Jumat, Juni 27, 2014
Menolak Penolakan "Yuk Keep Smile"
Label: gaya hidup, sosial, televisi
Dirangkai oleh Rae pada 4:07:00 PM 3 tanggapan
Sabtu, Juni 08, 2013
Ketika Indonesia Gagal Menemukan People’s Champion
Sumber: http://loymachedo.com/ |
William Hung; Sang Fenomena |
![]() |
T2; Dari Sedikit yang Sukses (Sumber: http://music.oryn-cell.com) |
Label: gaya hidup, musik, televisi
Dirangkai oleh Rae pada 11:37:00 PM 5 tanggapan
Rabu, November 21, 2012
Orang Madura & Stereotipe di Sekitarnya
- Pertama, ada kemungkinan bahwa baut-baut itu memang belum terpasang. Jadi ketiadaan baut-baut dan plat penutup jalan tersebut bukan dikarenakan hilang, namun lebih karena pekerjaannya yang memang belum selesai.
- Stereotipe orang Madura adalah pengumpul besi adalah stereotipe lokal. Kebetulan karena stereotipe ini berkembang di Jakarta, kicauan ini lebih cepat tersebar, bahkan sampai masuk ke dalam meja redaksi media-media arus utama.
- Kereta api dulu pernah beroperasi di Madura. Sampai saat ini, sisa-sisa rel besinya masih membentang dari Pelabuhan Kamal sampai pusat Kota Bangkalan, bahkan sampai terus ke Sampang di sisi timur. Jika memang orang-orang di Madura memang oportunis dalam mengumpulkan besi, lalu kenapa sisa-sisa rel ini masih tergeletak begitu saja dari tahun 1987 sampai hari ini?
Label: catatan terbuka, cerita orang, gaya hidup, sosial
Dirangkai oleh Rae pada 12:16:00 PM 0 tanggapan
Minggu, Oktober 07, 2012
Ada Tiwul Goreng di Obrok-Obrok
Nama lokalnya obrok-obrok. Disebut demikian karena ketika sepeda motornya berjalan di areal perkebunan yang jalannya bergelombang, isi rak jualannya terbanting-banting sehingga menimbulkan suara "obrok-obrok-obrok-obrok".

Target pasar obrok-obrok adalah para buruh harian di areal perkebunan. Di mana ada kerumunan manusia, di sanalah obrok-obrok berada. Utamanya adalah di areal tebangan di mana banyak buruh tani memanen batang tebu untuk diangkut ke truk dan dibawa ke pabrik. Di satu areal tebangan, bisa ada dua sampai lima obrok-obrok parkir.
Umumnya pekerja ini membeli dengan sistem bon. Setiap kelompok kerja biasanya sudah punya obrok-obrok langganan. Makanan yang dibeli dicatat oleh si penjual. Pembayaran biasa dilakukan di akhir pekan tiap sabtu, hari ketika para pekerja menerima gaji.
Dagangan yang tersusun di rak obrok-obrok cukup variatif. Mulai dari gorengan sampai nasi uduk. Minuman es pun tersedia, yang paling populer adalah es marijan. Sebenarnya es marijan ini adalah air es dengan campuran minuman energi
Salah satu menu unik yang biasa ada di obrok-obrok adalah tiwul goreng. Saya pertama kali kenal makanan ini karena melihat teman saya, yang sesama pengawas lapangan, makan dengan lahap di atas sepeda motornya.
"Mau, Re?" dia menawarkan. Awalnya saya agak sangsi dengan apa yang ia makan.
"Tiwul goreng. Rasanya kayak nasi goreng," Dengan logat Jogja kota asalnya, ia menjelaskan panganan yang sedang dimakannya.
Dari namanya, tiwul jelas berasal dari Jawa. Tiwul terbawa ke Lampung bersama dengan arus transmigrasi yang demikian masif semenjak awal 1900-an. Demikian masifnya, sampai-sampai wilayah di Lampung pun banyak yang "berbau" Jawa, sebut saja Way Jepara dan Pringsewu. Di pedesaan, jangan heran jika menemui anak-anak bawah lima tahun yang tidak bisa berbahasa Indonesia dan hanya mengenal bahasa Jawa. Umumnya mereka baru mengenal bahasa Indonesia ketika duduk di bangku Sekolah Dasar.

Kembali ke tiwul. Tiwul sendiri sederhananya adalah tumbukan singkong yang sudah dikeringkan. Untuk membuat tiwul goreng, tiwul dicampur dengan beras kemudian dimasak menjadi nasi tiwul. Hasilnya kurang lebih seperti campuran nasi dan jagung pada nasi jagung. Selanjutnya nasi tiwul itu dimasak seperti membuat nasi goreng. Inilah yang disebut dengan tiwul goreng.
Berbeda dengan ekspektasi awal saya, ternyata rasa tiwul goreng itu enak, bahkan cenderung ke "enak banget". Sebungkus tiwul goreng lengkap dengan sepotong tempe hanya seharga Rp 2.500,00. Citarasanya tidak jauh berbeda jika dibandingkan dengan nasi goreng biasa. Sedikit perbedaan hanya pada teksturnya yang cenderung liat. Selain itu, Tiwul goreng juga lebih "nendang" daripada nasi biasa. Sebungkus kecil tiwul goreng sudah cukup untuk mengganjal perut selama seharian muter-muter di kebun tebu.
Akhirnya, kegiatan mencari tiwul goreng untuk sarapan ini menjadi kebiasaan baru saya dan teman saya. Setiap pagi, setelah selesai memprogram rencana irigasi dan traktor untuk perawatan tebu bersama anak buah, kami selalu meluncur ke lokasi tebangan, mencari obrok-obrok. Setelah itu, biasanya kami mencari rimbunan tebu yang sepi untuk sarapan. Bersembunyi dari Manajer Wilayah yang sewaktu-waktu bisa saja memergoki kami mencuri waktu sejenak untuk sarapan.
Tiwul yang selama ini identik dengan makanan inferior, ternyata jika ditilik dari harganya kini sudah layak untuk "naik kasta". Bukan karena saya dan teman saya yang orang kota bisa jatuh cinta pada cicipan pertama pada tiwul. Namun karena harga tiwul dari hari ke hari semakin meroket.
Di daerah Lampung Tengah dan Lampung Timur, harga tiwul mencapai Rp 8.000,00 per kilogramnya. bandingkan dengan harga beras kualitas sedang di sini yang hanya Rp 7.000,00 per kilogramnya. Berdirinya beberapa pabrik bioetanol berbasis singkong di Lampung agaknya turut punya andil dalam melambungkan harga tiwul.
Namun demikian, meskipun harganya kian hari makin meroket, rasanya tiwul tidak akan pernah dilupakan oleh penggemar awalnya. Ia akan tetap setia bersama mereka yang semenjak dulu telah mengenalnya, para pekerja kelas bawah.
Label: catatan terbuka, gaya hidup, jelajah gizi, pertanian, sosial
Dirangkai oleh Rae pada 6:11:00 AM 4 tanggapan
Sabtu, Agustus 11, 2012
[Site Review] carmall.com: Jangan Beli Mobil Baru Dalam Karung!
Kenapa Harus Mobil Baru?
Walaupun harganya lumayan kerasa beda, sebenarnya banyak keuntungan beli mobil baru dibandingin dengan mobil bekas. Keuntungan yang paling utama adalah jaminan bahwa kendaraan tersebut emang benar-benar masih bagus. Gak jarang orang yang membeli mobil bekas ketipu dengan penampilan luar. Body mulus, cat mengkilap, eh gak taunya pas dipake malah sering jajan ke bengkel.
Kalau mau beli ponsel, kan gak jarang kita sampai beli tabloid yang isinya katalog ponsel-ponsel yang ada lengkap berikut spesifikasi dan harga jualnya. Sebagai calon konsumen tentu kita ingin membanding-bandingkan ponsel-ponsel yang ada lebih dulu sebelum benar-benar membeli. Jangan sampai sudah beli mahal-mahal ternyata kebutuhan kita tidak bisa terpenuhi.
Nah carmall.com ini melakukan hal yang sama. Hanya bedanya, produk yang diinformasikan di situs ini adalah mobil. Kalau untuk ponsel yang harganya “cuma” jutaan saja kita bisa segitu selektif, apalagi kalau mau beli mobil. Harga mobil baru gak cuma puluhan, tapi ratusan juta, bahkan miliaran lho.
Memilih Calon Mobil
Amat penting bagi calon pembeli untuk memiliki pengetahuan awal mengenai calon mobil yang akan dibeli agar bisa memutuskan dengan lebih tenang. Jangan sampai calon pembeli bingung memutuskan akan membeli mobil mana ketika sudah sampai di dealer mobil.
Kalau pilihan sudah mantep, kita tinggal melangkahkan kaki ke dealer terdekat. Dealernya di mana? Oh tenang aja, carmall.com juga punya kok database dealer-dealer mobil di berbagai kota di Indonesia.
Fitur-Fitur Andalan
Fitur lain yang cukup menarik di situs ini adalah Simulasi Kredit. Dengan fungsi kalkulator ini, kita cukup memasukkan jenis mobil yang hendak kita beli, kemudian masukkan berapa persen yang akan kita kredit (inget, maksimal yang bisa dikredit sekarang 70%, karena uang muka minimal sekarang 30%) lalu tinggal tekan tombol “Hitung”. Kita juga bisa mensimulasikan berapa persentase bunga kredit dan berapa tahun kita akan mengangsur kredit. Dengan cepat, kita bisa mengetahui berapa uang muka yang harus dibayar dan berapa cicilan per bulan, serta total biaya yang harus dikeluarkan.
Label: beli mobil baru, blogosphere, cari mobil baru praktis, gaya hidup, harga mobil baru, mobil baru
Dirangkai oleh Rae pada 1:59:00 AM 3 tanggapan
Rabu, Juli 04, 2012
Memperbaiki Gizi Bangsa Dengan Susu
Label: blogosphere, gaya hidup, ilmu pengetahuan, kampanye, kesehatan, pertanian
Dirangkai oleh Rae pada 11:17:00 PM 5 tanggapan
Sabtu, Desember 31, 2011
Menuntut Edukasi Pasar yang Benar Mengenai Air
Pernah dengar air minum dengan merk
Evian? Merk ini berasal dari Perancis. Berasal dari mata air pegunungan di sana
yang jernih dan bersih. Konon, Evian adalah salah satu air minum dengan
kualitas terbaik yang ada di dunia. Tentunya tidak ada yang salah dengan itu. Tidak
ada yang salah, sampai akhirnya Evian beredar di seantero penjuru dunia,
termasuk di Indonesia.
Label: gaya hidup, kampanye, lingkungan hidup
Dirangkai oleh Rae pada 11:42:00 PM 3 tanggapan
Selasa, November 08, 2011
Jarak Antara Syariat Islam dan Islami
Prof. Komarudin Hidayat sabtu lalu (5 Nov 2011) bikin tulisan di kompas dengan judul "Keislaman Indonesia". Beliau banyak ngutip tulisan "How Islamic are Islamic Countries", tulisan Rehman dan Askari yang dimuat di Global Economy Journal 2010 lalu. Intinya, ternyata Indonesia dan negara-negara OKI umumnya gak lebih Islami daripada negara-negara sekuler yang ada di eropa atau bahkan New Zealand sekalipun.
Sementara gerakan keislaman di Indonesia masih banyak menghabiskan tenaganya untuk melabeli hukum dengan nama "syariat islam", di luar sana, negara yang sekuler justru lebih bisa mengedepankan apa-apa yang disyariatkan oleh Islam tanpa ada label syariat atau bahkan mungkin tanpa pernah mendapatkan referensi mengenai syariat Islam tersebut. Ternyata masih ada jarak antara label syariat dan kehidupan Islami itu sendiri.
Tapi tentunya tetap menarik untuk menyimak kelanjutan Undang-Undang Zakat, Infaq, dan Shodaqoh yang baru saja disahkan DPR. Apakah infiltrasi syariat Islam ke dalam hukum positif Indonesia bisa berhasil atau tidak?
NB: Iseng-iseng, nemu spin off dari How Islamic are Islamic Countries yang lebih menitikberatkan pembahasan ke soal ekonomi, An Economic Islamicity Index. Tentunya sektor ekonomi yang dibahas di sini tidak terbatas hanya soal finansial yang sering menggempur konsep bunga (riba). Ada 12 area yang dijadikan parameter, mulai dari sistem finansial sampai ke pengembangan kemakmuran dan struktur sosial dalam upaya menjamin persamaan hak dalam mendapatkan kemakmuran, kesehatan, dan lain sebagainya.
Label: agama, gaya hidup, mimbar terbuka, sosial
Dirangkai oleh Rae pada 11:00:00 AM 0 tanggapan
Selasa, Oktober 04, 2011
Cukup Satu Kali Mandi Dalam Sehari
Seperti lazimnya anak-anak Indonesia lainnya, saya mandi dua kali sehari. Namun kebiasaan itu berubah ketika kuliah. Aktifitas yang tak tentu membuat jadwal mandi turut menjadi tak tentu. Akhirnya jatah mandi terpangkas menjadi hanya sekali dalam sehari. Ini adalah kondisi umum, namun ada juga saat-saat di mana saya mandi tetap dua kali sehari.
Semenjak itu, saya biasanya mandi sebelum memulai aktifitas. Mandi di pagi hari atau agak siangan. Mandi sore menjadi jarang dilakukan. Biasanya karena sudah kecapekan dan sudah terlalu larut ketika sampai di kamar kosan. Alasan konservasi air dan penghematan tentunya juga menjadi pertimbangan.
Semenjak itu mandi sore menjadi tidak penting. Mandi pagi sudah cukup mewakili 24 jam yang ada. Namun semua berubah ketika negara api menyerang bekerja di perkebunan tebu. Bergumul dengan tanah dan debu yang beterbangan dari pukul 07.00 sampai (minimal) 16.00 membuat mandi sore menjadi hal yang tak terhindarkan. Mandi sore menjadi penting dan semacam keharusan.
Di titik inilah, kebiasaan saya kembali berubah. Semenjak itu saya menjadi rajin mandi sore (untuk menggantikan mandi pagi).
Label: canda tawa, catatan terbuka, gaya hidup, info gak guna
Dirangkai oleh Rae pada 11:06:00 AM 0 tanggapan
Sabtu, September 11, 2010
Sst.. Environmentalist Tidak Ada yang Berjuang Untuk Alam
Mengapa mereka disebut environmentalist? Padahal, dasar dari segala dasar atas apa yang mereka lakukan bukan untuk menyelamatkan lingkungan kok. Apa yang mereka berjuangkan kan sebenarnya untuk menjamin eksistensi manusia di bumi ini.
Mereka terkesan sebagai penyelamat lingkungan karena mereka berusaha mempertahankan status quo bumi ini. Mempertahankan jumlah flora dan fauna pada tingkat yang aman. Mempertahankan keragaman spesies yang ada. Mempertahankan suhu bumi. Mempertahankan ketinggian air laut. Mempertahankan jumlah es di kutub utara. Ya, intinya mereka mempertahankan status quo di bumi ini yang kondisinya sudah sesuai dengan kebutuhan manusia.
Mungkin istilah yang tepat buat mereka memang bukan environmentalist (human-beingist mungkin lebih tepat). Mereka peduli ketika paus-paus dibantai, tapi tenang-tenang saja ketika sekerumunan nyamuk disemprot racun anti serangga. Ketika paus-paus, yang memang jumlahnya tinggal sedikit itu dibantai, maka keseimbangan alam akan terganggu dan cepat atau lambat akan mempengaruhi keberadaan manusia di muka bumi. Berbeda ketika nyamuk yang sudah over-populated itu dibantai, tidak ada keseimbangan yang terganggu. Kalaupun ada, setidaknya tidak akan mempengaruhi kehidupan manusia.
Lalu apakah environmentalist itu adalah sekumpulan hipokrit? Ya bukan itu konklusinya. Tidak ada yang salah ketika manusia ingin menyelamatkan hidupnya. Sama sekali tidak salah ketika manusia ingin mewariskan dunia yang indah ini kepada anak cucunya kelak.
Berita besarnya adalah bahwa bumi sebenarnya tidak perlu diselamatkan. Dia akan tetap ada meskipun oksigen tak lagi ada. Dia akan tetap ada meskipun semua fauna pun flora yang ada saat ini punah. Sialnya untuk kita, manusia, dunia akan tetap ada meskipun spesies kita tak lagi ada.
Manusialah yang perlu diselamatkan. Ketika setiap entitas manusia begitu sangat tergantung terhadap segala sesuatu yang terserak di seluruh penjuru dunia, maka manusialah yang paling terancam oleh perubahan sekecil apapun.
Label: gaya hidup, kampanye, lingkungan hidup
Dirangkai oleh Rae pada 11:28:00 PM 4 tanggapan
Minggu, Juli 04, 2010
Semangkuk Mie Ayam
Beberapa meter setelah gerbang Sekolah Dasar di mana saya menimba ilmu dulu, tepat di pojokan depan Gedung Cabang Muhammadiyah, ada tenda mie ayam yang benar-benar laris. Pelanggannya beragam. Mulai dari sopir antar jemput sampai orang tua murid. Dari pedagang mainan yang berjejer di sekitarnya sampai guru-guru. Setiap hari dagangannya hampir pasti habis. Lepas jam satu siang, sang pedagang biasanya sudah berkemas-kemas untuk pulang.
Saya masih ingat harganya. Satu porsi Rp 700,00 dan setengah porsi Rp 500,00. Untuk saya yang ketika itu uang jajannya hanya dijatah Rp 6.000,00 per bulan, tentu saja mie ayam saya kategorikan ke dalam barang mewah. Barang tersier. Bukan hanya untuk saya, teman-teman yang lain pun menganggapnya demikian. Mie ayam adalah sebuah kasta dengan prestise selanjutnya setelah somay dan es serut berbentuk payung kuncup. Makanan para priyayi. Makanan anak orang kaya. Makanan yang oleh sebagian anak lain hanya bisa dinikmati setelah merengek setengah mati ke orang tuanya yang kebetulan sedang menjemput. Makanan yang biasa dihadiahkan orang tua kepada anaknya setelah pembagian raport.
Beberapa kali teman-teman saya patungan untuk membeli mie ayam. seratus rupiah per anak. Jadilah setengah porsi mie ayam dikeroyok lima anak. Saya sendiri lebih memilih untuk menahan-nahan untuk hemat jajan di awal bulan, agar ketika akhir bulan bisa mendapatkan sisa uang untuk membeli mie ayam.
Dulu saya suka sekali menambahkan banyak-banyak saus murahan khas yang biasa ada di tukang mie ayam ke dalam mangkuk. Entah kenapa. Padahal sekarang saya tidak pernah menambahkan saus pun kecap ke dalam mie ayam. Mungkin warna kuning genteng menyalanya yang membuat saya tertarik ketika itu.
Seiring perjalanan waktu, saya menemukan bahwa mie ayam tidak lagi menjadi makanan yang wah. Apalagi setelah berkali-kali menemukan mie ayam dengan rasa gak karuan. Sekarang, tiga belas tahun lebih setelah pengalaman saya ketika sekolah dasar, saya menemukan sekelompok masyarakat yang menganggap mie ayam sebagai lambang kemewahan. Makanan khusus yang dimakan pada waktu khusus pula.
Tersebutlah pasar payroll. Pasar yang hanya hadir di hari sabtu dari siang sampai sore. Disebut pasar payroll karena hadir di dekat loket payroll. Loket pembagian gaji untuk buruh tani di sebuah perusahaan perkebunan tebu di pangkal Sumatera.
Pedagang yang berjualan di sana tidak sampai tiga puluh. Sebagian menjual kaos murah meriah dan kemeja bekas. Sebagian yang lain menjual peralatan rumah tangga. Namun dari sekian banyak pedagang tersebut, yang paling banyak adalah pedagang mie ayam.
Makan mie ayam menjadi semacam lambang penghargaan atas jerih payah buruh tani yang telah seminggu penuh membanting tulang untuk dua sampai tiga ratusan ribu rupiah. Terkadang kurang. Enam sampai delapan jam sehari. Enam hari seminggu, bahkan tujuh. Itulah waktu yang harus mereka setor demi menyambung hidup keluarganya. Untuk semua kerja keras itu, semangkuk mie ayam di akhir pekan adalah cara mereka untuk merayakannya. Sebuah cara yang meriah untuk mereka, tapi mungkin biasa-biasa saja untuk orang-orang kebanyakan.
Label: cerita orang, gaya hidup, monolog dua arah, sosial
Dirangkai oleh Rae pada 5:58:00 AM 0 tanggapan
Senin, April 19, 2010
Remeh, tapi...
Pasca rentetan pengeboman di berbagai wilayah di Indonesia, hampir semua gedung perkantoran dan pusat bisnis di Jakarta memperketat pengamanannya. Satpam lengkap dengan metal detector siap menyambut setiap pengunjung yang hendak memasuki areal gedung.
Lucunya di sebagian gedung yang menerapkan pengamanan model tersebut, apapun hasil analisis metal detector, berbunyi atau tidak berbunyi, tidak berpengaruh terhadap keputusan satpam yang akan selalu mempersilahkan pengunjung untuk masuk ke dalam gedung. Kegiatan pemeriksaan dengan menggunakan metal detector ini seakan menjadi sia-sia. Toh, pada akhirnya semua orang diperbolehkan untuk masuk ke dalam gedung, hanya prosesnya saja yang dipersulit.
Sebagian orang mungkin akan berpikir bahwa lebih baik jika pintu masuk gedung-gedung tersebut tidak perlu memberlakukan proses pemindaian oleh satpam dengan metal detector. Hanya memperbesar biaya operasional saja.
Tentu pendapat tersebut amat tepat jika dilihat dari kacamata seorang pebisnis. Namun dibalik kemubadziran pada pekerjaan remeh tersebut, terselip sebuah manfaat yang tidak terlihat secara kasat mata.
Angka kemiskinan yang tinggi di Indonesia menjadi masalah tersendiri yang sulit ditangani. Sebagian dari mereka yang yang kurang beruntung karena miskin kemudian seolah mendapatkan penyelesaian jitu dengan jalan pintas, mengemis. Bayangkan saja, tanpa perlu bersusah payah, baik secara fisik maupun pikiran, mereka bisa mengumpulkan puluhan bahkan ratusan ribu rupiah per hari. Bebas potongan pajak pula! Akibatnya, terbentuklah mental-mental pengemis. Parahnya lagi adalah ketika mental-mental seperti itu tertanam pada mereka yang masih berusia belia.
Ketika mental mengemis sudah tertanam, maka mereka akan lupa bahwa sesungguhnya cara terbaik untuk mendapatkan uang adalah dengan berusaha, bukan dengan meminta-minta.
India pernah mengalami masalah yang kurang lebih sama dengan Indonesia, mental mengemis yang tinggi di kalangan masyarakat bawah. Untuk mengatasinya, mereka membuat sebuah program padat karya. Orang-orang usia kerja di sana direkrut untuk bekerja dengan gaji sedikit di bawah upah minimum.
Tolok ukur keberhasilan program ini bukanlah kualitas dari luaran proyek tersebut - setidaknya itu bukan yang paling utama. Tujuan utama proyek ini adalah untuk menumbuhkan semangat kerja di masyarakat mereka. Dengan memudahkan tersedianya pekerjaan, tentu angka pengangguran akan menurun terlebih dahulu. Kemudian selanjutnya, dengan diberikannya upah yang minim, pemerintah mendorong masyarakatnya untuk lebih giat mencari pekerjaan di tempat lain dengan modal pengalaman yang sudah mereka miliki.
Entah program di India tersebut memiliki tujuan yang sama atau tidak dengan pekerjaan-pekerjaan sepele seperti satpam dengan metal detector di Indonesia. Yang pasti, dengan membuat orang merasa sedang bekerja, maka ia telah terhindar dari terbentuknya mental pengemis di dalam dirinya.
Label: gaya hidup, mimbar terbuka
Dirangkai oleh Rae pada 10:18:00 PM 3 tanggapan
Selasa, April 06, 2010
Langit Masih Terlalu Luas
Siapa yang terlanjur kenal dengan uang namun tidak tergoda sedikitpun dengannya? Hampir pasti tidak ada.
Uang memang tidak bisa membeli segalanya, tapi dengan uang, hampir segalanya bisa dibeli. Sebagai sebuah besaran, uang memiliki fleksibilitas yang tinggi hingga hampir semua barang pun jasa bisa dinilai dalam satuan-satuan yang dimilikinya.
Dimanapun, uang akan selalu memiliki dua sisi. Meskipun kedua sisi tersebut selalu berbeda, sifatnya akan selalu sama: seduktif. Sedikit banyak, hal itu juga yang mendorong saya saya untuk pindah dari kenyamanan ala kota Bogor ke tengah perkebunan di Lampung Tengah.
Awalnya agak kaget juga karena ternyata saya harus beradaptasi dengan wilayah yang masih kesulitan untuk mengakses informasi. Sinyal ponsel kelap-kelip, tidak ada jalur telepon kabel, dan warnet terdekat berjarak hampir 11 km (itupun per jamnya Rp 8000,00) membuat aktivitas saya di dunia maya semakin terbatas.
Hah, nikmati saja dulu. Toh pada akhirnya nanti akan ada waktu untuk meredefinisi mimpi. Luasnya langit masih menggoda untuk mengajak kembali berkelana.
Label: ambisi, catatan terbuka, gaya hidup, info gak guna
Dirangkai oleh Rae pada 10:48:00 PM 5 tanggapan
Kamis, Maret 04, 2010
Dasi dan Selendang
Memilih pakaian tentunya selalu memperhitungkan dua aspek, fungsi dan estetika. Pakaian yang dapat melindungi tubuh dan nyaman dikenakan harusnya menjadi pertimbangan pertama. Baru kemudian indah tidaknya pakaian tersebut dilihat yang menjadi perhitungan.
Anomali terjadi pada dasi dan selendang. Pada hakikatnya, dasi dan selendang sama sekali tidak memiliki fungsi. Kedua jenis pakaian ini digunakan hanya untuk kepentingan estetika belaka. Mungkin beberapa orang ada yang memfungsikan ujung dasi atau selendang untuk mengelap mulut sehabis makan. Tapi tentu harusnya bukan itu fungsi kedua benda tersebut.
Jika dilihat dari sisi kepentingannya yang hanya untuk memenuhi syarat estetika, maka dasi dan selendang lebih tepat dikatakan sebagai aksesoris, bukan sebagai pakaian. Namun demikian, beberapa orang memposisikan benda ini, khususnya dasi, sebagai batas kepatutat pakaian untuk dikategorikan sebagai pakaian resmi. Beberapa kantor menghendaki karyawannya selalu berdasi. Di pesta-pesta yang sifatnya resmi pun demikian, yang pria berdasi sementara yang perempuan berselendang melengkapi kebayanya.
Maka jadilah dasi dan selendang berada pada status abu-abu. Di antara pakaian dan aksesoris. Tidak bisa disebut pakaian karena tidak memiliki fungsi. Tidak pula bisa dikatakan sebagai sekedar aksesoris karena kehadirannya menjadi syarat formal tidaknya sebuah pakaian.
Label: gaya hidup, info gak guna, renungan, senam jari
Dirangkai oleh Rae pada 8:48:00 AM 0 tanggapan
Senin, Maret 01, 2010
Mall, Si Pelahap Energi
Ada sebuah laporan yang mengatakan bahwa konsumsi listrik satu mall yang berukuran sedang setara dengan konsumsi listrik Bandara Soekarno-Hatta. Maka bisa dibayangkan berapa banyaknya konsumsi listrik untuk mall-mall besar seperti Senayan City, Tunjungan Plaza, atau Paris van Java.
Tidak aneh jika kemudian pemerintah merencanakan pembatasan jam operasional mall. Namun menjadi aneh jika melihat kenyataan bahwa di lain pihak, ijin untuk membuat mall-mall baru tetap mudah dikeluarkan. Dalam waktu 2 tahun, semenjak 2008 sampai 2010, jumlah mall yang bertambah di Indonesia sampai 25%. Sebuah angka yang tentunya amat fantastis untuk merangsang sifat konsumtif masyarakat.
Beberapa inovasi memang sudah mulai dilakukan untuk menghemat energi. Di beberapa gedung, termasuk mall, eskalator yang biasa membawa pengunjung berganti tingkat pun telah direkayasa. Hal ini dilakukan dengan cara memasang inverter atau intelligent motor controller sehingga listrik yang dikonsumsi dapat dikurangi.
Food Court juga sering menjadi sumber pemborosan listrik. Beberapa food court di mall menyediakan televisi yang sebenarnya mubazir. Televisi menyala tanpa ada yang menonton. Sebagian besar pengunjung food court pun lebih tertarik untuk berbincang-bincang ketimbang menonton televisi. Mungkin lebih tepat jika yang disetel di food court adalah musik, bukan siaran televisi.
Membuat food court di bagian atap gedung seperti yang ada di Plaza Semanggi juga dapat menjadi opsi yang menarik. Selain untuk alasan estetika, tentunya food court di bagian atap gedung dapat mengurangi konsumsi listrik dari pencahayaan artifisial yang biasa digunakan di food court konvensional.

(Sumber gambar: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgEUbLIPbH_5CQuy9vTA4jrqxIST3RuQftvV5EIQvzeijZHhHMH17Zz8KDeK5yjTrFsao-7dDzJwmWfwNP_nt0xVaCP0dPa3zX5JH16qFBYHpl3vB-R4-R7MV0guYci3CE6zSRN/s400/sky+dining+plaza+semanggi+jakarta.jpg)
Pencahayaan artifisial memang menjadi sumber konsumsi utama energi di mall selain pendingin udara. Memperbanyak jendela sehingga lebih banyak cahaya gratis pada siang hari dari matahari bisa menjadi opsi yang diperhitungkan. Mall yang biasa kita temui terkadang lebih mirip benteng beton karena sangat minim jendela. Konsekuensinya tentu cahaya matahari tidak dapat masuk ke dalam bangunan sehingga dibutuhkan pencahayaan tambahan sepanjang hari di dalam mall. Rekayasa arsitektur hari ini sudah dapat mengambil cahaya dan meninggalkan panas matahari di luar dengan mengimplementasikan prinsip-prinsip environmental design pada desainnya hingga bangunan dapat lebih hemat energi dan lebih asri.
(Sumber gambar: http://www.inhabitat.com/wp-content/uploads/fusionopolissingapuraih.jpg)
Kehadiran mall, terutama di perkotaan, memang tidak terelakkan lagi. Selain sebagai sarana belanja, mall juga dapat menjadi alternatif hiburan murah bahkan gratis. Ketimbang menghabiskan energi untuk menolak kehadirannya yang sudah terlanjur ada, rasanya lebih baik untuk semakin membatasi jumlah mall yang akan dibangun dan berusaha membuat mall yang sudah ada agar dapat berdiet dengan konsumsi energinya.
Label: gaya hidup, lingkungan hidup, listrik
Dirangkai oleh Rae pada 9:49:00 PM 2 tanggapan
Sabtu, Januari 30, 2010
Pintu Terlarang: sebuah kritik untuk televisi?
tapi kalo mau tetep nekad baca ya saya mau bilang apa. untuk kenyamanan anda sendiri saya sudah berusaha sebisa mungkin untuk menyamarkan apa-apa yang menjadi bagian film. maka dari itu jika anda belum menonton film ini kemungkinan besar anda tidak akan menangkap maksud tulisan ini.
hehehe.
setelah dua kali menonton film ini sekitar hampir satu tahun yang lalu, akhirnya saya tergelitik juga untuk beropini. dengan berbekal mesin pencari google, akhirnya saya berkesempatan membaca beberapa review tentang pintu terlarang. langkah yang tidak bijak ternyata karena pada akhirnya saya jadi pusing sendiri di tengah malam ini.
pusing karena setiap review mengembangkan imajinasinya masing-masing untuk menginterpretasi film ini. sementara semua orang tidak henti-hentinya memberi puja-puji untuk film ini, saya justru memilih sikap anti populis dan berusaha realistis. dengan berusaha untuk tidak terjebak pada bayang-bayang prestasi dan portofolio joko anwar, akhirnya saya memberanikan diri untuk mengambil konklusi bahwa film ini
yah, mungkin memang gak sampah sih. film ini hanya film yang beda dari pakem film-film arus utama. saya hanya orang awam yang buta soal film-film festival dan lebih memilih untuk dibodoh-bodohi holywood untuk membayar karya-karya tipikal mereka.
tapi yang mengganjal adalah, dari sekian banyak review dan reka-reka
akhirnya saya memasrahkan diri untuk ikut dalam permainan joko anwar dalam mereka-reka isi otaknya. oh, sungguh kejamnya joko anwar karena pasti dia sangat girang bukan kepalang melihat reviewer-reviewer yang mencoba memahami film ini. belum tentu benar namun tetap saja segala puja-puji untuk beliau mengucur deras. arggh, saya membayangkan wajah joko anwar tersenyum licik.
parahnya lagi adalah jika ternyata joko anwar pun sebenarnya hanya sedang mempermainkan penonton dengan membuat plot-plot yang seolah terkembang dalam banyak persimpangan dan memang membebaskan imajinasi setiap penontonnya menginterpretasi filmnya sementara ia sendiri tidak punya interpretasi sendiri untuk film ini. semoga saja tidak. amin.
saya mendasarkan reka cerita ini pada dua resensi yang saya temukan di sini dan di sana. untuk lebih memudahkan anda membaca tulisan ini, saya persilahkan anda untuk membaca terlebih dahulu dua tulisan tersebut (dan menonton filmnya terlebih dahulu tentu saja). tapi kalau tidak mau ya tidak apa-apa. silahkan saja melanjutkan perhatian anda pada paragraf di bawah ini.
saya sepakat dengan pernyataan bahwa joko anwar memang sedang bercerita tentang sebuah jarak. bagaimana kamera dan monitor memberikan sebuah jarak yang aman bagi penonton untuk menikmati apa-apa yang seharusnya tabu dalam kehidupan nyata. sebuah jarak yang memberi kesempatan bagi penonton untuk menikmati "dosa" tanpa harus menjadi berdosa. kenikmatan itulah yang ditawarkan sebuah klub gak jelas bernama herosase. memberikan sajian fragmen-fragmen kehidupan beberapa orang yang diambil melalui kamera pengintai yang tersaji dalam beberapa kanal televisi.
film ini jelas penuh dengan metafora dan metafora yang (dengan sesuka hati) saya tangkap adalah kebudayaan pop televisi. bagaimana kita didoktrin bahwa televisi memuat berjuta informasi yang amat berguna bagi kita namun pada saat yang sama juga memuat paradoks berupa proses yang bernama dehumanisasi.
tayangan sadis, tidak realistis, dan imajinatif seolah mendapatkan pemakluman ketika ditonton melalui sekat berupa lembaran gelas pada tabung televisi (maafkan saya untuk mengabaikan teknologi layar yang sudah tidak menggunakan tabung). sebuah pemakluman yang kemudian sering mewujud dalam kalimat,"yaelaaah... namanya juga pelem".
namun sang tokoh utama dalam film ini, Gambir, merasakan keresahan karena menangkap realitas yang berlebihan pada televisi yang ia tonton. jika kita mendekatkan cerita ini ke kehidupan nyata pun kita akan mendapati tayangan-tayangan televisi seperti ini (yang sok realistis) semacam termehek-mehek dan realigi.
keresahan Gambir berbuntut pada kehidupan nyatanya. Ia merasa bahwa ada yang tidak benar dalam dunianya. tidak benar karena, entah di mana, ada seorang anak yang menjadi obyek kekerasan orang tuanya. sebuah realitas dalam wujud seorang anak yang ia lihat melalui layar televisi. Ia pun berhalusinasi bahwa ia memiliki tanggung jawab untuk menyelamatkan sang anak. ia merasa ada dialog yang mampu menembus sekat tabung televisi. sebuah dialog antara dia dan sang anak. akhirnya Gambir justru "terpaksa" untuk selalu melihat penyiksaan anak tersebut demi mendapatkan petunjuk di mana anak itu berada.
seperti yang sudah saya bilang tadi, bahwa layar televisi memberi jaminan batas aman bagi penonton untuk memahami mana yang nyata dan mana yang tidak. televisi menjadi saluran imajinasi yang tidak dimungkinkan untuk terjadi di alam nyata bahkan untuk menjadi saluran bagi apa-apa yang tabu. namun ketika kita sudah terpapar dengan sedemikian massifnya dengan pendaran cahaya dari televisi, maka bukan tidak mungkin semua yang ada di televisi tersebut mampu melangkah melalui sebuah PINTU TERLARANG tepat menuju otak kita melalui mata. inilah pintu terlarang yang dimaksud. tanpa disadari, tayangan televisi telah mencengkram kehidupan kita dengan begitu erat. hal ini pun telah diangkat oleh Neil Postman melalui bukunya, Amusing Ourselves to Death.
sebuah pintu yang membuat mereka mampu menjadi kewajaran di alam nyata. ya wajar-wajar saja, jika kita telah terpapar televisi dalam intensitas yang sedemikian tinggi, maka kehidupan kita pun adalah seputar yang ditayangkan televisi itu juga toh?
paparan-paparan ini kemudian secara tidak sadar membuat Gambir merasa sah-sah saja untuk mempraktekkan apa yang dia tonton di kehidupan nyata. maka ia pun menyelesaikan masalah di rumahnya dengan cara yang sudah dia pahami benar melalui televisi yang selalu ia lihat, yaitu kekerasan.
potongan metafora lain yang ada di film ini menurut saya adalah bahwa Gambir bukanlah satu orang. Gambir mewakili semua penonton yang menjadi korban adiksi televisi. Gambir dapat berupa orang biasa-biasa saja, bisa jadi seorang pematung, bisa jadi seorang suami, seorang anak, seseorang yang akhirnya menjadi gila, atau bahkan seorang pastor sekalipun (dua contoh terakhir tertuang dalam fragmen akhir film ini).
Label: film, gaya hidup
Dirangkai oleh Rae pada 12:40:00 AM 11 tanggapan
Selasa, Januari 05, 2010
menitipkan asa bumi pada film kartun dan komik
bagaimana sebuah tontonan yang ringan ternyata bisa memuat muatan politis yang amat besar tentu amat menarik. rasanya sedikit yang menyangka bahwa kehidupan Smurf yang imut-imut itu ternyata adalah sebuah alegori kehidupan masyarakat komunis.
sebenarnya bukan hanya smurf, banyak cerita anak-anak lain yang memiliki "pembonceng". tentunya hal ini sah-sah saja. sebuah cerita yang baik tentunya adalah cerita yang menyisipkan pesan moral di dalamnya, baik yang sifatnya bisa diterima secara umum (seperti cerita Doraemon yang mengajarkan adab dalam berkawan), sampai yang ditujukan untuk pengembangan satu ideologi tertentu seperti smurf dan masyarakat komunisnya.beberapa cerita anak lain yang sarat dengan propaganda antara lain adalah Dora yang mengajarkan anak-anak Amerika Serikat sedari dini untuk memiliki rasa tenggang rasa terhadap warga keturunan latin, Si Unyil yang tema tiap episodenya selalu disesuaikan dengan kebijakan pemerintah yang sedang in di waktu tersebut, sampai upin-ipin yang merupakan propaganda Islam.
penanaman moral, paham, dan ideologi kepada anak sedari dini menjadi penting karena semua itu dapat terekam dalam area sub-conscious sang anak. pertarungan ideologi di masa anak-anak merupakan investasi jangka panjang yang buahnya baru akan terlihat 15-20 tahun kemudian. ketimbang berkampanye kepada orang dewasa, tentunya berkampanye kepada anak kecil akan lebih mudah diterima. anak kecil, dengan keterbatasan pengalamannya, tentu tidak memiliki banyak pembanding (benchmark) atas apa yang disodorkan kepada mereka hingga mereka menjadi tidak terlalu banyak membantah dan lebih mudah mengimani apa saja yang dikatakan padanya. tentunya semua itu hanya dapat berhasil apabila dilakukan dengan komunikasi yang tepat untuk anak kecil.
di tengah kefrustasian warga negara-negara dunia ketiga atas arogansi gaya hidup warga Amerika Serikat, yang menghambur-hamburkan sumber daya alam, sedangkan pemerintahnya tidak memiliki komitmen untuk mendorong warganya agar lebih berhemat, tentunya kampanye terhadap anak usia dini menjadi pilihan yang semakin realistis.
rasanya sulit sekali untuk mengajak Amerika Serikat berkomitmen untuk mengurangi emisi karbonnya. mereka menolak untuk meratifikasi Protokol Kyoto, dan di tiap pertemuan COP pun Amerika Serikat selalu menjadi peserta yang paling ngeyel. entah apa yang salah dengan Amerika Serikat sehingga mereka enggan sekali berkomitmen.
mungkin komitmen dari mereka tidak dapat kita capai sekarang, tapi komitmen itu masih bisa kita harapkan pada tahun-tahun mendatang. kembali ke cerita anak-anak, saya teringat dengan kartun Captain Planet yang pernah saya tonton di dekade 90-an. sebuah cerita superhero yang berusaha menyelamatkan bumi dari kerusakan alam seperli limbah cair, radioaktif, sampai pembalakan hutan.
rasanya Amerika Serikat butuh menayangkan kartun-kartun seperti ini kembali. sebuah kartun dengan misi khususnya yang mengajarkan anak untuk lebih menghargai bumi dan lebih bertanggung jawab atas segala perbuatannya.
Label: ambisi, film, gaya hidup, kampanye, komik, lingkungan hidup, luar negeri
Dirangkai oleh Rae pada 12:03:00 PM 3 tanggapan
Minggu, Desember 13, 2009
the same old richard is back!
it's been a while since my last attendance on their gig. it's more than five years ago at Pekan Raya Jakarta. I remember the night. the night, that made me poke someone there that I don't know and ask, "bang, boleh numpang tidur gak? saya dari bogor nih. udah kemaleman kalo mau balik sekarang." that was freak. yeah, that's one story when I was a young gun, not a rusty revolver like now.
so when i got the information that Pas will play at Taman Mini Indonesia Indah, I think this is something that I couldn't miss. well, not only because I haven't go to any gig in the last few years, but there is some several other reasons:
- it's free! free at all! I just bring my ass there, then enjoy the show. thank you so much for Vespa Antique Club that made this event.
- Taman Mini Indonesia Indah is not too far away from my residence. it just like two and half hour trip by bus or train.
- this is the main reason why i must attending the gig. the drummer for this gig is not Sandy Andarusman, but Mr. Richard Mutter, the former drummer of Pas Band itself. i heard that sandy is on his honeymoon. is it true? ah, just focus to richard mutter.
so this is a reunion concert. if I count it right, this is the third time in the last 2 years, richard sit behind his drum set, again, for Pas Band. He resigned from Pas Band after the Psycho I.D. album. the first reunion was held in Rolling Stone Indonesia Event and the second one was on Jakarta Rock Festival. from what I read on the paper, Richard was giving some influence in those Pas Performance. he's like trigging the bomb that made the gig become much more powerful.
in the first time, I think it just a subjective opinion from peoples that miss Richard so much to play for Pas Band. so I was there, in Taman Mini Indonesia Indah, to prove it by myself.
they start the show at 4.15 PM. well, i'm not really sure about the time precisely. it was pretty crowded and I start bang my head. I lost the repertoir. I don't even remember what was their first song, maybe it was Kembali. I was too excited to release my emotion by sing along, song after song.
if i have to choose between richard and sandy, frankly i have to choose richard. well, sandy is okay, not bad. he is good enough, but the problem is Pas's songs need a powerful, a very very powerful drum beat. that is what Sandy doesn't has.
so the gig was closed by a powerful song, Jengah from their 2.0 album. overall, the show brings my memory back to my days when i was young. yeah, I'm not young anymore. i didn't put myself to the mosh-pit like what i always do when i was a high school boy. not only because i was bringing my lady, but i think i don't have any excess power to slam my body anymore. then the show is over. i ended the evening with a blasting memory from the past. hopely it will give me another stock of flush.
Label: catatan terbuka, gaya hidup, indie, musik
Dirangkai oleh Rae pada 11:53:00 PM 2 tanggapan
Kamis, Desember 10, 2009
redefinisi masakan indonesia ala warteg
saya dulu pernah berpikir kalau warung tegal (warteg) mungkin sebenarnya bisa kita harapkan untuk melestarikan pusaka kuliner nusantara. bagaimana tidak, warung nasi dengan penjual dari tegal ini tersebar di pelosok negeri. tetapi pikiran itu buru-buru saya tarik kembali.
warteg punya kecenderungan untuk meredefinisikan masakan-masakan yang sudah ada. pernah makan atau melihat rendang yang ada di warteg? rendangnya sangat tidak rendang. beda sekali dengan rendang yang ada di rumah makan padang. mungkin karena rendang asli padang sudah sangat kesohor, maka muncul istilah "rendang jawa". ini adalah redefinisi masakan yang pertama.
sekali waktu saya pernah makan di warteg yang ada di bandung. ketika saya sedang makan, seorang pembeli lain meminta penjual untuk membungkuskan pesanannya, "mas, tolong gudegnya tiga ribu."
ternyata yang dimaksud gudeg di warteg ini bukanlah sayur khas jogja dengan rasa legit, tapi sayur nangka dengan kuah santan dan bumbu cabai. pedas, bukan manis. nangka dan hanya nangka, tanpa telur atau potongan ayam. ini adalah redefinisi masakan yang kedua.
redefinisi masakan ketiga akan saya buka dengan sebuah gambar berikut.
ini adalah menu yang biasa saya makan waktu sahur pada bulan puasa yang lalu. ayo kita tebak isinya apa saja. yang utama adalah nasi, kemudian ada sambal goreng kentang yang dicitrakan melalui warna kuning genteng di sisi kanan gambar. selain itu kemudian juga ada orek tempe yang terlihat berwarna coklat panjang-panjang yang mendominasi bagian bawah gambar. lantas apa yang berwarna kuning di atas? potongan-potongan itu memang daging, tepat seperti yang anda pikirkan. jika anda kemudian menebak itu adalah gulai, maka tebakan anda sama seperti saya ketika pertama kali melihatnya. tapi ternyata itu bukan gulai. masakan daging dengan warna dominasi kuning (bukan hitam) itu ternyata adalah RAWON.
Label: catatan terbuka, gaya hidup, info gak guna
Dirangkai oleh Rae pada 5:26:00 PM 5 tanggapan
Minggu, November 08, 2009
mobil profit: sebuah angkutan alternatif?
pernahkan anda terpikir dari mana datangnya mobil-mobil yang biasa nangkring di etalase dealer mobil di berbagai kota? sebagian besar mobil-mobil tersebut dibuat di daerah jakarta utara, bekasi, tangerang, dan beberapa kota lain di jawa tengah seperti semarang dan magelang. dari tempat dibuat, mobil-mobil tersebut kemudian dibawa ke berbagai kota, dari jawa timur sampai jambi, dengan cara dikendarai.
sopir-sopir yang mengemudikan mobil-mobil tersebut biasa disebut dengan istilah sopir profit atau sopir profit engine. entah apa artinya, tidak ada yang benar-benar tahu dari mana dan sejak kapan istilah ini dipakai. untuk perjalanan satu malam, biasanya sopir tersebut dapat mengantongi uang sebesar Rp 60.000,00, setelah dipotong ongkos kembali ke jakarta. bukan jumlah yang besar memang, bahkan amat kecil jika dibandingkan dengan usaha yang harus dilakukan. tidak heran jika kemudian banyak sopir profit yang "nakal".
sesuai dengan peraturan perusahaan, sopir sebenarnya dilarang menaikkan penumpang selama perjalanan. sudah tentu tidak ada perusahaan yang mau mengambil resiko interior kendaraan baru yang siap jual itu menjadi rusak atau kotor akibat ulah penumpang gelap. akan tetapi, minimnya penghasilan dan banyaknya kesempatan yang terbuka membuat sopir-sopir profit banyak yang menjadi acuh dengan peraturan perusahaan.
contohnya di dalam kapal ferry merak-bakauheni. mobil-mobil profitan biasa menyeberang ke sumatera antara pukul 22.00 sampai 03.00 WIB. tujuan akhir mobil-mobil ini beragam, mulai dari bandar lampung sampai jambi. tidak sulit membedakan mobil ini dengan mobil pribadi lainnya. ciri-ciri mobil profitan antara lain adalah tidak berlapis film pada kacanya, jok masih berlapis plastik, dan biasanya ada coret-coretan spidol pada kaca depan. mobil-mobil ini sudah jamak mencari penumpang di atas kapal.
biasanya di atas kapal sudah ada calo yang siap mencarikan penumpang. calo-calo ini sudah menjadi penguasa di atas kapal. sopir tidak diperkenankan mencari penumpangnya sendiri. untuk perjalanan dari kapal sampai bandar lampung, tarif yang dikenakan adalah Rp 30.000,00. penarikan uang pun biasanya dilakukan oleh calo. dari jumlah tersebut, calo biasanya mendapatkan Rp 10.000,00. tapi tidak jarang calo meminta lebih. jika dihitung-hitung, sopir biasanya hanya mendapatkan tambahan sekitar Rp 100.000,00 - 140.000,00 sampai di bandar lampung.
tidak sedikit penumpang tujuan bandar lampung yang tergiur untuk memakai jasa angkutan gelap ini. bagaimana tidak, jika mereka turun di bakauheni dan melanjutkan perjalanan dengan menggunakan bus, maka ongkos yang harus mereka keluarkan adalah sebesar Rp 17.000 untuk bus non AC dan Rp 25.000 untuk bus AC. selisih uang tersebut dinilai memadai karena bus-bus tersebut tentu berjalan lebih lambat dari mobil-mobil profitan. belum lagi bus-bus tersebut biasa mengetem terlebih dahulu sampai penumpang penuh.
opsi lain dengan menggunakan jasa travel juga masih kalah pamor bagi mereka yang sudah merasakan menjadi penumpang gelap. banyak penumpang yang enggan berjalan kaki cukup jauh dari kapal ke terminal pelabuhan. belum lagi calo-calo yang setengah memaksa sehingga sering meresahkan. alasan lain untuk tidak naik travel adalah karena tarif yang dikenakan masih lebih mahal Rp 5.000,00 dibandingkan dengan tarif mobil profitan, belum lagi jika sopir dengan seenak jidatnya tiba-tiba meminta ongkos lebih karena menilai jarak tujuan sangat jauh.
setiba di pelabuhan bakauheni, mobil-mobil dengan penumpang gelap tersebut langsung menempuh jalan menuju bandar lampung. lepas dari genggaman calo, bukan berarti tantangan bagi sopir profit menjadi usai. "bahaya predator" masih mengintai. polisi adalah predator yang dimaksud. paham akan "dosa" yang dilakukan sopir profitan, polisi pun acap kali mengail di air keruh. jika sial dan diberhentikan polisi, sopir harus rela berbagi uang hasil menarik penumpangnya dengan polisi. jika beruntung, mereka cukup memberi Rp 10.000,00 saja. tapi kalau lagi apes, polisi bisa meminta Rp 10.000,00/penumpang yang ada. ini setara dengan setengah dari penghasilan tambahan sopir profit yang hanya Rp 20.000,00/penumpang! untuk mengelabui mata polisi, beberapa sopir memilih untuk mengosongkan kursi penumpang depan sehingga sekilas terlihat tidak ada penumpang di dalam mobil.
jika beruntung mendapatkan sopir yang baik hati, maka anda bisa diantarkan sampai dengan alamat tujuan. akan tetapi, mobil-mobil profit biasanya diisi dengan bahan bakar yang tepat dengan jarak yang ditempuh. maka untuk mengakali tambahan jarak ini, sopir biasanya tidak mengaktifkan pendingin ruangan selama perjalanan. dengan demikian maka bahan bakar yang ada dapat menempuh jarak yang lebih jauh dari seharusnya.
Label: gaya hidup, tips, transportasi
Dirangkai oleh Rae pada 10:12:00 PM 23 tanggapan