa Jawa. Umumnya mereka baru mengenal bahasa Indonesia ketika duduk di bangku Sekolah Dasar.


Tiwul Goreng

Kembali ke tiwul. Tiwul sendiri sederhananya adalah tumbukan singkong yang sudah dikeringkan. Untuk membuat tiwul goreng, tiwul dicampur dengan beras kemudian dimasak menjadi nasi tiwul. Hasilnya kurang lebih seperti campuran nasi dan jagung pada nasi jagung. Selanjutnya nasi tiwul itu dimasak seperti membuat nasi goreng. Inilah yang disebut dengan tiwul goreng.

Berbeda dengan ekspektasi awal saya, ternyata rasa tiwul goreng itu enak, bahkan cenderung ke "enak banget". Sebungkus tiwul goreng lengkap dengan sepotong tempe hanya seharga Rp 2.500,00. Citarasanya tidak jauh berbeda jika dibandingkan dengan nasi goreng biasa. Sedikit perbedaan hanya pada teksturnya yang cenderung liat. Selain itu, Tiwul goreng juga lebih "nendang" daripada nasi biasa. Sebungkus kecil tiwul goreng sudah cukup untuk mengganjal perut selama seharian muter-muter di kebun  tebu.

Akhirnya, kegiatan mencari tiwul goreng untuk sarapan ini menjadi kebiasaan baru saya dan teman saya. Setiap pagi, setelah selesai memprogram rencana irigasi dan traktor untuk perawatan tebu bersama anak buah, kami selalu meluncur ke lokasi tebangan, mencari obrok-obrok. Setelah itu, biasanya kami mencari rimbunan tebu yang sepi untuk sarapan. Bersembunyi dari Manajer Wilayah yang sewaktu-waktu bisa saja memergoki kami mencuri waktu sejenak untuk sarapan.

Kebun Tebu

Tiwul yang selama ini identik dengan makanan inferior, ternyata jika ditilik dari harganya kini sudah layak untuk "naik kasta". Bukan karena saya dan teman saya yang orang kota bisa jatuh cinta pada cicipan pertama pada tiwul. Namun karena harga tiwul dari hari ke hari semakin meroket.

Di daerah Lampung Tengah dan Lampung Timur, harga tiwul mencapai Rp 8.000,00 per kilogramnya. bandingkan dengan harga beras kualitas sedang di sini yang hanya Rp 7.000,00 per kilogramnya. Berdirinya beberapa pabrik bioetanol berbasis singkong di Lampung agaknya turut punya andil dalam melambungkan harga tiwul.

Namun demikian, meskipun harganya kian hari makin meroket, rasanya tiwul tidak akan pernah dilupakan oleh penggemar awalnya. Ia akan tetap setia bersama mereka yang semenjak dulu telah mengenalnya,  para pekerja kelas bawah.


Sabtu, Agustus 11, 2012

[Site Review] carmall.com: Jangan Beli Mobil Baru Dalam Karung!


Walaupun pemerintah sudah menaikkan uang muka kredit mobil sampai minimal 30%, ternyata minat masyarakat untuk membeli mobil tetep tinggi lho. Kayaknya krisis eropa gak banyak pengaruhnya ya untuk Indonesia. =D

Kenapa Harus Mobil Baru?
Walaupun harganya lumayan kerasa beda, sebenarnya banyak keuntungan beli mobil baru dibandingin dengan mobil bekas. Keuntungan yang paling utama adalah jaminan bahwa kendaraan tersebut emang benar-benar masih bagus. Gak jarang orang yang membeli mobil bekas ketipu dengan penampilan luar. Body mulus, cat mengkilap, eh gak taunya pas dipake malah sering jajan ke bengkel.
Banyaknya pilihan merk dan jenis kendaraan roda empat menyisakan calon konsumen dalam kegamangan dan kebimbangan (Halah...). Jangan sampe kita beli kucing mobil dalam karung. Nah, masalah ini yang coba dicarikan solusinya oleh carmall.com, sebuah cara cari mobil baru praktis.
Bisa aja sih kita mondar-mandir keluar masuk dealer untuk ngebanding-bandingin mobil yang ada. Tapi cara ini jelas gak efektif. Selain makan waktu yang gak sedikit, di tiap dealer pasti para sales gak bakal ngelepas kita gitu aja untuk sekedar nanya-nanya. Pasti mereka bakal berusaha biar kita langsung bikin transaksi saat itu juga. Padahal untuk milih-milih mobil, harus mikir panjang dengan tenang, karena beli mobil adalah  investasi yang ngelibatin duit yang gak sedikit. Gimana bisa mikir tenang kalo dirong-rong sama sales-sales yang punya jurus bujukan maut?

Kalau mau beli ponsel, kan gak jarang kita sampai beli tabloid yang isinya katalog ponsel-ponsel yang ada lengkap berikut spesifikasi dan harga jualnya. Sebagai calon konsumen tentu kita ingin membanding-bandingkan ponsel-ponsel yang ada lebih dulu sebelum benar-benar membeli. Jangan sampai sudah beli mahal-mahal ternyata kebutuhan kita tidak bisa terpenuhi.

Nah carmall.com ini melakukan hal yang sama. Hanya bedanya, produk yang diinformasikan di situs ini adalah mobil. Kalau untuk ponsel yang harganya “cuma” jutaan saja kita bisa segitu selektif, apalagi kalau mau beli mobil. Harga mobil baru gak cuma puluhan, tapi ratusan juta, bahkan miliaran lho.
Tapi sebelumnya, perlu diingat, bahwa carmall.com bukanlah situs jual beli online. Situs ini hanyalah sistem informasi mengenai mobil baru. Untuk pembelian dan transaksi, calon pembeli tetap harus pergi ke dealer terdekat. Jadi jangan khawatir kalau harga yang dimuat di situs ini sudah di-mark up. Gak ada untungnya buat carmall.com sendiri. =D

Memilih Calon Mobil
Amat penting bagi calon pembeli untuk memiliki pengetahuan awal mengenai calon mobil yang akan dibeli agar bisa memutuskan dengan lebih tenang. Jangan sampai calon pembeli bingung memutuskan akan membeli mobil mana ketika sudah sampai di dealer mobil.
Sistem informasi yang baik selalu diawali dengan database yang kuat. Jadi, pertama kita lihat database situs ini dulu. Database merk mobil yang tersedia di carmall.com ini lengkap dan selalu up date. Mulai dari Audi sampai VW, semua ada. Ada lebih dari 30 merk mobil yang dipajang di situs ini. Pilah-pilih juga bisa didasarkan pada jenis mobil, misal: mobil sedan, hatchback, SUV, MPV, bahkan mobil sport juga ada. Buat kamu yang sensitif sama harga, tenang aja. Situs ini juga nyediaan kategori-kategori mobil berdasarkan range harga. Cakep banget kan! :-D

Sekarang gimana kalau mau nyari mobil dengan mengkombinasikan kategori-kategori yang ada? Kalem, search engine internal situs ini bisa kok memfilter berdasarkan kebutuhan kita yang bener-bener spesifik. Tinggal masukin Merek mobil yang dicari, range harga sesuai budget yang kita punya, dan tipe kendaraan yang kita inginkan.

Kalau sudah punya calon-calon jagoan, kita juga bisa ngebandingin antar mobil yang mau kita beli dengan fitur komparasi. Gak Cuma 2-3 mobil, tapi kita bisa bandingin sampai 8 mobil sekaligus! Dengan fitur ini, kita jadi mudah ngebanding-bandingin antar jenis mobil baik dalam satu merk atau beda merk. Informasi yang dibandingin mencakup distributor, dealer-dealer yang ada, harga, spesifikasi, sampai fitur-fitur yang tersedia di mobil tersebut.

Salah satu keunggulan dari informasi harga yang ada di situs ini adalah bukan hanya harga jual sekarang yang dicantumkan, tapi juga harga beberapa waktu sebelumnya, harga tertinggi, dan juga harga terendah yang pernah dicapai mobil tersebut dalam enam bulan terakhir. Jadi kita bisa tau apakah membeli mobil tersebut adalah sebuah investasi yang baik atau tidak.
Kalau pilihan sudah mantep, kita tinggal melangkahkan kaki ke dealer terdekat. Dealernya di mana? Oh tenang aja, carmall.com juga punya kok database dealer-dealer mobil di berbagai kota di Indonesia.

Fitur-Fitur Andalan
Fitur lain yang cukup menarik di situs ini adalah Simulasi Kredit. Dengan fungsi kalkulator ini, kita cukup memasukkan jenis mobil yang hendak kita beli, kemudian masukkan berapa persen yang akan kita kredit (inget, maksimal yang bisa dikredit sekarang 70%, karena uang muka minimal sekarang 30%) lalu tinggal tekan tombol “Hitung”. Kita juga bisa mensimulasikan berapa persentase bunga kredit dan berapa tahun kita akan mengangsur kredit. Dengan cepat, kita bisa mengetahui berapa uang muka yang harus dibayar dan berapa cicilan per bulan, serta total biaya yang harus dikeluarkan.

Selain fitur-fitur yang sangat membantu tadi, situs ini juga dilengkapi dengan promo-promo mobil baru yang sedang berlangsung, artikel-artikel otomotif, dan lokasi-lokasi dealer mobil, bengkel, serta pom bensin. Kurang lengkap apalagi coba? >,<
Yah, walaupun awalnya agak pusing juga sama user interface yang kelewat rame (saking lengkapnya informasi), tapi akhirnya bisa juga kok terbiasa. Yang pasti situs ini amat berguna untuk kamu yang sedang mencari mobil baru. Keunggulan yang utama tentu saja adalah database yang lengkap serta fitur-fitur pendukung andalannya seperti komparasi mobil dan simulasi kredit. Carmall.com bener-bener nyediain informasi yang dibutuhkan para pemburu mobil baru.

Rabu, Juli 04, 2012

Memperbaiki Gizi Bangsa Dengan Susu



Dalam satu dekade ini, konsumen Indonesia semakin sadar akan hidup sehat. Dua hal yang kemudian dianggap penting dijaga untuk menghasilkan hidup sehat adalah olahraga dan pola makan. Lihat saja bagaimana banyaknya pusat kebugaran yang dibuka dalam sepuluh tahun terakhir ini. Selain itu, beragam jenis diet juga dikenalkan. Mulai dari diet serat, diet jus, diet buah, dan berpuluh-puluh jenis diet lainnya. Tak pelak, pola hidup sehat sudah menjadi gaya hidup bagi beberapa kalangan.
Kecenderungan dari diet-diet yang dikenalkan di Indonesia, mengacu pada diet yang telah diterapkan di negara-negara maju. Umumnya, mereka cenderung mengurangi konsumsi pangan hewani dan memperbanyak konsumsi pangan nabati. Pada beberapa golongan yang "ekstrim", mereka bahkan merekomendasikan untuk menghentikan sama sekali pangan hewani.
Gaya Hidup Sehat di Indonesia: Tidak Makan Produk Hewani?
Di Indonesia, kampanye-kampanye ini hadir lewat berbagai media. Mulai dari obrolan yang menyebar melalui pergaulan sehari-hari sampai media dunia maya seperti blog. Kampanye yang paling populer mungkin adalah kampanye untuk menghentikan konsumsi daging merah, seperti daging sapi dan kambing. Alasan tingginya lemak dan kolesterol yang terkandung pada daging merah memberi ketakutan akan serangan jantung dan stroke. 
Anjuran untuk menghentikan konsumsi pangan hewani yang paling baru terjadi pada susu. Seakan tidak cukup isu susu yang terkontaminasi bakteri E. Sakazakii, kini "nama baik" susu yang selama ini kita kenal sebagai makanan yang bergizi dan penting kembali diuji. Seorang profesor Jepang bernama Hiromi Shinya dalam bukunya, The Miracle of Enzym, menuturkan buruknya susu bagi kesehatan pencernaan manusia. Apakah benar susu selalu buruk pada manusia?
Mari kita melihat konsumsi pangan hewani di Indonesia. Konsumsi per kapita warga Indonesia untuk daging ayam hanya 4,7-7 kg per tahun (bandingkan dengan Brazil yang mencapai 30 kg per kapita per tahun), konsumsi daging sapi 1,9-2,2 kg (bandingkan dengan Argentina yang mencapai 60 kg per kapita per tahun). Hal ini amat jauh dari rata-rata konsumsi daging per kapita negara-negara berkembang yang mencapai 23 kg untuk daging sapi dan ayam. 
Lalu bagaimana dengan susu sapi? Menyitir ucapan Prof. Bustanul Arifin dalam acara Indolivestock beberapa tahun lalu, tanpa perlu menyebutkan angka, konsumsi susu sapi di Indonesia per kapita per tahun hanya beberapa tetes. Tidak sampai 1 Liter! Menghitungnya hanya dalam satuan cc! Jika dirata-rata, masyarakat Indonesia nyaris tidak mengkonsumsi susu.
Dengan fakta di atas, maka tidak heran kalau seringkali kita menjumpai kasus gizi buruk bahkan sampai busung lapar di Indonesia. Kasus-kasus ini tidak hanya ditemui di daerah rural, tapi juga di daerah sub-urban bahkan urban.
Pangan hewani dikenal memiliki kandungan protein yang tinggi. Protein amat dibutuhkan pada masa pertumbuhan dan di saat masa penyembuhan. Tercukupinya kebutuhan protein seseorang di masa pertumbuhannya akan berimplikasi pada terbentuknya tubuh yang sehat dan otak yang cemerlang. 
Keunggulan Susu
Protein yang berasal dari hewan memiliki kandungan asam amino esensial yang lebih lengkap dibandingkan dengan protein nabati. Asam amino esensial sendiri tidak bisa dihasilkan dari metabolisme tubuh manusia sehingga asupannya dari makanan amat penting. Di antara  protein hewani, lainnya, susu memiliki kandungan lemak yang lebih sedikit dibandingkan dengan telur atau daging ayam, sehingga relatif lebih sehat. 
Susu relatif lebih terjangkau untuk dibeli oleh warga Indonesia. Harga susu segar tidak sampai Rp 10.000/ L. Bandingkan dengan telur ayam yang mencapai Rp 19.000,00/ kg atau daging ayam yang lebih dari Rp 25.000/ kg. Tidak perlu pula dibandingkan dengan daging sapi yang mencapai 70.000/ kg.
Mengkonsumsi susu pun lebih terjamin kehalalannya jika dibandingkan dengan mengkonsumsi daging. Berbeda dengan daging yang mensyaratkan penyembelihan yang halal, maka susu tidak memiliki syarat perlakuan untuk menjadi halal.
Dibandingkan beternak sapi potong, beternak sapi perah lebih feasible dilakukan di Indonesia. Sapi perah tidak membutuhkan ladang penggembalaan yang luas seperti sapi potong. Sapi perah cukup ditaruh di kandang yang kebersihannya terjamin.
Produktivitas susu sapi di Indonesia masih bisa ditingkatkan lagi. Saat ini produksi susu dari seekor sapi di Indonesia baru sekitar 8 Liter per hari. Idealnya, seekor sapi mampu memproduksi hingga 20 Liter per hari. Pemberian pakan yang tepat dengan cara yang tepat dapat meningkatkan produktivitas susu yang dihasilkan. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan mencacah pakan menjadi ukuran yang lebih kecil. Perlakuan ini amat sederhana, namun sayangnya masih jarang dipraktekkan oleh peternak sapi perah di Indonesia.
*     *     *




Peningkatan konsumsi susu adalah alternatif pemenuhan kebutuhan protein yang paling masuk akal dilakukan di Indonesia. Selain kandungan gizinya yang lengkap, harganya juga relatif lebih murah, dan terjamin kehalalannya. Belum lagi potensi produktivitas susu di Indonesia yang masih bisa ditingkatkan lagi. 
Gaya hidup sehat adalah dengan hidup yang seimbang. Tidak terlalu banyak mengkonsumsi satu jenis makanan, tidak pula terlalu sedikit mengkonsumsi terlalu sedikit satu jenis makanan. Dengan berkaca pada terjadinya berbagai kasus gizi buruk dan busung lapar di Indonesia, maka peningkatan konsumsi protein ini amat mendesak untuk dilakukan. Maka tidaklah tepat apabila ada kampanye untuk mengurangi atau bahkan menghentikan konsumsi produk pangan hewani di Indonesia. Warga Indonesia masih membutuhkan lebih banyak protein untuk dikonsumsi. Tidak berlebihan apabila ada yang menyatakan bahwa kekurangan protein berpotensi menghasilkan generasi yang hilang (The Lost Generation). Bangsa ini masih membutuhkan lebih banyak pangan hewani untuk menghasilkan generasi yang dapat diandalkan untuk membangun Indonesia.

Sabtu, Desember 31, 2011

Menuntut Edukasi Pasar yang Benar Mengenai Air

Pernah dengar air minum dengan merk Evian? Merk ini berasal dari Perancis. Berasal dari mata air pegunungan di sana yang jernih dan bersih. Konon, Evian adalah salah satu air minum dengan kualitas terbaik yang ada di dunia. Tentunya tidak ada yang salah dengan itu. Tidak ada yang salah, sampai akhirnya Evian beredar di seantero penjuru dunia, termasuk di Indonesia.

Mengapa Evian yang dibuat di Perancis harus beredar di Indonesia? Apakah Indonesia tidak mampu membuat air minum dengan kualitas baik? Tentu tidak. Banyak air minum merk lokal yang berkualitas baik. Lalu mengapa orang di Indonesia harus meminum air yang berasal dari Pegunungan Perancis? Bahkan dengan harga lebih dari dua kali lipat!
Tipu daya orang-orang pemasaranlah yang menjadi biang keladinya. Dengan embel-embel gengsi, dari mata air pegunungan yang jernih, dan gimmick-gimmick lainnya, air dari Perancis bisa mendapat pasar di negara yang bahkan jaraknya terpisah puluhan ribu kilometer. Inilah dunia yang dibentuk oleh pasar global.
Strategi orang-orang pemasaran telah mempermainkan nalar manusia. Celakanya, strategi ini ternyata dilakukan oleh hampir seluruh produsen Air Minum Dalam Kemasan (AMDK), termasuk di Indonesia. Konsumen diberikan informasi yang keliru dengan mengatakan bahwa air yang baik adalah yang bersumber dari mata air dan berasal dari pegunungan. Strategi ini telah membuat orang membeli apa yang sebenarnya tidak mereka butuhkan.
Idealnya AMDK memang tidak diperuntukkan bagi konsumsi sehari-hari. Eksploitasi yang berlebihan pada mata air dapat mengancam keberlangsungan mata air itu sendiri. Sebagai ilustrasi, rasanya sulit membayangkan bahwa kebutuhan minum orang-orang se-Jabodetabek dipenuhi hanya dengan mengandalkan mata air yang ada di Gunung Salak, Bogor. Semakin banyak orang yang bergantung pada AMDK, maka semakin masif mata air-mata air ini dieksploitasi. Semakin masif mata air ini dieksploitasi, maka akan semakin cepat mata air tersebut mengering dan rusak.
Upaya pelestarian kawasan mata air (supply) yang terus diupayakan tidak akan maksimal tanpa adanya usaha untuk mengendalikan sisi permintaan (demand). Laju permintaaan AMDK harus terus diupayakan untuk dikurangi, bukan justru ditambah.
Di sinilah peran PDAM sebenarnya dibutuhkan. Sesuai dengan namanya, perusahaan-perusahaan ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan air minum masyarakat dengan mengandalkan air baku dari sungai, bukan mata air. Terlepas dari segala kekurangannya, air PDAM-lah yang sebenarnya ideal untuk digunakan sebagai air minum.
Jika kita merujuk pada PerMenKes 492 Tahun 2010, sebenarnya air yang layak minum itu tidak ribet. Bahkan air PDAM yang mengalir di pipa-pipa rumah kita pun banyak yang sudah mendekati kualitas air layak minum. Saya sendiri tidak mengkonsumsi AMDK untuk kebutuhan sehari-hari. Dahaga saya lebih banyak dilegakan dengan air kran yang dimasak. Hal ini sudah berlangsung demikian lama dan saya tidak pernah mengalami keluhan karena hal ini.
Jika AMDK dalam kemasan tabung 19 Liter harganya bisa mencapai Rp 10.000,00 dan hanya cukup untuk konsumsi 3-5 hari. Maka dengan harga yang sama, saya sudah bisa memenuhi kebutuhan minum untuk satu bulan hanya dengan sedikit biaya tambahan untuk merebus air. Lalu kenapa saya harus menggunakan AMDK untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari?
AMDK masih dibutuhkan sesuai dengan kapasitas masing-masing orang. Kepraktisan AMDK masih dibutuhkan sebagian orang yang sedang dalam perjalanan.
AMDK juga masih dibutuhkan oleh mereka yang di daerahnya masih kesulitan air bersih. Mereka yang tinggal di daerah dengan kualitas air PDAM tidak terlalu baik atau mereka yang tinggal di daerah tanpa jaringan pipa PDAM dan kualitas air sumurnya tidak terlalu baik juga mungkin masih membutuhkan AMDK.
Masyarakat perlu informasi yang tepat dan tidak menyesatkan. Sayangnya, promosi dari perusahaan-perusahaan AMDK selama ini tidak cukup memadai dan bahkan cenderung missleading. Sebagai komoditas yang penggunaannya sebenarnya diatur oleh UUD, perdagangan air sudah sepatutnya hanya dikendalikan secara alami oleh permintaan, tanpa perlu menciptakan pasar-pasar baru. Hingga akhirnya masyarakat tidak dipermainkan, tidak merasa khawatir dengan air yang ada di rumah mereka, dan tentunya tidak harus membeli apa yang sebenarnya tidak mereka butuhkan.





Selasa, November 08, 2011

Jarak Antara Syariat Islam dan Islami


Prof. Komarudin Hidayat sabtu lalu (5 Nov 2011) bikin tulisan di kompas dengan judul "Keislaman Indonesia". Beliau banyak ngutip tulisan "How Islamic are Islamic Countries", tulisan Rehman dan Askari yang dimuat di Global Economy Journal 2010 lalu. Intinya, ternyata Indonesia dan negara-negara OKI umumnya gak lebih Islami daripada negara-negara sekuler yang ada di eropa atau bahkan New Zealand sekalipun.

Sementara gerakan keislaman di Indonesia masih banyak menghabiskan tenaganya untuk melabeli hukum dengan nama "syariat islam", di luar sana, negara yang sekuler justru lebih bisa mengedepankan apa-apa yang disyariatkan oleh Islam tanpa ada label syariat atau bahkan mungkin tanpa pernah mendapatkan referensi mengenai syariat Islam tersebut. Ternyata masih ada jarak antara label syariat dan kehidupan Islami itu sendiri.

Tapi tentunya tetap menarik untuk menyimak kelanjutan Undang-Undang Zakat, Infaq, dan Shodaqoh yang baru saja disahkan DPR. Apakah infiltrasi syariat Islam ke dalam hukum positif Indonesia bisa berhasil atau tidak?

NB: Iseng-iseng, nemu spin off dari How Islamic are Islamic Countries yang lebih menitikberatkan pembahasan ke soal ekonomi, An Economic Islamicity Index. Tentunya sektor ekonomi yang dibahas di sini tidak terbatas hanya soal finansial yang sering menggempur konsep bunga (riba). Ada 12 area yang dijadikan parameter, mulai dari sistem finansial sampai ke pengembangan kemakmuran dan struktur sosial dalam upaya menjamin persamaan hak dalam mendapatkan kemakmuran, kesehatan, dan lain sebagainya.

Selasa, Oktober 04, 2011

Cukup Satu Kali Mandi Dalam Sehari


Seperti lazimnya anak-anak Indonesia lainnya, saya mandi dua kali sehari. Namun kebiasaan itu berubah ketika kuliah. Aktifitas yang tak tentu membuat jadwal mandi turut menjadi tak tentu. Akhirnya jatah mandi terpangkas menjadi hanya sekali dalam sehari. Ini adalah kondisi umum, namun ada juga saat-saat di mana saya mandi tetap dua kali sehari.

Semenjak itu, saya biasanya mandi sebelum memulai aktifitas. Mandi di pagi hari atau agak siangan. Mandi sore menjadi jarang dilakukan. Biasanya karena sudah kecapekan dan sudah terlalu larut ketika sampai di kamar kosan. Alasan konservasi air dan penghematan tentunya juga menjadi pertimbangan.

Semenjak itu mandi sore menjadi tidak penting. Mandi pagi sudah cukup mewakili 24 jam yang ada. Namun semua berubah ketika negara api menyerang bekerja di perkebunan tebu. Bergumul dengan tanah dan debu yang beterbangan dari pukul 07.00 sampai (minimal) 16.00 membuat mandi sore menjadi hal yang tak terhindarkan. Mandi sore menjadi penting dan semacam keharusan.

Di titik inilah, kebiasaan saya kembali berubah. Semenjak itu saya menjadi rajin mandi sore (untuk menggantikan mandi pagi).

Sabtu, September 11, 2010

Sst.. Environmentalist Tidak Ada yang Berjuang Untuk Alam


Mengapa mereka disebut environmentalist? Padahal, dasar dari segala dasar atas apa yang mereka lakukan bukan untuk menyelamatkan lingkungan kok. Apa yang mereka berjuangkan kan sebenarnya untuk menjamin eksistensi manusia di bumi ini.

Mereka terkesan sebagai penyelamat lingkungan karena mereka berusaha mempertahankan status quo bumi ini. Mempertahankan jumlah flora dan fauna pada tingkat yang aman. Mempertahankan keragaman spesies yang ada. Mempertahankan suhu bumi. Mempertahankan ketinggian air laut. Mempertahankan jumlah es di kutub utara. Ya, intinya mereka mempertahankan status quo di bumi ini yang kondisinya sudah sesuai dengan kebutuhan manusia.

Mungkin istilah yang tepat buat mereka memang bukan environmentalist (human-beingist mungkin lebih tepat). Mereka peduli ketika paus-paus dibantai, tapi tenang-tenang saja ketika sekerumunan nyamuk disemprot racun anti serangga. Ketika paus-paus, yang memang jumlahnya tinggal sedikit itu dibantai, maka keseimbangan alam akan terganggu dan cepat atau lambat akan mempengaruhi keberadaan manusia di muka bumi. Berbeda ketika nyamuk yang sudah over-populated itu dibantai, tidak ada keseimbangan yang terganggu. Kalaupun ada, setidaknya tidak akan mempengaruhi kehidupan manusia.

Lalu apakah environmentalist itu adalah sekumpulan hipokrit? Ya bukan itu konklusinya. Tidak ada yang salah ketika manusia ingin menyelamatkan hidupnya. Sama sekali tidak salah ketika manusia ingin mewariskan dunia yang indah ini kepada anak cucunya kelak.

Berita besarnya adalah bahwa bumi sebenarnya tidak perlu diselamatkan. Dia akan tetap ada meskipun oksigen tak lagi ada. Dia akan tetap ada meskipun semua fauna pun flora yang ada saat ini punah. Sialnya untuk kita, manusia, dunia akan tetap ada meskipun spesies kita tak lagi ada.

Manusialah yang perlu diselamatkan. Ketika setiap entitas manusia begitu sangat tergantung terhadap segala sesuatu yang terserak di seluruh penjuru dunia, maka manusialah yang paling terancam oleh perubahan sekecil apapun.

Sumber Gambar: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg5TQ5NDGStp_fah8LjblBHmVKaE2WfGe_0uxV-E_trfYDP1euE5x3Bh3Zol13zqhCS3bAwMG3njfglikqSJfnJlJnW84MPvL-AXY6iQEhwBtbRMzWt6myba7TXAEA7GVoYZUF-/s1600/901379_61707064.jpg

Minggu, Juli 04, 2010

Semangkuk Mie Ayam

Semangkuk Mie Ayam Polos


Beberapa meter setelah gerbang Sekolah Dasar di mana saya menimba ilmu dulu, tepat di pojokan depan Gedung Cabang Muhammadiyah, ada tenda mie ayam yang benar-benar laris. Pelanggannya beragam. Mulai dari sopir antar jemput sampai orang tua murid. Dari pedagang mainan yang berjejer di sekitarnya sampai guru-guru. Setiap hari dagangannya hampir pasti habis. Lepas jam satu siang, sang pedagang biasanya sudah berkemas-kemas untuk pulang.



Saya masih ingat harganya. Satu porsi Rp 700,00 dan setengah porsi Rp 500,00. Untuk saya yang ketika itu uang jajannya hanya dijatah Rp 6.000,00 per bulan, tentu saja mie ayam saya kategorikan ke dalam barang mewah. Barang tersier. Bukan hanya untuk saya, teman-teman yang lain pun menganggapnya demikian. Mie ayam adalah sebuah kasta dengan prestise selanjutnya setelah somay dan es serut berbentuk payung kuncup. Makanan para priyayi. Makanan anak orang kaya. Makanan yang oleh sebagian anak lain hanya bisa dinikmati setelah merengek setengah mati ke orang tuanya yang kebetulan sedang menjemput. Makanan yang biasa dihadiahkan orang tua kepada anaknya setelah pembagian raport.



Beberapa kali teman-teman saya patungan untuk membeli mie ayam. seratus rupiah per anak. Jadilah setengah porsi mie ayam dikeroyok lima anak. Saya sendiri lebih memilih untuk menahan-nahan untuk hemat jajan di awal bulan, agar ketika akhir bulan bisa mendapatkan sisa uang untuk membeli mie ayam.



Dulu saya suka sekali menambahkan banyak-banyak saus murahan khas yang biasa ada di tukang mie ayam ke dalam mangkuk. Entah kenapa. Padahal sekarang saya tidak pernah menambahkan saus pun kecap ke dalam mie ayam. Mungkin warna kuning genteng menyalanya yang membuat saya tertarik ketika itu.



Seiring perjalanan waktu, saya menemukan bahwa mie ayam tidak lagi menjadi makanan yang wah. Apalagi setelah berkali-kali menemukan mie ayam dengan rasa gak karuan. Sekarang, tiga belas tahun lebih setelah pengalaman saya ketika sekolah dasar, saya menemukan sekelompok masyarakat yang menganggap mie ayam sebagai lambang kemewahan. Makanan khusus yang dimakan pada waktu khusus pula.



Tersebutlah pasar payroll. Pasar yang hanya hadir di hari sabtu dari siang sampai sore. Disebut pasar payroll karena hadir di dekat loket payroll. Loket pembagian gaji untuk buruh tani di sebuah perusahaan perkebunan tebu di pangkal Sumatera.



Pedagang yang berjualan di sana tidak sampai tiga puluh. Sebagian menjual kaos murah meriah dan kemeja bekas. Sebagian yang lain menjual peralatan rumah tangga. Namun dari sekian banyak pedagang tersebut, yang paling banyak adalah pedagang mie ayam.



Makan mie ayam menjadi semacam lambang penghargaan atas jerih payah buruh tani yang telah seminggu penuh membanting tulang untuk dua sampai tiga ratusan ribu rupiah. Terkadang kurang. Enam sampai delapan jam sehari. Enam hari seminggu, bahkan tujuh. Itulah waktu yang harus mereka setor demi menyambung hidup keluarganya. Untuk semua kerja keras itu, semangkuk mie ayam di akhir pekan adalah cara mereka untuk merayakannya. Sebuah cara yang meriah untuk mereka, tapi mungkin biasa-biasa saja untuk orang-orang kebanyakan.

Senin, April 19, 2010

Remeh, tapi...

Pasca rentetan pengeboman di berbagai wilayah di Indonesia, hampir semua gedung perkantoran dan pusat bisnis di Jakarta memperketat pengamanannya. Satpam lengkap dengan metal detector siap menyambut setiap pengunjung yang hendak memasuki areal gedung.

Lucunya di sebagian gedung yang menerapkan pengamanan model tersebut, apapun hasil analisis metal detector, berbunyi atau tidak berbunyi, tidak berpengaruh terhadap keputusan satpam yang akan selalu mempersilahkan pengunjung untuk masuk ke dalam gedung. Kegiatan pemeriksaan dengan menggunakan metal detector ini seakan menjadi sia-sia. Toh, pada akhirnya semua orang diperbolehkan untuk masuk ke dalam gedung, hanya prosesnya saja yang dipersulit.

Sebagian orang mungkin akan berpikir bahwa lebih baik jika pintu masuk gedung-gedung tersebut tidak perlu memberlakukan proses pemindaian oleh satpam dengan metal detector. Hanya memperbesar biaya operasional saja.

Tentu pendapat tersebut amat tepat jika dilihat dari kacamata seorang pebisnis. Namun dibalik kemubadziran pada pekerjaan remeh tersebut, terselip sebuah manfaat yang tidak terlihat secara kasat mata.

* * *

Angka kemiskinan yang tinggi di Indonesia menjadi masalah tersendiri yang sulit ditangani. Sebagian dari mereka yang yang kurang beruntung karena miskin kemudian seolah mendapatkan penyelesaian jitu dengan jalan pintas, mengemis. Bayangkan saja, tanpa perlu bersusah payah, baik secara fisik maupun pikiran, mereka bisa mengumpulkan puluhan bahkan ratusan ribu rupiah per hari. Bebas potongan pajak pula! Akibatnya, terbentuklah mental-mental pengemis. Parahnya lagi adalah ketika mental-mental seperti itu tertanam pada mereka yang masih berusia belia.

Ketika mental mengemis sudah tertanam, maka mereka akan lupa bahwa sesungguhnya cara terbaik untuk mendapatkan uang adalah dengan berusaha, bukan dengan meminta-minta.

India pernah mengalami masalah yang kurang lebih sama dengan Indonesia, mental mengemis yang tinggi di kalangan masyarakat bawah. Untuk mengatasinya, mereka membuat sebuah program padat karya. Orang-orang usia kerja di sana direkrut untuk bekerja dengan gaji sedikit di bawah upah minimum.

Tolok ukur keberhasilan program ini bukanlah kualitas dari luaran proyek tersebut - setidaknya itu bukan yang paling utama. Tujuan utama proyek ini adalah untuk menumbuhkan semangat kerja di masyarakat mereka. Dengan memudahkan tersedianya pekerjaan, tentu angka pengangguran akan menurun terlebih dahulu. Kemudian selanjutnya, dengan diberikannya upah yang minim, pemerintah mendorong masyarakatnya untuk lebih giat mencari pekerjaan di tempat lain dengan modal pengalaman yang sudah mereka miliki.

Entah program di India tersebut memiliki tujuan yang sama atau tidak dengan pekerjaan-pekerjaan sepele seperti satpam dengan metal detector di Indonesia. Yang pasti, dengan membuat orang merasa sedang bekerja, maka ia telah terhindar dari terbentuknya mental pengemis di dalam dirinya.

Selasa, April 06, 2010

Langit Masih Terlalu Luas

Siapa yang terlanjur kenal dengan uang namun tidak tergoda sedikitpun dengannya? Hampir pasti tidak ada.

Uang memang tidak bisa membeli segalanya, tapi dengan uang, hampir segalanya bisa dibeli. Sebagai sebuah besaran, uang memiliki fleksibilitas yang tinggi hingga hampir semua barang pun jasa bisa dinilai dalam satuan-satuan yang dimilikinya.

Dimanapun, uang akan selalu memiliki dua sisi. Meskipun kedua sisi tersebut selalu berbeda, sifatnya akan selalu sama: seduktif. Sedikit banyak, hal itu juga yang mendorong saya saya untuk pindah dari kenyamanan ala kota Bogor ke tengah perkebunan di Lampung Tengah.

Awalnya agak kaget juga karena ternyata saya harus beradaptasi dengan wilayah yang masih kesulitan untuk mengakses informasi. Sinyal ponsel kelap-kelip, tidak ada jalur telepon kabel, dan warnet terdekat berjarak hampir 11 km (itupun per jamnya Rp 8000,00) membuat aktivitas saya di dunia maya semakin terbatas.

Hah, nikmati saja dulu. Toh pada akhirnya nanti akan ada waktu untuk meredefinisi mimpi. Luasnya langit masih menggoda untuk mengajak kembali berkelana.

Kamis, Maret 04, 2010

Dasi dan Selendang

Memilih pakaian tentunya selalu memperhitungkan dua aspek, fungsi dan estetika. Pakaian yang dapat melindungi tubuh dan nyaman dikenakan harusnya menjadi pertimbangan pertama. Baru kemudian indah tidaknya pakaian tersebut dilihat yang menjadi perhitungan.

Anomali terjadi pada dasi dan selendang. Pada hakikatnya, dasi dan selendang sama sekali tidak memiliki fungsi. Kedua jenis pakaian ini digunakan hanya untuk kepentingan estetika belaka. Mungkin beberapa orang ada yang memfungsikan ujung dasi atau selendang untuk mengelap mulut sehabis makan. Tapi tentu harusnya bukan itu fungsi kedua benda tersebut.

Jika dilihat dari sisi kepentingannya yang hanya untuk memenuhi syarat estetika, maka dasi dan selendang lebih tepat dikatakan sebagai aksesoris, bukan sebagai pakaian. Namun demikian, beberapa orang memposisikan benda ini, khususnya dasi, sebagai batas kepatutat pakaian untuk dikategorikan sebagai pakaian resmi. Beberapa kantor menghendaki karyawannya selalu berdasi. Di pesta-pesta yang sifatnya resmi pun demikian, yang pria berdasi sementara yang perempuan berselendang melengkapi kebayanya.

Maka jadilah dasi dan selendang berada pada status abu-abu. Di antara pakaian dan aksesoris. Tidak bisa disebut pakaian karena tidak memiliki fungsi. Tidak pula bisa dikatakan sebagai sekedar aksesoris karena kehadirannya menjadi syarat formal tidaknya sebuah pakaian.

Senin, Maret 01, 2010

Mall, Si Pelahap Energi

Ada sebuah laporan yang mengatakan bahwa konsumsi listrik satu mall yang berukuran sedang setara dengan konsumsi listrik Bandara Soekarno-Hatta. Maka bisa dibayangkan berapa banyaknya konsumsi listrik untuk mall-mall besar seperti Senayan City, Tunjungan Plaza, atau Paris van Java.

Tidak aneh jika kemudian pemerintah merencanakan pembatasan jam operasional mall. Namun menjadi aneh jika melihat kenyataan bahwa di lain pihak, ijin untuk membuat mall-mall baru tetap mudah dikeluarkan. Dalam waktu 2 tahun, semenjak 2008 sampai 2010, jumlah mall yang bertambah di Indonesia sampai 25%. Sebuah angka yang tentunya amat fantastis untuk merangsang sifat konsumtif masyarakat.

Beberapa inovasi memang sudah mulai dilakukan untuk menghemat energi. Di beberapa gedung, termasuk mall, eskalator yang biasa membawa pengunjung berganti tingkat pun telah direkayasa. Hal ini dilakukan dengan cara memasang inverter atau intelligent motor controller sehingga listrik yang dikonsumsi dapat dikurangi.

Food Court juga sering menjadi sumber pemborosan listrik. Beberapa food court di mall menyediakan televisi yang sebenarnya mubazir. Televisi menyala tanpa ada yang menonton. Sebagian besar pengunjung food court pun lebih tertarik untuk berbincang-bincang ketimbang menonton televisi. Mungkin lebih tepat jika yang disetel di food court adalah musik, bukan siaran televisi.

Televisi yang mubazir

Membuat food court di bagian atap gedung seperti yang ada di Plaza Semanggi juga dapat menjadi opsi yang menarik. Selain untuk alasan estetika, tentunya food court di bagian atap gedung dapat mengurangi konsumsi listrik dari pencahayaan artifisial yang biasa digunakan di food court konvensional.

Suasana di Sky Dining Plaza Semanggi, Jakarta
(Sumber gambar: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgEUbLIPbH_5CQuy9vTA4jrqxIST3RuQftvV5EIQvzeijZHhHMH17Zz8KDeK5yjTrFsao-7dDzJwmWfwNP_nt0xVaCP0dPa3zX5JH16qFBYHpl3vB-R4-R7MV0guYci3CE6zSRN/s400/sky+dining+plaza+semanggi+jakarta.jpg)


Pencahayaan artifisial memang menjadi sumber konsumsi utama energi di mall selain pendingin udara. Memperbanyak jendela sehingga lebih banyak cahaya gratis pada siang hari dari matahari bisa menjadi opsi yang diperhitungkan. Mall yang biasa kita temui terkadang lebih mirip benteng beton karena sangat minim jendela. Konsekuensinya tentu cahaya matahari tidak dapat masuk ke dalam bangunan sehingga dibutuhkan pencahayaan tambahan sepanjang hari di dalam mall. Rekayasa arsitektur hari ini sudah dapat mengambil cahaya dan meninggalkan panas matahari di luar dengan mengimplementasikan prinsip-prinsip environmental design pada desainnya hingga bangunan dapat lebih hemat energi dan lebih asri.

Fusionopolis karya Ken Yeang
(Sumber gambar: http://www.inhabitat.com/wp-content/uploads/fusionopolissingapuraih.jpg)

Kehadiran mall, terutama di perkotaan, memang tidak terelakkan lagi. Selain sebagai sarana belanja, mall juga dapat menjadi alternatif hiburan murah bahkan gratis. Ketimbang menghabiskan energi untuk menolak kehadirannya yang sudah terlanjur ada, rasanya lebih baik untuk semakin membatasi jumlah mall yang akan dibangun dan berusaha membuat mall yang sudah ada agar dapat berdiet dengan konsumsi energinya.

Sabtu, Januari 30, 2010

Pintu Terlarang: sebuah kritik untuk televisi?


awas bocoran!
tapi kalo mau tetep nekad baca ya saya mau bilang apa. untuk kenyamanan anda sendiri saya sudah berusaha sebisa mungkin untuk menyamarkan apa-apa yang menjadi bagian film. maka dari itu jika anda belum menonton film ini kemungkinan besar anda tidak akan menangkap maksud tulisan ini.
hehehe.

setelah dua kali menonton film ini sekitar hampir satu tahun yang lalu, akhirnya saya tergelitik juga untuk beropini. dengan berbekal mesin pencari google, akhirnya saya berkesempatan membaca beberapa review tentang pintu terlarang. langkah yang tidak bijak ternyata karena pada akhirnya saya jadi pusing sendiri di tengah malam ini.

pusing karena setiap review mengembangkan imajinasinya masing-masing untuk menginterpretasi film ini. sementara semua orang tidak henti-hentinya memberi puja-puji untuk film ini, saya justru memilih sikap anti populis dan berusaha realistis. dengan berusaha untuk tidak terjebak pada bayang-bayang prestasi dan portofolio joko anwar, akhirnya saya memberanikan diri untuk mengambil konklusi bahwa film ini sampah biasa-biasa saja!

yah, mungkin memang gak sampah sih. film ini hanya film yang beda dari pakem film-film arus utama. saya hanya orang awam yang buta soal film-film festival dan lebih memilih untuk dibodoh-bodohi holywood untuk membayar karya-karya tipikal mereka.

tapi yang mengganjal adalah, dari sekian banyak review dan reka-reka sok pintar yang berhamburan di dunia maya, tidak ada satupun yang bisa menjelaskan (apa yang seharusnya menjadi) inti film ini: PINTU TERLARANG itu apaan? maka dari itu, saya tergerak untuk ikut-ikutan sok pintar menulis ide yang terbersit di kepala saya kali ini mengenai apa sesungguhnya pintu terlarang tersebut.

akhirnya saya memasrahkan diri untuk ikut dalam permainan joko anwar dalam mereka-reka isi otaknya. oh, sungguh kejamnya joko anwar karena pasti dia sangat girang bukan kepalang melihat reviewer-reviewer yang mencoba memahami film ini. belum tentu benar namun tetap saja segala puja-puji untuk beliau mengucur deras. arggh, saya membayangkan wajah joko anwar tersenyum licik.

parahnya lagi adalah jika ternyata joko anwar pun sebenarnya hanya sedang mempermainkan penonton dengan membuat plot-plot yang seolah terkembang dalam banyak persimpangan dan memang membebaskan imajinasi setiap penontonnya menginterpretasi filmnya sementara ia sendiri tidak punya interpretasi sendiri untuk film ini. semoga saja tidak. amin.

saya mendasarkan reka cerita ini pada dua resensi yang saya temukan di sini dan di sana. untuk lebih memudahkan anda membaca tulisan ini, saya persilahkan anda untuk membaca terlebih dahulu dua tulisan tersebut (dan menonton filmnya terlebih dahulu tentu saja). tapi kalau tidak mau ya tidak apa-apa. silahkan saja melanjutkan perhatian anda pada paragraf di bawah ini.

saya sepakat dengan pernyataan bahwa joko anwar memang sedang bercerita tentang sebuah jarak. bagaimana kamera dan monitor memberikan sebuah jarak yang aman bagi penonton untuk menikmati apa-apa yang seharusnya tabu dalam kehidupan nyata. sebuah jarak yang memberi kesempatan bagi penonton untuk menikmati "dosa" tanpa harus menjadi berdosa. kenikmatan itulah yang ditawarkan sebuah klub gak jelas bernama herosase. memberikan sajian fragmen-fragmen kehidupan beberapa orang yang diambil melalui kamera pengintai yang tersaji dalam beberapa kanal televisi.

film ini jelas penuh dengan metafora dan metafora yang (dengan sesuka hati) saya tangkap adalah kebudayaan pop televisi. bagaimana kita didoktrin bahwa televisi memuat berjuta informasi yang amat berguna bagi kita namun pada saat yang sama juga memuat paradoks berupa proses yang bernama dehumanisasi.

tayangan sadis, tidak realistis, dan imajinatif seolah mendapatkan pemakluman ketika ditonton melalui sekat berupa lembaran gelas pada tabung televisi (maafkan saya untuk mengabaikan teknologi layar yang sudah tidak menggunakan tabung). sebuah pemakluman yang kemudian sering mewujud dalam kalimat,"yaelaaah... namanya juga pelem".

namun sang tokoh utama dalam film ini, Gambir, merasakan keresahan karena menangkap realitas yang berlebihan pada televisi yang ia tonton. jika kita mendekatkan cerita ini ke kehidupan nyata pun kita akan mendapati tayangan-tayangan televisi seperti ini (yang sok realistis) semacam termehek-mehek dan realigi.

keresahan Gambir berbuntut pada kehidupan nyatanya. Ia merasa bahwa ada yang tidak benar dalam dunianya. tidak benar karena, entah di mana, ada seorang anak yang menjadi obyek kekerasan orang tuanya. sebuah realitas dalam wujud seorang anak yang ia lihat melalui layar televisi. Ia pun berhalusinasi bahwa ia memiliki tanggung jawab untuk menyelamatkan sang anak. ia merasa ada dialog yang mampu menembus sekat tabung televisi. sebuah dialog antara dia dan sang anak. akhirnya Gambir justru "terpaksa" untuk selalu melihat penyiksaan anak tersebut demi mendapatkan petunjuk di mana anak itu berada.

seperti yang sudah saya bilang tadi, bahwa layar televisi memberi jaminan batas aman bagi penonton untuk memahami mana yang nyata dan mana yang tidak. televisi menjadi saluran imajinasi yang tidak dimungkinkan untuk terjadi di alam nyata bahkan untuk menjadi saluran bagi apa-apa yang tabu. namun ketika kita sudah terpapar dengan sedemikian massifnya dengan pendaran cahaya dari televisi, maka bukan tidak mungkin semua yang ada di televisi tersebut mampu melangkah melalui sebuah PINTU TERLARANG tepat menuju otak kita melalui mata. inilah pintu terlarang yang dimaksud. tanpa disadari, tayangan televisi telah mencengkram kehidupan kita dengan begitu erat. hal ini pun telah diangkat oleh Neil Postman melalui bukunya, Amusing Ourselves to Death.

sebuah pintu yang membuat mereka mampu menjadi kewajaran di alam nyata. ya wajar-wajar saja, jika kita telah terpapar televisi dalam intensitas yang sedemikian tinggi, maka kehidupan kita pun adalah seputar yang ditayangkan televisi itu juga toh?

paparan-paparan ini kemudian secara tidak sadar membuat Gambir merasa sah-sah saja untuk mempraktekkan apa yang dia tonton di kehidupan nyata. maka ia pun menyelesaikan masalah di rumahnya dengan cara yang sudah dia pahami benar melalui televisi yang selalu ia lihat, yaitu kekerasan.

potongan metafora lain yang ada di film ini menurut saya adalah bahwa Gambir bukanlah satu orang. Gambir mewakili semua penonton yang menjadi korban adiksi televisi. Gambir dapat berupa orang biasa-biasa saja, bisa jadi seorang pematung, bisa jadi seorang suami, seorang anak, seseorang yang akhirnya menjadi gila, atau bahkan seorang pastor sekalipun (dua contoh terakhir tertuang dalam fragmen akhir film ini).

bukti kalo udah nonton dua kali!

Selasa, Januari 05, 2010

menitipkan asa bumi pada film kartun dan komik

bagaimana sebuah tontonan yang ringan ternyata bisa memuat muatan politis yang amat besar tentu amat menarik. rasanya sedikit yang menyangka bahwa kehidupan Smurf yang imut-imut itu ternyata adalah sebuah alegori kehidupan masyarakat komunis.

sebenarnya bukan hanya smurf, banyak cerita anak-anak lain yang memiliki "pembonceng". tentunya hal ini sah-sah saja. sebuah cerita yang baik tentunya adalah cerita yang menyisipkan pesan moral di dalamnya, baik yang sifatnya bisa diterima secara umum (seperti cerita Doraemon yang mengajarkan adab dalam berkawan), sampai yang ditujukan untuk pengembangan satu ideologi tertentu seperti smurf dan masyarakat komunisnya.

beberapa cerita anak lain yang sarat dengan propaganda antara lain adalah Dora yang mengajarkan anak-anak Amerika Serikat sedari dini untuk memiliki rasa tenggang rasa terhadap warga keturunan latin, Si Unyil yang tema tiap episodenya selalu disesuaikan dengan kebijakan pemerintah yang sedang in di waktu tersebut, sampai upin-ipin yang merupakan propaganda Islam.

penanaman moral, paham, dan ideologi kepada anak sedari dini menjadi penting karena semua itu dapat terekam dalam area sub-conscious sang anak. pertarungan ideologi di masa anak-anak merupakan investasi jangka panjang yang buahnya baru akan terlihat 15-20 tahun kemudian. ketimbang berkampanye kepada orang dewasa, tentunya berkampanye kepada anak kecil akan lebih mudah diterima. anak kecil, dengan keterbatasan pengalamannya, tentu tidak memiliki banyak pembanding (benchmark) atas apa yang disodorkan kepada mereka hingga mereka menjadi tidak terlalu banyak membantah dan lebih mudah mengimani apa saja yang dikatakan padanya. tentunya semua itu hanya dapat berhasil apabila dilakukan dengan komunikasi yang tepat untuk anak kecil.


di tengah kefrustasian warga negara-negara dunia ketiga atas arogansi gaya hidup warga Amerika Serikat, yang menghambur-hamburkan sumber daya alam, sedangkan pemerintahnya tidak memiliki komitmen untuk mendorong warganya agar lebih berhemat, tentunya kampanye terhadap anak usia dini menjadi pilihan yang semakin realistis.

rasanya sulit sekali untuk mengajak Amerika Serikat berkomitmen untuk mengurangi emisi karbonnya. mereka menolak untuk meratifikasi Protokol Kyoto, dan di tiap pertemuan COP pun Amerika Serikat selalu menjadi peserta yang paling ngeyel. entah apa yang salah dengan Amerika Serikat sehingga mereka enggan sekali berkomitmen.

mungkin komitmen dari mereka tidak dapat kita capai sekarang, tapi komitmen itu masih bisa kita harapkan pada tahun-tahun mendatang. kembali ke cerita anak-anak, saya teringat dengan kartun Captain Planet yang pernah saya tonton di dekade 90-an. sebuah cerita superhero yang berusaha menyelamatkan bumi dari kerusakan alam seperli limbah cair, radioaktif, sampai pembalakan hutan.

rasanya Amerika Serikat butuh menayangkan kartun-kartun seperti ini kembali. sebuah kartun dengan misi khususnya yang mengajarkan anak untuk lebih menghargai bumi dan lebih bertanggung jawab atas segala perbuatannya.

Minggu, Desember 13, 2009

the same old richard is back!

it's been a while since my last attendance on their gig. it's more than five years ago at Pekan Raya Jakarta. I remember the night. the night, that made me poke someone there that I don't know and ask, "bang, boleh numpang tidur gak? saya dari bogor nih. udah kemaleman kalo mau balik sekarang." that was freak. yeah, that's one story when I was a young gun, not a rusty revolver like now.

so when i got the information that Pas will play at Taman Mini Indonesia Indah, I think this is something that I couldn't miss. well, not only because I haven't go to any gig in the last few years, but there is some several other reasons:

  1. it's free! free at all! I just bring my ass there, then enjoy the show. thank you so much for Vespa Antique Club that made this event.
  2. Taman Mini Indonesia Indah is not too far away from my residence. it just like two and half hour trip by bus or train.
  3. this is the main reason why i must attending the gig. the drummer for this gig is not Sandy Andarusman, but Mr. Richard Mutter, the former drummer of Pas Band itself. i heard that sandy is on his honeymoon. is it true? ah, just focus to richard mutter.

so this is a reunion concert. if I count it right, this is the third time in the last 2 years, richard sit behind his drum set, again, for Pas Band. He resigned from Pas Band after the Psycho I.D. album. the first reunion was held in Rolling Stone Indonesia Event and the second one was on Jakarta Rock Festival. from what I read on the paper, Richard was giving some influence in those Pas Performance. he's like trigging the bomb that made the gig become much more powerful.

in the first time, I think it just a subjective opinion from peoples that miss Richard so much to play for Pas Band. so I was there, in Taman Mini Indonesia Indah, to prove it by myself.

they start the show at 4.15 PM. well, i'm not really sure about the time precisely. it was pretty crowded and I start bang my head. I lost the repertoir. I don't even remember what was their first song, maybe it was Kembali. I was too excited to release my emotion by sing along, song after song.

trisnoize, richard, and beng-beng (just 2mega pixel phonecamera)

off course my major focus was to the only man who almost always sit during the gig. the drummer, richard mutter. he was so awful. he do not lost the way how to blend his beat to lead every song that Pas played. i feel that i was listening to their record when richard still as the drummer. the beat, the power, the style, name it! it's totally perfect! he is one of the best hard rock drummer that indonesia ever had. even when Pas was playing their soft song, the beat is still powerful, but not excessive. Richard got his style.

if i have to choose between richard and sandy, frankly i have to choose richard. well, sandy is okay, not bad. he is good enough, but the problem is Pas's songs need a powerful, a very very powerful drum beat. that is what Sandy doesn't has.

so the gig was closed by a powerful song, Jengah from their 2.0 album. overall, the show brings my memory back to my days when i was young. yeah, I'm not young anymore. i didn't put myself to the mosh-pit like what i always do when i was a high school boy. not only because i was bringing my lady, but i think i don't have any excess power to slam my body anymore. then the show is over. i ended the evening with a blasting memory from the past. hopely it will give me another stock of flush.

Kamis, Desember 10, 2009

redefinisi masakan indonesia ala warteg

saya dulu pernah berpikir kalau warung tegal (warteg) mungkin sebenarnya bisa kita harapkan untuk melestarikan pusaka kuliner nusantara. bagaimana tidak, warung nasi dengan penjual dari tegal ini tersebar di pelosok negeri. tetapi pikiran itu buru-buru saya tarik kembali.

warteg punya kecenderungan untuk meredefinisikan masakan-masakan yang sudah ada. pernah makan atau melihat rendang yang ada di warteg? rendangnya sangat tidak rendang. beda sekali dengan rendang yang ada di rumah makan padang. mungkin karena rendang asli padang sudah sangat kesohor, maka muncul istilah "rendang jawa". ini adalah redefinisi masakan yang pertama.

sekali waktu saya pernah makan di warteg yang ada di bandung. ketika saya sedang makan, seorang pembeli lain meminta penjual untuk membungkuskan pesanannya, "mas, tolong gudegnya tiga ribu."

ternyata yang dimaksud gudeg di warteg ini bukanlah sayur khas jogja dengan rasa legit, tapi sayur nangka dengan kuah santan dan bumbu cabai. pedas, bukan manis. nangka dan hanya nangka, tanpa telur atau potongan ayam. ini adalah redefinisi masakan yang kedua.

redefinisi masakan ketiga akan saya buka dengan sebuah gambar berikut.


ini adalah menu yang biasa saya makan waktu sahur pada bulan puasa yang lalu. ayo kita tebak isinya apa saja. yang utama adalah nasi, kemudian ada sambal goreng kentang yang dicitrakan melalui warna kuning genteng di sisi kanan gambar. selain itu kemudian juga ada orek tempe yang terlihat berwarna coklat panjang-panjang yang mendominasi bagian bawah gambar. lantas apa yang berwarna kuning di atas? potongan-potongan itu memang daging, tepat seperti yang anda pikirkan. jika anda kemudian menebak itu adalah gulai, maka tebakan anda sama seperti saya ketika pertama kali melihatnya. tapi ternyata itu bukan gulai. masakan daging dengan warna dominasi kuning (bukan hitam) itu ternyata adalah RAWON.

gambar rawon
(gambar diambil dari http://commons.wikimedia.org/wiki/File:Rawon_Setan_II.jpg)

Minggu, November 08, 2009

mobil profit: sebuah angkutan alternatif?

pernahkan anda terpikir dari mana datangnya mobil-mobil yang biasa nangkring di etalase dealer mobil di berbagai kota? sebagian besar mobil-mobil tersebut dibuat di daerah jakarta utara, bekasi, tangerang, dan beberapa kota lain di jawa tengah seperti semarang dan magelang. dari tempat dibuat, mobil-mobil tersebut kemudian dibawa ke berbagai kota, dari jawa timur sampai jambi, dengan cara dikendarai.

sopir-sopir yang mengemudikan mobil-mobil tersebut biasa disebut dengan istilah sopir profit atau sopir profit engine. entah apa artinya, tidak ada yang benar-benar tahu dari mana dan sejak kapan istilah ini dipakai. untuk perjalanan satu malam, biasanya sopir tersebut dapat mengantongi uang sebesar Rp 60.000,00, setelah dipotong ongkos kembali ke jakarta. bukan jumlah yang besar memang, bahkan amat kecil jika dibandingkan dengan usaha yang harus dilakukan. tidak heran jika kemudian banyak sopir profit yang "nakal".

sesuai dengan peraturan perusahaan, sopir sebenarnya dilarang menaikkan penumpang selama perjalanan. sudah tentu tidak ada perusahaan yang mau mengambil resiko interior kendaraan baru yang siap jual itu menjadi rusak atau kotor akibat ulah penumpang gelap. akan tetapi, minimnya penghasilan dan banyaknya kesempatan yang terbuka membuat sopir-sopir profit banyak yang menjadi acuh dengan peraturan perusahaan.

contohnya di dalam kapal ferry merak-bakauheni. mobil-mobil profitan biasa menyeberang ke sumatera antara pukul 22.00 sampai 03.00 WIB. tujuan akhir mobil-mobil ini beragam, mulai dari bandar lampung sampai jambi. tidak sulit membedakan mobil ini dengan mobil pribadi lainnya. ciri-ciri mobil profitan antara lain adalah tidak berlapis film pada kacanya, jok masih berlapis plastik, dan biasanya ada coret-coretan spidol pada kaca depan. mobil-mobil ini sudah jamak mencari penumpang di atas kapal.

biasanya di atas kapal sudah ada calo yang siap mencarikan penumpang. calo-calo ini sudah menjadi penguasa di atas kapal. sopir tidak diperkenankan mencari penumpangnya sendiri. untuk perjalanan dari kapal sampai bandar lampung, tarif yang dikenakan adalah Rp 30.000,00. penarikan uang pun biasanya dilakukan oleh calo. dari jumlah tersebut, calo biasanya mendapatkan Rp 10.000,00. tapi tidak jarang calo meminta lebih. jika dihitung-hitung, sopir biasanya hanya mendapatkan tambahan sekitar Rp 100.000,00 - 140.000,00 sampai di bandar lampung.

tidak sedikit penumpang tujuan bandar lampung yang tergiur untuk memakai jasa angkutan gelap ini. bagaimana tidak, jika mereka turun di bakauheni dan melanjutkan perjalanan dengan menggunakan bus, maka ongkos yang harus mereka keluarkan adalah sebesar Rp 17.000 untuk bus non AC dan Rp 25.000 untuk bus AC. selisih uang tersebut dinilai memadai karena bus-bus tersebut tentu berjalan lebih lambat dari mobil-mobil profitan. belum lagi bus-bus tersebut biasa mengetem terlebih dahulu sampai penumpang penuh.

opsi lain dengan menggunakan jasa travel juga masih kalah pamor bagi mereka yang sudah merasakan menjadi penumpang gelap. banyak penumpang yang enggan berjalan kaki cukup jauh dari kapal ke terminal pelabuhan. belum lagi calo-calo yang setengah memaksa sehingga sering meresahkan. alasan lain untuk tidak naik travel adalah karena tarif yang dikenakan masih lebih mahal Rp 5.000,00 dibandingkan dengan tarif mobil profitan, belum lagi jika sopir dengan seenak jidatnya tiba-tiba meminta ongkos lebih karena menilai jarak tujuan sangat jauh.

setiba di pelabuhan bakauheni, mobil-mobil dengan penumpang gelap tersebut langsung menempuh jalan menuju bandar lampung. lepas dari genggaman calo, bukan berarti tantangan bagi sopir profit menjadi usai. "bahaya predator" masih mengintai. polisi adalah predator yang dimaksud. paham akan "dosa" yang dilakukan sopir profitan, polisi pun acap kali mengail di air keruh. jika sial dan diberhentikan polisi, sopir harus rela berbagi uang hasil menarik penumpangnya dengan polisi. jika beruntung, mereka cukup memberi Rp 10.000,00 saja. tapi kalau lagi apes, polisi bisa meminta Rp 10.000,00/penumpang yang ada. ini setara dengan setengah dari penghasilan tambahan sopir profit yang hanya Rp 20.000,00/penumpang! untuk mengelabui mata polisi, beberapa sopir memilih untuk mengosongkan kursi penumpang depan sehingga sekilas terlihat tidak ada penumpang di dalam mobil.

jika beruntung mendapatkan sopir yang baik hati, maka anda bisa diantarkan sampai dengan alamat tujuan. akan tetapi, mobil-mobil profit biasanya diisi dengan bahan bakar yang tepat dengan jarak yang ditempuh. maka untuk mengakali tambahan jarak ini, sopir biasanya tidak mengaktifkan pendingin ruangan selama perjalanan. dengan demikian maka bahan bakar yang ada dapat menempuh jarak yang lebih jauh dari seharusnya.