Tampilkan postingan dengan label televisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label televisi. Tampilkan semua postingan

Jumat, Juni 27, 2014

Menolak Penolakan "Yuk Keep Smile"

Salah satu adegan “Yuk Keep Smile” (23/6/2014) kembali membuat berang sebagian masyarakat. Membandingkan anjing dengan Alm. Benyamin Sueb tentu amat melukai perasaan penggemar Bang Ben. Namun apakah permintaan menghentikan tayangan “Yuk Keep Smile” adalah solusi yang tepat di tengah masyarakat yang mengaku menjunjung demokrasi?
Seandainya yang meminta “Yuk Keep Smile” berhenti tayang adalah mereka yang tempo hari meminta penganut ajaran Ahmadiyah menghentikan kegiatan keagamaannya, maka saya bisa maklum. Orang-orang ini jelas tidak memahami –atau bahkan tidak mengakui- arti demokrasi. Namun jika ternyata yang meminta “Yuk Keep Smile” berhenti tayang adalah mereka yang membela penganut Ahmadiyah dengan dalih kebebasan beragama, maka maafkan saya apabila saya bilang mereka adalah orang-orang munafik.
Tayangan “Yuk Keep Smile” –sebodoh apapun itu- tetap harus dianggap sebagai manifestasi kebebasan berekspresi. Sama dengan penganut Ahmadiyah yang harusnya dijamin bebas menjalankan ibadahnya sebagai bagian dari kebebasan beragama. Kenapa harus dilarang? 
Apabila benar dihentikan, bukan tidak mungkin “Yuk Keep Smile” akan bermetamorfosis menjadi acara lain, namun esensinya sama-sama saja. Sejarah membuktikan bahwa acara “Empat Mata” yang dihentikan akhirnya lahir kembali sebagai “Bukan Empat Mata”. Bukan hanya kontennya yang tidak berubah, Pemilihan judul “Bukan Empat Mata” sendiri adalah sebuah cemoohan yang terang benderang bagi mereka yang sebelumnya minta acara “Empat Mata” dibredel.
Jika memang ada perlakuan yang tidak pantas dalam sebuah acara televisi, maka harusnya yang dihukum adalah orang-orangnya. Siapa mereka? Pengisi acara yang melakukan penghinaan. Produser acara yang bertanggung jawab atas acara tersebut. Bahkan, bukan tidak mungkin, penonton yang menertawakan hinaan tersebut. Namun jangan pernah sekali-kali meminta acaranya yang dihentikan.
Kondisi ini menunjukkan pada kita bahwa ternyata “demokrasi”, “kebebasan berpendapat”, “kebebasan beragama” tidak diletakkan sebagai pondasi berpikir dan bertindak. Jargon-jargon tersebut ternyata hanya senjata, dikeluarkan jika memang dibutuhkan. 
Setiap orang tentu memiliki kondisi idealnya masing-masing. Ada orang yang merasa resah ketika mengetahui tetangganya adalah penganut Ahmadiyah. Padahal kalau dipikir, solusinya mudah. Batasi saja pergaulan dengan tetangga tersebut. Ada juga orang yang resah ketika tontonan yang tayang di televisi adalah acara yang bodoh. Khawatir anaknya ikut menjadi bodoh. Padahal solusinya juga tidak kalah mudah. Ganti saja kanal televisinya atau sekalian matikan televisinya.

Sabtu, Juni 08, 2013

Ketika Indonesia Gagal Menemukan People’s Champion

Sumber: http://loymachedo.com/

William Hung, pria keturunan Asia, dengan kualitas suara di bawah rata-rata sekonyong-konyong menyedot perhatian Amerika Serikat. Kualitas penampilannya yang pas-pasan ternyata menjadi anti-tesis dari pakem yang selama ini dipegang industri musik Amerika Serikat. Angka penjualan album pertamanya mencapai 200.000 keping lebih. Dua album berikutnya juga mencatat hasil yang tidak terlalu mengecewakan, 35.000 dan 7.000 keping. 
Cerita William Hung di atas setidaknya membuktikan bahwa kualitas tidak selalu berbanding lurus dengan popularitas. Begitu banyak penyanyi dengan kualitas baik di dunia, tapi sejarah hanya mencatat segelintir saja. Hal ini amat disadari oleh industri musik dunia, termasuk di Indonesia. Kalau tidak, nama-nama seperti Kangen Band atau Mbah Surip tidak akan pernah menjadi fenomena di negeri ini.

William Hung; Sang Fenomena
Industri musik tidak melulu soal musik. Weird Al Yankovic menggabungkan musik dan humor. U2 memasukkan agenda-agenda politiknya dalam syair, Lady Gaga senantiasa tampil teatrikal. Industri musik bukanlah sekedar hiburan untuk memanjakan telinga. 
Ada sebuah pengalaman yang dituntut untuk bisa dinikmati dalam sebuah paket musik. Tuntutan yang lebih besar ketimbang sekedar suara indah. Maka dari itu, untuk menjadi seorang biduan yang populer dibutuhkan lebih dari teknik vokal yang mumpuni. Dapat dimengerti jika kemudian Simon Cowell mengkritik acara The Voice dengan blind audition-nya dengan berujar,”The Voice should have been on the radio.” 
Sebuah kritik mengenai bagaimana industri musik tidak bisa hanya mengandalkan kualitas vokal artisnya.
Dalam rangka mencari calon orang-orang populer di dunia musik, maka industri membutuhkan riset pasar. Industri berusaha memahami apa yang diinginkan konsumen. Tidak ada urusan soal bagus atau jelek. Apa yang pasar minta, maka itulah yang industri sediakan.
Maka lahirlah ajang pencarian bakat (talent show). Dengan penilaian yang didasarkan pada hasil voting masyarakat, setidaknya penyelenggara kemudian dapat menilai nilai jual seorang peserta dari dukungan yang didapat. Tujuan dari ajang ajang pencarian bakat seperti ini memang bukan mencari yang terbaik secara kualitas. Acara-acara model ini mencari apa yang disebut People’s Champion. Juara yang dipilih oleh rakyat. Serupa tapi tak sama dengan demokrasi.
Ajang pencarian bakat adalah sebuah riset pasar gaya baru. Jika sebelumnya riset pasar membutuhkan biaya yang besar, maka riset pasar melalui talent show tidak demikian. Riset ini justru menyenangkan banyak pihak dan yang utama bagi industri musik adalah: mengundang sponsor. 
Academia, Idol, X-Factor, The Voice, sebut saja yang lain. Semua acara tersebut adalah riset yang dilakukan industri musik untuk mencari tahu keinginan pasar. Terbukti, tak sedikit alumni dari acara-acara tersebut memang menjadi idola baru. Contoh yang paling gres tentu saja adalah One Direction yang merupakan jebolan X-Factor UK.
Indonesia, sebagai bagian dari masyarakat dunia, tentu tidak mau ketinggalan. Berbagai jenis franchise talent show mencoba peruntungannya di Indonesia. Mulai dari Akademi Fantasi, Indonesian Idol, sampai X-Factor berusaha “meriset” keinginan masyarakat Indonesia.
Setidaknya acara-acara model ini sudah berkiprah sekitar satu dasawarsa. Tiap musim acara berakhir, maka riset juga selesai. Idealnya, hasil riset kemudian di-up scale ke dalam skala industri. Namun ternyata, hasil riset yang ada selama ini lebih banyak melempem. Coba, alumni talent show Indonesia mana yang benar-benar sukses. Ada berapa banyak? T2 alumni AFI rasanya cukup lumayan. Kotak dari Dreamband juga cukup sukses. Sisanya? Hilang ditelan bumi. Delon? Justru lebih beruntung sebagai bintang film.

T2; Dari Sedikit yang Sukses (Sumber: http://music.oryn-cell.com
Mengapa riset pasar yang sudah dilakukan industri musik melalui talent show di Indonesia tidak “bunyi” di industri musik? Kalau boleh menduga, mungkin jawabannya adalah karena riset yang dilakukan di Indonesia tidak memenuhi “kaidah riset” yang baik dan benar untuk sebuah ajang pencarian bakat. 
Kegagalan ajang pencarian bakat Indonesia dalam menemukan sang People’s Champion amat berkaitan dengan sistem voting yang digunakan. Sebagai contoh, dalam acara American Idol, voting dilakukan melalui telepon. Satu nomor hanya memiliki jatah satu suara. Hal ini amat berbeda dengan sistem voting pada talent show yang ada di Indonesia di mana, penonton justru diminta untuk sebanyak-banyaknya melakukan voting
Adanya sampel yang terduplikasi dalam proses pemilihan, menjadikan hasil voting bias. Seorang peserta dengan seribu pendukung bisa saja mengalahkan peserta lainnya yang memiliki satu juta pendukung. Asalkan seribu pendukung peserta pertama tadi mengirim voting dengan akumulasi lebih dari satu juta kali. 
Jika hasil riset ini dinaikkan skalanya ke level industri musik sebenarnya, di mana prestasi ditunjukkan dari berapa kopi albumnya yang terjual, maka jelas sang pemenang akan melempem. Hasil maksimal pembelian kopi album hanya berkisar di angka seribu keping. Padahal data risetnya menunjukkan ada satu juta lebih penggemarnya. Realisasinya hanya 0,1%.
Hal ini amat mungkin terjadi. Salah satu faktor pendukung terjadinya hal ini adalah panjangnya durasi voting. Jika di ajang pencarian bakat luar negeri, voting biasanya baru dimulai setelah acara dan berakhir dalam beberapa jam, maka di Indonesia voting nyaris bisa dilakukan selama 24 jam, 7 hari seminggu. Voting terhadap seorang peserta bisa dilakukan bahkan sebelum peserta tersebut unjuk kebolehannya. Luar biasa.
Jumlah dan durasi voting yang begitu terbuka lebar tidak akan pernah menjawab siapa People’s Champion yang sebenarnya. Hasil voting hanya menunjukkan militansi dari pendukung masing-masing peserta. Dukungan terbesar mungkin tidak datang dari penilaian yang obyektif, melainkan dari kedekatan voter dengan peserta, entah itu sebagai keluarga, teman, satu sekolah, satu daerah, rekan kantor, dan sentimen-sentimen lain yang jelas tidak ada hubungannya dengan selera musik masyarakat pada umumnya.
Selain jumlah dan durasi voting, hal lain yang juga menjadi inhibitor ditemukannya sang People’s Champion adalah ongkos voting. Hampir seluruh ajang pencarian bakat di Indonesia menerapkan tarif kepada voter ketika memilih. Bukan hanya tarif biasa, namun tarif premium, yang harganya bisa sepuluh kali dari tarif normal! 
Mahalnya ongkos untuk menjadi seorang voter tentu saja berimbas pada para  swing voters, yang berasal dari masyarakat awam. Masyarakat yang tidak memiliki kedekatan emosional apapun dengan para peserta. Masyarakat yang justru paling obyektif untuk mendeskripsikan bagaimana selera pasar yang sesungguhnya.
Dengan diberlakukannya tarif premium, para swing voters justru akan lebih memilih menjadi golongan putih (golput). Hal yang kontras justru terjadi di Amerika Serikat di mana untuk melakukan voting, voter justru dikenakan layanan bebas pulsa sehingga swing voters tertarik untuk berpartisipasi. Semakin banyak swing voters bersuara, semakin handal hasil riset pasar tersebut.
Selama sistem voting yang diterapkan ajang pencarian bakat di Indonesia tidak berubah, maka jangan terlalu banyak mengharapkan People’s Champion lahir dari acara-acara model ini. Akan ada banyak People’s Champion gagal bersinar karena terkubur timbunan suara hasil voting bertarif premium peserta lain semenjak awal kompetisi.

Jumat, Mei 29, 2009

The (un)reality show

beberapa minggu belakangan ini saya mulai bisa kembali memantau acara-acara di televisi dan saya tersadar akan satu genre baru di televisi kita yang sedang naik daun: (un)reality show. acara termehek-mehek, realigi, mata-mata, dan sejenisnya dibuat seolah-olah adalah kejadian nyata padahal semua adalah rekaan. semua adalah aktor dan aktris yang sedang berakting.

entah apa tujuan mereka membuat acara ini. mungkin dengan membungkus ketoprakan modern ini dalam bingkai reality show maka efek drama-nya lebih tereksplor karena penonton mengira bahwa semua adalah nyata! sukseskah? sukses berat! masyarakat tertipu dan semakin menebalkan premis "manusia-manusia indonesia terlalu naif".

sebagai bentuk kreativitas mungkin hal ini sah-sah saja. yang kemudian menjadi masalah adalah ketika materi yang tersaji sangat opera sabun, hiperbolis. kalau tayangan sinetron saja bisa menggeser pola pikir masyarakat indonesia, bagaimana dengan suatu tayangan yang dicap KEJADIAN NYATA?

televisi memiliki kekuatan yang amat besar dalam mempengaruhi orang. apa yang muncul di televisi sering diterjemahkan sebagai sesuatu yang lumrah oleh penontonnya. jika di televisi banyak perempuan yang memakai baju seksi, maka penonton akan meredefinisikan arti "pakaian yang keren" dari yang selama ini mereka yakini menjadi apa yang dicontohkan di televisi.

salah satu produk siaran televisi yang disebut dengan nama sinetron (yang jelas-jelas cuma sandiwara) sering dianggap sebagai suatu kelaziman oleh orang yang menontonnya. apa yang tertuang di sinetron sering dianggap sebagai sesuatu yang wajar dan sah-sah saja bila terjadi di kehidupan nyata. apalagi dengan sebuah tayangan yang ngakunya adalah kejadian nyata.

semua jenis (un)reality show yang saya sebut di atas selalu menghadirkan konflik yang rasa-rasanya sangat jauh dengan keadaan masyarakat kita. adek selingkuh dengan kakak iparnyalah, suami tukang maen perempuan yang punya utang 2 milyarlah, adek mergokin kakaknya yang ternyata WTS-lah. rasa-rasanya kejadian kayak begini pun masih jauh perbandingannya dari satu banding sejuta. lantas kenapa yang borok-borok seperti ini ditayangin secara rutin dan diaku-akuin sebagai kejadian yang nyata? bukan nggak mungkin penonton acara-acara beginian menjadi semakin permisif dengan hal-hal yang sebenernya cuma ada di khayalan si tim kreatif acara ini.

ada satu kutipan menarik dari film "V for Vendetta": artists use lies to tell the truth. pelukis menggunakan kanvas untuk mendeskripsikan keindahan sebuah pantai. lukisan adalah sebuah kebohongan karena tidak nyata, tapi keindahan pantai yang hadir dari lukisan itu adalah nyata, senyata pantai yang aslinya. sedangkan acara-acara (un)reality show ini adalah sebaliknya: they uses the truth to tell lies. mereka menggunakan acara yang dianggap orang sebagai kenyataan untuk menyampaikan kebohongan-kebohongan.

sebagai akhir, saya menarik kesimpulan bahwa televisi di indonesia telah gagal memberikan gambaran masyarakat kita secara proporsional, adil, dan menyeluruh. televisi di indonesia telah lupa bahwa mereka memiliki tanggung jawab moral dan terlena dengan rating dan jumlah iklan yang masuk. sekali lagi, quo vadis televisi indonesia!

Sabtu, Mei 31, 2008

indonesia yang (masih) di dalam bingkai

di saat keberagaman mulai kembali marak di indonesia, ada beberapa sektor yang belum terbuka dengan hal ini. di bidang ideologi politik sampai musik, keberagaman mulai makin tumbuh, tapi di film hal ini belum nampak.

seperti yang dikatakan oleh deddy mizwar, rakyat indonesia ini amat beragam, tapi kenapa filmnya hanya bercerita tentang abg, komedi seks, dan horror? harus ada alternatif-alternatif laen yang bisa ngebuat masyarakat indonesia menjadi terdidik untuk mengetahui mana yang baik dan mana yang nggak. pluralisme layar perak indonesia emang masih terjebak di dalam bingkainya. belum bisa nunjukin kreativitas ide yang seharusnya bisa diapresiasi dengan baik oleh masyarakat luas.

bingkai kedua yang masih menjebak keindonesiaan kita adalah bingkai televisi. televisi nasional kita, yang sepuluh biji itu, masih sangat jakarta-sentris. emang gak salah kalo jakarta mendapat sorotan utama di media karena jakarta adalah ibukota indonesia. akan tetapi kadang pemberitaan itu nggak imbang dan gak adil. ketika di jakarta diadain pemadaman bergilir, televisi langsung ribut. padahal di sumatra, pemadaman bergilir itu bisa berlangsung setengah taun! dan selama setengah taun itu pula gak ada televisi yang pernah ngeributin hal tersebut.

keterpusatan jakarta juga terlihat ketika mentari pamit dari langit ibukota. semua stasiun televisi nasional serentak mengumandangkan adzan maghrib untuk wilayah jakarta. pernahkan orang di jakarta dan sekitarnya memikirkan apa yang dipikirkan orang-orang di daerah ketika menyaksikan adzan maghrib ketika sudah masuk waktu isya di ambon atau ketika matahari masih terang di banda aceh? tentunya bakal ngerasa aneh.

Jumat, April 27, 2007

turn off your tv!!!

kalo lo ngikutin serial2 tipi di amerika kayak smallville, csi, lost, 24, dll mereka pinter banget maenin emosi penonton. satu taon cuma ada satu season. satu season juga paling banyak cuma 24 episode. artinya tuh film nayang di tipi cuma sekitar setengah taon (24 minggu/ 52 minggu). gak cuma nyampe di situ bikin penasarannya... di tengah musim biasanya mereka bikin klimaks cerita... abis itu pake acara season break. ais.... ceritanya digantung dulu... kalo kata bang roma sih: sungguh mati aku jadi penasaran... sampai mati pasti akan kuperjuangkan...

bener2 bikin penasaran deh. gue nggak abis pikir koq ada orang yang mau nonton serial "24" tiap minggu. tiap episode dibikin gantung... kalo ada orang yang ngikutin serial itu, terus meninggal di tengah season... bisa2 arwah orang itu jadi arwah penasaran. gak bakal bisa tenang sebelum season itu kelar. he...3x

beda banget dengan yang ada di indonesia. coba aja lo liat AFI. awal muncul... AFI bener2 sukses dan ekslusif. tapi dasar orang2 indosiar oportunis.. tuh acara dimaenin tanpa ada jeda tiap taunnya. akibatnya apa? acaranya jadi nggak ekslusif lagi. basi kan. liat aja AFI 3 yang grand finalnya cuma diselenggarain di studio 3 indosiar. sementara 2 grand final sebelumnya selalu diselenggarain di hall gede. kalo cuma di studio mah nggak ada bedanya dengan "pesta ceria" yang dipandu errina.

liat juga extravaganza di transtv. ketika sukses... otak2 oportunis kembali bekerja... gak puas dengan durasi satu jam, ditambah jadi dua jam. orang2 serakah makin kayak tikus yang selalu ngegrogotin apa aja yang bisa digrogot. gak puas dengan dua jam, dijadiin seminggu dua kali. gak cuma sampe di situ, bikin juga frenchisenya... extravaganzABG. nah, yang terakhir ini bener2 antiklimaks. extravaganza udah nggak ekslusif lagi... basi...

indosiar udah ngelakuin kebodohan. transtv juga udah naif. trans7 ternyata juga jatuh di lubang yang sama. liat acara empat mata. hari tayangnya per minggu makin banyak sekarang jadi lima hari seminggu. gak cuma nyampe situ.. jam tayangnya juga nambah jadi satu setengah jam. paraaah.... mau sejenius apapun si tukul ngebawain acara... yang namanya ekslusivitas itu perlu dijaga. gue rasa empat mata udah ngelewatin zona kekahatannya. sekarang acara ini udah mulai mengalami deklinasi minat maupun jumlah penontonnya. kalo kayak begini terus... bisa-bisa yang nonton empat mata emang bener-bener tinggal empat mata. gue sih nggak terlalu peduli, karena gue nggak terlalu suka nonton acara yang kayak begini.

Selasa, Maret 06, 2007

quo vadis Mtv Indonesia

Mtv Indonesia gue nilai udah gagal dalam mengemban misinya sebagai saluran musik. liat aja acara-acara Mtv yang makin hari makin nggak mutu, vj_yang_sumpah najis_abis, dll.


VJ

gue bener2 sebel sama cathy dan ryanti. kenapa sih ngomongnya mesti dibuat seperti bule-bule yang masih susah ngomong pake bahasa indonesia. bahasa inggeris mereka juga nggak bagus2 amat koq! si daniel juga gak kalah tolol! VJ Mtv paling belagu yang pernah ada. terus terang gue rindu duet sarah sechan dan jamie aditya.

MUSIK
musik di Mtv jauh dari beragam. ke mana perginya alternative nations? music non-stop hits-nya juga itu-itu aja. gak ada perkembangan. Mtv Asia HitList juga udah gak ada. padahal acara itu perlu sebagai barometer musik dunia yang ada saat ini. kalo kayak begini terus kesannya Mtv seperti kucing dalam karung, eh, katak dalam tempurung diing... Mtv gagal memberikan wawasan musik yang lebih luas ke masyarakat Indonesia. musiknya gak beragam dan sangat mainstream... tidak mendukung scene-scene local-indie. kalo pun ada yang didukung, sangat terbatas! wawasan musik dari luar juga gak banyak. banyak video klip2 bagus dari luar yang nggak masuk tayangan Mtv. belom lagi kalo kita mo ngomongin musik-musik asik dari negara-negara Asia yang bisa dijadiin inspirasi. Beeeeh....

ACARA
music remedy, global room, gokil, and else you name it laaaah... gak lebih dari sekedar sampah!!! gak ada acara yang mendidik. kalo mendidik emang bukan target dari Mtv, acara-acara yang ada itu menghibur pun tidak!!! ke mana perginya Mtv bujang ketika host-nya masih vincent-desta, ke mana perginya Mtv Most Wanted?

Gue mau Mtv gue yang dulu di era 90-an!!!!!!