Tampilkan postingan dengan label pertanian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pertanian. Tampilkan semua postingan

Selasa, Januari 20, 2026

Petani vs Pelaku Usaha Tani

Sambil mengemudikan mobil bak-nya, Agus bertanya, “Kenapa gak ada jabatan untuk petani yang level atas-atas?”

Kami baru saja melakukan asesmen kompetensi kepada kelompok tani di daerah Pamijahan. Kelompok tani yang beberapa anggotanya bahkan masih kesulitan baca tulis. Ketika mereka mengisi form aplikasi, sempat tidak sengaja terdengar, “Lamun kemis teh kumaha nulisna?”

Bahkan menulis “kamis” pun mereka butuh validasi. K-A-M-I-S.

Sertifikasi profesi di bidang pertanian ini memang lebih banyak berkutat di jenjang-jenjang bawah. Jabatan yang dapat diduduki langsung oleh sekadar tamatan SD. Pekerjaan yang lebih membutuhkan ketrampilan ketimbang daya analisis. Membaca dan menulis jadi tidak penting-penting amat. Makanya pertanyaan Agus tadi cukup mengusik.

Saya menjawab pertanyaan Agus sambil separuh berkilah, ”Lah, kan ada jabatan manajer produksi agribisnis, manajer pemasaran agribisnis, dll. Itu sudah jenjang 6, lho.”

Agus tidak puas dengan jawaban saya, “Itu kan untuk yang kerja di kebun. Di perusahaan. Kalau yang seperti saya ini bagaimana? Yang usaha sendiri. Saya ingin ada jabatan petani, tapi levelnya tinggi. Petani tapi setara dengan manajer, bukan yang level 3.”

Mendengar itu, saya jadi teringat percakapan saya dengan Pak Iman, atasan saya di kantor LSP. Pernah sekali waktu saya menanyakan kenapa nama-nama skema sertifikasi kita terlalu birokratis: pelaksana budidaya sayuran, pelaksana budidaya tanaman anggrek, pelaksana budidaya tanaman buah. Kenapa tidak langsung saja petani sayuran, petani anggrek, dan seterusnya. 

Alasan pak Iman ketika itu adalah pelaksana budidaya itu berbeda dengan petani. Pelaksana budidaya itu orang yang bekerja di lahan, sedangkan petani sudah harus memikirkan aspek penjadwalan, penjualan, pemasaran dan lain-lain. 

Ternyata pekerjaan “petani” memang tidak rendahan. Ternyata pemahaman saya soal "petani" sudah paripurna sedari lama, hanya tertutupi oleh persepsi umum yang mengasosiasikan petani dengan pekerjaan rendahan.

Mengutip senior saya yang lain di kesempatan yang lain juga, “Petani itu harusnya kaya. Yang miskin itu biasanya buruh tani. Sama dengan buruh pabrik, biasanya miskin. Tapi yang punya pabrik, ya harusnya kaya.”

***

Pada satu kesempatan, saya lupa bagaimana ceritanya, tiba-tiba saya ikut serta di sebuah rapat yang diadakan Kementerian Pertanian. Rapat itu sedang membahas susunan Kualifikasi Kerja Nasional Indonesia (KKNI) untuk bidang hortikultura. 

Ketika sedang membahas kemungkinan-kemungkinan jabatan di tiap jenjang, saya ingat dengan kegusaran Agus ketika itu. Saya pun mengusulkan untuk jenjang 5, diisi dengan aneka rupa jabatan dengan awalan petani. Petani sayuran, petani tanaman buah, petani tanaman hias, dan seterusnya.

Salah satu argumen saya ketika itu adalah sebagai penghormatan kepada petani sekaligus menempatkan petani pada posisi yang seharusnya. Bahwa petani bukan sekadar bercocok tanam, tapi juga merencakanan produksi dan berjualan layaknya pengusaha. Terasa populis sekali ya? Hehe

Resistensi terhadap usul tersebut langsung terasa. Walaupun tidak konfrontatif, tapi ada masukan-masukan untuk tidak mengganti istilah “petani”, menjadi “pelaku usaha tani”. Sekali lagi, menurut saya, penamaan jabatan ini terasa sangat birokratis. Argumen mereka yang kontra adalah jabatan “petani” terasa sulit untuk dijual. Argumen yang sangat bisa saya pahami.

Untungnya ada beberapa anggota rapat yang pro terhadap usul jabatan “petani”. Bahwa memang kenyataannya saat ini mulai banyak petani yang tersadarkan bahwa profesinya bukanlah sesuatu yang harus membuatnya minder. 

Bahwa saat ini mulai banyak anak-anak muda yang tertarik dengan dunia pertanian. Bahkan Agus yang keluhannya dijadikan pembuka tulisan ini pun selalu bangga bilang bahwa kolom pekerjaan di KTP-nya adalah petani. Tidak seperti petani-petani angkatan lama yang lebih senang berkamuflase di balik kata “wiraswasta”.

Pertanian yang sempat teralienasi, perlahan-lahan mulai kembali ke arus utama. Banyak anak muda kota yang tertarik untuk bercocok tanam. Budidaya hidroponik, pertanian organik, sampai perkebunan kopi menjadi hal yang menarik untuk dipelajari. 

Maka hanya soal waktu sampai profesi “petani” menjadi sesuatu yang normal dicita-citakan. Bersanding dengan polisi, dokter, dan presiden.

Rabu, Agustus 06, 2014

Kacamata Biru dan Langit yang Tak Pernah Mendung

Jadi ceritanya beberapa bulan yang lalu gua kembali iseng ikut kompetisi-kompetisian. Kompetisi kali ini adalah membuat video klip dari The Fly. Hadiah utamanya adalah dua unit telepon seluler, sedangkan hadiah hiburannya memorabilia dari personil The Fly.


Video klip berhasilkan diselesaikan sesuai dengan tenggat yang disyaratkan. Awalnya sih lumayan optimis menang. Gimana gak optimis, lha wong peserta yang masukin video klip cuma satu orang. hehehe... Eh ternyata, batas pengumpulan video klipnya diundur sampai dua kali. Dalam periode itu masuklah dua video klip dari peserta lain. Di akhir pengumuman jadilah video klip gua di urutan paling bontot. 


Agak gondok juga sih gara-gara batas waktu pengumpulannya diundur dua kali. Kalo gak kan, gua sekarang lagi megang box ponsel baru. Tapi dibandingin dua video klip lainnya, emang video klip gua yang paling sedikit effort-nya sih. Jadi emang pantes di posisi ke-3. Heu...

Nah, salah satu memorabilia yang jadi hadiah ternyata adalah sun glasses warna biru. Dalam hati gua terkekeh karena punya pengalaman konyol dengan kacamata biru (mau nulis istilah "kacamata hitam" kayaknya kurang pas).

Gak jadi dapet Galaxy Champ. Hiks...

Jadi cerita kacamata biru ini terjadi di 2010. Gua masih jadi petani tebu di grup perusahaan tebu yang punya areal kebun paling luas se-Sumatera. Sebagai petani, tentu kerjaan sehari-hari adalah keliling-keliling kebun. Areal yang jadi tanggung jawab gua ketika itu sekitar 4.500 hektar, lumayan luas. Untuk operasional sehari-hari, kendaraan yang dipakai adalah sepeda motor. Beda dengan di jalan aspal di mana standar pelengkapnya adalah helm, di perkebunan ini tradisinya adalah memakai topi cap, slayer, dan kacamata hitam. Memakai helm di tengah cuaca panas dan berdebu membuat kepala mudah berkeringat dan sama sekali gak nyaman. Makanya orang lebih banyak yang milih pakai topi, slayer, dan kacamata sehingga kontak kulit dengan angin lebih banyak.

Sebagai nubie di bidang perkacamataan, gua milih beli sun glasses di abang-abang pinggir jalan yang harganya cuma Rp 15.000,-. Dari beberapa model yang ada di display, gua milih kacamata dengan film berwarna biru.

Sekedar saran, kalau mau beli sun glasses sebaiknya jangan yang dari abang-abang di pinggir jalan. Sun glasses yang baik adalah yang punya anti-UV. Ketika kita memakai sun glasses, pupil kita cenderung membesar karena cahaya yang masuk ke retina sedikit. Walaupun cahaya yang masuk sedikit, sinar ultra violet dari matahari yang masuk tetap banyak. Ketika pupil mata membesar, UV yang masuk tentu makin banyak. Di situlah perlunya sun glasses dengan anti-UV.

Pengalaman pertama gua make kacamata itu adalah dalam perjalanan dari rumah ke areal kebun yang jaraknya sekitar tiga jam perjalanan sepeda motor. Helm full face dengan visor dibuka ditambah sun glasses. Kecepatan motor biasanya di atas 60 km/ jam. Beberapa kali sempat pasang 110 km/ jam di atas aspal mulus Lintas Timur Sumatera. 

Sepanjang perjalanan sebenarnya gua gak khawatir sama sekali dengan perubahan cuaca, langit selalu cerah. Sampai sekitar dua jam perjalanan tiba-tiba tetesan rintik hujan menerpa punggung tangan. Padahal langit masih cerah. Karena merasa aneh, akhirnya gua lepas kacamata murahan itu. Eng ing eng... ternyata mendung berat sudah menggantung. Gara-gara film kacamata yang warna biru, gua ngeliat langit masih biru, padahal kenyataannya sudah kelabu.

Kacamata itu akhirnya hilang. Entah diambil anak buah di meja kantor kontrol radio atau sekedar tertumpuk kertas-kertas laporan harian operasional truk yang tak kunjung diperiksa atasan. 

Sekarang kacamata biru itu "kembali" lagi dengan cara yang tak diduga. Seolah Tuhan hendak berkata pakailah kacamata ini, maka kau akan melihat semua baik-baik saja. Langit masih biru, tidak kelabu.

Minggu, Oktober 07, 2012

Ada Tiwul Goreng di Obrok-Obrok

Nama lokalnya obrok-obrok. Disebut demikian karena ketika sepeda motornya berjalan di areal perkebunan yang jalannya bergelombang, isi rak jualannya terbanting-banting sehingga menimbulkan suara "obrok-obrok-obrok-obrok".

Obrok-obrok

Obrok-obrok adalah istilah untuk pedagang makanan yang biasa berkeliaran di areal perkebunan tebu di Lampung. Mereka berkeliling dengan menggunakan sepeda motor. Sementara barang dagangannya disusun di dalam rak yang ada di bagian belakang sepeda motor.

Target pasar obrok-obrok adalah para buruh harian di areal perkebunan. Di mana ada kerumunan manusia, di sanalah obrok-obrok berada. Utamanya adalah di areal tebangan di mana banyak buruh tani memanen batang tebu untuk diangkut ke truk dan dibawa ke pabrik. Di satu areal tebangan, bisa ada dua sampai lima obrok-obrok parkir.

Umumnya pekerja ini membeli dengan sistem bon. Setiap kelompok kerja biasanya sudah punya obrok-obrok langganan. Makanan yang dibeli dicatat oleh si penjual. Pembayaran biasa dilakukan di akhir pekan tiap sabtu, hari ketika para pekerja menerima gaji.

Dagangan yang tersusun di rak obrok-obrok cukup variatif. Mulai dari gorengan sampai nasi uduk. Minuman es pun tersedia, yang paling populer adalah es marijan. Sebenarnya es marijan ini adalah air es dengan campuran minuman energi sachet-an. Disebut es marijan karena bintang iklan produk tersebut adalah almarhum Mbah Marijan, sang juru kunci Gunung Merapi.

Salah satu menu unik yang biasa ada di obrok-obrok adalah tiwul goreng. Saya pertama kali kenal makanan ini karena melihat teman saya, yang sesama pengawas lapangan, makan dengan lahap di atas sepeda motornya.

"Mau, Re?" dia menawarkan. Awalnya saya agak sangsi dengan apa yang ia makan.

"Tiwul goreng. Rasanya kayak nasi goreng," Dengan logat Jogja kota asalnya, ia menjelaskan panganan yang sedang dimakannya.

Dari namanya, tiwul jelas berasal dari Jawa. Tiwul terbawa ke Lampung bersama dengan arus transmigrasi yang demikian masif semenjak awal 1900-an. Demikian masifnya, sampai-sampai wilayah di Lampung pun banyak yang "berbau" Jawa, sebut saja Way Jepara dan Pringsewu. Di pedesaan, jangan heran jika menemui anak-anak bawah lima tahun yang tidak bisa berbahasa Indonesia dan hanya mengenal bahasa Jawa. Umumnya mereka baru mengenal bahasa Indonesia ketika duduk di bangku Sekolah Dasar.


Tiwul Goreng

Kembali ke tiwul. Tiwul sendiri sederhananya adalah tumbukan singkong yang sudah dikeringkan. Untuk membuat tiwul goreng, tiwul dicampur dengan beras kemudian dimasak menjadi nasi tiwul. Hasilnya kurang lebih seperti campuran nasi dan jagung pada nasi jagung. Selanjutnya nasi tiwul itu dimasak seperti membuat nasi goreng. Inilah yang disebut dengan tiwul goreng.

Berbeda dengan ekspektasi awal saya, ternyata rasa tiwul goreng itu enak, bahkan cenderung ke "enak banget". Sebungkus tiwul goreng lengkap dengan sepotong tempe hanya seharga Rp 2.500,00. Citarasanya tidak jauh berbeda jika dibandingkan dengan nasi goreng biasa. Sedikit perbedaan hanya pada teksturnya yang cenderung liat. Selain itu, Tiwul goreng juga lebih "nendang" daripada nasi biasa. Sebungkus kecil tiwul goreng sudah cukup untuk mengganjal perut selama seharian muter-muter di kebun  tebu.

Akhirnya, kegiatan mencari tiwul goreng untuk sarapan ini menjadi kebiasaan baru saya dan teman saya. Setiap pagi, setelah selesai memprogram rencana irigasi dan traktor untuk perawatan tebu bersama anak buah, kami selalu meluncur ke lokasi tebangan, mencari obrok-obrok. Setelah itu, biasanya kami mencari rimbunan tebu yang sepi untuk sarapan. Bersembunyi dari Manajer Wilayah yang sewaktu-waktu bisa saja memergoki kami mencuri waktu sejenak untuk sarapan.

Kebun Tebu

Tiwul yang selama ini identik dengan makanan inferior, ternyata jika ditilik dari harganya kini sudah layak untuk "naik kasta". Bukan karena saya dan teman saya yang orang kota bisa jatuh cinta pada cicipan pertama pada tiwul. Namun karena harga tiwul dari hari ke hari semakin meroket.

Di daerah Lampung Tengah dan Lampung Timur, harga tiwul mencapai Rp 8.000,00 per kilogramnya. bandingkan dengan harga beras kualitas sedang di sini yang hanya Rp 7.000,00 per kilogramnya. Berdirinya beberapa pabrik bioetanol berbasis singkong di Lampung agaknya turut punya andil dalam melambungkan harga tiwul.

Namun demikian, meskipun harganya kian hari makin meroket, rasanya tiwul tidak akan pernah dilupakan oleh penggemar awalnya. Ia akan tetap setia bersama mereka yang semenjak dulu telah mengenalnya,  para pekerja kelas bawah.


Rabu, Juli 04, 2012

Memperbaiki Gizi Bangsa Dengan Susu



Dalam satu dekade ini, konsumen Indonesia semakin sadar akan hidup sehat. Dua hal yang kemudian dianggap penting dijaga untuk menghasilkan hidup sehat adalah olahraga dan pola makan. Lihat saja bagaimana banyaknya pusat kebugaran yang dibuka dalam sepuluh tahun terakhir ini. Selain itu, beragam jenis diet juga dikenalkan. Mulai dari diet serat, diet jus, diet buah, dan berpuluh-puluh jenis diet lainnya. Tak pelak, pola hidup sehat sudah menjadi gaya hidup bagi beberapa kalangan.
Kecenderungan dari diet-diet yang dikenalkan di Indonesia, mengacu pada diet yang telah diterapkan di negara-negara maju. Umumnya, mereka cenderung mengurangi konsumsi pangan hewani dan memperbanyak konsumsi pangan nabati. Pada beberapa golongan yang "ekstrim", mereka bahkan merekomendasikan untuk menghentikan sama sekali pangan hewani.
Gaya Hidup Sehat di Indonesia: Tidak Makan Produk Hewani?
Di Indonesia, kampanye-kampanye ini hadir lewat berbagai media. Mulai dari obrolan yang menyebar melalui pergaulan sehari-hari sampai media dunia maya seperti blog. Kampanye yang paling populer mungkin adalah kampanye untuk menghentikan konsumsi daging merah, seperti daging sapi dan kambing. Alasan tingginya lemak dan kolesterol yang terkandung pada daging merah memberi ketakutan akan serangan jantung dan stroke. 
Anjuran untuk menghentikan konsumsi pangan hewani yang paling baru terjadi pada susu. Seakan tidak cukup isu susu yang terkontaminasi bakteri E. Sakazakii, kini "nama baik" susu yang selama ini kita kenal sebagai makanan yang bergizi dan penting kembali diuji. Seorang profesor Jepang bernama Hiromi Shinya dalam bukunya, The Miracle of Enzym, menuturkan buruknya susu bagi kesehatan pencernaan manusia. Apakah benar susu selalu buruk pada manusia?
Mari kita melihat konsumsi pangan hewani di Indonesia. Konsumsi per kapita warga Indonesia untuk daging ayam hanya 4,7-7 kg per tahun (bandingkan dengan Brazil yang mencapai 30 kg per kapita per tahun), konsumsi daging sapi 1,9-2,2 kg (bandingkan dengan Argentina yang mencapai 60 kg per kapita per tahun). Hal ini amat jauh dari rata-rata konsumsi daging per kapita negara-negara berkembang yang mencapai 23 kg untuk daging sapi dan ayam. 
Lalu bagaimana dengan susu sapi? Menyitir ucapan Prof. Bustanul Arifin dalam acara Indolivestock beberapa tahun lalu, tanpa perlu menyebutkan angka, konsumsi susu sapi di Indonesia per kapita per tahun hanya beberapa tetes. Tidak sampai 1 Liter! Menghitungnya hanya dalam satuan cc! Jika dirata-rata, masyarakat Indonesia nyaris tidak mengkonsumsi susu.
Dengan fakta di atas, maka tidak heran kalau seringkali kita menjumpai kasus gizi buruk bahkan sampai busung lapar di Indonesia. Kasus-kasus ini tidak hanya ditemui di daerah rural, tapi juga di daerah sub-urban bahkan urban.
Pangan hewani dikenal memiliki kandungan protein yang tinggi. Protein amat dibutuhkan pada masa pertumbuhan dan di saat masa penyembuhan. Tercukupinya kebutuhan protein seseorang di masa pertumbuhannya akan berimplikasi pada terbentuknya tubuh yang sehat dan otak yang cemerlang. 
Keunggulan Susu
Protein yang berasal dari hewan memiliki kandungan asam amino esensial yang lebih lengkap dibandingkan dengan protein nabati. Asam amino esensial sendiri tidak bisa dihasilkan dari metabolisme tubuh manusia sehingga asupannya dari makanan amat penting. Di antara  protein hewani, lainnya, susu memiliki kandungan lemak yang lebih sedikit dibandingkan dengan telur atau daging ayam, sehingga relatif lebih sehat. 
Susu relatif lebih terjangkau untuk dibeli oleh warga Indonesia. Harga susu segar tidak sampai Rp 10.000/ L. Bandingkan dengan telur ayam yang mencapai Rp 19.000,00/ kg atau daging ayam yang lebih dari Rp 25.000/ kg. Tidak perlu pula dibandingkan dengan daging sapi yang mencapai 70.000/ kg.
Mengkonsumsi susu pun lebih terjamin kehalalannya jika dibandingkan dengan mengkonsumsi daging. Berbeda dengan daging yang mensyaratkan penyembelihan yang halal, maka susu tidak memiliki syarat perlakuan untuk menjadi halal.
Dibandingkan beternak sapi potong, beternak sapi perah lebih feasible dilakukan di Indonesia. Sapi perah tidak membutuhkan ladang penggembalaan yang luas seperti sapi potong. Sapi perah cukup ditaruh di kandang yang kebersihannya terjamin.
Produktivitas susu sapi di Indonesia masih bisa ditingkatkan lagi. Saat ini produksi susu dari seekor sapi di Indonesia baru sekitar 8 Liter per hari. Idealnya, seekor sapi mampu memproduksi hingga 20 Liter per hari. Pemberian pakan yang tepat dengan cara yang tepat dapat meningkatkan produktivitas susu yang dihasilkan. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan mencacah pakan menjadi ukuran yang lebih kecil. Perlakuan ini amat sederhana, namun sayangnya masih jarang dipraktekkan oleh peternak sapi perah di Indonesia.
*     *     *




Peningkatan konsumsi susu adalah alternatif pemenuhan kebutuhan protein yang paling masuk akal dilakukan di Indonesia. Selain kandungan gizinya yang lengkap, harganya juga relatif lebih murah, dan terjamin kehalalannya. Belum lagi potensi produktivitas susu di Indonesia yang masih bisa ditingkatkan lagi. 
Gaya hidup sehat adalah dengan hidup yang seimbang. Tidak terlalu banyak mengkonsumsi satu jenis makanan, tidak pula terlalu sedikit mengkonsumsi terlalu sedikit satu jenis makanan. Dengan berkaca pada terjadinya berbagai kasus gizi buruk dan busung lapar di Indonesia, maka peningkatan konsumsi protein ini amat mendesak untuk dilakukan. Maka tidaklah tepat apabila ada kampanye untuk mengurangi atau bahkan menghentikan konsumsi produk pangan hewani di Indonesia. Warga Indonesia masih membutuhkan lebih banyak protein untuk dikonsumsi. Tidak berlebihan apabila ada yang menyatakan bahwa kekurangan protein berpotensi menghasilkan generasi yang hilang (The Lost Generation). Bangsa ini masih membutuhkan lebih banyak pangan hewani untuk menghasilkan generasi yang dapat diandalkan untuk membangun Indonesia.

Kamis, Juli 17, 2008

Setega itukah kita membuang makanan?

era pangan murah sudah berakhir. sebuah majalah pertanian besar di negeri ini menuliskan kata itu besar-besar di kertasnya. sadar atau tidak, memang harga pangan yang kita nikmati selama ini amat murah. bandingkan jika kita harus makan di banyak negara lain, apalagi di negara miskin dengan warga yang dianngap sebagai warga dunia kelas III.

saya rasa semua dari kita sudah sadar kalau yang namanya petani adalah orang-orang yang selalu saja terpinggirkan, padahal mereka punya peranan paling vital dalam penyediaan pangan kita semua. selama ini kita bisa menikmati makanan yang enak, bergizi, dan murah di atas kesengsaraan petani dan keluarganya. tidakkah ada sedikit rasa bersalah di diri kita ketika kita tidak menghabiskan makanan kita? kita sudah memaksa petani-petani itu untuk menjual hasil jerih payah mereka dengan harga yang membuat mereka tidak berkutik hanya untuk dibuang-buang.

ketika harga beras tiba-tiba melonjak tinggi kita selalu saja protes merengek-rengek. dengan mengatasnamakan rakyat kecil, kita selalu menuntut harga pangan yang murah. tetapi sekali lagi, kita terlampau sering menyia-nyiakan harga yang murah itu.

dan kini, era pangan murah sudah berakhir. bukan karena petani sudah berhasil mendapatkan posisi tawar yang lebih baik, tapi karena memang adanya krisis pangan global.

masih tegakah kita membuang-buang makanan kita begitu saja?

Senja di sawah (Rancaekek, 2006)

Selasa, April 18, 2006

Mempertahankan gubuk reyot pertanian pangan Indonesia.

Pernah nggak kepikir sama kita semua, makanan apa sih yang sifatnya multilevel tapi berasal dari negara kita sendiri, Indonesia? makanan apa yang biasa dimakan sama orang Indonesia kebanyakan yang berasal dari bumi pertiwi kita sendiri?

coba kita teliti satu per satu... ini jawaban yang gue kemukakan sendiri. jadi sangat membuka kemungkinan adanya perbedaan opini dan dari itu sangat debatable.

1. tahu-tempe

siapa sih orang Indonesia yang nggak pernah makan kakak-beradik ini? terlepas dari adanya ketidaksukaan beberapa kalangan terhadap makanan ini, dan juga persepsi yang ditimbulkannya (sering diidentikkan dengan makanan kalangan bawah) kedua makanan ini adalah salah satu (atau tepatnya dua) makanan yang relatif dapat diterima berbagai kalangan di Indonesia. variasi yang dapat diciptakan pun cukup beragam, mulai dari yang sederhana dengan cara menggoreng sampe dibuat jadi burger tempe. sebelum omongan saya semakin ngelantur ke yang laen-laen, saya ingin bilang kalo tahu dan tempe itu seperti yang sudah diketahui oleh kebanyakan dari kita dibuat dari kedelai yang kebanyakan diimport dari USA. amat memalukan bagi bangsa kita, di mana makanan yang sangat kental dengan identitas bangsa ini ternyata merupakan makanan dengan kandungan "ekspatriat" cukup tinggi.

2.mie instant

makanan kedua yang menurut gue sifatnya terjangkau oleh kalangan luas adalah mie instant. bisnis mie instant di Indonesia amat menjanjikan. lihat saja bagaimana persaingan antara indofood dan wingsfood untuk merebut pangsa pasar dalam negeri. mulai dari tukang becak sampai anak menteri makan mie instant. mulai dari pak tani di desa Sumber Jaya sampai anak band asal Surabaya makan mie instant. mie instant yang kita kenal di pasaran sebagian besar terbuat dari gandum. dan jika ilmu geografi kamu nggak parah-parah amat, maka pastinya kamu tau kalo di Indonesia, tanaman gandum itu ogah tumbuh a.k.a gandum yang ada di tanah air ini adalah hasil jual beli import.

dua contoh tadi membuktikan betapa rapuhnya ketahanan pangan kita. bayangkan bila Indonesia mendapat embargo dari dunia internasional. tak terbayangkan berapa ratus pabrik mie instant skala besar yang bakalan gulung tikar. lebih dari itu berapa juta pabrik tahu dan tempe yang kebanyakan hanyalah usaha kecil yang tadinya memang sudah terjepit, juga ngikut gulung tikar. saat ini, menurut gue indonesia hanya berdaulat atas pangannya hanya pada beras semata. inipun susah payah diperjuangkan kedaulatannya. isu ratifikasi perdagangan bebas yang selalu ditekan oleh WTO kepada Indonesia selalu menghantui nasib petani-petani kita. belum lagi dengan gesekan-gesekan pikiran yang menuntun bangsa kita untuk meninggalkan beras sebagai makanan pokok kita. jika diversifikasi pangan yang terjadi adalah menuju singkong, ketan, dan mantang, tentunya ini melegakan.namun yang terjadi saat ini justru cuci otak yang mendidik bahwa makan pagi itu bakal menyita waktu terlalu lama, lebih praktis jika hanya makan ROTI atau SEREAL. perhatikan dua entitas yang ditulis dengan huruf kapital barusan. keduanya merupakan produk pangan dengan bahan dasar gandum, sama seperti mie instant, yang artinya memaksa kita untuk lebih banyak lagi mengimport gandum. doktrinasi yang dilakukan oleh korporasi-korporasi multinasional seperti nestle telah menggeser sedikit demi sedikit paradigma kita atas kebutuhan kita sendiri. mereka telah mendikte apa yang kita butuhkan. sampai pada satu ketika kelak, kita akan menjadi ketergantungan atas apa yang mereka buat. dan ketika saat itu telah terjadi, maka gubuk reyot pertanian pangan indonesia pastilah sudah rata dengan tanah pertanian kita yang saat itupun sudah terbengkalai.

Mulai hari ini semua akan berubah!

diambil dari raemustarani.blogs.friendster.com pada 18 04 2006