Tampilkan postingan dengan label rae against the machine. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rae against the machine. Tampilkan semua postingan

Senin, Maret 11, 2024

Hal-hal yang tidak saya setujui tentang IKN Nusantara

Disusun sekenanya aja, bukan berdasarkan derajat kepentingan. 

1. Keputusan diambil sepihak, bahkan oleh 1 orang. Idealnya ide pemindahan ibu kota melalui referendum atau setidaknya lewat konsultasi dengan DPR.

2. Lokasi terlalu jauh dari Jakarta. Hal ini akan mengakibatkan biaya sosial yang tinggi.

3. Membangun kota dari nol. Akan lebih murah jika ibu kota baru dibuat dengan mengembangkan kota yang sudah ada.

4. Mungkin tidak perlu pindah ibu kota, cukup pindah pusat pemerintahan. Pindah ibu kota punya konsekuensi yang tidak hanya ditanggung pemerintah, tapi juga instansi atau organisasi lain. Misal: (1) kedutaan besar negara lain harus ada di ibu kota. Otomatis mereka harus pindah. (2) Mungkin banyak organisasi yang di AD/ART-nya memuat bahwa kedudukan organisasinya harus ada di ibu kota, misal: PSSI di statutanya menyebutkan bahwa PSSI harus ada di ibu kota (bukan Jakarta). Mereka juga harus pindah. 

5. Nama ibu kota "Nusantara" juga ditetapkan secara sepihak tanpa melalui konsultasi publik seperti poin nomor 1. Selama ini istilah "Nusantara" selalu digunakan sebagai sinonim dari "Indonesia" setelah sebelumnya direduksi dari konsep kenegaraan kerajaan Singosari. Menyebut ibu kota negara baru sebagai "Nusantara" adalah ahistoris, mengerdilkan, dan membingungkan. Sebagai usul, sebaiknya nama IKN tetap menggunakan nama wilayah setempat sebagai bentuk penghormatan kepada warga setempat.

6. Terlalu banyak proyek infrastruktur mercusuar. Cont: istana negara. Selain mahal, proyek seperti ini juga kurang fungsional. Penggambaran IKN selama ini lebih banyak dinarasikan sebagai suatu tempat yang "wah" dan menarik untuk dikunjungi. Lebih mirip membangun kota wisata ketimbang pusat pemerintahan. 

Jumat, Juni 09, 2017

Warisan, Tapi Bukan yang Itu

Kebetulan saja kita lahir di Indonesia, jadi bisa pasang avatar "Aku Indonesia, Aku Pancasila". Coba kalo kita lahirnya di Nikaragua, mungkin gak kita teriak-teriak bilang "Aku Nikaragua, Aku Pancasila"?

Kita gak bisa milih lahir di mana, dari rahim siapa. Ke-Indonesia-an kita ini warisan. Pancasilanya juga warisan. Apakah pancasila ini paling benar? Mungkin gak sih ada yang lebih adiluhung dari Pancasila?

Gak semua orang di dunia ini mewarisi pancasila. Orang-orang di Nikaragua itu contohnya. Terus, patutkah kita mengasihani mereka karena tidak kenal pancasila?

Orang Amerika ga kenal pancasila. Negara mereka menjadi adidaya tanpa pancasila. Mereka liberal. Bertentangan dengan pancasila. Tapi adidaya.

Cina itu komunis. Bertentangan dengan pancasila. Tapi maju.

Setau saya, tidak ada negara maju yang kenal pancasila. Patutkah kita mengasihani mereka karena mereka tidak pancasila? Atau justru mereka yang harusnya mengasihani kita karena Negara Indonesia begini-begini saja.

HTI mau dibubarin (sudah dibubarin?) karena bertentangan dengan pancasila. HTI mau menegakkan khilafah berdasarkan syariat Islam.

Kenapa dilarang? Pancasila lebih hebat dari syariat Islam? Mungkin. Belum ada buktinya.

Tapi kalau ada negara Islam yang pernah mahsyur menjadi pusat peradaban dunia dengan para cendikianya, itu sudah ada buktinya. Haruskah kita mengasihani mereka yang mau menegakkan khilafah? atau justru kita yang harusnya dikasihani?

Bangsa kita, ngeliat Tatan masuk 9gag aja udah menggelinjang setengah mati. Liat ada bule belajar jadi dalang bangganya sampe ke bulan pulang-pergi 3 rit. Kata Om Joko Anwar, bangsa kita terlalu inferior. Orang Amerika ngeliat orang Indonesia pake celana jeans biasa aja. Kita, liat bule pake batik langsung mabuk kepayang.

Kalo kata pak presiden, negara lain sudah bicara mobil fantasi masa depan, spaceX, kita masih sibuk dengan urusan cantrang. Terlalu remeh.

Oke, udah mulai melenceng. Kembali ke pancasila. Kenapa kita gak bisa menerima orang yang berideologi lain. Boleh saja fanatik dengan satu ideologi, tapi jangan berlebihan juga. Yang pancasilais ga perlu ngelarang-larang yang Islamis. Yang Islamis, juga mestinya gak perlu ngelarang-larang yang komunis.

Yang nasionalis dipersekusi. Yang agamis dikriminalisasi. Yang komunis digebuk. Terus siapa yang menang?

Kita bisa hidup rukun dengan orang yang beda agama, tapi kenapa kita gak bisa hidup rukun dengan orang yang beda ideologi?

Kalau beragama itu urusan personal, harusnya berideologi juga. Yang dibutuhin tinggal saling pengertian, kurangi rasa curiga. Sekali lagi kita perlu belajar untuk bisa menerima perbedaan.

Semoga Indonesia bisa segera damai.

*) Tulisan ini dibuat untuk lucu-lucuan menanggapi tulisan berjudul Warisan buatan Afi Nihaya Faradisa yang sempat jadi viral dan kontroversi. Kalau ada yang nanggepin secara serius tulisan ini, ya itu masalah dia sendiri. =)

Jumat, April 04, 2014

Penting, Tapi Gak Penting-Penting Amat

Musim kampanye kadang memang bikin jengkel. Ada sih elit partai semacam Fadli Zon atau Fahri Hamzah yang gayanya provokatif. Tapi sejujurnya, yang lebih sering bikin sebel itu justru di akar rumputnya. Debat gak karuan ngebela jagoannya sambil nyela lawan.

Histeria penonton memang kadang lebih seru daripada pelakonnya. Supporter sepakbola -yang cuma hiburan- aja bisa bunuh-bunuhan, apalagi supporter politik yang bawa agenda-agenda serius.

Kadang kalau diperhatiin, mereka justru lebih asyik dengan cela-celaannya ketimbang hal yang lebih fundamental, program kerja. Konyol.

Program kerja itu isu utama, yang lainnya cuma isu pinggiran. Tapi isu pinggiran ternyata lebih sering dibawa ke tengah pusaran. Pinjem istilahnya Fahri Hamzah, karnavalisasi. Sementara isu utamanya justru kelempar ke sudut yang gelap. Gak seksi untuk dibahas.

Gimana pemilih bisa jadi cerdas? Levelnya gak naik-naik. Jongkok terus cela-celaan. Gak bisa lompat mikirin program.

Personality mendapat porsi perhatian lebih besar. Yang katanya ingkar janji lah. Yang penjahat HAM lah. Yang pebisnis kotor lah. Selagi yang nyalon bukan malaikat, bakal tetep aja ketemu aibnya. Yakin deh.

Kampanye juga sebelas dua belas kandungan gizinya. Isinya cuma janji rakyat bakal sejahtera, korupsi diberantas, harga beras murah. Itu kan ujungnya. Tapi cara sampai ke sananya gak pernah dibahas. Masuk akal gak cara-cara yang ditawarin? Boro-boro ada yang nawarin, ada yang maparin juga mungkin bisa diitung jari.

Yang ada nantinya, orang milih lebih karena sentimen-sentimen pribadi. Bukan milih karena desain politik yang diusung jagoannya.

Beneran mubadzir yang kayak begini. Ekornya pasti sakit hati pas jagoannya kalah. Orang yang kayak begini mah ga lebih baik daripada penganut golput.

Yang lebih penting dari milih wakil rakyat dan pemimpin itu justru ada di diri kita sendiri. Penguatan kapasitas, bersinergi, itu lebih penting.

Coba, seberapa besar sih peran presiden ato wakil rakyat hasil coblos-coblosan itu buat perjuangan Butet Manurung membuka jendela cakrawala dunia bagi anak-anak suku Kubu? Mungkin nyaris tidak ada. Tapi perubahan tetap terjadi. Itu baru satu contoh.

Tanpa kehadiran sistem yang diproduksi demokrasi a la kotak suara pun kita ternyata tetap bisa melakukan perubahan. Tahun-tahun terakhir ini banyak yang menganggap Indonesia sebagai negara autopilot. Toh negara ini bertahan.

Nyoblos itu penting, tapi gak penting-penting banget.
Dapet pemimpin jelek itu derita, tapi bukan kiamat.

Sekalipun nanti hasil pemilu tidak sesuai keinginan, tetap ada harapan untuk terjadinya perubahan. Caranya ya itu tadi, dari diri sendiri.

Kamis, September 15, 2011

Fotokopi


Kenapa Indonesia gak maju-maju padahal banyak orang pinternya? Udah gitu, kenapa orang pinternya justru banyak yang kerja di luar negeri?
Mungkin gak, karena waktu kuliah banyak yang motokopi buku? Buku kan dilindungi hak cipta, gak boleh difotokopi tanpa ijin pemegang hak ciptanya.
Jadi aja ilmunya gak berkah. Gak memberi manfaat. Ilmunya dapet tapi gak bisa dipraktekin. Udah gitu, kena karma juga. Banyak orang pinter Indonesia yang malah kerja di luar negeri. Negaranya si pengarang-pengarang buku yang difotokopi itu. 

"Pohon kebaikan berbuah baik, begitu pun bibit kejahatan yang kau bawa" Sabda Alam // Cupumanik

Moral :
  • beli buku yang asli, jangan bajakan apalagi fotokopian.
  • rajin nyatet waktu di kelas atau perpustakaan.
  • motokopi slide dari dosen saja, jangan buku yang difotokopi. jangan lupa minta ijin ke dosennya dulu untuk digandakan slide-nya.

Selasa, Mei 17, 2011

Rumahnya di mana, Pak?

Mahasiswa : Pak, minta alamat bapak dong. Kali-kali pengen maen.

Wakil Rakyat : Oh.. boleh-boleh.. Jalan kesatuan nomor 8.

Mahasiswa : Yah.. jangan alamat rumah pribadi dong. Alamat rumah dinasnya di mana?

Wakil Rakyat : (eeee buset.. emang gue dapet rumah dinas ya?) emh.. mm.. alamat rumah dinas ya? Mmm.. di mana ya? (manggil staff ahli) Coba kamu kasih tau adek mahasiswa ini rumah dinas saya di mana.

Mahasiswa : Pak, jangan bercanda dong, pak. Rumah dinas bapak di mana?

Wakil Rakyat : Iya.. iya.. Nanti biar dikoordinasikan dengan staff ahli saya saja ya..
Rakyat : Pak rumah dinas bapak di mana jadi sebenernya?

Wakil Rakyat (2) : Rumah dinas kami di Gedung DPR/MPR Senanyan.

Rakyat : *gedubrak*

* * *

Mau rumah pribadi kek, rumah dinas kek, email pribadi kek, email resmi kek. Esensinya kan untuk menjalin komunikasi?

Buat apa ngirim aduan ke alamat email resmi anggota DPR, kalau inboxnya sendiri gak pernah dibuka? Mendingan ngirim ke email pribadinya yang jelas-jelas rutin dibuka sama dia.

Buat apa ngotot minta alamat email resmi anggota DPR itu? Cuma buat nge-bully/ ngeledek/ mlonco mereka? Mungkin ini ya mental hasil didikan ospek?

Senin, November 08, 2010

What makes blogger, blogger?

Terafiliasi dalam sebuah komunitas blogger tentu amat menyenangkan. Setidaknya untuk sebagian orang yang menganggapnya demikian. Asyiknya bercengkrama melalui konferensi-konferensi di ruang virtual atau bahkan lewat ajang kopi darat saat ini seakan menjadi kewajiban bagi blogger untuk dianggap eksis (eksis: ada, bermakna). Tapi kemudian muncul sebuah pertanyaan: apa yang menjadi esensi dari seorang blogger. Apakah dengan kopi darat dan tergabung dalam komunitas?
What makes blogger, blogger? Jika pertanyaan ini diajukan ke Saya, tentu Saya akan menjawab, posting. Ya, postingan atau tulisanlah yang membuat seorang blogger menjadi blogger secara kaffah. Blogger yang baik tentunya adalah yang rajin membuat tulisan-tulisan menarik di blog.
Tidak adil jika kemudian kita menilai kualitas blog dari keaktifan sang blogger di dunia nyata. Sama saja kita tidak bisa mengatakan bahwa kualitas suara Stevie Wonder adalah biasa-biasa saja hanya karena dia tidak bisa berkoreografi.
Tentu sebagai seorang manusia, blogger akan lebih baik jika tidak hanya jago berpropaganda di blog, tetapi juga aktif di kehidupan nyata. Namun menilai kualitas blog berbeda dengan menilai kualitas manusia. Ada hal yang tidak boleh dilupakan yaitu kenyataan yang "mengurung" blogger di ranah maya, bukan nyata. Lalu apakah bijak jika kemudiah keaktifan di dunia nyata dijadikan sebagai pertimbangan dalam menentukan kualitas blog seperti yang terjadi pada Blog Award Pesta Blogger+ 2010 yang lalu?


Senin, Maret 08, 2010

Bisakah Sholat Jumat di hari Sabtu?

Terkadang, suatu bahasan bisa menjadi tidak jelas dan bias jika dipaparkan melalui sekedar tulisan dan gambar. Beberapa orang menganggap karena kapasitas media tulisan dan gambar tidak cukup untuk menanggung beban bahasan tersebut - padahal ada ungkapan satu gambar dapat menjelaskan seribu kata. Untuk lebih memperjelas sebuah bahasan, maka terkadang dibutuhkan diskusi sehingga terjadi dialog dua arah dari pendonor ke orang yang hendak diberi penjelasan olehnya.

Tulisan saya kali ini pun mungkin akan bernasib demikian, tidak jelas dan bias. Akan tetapi, saya ingin menantang diri saya sendiri untuk bisa menjelaskan sebuah ide yang tidak umum dipahami manusia kebanyakan melalui media yang cenderung satu arah, blog.

Substansi dari tulisan ini sendiri bisa jadi dinilai penting, jika penyampaian saya tepat. Tetapi bisa juga hal ini hanya terlihat sebagai ide konyol yang sebaiknya diacuhkan saja. Mari kita mulai.

Seperti yang kita ketahui, penanggalan yang umum digunakan di dunia adalah penanggalan Gregorian yang mendasarkan perhitungannya pada pergerakan matahari. Dalam perkembangannya, sistem penanggalan ini telah beberapa kali mengalami revisi. Salah satu revisi yang terkenal adalah penambahan satu hari dalam salah satu tahun pada siklus empat tahun. Tahun yang kebagian jatah hari lebih banyak ini kemudian lebih dikenal dengan nama tahun kabisat.

Islam, sebagai agama langitan, tidak menggunakan penanggalan Gregorian, yang penuh revisi dan intervensi manusia, dalam menetapkan hari-hari rayanya. Penanggalan yang digunakan adalah penanggalan Hijriah yang mendasarkan perhitungannya pada pergerakan bulan. Berbeda dengan penanggalan Gregorian, penanggalan Hijriah sampai saat ini masih steril dari intervensi manusia. Salah satu konsekuensinya adalah kesulitan dalam membuat kalender satu tahun penuh di awal tahun. Maka tidak heran jika kemudian banyak umat Islam yang berselisih dalam menentukan hari raya Idul Fitri karena perbedaan hasil metode Hisab dan Ruqyat.

Saya tidak tertarik untuk membahas perselisihan tersebut karena sudah banyak yang memberikan pendapatnya. Namun jika anda tertarik, saya merekomendasikan satu artikel menarik mengenai penentuan hari Idul Fitri yang bisa dilihat di sini.

Permasalahan perbedaan waktu di dalam menentukan waktu-waktu ibadah di dalam Islam sebenarnya bisa menjadi kajian yang menarik. Kebetulan beberapa tahun yang lalu saya tiba-tiba memikirkan,"Daerah pertama di dunia yang memulai hari itu sebenarnya di mana sih?"

Akhirnya saya mendapatkan jawaban dari pertanyaan tersebut. Batas penanggalan dunia ada di garis bujur 180°. Garis batas ini adalah garis maya yang di beberapa bagian meliuk-liuk untuk disesuaikan dengan garis batas negara yang bersangkutan. Beberapa revisi untuk garis ini terjadi pada perbatasan Rusia - Amerika Serikat di Selat Bering dan di perbatasan Kiribati - Amerika Serikat. Garis batas penanggalan yang jelas dapat anda lihat dengan mengklik gambar di bawah ini.

Garis Batas Penanggalan Hari. Klik untuk memperbesar Gambar.
(Sumber: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/6/61/International_Date_Line.png)

Garis maya hasil kesepakatan orang-orang inilah yang kemudian menjadi batas hari. Seberapa signifikan garis tersebut? Ferdinand Magellan pernah dibuat bingung ketika mengelilingi bumi ke arah barat karena ketika dia sampai di titik awal keberangkatannya, ternyata dia telat satu hari dibandingkan jurnal pelayaran yang dia buat. Fenomena unik ini juga diracik secara menarik oleh Jules Verne melalui novel cerdasnya, Around The World in 80 Days.

Jika anda masih bingung dengan fenomena apa yang saya maksud, maka ijinkanlah saya untuk memberi contoh yang saya ambil dari artikel Wikipedia Indonesia berikut ini:
Tonga dan Samoa adalah dua negara yang berdekatan. Jarak tempuh dua negara ini dengan menggunakan pesawat hanyalah dua jam. Akan tetapi Tonga berada di sebelah barat garis batas penanggalan sedangkan Samoa berada di sebelah timurnya. Artinya, ketika di Tonga adalah hari Selasa, maka di Samoa adalah hari Senin. Jika seseorang naik penerbangan dari Tonga pada hari selasa pukul 12.00 siang hari, maka ia akan sampai di Samoa pada pukul 14.00. Tetapi ia tiba di Samoa bukan pada hari Selasa, melainkan hari Senin, atau Ia berjalan mundur satu hari.
Bayangkan apa yang terjadi bila saya, yang seorang muslim, berangkat dari Tonga selepas mengerjakan sholat Jumat menuju Samoa. Maka saya akan tiba di Samoa pada hari Kamis dan artinya dalam waktu kurang dari 24 jam berikutnya, saya memiliki kewajiban untuk menunaikan Sholat Jumat kembali. Saya mengerjakan sholat Jumat di saat, beberapa mil di sebelah barat saya sudah bukan hari Jumat lagi, melainkan Sabtu.

Kemudian yang mengusik pertanyaan saya adalah, apakah boleh umat Islam menggunakan batas penanggalan yang sama dengan kebanyakan orang di muka bumi ini, yaitu mendasarkan penggantian hari pada sebuah garis maya yang ditetapkan melalui konvensi? Jika tidak, lantas di manakah garis batas penanggalan menurut versi Islam?

Wallahu'alam bish-showab

Rabu, Januari 13, 2010

ideologi

dengan alasan menutupi defisit anggaran, pemerintah kota pekanbaru akhirnya memberlakukan pajak daerah sebesar sepuluh persen untuk nasi bungkus. ironis, ketika salah satu propinsi terkaya di indonesia justru lebih memilih untuk meminta kepada rakyat kecilnya, bukan dari mereka yang mapan yang bekerja di perusahaan-perusahaan multinasional di sana.

mungkin keadaan seperti ini juga yang kemudian membulatkan tekad H. Misbach untuk kemudian bergabung dalam gerakan awal PKI. marah dengan kraton yang tidak henti-hentinya menghisap darah rakyat dan kecewa dengan melempemnya perjuangan HOS Cokroaminoto dengan Muhammadiyahnya serta Serikat Islam yang justru sibuk memperkaya diri sendiri.

tidak banyak yang mengenal siapa H. Misbach saat ini. wajar saja, "fatwa haram" komunis oleh pemerintah orde baru memang membuat tenggelam banyak nama pejuang komunis di Indonesia. padahal kalau mau kita gali, kontribusi orang-orang komunis terhadap kemerdekaan Indonesia tidak bisa dibilang kecil. mulai dari aktivis-aktivis yang "menculik" Soekarno ke Rengasdengklok untuk memaksanya menyatakan kemerdekaan Indonesia sampai Ki Hajar Dewantara adalah orang-orang komunis.

tulisan ini tidak ditujukan untuk membela atau memutihkan nama PKI. mungkin memang CIA memainkan peran belakang panggung yang luar biasa hebatnya pada medio 1965 yang lalu. tidak bisa disangkal bahwa memang ada keterlibatan beberapa petinggi PKI dalam gerakan tersebut seperti yang dipaparkan oleh John Roosa. namun apa tujuan semua itu? semua masih kabur.

ide yang ditawarkan pada tulisan ini lebih membahas mengenai komunisme sebagai sebuah ideologi. dilarangnya ideologi ini di Indonesia lebih disebabkan karena pemberontakan Madiun dan G30/S-PKI. sebenarnya tidak adil memutus haram suatu ideologi hanya karena satu dua tindakan. bayangkan saja bagaimana tidak logisnya apabila Islam dilarang hanya karena adanya gerakan NII-DI/TII yang ingin makar atau karena FPI main hakim sendiri mengacak-acak tempat yang mereka sebut maksiat.

dalam perkembangannya komunisme pun memiliki banyak mazhab, ada leninisme, maoisme, anarcho-communist, dan lain-lain. kalau memang ada hal-hal yang bertentangan dengan ideologi pancasila, bukan tidak mungkin mengadopsi komunisme dengan citarasa yang lebih Indonesia.

kebencian masyarakat terhadap komunis sebenarnya lebih disebabkan sentimen tanpa alasan. alasan atheisme dengan mudah dapat dipatahkan. jika memang komunisme tidak mempercayai tuhan, lantas bagaimana mungkin komunis jutru masuk ke Indonesia pertama kali melalui organisasi Serikat Islam?

sebagai sebuah ideologi yang berlandaskan materialisme, komunisme memang cenderung mengabaikan eksistensi tuhan. tapi hal ini tidak membuat mereka bisa dicap sebagai atheis. lawan utama komunisme, kapitalisme, pun melandaskan prinsip-prinsip materialisme dan cenderung mengabaikan eksistensi tuhan. tapi mengapa ideologi ini dapat lebih diterima di Indonesia? kedua ideologi ini bukanlah sebuah paket dengan harga pas yang tidak dapat ditawar. lihat saja bagaimana H. Misbach yang berjuang bersama komunis dengan tetap meletakkan Al-Quran sebagai landasannya.

obrolan ideologi memang bukan makanan ringan yang bisa disantap santai di warung-warung kopi. banyak orang yang mengaku pancasilais tetapi mengancam akan membunuh siapapun yang ingin membangkitkan kembali komunisme. di mana letak kemanusiaan yang adil dan beradab-nya? maka mahfumlah apabila sedikit yang paham benar dengan apa itu komunisme. pancasila pun saat ini hanya sekedar lima sila tanpa makna yang menggema tanpa jiwa di upacara hari senin.

tidak banyak yang tahu bahwa tataran ideal komunis adalah sebuah masyarakat yang adil, sejahtera, dan bahagia, pun menyenangkan. tidak banyak yang paham bahwa komunis yang menganut paham internasionalisme (lawan dari nasionalisme) adalah penentang keras setiap bentuk penjajahan di muka bumi ini.

saya sendiri tidak dalam posisi mendukung berkembangnya komunisme di Indonesia. tapi saya juga tidak akan melarang-larang. kalau Islam pun bisa semoderat PKS, maka komunisme maupun ideologi-ideologi lainnya pun bisa menjadi moderat.

buat saya, semua ideologi adalah utopia, sesempurna apapun ideologi tersebut. karena dalam praktiknya, ideologi tersebut tetap harus dijalankan oleh manusia, yang memiliki berjuta kealpaan.

Senin, Maret 16, 2009

Ini Soal Selera, Bukan Kualitas

perjalanan musik di setiap generasi pasti punya perjuangannya masing-masing. masih inget gimana koes ploes berusaha melawan Bung Karno yang benci musik rock (Bung Karno menyebutnya musik ngak ngik ngok) karena menilai rock adalah produk barat yang tidak sesuai dengan falsafah budaya indonesia. masih ingat bagaimana koes ploes akhirnya memberikan sederet antitesis melalui lagu Nusantara, Nusantara 2, Nusantara 3, dan seterusnya. mereka berusaha menunjukkan bahwa aliran musik tidak memiliki korelasi apapun dengan nasionalisme.

inget juga gimana musik metal mati-matian berjuang melawan persepsi umum untuk dapat diterima sebagai aliran musik bukan murahan di akhir 80-an. sampai akhirnya metallica membuat "proposal perdamaian" antara "selera pasar" dan "idealisme metal" sehingga musik metal dapat diterima oleh banyak orang.

setiap masa punya perjuangannya masing-masing, hip-hop, grunge, punk, bahkan musik melayupun punya ceritanya masing-masing. dulu banyak orang yang mempertentangkan antara musik major label dengan musik indie label. tapi kemudian perbedaan nilai antara keduanya sudah semakin bias, hingga kemudian orang-orang indie (entah karena pembenaran mereka yang mulai memakai cara-cara major label dalam berdagang) lebih sepakat membedakannya menjadi musik bagus dan musik tidak bagus.

bicara tentang musik, rasanya tidak adil jika menggunakan batasan-batasan objektif sebagai bahan penilaian. musik adalah soal selera, sesuatu yang subjektif, dan tidak bisa disamaratakan antar orang. jika kita ingin memberi cap sebuah musik itu Bagus maka pasti akan mendapatkan resistensinya dari sebagian orang, begitu pula ketika kita menilai sebuah musik itu jelek, pasti akan menimbulkan resistensi dari orang yang lain.

rasanya lebih tepat jika membedakan musik antara Disukai dan Tidak Disukai. tentunya penilaian ini akan menjadi berbeda dari tiap orang. tidak perlu lagi ada cela-celaan terhadap salah satu genre musik tertentu. gak perlu ngehina rock sebagai musik ngak ngik ngok, gak perlu juga david naif ngejelek-jelekin kangen band mulu. musik adalah soal selera, maka dari itu jujurlah kepada diri sendiri tentang selera kita. kalo emang hobinya musik melayu, silahkan garap itu. kalo sukanya musik metal silahkan dengerin lagu itu. perbedaan genre bukan menunjukkan kelas, karena genre tidak dibatasi dengan garis horisontal yang memisahkan atas dan bawah. yang dibutuhkan adalah saling menghormati dan memberi kesempatan bagi semua jenis musik untuk dapat berkembang.

Kamis, November 27, 2008

balada loreng di bumi pertiwi

jalanan bandung emang terkenal nyebelin. banyak yang satu arah yang artinya ngebuat orang harus muter-muter untuk bisa nyampe ke satu tujuan. dalam satu kesempatan, gue sempet jadi korban kebiadaban jalanan bandung. gue terpaksa muter-muter nyasar tak tentu arah. pas lagi nyasar itu, gue sempet ngeliat ada gedung punya angkatan laut. sambil ngebawa motor muter-muter gak karuan gue sempet mikir, "ngapain ada gedung angkatan laut di Bandung? padahal Bandung sendiri gak punya laut!" agak susah juga buat gue ngedapetin logikanya, sampe akhirnya gue punya kesimpulan! oh iya!!! bandung kan ibukota propinsi! berhubung penyebaran militer di indonesia ngikutin hirarki pemerintahan sipil (pusat, daerah tingkat I, daerah tingkat II, dst), maka berdirilah gedung milik angkatan laut itu di tengah-tengah bandung yang kering akan laut.

kalo nyimak tuntutan aktivis-aktivis (terutama yang angkatan 98), mereka minta penghapusan dwi fungsi abri, yang intinya adalah menebalkan garis batas antara SIPIL dengan MILITER. salah satu tuntutan mereka yang sampai saat ini masih belum terpenuhi adalah sentralisasi kekuatan militer di pusat-pusat militer. artinya, bisa jadi militer gak perlu ada di tiap kabupaten atau kotamadya. gak perlu ada kodam, korem, sampe babinsa. gue sih setuju-setuju aja dengan ide ini. kalo gak, kejadiannya ya kayak yang tadi itu, bisa ada gedung angkatan laut di tengah kota yang nggak punya laut. bener-bener mubazir. seharusnya yang namanya militer adanya di pangkalan militer aja. bikin beberapa kota yang emang bener-bener jadi basis militer, gak perlu ada di tiap kota. kalo dalihnya untuk pengamanan ya serahin aja ke polisi (dan sipilkan polisi!)

pembauran militer dengan sipil pada beberapa kasus bener-bener ngeganggu. itung aja berapa banyak orang militer yang jadi beking diskotik ato beking perusahaan ekspedisi. militer yang ada di tengah sipil berpotensi menimbulkan praktek premanisme. gue sendiri beberapa kali (padahal mah sering banget) ngeliat orang-orang militer naek angkutan umum tapi gak bayar. kan kasian sopir sama keneknya. kalo cuma angkot mungkin masih okelah. si sopir cuma rugi paling mahal tiga rebu perak. lha kalo yang dinaekin bus antar kota? rugi berapa! aksi-aksi seenak jidatnya ini emang nggak dilakuin sama semua orang militer, tapi diakuin ato enggak, banyak banget kejadian kayak gini. gak cuma naek angkot gratisan, gue juga pernah ngeliat orang dengan modal kaos loreng, rambut cepak, dan berbadan tegap bisa lenggang kangkung masuk ke stadion untuk nonton pertandingan sepakbola tanpa keluar duit sepeser pun.




sampai kapankah stiker seperti di Bus Maya Raya jurusan Bogor-Bandung ini harus tetep terpasang? terus terang gue sih nggak terlalu ngarepin biar semua orang militer jadi sadar dan mau bayar dengan uang penuh, tapi rasanya bakal lebih banyak manfaatnya kalo militer emang dipusatin di pangkalan militer aja.

Senin, Juni 30, 2008

memanusiakan kembali manusia Indonesia

beberapa kasus kekerasan akhir-akhir ini lagi jadi pembicaraan di media. Genk Nero, bentrokan mahasiswa, sebut aja! terus terang gue bingung, apa dasar doktrin yang selalu dicekokin ke anak SD yang bilang kalo yang namanya orang indonesia itu ramah-ramah, berbudi pekerti yang luhur, dan seterusnya dan seterusnya. apakah kita udah mulai kehilangan sifat asli kita? atau sifat asli kita yang katanya bagus-bagus itu sebenernya gak pernah ada?

gue rasa opsi kedua adalah opsi yang terlalu pesimis. gue yakin bangsa kita adalah bangsa yang santun, dan bla bla bla... tapi masalahnya, fakta telah berbicara sebaliknya. artinya mungkin telah ada kesalahan pemahaman dalam menyikapi hidup ini sehingga kekerasan menjadi pilihan yang semakin diprioritaskan.

orang-orang yang lebih senior sering bilang ke gue kalo yang namanya hidup itu keras. saling jegal, saling sikut, makan temen itu adalah hal biasa. dan kehidupan gue sekarang ini (yang sangat identik dengan kehidupan mahasiswa) sama sekali belum ada apa-apanya dibandingan kehidupan di dunia nyata. maka dari itu, kemudian ada orang-orang yang sudah merasakan pahitnya kehidupan dunia nyata merasa perlu untuk "mengedukasi" adik-adiknya yang masih mahasiswa guna mempersiapkan mereka menghadapi dunia nyata. pikiran-pikiran inilah yang melahirkan penggemblengan ala ospek yang sarat dengan plonco-ploncoan.

apakah dunia emang keras? gue rasa jawabannya relatif. dunia akan jadi keras ketika orang-orang yang tinggal di dalemnya merasa harus menjadi keras. hidup juga bisa jadi lembek kalo orang-orang yang tinggal di dalemnya ngerasa hidup dengan santai-santai aja gak apa-apa. orang-orang yang merasa perlu mempersiapkan penerusnya untuk dicemplungkan ke dunia yang keras adalah orang-orang yang memandang bahwa kehidupan adalah sebuah kondisi yang terberikan. padahal setiap individu manusia punya kemampuan untuk merubah kehidupan.

kehidupan manusia saat ini mungkin memang keras, bahkan mungkin terlampau keras. seandainya ada lebih banyak lagi orang yang mau berfikir bahwa kehidupan akan lebih baik kalau kita perlunak, rasanya tidak perlu ada korban yang jatuh di IPDN, STPDN, maupun STIP.

Jumat, Mei 09, 2008

TOLAK BANTUAN LANGSUNG TUNAI!!!

ya ya ya... gue ngedukung pemerintah untuk naekin harga bengsin ma solar. tapi yang nyebelin itu program alih subsidinya yang berupa bagi-bagi duit seratus ribu ke orang-orang miskin.

program ini jelas-jelas udah pernah dijalanin sebelumnya dan gue rasa nggak tepat sasaran. ibaratnya, ini bukan obat yang bisa nyembuhin orang miskin dari kemiskinan. cuma sekedar perpanjangan nafas buatan buat orang yang nyaris-nyaris sakaratul maut. orang-orang yang dapet program ini gue rasa sama sekali gak dapet kesejahteraan.

lebih dari itu, kategori orang yang miskin dan tidak miskin atau orang yang berhak dan tidak berhak amat mudah dibiaskan. program seperti ini sangat rawan terhadap penyelewengan, dan penyelewengan itu terbukti telah terjadi sebelumnya.

konflik horisontal juga menjadi ancaman yang masuk akal untuk terjadi. berdasarkan pengalaman, terbukti bahwa ada orang-orang yang berhak mendapatkan bantuan langsung tunai tapi ternyata tidak bisa mendapatkannya. tentunya yang kayak begini bakalan jadi bibit-bibit kerusuhan.

dari pemantauan yang dilakukan oleh beberapa LSM, bantuan langsung tunai juga mendidik orang indonesia menjadi males. setelah mendapat bantuan uang, ada orang-orang yang males kerja sampe duit itu habis. baru setelah itu mereka kerja lagi demi nyambung denyut jantung.

entah kenapa, gue ngerasa beberapa kebijakan yang diambil pemerintah justru mendorong orang-orang menjadi konsumtif, bukannya produktif.

kalo harga beras mulai naek, pemerintah langsung kebakaran jenggot untuk operasi pasar, tapi pas harga gabah rendah, kayaknya pemerintah susah banget untuk naekin harga beli gabah. padahal dengan tingginya harga gabah, bakal ngebuat petani lebih termotivasi buat ningkatin produksinya. sedangkan harga beras yang rendah cuma buat dinikmatin sesaat. hanya memancing kita menjadi lebih konsumtif.

kenapa juga kompensasi kenaikan BBM disalurkan dalam bentuk dana tunai kepada orang miskin? bukannya dengan program-program yang membangun manusia-manusia miskin dan bersifat lebih sustain seperti pembukaan lapangan kerja. bukan sekedar untuk dihabiskan saat itu juga.

dorongan untuk menjadi konsumtif juga terlihat dari subsidi bahan bakar minyak. kenapa subsidi diberikan untuk bengsing premium dan solar? kalo dipikir-pikir, mendingan yang disubsidi itu adalah Industrial Diesel Oil ato solar yang biasa dipake buat industri. dengan subsidi kepada industri, maka gairah untuk berproduksi bakalan lebih ningkat, yang imbasnya jelas akan positif kepada perekonian negara. bengsin premium dan solar yang selama ini disubsidi sebenernya juga banyak dipake untuk kepentingan yang produktif kayak untuk angkot, tapi banyak juga yang dipake untuk kepentingan yang sifatnya pemborosan seperti jalan-jalan.

udah saatnya harga BBM di indonesia diserahkan kepada mekanisme pasar (dengan berbagai resikonya). dengan terbiasanya kita menggunakan BBM dengan harga internasional, maka ketahanan ekonomi kita akan lebih kuat. tingginya harga BBM di dalam negeri juga dapat mengurangi angka kendaraan pribadi yang semakin hari semakin tidak wajar. tentunya dengan tingginya harga BBM, orang akan semakin banyak yang lebih memilih menggunakan kendaraan umum. tentunya hal ini juga akan berakibat pada bergairahnya industri transportasi di indonesia.

Selasa, April 15, 2008

Bogor Berhemat

pemerintah dapat menangkap permasalahan utama yang ada di masyarakat indonesia terkait dengan semakin tingginya harga minyak dunia. permasalahan kita adalah KITA TERLALU BOROS.

sebuah solusi kemudian digulirkan oleh pemerintah, yaitu penjatahan penggunaan bahan bakar minyak oleh kendaraan pribadi. pro dan kontra adalah suatu hal yang biasa ketika sebuah wacana digulirkan. pers pun meminta pendapat masyarakat umum pengguna kendaraan pribadi. umumnya masyarakat merasa keberatan dengan solusi macam ini, karena mereka hanya dijatah sebanyak lima liter/hari yang tidak sebanding dengan kebutuhan mereka.

sebenarnya solusi seperti ini memiliki sisi positif, yaitu dapat membuat masyarakat umum lebih tertarik menggunakan kendaraan umum ketimbang kendaraan pribadi. tetapi keluhan kemudian muncul lagi. kendaraan umum yang ada saat ini tidaklah memadai dan tidak cukup nyaman.

alasan terakhir muncul ke permukaan karena yang dimintai pendapat kebanyakan hanyalah orang-orang di jakarta yang notabene akses mereka untuk disuarakan pendapatnya amat besar.

model solusi pemerintah ini sebenernya sangat mungkin diterapkan di BOGOR. kemacetan kota BOGOR yang sedianya menyalahkan angkutan umum justru dapat dijadikan solusi. penjatahan bahan bakar minyak pada kendaraan pribadi dapat membuat sebagian orang BOGOR mulai berpikir untuk menggunakan angkutan umum tanpa ada alasan mengeluhkan ketidaknyamanan dan keterbatasan angkutan umum yang ada.

secara kasar, jika model ini dapat berhasil, maka BOGOR dapat mengambil beberapa keuntungan:
1. penggunaan bahan bakar minyak (bensin dan solar) menjadi lebih hemat.
2. kendaraan yang berseliweran di jalanan berkurang (terutama kendaraan pribadi), sehingga mengurangi beban jalan.
3. semakin sedikit kendaraan di jalan, maka semakin sedikit polusi yang bertebaran di udara BOGOR.
4. dapat meningkatkan pendapatan sopir-sopir angkot yang ada di BOGOR.

gak perlu selalu resist dengan solusi yang dateng dari mulut pemerintah kan?

Kamis, Januari 24, 2008

14.42 (bingung mau ngasih judul apa)

tau gak lo kenapa socrates disepakati sebagai bapak pengetahuan kita? apa buah-buah pemikirannya telah memberi faedah yang begitu besar? apa doi pernah menjungkirbalikan sebuah postulat dengan pembuktian yang demikian ciamik? jawaban itu gue temuin pas gue belajar biologi di kelas 2 SLTP sekitar satu dekade yang lalu. guru biologi gue ketika itu, pak haryono, mengatakan bahwa socrates dianggap sebagai bapak pengetahuan bukan karena karya-karyanya. JUSTRU karya-karya beliau saat ini telah terbukti 100% salah. buah pemikirannya sama sekali gak ada yang bener. salah satu karya (KESALAHAN) besar dia adalah teori abiogenesis. yang bilang bahwa makhluk hidup datengnya dari benda mati. dia nyontohin tikus yang tau-tau nongol dari tumpukan jerami, ato belatung yang tau-tau muncul dari daging busuk. saat ini, teori-teori socrates sudah usang dan tidak relevan lagi dipakai. tapi nama dia tetap indah berkibar bak pelangi di kala hujan telah reda. kenapa demikian? orang-orang mengenang socrates bukan karena karyanya tapi karena keberanian dia untuk mempertanyakan segala sesuatu yang ada. bisa dibilang dia adalah orang pertama yang berani menjadi seseorang yang anti-kemapanan. dan harganya juga mahal.. dia harus dihukum mati karena tidak rela pemikiran-pemikiran dia dikekang. ngomongin soal anti-kemapanan nyangkut-nyangkutnya sih ke idealisme seseorang. anti-kemapanan sendiri bukan berarti hidup ngegembel dan gak mau menerima segala kenyamanan yang ditawarkan dunia. contoh laen orang yang anti kemapanan adalah suaminya maudy koenaedy itu. DOOOH!!!! KOQ GUE LUPA NAMANYA YA!!!!! ketika dia sudah berhasil membawa telkomsel ke puncak kejayaannya, dia justru resign dari jabatan pimpinan telkomsel dan pindah ke kompetitor telkomsel yaitu exelindo yang ketika itu market sharenya sangat kecil dan cenderung semakin kecil. orang yang anti kemapanan akan menjadi resah ketika segala kebutuhan dia tercukupi. SINTING kan? gak banyak orang yang punya idealisme seperti itu, dan dari sedikit orang yang punya idealisme seperti itu lebih sedikit lagi yang bisa komit untuk terus seperti itu. tapi apapun yang terjadi ingatlah pesan henry ford (seorang keras kepala yang laen lagi...). ford pernah bilang, "ketika segala sesuatu sedang berusaha melawanmu, ingatlah pesawat terbang. pesawat terbang melaju melawan angin, bukannya tertiup angin."

Selasa, Oktober 23, 2007

indie dan kebebasan berfikir

satu badge selalu menggantung di bagian belakang tas saya. tulisannya "straight edge drugs free youth xxx". satu-satunya yang tersisa dari diri saya atas pengembaraan yang telah lama saya tinggalkan. pengembaraan bersama komunitas underground yang sangat-sangat independent. komunitas indie diikat oleh budaya musik yang kuat. kalau di era 80-90an sangat kental nuansa undergroundnya, sekarang komunitas indie sudah lebih terbuka dengan masuknya berbagai jenis musik mulai dari trash sampai musik new wave.

sebagai orang lama yang baru selesai dorman dari hiruk pikuk dunia indie, terus terang saya cukup kaget dengan perkembangan scene indie dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. rupanya saya sudah tertinggal jauh. saya tidak lagi bisa memahami jalan berfikir anak-anak indie. bahkan saya melihat orang-orangnya pun sudah berubah.

jika 10 tahun yang lalu anak-anak indie hanyalah orang-orang yang dianggap sebagai sampah masyarakat (dan orang-orang yang menyampahkan diri mereka sendiri), sekarang semua itu sudah berubah. kesederhanaan yang dulu menjadi identitas komunitas indie telah lenyap tak berbekas. tidak ada lagi anak-anak grunge yang cuek mencari-cari sisa makanan orang yang tak habis di meja-meja restoran fast food (seperti yang dulu biasa dilakukan teman-teman saya). anak indie hari ini dibekali mobil yang nyaman, bahkan terkadang lengkap dengan sopirnya.

tidak ada lagi kaos-kaos murahan dengan tulisan yang isinya kritikan. sekarang distro lebih mirip butik ketimbang media propaganda. kalo dulu saya beli badge straight edge dengan harga sampah, sekarang harga barang-barang di distro semakin tidak masuk akal.

dulu fanzine amat ala kadarnya. majalah yang dibuat dengan serampangan, dengan tulisan yang berisi berbagai hal mulai dari referensi band, review gigs, sampai kritikan-kritikan yang sifatnya destruktif, sekarang sudah berubah. fanzine kini telah menjelma dalam halaman maya, bukan lagi lembaran fotokopian lusuh. memang tidak salah, tapi kenapa sekarang isinya berubah? tidak ada lagi tulisan yang mempertanyakan ketidakadilan. sekarang isinya lebih banyak tentang hal-hal yang berifat keduniawian. bahkan saya tidak habis pikir, kenapa harus mereview kehidupan seorang cewek cantik (secara rutin pula!)? fanzine sudah tidak beda dengan majalah-majalah remaja seperti "Hai" yang telah terjebak dalam selera pasar dan tidak lagi jujur dengan hati.

indie yang berasal dari akar kata independent pada awalnya adalah media untuk menyalurkan apa-apa yang disukai oleh orang-orang yang selama ini termarjinalkan. tempat di mana orang-orang kecil bisa didengar dan eksis. sungguh saya tidak dapat membohongi hati saya. siapa orang-orang yang ada di dalam komunitas ini saat ini? mengapa saya merasa dikhianati oleh komunitas yang pernah memberikan banyak pelajaran bagi saya, ataukah saya yang terlampau kolot? kurang terbuka dengan perubahan yang ada saat ini.

semua sah-sah saja. saya tidak berharap komunitas indie kembali seperti dulu lagi. ketika punk masih berjaya, bukannya pop retro. ketika mohawk masih dibuat dengan lem kayu, bukannya hasil tangan-tangan banci salon. saya juga tidak lantas membenci mereka yang ada saat ini. semua itu soal pilihan. dan bagi saya, komunitas kebanyakaan saat ini lebih banyak perbedaannya dengan saya ketimbang persamaan visi yang kita miliki. saat ini saya masih mencari media pembebasan diri saya. karena komunitas indie tidak lagi banyak memiliki saluran untuk hal itu. saat ini media blog lebih menjadi pilihan yang rasional di mana pemikiran terburuk pun dapat disampaikan dengan gamblang.

didedikasikan untuk ditha desfiana yang sudah mengajak saya bernostalgia sekaligus melongok jauh ke depan dalam luapan waktu.

memaknai kembali pendidikan

salah satu sepupu gue gak pernah mau ikutan pemilu. alesan dia,"aku baru mau ikutan nyoblos kalo anggaran pendidikan nasional kita udah 20%."

ngomongin masalah pendidikan di indonesia emang gak bakal ada abis-abisnya. selalu ada masalah. dan biasanya masalah itu berkisar di soal duit. sekolah rubuh, gara-gara gak ada dana. guru-guru demo, gara-gara gak digaji, anak-anak gak ngelanjutin sekolah, gara-gara biayanya tinggi. belum lagi tangan-tangan korup yang suka ngemplangin duit amanat.

temen-temen di BEM sering bilang kalo pendidikan adalah jalan keluar dari kemiskinan. sampai kalimat ini gue masih setuju dengan mereka.

sayangnya, (sebenernya gue sendiri agak miris make kata "sayangnya" karena membuat seolah-olah semua yang terjadi saat ini tidaklah salah) saat ini kita sama sekali nggak bisa ngandelin pemerintah untuk memajukan pendidikan nasional. pendidikan adalah jalan keluar dari kemiskinan. sekali lagi kalimat ini gue ulang. anggaran dana pendidikan 20% gue rasa gak bakal bisa dipenuhin dalam waktu deket. terlalu banyak masalah laen yang harus ditanganin terlebih dahulu. kebutuhan bangsa ini ibarat sebuah meja yang amat luas. sementara kemampuan pendanaan negara hanya berupa taplak kecil. selalu saja ada bagian yang gak ketutup.

temen-temen BEM selalu berteriak menentang liberalisasi pendidikan. mereka selalu mengecam perguruan tinggi yang dari hari ke hari makin memikirkan uang. sebenernya tidak ada yang salah jika perguruan tinggi mencari uang. karena untuk menjalankan perguruan tinggi yang berkualitas memang enggak murah. bahkan di sisi itu kita juga miris dengan gaji dosen serta guru.

pelbagai argumen juga udah diungkapin..soal penggajian harusnya lebih tepat kalo dilakuin reformasi administrasi ketimbang mencari sumber dana baru dari kantong mahasiswa. tapi gimanapun juga, harus gue ingetin sekali lagi, kemampuan pendanaan pemerintah hanyalah sebuah taplak kecil.

disclaimer:
seluruh bangsa kita sudah salah memaknai pendidikan. pendidikan memang jalan keluar dari kemiskinan. karena dengan ilmu kita bisa memecahkan berbagai masalah yang ada. dengan semakin sedikitnya masalah, maka akan semakin makmur hidup kita. kesalahan yang telah kita lakukan adalah dengan mengasosiasikan pendidikan dengan sekolah dan hanya sekolah.

pendidikan tidak hanya bisa didapatkan melalui sekolah. banyak jalan untuk meraih ilmu. bahkan bill gates, orang terkaya di dunia, bukanlah seorang sarjana. begitu pula dengan einstein yang dianggap sebagai orang paling jenius di abad 20.

pendidikan bisa didapat di manapun. masalah utama bangsa kita bukanlah ketiadaan akses terhadap akses-akses pendidikan, tetapi lebih kepada kemalasan bangsa kita untuk memanfaatkan sumber daya pendidikan yang telah ada dengan searif mungkin. bob sadino adalah contoh orang yang telah berhasil memanfaatkan sumber daya pendidikan di sekitar dia secara maksimal, tanpa perlu mementingkan institusi pendidikan formal seperti sekolah dan perguruan tinggi.

alam bisa menjadi guru yang paling tau. buku bisa menjadi moderator yang paling sabar. akses terhadap semua itu sudah ada. indonesia diberi alam yang kaya. perpustakaan juga tidak sedikit.

gue inget waktu SMA, gue sering cabut kelas, bukan ke kantin, ato nongkrong bareng temen, tapi buat ke perpustakaan. baca apapun yang menurut gue saat itu menarik. dan seinget gue, perpustakaan sekolah gue itu gak pernah penuh dengan siswa. beda dengan perpustakaan kampus gue sekarang, ramenya minta ampun sampe pada duduk di lantai.

kesimpulannya, kita udah terperangkap dalam cara berfikir yang sama sekali nggak kreatif. terlalu mendewa-dewakan pendidikan formal. udah saatnya kita ngerubah aturan maen. jadi sarjana itu gak lagi suatu tujuan, tapi menjadi berilmu dan bijaksanalah yang menjadi tujuan.

quote:
pendidikan adalah jalan keluar dari kemiskinan. karena dengan ilmu kita bisa memecahkan berbagai masalah dan keluar sebagai orang yang lebih sejahtera.

pendidikan bukanlah semata-mata sekolah dan perguruan tinggi (pendidikan formal). masih banyak akses-akses lain untuk mendapatkan pendidikan.

Jumat, Agustus 03, 2007

prihatin wc kampus

berita bagus dan berita buruk. gue benci kalo dua berita ini dateng berbarengan, karena bakalan saling menegasikan. wc-wc di fakultas kampus gue lagi pada dibenerin. hore!!! akhirnya bisa nikmatin wc yang lebih nyaman. pengerjaan dilakukan oleh beberapa orang tukang. gue sering merhatiin tukang-tukang yang kerja sembari memupuk impian untuk bisa menikmati wc yang nyaman. (wc koq dinikmatin sih?)

itu tadi berita bagusnya. berita buruknya, bikin gondok! beberapa wc itu kemudian diberi label: KHUSUS STAFF. oh, please... gue ngerasa dijajah banget sama birokrat kampus. emangnya kalo kita bikin rasio antara mahasiswa dengan dosen + staff itu perbandingannya berapa sih? pasti jelas jauh lebih banyak mahasiswa, lah... tapi koq urusan wc, justru didominasi sama staff? jelas banget ini gak adil. kan buang aer termasuk menyangkut hajat hidup orang banyak, dan harusnya sesuai dengan pasal 33 pada UUD, yang menyangkut hajat hidup orang banyak dilindungi oleh negara. (mulai ngaco!)

untuk wc cowok, setau gue sekarang cuma ada dua yang bisa dipake di fakultas gue. sementara wc yang diberi label khusus staff lebih banyak dari itu. ini sama aja penjajahan. kayak waktu jaman penjajahan inggris, kan banyak banget tempat-tempat yang dikasih tulisan: pribumi dan anjing dilarang masuk. pengalokasian wc ini juga sama aja membeda-bedakan kasta antara staff dengan mahasiswa. sial banget.

yah.. seperti biasa gue cuma bisa ngomel-ngomel tanpa ngasih tindakan nyata. karena ide-ide yang nongol di otak gue terlalu ekstrem. gue sih pengennya ngasih tulisan di bawah tulisan "khusus staff" itu kayak begini "dilarang keras kencing di sini kecuali anjing". kan biasa banget tuh tulisan ada di tembok gang-gang kumuh. biar mikir dikit deh yang bikin peraturan. ato yang agak alusan dikit tulisannya gini aja deh "khusus staff, mahasiswa silahkan buang aer di rumput".

ada yang berani bertindak? jangan sampe kebelet, lho...

Kamis, Juli 05, 2007

Mencari ondel-ondel pengganti Sutiyoso

terus terang, akhir-akhir ini gue lagi tertarik sama pilkada di jakarta. walopun gue bukan orang jakarta, tapi sebagai warga negara yang peduli terhadap ibukota negara kita, gue milih untuk peduli.

gue bukan pendukung adang atopun fauzi. malahan, i don't give a damn for them. gue lebih milih merhatiin kerjaan partai-partai yang ada. asal lo tau baik adang (diusulkan oleh PKS) maupun fauzi (diusulkan oleh beberapa partai), kalo gak salah mereka itu sebenernya bukan kader dari partai manapun. yah... bisa dibilang sebenernya mereka adalah calon independen.

kenapa hal ini bisa terjadi? kenapa partai-partai yang ada nggak nyalonin kader-kadernya aja? apa susahnya sih? apa mereka nggak punya kader yang kompeten buat ngegantiin sutiyoso? alesannya bukan itu. ini semua terkait dengan UUD. bukan UUD sebelum amandemen ataupun UUD sesudah amandemen. UUD adalah "Ujung- Ujungnya Duit". kalo misalnya partai A majuin kader dari partai mereka, maka biaya kampanye (yang sangat-sangat tidak sedikit itu) harus ngucur dari kas mereka. sementara kalo mereka mengusulkan "orang lain" justru kas mereka bisa keisi. kalo lo ngikutin berita yang ada, kan sempet muncul berita mantan jenderal udah nyerahin duit milyaran rupiah biar bisa jadi wakil gubernur ngedampingin fauzi bowo, taunya gagal. tapi duitnya tetep ngelayang.

hal kayak begini gak cuma kejadian di jakarta aja. di banten juga ada kejadian serupa. marissa haque, yang merupakan kader PDIP, diusulkan jadi gubernur Banten oleh PKS. tapi anehnya PDIP-nya sendiri gak mau nyalonin Marissa Haque. kenapa? yah... karena kalo dia nyalonin kadernya, "ongkos" partainya bakalan gede. mendingan nyalonin orang dari luar biar bisa dapet setoran.

busuk? emang busuk! politik itu busuk! gak salah kalo ada yang jadi skeptis dengan politik. kalo masih ada yang bilang,"ah... itu cuma oknum. masih ada koq partai yang nggak kaya gitu...", itu semua omong kosong. udah nyata kalo yang namanya partai itu kerjaan utamanya nyari duit. ngebelain rakyat itu optional aja. gue nggak bilang kalo gue anti partai. gue cuma bilang kalo partai-partai itu busuk. mungkin aja 15 taun dari sekarang gue jadi fungsionaris utama partai apaan gitu... kalo sampe gue begitu, artinya gue udah mulai dibutakan oleh uang. (tolong ingetin gue ya... ;P)

fungsi partai politik sebenernya adalah untuk menghasilkan birokrat-birokrat ulung. tapi dengan kenyataan bahwa nggak ada partai yang ngebawa kadernya ke posisi utama di bidang eksekutif, maka udah secara jelas ngebuktiin kalo partai politik telah gagal mengemban tugas ini. gagal karena tidak mampu, atau gagal karena "tidak mau" mengemban tugas ini? lo konklusiin aja sendiri.

kalo nyata-nyata partai politik udah gagal ngasilin kader yang mumpuni untuk mimpin tangkup kekuasaan dan lebih milih "boneka" dari luar untuk dimainkan sebagai pemimpin, kenapa calon independen terus dilarang?

kenapa calon gubernur jakarta nggak boleh berasal dari orang non-partai yang tidak diusulkan oleh partai? padahal jelas statusnya bakalan sama aja dengan orang non-partai yang diusulkan oleh partai kan? kalo alesannya karena secara hukum itu nggak memungkinkan, ya ubah aja aturannya. jelas-jelas aturan itu kebukti belum bebas masalah (ato kalo kata orang IT, gak bugs-free).

gue di sini nggak dalam posisi ngebuat lo (yang warga jakarta) bingung harus milih yang mana... milih iblis ato milih setan. terlepas dari segala kekurangan yang bejibun, pasti setiap orang masih punya hal yang baek (sekaligus membuktikan bahwa calon yang ada bukanlah iblis atopun setan, as real as their flesh and blood!).

pilih apapun, tapi jangan pilih "boneka ondel-ondel" yang digerakin parpol untuk mimpin ibukota jakarta.

nb: tidak memilih adalah sebuah PILIHAN yang juga harus dihargai.

Senin, Mei 07, 2007

CSR

dua taon yang lalu. booming banget acara reality show. salah satu genre reality show yang sukses di indonesia adalah yang nolong-nolongin orang miskin kayak uang kaget, tolong, dan bedah rumah. temen kuliah gue yang baru aja sidang skripsi (ME? soon... very sooon), si vivi, pernah bilang kalo dia selalu nangis pas lagi nonton bedah rumah. ih, sentimentil banget sih, pikir gue. tapi karena gue nggak mau dicap orang yang nggak punya perasaan, gue juga mengutarakan pendapat gue (yang rupanya agak kurang cerdas). gue bilang, gue juga punya acara reality show yang bisa bikin gue nangis............. "pimp my ride". siapa yang nggak nangis coba... sementara jutaan orang di afrika berjuang buat hidup, di tempat laen orang ngabisin belasan ribu dollar amerika cuma buat ngedandanin satu mobil. anggep biaya nge-pimp satu mubil tu USD 15.000 (standard renovasi mobil di "trick it out"). dengan duit segitu kita bisa beliin 1.500 kelambu yang bener-bener diperluin buat nyegah penyakit malaria di afrika (kayaknya gue keprovokasi american idol gives back edisi kemaren deeh). rata-rata keluarga di negara-negara miskin afrika kayak malawi, dalam satu rumah biasanya dihuni lebih dari 5 orang. kalo ada 1.500 kelambu buat 1.500 keluarga, artinya bakalan ada 7.500 orang lebih yang bisa dicegah ketularan malaria. kalo dalam satu musim pimp my ride ada 10 episode, artinya orang yang bisa diselametin ada 75.000 orang lebih. ini sih bisa buat nyelametin satu kota kecil!

nah... ngomong-ngomong soal aksi peduli sosial seperti yang dimotorin sama bono vox, angelina jolie, dan dorce gamalama (maafkan saya atas penyetaraan yang sama sekali nggak imbang antara rocker kelas wahid dan aktris super seksi dengan seorang banci panggung), muncul satu pertanyaan ala wartawan gosip: ikhlas gak sih? ato cuma buat nyari popularitas?

sekarang marak banget CSR di indonesia. yaelaaah.... kemaren-kemaren ke mana aja sih? sekarang bikin acara apa aja disebutnya CSR. CSR harusnya dibuat untuk ngebantu orang-orang kere ato yang kesusahan. soal citra perusahaan jad naik, itu cuma akibat, bukan jadi tujuan.

kalo udah ngomong soal korporasi (apalagi kalo yang gede-gede) jangen ngarep ada yang namanya ikhlas deeh. naif banget kalo berfikir kayak gitu. terserah kalo ada yang nganggep gue terlalu skeptis. perusahaan yang paling getol bikin CSR di indonesia kebanyakan dari perusahaan tambang. mereka "ngebina" masyarakat sekitarnya supaya kehidupannya "lebih baek". sebenernya mereka cuma mau bilang "SYM!UTM": shut your mouth! use this money. mana ada perusahaan tambang yang nggak ngerusak lingkungan. liat aja proper tambang-tambang minyak yang ada. semuanya merah! kasus newmont di buyat, mogok kerja pekerja freeport di timika, just list it!

CSR juga dipake buat promosi. bukannya "berkorban" untuk masyarakat, malah ada perusahaan yang manfaatin "program CSR" mereka untuk narik keuntungan dari masyarakat. gue pernah liat company profile salah satu produk elektronik dengan inisial P. mereka bikin acara yang namanya Panasonic Award dan mereka nge-klaim kalo acara itu adalah bentuk tanggung jawab sosial mereka terhadap insan kebudayaan nasional! (gue nggak nyebut nama perusahaannya lho... tapi dari nama acaranya lo pasti udah tau perusahaan apa yang gue maksud =P). CSR kan untuk sebuah society, dan perusahaan P ini memilih society yang berkecimpung di bidang kebudayaan. tapi kenapa yang dapet penghargaan justru mereka yang memang sudah wealthy enough? alih-alih laiknya lintah, mereka nyedot duit rakyat dengan membuka line sms untuk milih idola dengan tarif premium 2000 perak.

mengutip outro lagu "deskripsi" dari pas band yang juga gue pake buat ringtone SMS gue:
APAKAH INI YANG KALIAN INGINKAN?
APAKAH INI YANG KALIAN INGINKAN?
APAKAH INI YANG KALIAN INGINKAN?
ATAU MUNGKIN INI YANG KALIAN INGINKAN?
MUNGKIN?

kita telah menjadi keledai-keledai bodoh yang berbaris rapi menuju rumah potong hewan.

Jumat, April 27, 2007

turn off your tv!!!

kalo lo ngikutin serial2 tipi di amerika kayak smallville, csi, lost, 24, dll mereka pinter banget maenin emosi penonton. satu taon cuma ada satu season. satu season juga paling banyak cuma 24 episode. artinya tuh film nayang di tipi cuma sekitar setengah taon (24 minggu/ 52 minggu). gak cuma nyampe di situ bikin penasarannya... di tengah musim biasanya mereka bikin klimaks cerita... abis itu pake acara season break. ais.... ceritanya digantung dulu... kalo kata bang roma sih: sungguh mati aku jadi penasaran... sampai mati pasti akan kuperjuangkan...

bener2 bikin penasaran deh. gue nggak abis pikir koq ada orang yang mau nonton serial "24" tiap minggu. tiap episode dibikin gantung... kalo ada orang yang ngikutin serial itu, terus meninggal di tengah season... bisa2 arwah orang itu jadi arwah penasaran. gak bakal bisa tenang sebelum season itu kelar. he...3x

beda banget dengan yang ada di indonesia. coba aja lo liat AFI. awal muncul... AFI bener2 sukses dan ekslusif. tapi dasar orang2 indosiar oportunis.. tuh acara dimaenin tanpa ada jeda tiap taunnya. akibatnya apa? acaranya jadi nggak ekslusif lagi. basi kan. liat aja AFI 3 yang grand finalnya cuma diselenggarain di studio 3 indosiar. sementara 2 grand final sebelumnya selalu diselenggarain di hall gede. kalo cuma di studio mah nggak ada bedanya dengan "pesta ceria" yang dipandu errina.

liat juga extravaganza di transtv. ketika sukses... otak2 oportunis kembali bekerja... gak puas dengan durasi satu jam, ditambah jadi dua jam. orang2 serakah makin kayak tikus yang selalu ngegrogotin apa aja yang bisa digrogot. gak puas dengan dua jam, dijadiin seminggu dua kali. gak cuma sampe di situ, bikin juga frenchisenya... extravaganzABG. nah, yang terakhir ini bener2 antiklimaks. extravaganza udah nggak ekslusif lagi... basi...

indosiar udah ngelakuin kebodohan. transtv juga udah naif. trans7 ternyata juga jatuh di lubang yang sama. liat acara empat mata. hari tayangnya per minggu makin banyak sekarang jadi lima hari seminggu. gak cuma nyampe situ.. jam tayangnya juga nambah jadi satu setengah jam. paraaah.... mau sejenius apapun si tukul ngebawain acara... yang namanya ekslusivitas itu perlu dijaga. gue rasa empat mata udah ngelewatin zona kekahatannya. sekarang acara ini udah mulai mengalami deklinasi minat maupun jumlah penontonnya. kalo kayak begini terus... bisa-bisa yang nonton empat mata emang bener-bener tinggal empat mata. gue sih nggak terlalu peduli, karena gue nggak terlalu suka nonton acara yang kayak begini.