Tampilkan postingan dengan label agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label agama. Tampilkan semua postingan

Kamis, Desember 07, 2017

Tambah, Uda

Siang itu mendung. Hujan dari pagi turun. Sesekali berhenti. Tak lama kemudian kembali guyur. Beriterasi dalam siklusnya. Di sempitnya salah satu celah waktu itu saya keluar dari ruangan. Menjejaki aspal-aspal basah, melompati satu dua genangan yang memantulkan bayang kanopi pucuk merah. Sesekali saya harus mengalah pada genangan yang menganak sungai. Sumbat serasah yang terlambat diangkat pada selokan di sisi kanan membuat air memintas ke selokan di sisi kiri yang lebih rendah.

Empat menit empat puluh delapan detik kemudian saya sampai di muka pintu rumah makan Padang. Pas pula adzan dzuhur menggaung di udara. Belum ada pembeli lain di ruang makan. Seorang bapak muda melayani saya sembari diusili anaknya yang tingginya baru sedengkul lewat. Bapak sudah hapal lauk-lauk pilihan saya. Asam padeh, kembung bakar, atau ayam goreng. Tiga pilihan itu ditawarkannya. Hari itu saya agak malas makan ikan, maka ayam goreng yang saya pilih. Tak lupa catatan tambahan, "Minta dada ya."

Dengan sigap, ia memilah-milih dari potongan yang ada. Saya pun duduk di salah satu meja. Menghadap meja makan beralas kaca gelap, memunggungi pintu masuk, beralas kursi lipat merah. Tujuh detik berselang, Istri bapak tadi datang membawa segelas belimbing teh tawar hangat bersama air kobokan dalam cawan baja tahan karat - lengkap dengan irisan jeruk nipis a la kadarnya. Belum selesai teh disajikan, sang suami sudah datang bersama sepiring makan siang saya. Setangkup nasi, sejumput daun singkong rebus, sepotong kecil nangka, campuran sayur kacang panjang dan kol, serta tak lupa ayam goreng. Oh, iya. sesendok makan bumbu rendang di sisi dan sesendok sayur kuah gulai mengguyur nasi putih yang uapnya masih menguar. 

Makan siang dimulai. Sesekali mata saya memperhatikan siaran berita di TV yang tergantung di atas lemari. Masih di ruang pandang, ada sebuah etalase tinggi yang tadinya biasa menjajakan berbotol-botol minuman berkarbonasi. Kacanya berhias tulisan R. M. Rimpun Padi dengan motif tulisan yang junjung di bagian tepinya menyerupai rumah gadang. Etalase itu sudah berubah fungsi. Dari balik kaca samar terlihat tumpukan baju yang belum disetrika. Tidak ada lagi warna-warni hitam, hijau, dan merah botol minuman. 

Di balik etalase itu terlihat si bapak yang tadi keluar dari kamar mandi. Wajahnya basah terkena wudhu. Lepas berdoa, dia kenakan sarung kotak-kotak coklat muda. Masuk lewat kepala, dililit di bagian pinggang, dan digulung hingga mata kakinya tampak. Kemudian digelar sejadahnya. Ujungnya nampak menyembul melewati hadangan pandang etalase botol tadi. Ia hendak menunaikan sholatnya. Posisinya sudah menghadap kiblat, namun belum lagi niatnya terucap, Ia justru membalik badannya. Melihat-lihat ke arah pintu masuk. Khawatir jangan-jangan ada pembeli yang datang. Sudah jam 12 lewat, sudah waktunya makan siang. Tapi mungkin karena rintik kembali mengguyur, belum lagi ada pelanggannya yang datang.

Ia atur lagi posisi sholatnya, namun kembali terinterupsi. Kini Ia bicara dengan istrinya. Suaranya tenggelam dibalut gelombang penyiar TV yang sedang mewartakan penggerebekan pabrik narkoba. Dalam percakapan tersebut, beberapa kali lagi ia melongok ke arah pintu masuk. 

Ia kembali ke sejadahnya. Namun sekali lagi dia urungkan dzuhurnya. Kali ini dia keluar dari ruang di balik etalase botol minuman ke arah ruang makan. Masih dengan sarung kotak-kotak coklat mudanya, dihampirinya satu-satunya pelanggan yang ada di ruangan itu lalu berkata, "Tambah, bang?"

Saya pun tersenyum sambil mengacungkan telunjuk kanan. Segera diambilnya sebuah piring kecil, dibukanya termos nasi, lalu dengan centong dari batok kelapa, diambilnya setangkup bulir-bulir putih. Tak lupa diluberinya nasi dengan sedikit kuah gulai, lalu diserahkannya piring tersebut di atas meja.

Ia kembali ke dalam ruang di balik etalase minuman botol. Berdiri di atas sejadahnya, mengangkat kedua tangannya, dan tenggelam dalam khusyuknya iftitah.

Jumat, Juni 09, 2017

Warisan, Tapi Bukan yang Itu

Kebetulan saja kita lahir di Indonesia, jadi bisa pasang avatar "Aku Indonesia, Aku Pancasila". Coba kalo kita lahirnya di Nikaragua, mungkin gak kita teriak-teriak bilang "Aku Nikaragua, Aku Pancasila"?

Kita gak bisa milih lahir di mana, dari rahim siapa. Ke-Indonesia-an kita ini warisan. Pancasilanya juga warisan. Apakah pancasila ini paling benar? Mungkin gak sih ada yang lebih adiluhung dari Pancasila?

Gak semua orang di dunia ini mewarisi pancasila. Orang-orang di Nikaragua itu contohnya. Terus, patutkah kita mengasihani mereka karena tidak kenal pancasila?

Orang Amerika ga kenal pancasila. Negara mereka menjadi adidaya tanpa pancasila. Mereka liberal. Bertentangan dengan pancasila. Tapi adidaya.

Cina itu komunis. Bertentangan dengan pancasila. Tapi maju.

Setau saya, tidak ada negara maju yang kenal pancasila. Patutkah kita mengasihani mereka karena mereka tidak pancasila? Atau justru mereka yang harusnya mengasihani kita karena Negara Indonesia begini-begini saja.

HTI mau dibubarin (sudah dibubarin?) karena bertentangan dengan pancasila. HTI mau menegakkan khilafah berdasarkan syariat Islam.

Kenapa dilarang? Pancasila lebih hebat dari syariat Islam? Mungkin. Belum ada buktinya.

Tapi kalau ada negara Islam yang pernah mahsyur menjadi pusat peradaban dunia dengan para cendikianya, itu sudah ada buktinya. Haruskah kita mengasihani mereka yang mau menegakkan khilafah? atau justru kita yang harusnya dikasihani?

Bangsa kita, ngeliat Tatan masuk 9gag aja udah menggelinjang setengah mati. Liat ada bule belajar jadi dalang bangganya sampe ke bulan pulang-pergi 3 rit. Kata Om Joko Anwar, bangsa kita terlalu inferior. Orang Amerika ngeliat orang Indonesia pake celana jeans biasa aja. Kita, liat bule pake batik langsung mabuk kepayang.

Kalo kata pak presiden, negara lain sudah bicara mobil fantasi masa depan, spaceX, kita masih sibuk dengan urusan cantrang. Terlalu remeh.

Oke, udah mulai melenceng. Kembali ke pancasila. Kenapa kita gak bisa menerima orang yang berideologi lain. Boleh saja fanatik dengan satu ideologi, tapi jangan berlebihan juga. Yang pancasilais ga perlu ngelarang-larang yang Islamis. Yang Islamis, juga mestinya gak perlu ngelarang-larang yang komunis.

Yang nasionalis dipersekusi. Yang agamis dikriminalisasi. Yang komunis digebuk. Terus siapa yang menang?

Kita bisa hidup rukun dengan orang yang beda agama, tapi kenapa kita gak bisa hidup rukun dengan orang yang beda ideologi?

Kalau beragama itu urusan personal, harusnya berideologi juga. Yang dibutuhin tinggal saling pengertian, kurangi rasa curiga. Sekali lagi kita perlu belajar untuk bisa menerima perbedaan.

Semoga Indonesia bisa segera damai.

*) Tulisan ini dibuat untuk lucu-lucuan menanggapi tulisan berjudul Warisan buatan Afi Nihaya Faradisa yang sempat jadi viral dan kontroversi. Kalau ada yang nanggepin secara serius tulisan ini, ya itu masalah dia sendiri. =)

Jumat, Desember 19, 2014

Atribut Keagamaan, Stereotipe, dan Kebebasan Berkeyakinan

Seperti pernah saya ceritakan sebelumnya, guru agama saya pernah mencubit perut saya karena sholat tanpa peci. Padahal peci bukan syarat sah sholat. Peci juga tidak berfungsi menutupi aurat. Orang yang naik haji saja tidak berpenutup kepala. Lalu kenapa saya harus dicubit? Guru saya sudah mencampuradukkan antara kebudayaan dan ibadah.

Peci bukan bagian dari ibadah sholat. Memang peci kerap dipakai ketika orang sholat. Tapi sebenarnya kehadiran peci tidak lebih penting daripada ketupat yang selalu ambil bagian ketika Idul Fitri. Siapa saja bisa makan ketupat. Siapa pun bisa memakai peci. Bahkan ketika masa orde baru, peci menjadi semacam identitas nasional, bukan atribut keagamaan.

Derajat keimanan seseorang tidak bisa dinilai dari pakai peci atau tidak. Maka tidak mungkin juga mengetahui keyakinan seseorang hanya melalui pakai peci atau tidak. Memang peci identik dengan orang Islam, tapi bukan berarti orang bukan Islam tidak boleh memakai peci. Bukan berarti tiap orang yang memakai peci seketika itu juga tiba-tiba menjadi beragama Islam.

Peci hanya stereotipe. Sama saja dengan topi sinterklas. Sama juga dengan ketupat. Saya yakin penganut agama nasrani di awal-awal penyebarannya pun tidak berdakwah dengan cerita seorang kakek di kutub utara yang tiap akhir tahun berkeliling dunia dalam satu malam memberikan hadiah ke rumah-rumah melalui cerobong asap. Bahkan saya tidak yakin apa ada cerobong asap di rumah-rumah Yerusalem ketika itu. Sama tidak yakinnya apakah konsep kutub utara sudah bisa diterima dengan baik ketika itu. Lha, Galileo Galilei yang lahir belakangan dan mengenalkan konsep bumi itu bulat saja tidak langsung diterima pihak gereja.

Ini simbol salju, bukan simbol keagamaan

Diskusi soal bagaimana seharusnya sikap umat Islam dalam menyikapi natal selalu menjadi perbincangan tiap tahun. “Gak selesai-selesai,” kata orang.

Tentu saja tidak akan pernah selesai, lha wong natalnya memang datang tiap tahun. Jadi wajar saja kalau adu argumen soal bagaimana menyikapi natal oleh umat Islam akan terus dibahas tiap tahun. Tiap Ramadhan juga selalu yang dibahas adalah soal berpuasa agar menjadi orang bertaqwa, tapi tidak ada yang komentar, “temanya ini melulu.”

Semua orang boleh berpendapat, memberikan argumen, dan juga dalil. Yang tidak boleh adalah memaksakan pendapatnya. Jika ada orang Islam yang meyakini bahwa mengucapkan selamat natal itu tidak apa-apa, maka orang lain harus menghormatinya. Boleh mempengaruhinya, menasihatinya, dan mengajaknya diskusi. Tapi tidak perlu melarang-larang sambil membawa pentungan. Cukup diingatkan saja.

Di lain sisi, jika ada orang Islam yang meyakini memakai topi sinterklas itu haram, maka orang lain pun tidak punya hak memaksanya. Sekedar memintanya untuk mengenakan sih boleh saja. Tapi kalau yang bersangkutan menolak, ya jangan dipaksa-paksa, tidak usah disindir-sindir. Apalagi diancam potong gaji, diberi surat peringatan, sampai dipecat.


Lalu bagaimana dengan peringatan natal yang rencananya akan dihadiri oleh presiden –yang adalah muslim-. Harusnya tetap berpulang kepada keyakinan pribadi presiden itu sendiri. Kalau menurutnya tidak apa-apa baginya yang seorang muslim untuk datang ke acara tersebut, ya silahkan saja. Toh peringatan natal bukan bagian dari ibadah natal.

Teman-teman yang bukan Islam pun banyak yang datang ke acara buka puasa bersama atau halal bil halal. Tidak ada yang melarang. Lain halnya kalau orang tersebut ikut sholat Ied, bolehlah dikeluarkan dari shaf.

Namun jika presiden memiliki keyakinan bahwa menghadiri acara tersebut bertentangan dengan ajaran yang dia anut, maka keyakinan presiden ini harus dihormati juga. Tidak perlu merengek-rengek dengan berkata bahwa presiden adalah milik rakyat Indonesia, bukan hanya warga muslim Indonesia. Rasanya muslim manapun, mulai dari yang puritan semacam Habib Rizieq sampai yang paling liberal macam Ulil Abshar pun, tidak akan ambil pusing apakah Ahok akan mengucapkan selamat Idul Fitri atau tidak kepada warga DKI Jakarta.



Kalau ada orang yang menolak mengucapkan selamat hari raya kepada umat agama lain, tidak perlu juga dicap sebagai bigot. Selama orang-orang ini tidak mengganggu ibadah orang lain, tidak menutup paksa rumah ibadah agama lain, ya biarkan saja. Keyakinan itu urusan masing-masing. Beda agama jelas beda cara beribadahnya, namun yang satu keyakinan pun bisa jadi beda cara mengamalkan. Di mana pun letak perbedaannya, yang penting tetap saling menghormati. 

Kamis, Juli 26, 2012

Memahami #SaveMaryam


20 Juni 2012, bertepatan dengan 1 Ramadhan 1433 H, sebuah kampanye sekaligus propaganda di-launching. Tema yang mengambil gaya penulisan social media itu diberi nama #SaveMaryam.
#SaveMaryam adalah sebuah gerakan penyadaran kepada Muslim di dunia mengenai betapa jumlah Muslim di negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia saat ini, Indonesia, menurun dengan drastis. MercyMission, organisasi yang menaungi gerakan ini memaparkan data bahwa setidaknya ada 2 juta Muslim yang dikonversi ke agama lain tiap tahunnya di Indonesia. Terlepas dari keshahihan angka 2 juta dan siapa sebenarnya orang di balik #SaveMaryam dan MercyMission, menarik juga untuk menyimak video viral yang disiapkan oleh mereka mengenai modus operandi kristenisasi di Indonesia.
Kontroversi segera muncul atas tuduhan kristenisasi yang dilayangkan organisasi yang berbasis di Inggris ini. Di kelompok Islam, kampanye ini memunculkan kegusaran, apalagi di momen Ramadhan saat ini, isu apapun yang berbau Islam sangat mudah mencuri perhatian. Apalagi kiprah Mercy Mission belum terlalu dikenal oleh aktivis Islam Indonesia.
Kalangan kristen pun tak kalah gusar, beberapa orang menampik isu kristenisasi. Menurut mereka, kristenisasi adalah omong kosong, karena proses untuk menjadi kristen tidaklah semudah membalik telapak tangan.
Menjadi kristen itu ga cuma ngucap dua kalimat. 
Isu kristenisasi adalah barang lama. Sejak berpuluh-puluh tahun kita sudah mendengar isu ini yang kemudian mengemuka dalam kalimat satir “Akidah ditukar Indomie”, merujuk pada bantuan mie instan yang disusupi agenda kristenisasi. Tetapi, apakah memang benar kristenisasi itu ada?
Saya sendiri pernah melihat langsung upaya kristenisasi (setidaknya kristenisasi menurut pemahaman saya) pada korban gempa Jogja medio 2006 lalu. Sambil menyalurkan bantuan kemanusiaan, beberapa organisasi kemanusiaan menyusupkan agenda pengenalan Kristen dan Yesus, terutama kepada anak-anak.
Dengan memamerkan kalung salib, puji-pujian kepada Yesus, dan berbagai gimmick lain, organisasi-organisasi ini berupaya mengenalkan agama kristen kepada anak-anak. Sesuatu yang dinilai provokatif oleh beberapa orang Islam.

Data Upaya Konversi Umat Islam Selama Pemulihan Aceh Pasca Gempa

Setiap manusia memiliki visi dan misi masing-masing di dunia. Terkadang kita memiliki visi yang sama tapi misi yang dijalankan berbeda. Di lain kesempatan kita juga bertemu dengan orang-orang yang memiliki misi yang sama dengan kita meskipun visinya berbeda. Irisan-irisan seperti ini lumrah saja terjadi.
Saya tidak menyangsikan kesungguhan dan ketulusan organisasi-organisasi yang dituding melakukan kristenisasi semacam HOPE, International Organization for Migration, dan Save The Children dalam membantu korban bencana alam. Sama saja dengan Bulan Sabit Merah Indonesia (Tandingan Palang Merah yang sarat akan agenda Islam), semua organisasi tersebut memiliki misi yang sama, kemanusiaan. Perbedaan yang ada hanyalah pada visinya, mengenai ideologi yang diusungnya. Harusnya terang-terangan saja mengakui bahwa memang ada upaya kristenisasi dari kaum Kristen, karena begitu pula di Islam pun ada upaya Islamisasi. Selanjutnya, meskipun ada "kompetisi" dalam meraih pengikut, bukan berarti kemudian perlu jadi bermusuhan. Persaingan sebaiknya tidak dilakukan dengan mengintimidasi pihak lain, namun dengan mempromosikan keunggulan masing-masing.
Pemaparan fakta yang dilakukan #SaveMaryam ditanggapi beragam oleh kaum muslim di Indonesia. Sayangnya yang lebih sering muncul ke permukaan kemudian adalah ketakutan dan kebencian kepada kaum kristen. Padahal kalau dipikir, berusaha menambah jumlah pengikut agamanya masing-masing adalah hal yang wajar-wajar saja. Orang Islam pun akan semakin senang jika pengikutnya bertambah.
#SaveMaryam tidak sedang mengagitasi umat kristen dengan kristenisasinya. #SaveMaryam justru sedang melakukan otokritik kepada umat Islam. #SaveMaryam percaya bahwa kristenisasi di Indonesia berhasil bukan karena usaha keras dari umat kristen itu sendiri, melainkan karena abainya umat Islam dalam membina akidah.
We also believe violence in this matter occurs when there is too much focus on Christians and what they are doing. We need to shift our focus to Muslims and their needs instead, ensuring they are more knowledgeables and confident about their religion and have the services they need to lead dignified lives under Islam. - #SaveMaryam
Ketimbang menyebar kebencian, #SaveMaryam lebih memilih untuk membina umat. Mereka telah memiliki rencana jangka panjang untuk 25 tahun ke depan. Dalam waktu dekat, target mereka adalah mendirikan stasiun TV Islam dan hotline telepon untuk membantu komunitas. #SaveMaryam mengajak umat Islam untuk sadar bahwa untuk memenangkan pertarungan, yang harus ditundukkan bukanlah orang-orang kristen, melainkan diri mereka sendiri.
Ironis, ketika Umat Islam risau dengan murtadnya umat melalui kristenisasi, tapi justru mudah mengkafirkan JIL, Syiah, dan Ahmadiyah. Bukannya membina tapi malah mengintimidasi.

Selasa, Mei 29, 2012

(Apa) Dosa Charles Darwin?


Orang bijak tidak menilai buku hanya dari sampulnya, apalagi menilai isi buku hanya dari review-review (yang kebetulan banyak) menyesatkan. 


Cerdik cendikia mana yang tidak pernah mendengar buku On The Origin of the Species by Means of Natural Selection, or the Preservation of Favoured Races in the Struggle for Life, atau yang lebih sering disingkat The Origin of The Species saja? Rasanya hampir semua orang pernah mendengar buku ini. Tetapi apabila pertanyaannya diubah menjadi siapa saja yang pernah membaca (dalam huruf yang dicetak tebal) buku ini? Mungkin hanya sedikit. Sarjana-sarjana biologi pun rasanya tidak semuanya pernah membaca teks atau terjemahan lengkap buku ini.


Halaman Judul The Origin of Species 
Sejak awal buku ini telah menuai kontroversi. Penilaian atas buku ini kemudian lebih banyak didasarkan pada review-review yang ditulis orang lain. Kebanyakan, oleh orang yang kontra atas apa yang dikatakan Darwin. Mereka umumnya berasal dari kaum puritan yang merasa apa yang dikatakan Darwin menyimpang dari keyakinan mereka seperti yang ditulis dalam Kitab Sucinya masing-masing. Kacaunya, review-review itu kemudian banyak dibeokan oleh orang lain tanpa merasa perlu untuk mericek garis miring mengklarifikasi garis miring tabayun. 
Entah apa yang sebenarnya terjadi, mungkin hendak melakukan simplifikasi atau apa, yang jelas kemudian muncul sebuah kesimpulan yang jamak kita dengar, dan kemudian menjadi dosa besar Charles Darwin, bahwa menurutnya, nenek moyang manusia berasal dari kera.
Saya sendiri sampai saat ini belum berkesempatan membaca buku tersebut. Tapi dengan berbekal lebih banyak review dari beragam sudut pandang, bolehlah Saya urun tulisan mengenai "Dosa Darwin". 

Hal-hal yang Keliru (Dipahami) dari Darwin
Evolusi Manusia? 
Apa benar Darwin berkesimpulan bahwa nenek moyang manusia berasal dari kera? Buku The Origin of The Species ditulis Darwin dengan mengamati burung-burung Finch yang ada di Kepulauan Galapagos. Kesempatan itu Ia dapat ketika menumpang kapal HMS Beagle selama lima tahun.
Berdasarkan pengamatan Darwin, paruh burung Finch berbeda-beda, disesuaikan dengan makanannya. Hal ini menimbulkan pertanyaan pada diri Darwin, apakah pada awalnya bentuk paruh burung Finch adalah sama?
Darwin sendiri bukanlah evolusionis pertama di dunia. Sebelumnya dunia juga sudah mengenal Eugene Dubois, Alfred Russel Wallace, Al-Jahiz, Zhuang Zi, atau Anaximander. Darwin sebenarnya hanya menguatkan dugaan-dugaan yang sudah ada sebelumnya.
Dengan membaca literatur dari naturalis-naturalis lainnya, Darwin kemudian menduga bahwa memang benar bahwa makhluk hidup selalu mengalami perubahan fisik dalam rentang waktu yang panjang (evolusi) dan bentuk paruh burung Finch adalah salah satu buktinya.
Lalu keterkaitannya dengan manusia pertama? Darwin tidak pernah bilang bahwa manusia berasal dari kera. Darwin "hanya" pernah mengatakan (atau mungkin lebih tepatnya menduga) bahwa manusia dan kera berasal dari nenek moyang yang sama. Jelas ini adalah dua hal yang berbeda. 
Darwin hanya berbicara mengenai asal-usul keragaman makhluk hidup bukan asal usul makhluk hidup (makanya judul bukunya adalah The Origin of Species bukan The Origin of Life). Seringkali orang mencampuradukkan antara teori evolusi dengan teori abiogenesis. Mungkin ada sebagian dari teori evolusi yang benar, sementara sisanya salah. Teori Evolusi berbeda dengan teori abiogenesis yang memang jelas-jelas menegasikan keberadaan Tuhan sebagai pencipta alam. Jadi sebenarnya tidak tepat jika kemudian kita mempertentangkan antara Teori Evolusi dan ajaran agama.
Namun demikian, benar tidaknya Teori Evolusi Darwin masih bisa diperdebatkan. Tidak ada data yang bisa mendukung langsung teori ini, meskipun telah ditemukan fosil-fosil mulai dari Meganthropus Paleojavanicus sampai manusia pra modern Pithecantropus erectus yang menunjukkan perjalanan panjang evolusi manusia. Teori itu masih terlalu berani meloncat karena tidak pernah ditemukan rangka utuh dari makhluk-makhluk pra-sejarah tersebut. Sangat mungkin Darwin salah. Mungkin Ia ibarat dokter yang salah mendiagnosis suatu penyakit, tapi jangan lantas menghakimi Ia sebagai sebagai tukang sihir.
Darwin ibarat dokter yang salah mendiagnosis suatu penyakit, tapi jangan lantas menghakimi Ia sebagai sebagai tukang sihir.
Teori Evolusi
Dalam taraf yang tidak seekstrim Darwin atau Dubois, teori evolusi sangat mungkin adalah benar. Di dalam kompleks Baitullah, ada satu tempat yang termasuk mustajabah bernama Maqom Ibrohim. Maqom Ibrohim sendiri menunjukkan bekas pijakan Nabi Ibrahim AS ketika sedang membangun Ka'Bah. Dari bekas pijakan tersebut, bisa dilihat bahwa ukuran kaki Nabi Ibrahim AS, bukanlah ukuran "normal" untuk manusia jaman sekarang. Perubahan ukuran tubuh manusia ini bisa menjadi bukti bahwa evolusi memang terjadi pada manusia pada khususnya dan semua spesies pada umumnya. 
Maqom Ibrohim 
Ayu Utami dalam salah satu babnya di Buku Bilangan Fu (2008) juga mencoba mencari keselarasan antara teori evolusi dengan isi kitab suci dengan menyitir kitab Genesis mengenai kehadiran manusia dengan ukuran besar:
Pada waktu itu, orang-orang RAKSASA ada di bumi, ketika anak-anak allah menghampiri anak-anak perempuan manusia, dan perempuan-perempuan itu melahirkan anak bagi mereka; inilah orang-orang gagah perkasa di zaman purbakala.
Contoh lain adanya evolusi adalah perbedaan antar ras yang sangat nyata. Bagaimana orang mongoloid memiliki ciri-ciri fisik yang amat berbeda dengan orang-orang kaukasoid atau negrito, padahal nenek moyangnya diyakini satu. Teori evolusi membantu kita untuk memahami fenomena-fenomena ini. Evolusi akan menghasilkan percabangan-percabangan. Percabangan-percabangan tersebut kemudian akan bisa menyatu kembali melalui perkawinan antar ras atau varietas. 
Dalam kasus yang lebih praktis, penemuan bibit-bibit unggul (mulai dari perkawinan silang sampai genetic modified organism/ GMO) pun berdasar pada teori evolusi. Dengan teori evolusi pula kemudian kita menjadi lebih mudah memahami anatomi makhluk hidup dengan mengklasifikasikannya ke dalam kumpulan-kumpulan kingdom sampai spesies. Dengan demikian evolusi jangan lagi dianggap sebagai sesuatu yang tabu, di luar nalar, apalagi anti-Tuhan. 

* * *
Catatan Tambahan
Walaupun gaya tulisannya serius banget, sebenarnya postingan ini untuk mengikuti kompetisi Blog Mama Cake yang diadain sama Falcon Pictures dalam rangka promosi film Mama Cake. Jangan berharap film Mama Cake seserius tulisan ini. Seenggaknya itu kesan yang didapet dari trailernya. Tapi seperti pesan di awal postingan ini, don't judge a book movie by it's cover trailer. ;-)



Selasa, November 08, 2011

Jarak Antara Syariat Islam dan Islami


Prof. Komarudin Hidayat sabtu lalu (5 Nov 2011) bikin tulisan di kompas dengan judul "Keislaman Indonesia". Beliau banyak ngutip tulisan "How Islamic are Islamic Countries", tulisan Rehman dan Askari yang dimuat di Global Economy Journal 2010 lalu. Intinya, ternyata Indonesia dan negara-negara OKI umumnya gak lebih Islami daripada negara-negara sekuler yang ada di eropa atau bahkan New Zealand sekalipun.

Sementara gerakan keislaman di Indonesia masih banyak menghabiskan tenaganya untuk melabeli hukum dengan nama "syariat islam", di luar sana, negara yang sekuler justru lebih bisa mengedepankan apa-apa yang disyariatkan oleh Islam tanpa ada label syariat atau bahkan mungkin tanpa pernah mendapatkan referensi mengenai syariat Islam tersebut. Ternyata masih ada jarak antara label syariat dan kehidupan Islami itu sendiri.

Tapi tentunya tetap menarik untuk menyimak kelanjutan Undang-Undang Zakat, Infaq, dan Shodaqoh yang baru saja disahkan DPR. Apakah infiltrasi syariat Islam ke dalam hukum positif Indonesia bisa berhasil atau tidak?

NB: Iseng-iseng, nemu spin off dari How Islamic are Islamic Countries yang lebih menitikberatkan pembahasan ke soal ekonomi, An Economic Islamicity Index. Tentunya sektor ekonomi yang dibahas di sini tidak terbatas hanya soal finansial yang sering menggempur konsep bunga (riba). Ada 12 area yang dijadikan parameter, mulai dari sistem finansial sampai ke pengembangan kemakmuran dan struktur sosial dalam upaya menjamin persamaan hak dalam mendapatkan kemakmuran, kesehatan, dan lain sebagainya.

Senin, Maret 08, 2010

Bisakah Sholat Jumat di hari Sabtu?

Terkadang, suatu bahasan bisa menjadi tidak jelas dan bias jika dipaparkan melalui sekedar tulisan dan gambar. Beberapa orang menganggap karena kapasitas media tulisan dan gambar tidak cukup untuk menanggung beban bahasan tersebut - padahal ada ungkapan satu gambar dapat menjelaskan seribu kata. Untuk lebih memperjelas sebuah bahasan, maka terkadang dibutuhkan diskusi sehingga terjadi dialog dua arah dari pendonor ke orang yang hendak diberi penjelasan olehnya.

Tulisan saya kali ini pun mungkin akan bernasib demikian, tidak jelas dan bias. Akan tetapi, saya ingin menantang diri saya sendiri untuk bisa menjelaskan sebuah ide yang tidak umum dipahami manusia kebanyakan melalui media yang cenderung satu arah, blog.

Substansi dari tulisan ini sendiri bisa jadi dinilai penting, jika penyampaian saya tepat. Tetapi bisa juga hal ini hanya terlihat sebagai ide konyol yang sebaiknya diacuhkan saja. Mari kita mulai.

Seperti yang kita ketahui, penanggalan yang umum digunakan di dunia adalah penanggalan Gregorian yang mendasarkan perhitungannya pada pergerakan matahari. Dalam perkembangannya, sistem penanggalan ini telah beberapa kali mengalami revisi. Salah satu revisi yang terkenal adalah penambahan satu hari dalam salah satu tahun pada siklus empat tahun. Tahun yang kebagian jatah hari lebih banyak ini kemudian lebih dikenal dengan nama tahun kabisat.

Islam, sebagai agama langitan, tidak menggunakan penanggalan Gregorian, yang penuh revisi dan intervensi manusia, dalam menetapkan hari-hari rayanya. Penanggalan yang digunakan adalah penanggalan Hijriah yang mendasarkan perhitungannya pada pergerakan bulan. Berbeda dengan penanggalan Gregorian, penanggalan Hijriah sampai saat ini masih steril dari intervensi manusia. Salah satu konsekuensinya adalah kesulitan dalam membuat kalender satu tahun penuh di awal tahun. Maka tidak heran jika kemudian banyak umat Islam yang berselisih dalam menentukan hari raya Idul Fitri karena perbedaan hasil metode Hisab dan Ruqyat.

Saya tidak tertarik untuk membahas perselisihan tersebut karena sudah banyak yang memberikan pendapatnya. Namun jika anda tertarik, saya merekomendasikan satu artikel menarik mengenai penentuan hari Idul Fitri yang bisa dilihat di sini.

Permasalahan perbedaan waktu di dalam menentukan waktu-waktu ibadah di dalam Islam sebenarnya bisa menjadi kajian yang menarik. Kebetulan beberapa tahun yang lalu saya tiba-tiba memikirkan,"Daerah pertama di dunia yang memulai hari itu sebenarnya di mana sih?"

Akhirnya saya mendapatkan jawaban dari pertanyaan tersebut. Batas penanggalan dunia ada di garis bujur 180°. Garis batas ini adalah garis maya yang di beberapa bagian meliuk-liuk untuk disesuaikan dengan garis batas negara yang bersangkutan. Beberapa revisi untuk garis ini terjadi pada perbatasan Rusia - Amerika Serikat di Selat Bering dan di perbatasan Kiribati - Amerika Serikat. Garis batas penanggalan yang jelas dapat anda lihat dengan mengklik gambar di bawah ini.

Garis Batas Penanggalan Hari. Klik untuk memperbesar Gambar.
(Sumber: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/6/61/International_Date_Line.png)

Garis maya hasil kesepakatan orang-orang inilah yang kemudian menjadi batas hari. Seberapa signifikan garis tersebut? Ferdinand Magellan pernah dibuat bingung ketika mengelilingi bumi ke arah barat karena ketika dia sampai di titik awal keberangkatannya, ternyata dia telat satu hari dibandingkan jurnal pelayaran yang dia buat. Fenomena unik ini juga diracik secara menarik oleh Jules Verne melalui novel cerdasnya, Around The World in 80 Days.

Jika anda masih bingung dengan fenomena apa yang saya maksud, maka ijinkanlah saya untuk memberi contoh yang saya ambil dari artikel Wikipedia Indonesia berikut ini:
Tonga dan Samoa adalah dua negara yang berdekatan. Jarak tempuh dua negara ini dengan menggunakan pesawat hanyalah dua jam. Akan tetapi Tonga berada di sebelah barat garis batas penanggalan sedangkan Samoa berada di sebelah timurnya. Artinya, ketika di Tonga adalah hari Selasa, maka di Samoa adalah hari Senin. Jika seseorang naik penerbangan dari Tonga pada hari selasa pukul 12.00 siang hari, maka ia akan sampai di Samoa pada pukul 14.00. Tetapi ia tiba di Samoa bukan pada hari Selasa, melainkan hari Senin, atau Ia berjalan mundur satu hari.
Bayangkan apa yang terjadi bila saya, yang seorang muslim, berangkat dari Tonga selepas mengerjakan sholat Jumat menuju Samoa. Maka saya akan tiba di Samoa pada hari Kamis dan artinya dalam waktu kurang dari 24 jam berikutnya, saya memiliki kewajiban untuk menunaikan Sholat Jumat kembali. Saya mengerjakan sholat Jumat di saat, beberapa mil di sebelah barat saya sudah bukan hari Jumat lagi, melainkan Sabtu.

Kemudian yang mengusik pertanyaan saya adalah, apakah boleh umat Islam menggunakan batas penanggalan yang sama dengan kebanyakan orang di muka bumi ini, yaitu mendasarkan penggantian hari pada sebuah garis maya yang ditetapkan melalui konvensi? Jika tidak, lantas di manakah garis batas penanggalan menurut versi Islam?

Wallahu'alam bish-showab

Kamis, Maret 04, 2010

Bersalah dan Berdosa

Orang yang tidak membayar pajak bisa dikenai kurungan penjara karena perbuatannya melanggar hukum. Orang yang tidak memiliki SIM bisa ditilang polisi lalu lintas di jalan. Alasannya pun sama, melanggar hukum.

Meskipun bersalah di mata hukum, bukan berarti orang-orang tersebut berdosa. Berdosa dan bersalah adalah dua hal yang berbeda, meskipun seringkali terjadi irisan dari dua himpunan tersebut, bersalah sekaligus berdosa.

Kata "bersalah" akan merujuk pada hukum yang dipakai sebagai kesepakatan bersama. Sedangkan "berdosa" merujuk pada aturan agama. Rasanya tidak ada satupun agama yang menyebutkan kewajiban untuk membayar pajak dan keharusan memiliki SIM untuk orang yang membawa kendaraan. Maka ada perbedaan sumber aturan yang dipakai untuk memutuskan status bersalah dan berdosa.

Hal ini terjadi sebagai konsekuensi atas penerapan hukum yang dibuat dengan konsensus. Suka tidak suka, ini yang harus diterima. Apabila pemerintah kemudian membuat peraturan yang menyatakan bahwa nikah siri dilarang, maka orang yang melakukan nikah siri tersebut akan memiliki status yang sama dengan pengemplang pajak dan pengemudi kendaraan yang tidak memiliki SIM, bersalah tapi tidak berdosa.

Rabu, Januari 13, 2010

ideologi

dengan alasan menutupi defisit anggaran, pemerintah kota pekanbaru akhirnya memberlakukan pajak daerah sebesar sepuluh persen untuk nasi bungkus. ironis, ketika salah satu propinsi terkaya di indonesia justru lebih memilih untuk meminta kepada rakyat kecilnya, bukan dari mereka yang mapan yang bekerja di perusahaan-perusahaan multinasional di sana.

mungkin keadaan seperti ini juga yang kemudian membulatkan tekad H. Misbach untuk kemudian bergabung dalam gerakan awal PKI. marah dengan kraton yang tidak henti-hentinya menghisap darah rakyat dan kecewa dengan melempemnya perjuangan HOS Cokroaminoto dengan Muhammadiyahnya serta Serikat Islam yang justru sibuk memperkaya diri sendiri.

tidak banyak yang mengenal siapa H. Misbach saat ini. wajar saja, "fatwa haram" komunis oleh pemerintah orde baru memang membuat tenggelam banyak nama pejuang komunis di Indonesia. padahal kalau mau kita gali, kontribusi orang-orang komunis terhadap kemerdekaan Indonesia tidak bisa dibilang kecil. mulai dari aktivis-aktivis yang "menculik" Soekarno ke Rengasdengklok untuk memaksanya menyatakan kemerdekaan Indonesia sampai Ki Hajar Dewantara adalah orang-orang komunis.

tulisan ini tidak ditujukan untuk membela atau memutihkan nama PKI. mungkin memang CIA memainkan peran belakang panggung yang luar biasa hebatnya pada medio 1965 yang lalu. tidak bisa disangkal bahwa memang ada keterlibatan beberapa petinggi PKI dalam gerakan tersebut seperti yang dipaparkan oleh John Roosa. namun apa tujuan semua itu? semua masih kabur.

ide yang ditawarkan pada tulisan ini lebih membahas mengenai komunisme sebagai sebuah ideologi. dilarangnya ideologi ini di Indonesia lebih disebabkan karena pemberontakan Madiun dan G30/S-PKI. sebenarnya tidak adil memutus haram suatu ideologi hanya karena satu dua tindakan. bayangkan saja bagaimana tidak logisnya apabila Islam dilarang hanya karena adanya gerakan NII-DI/TII yang ingin makar atau karena FPI main hakim sendiri mengacak-acak tempat yang mereka sebut maksiat.

dalam perkembangannya komunisme pun memiliki banyak mazhab, ada leninisme, maoisme, anarcho-communist, dan lain-lain. kalau memang ada hal-hal yang bertentangan dengan ideologi pancasila, bukan tidak mungkin mengadopsi komunisme dengan citarasa yang lebih Indonesia.

kebencian masyarakat terhadap komunis sebenarnya lebih disebabkan sentimen tanpa alasan. alasan atheisme dengan mudah dapat dipatahkan. jika memang komunisme tidak mempercayai tuhan, lantas bagaimana mungkin komunis jutru masuk ke Indonesia pertama kali melalui organisasi Serikat Islam?

sebagai sebuah ideologi yang berlandaskan materialisme, komunisme memang cenderung mengabaikan eksistensi tuhan. tapi hal ini tidak membuat mereka bisa dicap sebagai atheis. lawan utama komunisme, kapitalisme, pun melandaskan prinsip-prinsip materialisme dan cenderung mengabaikan eksistensi tuhan. tapi mengapa ideologi ini dapat lebih diterima di Indonesia? kedua ideologi ini bukanlah sebuah paket dengan harga pas yang tidak dapat ditawar. lihat saja bagaimana H. Misbach yang berjuang bersama komunis dengan tetap meletakkan Al-Quran sebagai landasannya.

obrolan ideologi memang bukan makanan ringan yang bisa disantap santai di warung-warung kopi. banyak orang yang mengaku pancasilais tetapi mengancam akan membunuh siapapun yang ingin membangkitkan kembali komunisme. di mana letak kemanusiaan yang adil dan beradab-nya? maka mahfumlah apabila sedikit yang paham benar dengan apa itu komunisme. pancasila pun saat ini hanya sekedar lima sila tanpa makna yang menggema tanpa jiwa di upacara hari senin.

tidak banyak yang tahu bahwa tataran ideal komunis adalah sebuah masyarakat yang adil, sejahtera, dan bahagia, pun menyenangkan. tidak banyak yang paham bahwa komunis yang menganut paham internasionalisme (lawan dari nasionalisme) adalah penentang keras setiap bentuk penjajahan di muka bumi ini.

saya sendiri tidak dalam posisi mendukung berkembangnya komunisme di Indonesia. tapi saya juga tidak akan melarang-larang. kalau Islam pun bisa semoderat PKS, maka komunisme maupun ideologi-ideologi lainnya pun bisa menjadi moderat.

buat saya, semua ideologi adalah utopia, sesempurna apapun ideologi tersebut. karena dalam praktiknya, ideologi tersebut tetap harus dijalankan oleh manusia, yang memiliki berjuta kealpaan.

Rabu, Desember 09, 2009

lagu lama menyatukan dua dunia

ruang besar atau kecil, bangunan angker atau berbunga-bunga, patung atau kaligrafi - semuanya kemeriahan panca indera untuk memuliakan Tuhan.

(Goenawan Muhammad)

sebenarnya tidak ada masalah dengan dilarangnya menara masjid di Swiss. toh, tanpa menara, ummat Islam masih bisa melaksanakan ibadahnya tanpa mengurangi sedikitpun maknanya. Menara hanyalah perlambang yang tidak esensial - berbeda halnya jika yang dilarang adalah pembangunan masjid atau pemakaian jilbab.

meskipun demikian, jangan salahkan juga jika ummat Islam bereaksi keras terhadap hal yang terlihat sepele ini. permasalahan yang ada bukan keberadaan materialistik dari menara masjid, akan tetapi lebih kepada apa yang mendasari pelarangan ini.

pelarangan menara masjid di swiss diputuskan melalui referendum rakyatnya dengan hasil lebih dari 57% warga swiss menolak pendirian masjid dengan kemenangan di 22 dari 26 propinsi yang ada di swiss. dari sini kita sudah bisa melihat bahwa ada ketakutan rakyat swiss terhadap islam.

jika ditarik lebih lebar, ketakutan akan islam tidak hanya terjadi di swiss, akan tetapi sudah mulai menginfeksi keseluruhan eropa. demonstrasi anti islam garis keras yang berubah menjadi demonstrasi anti islam (saja) di inggris, pelarangan jilbab di sekolah-sekolah umum perancis, pembuatan kartun yang menghina nabi Muhammad SAW di Denmark, dan kontroversi pendirian masjid terbesar se-eropa di jerman telah menjadi pembuka islamophobia sebelum keputusan swiss melarang pembangunan menara masjid.

ketakutan ini sendiri memang bukan tanpa alasan. adanya kelompok islam garis keras yang kerap menebar teror dengan sasaran orang-orang barat (amerika serikat dan eropa) harus kita akui dengan sesadar-sadarnya. maka dari itu mengetahui akar permasalahan menjadi penting, karena dengan demikian kita bisa mendapatkan panduan tepat dalam menentukan solusi yang diambil.

penolakan atas kebijakan yang sangat diskriminatif memang sangat diperlukan. dengan langkah apa hal itu dilakukan, inilah yang harus dipilih dengan cermat. melakukan demonstrasi dengan poster-poster yang provokatif rasanya bukanlah pilihan yang tepat. apalagi jika sampai melakukan perusakan yang ujung-ujungnya hanya menimbulkan rasa tidak nyaman. hal ini sama saja dengan menebalkan anggapan bahwa islam memang agama dengan ummat yang brutal.

komunikasi dunia barat dengan islam yang damai harus lebih sering dijalin. sudah saatnya islam membuka dirinya kepada dunia. mengundang masuk - bukan hanya mempersilahkan, tapi mengundang - siapa saja dengan senyum terindah ke lingkungan kita. izinkanlah mereka satu kesempatan untuk memahami apa yang kita rasakan. memahami bahwa islam sebagai (mungkin) satu-satunya agama yang tidak hanya mengatur urusan akherat saja.

semua pemaparan di atas sebenarnya hanyalah lagu lama yang kembali dimainkan dengan aransemen berbeda. sebuah lagu usang yang mulai membosankan mengenai bagaimana cara menyatukan dua dunia. akan tetapi lagu ini akan terus berkumandang selama paparan ini hanya berhenti sebagai sekadar pendaran layar monitor atau sapuan tinta di atas kertas.

how long must we sing this song? (Sunday, bloody sunday - U2)

Sabtu, September 12, 2009

Ramadhan oh Ramadhan

rasanya bulan Ramadhan dari tahun ke tahun semakin kehilangan kesakralannya. banyak acara yang bertema Ramadhan tapi sedikit yang memasukkan esensi Ramadhan itu sendiri ke dalamnya.

kalau dulu acara buka bersama selalu diisi dengan kajian keagamaan, maka saat ini buka bersama banyak yang hanya sekedar makan malam bersama. kalau dulu acara TV menyambut Ramadhan banyak yang bercerita tentang Ramadhan itu sendiri, sekarang acara TV hanya sekedar berganti baju menjadi baju Ramadhan. acara tanya jawab keagamaan di waktu sahur berganti wujud menjadi acara lawak-lawak dan kuis interaktif, yang tidak lebih baik daripada SDSB.

Tudinglah liberalisme dan semangat pluralisme kebablasan yang membebaskan ekspresi setiap insan manusia sehingga bau surga Ramadhan semakin pudar dari tahun ke tahun. salahkan kapitalis yang berusaha menggeser semua manfaat transterestrial menjadi apa saja yang sifatnya material.

akankah Ramadhan di negeri kita akan menjadi seperti natal di negeri menara kembar rubuh? menjadi sebuah budaya, bukan lagi ritual keagamaan. menjadi sebuah momen yang sah-sah saja untuk dirayakan dan dihayati oleh siapa saja? bahkan parahnya lagi, dengan cara bagaimana pun..

Jumat, September 19, 2008

mukenah

pernah gak ngerasa tolol dengan ide sikat gigi yang bisa getar sendiri. jadi intinya kita nggak perlu ngegoyang-goyang tangan kita untuk ngegosok gigi kita. ini penemuan bener-bener gak masuk akal. tapi anehnya, tetep aja ada orang yang mau beli.

sama aja kayak mukenah. sebenernya buat apa sih ada mukenah di dunia ini? gue gak pernah liat tuh ada orang mau jalan-jalan, tapi sambil pake mukenah. paling banter liat orang pake mukenah di jalanan waktu mereka jalan dari rumah mau sholat ke mesjid. yah... pendapat gue sendiri saat ini sih mukenah itu cuma sekedar pemborosan. harus dicarikan fungsi laennya. jangan cuma buat sholat. kalo cuma buat sholat mah mubazir banget. mungkin kita harus nyoba menjadikan mukenah sebagai trend mode. ke mall pake mukenah, ke kebon binatang pake mukenah, kuliah pake mukenah, ngantor pake mukenah. kayaknya asik tuuuh. jadi mukenah juga bisa berfungsi sebagai pakaian. kalo cuman buat sholat doang mah ngapain perlu mukenah. andai semua perempuan terbuka pintu hidayahnya dan memutuskan untuk menutup seluruh auratnya dan mereka beristiqomah dengan hal itu, maka mukenah gak bakal diperluin lagi di dunia ini. syarat untuk sholat kan menutup semua aurat, bukannya make mukenah. jadi seharusnya dengan pakaian yang tertutup, maka udah sah untuk sholat.

kenapa mukenah dan pakaian dibuat jadi memiliki fungsi yang terpisah? sekarang kan jamannya yang praktis. 2 in 1 ato bahkan 3 in 1 ato bahkan sampe n in 1 (di mana n mendekati tak hingga). shampoo sekaligus conditioner, rice cooker sekaligus magic jar, ponsel sekaligus kamera sekaligus kalkulator sekaligus ini sekaligus itu. KISS!!! keep it simple stupid! ayolah... kalo emang masih ogah make kerudung ke mana-mana, coba deh fungsiin mukenah sebagai pakaian juga.

ah maaf. kayaknya logika gue kebalik. mustinya, ayolah... coba deh fungsiin pakaian sebagai mukenah juga.

Jumat, Februari 29, 2008

kita telah memilih agama yang sesat...

weits... judul postingan gue kali ini emang sangat provokatif. dan gue rasa bakalan banyak juga yang pro dan kontra untuk postingan gue kali ini. beberapa bulan yang lalu masalah aliran-aliran sesat sempet merebak. pro dan kontra bergulir mengenai keberadaan aliran-aliran yang ada. aksi pengrusakan terjadi di beberapa tempat. MUI mencoba bereaksi, tapi malah jadi bola panas. apa yang sedang terjadi?!?!?!?!

gue bakal mulai dasar pemikiran seperti yang diutarakan temon, temen gue. dia bilang kurang lebih seperti ini... tuhan itu adalah sebuah konsep yang disepakati oleh semua agama. sedangkan agama adalah sebuah cara atau aturan. temon menyebut agama sebagai sebuah alat atau jalan. di dalam agama, tuhan menjadi punya nama. dengan agama, ada ritual-ritual keagamaan. cara-cara inilah yang berbeda antar agama. mungkin keragaman agama inilah yang membuat kahlil gibran lantas menjadi gamang. dia bilang agama telah merusak konsep tuhan. agama menurut dia menjadi tidak penting. yang penting adalah mencintai tuhan, berbuat baik, bla bla bla...

gue nggak sedang mencoba menjadi seorang pluralis modern yang menyamakan semua agama. gue yakin bahwa hanya ada satu cara yang benar, tapi saya tidak berminat untuk berdebat menentukan mana yang benar. silahkan anda cari sendiri.

permasalahan di ummat islam akhir-akhir ini adalah keresahan akan adanya aliran-aliran yang tidak jelas asalnya dan bertentangan dengan agama islam pada umumnya (katakanlah ahli sunnah wal jamaah). ketika MUI kemudian bereaksi dengan memfatwakan sesat sebuah aliran agama, buat gue itu sah-sah aja. selama fatwa itu hanya sebagai sebuah cara untuk membina ummat yang dia miliki. jadi fatwa tersebut jangan sampai punya konsekuensi dalam hukum positif.

fatwa MUI harusnya tidak lantas disikapi dengan berlebihan. ketika sebuah aliran difatwakan sesat, bukan berarti aliran tersebut harus diberangus. MUI juga memfatwakan haram untuk bunga bank, tapi BNI, Bank Mandiri, BCA, BRI, dan sederet panjang bank komersil lainnya tetap megah bertengger. MUI memfatwakan satu produk pangan tertentu haram, bukan berarti kemudian produk tersebut tidak boleh ada di pasar. harusnya ini juga berlaku untuk aliran agama yang ada.

beberapa orang kemudian mengatakan bahwa aliran-aliran tersebut telah menolak ajaran agama Islam. kalo gue bilang, agama laen juga sama saja, telah menolak ajaran agam Islam. dan agama Islam pun menolak agama laen. lantas apa? kalo kita bisa hidup berdampingan dengan agama laen, kenapa gak bisa dengan aliran - aliran islam laen yang ada?

beberapa orang tersebut kemudian berkata bahwa aliran tersebut telah membawa-bawa nama Islam dan telah menggeser dan bahkan telah menistakan nilai - nilai Islam yang ada. bukankah ini sama saja dengan keberadaan kaum nasrani dan yahudi? tadinya kita adalah satu ummat, kemudian terjadi perpecahan. Allah yang ummat Islam agung - agungkan juga sama dengan Allah yang mereka sembah, kita hanya berbeda dalam cara menyembahnya. sama saja dengan aliran - aliran keagamaan yang lain. kita menyembah tuhan yang sama dengan cara yang berbeda. menurut kita, mereka adalah sesat, tapi menurut mereka, justru "KITA TELAH MEMILIH AGAMA YANG SESAT". sekarang islam bisa hidup berdampingan dengan yahudi dan nasrani (meskipun di beberapa tempat, konflik tetap terjadi). bahkan semenjak zaman Rasulullah SAW. terus kenapa kita nggak bisa hidup berdampingan dengan aliran - aliran yang lain?

kemajemukan gue rasa adalah sebuah keniscayaan. gue bisa ngerti kalo terus john lennon bikin lirik - lirik indah di dalam lagu IMAGINE. tapi menurut gue baris lirik itu lebih menjadi sebuah ungkapan putus asa dengan mencoba memimpikan utopia. ebony and ivory gue rasa adalah sebuah mimpi yang lebih realistis untuk diwujudkan. di mana kita bisa hidup berdampingan, dengan warna apapun yang kita anut.

Selasa, Desember 04, 2007

ebony and ivory, side by side on my piano as a harmony

satu hal yang mengggelitik ketika pertama kali gue mulai nyari tempat kos beberapa tahun lalu adalah banyak tempat kos yang cuma nerima untuk muslim. sebenernya gue udah lama pengen nulis ini, tapi karena menyangkut hubungan antar beragama jadi butuh banyak pertimbangan.

gue sampe saat ini tetep gak ngerti kenapa ada pendikotomian antar agama untuk tinggal di satu tempat? kalo tempat kos dibedain berdasarkan gender gue bisa sangat memahami. tapi kenapa agama yang dijadiin pembeda?

setelah melakukan beberapa wawancara (cuiih,,, padahal sebenernya cuma ngobrol-ngobrol biasa) rupanya para pemilik tempat kos itu terlalu banyak curiga dengan orang-orang non-islam. yang ada di pikiran mereka itu,"waduh, bisa-bisa kosan gue jadi sarang pemurtadan ummat. bisa dosa gue kalo begitu jadinya." selaen itu pemilik kos juga risih kalo tempat kosnya jadi tempat kumpul-kumpul "pengajian"-nya mereka apalagi terus mereka pada nyanyi-nyanyi pake gitar. oke, dua alesan ini gue rasa udah cukup mewakili, karena emang dua alesan ini yang jadi keberatan terbesar.

soal kehidupan beragama emang jadi soal yang sensitif di masyarakat indonesia. berbeda kalo di amerika serikat dan eropa yang cenderung lebih sekuler, dan agama gak menjadi identitas yang penting (baca: parasit lajang bab agama (ayu utami). phobia akan pemurtadan ummat emang ada di kalangan ummat islam. gue gak bakal ngebela pihak manapun. karena pemurtadan itu emang ada. tapi penggeneralisiran semua yang bukan islam membawa misi pemurtadan itu gue rasa bener-bener konyol. di kalangan islam sendiri juga banyak yang punya misi serupa, mengislamkan yang belum islam. buat gue sah-sah aja. setiap manusia punya misi sendiri-sendiri. selama gak memaksa (apalagi pake anceman) dan "memanipulasi" silahkan aja. toh tiap orang juga bakal mikir-mikir dulu. terlepas dari itu, soal pemilihan agama itu kan hak masing-masing. Allah sendiri gak pernah memfatwakan bahwa halallah darah orang-orang kafir. urusan agama adalah urusan masing-masing individu. tugas kita hanya saling mengingatkan. lakum dinnukum wa liyaddin (bagimu agamamu, dan bagiku agamaku).

yang menarik juga dari soal pemurtadan ini banyak orang islam yang ngerasa kecolongan, karena aqidah soadara-sodaranya dijual demi satu kardus indomie. kalo udah kejadian baru mencak-mencak gak karuan terus sweeping satu agama tertentu. di satu sisi gue emang menyesalkan pemurtadan yang terjadi, tapi di sisi laen, gue juga bilang,"ya ampun, ke mana aje kemaren-kemaren? ada sodara yang butuh pertolongan tapi kita cuek-cuek aja. pas sodara kita diangkut ke rumah tetangga, baru kita kebakaran jenggot." daripada bikin suasana makin keruh (dan malah sama sekali nggak ngundang simpati), lebih baek kita benahin cara kita membina ummat.

kembali ke tempat kos. keberatan kedua adalah adanya "pengajian". wah, soal ini mah gue rasa kita semua (islam maupun nggak) masih harus belajar banyak soal tenggang rasa. gue inget pertama kali gue masuk asrama di IPB, di hari pertama, setelah sholat maghrib, suara orang ngaji kedengeran dari kamar-kamar. bayangin gimana rasanya temen-temen yang minoritas ketika hal ini terjadi, di hari pertama mereka di tempat yang baru? pasti di hati mereka ada rasa kekhawatiran karena mereka seolah-olah terkepung dalam budaya yang berseberangan dengan budaya mereka. jadi ketakutan mereka sama juga dengan ketakutan dan rasa risih yang dirasain kita.

gue inget salah satu dosen gue, yang ISLAM, sebel banget denger suara adzan subuh yang nyaring. awalnya gue pikir,"wah, ni dosen tukang ngorok kalo subuh-subuh dan nggak mau keganggu dengan omongan assholatu khoiru minannaum." tapi rupanya dia sebel karena hal itu ngeganggu temen-temen yang bukan islam, karena jam segitu emang masih jadwalnya tidur. dia juga cerita kalo hotel-hotel di jakarta yang deket mesjid pasti nggak jadi pilihan wisatawan asing karena bakal selalu keganggu pas lagi subuh.

gue nggak bilang setuju dengan omongan dosen gue ini, tapi gue ngeliat kalo dosen gue ini berusaha untuk bertenggang rasa dengan ummat laen. oke, gue nggak ganggu lo, tapi tolong, lo juga jangan ganggu gue. mungkin kira-kira seperti itu.

tapi kalo pendapat gue pribadi sih, gue lebih seneng kalo adzan subuh kenceng-kenceng seperti biasa. tapi konsekuensi dari hal ini adalah gue juga harus mau nerima kalo ada temen kosan yang bikin "pengajian" di tempat kos gue sambil nyanyiin lagu-lagu pujian. dan gue terima konsekuensi itu.

post script: ada yang tau gak sih judul di atas tu kutipan lagu apa dan siapa yang nyanyi? ada yang punya mp3-nya gak? bagi dong!

Jumat, September 28, 2007

anda puasa? (Insya Allah...)

hm.... pertanyaan mendasar nih....

gue sering ngerasa aneh kalo ngedenger pecakapan semacem ini

x: anda puasa
y: insya Allah.

kenapa jawabnya insya Allah? kenapa gak jawabnya,"iya, saya puasa."

apa karena puasa itu adalah ibadah yang cuma Allah yang tau itung-itungannya? tapi gak ngebuat kita terus seperti gak tau kita sebenernya puasa atau nggak kan?

sama seperti kalo gue ditanya,"re, lo islam kagak?" gak mungkin dong gue jawabnya,"Insya Allah." gue sih bakalan jawab,"Iya."

terus kenapa kalo ditanya puasa ato nggak jawabannya mesti insya Allah?

Jumat, Januari 26, 2007

Pengkultusan

Mulai hari ini semua akan berubah!

sekitar satu bulan yang lalu, gue dapet imel dari salah satu pembaca blog gue. dia bilang,"rae, coba dong lo bahas poligaminya aa gym dari perspektif lo. kan lo bisa ngeliat dari sudut-sudut yang gak kepikiran oleh orang lain.".

selesai membaca imel itu, rasanya gue ingin nangis...BLOG GUE MULAI DIGANDRUNGI!!!! uedan tenan iki!!! sampe-sampe ada surat pembaca di inbox frenster gue. setelah beberapa waktu (ya sekitar satu bulan itu...) larut dalam euforia kebahagiaan, akhirnya gue coba mulai menilik ulang apa yang terjadi di sekitar aa gym...

akhirnya gue menilai satu hal yang harus kita renungkan. sesuatu yang menurut gue lebih penting ketimbang menghujat aa gym (terlepas dari benar tidaknya perbuatan dia, gue di sini bukan untuk menjustifikasi). lebih penting ketimbang sakit hati yang (MUNGKIN) dialami istri pertama aa gym.

hal itu adalah: mengapa hal seperti ini harus diributkan?

gue ngeliat telah terjadi satu pengkultusan terhadap diri aa gym. aa gym hanya sebuah makhluk dengan jumlah kromosom yang sama dengan kita semua, dalam artian, dia hanya manusia biasa. mengapa kita harus mengkultuskan dia? jadi wajar saja kalo sekali waktu ia mengecewakan orang lain. karena tidak ada orang yang akan lepas dari khilaf. dan karena dari khilafnya itulah, manusia telah memanusiakan dirinya. bisa kita lihat bagaimana jumlah pengunjung ke daarut tauhid menurun dengan drastis. apalagi ini namanya kalo bukan pengkultusan yang gagal. rupanya selama ini banyak orang yang telah salah menyerap cahaya kebaikan yang selama ini berusaha dipancarkan aa gym. untuk itu sebagai epilog postingan gue ini, gue bakal menutup dengan pepatah lama yang sudah sangat familier di telinga kita, namun mungkin esensinya telah terlupakan oleh kita semua: jangan kau dengar omongan seseorang karena siapa dia, tapi dengar omongannya karena apa yang dia omongkan. apapun yang telah terjadi pada aa gym, dia jelas telah berusaha memberikan yang terbaik bagi perbaikan kehidupan bangsa ini.

Kamis, November 02, 2006

rae itu agamanya apa toh?

busyet!!!!
masa ada temen kuliah gue yang nanyain pertanyaan itu pas gue udah tingkat 3.bayangin!!! tingkat tiga!!! artinya udah lebih dari dua taun keta kenal, tapi dia nggak tau agama gue apa. padahal menurut utami (2000) di dalam parasit lajang, agama adalah salah satu identitas terpenting di indonesia. seseorang dianggap aneh bila tidak beragama.

dan setelah melewati dua tahun (termasuk satu semester di kelas agama yang sama), masih ada yang nggak tau agama gue. emang sih, gue paling males pake peci atau baju koko. tapi gue mesti solat dan kalo masuk kelas gue ngucapin assalamualaikum koq!

ada beberapa alesan kenapa rae tidak memakai peci dan baju koko.

1. peci
waktu gue sd, ada ujian EBTA praktek solat. ketika nama gue dipanggil, gue maju dengan sarung. ketika mau takbirotul ihrom tau2 perut gue dicubit oleh sang guru.
sang guru : mana topi kamu? (maksudnya peci/kopiah. red)
rae si kucing jalanan: (agak kebingungan) gak punya pak.
sang guru : (nyubit lagi) JADI SELAMA INI KAMU NGGAK PERNAH SOLAT?!?!?!?
rae si kucing jalanan: (tambah bingung dan tambah kesakitan karena dicubit) loh, kan pake peci nggak wajib pak! orang naek haji aja nggak pake peci. cuma disuruh pake pakean ihrom!kepalanya gak ditutup apa-apa!
sang guru:solat itu harus pake peci!!! bla... bla... bla... bli... bli... bli... blu... blu... blu... begini... begini... begini... begitu... begitu... begitu...

nah semenjak itulah gue bertekad untuk mensosialisasikan bahwa peci itu gak wajib!toh gue kan bener!!!

2.baju koko
kalo baju koko sih alesan gue sederhana aja. baju koko itu gak nunjukin identitas muslim. baju koko nunjukin identitas bangsa melayu yang muslim. sama sekali nggak ada kaitannya antara baju koko dan islam.

3.ini dakwah gue
lo tau kan misionaris dar gereja yang baik hati kepada warga sekitar, sekaligus berdakwah? nah, model misionaris yang paling ditakutin oleh orang islam (terutama yang fundamentalis) adalah misionaris yang berjanggut, yang kemana-mana make jubah panjang/gamis.dan itulah gue!!! gue bisa diibaratin sebagai seorang misionaris dengan pakaian layaknya orang yang awam agama (padahal emang awam sih...) tapi selalu berusaha untuk menebarkan nilai-nilai islam, dan berusaha menegakkan panji islam di bumi Allah.(busyet... omongan gue udah kayak mujahid aje!). well, tapi gimanapun gue emang nggak sebaik imam di masjid, atau kyai yang diundang ceramah agama di kompleks2, terlepas dari segala kekurangan gue, gue (insyaAllah) istiqomah untuk bersyiar!

bisik-bisik tetangga:
psst... si rae jadi begini karena berkah ramadhan kali ye?



Mulai hari ini semua akan berubah!

diambil dari raemustarani.blogs.friendster.com pada 02 11 2006

Selasa, April 18, 2006

empati dan toleransi

waktu umur gue baru tiga taun, gue dapet kesempatan yang mungkin jarang didapet sama anak indonesia seumur itu ketika itu. gue dapet kesempatan ikut orang tua gue ke filipina. kenapa gue bilang beruntung? bukan karena lantas gue bisa berbangga-bangga di depan temen-temen gue atau asyik bisa jalan-jalan ke luar negeri, tapi karena di sana gue bisa belajar tentang toleransi.

ketika itu gue tinggal di kota Los Banos, di sebelah utara filipina, di pulau Luzon. Los Banos hanyalah sebuah kota kecil yang jaraknya sekitar satu jam perjalanan dengan bus dari Ibukota Manila. kalau bukan karena IRRI (international rice research institute) dan UPLB (University of Philippines at Los Banos) pastilah kota itu akan menjadi sangat tidak menarik. tahun pertama gue di sana, gue hanya berdiam diri di rumah dan bermain dengan kawan-kawan anak-anak mahasiswa pasca dari berbagai negara yang kebetulan tinggal satu Doom dengan keluarga gue. bayangkan, multikultur,multireligi,multiras,dan multi-multi yang lainnya. tahun kedua gue dimasukin ke kindergarten yang ada di kota tersebut. karena Los Banos adalah kota kecil, maka tidak terlalu banyak pilihan kindergarten. dengan mempertimbangkan berbagai aspek, maka dimasukkanlah gue ke salah satu TK Katholik yang ada di kota itu.

ceritapun dimulai...
perbedaan budaya sangat terasa, dan terkadang hal ini membuat benturan-benturan kepentingan. kindergarten adalah sebuah sarana untuk membentuk mental dan perilaku anak. maka tak heran jika pelajaran berdoa pun menjadi salah satu agenda utama, terlebih lagi sekolah ini didirikan oleh yayasan keagamaan. salah satunya adalah ketika akan makan. si teacher bilang,"lets pray!", dan serta merta semua murid menutup matanya dan menutup kedua tangannya dan dengan khidmat memohon berkah atas makanan yang telah diberikan. sementara gue yang dalam institusi keluarga juga sudah dididik bagaimana tata-cara berdoa secara islam, melakukan ritual yang berbeda, yaitu dengan tangan terbukamenengadah ke atas. pada kesempatan pertama, gue dan si teacher sempat beradu argumen tentang ritual gue yang dianggap nyeleneh.namun, pada akhirnya, si teacher bisa memaklumi hal ini.

kejadian kedua terjadi pada akhir tahun pelajaran. gue bakal diwisuda oleh TK gue. sebagai informasi tambahan, TK gue terletak pada satu kompleks pendidikan yang terdiri dari TK sampai SMA. di dalam kompleks ini juga terdapat gereja. nah, selain sebagai tempat peribadatan, gereja ini juga dipakai sebagai hall. dua hari menjelang wisuda, diadakan rehearsal (gladi resik). gue asoy geboy aja diajak keluar kelas, tapi begitu tau rehearsalnya di dalem gereja, gue langsung bilang,"no, maam. i'll just stay outside!"."but we have to do the rehearsal, rae...", si teacher berusaha membujuk gue. pokoknya akhir kata, gue sampe diseret-seret sama guru gue buat masuk k gereja. tapi gue tetep bersikukuh di luar. akhirnya guru gue ngalah, dan ketika waktunya pulang sekolah, si teacher laporan ke nyokap gue kalo gue nggak mau latihan buat wisudaan. di rumah, nyokap gue dan gue berdiskusi tentang masalah tadi. pada akhirnya gue diberi pengertian bahwa gue di gereja itu bukan untuk beribadah tapi untuk wisudaan, so it just okay. akhirnya gue mau wisudaan di dalem gereja.

konyol? nggak juga. anak kecil adalah contoh manusia yang relatif lebih jujur dibandingkan dengan manusia dewasa. apa yang gue rasain di dua kasus tersebut adalah bentuk ketidaknyamanan gue sebagai kaum minoritas. sementara kaum mayoritas kurang dapat berempati atas apa yang dirasakan oleh kaum minoritas. maka dari itu dibutuhkan dialog untuk menjembatani permasalahan yang ada diantara kedua kaum tersebut.

lihatlah kasus yang ada di sekitar gue sekarang. gue ngeliat rasa toleransi itu udah semakin menipis. seolah-olah yang terjadi sekarang ini adalah beberapa golongan ingin memaksakan keinginannya. yang pasti pelajaran yang gue dapet dari negeri seberang itu adalah, mungkin kita bakal ngerasa santai aja ngelakuin sesuatu, karena dalam budaya kita hal itu emang biasa. sementara bagi komunitas lain, hal itu sangat membuat mereka ngerasa nggak nyaman, nemun mereka nggak berani berbuat apa-apa karena mereka hanyalah minoritas. pada akhirnya kaum minoritas itu terpaksa ngikutin aturan kaum mayoritas sementara di dalam hatinya mereka menaruh kekecewaan yang sangat mungkin bermetamorfosis menjadi imagonya,yaitu dendam.