Jumat, Juni 27, 2014
Menolak Penolakan "Yuk Keep Smile"
Label: gaya hidup, sosial, televisi
Dirangkai oleh Rae pada 4:07:00 PM 3 tanggapan
Sabtu, Juni 08, 2013
Ketika Indonesia Gagal Menemukan People’s Champion
Sumber: http://loymachedo.com/ |
William Hung; Sang Fenomena |
![]() |
T2; Dari Sedikit yang Sukses (Sumber: http://music.oryn-cell.com) |
Label: gaya hidup, musik, televisi
Dirangkai oleh Rae pada 11:37:00 PM 5 tanggapan
Jumat, Mei 29, 2009
The (un)reality show
beberapa minggu belakangan ini saya mulai bisa kembali memantau acara-acara di televisi dan saya tersadar akan satu genre baru di televisi kita yang sedang naik daun: (un)reality show. acara termehek-mehek, realigi, mata-mata, dan sejenisnya dibuat seolah-olah adalah kejadian nyata padahal semua adalah rekaan. semua adalah aktor dan aktris yang sedang berakting.
entah apa tujuan mereka membuat acara ini. mungkin dengan membungkus ketoprakan modern ini dalam bingkai reality show maka efek drama-nya lebih tereksplor karena penonton mengira bahwa semua adalah nyata! sukseskah? sukses berat! masyarakat tertipu dan semakin menebalkan premis "manusia-manusia indonesia terlalu naif".
sebagai bentuk kreativitas mungkin hal ini sah-sah saja. yang kemudian menjadi masalah adalah ketika materi yang tersaji sangat opera sabun, hiperbolis. kalau tayangan sinetron saja bisa menggeser pola pikir masyarakat indonesia, bagaimana dengan suatu tayangan yang dicap KEJADIAN NYATA?
televisi memiliki kekuatan yang amat besar dalam mempengaruhi orang. apa yang muncul di televisi sering diterjemahkan sebagai sesuatu yang lumrah oleh penontonnya. jika di televisi banyak perempuan yang memakai baju seksi, maka penonton akan meredefinisikan arti "pakaian yang keren" dari yang selama ini mereka yakini menjadi apa yang dicontohkan di televisi.
salah satu produk siaran televisi yang disebut dengan nama sinetron (yang jelas-jelas cuma sandiwara) sering dianggap sebagai suatu kelaziman oleh orang yang menontonnya. apa yang tertuang di sinetron sering dianggap sebagai sesuatu yang wajar dan sah-sah saja bila terjadi di kehidupan nyata. apalagi dengan sebuah tayangan yang ngakunya adalah kejadian nyata.
semua jenis (un)reality show yang saya sebut di atas selalu menghadirkan konflik yang rasa-rasanya sangat jauh dengan keadaan masyarakat kita. adek selingkuh dengan kakak iparnyalah, suami tukang maen perempuan yang punya utang 2 milyarlah, adek mergokin kakaknya yang ternyata WTS-lah. rasa-rasanya kejadian kayak begini pun masih jauh perbandingannya dari satu banding sejuta. lantas kenapa yang borok-borok seperti ini ditayangin secara rutin dan diaku-akuin sebagai kejadian yang nyata? bukan nggak mungkin penonton acara-acara beginian menjadi semakin permisif dengan hal-hal yang sebenernya cuma ada di khayalan si tim kreatif acara ini.
ada satu kutipan menarik dari film "V for Vendetta": artists use lies to tell the truth. pelukis menggunakan kanvas untuk mendeskripsikan keindahan sebuah pantai. lukisan adalah sebuah kebohongan karena tidak nyata, tapi keindahan pantai yang hadir dari lukisan itu adalah nyata, senyata pantai yang aslinya. sedangkan acara-acara (un)reality show ini adalah sebaliknya: they uses the truth to tell lies. mereka menggunakan acara yang dianggap orang sebagai kenyataan untuk menyampaikan kebohongan-kebohongan.
sebagai akhir, saya menarik kesimpulan bahwa televisi di indonesia telah gagal memberikan gambaran masyarakat kita secara proporsional, adil, dan menyeluruh. televisi di indonesia telah lupa bahwa mereka memiliki tanggung jawab moral dan terlena dengan rating dan jumlah iklan yang masuk. sekali lagi, quo vadis televisi indonesia!
Label: gaya hidup, televisi, tipu daya
Dirangkai oleh Rae pada 9:37:00 PM 2 tanggapan
Sabtu, Mei 31, 2008
indonesia yang (masih) di dalam bingkai
di saat keberagaman mulai kembali marak di indonesia, ada beberapa sektor yang belum terbuka dengan hal ini. di bidang ideologi politik sampai musik, keberagaman mulai makin tumbuh, tapi di film hal ini belum nampak.
seperti yang dikatakan oleh deddy mizwar, rakyat indonesia ini amat beragam, tapi kenapa filmnya hanya bercerita tentang abg, komedi seks, dan horror? harus ada alternatif-alternatif laen yang bisa ngebuat masyarakat indonesia menjadi terdidik untuk mengetahui mana yang baik dan mana yang nggak. pluralisme layar perak indonesia emang masih terjebak di dalam bingkainya. belum bisa nunjukin kreativitas ide yang seharusnya bisa diapresiasi dengan baik oleh masyarakat luas.
bingkai kedua yang masih menjebak keindonesiaan kita adalah bingkai televisi. televisi nasional kita, yang sepuluh biji itu, masih sangat jakarta-sentris. emang gak salah kalo jakarta mendapat sorotan utama di media karena jakarta adalah ibukota indonesia. akan tetapi kadang pemberitaan itu nggak imbang dan gak adil. ketika di jakarta diadain pemadaman bergilir, televisi langsung ribut. padahal di sumatra, pemadaman bergilir itu bisa berlangsung setengah taun! dan selama setengah taun itu pula gak ada televisi yang pernah ngeributin hal tersebut.
keterpusatan jakarta juga terlihat ketika mentari pamit dari langit ibukota. semua stasiun televisi nasional serentak mengumandangkan adzan maghrib untuk wilayah jakarta. pernahkan orang di jakarta dan sekitarnya memikirkan apa yang dipikirkan orang-orang di daerah ketika menyaksikan adzan maghrib ketika sudah masuk waktu isya di ambon atau ketika matahari masih terang di banda aceh? tentunya bakal ngerasa aneh.
Label: televisi
Dirangkai oleh Rae pada 11:31:00 AM 1 tanggapan
Jumat, April 27, 2007
turn off your tv!!!
kalo lo ngikutin serial2 tipi di amerika kayak smallville, csi, lost, 24, dll mereka pinter banget maenin emosi penonton. satu taon cuma ada satu season. satu season juga paling banyak cuma 24 episode. artinya tuh film nayang di tipi cuma sekitar setengah taon (24 minggu/ 52 minggu). gak cuma nyampe di situ bikin penasarannya... di tengah musim biasanya mereka bikin klimaks cerita... abis itu pake acara season break. ais.... ceritanya digantung dulu... kalo kata bang roma sih: sungguh mati aku jadi penasaran... sampai mati pasti akan kuperjuangkan...
bener2 bikin penasaran deh. gue nggak abis pikir koq ada orang yang mau nonton serial "24" tiap minggu. tiap episode dibikin gantung... kalo ada orang yang ngikutin serial itu, terus meninggal di tengah season... bisa2 arwah orang itu jadi arwah penasaran. gak bakal bisa tenang sebelum season itu kelar. he...3x
beda banget dengan yang ada di indonesia. coba aja lo liat AFI. awal muncul... AFI bener2 sukses dan ekslusif. tapi dasar orang2 indosiar oportunis.. tuh acara dimaenin tanpa ada jeda tiap taunnya. akibatnya apa? acaranya jadi nggak ekslusif lagi. basi kan. liat aja AFI 3 yang grand finalnya cuma diselenggarain di studio 3 indosiar. sementara 2 grand final sebelumnya selalu diselenggarain di hall gede. kalo cuma di studio mah nggak ada bedanya dengan "pesta ceria" yang dipandu errina.
liat juga extravaganza di transtv. ketika sukses... otak2 oportunis kembali bekerja... gak puas dengan durasi satu jam, ditambah jadi dua jam. orang2 serakah makin kayak tikus yang selalu ngegrogotin apa aja yang bisa digrogot. gak puas dengan dua jam, dijadiin seminggu dua kali. gak cuma sampe di situ, bikin juga frenchisenya... extravaganzABG. nah, yang terakhir ini bener2 antiklimaks. extravaganza udah nggak ekslusif lagi... basi...
indosiar udah ngelakuin kebodohan. transtv juga udah naif. trans7 ternyata juga jatuh di lubang yang sama. liat acara empat mata. hari tayangnya per minggu makin banyak sekarang jadi lima hari seminggu. gak cuma nyampe situ.. jam tayangnya juga nambah jadi satu setengah jam. paraaah.... mau sejenius apapun si tukul ngebawain acara... yang namanya ekslusivitas itu perlu dijaga. gue rasa empat mata udah ngelewatin zona kekahatannya. sekarang acara ini udah mulai mengalami deklinasi minat maupun jumlah penontonnya. kalo kayak begini terus... bisa-bisa yang nonton empat mata emang bener-bener tinggal empat mata. gue sih nggak terlalu peduli, karena gue nggak terlalu suka nonton acara yang kayak begini.
Label: gaya hidup, keluh kesah, mimbar terbuka, rae against the machine, televisi
Dirangkai oleh Rae pada 1:54:00 PM 0 tanggapan
Selasa, Maret 06, 2007
quo vadis Mtv Indonesia
Mtv Indonesia gue nilai udah gagal dalam mengemban misinya sebagai saluran musik. liat aja acara-acara Mtv yang makin hari makin nggak mutu, vj_yang_sumpah najis_abis, dll.
VJ
gue bener2 sebel sama cathy dan ryanti. kenapa sih ngomongnya mesti dibuat seperti bule-bule yang masih susah ngomong pake bahasa indonesia. bahasa inggeris mereka juga nggak bagus2 amat koq! si daniel juga gak kalah tolol! VJ Mtv paling belagu yang pernah ada. terus terang gue rindu duet sarah sechan dan jamie aditya.
MUSIK
musik di Mtv jauh dari beragam. ke mana perginya alternative nations? music non-stop hits-nya juga itu-itu aja. gak ada perkembangan. Mtv Asia HitList juga udah gak ada. padahal acara itu perlu sebagai barometer musik dunia yang ada saat ini. kalo kayak begini terus kesannya Mtv seperti kucing dalam karung, eh, katak dalam tempurung diing... Mtv gagal memberikan wawasan musik yang lebih luas ke masyarakat Indonesia. musiknya gak beragam dan sangat mainstream... tidak mendukung scene-scene local-indie. kalo pun ada yang didukung, sangat terbatas! wawasan musik dari luar juga gak banyak. banyak video klip2 bagus dari luar yang nggak masuk tayangan Mtv. belom lagi kalo kita mo ngomongin musik-musik asik dari negara-negara Asia yang bisa dijadiin inspirasi. Beeeeh....
ACARA
music remedy, global room, gokil, and else you name it laaaah... gak lebih dari sekedar sampah!!! gak ada acara yang mendidik. kalo mendidik emang bukan target dari Mtv, acara-acara yang ada itu menghibur pun tidak!!! ke mana perginya Mtv bujang ketika host-nya masih vincent-desta, ke mana perginya Mtv Most Wanted?
Gue mau Mtv gue yang dulu di era 90-an!!!!!!
Label: gaya hidup, musik, televisi
Dirangkai oleh Rae pada 11:49:00 AM 1 tanggapan