Kamis, Desember 07, 2017
Tambah, Uda
Label: agama, catatan terbuka, cerita orang, jelajah gizi, sosial
Dirangkai oleh Rae pada 7:48:00 PM 0 tanggapan
Jumat, Juni 09, 2017
Warisan, Tapi Bukan yang Itu
Kita gak bisa milih lahir di mana, dari rahim siapa. Ke-Indonesia-an kita ini warisan. Pancasilanya juga warisan. Apakah pancasila ini paling benar? Mungkin gak sih ada yang lebih adiluhung dari Pancasila?
Gak semua orang di dunia ini mewarisi pancasila. Orang-orang di Nikaragua itu contohnya. Terus, patutkah kita mengasihani mereka karena tidak kenal pancasila?
Orang Amerika ga kenal pancasila. Negara mereka menjadi adidaya tanpa pancasila. Mereka liberal. Bertentangan dengan pancasila. Tapi adidaya.
Cina itu komunis. Bertentangan dengan pancasila. Tapi maju.
Setau saya, tidak ada negara maju yang kenal pancasila. Patutkah kita mengasihani mereka karena mereka tidak pancasila? Atau justru mereka yang harusnya mengasihani kita karena Negara Indonesia begini-begini saja.
HTI mau dibubarin (sudah dibubarin?) karena bertentangan dengan pancasila. HTI mau menegakkan khilafah berdasarkan syariat Islam.
Kenapa dilarang? Pancasila lebih hebat dari syariat Islam? Mungkin. Belum ada buktinya.
Tapi kalau ada negara Islam yang pernah mahsyur menjadi pusat peradaban dunia dengan para cendikianya, itu sudah ada buktinya. Haruskah kita mengasihani mereka yang mau menegakkan khilafah? atau justru kita yang harusnya dikasihani?
Bangsa kita, ngeliat Tatan masuk 9gag aja udah menggelinjang setengah mati. Liat ada bule belajar jadi dalang bangganya sampe ke bulan pulang-pergi 3 rit. Kata Om Joko Anwar, bangsa kita terlalu inferior. Orang Amerika ngeliat orang Indonesia pake celana jeans biasa aja. Kita, liat bule pake batik langsung mabuk kepayang.
Kalo kata pak presiden, negara lain sudah bicara mobil fantasi masa depan, spaceX, kita masih sibuk dengan urusan cantrang. Terlalu remeh.
Oke, udah mulai melenceng. Kembali ke pancasila. Kenapa kita gak bisa menerima orang yang berideologi lain. Boleh saja fanatik dengan satu ideologi, tapi jangan berlebihan juga. Yang pancasilais ga perlu ngelarang-larang yang Islamis. Yang Islamis, juga mestinya gak perlu ngelarang-larang yang komunis.
Yang nasionalis dipersekusi. Yang agamis dikriminalisasi. Yang komunis digebuk. Terus siapa yang menang?
Kita bisa hidup rukun dengan orang yang beda agama, tapi kenapa kita gak bisa hidup rukun dengan orang yang beda ideologi?
Kalau beragama itu urusan personal, harusnya berideologi juga. Yang dibutuhin tinggal saling pengertian, kurangi rasa curiga. Sekali lagi kita perlu belajar untuk bisa menerima perbedaan.
Semoga Indonesia bisa segera damai.
Label: agama, catatan terbuka, keluh kesah, mimbar terbuka, politik, rae against the machine, renungan, sosial
Dirangkai oleh Rae pada 10:52:00 AM 0 tanggapan
Jumat, Desember 19, 2014
Atribut Keagamaan, Stereotipe, dan Kebebasan Berkeyakinan
Lalu bagaimana dengan peringatan natal yang rencananya akan dihadiri oleh presiden –yang adalah muslim-. Harusnya tetap berpulang kepada keyakinan pribadi presiden itu sendiri. Kalau menurutnya tidak apa-apa baginya yang seorang muslim untuk datang ke acara tersebut, ya silahkan saja. Toh peringatan natal bukan bagian dari ibadah natal.
Label: agama, catatan terbuka, mimbar terbuka, monolog dua arah, renungan, sosial
Dirangkai oleh Rae pada 11:23:00 AM 2 tanggapan
Kamis, Juli 26, 2012
Memahami #SaveMaryam
Menjadi kristen itu ga cuma ngucap dua kalimat.
We also believe violence in this matter occurs when there is too much focus on Christians and what they are doing. We need to shift our focus to Muslims and their needs instead, ensuring they are more knowledgeables and confident about their religion and have the services they need to lead dignified lives under Islam. - #SaveMaryam
Ironis, ketika Umat Islam risau dengan murtadnya umat melalui kristenisasi, tapi justru mudah mengkafirkan JIL, Syiah, dan Ahmadiyah. Bukannya membina tapi malah mengintimidasi.
Label: agama, ambisi, gempa bumi, jogjakarta
Dirangkai oleh Rae pada 2:46:00 PM 9 tanggapan
Selasa, Mei 29, 2012
(Apa) Dosa Charles Darwin?
Darwin ibarat dokter yang salah mendiagnosis suatu penyakit, tapi jangan lantas menghakimi Ia sebagai sebagai tukang sihir.
Pada waktu itu, orang-orang RAKSASA ada di bumi, ketika anak-anak allah menghampiri anak-anak perempuan manusia, dan perempuan-perempuan itu melahirkan anak bagi mereka; inilah orang-orang gagah perkasa di zaman purbakala.
Label: agama, blogosphere, ilmu pengetahuan
Dirangkai oleh Rae pada 9:23:00 PM 11 tanggapan
Selasa, November 08, 2011
Jarak Antara Syariat Islam dan Islami
Prof. Komarudin Hidayat sabtu lalu (5 Nov 2011) bikin tulisan di kompas dengan judul "Keislaman Indonesia". Beliau banyak ngutip tulisan "How Islamic are Islamic Countries", tulisan Rehman dan Askari yang dimuat di Global Economy Journal 2010 lalu. Intinya, ternyata Indonesia dan negara-negara OKI umumnya gak lebih Islami daripada negara-negara sekuler yang ada di eropa atau bahkan New Zealand sekalipun.
Sementara gerakan keislaman di Indonesia masih banyak menghabiskan tenaganya untuk melabeli hukum dengan nama "syariat islam", di luar sana, negara yang sekuler justru lebih bisa mengedepankan apa-apa yang disyariatkan oleh Islam tanpa ada label syariat atau bahkan mungkin tanpa pernah mendapatkan referensi mengenai syariat Islam tersebut. Ternyata masih ada jarak antara label syariat dan kehidupan Islami itu sendiri.
Tapi tentunya tetap menarik untuk menyimak kelanjutan Undang-Undang Zakat, Infaq, dan Shodaqoh yang baru saja disahkan DPR. Apakah infiltrasi syariat Islam ke dalam hukum positif Indonesia bisa berhasil atau tidak?
NB: Iseng-iseng, nemu spin off dari How Islamic are Islamic Countries yang lebih menitikberatkan pembahasan ke soal ekonomi, An Economic Islamicity Index. Tentunya sektor ekonomi yang dibahas di sini tidak terbatas hanya soal finansial yang sering menggempur konsep bunga (riba). Ada 12 area yang dijadikan parameter, mulai dari sistem finansial sampai ke pengembangan kemakmuran dan struktur sosial dalam upaya menjamin persamaan hak dalam mendapatkan kemakmuran, kesehatan, dan lain sebagainya.
Label: agama, gaya hidup, mimbar terbuka, sosial
Dirangkai oleh Rae pada 11:00:00 AM 0 tanggapan
Senin, Maret 08, 2010
Bisakah Sholat Jumat di hari Sabtu?
Terkadang, suatu bahasan bisa menjadi tidak jelas dan bias jika dipaparkan melalui sekedar tulisan dan gambar. Beberapa orang menganggap karena kapasitas media tulisan dan gambar tidak cukup untuk menanggung beban bahasan tersebut - padahal ada ungkapan satu gambar dapat menjelaskan seribu kata. Untuk lebih memperjelas sebuah bahasan, maka terkadang dibutuhkan diskusi sehingga terjadi dialog dua arah dari pendonor ke orang yang hendak diberi penjelasan olehnya.
Tulisan saya kali ini pun mungkin akan bernasib demikian, tidak jelas dan bias. Akan tetapi, saya ingin menantang diri saya sendiri untuk bisa menjelaskan sebuah ide yang tidak umum dipahami manusia kebanyakan melalui media yang cenderung satu arah, blog.
Substansi dari tulisan ini sendiri bisa jadi dinilai penting, jika penyampaian saya tepat. Tetapi bisa juga hal ini hanya terlihat sebagai ide konyol yang sebaiknya diacuhkan saja. Mari kita mulai.
Seperti yang kita ketahui, penanggalan yang umum digunakan di dunia adalah penanggalan Gregorian yang mendasarkan perhitungannya pada pergerakan matahari. Dalam perkembangannya, sistem penanggalan ini telah beberapa kali mengalami revisi. Salah satu revisi yang terkenal adalah penambahan satu hari dalam salah satu tahun pada siklus empat tahun. Tahun yang kebagian jatah hari lebih banyak ini kemudian lebih dikenal dengan nama tahun kabisat.
Islam, sebagai agama langitan, tidak menggunakan penanggalan Gregorian, yang penuh revisi dan intervensi manusia, dalam menetapkan hari-hari rayanya. Penanggalan yang digunakan adalah penanggalan Hijriah yang mendasarkan perhitungannya pada pergerakan bulan. Berbeda dengan penanggalan Gregorian, penanggalan Hijriah sampai saat ini masih steril dari intervensi manusia. Salah satu konsekuensinya adalah kesulitan dalam membuat kalender satu tahun penuh di awal tahun. Maka tidak heran jika kemudian banyak umat Islam yang berselisih dalam menentukan hari raya Idul Fitri karena perbedaan hasil metode Hisab dan Ruqyat.
Saya tidak tertarik untuk membahas perselisihan tersebut karena sudah banyak yang memberikan pendapatnya. Namun jika anda tertarik, saya merekomendasikan satu artikel menarik mengenai penentuan hari Idul Fitri yang bisa dilihat di sini.
Permasalahan perbedaan waktu di dalam menentukan waktu-waktu ibadah di dalam Islam sebenarnya bisa menjadi kajian yang menarik. Kebetulan beberapa tahun yang lalu saya tiba-tiba memikirkan,"Daerah pertama di dunia yang memulai hari itu sebenarnya di mana sih?"
Akhirnya saya mendapatkan jawaban dari pertanyaan tersebut. Batas penanggalan dunia ada di garis bujur 180°. Garis batas ini adalah garis maya yang di beberapa bagian meliuk-liuk untuk disesuaikan dengan garis batas negara yang bersangkutan. Beberapa revisi untuk garis ini terjadi pada perbatasan Rusia - Amerika Serikat di Selat Bering dan di perbatasan Kiribati - Amerika Serikat. Garis batas penanggalan yang jelas dapat anda lihat dengan mengklik gambar di bawah ini.

(Sumber: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/6/61/International_Date_Line.png)
Garis maya hasil kesepakatan orang-orang inilah yang kemudian menjadi batas hari. Seberapa signifikan garis tersebut? Ferdinand Magellan pernah dibuat bingung ketika mengelilingi bumi ke arah barat karena ketika dia sampai di titik awal keberangkatannya, ternyata dia telat satu hari dibandingkan jurnal pelayaran yang dia buat. Fenomena unik ini juga diracik secara menarik oleh Jules Verne melalui novel cerdasnya, Around The World in 80 Days.
Jika anda masih bingung dengan fenomena apa yang saya maksud, maka ijinkanlah saya untuk memberi contoh yang saya ambil dari artikel Wikipedia Indonesia berikut ini:
Tonga dan Samoa adalah dua negara yang berdekatan. Jarak tempuh dua negara ini dengan menggunakan pesawat hanyalah dua jam. Akan tetapi Tonga berada di sebelah barat garis batas penanggalan sedangkan Samoa berada di sebelah timurnya. Artinya, ketika di Tonga adalah hari Selasa, maka di Samoa adalah hari Senin. Jika seseorang naik penerbangan dari Tonga pada hari selasa pukul 12.00 siang hari, maka ia akan sampai di Samoa pada pukul 14.00. Tetapi ia tiba di Samoa bukan pada hari Selasa, melainkan hari Senin, atau Ia berjalan mundur satu hari.Bayangkan apa yang terjadi bila saya, yang seorang muslim, berangkat dari Tonga selepas mengerjakan sholat Jumat menuju Samoa. Maka saya akan tiba di Samoa pada hari Kamis dan artinya dalam waktu kurang dari 24 jam berikutnya, saya memiliki kewajiban untuk menunaikan Sholat Jumat kembali. Saya mengerjakan sholat Jumat di saat, beberapa mil di sebelah barat saya sudah bukan hari Jumat lagi, melainkan Sabtu.
Kemudian yang mengusik pertanyaan saya adalah, apakah boleh umat Islam menggunakan batas penanggalan yang sama dengan kebanyakan orang di muka bumi ini, yaitu mendasarkan penggantian hari pada sebuah garis maya yang ditetapkan melalui konvensi? Jika tidak, lantas di manakah garis batas penanggalan menurut versi Islam?
Wallahu'alam bish-showab
Label: agama, ilmu pengetahuan, luar negeri, mimbar terbuka, rae against the machine, renungan
Dirangkai oleh Rae pada 9:11:00 PM 8 tanggapan
Kamis, Maret 04, 2010
Bersalah dan Berdosa
Orang yang tidak membayar pajak bisa dikenai kurungan penjara karena perbuatannya melanggar hukum. Orang yang tidak memiliki SIM bisa ditilang polisi lalu lintas di jalan. Alasannya pun sama, melanggar hukum.
Meskipun bersalah di mata hukum, bukan berarti orang-orang tersebut berdosa. Berdosa dan bersalah adalah dua hal yang berbeda, meskipun seringkali terjadi irisan dari dua himpunan tersebut, bersalah sekaligus berdosa.
Kata "bersalah" akan merujuk pada hukum yang dipakai sebagai kesepakatan bersama. Sedangkan "berdosa" merujuk pada aturan agama. Rasanya tidak ada satupun agama yang menyebutkan kewajiban untuk membayar pajak dan keharusan memiliki SIM untuk orang yang membawa kendaraan. Maka ada perbedaan sumber aturan yang dipakai untuk memutuskan status bersalah dan berdosa.
Hal ini terjadi sebagai konsekuensi atas penerapan hukum yang dibuat dengan konsensus. Suka tidak suka, ini yang harus diterima. Apabila pemerintah kemudian membuat peraturan yang menyatakan bahwa nikah siri dilarang, maka orang yang melakukan nikah siri tersebut akan memiliki status yang sama dengan pengemplang pajak dan pengemudi kendaraan yang tidak memiliki SIM, bersalah tapi tidak berdosa.
Label: agama, hukum, info gak guna, renungan, senam jari
Dirangkai oleh Rae pada 9:06:00 AM 4 tanggapan
Rabu, Januari 13, 2010
ideologi
dengan alasan menutupi defisit anggaran, pemerintah kota pekanbaru akhirnya memberlakukan pajak daerah sebesar sepuluh persen untuk nasi bungkus. ironis, ketika salah satu propinsi terkaya di indonesia justru lebih memilih untuk meminta kepada rakyat kecilnya, bukan dari mereka yang mapan yang bekerja di perusahaan-perusahaan multinasional di sana.
mungkin keadaan seperti ini juga yang kemudian membulatkan tekad H. Misbach untuk kemudian bergabung dalam gerakan awal PKI. marah dengan kraton yang tidak henti-hentinya menghisap darah rakyat dan kecewa dengan melempemnya perjuangan HOS Cokroaminoto dengan Muhammadiyahnya serta Serikat Islam yang justru sibuk memperkaya diri sendiri.
tidak banyak yang mengenal siapa H. Misbach saat ini. wajar saja, "fatwa haram" komunis oleh pemerintah orde baru memang membuat tenggelam banyak nama pejuang komunis di Indonesia. padahal kalau mau kita gali, kontribusi orang-orang komunis terhadap kemerdekaan Indonesia tidak bisa dibilang kecil. mulai dari aktivis-aktivis yang "menculik" Soekarno ke Rengasdengklok untuk memaksanya menyatakan kemerdekaan Indonesia sampai Ki Hajar Dewantara adalah orang-orang komunis.
tulisan ini tidak ditujukan untuk membela atau memutihkan nama PKI. mungkin memang CIA memainkan peran belakang panggung yang luar biasa hebatnya pada medio 1965 yang lalu. tidak bisa disangkal bahwa memang ada keterlibatan beberapa petinggi PKI dalam gerakan tersebut seperti yang dipaparkan oleh John Roosa. namun apa tujuan semua itu? semua masih kabur.
ide yang ditawarkan pada tulisan ini lebih membahas mengenai komunisme sebagai sebuah ideologi. dilarangnya ideologi ini di Indonesia lebih disebabkan karena pemberontakan Madiun dan G30/S-PKI. sebenarnya tidak adil memutus haram suatu ideologi hanya karena satu dua tindakan. bayangkan saja bagaimana tidak logisnya apabila Islam dilarang hanya karena adanya gerakan NII-DI/TII yang ingin makar atau karena FPI main hakim sendiri mengacak-acak tempat yang mereka sebut maksiat.
dalam perkembangannya komunisme pun memiliki banyak mazhab, ada leninisme, maoisme, anarcho-communist, dan lain-lain. kalau memang ada hal-hal yang bertentangan dengan ideologi pancasila, bukan tidak mungkin mengadopsi komunisme dengan citarasa yang lebih Indonesia.
kebencian masyarakat terhadap komunis sebenarnya lebih disebabkan sentimen tanpa alasan. alasan atheisme dengan mudah dapat dipatahkan. jika memang komunisme tidak mempercayai tuhan, lantas bagaimana mungkin komunis jutru masuk ke Indonesia pertama kali melalui organisasi Serikat Islam?
sebagai sebuah ideologi yang berlandaskan materialisme, komunisme memang cenderung mengabaikan eksistensi tuhan. tapi hal ini tidak membuat mereka bisa dicap sebagai atheis. lawan utama komunisme, kapitalisme, pun melandaskan prinsip-prinsip materialisme dan cenderung mengabaikan eksistensi tuhan. tapi mengapa ideologi ini dapat lebih diterima di Indonesia? kedua ideologi ini bukanlah sebuah paket dengan harga pas yang tidak dapat ditawar. lihat saja bagaimana H. Misbach yang berjuang bersama komunis dengan tetap meletakkan Al-Quran sebagai landasannya.
obrolan ideologi memang bukan makanan ringan yang bisa disantap santai di warung-warung kopi. banyak orang yang mengaku pancasilais tetapi mengancam akan membunuh siapapun yang ingin membangkitkan kembali komunisme. di mana letak kemanusiaan yang adil dan beradab-nya? maka mahfumlah apabila sedikit yang paham benar dengan apa itu komunisme. pancasila pun saat ini hanya sekedar lima sila tanpa makna yang menggema tanpa jiwa di upacara hari senin.
tidak banyak yang tahu bahwa tataran ideal komunis adalah sebuah masyarakat yang adil, sejahtera, dan bahagia, pun menyenangkan. tidak banyak yang paham bahwa komunis yang menganut paham internasionalisme (lawan dari nasionalisme) adalah penentang keras setiap bentuk penjajahan di muka bumi ini.
saya sendiri tidak dalam posisi mendukung berkembangnya komunisme di Indonesia. tapi saya juga tidak akan melarang-larang. kalau Islam pun bisa semoderat PKS, maka komunisme maupun ideologi-ideologi lainnya pun bisa menjadi moderat.
buat saya, semua ideologi adalah utopia, sesempurna apapun ideologi tersebut. karena dalam praktiknya, ideologi tersebut tetap harus dijalankan oleh manusia, yang memiliki berjuta kealpaan.
Label: agama, hukum, mimbar terbuka, politik, rae against the machine
Dirangkai oleh Rae pada 9:11:00 AM 1 tanggapan
Rabu, Desember 09, 2009
lagu lama menyatukan dua dunia
ruang besar atau kecil, bangunan angker atau berbunga-bunga, patung atau kaligrafi - semuanya kemeriahan panca indera untuk memuliakan Tuhan.
sebenarnya tidak ada masalah dengan dilarangnya menara masjid di Swiss. toh, tanpa menara, ummat Islam masih bisa melaksanakan ibadahnya tanpa mengurangi sedikitpun maknanya. Menara hanyalah perlambang yang tidak esensial - berbeda halnya jika yang dilarang adalah pembangunan masjid atau pemakaian jilbab.
meskipun demikian, jangan salahkan juga jika ummat Islam bereaksi keras terhadap hal yang terlihat sepele ini. permasalahan yang ada bukan keberadaan materialistik dari menara masjid, akan tetapi lebih kepada apa yang mendasari pelarangan ini.
pelarangan menara masjid di swiss diputuskan melalui referendum rakyatnya dengan hasil lebih dari 57% warga swiss menolak pendirian masjid dengan kemenangan di 22 dari 26 propinsi yang ada di swiss. dari sini kita sudah bisa melihat bahwa ada ketakutan rakyat swiss terhadap islam.
jika ditarik lebih lebar, ketakutan akan islam tidak hanya terjadi di swiss, akan tetapi sudah mulai menginfeksi keseluruhan eropa. demonstrasi anti islam garis keras yang berubah menjadi demonstrasi anti islam (saja) di inggris, pelarangan jilbab di sekolah-sekolah umum perancis, pembuatan kartun yang menghina nabi Muhammad SAW di Denmark, dan kontroversi pendirian masjid terbesar se-eropa di jerman telah menjadi pembuka islamophobia sebelum keputusan swiss melarang pembangunan menara masjid.
ketakutan ini sendiri memang bukan tanpa alasan. adanya kelompok islam garis keras yang kerap menebar teror dengan sasaran orang-orang barat (amerika serikat dan eropa) harus kita akui dengan sesadar-sadarnya. maka dari itu mengetahui akar permasalahan menjadi penting, karena dengan demikian kita bisa mendapatkan panduan tepat dalam menentukan solusi yang diambil.
penolakan atas kebijakan yang sangat diskriminatif memang sangat diperlukan. dengan langkah apa hal itu dilakukan, inilah yang harus dipilih dengan cermat. melakukan demonstrasi dengan poster-poster yang provokatif rasanya bukanlah pilihan yang tepat. apalagi jika sampai melakukan perusakan yang ujung-ujungnya hanya menimbulkan rasa tidak nyaman. hal ini sama saja dengan menebalkan anggapan bahwa islam memang agama dengan ummat yang brutal.
komunikasi dunia barat dengan islam yang damai harus lebih sering dijalin. sudah saatnya islam membuka dirinya kepada dunia. mengundang masuk - bukan hanya mempersilahkan, tapi mengundang - siapa saja dengan senyum terindah ke lingkungan kita. izinkanlah mereka satu kesempatan untuk memahami apa yang kita rasakan. memahami bahwa islam sebagai (mungkin) satu-satunya agama yang tidak hanya mengatur urusan akherat saja.
semua pemaparan di atas sebenarnya hanyalah lagu lama yang kembali dimainkan dengan aransemen berbeda. sebuah lagu usang yang mulai membosankan mengenai bagaimana cara menyatukan dua dunia. akan tetapi lagu ini akan terus berkumandang selama paparan ini hanya berhenti sebagai sekadar pendaran layar monitor atau sapuan tinta di atas kertas.
how long must we sing this song? (Sunday, bloody sunday - U2)
Label: agama, luar negeri, mimbar terbuka, monolog dua arah, renungan
Dirangkai oleh Rae pada 11:26:00 PM 1 tanggapan
Sabtu, September 12, 2009
Ramadhan oh Ramadhan
rasanya bulan Ramadhan dari tahun ke tahun semakin kehilangan kesakralannya. banyak acara yang bertema Ramadhan tapi sedikit yang memasukkan esensi Ramadhan itu sendiri ke dalamnya.
kalau dulu acara buka bersama selalu diisi dengan kajian keagamaan, maka saat ini buka bersama banyak yang hanya sekedar makan malam bersama. kalau dulu acara TV menyambut Ramadhan banyak yang bercerita tentang Ramadhan itu sendiri, sekarang acara TV hanya sekedar berganti baju menjadi baju Ramadhan. acara tanya jawab keagamaan di waktu sahur berganti wujud menjadi acara lawak-lawak dan kuis interaktif, yang tidak lebih baik daripada SDSB.
Tudinglah liberalisme dan semangat pluralisme kebablasan yang membebaskan ekspresi setiap insan manusia sehingga bau surga Ramadhan semakin pudar dari tahun ke tahun. salahkan kapitalis yang berusaha menggeser semua manfaat transterestrial menjadi apa saja yang sifatnya material.
akankah Ramadhan di negeri kita akan menjadi seperti natal di negeri menara kembar rubuh? menjadi sebuah budaya, bukan lagi ritual keagamaan. menjadi sebuah momen yang sah-sah saja untuk dirayakan dan dihayati oleh siapa saja? bahkan parahnya lagi, dengan cara bagaimana pun..
Label: agama, gaya hidup, mimbar terbuka
Dirangkai oleh Rae pada 4:16:00 AM 4 tanggapan
Jumat, September 19, 2008
mukenah
pernah gak ngerasa tolol dengan ide sikat gigi yang bisa getar sendiri. jadi intinya kita nggak perlu ngegoyang-goyang tangan kita untuk ngegosok gigi kita. ini penemuan bener-bener gak masuk akal. tapi anehnya, tetep aja ada orang yang mau beli.
sama aja kayak mukenah. sebenernya buat apa sih ada mukenah di dunia ini? gue gak pernah liat tuh ada orang mau jalan-jalan, tapi sambil pake mukenah. paling banter liat orang pake mukenah di jalanan waktu mereka jalan dari rumah mau sholat ke mesjid. yah... pendapat gue sendiri saat ini sih mukenah itu cuma sekedar pemborosan. harus dicarikan fungsi laennya. jangan cuma buat sholat. kalo cuma buat sholat mah mubazir banget. mungkin kita harus nyoba menjadikan mukenah sebagai trend mode. ke mall pake mukenah, ke kebon binatang pake mukenah, kuliah pake mukenah, ngantor pake mukenah. kayaknya asik tuuuh. jadi mukenah juga bisa berfungsi sebagai pakaian. kalo cuman buat sholat doang mah ngapain perlu mukenah. andai semua perempuan terbuka pintu hidayahnya dan memutuskan untuk menutup seluruh auratnya dan mereka beristiqomah dengan hal itu, maka mukenah gak bakal diperluin lagi di dunia ini. syarat untuk sholat kan menutup semua aurat, bukannya make mukenah. jadi seharusnya dengan pakaian yang tertutup, maka udah sah untuk sholat.
kenapa mukenah dan pakaian dibuat jadi memiliki fungsi yang terpisah? sekarang kan jamannya yang praktis. 2 in 1 ato bahkan 3 in 1 ato bahkan sampe n in 1 (di mana n mendekati tak hingga). shampoo sekaligus conditioner, rice cooker sekaligus magic jar, ponsel sekaligus kamera sekaligus kalkulator sekaligus ini sekaligus itu. KISS!!! keep it simple stupid! ayolah... kalo emang masih ogah make kerudung ke mana-mana, coba deh fungsiin mukenah sebagai pakaian juga.
ah maaf. kayaknya logika gue kebalik. mustinya, ayolah... coba deh fungsiin pakaian sebagai mukenah juga.
Label: agama, gaya hidup
Dirangkai oleh Rae pada 2:20:00 PM 24 tanggapan
Jumat, Februari 29, 2008
kita telah memilih agama yang sesat...
weits... judul postingan gue kali ini emang sangat provokatif. dan gue rasa bakalan banyak juga yang pro dan kontra untuk postingan gue kali ini. beberapa bulan yang lalu masalah aliran-aliran sesat sempet merebak. pro dan kontra bergulir mengenai keberadaan aliran-aliran yang ada. aksi pengrusakan terjadi di beberapa tempat. MUI mencoba bereaksi, tapi malah jadi bola panas. apa yang sedang terjadi?!?!?!?!
gue bakal mulai dasar pemikiran seperti yang diutarakan temon, temen gue. dia bilang kurang lebih seperti ini... tuhan itu adalah sebuah konsep yang disepakati oleh semua agama. sedangkan agama adalah sebuah cara atau aturan. temon menyebut agama sebagai sebuah alat atau jalan. di dalam agama, tuhan menjadi punya nama. dengan agama, ada ritual-ritual keagamaan. cara-cara inilah yang berbeda antar agama. mungkin keragaman agama inilah yang membuat kahlil gibran lantas menjadi gamang. dia bilang agama telah merusak konsep tuhan. agama menurut dia menjadi tidak penting. yang penting adalah mencintai tuhan, berbuat baik, bla bla bla...
gue nggak sedang mencoba menjadi seorang pluralis modern yang menyamakan semua agama. gue yakin bahwa hanya ada satu cara yang benar, tapi saya tidak berminat untuk berdebat menentukan mana yang benar. silahkan anda cari sendiri.
permasalahan di ummat islam akhir-akhir ini adalah keresahan akan adanya aliran-aliran yang tidak jelas asalnya dan bertentangan dengan agama islam pada umumnya (katakanlah ahli sunnah wal jamaah). ketika MUI kemudian bereaksi dengan memfatwakan sesat sebuah aliran agama, buat gue itu sah-sah aja. selama fatwa itu hanya sebagai sebuah cara untuk membina ummat yang dia miliki. jadi fatwa tersebut jangan sampai punya konsekuensi dalam hukum positif.
fatwa MUI harusnya tidak lantas disikapi dengan berlebihan. ketika sebuah aliran difatwakan sesat, bukan berarti aliran tersebut harus diberangus. MUI juga memfatwakan haram untuk bunga bank, tapi BNI, Bank Mandiri, BCA, BRI, dan sederet panjang bank komersil lainnya tetap megah bertengger. MUI memfatwakan satu produk pangan tertentu haram, bukan berarti kemudian produk tersebut tidak boleh ada di pasar. harusnya ini juga berlaku untuk aliran agama yang ada.
beberapa orang kemudian mengatakan bahwa aliran-aliran tersebut telah menolak ajaran agama Islam. kalo gue bilang, agama laen juga sama saja, telah menolak ajaran agam Islam. dan agama Islam pun menolak agama laen. lantas apa? kalo kita bisa hidup berdampingan dengan agama laen, kenapa gak bisa dengan aliran - aliran islam laen yang ada?
beberapa orang tersebut kemudian berkata bahwa aliran tersebut telah membawa-bawa nama Islam dan telah menggeser dan bahkan telah menistakan nilai - nilai Islam yang ada. bukankah ini sama saja dengan keberadaan kaum nasrani dan yahudi? tadinya kita adalah satu ummat, kemudian terjadi perpecahan. Allah yang ummat Islam agung - agungkan juga sama dengan Allah yang mereka sembah, kita hanya berbeda dalam cara menyembahnya. sama saja dengan aliran - aliran keagamaan yang lain. kita menyembah tuhan yang sama dengan cara yang berbeda. menurut kita, mereka adalah sesat, tapi menurut mereka, justru "KITA TELAH MEMILIH AGAMA YANG SESAT". sekarang islam bisa hidup berdampingan dengan yahudi dan nasrani (meskipun di beberapa tempat, konflik tetap terjadi). bahkan semenjak zaman Rasulullah SAW. terus kenapa kita nggak bisa hidup berdampingan dengan aliran - aliran yang lain?
kemajemukan gue rasa adalah sebuah keniscayaan. gue bisa ngerti kalo terus john lennon bikin lirik - lirik indah di dalam lagu IMAGINE. tapi menurut gue baris lirik itu lebih menjadi sebuah ungkapan putus asa dengan mencoba memimpikan utopia. ebony and ivory gue rasa adalah sebuah mimpi yang lebih realistis untuk diwujudkan. di mana kita bisa hidup berdampingan, dengan warna apapun yang kita anut.
Dirangkai oleh Rae pada 2:24:00 PM 7 tanggapan
Selasa, Desember 04, 2007
ebony and ivory, side by side on my piano as a harmony
satu hal yang mengggelitik ketika pertama kali gue mulai nyari tempat kos beberapa tahun lalu adalah banyak tempat kos yang cuma nerima untuk muslim. sebenernya gue udah lama pengen nulis ini, tapi karena menyangkut hubungan antar beragama jadi butuh banyak pertimbangan.
gue sampe saat ini tetep gak ngerti kenapa ada pendikotomian antar agama untuk tinggal di satu tempat? kalo tempat kos dibedain berdasarkan gender gue bisa sangat memahami. tapi kenapa agama yang dijadiin pembeda?
setelah melakukan beberapa wawancara (cuiih,,, padahal sebenernya cuma ngobrol-ngobrol biasa) rupanya para pemilik tempat kos itu terlalu banyak curiga dengan orang-orang non-islam. yang ada di pikiran mereka itu,"waduh, bisa-bisa kosan gue jadi sarang pemurtadan ummat. bisa dosa gue kalo begitu jadinya." selaen itu pemilik kos juga risih kalo tempat kosnya jadi tempat kumpul-kumpul "pengajian"-nya mereka apalagi terus mereka pada nyanyi-nyanyi pake gitar. oke, dua alesan ini gue rasa udah cukup mewakili, karena emang dua alesan ini yang jadi keberatan terbesar.
soal kehidupan beragama emang jadi soal yang sensitif di masyarakat indonesia. berbeda kalo di amerika serikat dan eropa yang cenderung lebih sekuler, dan agama gak menjadi identitas yang penting (baca: parasit lajang bab agama (ayu utami). phobia akan pemurtadan ummat emang ada di kalangan ummat islam. gue gak bakal ngebela pihak manapun. karena pemurtadan itu emang ada. tapi penggeneralisiran semua yang bukan islam membawa misi pemurtadan itu gue rasa bener-bener konyol. di kalangan islam sendiri juga banyak yang punya misi serupa, mengislamkan yang belum islam. buat gue sah-sah aja. setiap manusia punya misi sendiri-sendiri. selama gak memaksa (apalagi pake anceman) dan "memanipulasi" silahkan aja. toh tiap orang juga bakal mikir-mikir dulu. terlepas dari itu, soal pemilihan agama itu kan hak masing-masing. Allah sendiri gak pernah memfatwakan bahwa halallah darah orang-orang kafir. urusan agama adalah urusan masing-masing individu. tugas kita hanya saling mengingatkan. lakum dinnukum wa liyaddin (bagimu agamamu, dan bagiku agamaku).
yang menarik juga dari soal pemurtadan ini banyak orang islam yang ngerasa kecolongan, karena aqidah soadara-sodaranya dijual demi satu kardus indomie. kalo udah kejadian baru mencak-mencak gak karuan terus sweeping satu agama tertentu. di satu sisi gue emang menyesalkan pemurtadan yang terjadi, tapi di sisi laen, gue juga bilang,"ya ampun, ke mana aje kemaren-kemaren? ada sodara yang butuh pertolongan tapi kita cuek-cuek aja. pas sodara kita diangkut ke rumah tetangga, baru kita kebakaran jenggot." daripada bikin suasana makin keruh (dan malah sama sekali nggak ngundang simpati), lebih baek kita benahin cara kita membina ummat.
kembali ke tempat kos. keberatan kedua adalah adanya "pengajian". wah, soal ini mah gue rasa kita semua (islam maupun nggak) masih harus belajar banyak soal tenggang rasa. gue inget pertama kali gue masuk asrama di IPB, di hari pertama, setelah sholat maghrib, suara orang ngaji kedengeran dari kamar-kamar. bayangin gimana rasanya temen-temen yang minoritas ketika hal ini terjadi, di hari pertama mereka di tempat yang baru? pasti di hati mereka ada rasa kekhawatiran karena mereka seolah-olah terkepung dalam budaya yang berseberangan dengan budaya mereka. jadi ketakutan mereka sama juga dengan ketakutan dan rasa risih yang dirasain kita.
gue inget salah satu dosen gue, yang ISLAM, sebel banget denger suara adzan subuh yang nyaring. awalnya gue pikir,"wah, ni dosen tukang ngorok kalo subuh-subuh dan nggak mau keganggu dengan omongan assholatu khoiru minannaum." tapi rupanya dia sebel karena hal itu ngeganggu temen-temen yang bukan islam, karena jam segitu emang masih jadwalnya tidur. dia juga cerita kalo hotel-hotel di jakarta yang deket mesjid pasti nggak jadi pilihan wisatawan asing karena bakal selalu keganggu pas lagi subuh.
gue nggak bilang setuju dengan omongan dosen gue ini, tapi gue ngeliat kalo dosen gue ini berusaha untuk bertenggang rasa dengan ummat laen. oke, gue nggak ganggu lo, tapi tolong, lo juga jangan ganggu gue. mungkin kira-kira seperti itu.
tapi kalo pendapat gue pribadi sih, gue lebih seneng kalo adzan subuh kenceng-kenceng seperti biasa. tapi konsekuensi dari hal ini adalah gue juga harus mau nerima kalo ada temen kosan yang bikin "pengajian" di tempat kos gue sambil nyanyiin lagu-lagu pujian. dan gue terima konsekuensi itu.
post script: ada yang tau gak sih judul di atas tu kutipan lagu apa dan siapa yang nyanyi? ada yang punya mp3-nya gak? bagi dong!
Label: agama
Dirangkai oleh Rae pada 2:20:00 PM 2 tanggapan
Jumat, September 28, 2007
anda puasa? (Insya Allah...)
hm.... pertanyaan mendasar nih....
gue sering ngerasa aneh kalo ngedenger pecakapan semacem ini
x: anda puasa
y: insya Allah.
kenapa jawabnya insya Allah? kenapa gak jawabnya,"iya, saya puasa."
apa karena puasa itu adalah ibadah yang cuma Allah yang tau itung-itungannya? tapi gak ngebuat kita terus seperti gak tau kita sebenernya puasa atau nggak kan?
sama seperti kalo gue ditanya,"re, lo islam kagak?" gak mungkin dong gue jawabnya,"Insya Allah." gue sih bakalan jawab,"Iya."
terus kenapa kalo ditanya puasa ato nggak jawabannya mesti insya Allah?
Label: agama
Dirangkai oleh Rae pada 2:01:00 PM 0 tanggapan
Jumat, Januari 26, 2007
Pengkultusan
Mulai hari ini semua akan berubah!
sekitar satu bulan yang lalu, gue dapet imel dari salah satu pembaca blog gue. dia bilang,"rae, coba dong lo bahas poligaminya aa gym dari perspektif lo. kan lo bisa ngeliat dari sudut-sudut yang gak kepikiran oleh orang lain.".
selesai membaca imel itu, rasanya gue ingin nangis...BLOG GUE MULAI DIGANDRUNGI!!!! uedan tenan iki!!! sampe-sampe ada surat pembaca di inbox frenster gue. setelah beberapa waktu (ya sekitar satu bulan itu...) larut dalam euforia kebahagiaan, akhirnya gue coba mulai menilik ulang apa yang terjadi di sekitar aa gym...
akhirnya gue menilai satu hal yang harus kita renungkan. sesuatu yang menurut gue lebih penting ketimbang menghujat aa gym (terlepas dari benar tidaknya perbuatan dia, gue di sini bukan untuk menjustifikasi). lebih penting ketimbang sakit hati yang (MUNGKIN) dialami istri pertama aa gym.
hal itu adalah: mengapa hal seperti ini harus diributkan?
gue ngeliat telah terjadi satu pengkultusan terhadap diri aa gym. aa gym hanya sebuah makhluk dengan jumlah kromosom yang sama dengan kita semua, dalam artian, dia hanya manusia biasa. mengapa kita harus mengkultuskan dia? jadi wajar saja kalo sekali waktu ia mengecewakan orang lain. karena tidak ada orang yang akan lepas dari khilaf. dan karena dari khilafnya itulah, manusia telah memanusiakan dirinya. bisa kita lihat bagaimana jumlah pengunjung ke daarut tauhid menurun dengan drastis. apalagi ini namanya kalo bukan pengkultusan yang gagal. rupanya selama ini banyak orang yang telah salah menyerap cahaya kebaikan yang selama ini berusaha dipancarkan aa gym. untuk itu sebagai epilog postingan gue ini, gue bakal menutup dengan pepatah lama yang sudah sangat familier di telinga kita, namun mungkin esensinya telah terlupakan oleh kita semua: jangan kau dengar omongan seseorang karena siapa dia, tapi dengar omongannya karena apa yang dia omongkan. apapun yang telah terjadi pada aa gym, dia jelas telah berusaha memberikan yang terbaik bagi perbaikan kehidupan bangsa ini.
Label: agama, cerita orang, renungan
Dirangkai oleh Rae pada 10:13:00 AM 0 tanggapan
Kamis, November 02, 2006
rae itu agamanya apa toh?
busyet!!!!
masa ada temen kuliah gue yang nanyain pertanyaan itu pas gue udah tingkat 3.bayangin!!! tingkat tiga!!! artinya udah lebih dari dua taun keta kenal, tapi dia nggak tau agama gue apa. padahal menurut utami (2000) di dalam parasit lajang, agama adalah salah satu identitas terpenting di indonesia. seseorang dianggap aneh bila tidak beragama.
dan setelah melewati dua tahun (termasuk satu semester di kelas agama yang sama), masih ada yang nggak tau agama gue. emang sih, gue paling males pake peci atau baju koko. tapi gue mesti solat dan kalo masuk kelas gue ngucapin assalamualaikum koq!
ada beberapa alesan kenapa rae tidak memakai peci dan baju koko.
1. peci
waktu gue sd, ada ujian EBTA praktek solat. ketika nama gue dipanggil, gue maju dengan sarung. ketika mau takbirotul ihrom tau2 perut gue dicubit oleh sang guru.
sang guru : mana topi kamu? (maksudnya peci/kopiah. red)
rae si kucing jalanan: (agak kebingungan) gak punya pak.
sang guru : (nyubit lagi) JADI SELAMA INI KAMU NGGAK PERNAH SOLAT?!?!?!?
rae si kucing jalanan: (tambah bingung dan tambah kesakitan karena dicubit) loh, kan pake peci nggak wajib pak! orang naek haji aja nggak pake peci. cuma disuruh pake pakean ihrom!kepalanya gak ditutup apa-apa!
sang guru:solat itu harus pake peci!!! bla... bla... bla... bli... bli... bli... blu... blu... blu... begini... begini... begini... begitu... begitu... begitu...
nah semenjak itulah gue bertekad untuk mensosialisasikan bahwa peci itu gak wajib!toh gue kan bener!!!
2.baju koko
kalo baju koko sih alesan gue sederhana aja. baju koko itu gak nunjukin identitas muslim. baju koko nunjukin identitas bangsa melayu yang muslim. sama sekali nggak ada kaitannya antara baju koko dan islam.
3.ini dakwah gue
lo tau kan misionaris dar gereja yang baik hati kepada warga sekitar, sekaligus berdakwah? nah, model misionaris yang paling ditakutin oleh orang islam (terutama yang fundamentalis) adalah misionaris yang berjanggut, yang kemana-mana make jubah panjang/gamis.dan itulah gue!!! gue bisa diibaratin sebagai seorang misionaris dengan pakaian layaknya orang yang awam agama (padahal emang awam sih...) tapi selalu berusaha untuk menebarkan nilai-nilai islam, dan berusaha menegakkan panji islam di bumi Allah.(busyet... omongan gue udah kayak mujahid aje!). well, tapi gimanapun gue emang nggak sebaik imam di masjid, atau kyai yang diundang ceramah agama di kompleks2, terlepas dari segala kekurangan gue, gue (insyaAllah) istiqomah untuk bersyiar!
bisik-bisik tetangga:
psst... si rae jadi begini karena berkah ramadhan kali ye?
Mulai hari ini semua akan berubah!
diambil dari raemustarani.blogs.friendster.com pada 02 11 2006
Label: agama, canda tawa, renungan
Dirangkai oleh Rae pada 4:35:00 PM 2 tanggapan
Selasa, April 18, 2006
empati dan toleransi
waktu umur gue baru tiga taun, gue dapet kesempatan yang mungkin jarang didapet sama anak indonesia seumur itu ketika itu. gue dapet kesempatan ikut orang tua gue ke filipina. kenapa gue bilang beruntung? bukan karena lantas gue bisa berbangga-bangga di depan temen-temen gue atau asyik bisa jalan-jalan ke luar negeri, tapi karena di sana gue bisa belajar tentang toleransi.
ketika itu gue tinggal di kota Los Banos, di sebelah utara filipina, di pulau Luzon. Los Banos hanyalah sebuah kota kecil yang jaraknya sekitar satu jam perjalanan dengan bus dari Ibukota Manila. kalau bukan karena IRRI (international rice research institute) dan UPLB (University of Philippines at Los Banos) pastilah kota itu akan menjadi sangat tidak menarik. tahun pertama gue di sana, gue hanya berdiam diri di rumah dan bermain dengan kawan-kawan anak-anak mahasiswa pasca dari berbagai negara yang kebetulan tinggal satu Doom dengan keluarga gue. bayangkan, multikultur,multireligi,multiras,dan multi-multi yang lainnya. tahun kedua gue dimasukin ke kindergarten yang ada di kota tersebut. karena Los Banos adalah kota kecil, maka tidak terlalu banyak pilihan kindergarten. dengan mempertimbangkan berbagai aspek, maka dimasukkanlah gue ke salah satu TK Katholik yang ada di kota itu.
ceritapun dimulai...
perbedaan budaya sangat terasa, dan terkadang hal ini membuat benturan-benturan kepentingan. kindergarten adalah sebuah sarana untuk membentuk mental dan perilaku anak. maka tak heran jika pelajaran berdoa pun menjadi salah satu agenda utama, terlebih lagi sekolah ini didirikan oleh yayasan keagamaan. salah satunya adalah ketika akan makan. si teacher bilang,"lets pray!", dan serta merta semua murid menutup matanya dan menutup kedua tangannya dan dengan khidmat memohon berkah atas makanan yang telah diberikan. sementara gue yang dalam institusi keluarga juga sudah dididik bagaimana tata-cara berdoa secara islam, melakukan ritual yang berbeda, yaitu dengan tangan terbukamenengadah ke atas. pada kesempatan pertama, gue dan si teacher sempat beradu argumen tentang ritual gue yang dianggap nyeleneh.namun, pada akhirnya, si teacher bisa memaklumi hal ini.
kejadian kedua terjadi pada akhir tahun pelajaran. gue bakal diwisuda oleh TK gue. sebagai informasi tambahan, TK gue terletak pada satu kompleks pendidikan yang terdiri dari TK sampai SMA. di dalam kompleks ini juga terdapat gereja. nah, selain sebagai tempat peribadatan, gereja ini juga dipakai sebagai hall. dua hari menjelang wisuda, diadakan rehearsal (gladi resik). gue asoy geboy aja diajak keluar kelas, tapi begitu tau rehearsalnya di dalem gereja, gue langsung bilang,"no, maam. i'll just stay outside!"."but we have to do the rehearsal, rae...", si teacher berusaha membujuk gue. pokoknya akhir kata, gue sampe diseret-seret sama guru gue buat masuk k gereja. tapi gue tetep bersikukuh di luar. akhirnya guru gue ngalah, dan ketika waktunya pulang sekolah, si teacher laporan ke nyokap gue kalo gue nggak mau latihan buat wisudaan. di rumah, nyokap gue dan gue berdiskusi tentang masalah tadi. pada akhirnya gue diberi pengertian bahwa gue di gereja itu bukan untuk beribadah tapi untuk wisudaan, so it just okay. akhirnya gue mau wisudaan di dalem gereja.
konyol? nggak juga. anak kecil adalah contoh manusia yang relatif lebih jujur dibandingkan dengan manusia dewasa. apa yang gue rasain di dua kasus tersebut adalah bentuk ketidaknyamanan gue sebagai kaum minoritas. sementara kaum mayoritas kurang dapat berempati atas apa yang dirasakan oleh kaum minoritas. maka dari itu dibutuhkan dialog untuk menjembatani permasalahan yang ada diantara kedua kaum tersebut.
lihatlah kasus yang ada di sekitar gue sekarang. gue ngeliat rasa toleransi itu udah semakin menipis. seolah-olah yang terjadi sekarang ini adalah beberapa golongan ingin memaksakan keinginannya. yang pasti pelajaran yang gue dapet dari negeri seberang itu adalah, mungkin kita bakal ngerasa santai aja ngelakuin sesuatu, karena dalam budaya kita hal itu emang biasa. sementara bagi komunitas lain, hal itu sangat membuat mereka ngerasa nggak nyaman, nemun mereka nggak berani berbuat apa-apa karena mereka hanyalah minoritas. pada akhirnya kaum minoritas itu terpaksa ngikutin aturan kaum mayoritas sementara di dalam hatinya mereka menaruh kekecewaan yang sangat mungkin bermetamorfosis menjadi imagonya,yaitu dendam.
Label: agama, gaya hidup
Dirangkai oleh Rae pada 3:39:00 PM 0 tanggapan