Tampilkan postingan dengan label sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sosial. Tampilkan semua postingan

Selasa, September 15, 2020

Social Justice Warrior Balapan


Lewis Hamilton memenangkan seri Gran Prix F1 di Mugello 13 September 2020. Bukan berita yang mengagetkan. Sudah bertahun-tahun Mercedes mendominasi gelaran F1. Hampir selalu lewat Lewis Hamilton. Yang tidak biasa adalah kaos yang dikenakan Lewis pada saat menerima trofi. Selain berpotensi membuat sponsor kesal karena logo di overall balapannya tertutup, tulisan yang tertera juga sangat tendensius.

Arrest The Cops Who Killed Breonna Taylor

Sementara bagian belakang kaosnya menampakkan gambar Breonna dengan tulisan, "Say her name." Maka tidak heran jika FIA sekarang sedang menginvestigasi apakah Lewis Hamilton melakukan pelanggaran dengan mengenakan kaos tersebut.


Breonna adalah seorang perawat yang ditembak delapan kali oleh polisi di kediamannya pada Maret lalu. Dor dor dor dor dor dor dor dor. Delapan kali. Namanya adalah yang paling sering disebut oleh demonstran Black Lives Matter setelah nama George Floyd.

Musim F1 2020 memang beda dari biasanya. Selain berbagai penyesuaian yang terjadi sebagai imbas dari pandemi Covid-19, Balapan tahun ini juga disusupi agenda pejuang HAM. Motornya siapa lagi kalau bukan Lewis Hamilton.

Mulai dari tagline #WeRaceAsOne, bergantinya desain livery Mercedes dari perak menjadi hitam, sampai seremonial moment of reflection tiap sebelum balapan menjadi hal baru yang sebelumnya belum pernah dilakukan FIA di ajang F1.

Lewis Hamilton sebagai satu-satunya pembalap berkulit hitam di F1 justru seperti merasa pesan yang disampaikan tak pernah cukup. Terlihat dari bagaimana kecewanya dia ketika beberapa pembalap memilih untuk tidak berlutut pada saat moment of reflection. Padahal semua pembalap mendukung, turut hadir, dan mengenakan kaos hitam berisi pesan anti rasisme.

Kejadian podium di Mugello dapat dibaca sebagai usaha Lewis untuk mendobrak batasan yang selama ini. Langkah yang kemungkinan besar akan berbuah teguran dan denda. Namun bukan berarti resiko tersebut tidak diperhitungkan. 

Agenda Black Lives Matter penting dan universal, tapi memasukkan agenda tersebut ke dalam F1 rasanya terlalu berlebihan. Selain tidak bersentuhan langsung, sebenarnya F1 sendiri punya batasan sendiri yang mengatur penyampaian pandangan politik lewat platform F1.

Tapi FIA ternyata merestui agenda ini. Sama seperti FIFA yang manut-manut saja ketika agenda Black Lives Matter dimasukkan ke dalam pertandingan sepakbola. Padahal sebelumnya, setiap ekspresi politik di lapangan sepakbola hampir pasti akan berakhir dengan kartu kuning. Mungkin karena kasus rasisme sepakbola cukup tinggi, maka agenda Black Lives Matter cukup relevan dengan sepakbola dan bisa dikecualikan. 
Semangat Aktivisme Lewis adalah nilai lebih. Namun, lebih baik jika Lewis melanjutkan kampanyenya di luar ajang balapan. Peningkatan kesadaran publik mestinya bisa dilakukannya lewat jejaring media sosial miliknya. Lagipula sejauh ini tidak ada kasus rasisme atau diskriminasi apapun di F1. Jadi relevansinya dengan F1 agak kurang pas.

Mungkin akan lain ceritanya kalau kasusnya seperti yang diutarakan Dandhy Laksono. Dandhy meminta dukungan dari pembalap-pembalap MotoGP untuk memberi perhatian pada pembangunan sirkuit Mandalika yang terlilit sengketa lahan dengan penduduk lokal. 


Terlepas dari setuju tidaknya kita dengan pandangan politik beliau, namun desakan yang dia minta dari para pembalap MotoGP ini relevan. Sirkuit ini rencananya akan dipakai sebagai salah satu seri MotoGP mulai 2021 nanti. Maka meminta perhatian pembalap MotoGP adalah hal yang lumrah.

Meminta kesadaran para pihak yang berhubungan dengan keberadaan sirkuit ini mestinya tidaklah mengada-ada. Bagaimana para pembalap tersebut merespon isu ini adalah perkara lain. Kemungkinan besar pembalap MotoGP tidak akan menggubris seruan Dandhy. 

Namun kalau misalnya nanti mereka sepakat mengadakan moment of reflection berjilid-jilid tiap mau balapan di sisa seri tahun ini untuk memprotes penyerobotan tanah di Sirkuit Mandalika, maka itu sebenarnya akan jauh lebih relevan daripada moment of reflection di F1 untuk mengkampanyekan Black Lives Matter. Terdengar lebay? Ya seperti itulah rasanya melihat F1 yang penuh agenda para Social Justice Warrior mancanegara. Lebay.

Kamis, Desember 07, 2017

Tambah, Uda

Siang itu mendung. Hujan dari pagi turun. Sesekali berhenti. Tak lama kemudian kembali guyur. Beriterasi dalam siklusnya. Di sempitnya salah satu celah waktu itu saya keluar dari ruangan. Menjejaki aspal-aspal basah, melompati satu dua genangan yang memantulkan bayang kanopi pucuk merah. Sesekali saya harus mengalah pada genangan yang menganak sungai. Sumbat serasah yang terlambat diangkat pada selokan di sisi kanan membuat air memintas ke selokan di sisi kiri yang lebih rendah.

Empat menit empat puluh delapan detik kemudian saya sampai di muka pintu rumah makan Padang. Pas pula adzan dzuhur menggaung di udara. Belum ada pembeli lain di ruang makan. Seorang bapak muda melayani saya sembari diusili anaknya yang tingginya baru sedengkul lewat. Bapak sudah hapal lauk-lauk pilihan saya. Asam padeh, kembung bakar, atau ayam goreng. Tiga pilihan itu ditawarkannya. Hari itu saya agak malas makan ikan, maka ayam goreng yang saya pilih. Tak lupa catatan tambahan, "Minta dada ya."

Dengan sigap, ia memilah-milih dari potongan yang ada. Saya pun duduk di salah satu meja. Menghadap meja makan beralas kaca gelap, memunggungi pintu masuk, beralas kursi lipat merah. Tujuh detik berselang, Istri bapak tadi datang membawa segelas belimbing teh tawar hangat bersama air kobokan dalam cawan baja tahan karat - lengkap dengan irisan jeruk nipis a la kadarnya. Belum selesai teh disajikan, sang suami sudah datang bersama sepiring makan siang saya. Setangkup nasi, sejumput daun singkong rebus, sepotong kecil nangka, campuran sayur kacang panjang dan kol, serta tak lupa ayam goreng. Oh, iya. sesendok makan bumbu rendang di sisi dan sesendok sayur kuah gulai mengguyur nasi putih yang uapnya masih menguar. 

Makan siang dimulai. Sesekali mata saya memperhatikan siaran berita di TV yang tergantung di atas lemari. Masih di ruang pandang, ada sebuah etalase tinggi yang tadinya biasa menjajakan berbotol-botol minuman berkarbonasi. Kacanya berhias tulisan R. M. Rimpun Padi dengan motif tulisan yang junjung di bagian tepinya menyerupai rumah gadang. Etalase itu sudah berubah fungsi. Dari balik kaca samar terlihat tumpukan baju yang belum disetrika. Tidak ada lagi warna-warni hitam, hijau, dan merah botol minuman. 

Di balik etalase itu terlihat si bapak yang tadi keluar dari kamar mandi. Wajahnya basah terkena wudhu. Lepas berdoa, dia kenakan sarung kotak-kotak coklat muda. Masuk lewat kepala, dililit di bagian pinggang, dan digulung hingga mata kakinya tampak. Kemudian digelar sejadahnya. Ujungnya nampak menyembul melewati hadangan pandang etalase botol tadi. Ia hendak menunaikan sholatnya. Posisinya sudah menghadap kiblat, namun belum lagi niatnya terucap, Ia justru membalik badannya. Melihat-lihat ke arah pintu masuk. Khawatir jangan-jangan ada pembeli yang datang. Sudah jam 12 lewat, sudah waktunya makan siang. Tapi mungkin karena rintik kembali mengguyur, belum lagi ada pelanggannya yang datang.

Ia atur lagi posisi sholatnya, namun kembali terinterupsi. Kini Ia bicara dengan istrinya. Suaranya tenggelam dibalut gelombang penyiar TV yang sedang mewartakan penggerebekan pabrik narkoba. Dalam percakapan tersebut, beberapa kali lagi ia melongok ke arah pintu masuk. 

Ia kembali ke sejadahnya. Namun sekali lagi dia urungkan dzuhurnya. Kali ini dia keluar dari ruang di balik etalase botol minuman ke arah ruang makan. Masih dengan sarung kotak-kotak coklat mudanya, dihampirinya satu-satunya pelanggan yang ada di ruangan itu lalu berkata, "Tambah, bang?"

Saya pun tersenyum sambil mengacungkan telunjuk kanan. Segera diambilnya sebuah piring kecil, dibukanya termos nasi, lalu dengan centong dari batok kelapa, diambilnya setangkup bulir-bulir putih. Tak lupa diluberinya nasi dengan sedikit kuah gulai, lalu diserahkannya piring tersebut di atas meja.

Ia kembali ke dalam ruang di balik etalase minuman botol. Berdiri di atas sejadahnya, mengangkat kedua tangannya, dan tenggelam dalam khusyuknya iftitah.

Jumat, Juni 09, 2017

Warisan, Tapi Bukan yang Itu

Kebetulan saja kita lahir di Indonesia, jadi bisa pasang avatar "Aku Indonesia, Aku Pancasila". Coba kalo kita lahirnya di Nikaragua, mungkin gak kita teriak-teriak bilang "Aku Nikaragua, Aku Pancasila"?

Kita gak bisa milih lahir di mana, dari rahim siapa. Ke-Indonesia-an kita ini warisan. Pancasilanya juga warisan. Apakah pancasila ini paling benar? Mungkin gak sih ada yang lebih adiluhung dari Pancasila?

Gak semua orang di dunia ini mewarisi pancasila. Orang-orang di Nikaragua itu contohnya. Terus, patutkah kita mengasihani mereka karena tidak kenal pancasila?

Orang Amerika ga kenal pancasila. Negara mereka menjadi adidaya tanpa pancasila. Mereka liberal. Bertentangan dengan pancasila. Tapi adidaya.

Cina itu komunis. Bertentangan dengan pancasila. Tapi maju.

Setau saya, tidak ada negara maju yang kenal pancasila. Patutkah kita mengasihani mereka karena mereka tidak pancasila? Atau justru mereka yang harusnya mengasihani kita karena Negara Indonesia begini-begini saja.

HTI mau dibubarin (sudah dibubarin?) karena bertentangan dengan pancasila. HTI mau menegakkan khilafah berdasarkan syariat Islam.

Kenapa dilarang? Pancasila lebih hebat dari syariat Islam? Mungkin. Belum ada buktinya.

Tapi kalau ada negara Islam yang pernah mahsyur menjadi pusat peradaban dunia dengan para cendikianya, itu sudah ada buktinya. Haruskah kita mengasihani mereka yang mau menegakkan khilafah? atau justru kita yang harusnya dikasihani?

Bangsa kita, ngeliat Tatan masuk 9gag aja udah menggelinjang setengah mati. Liat ada bule belajar jadi dalang bangganya sampe ke bulan pulang-pergi 3 rit. Kata Om Joko Anwar, bangsa kita terlalu inferior. Orang Amerika ngeliat orang Indonesia pake celana jeans biasa aja. Kita, liat bule pake batik langsung mabuk kepayang.

Kalo kata pak presiden, negara lain sudah bicara mobil fantasi masa depan, spaceX, kita masih sibuk dengan urusan cantrang. Terlalu remeh.

Oke, udah mulai melenceng. Kembali ke pancasila. Kenapa kita gak bisa menerima orang yang berideologi lain. Boleh saja fanatik dengan satu ideologi, tapi jangan berlebihan juga. Yang pancasilais ga perlu ngelarang-larang yang Islamis. Yang Islamis, juga mestinya gak perlu ngelarang-larang yang komunis.

Yang nasionalis dipersekusi. Yang agamis dikriminalisasi. Yang komunis digebuk. Terus siapa yang menang?

Kita bisa hidup rukun dengan orang yang beda agama, tapi kenapa kita gak bisa hidup rukun dengan orang yang beda ideologi?

Kalau beragama itu urusan personal, harusnya berideologi juga. Yang dibutuhin tinggal saling pengertian, kurangi rasa curiga. Sekali lagi kita perlu belajar untuk bisa menerima perbedaan.

Semoga Indonesia bisa segera damai.

*) Tulisan ini dibuat untuk lucu-lucuan menanggapi tulisan berjudul Warisan buatan Afi Nihaya Faradisa yang sempat jadi viral dan kontroversi. Kalau ada yang nanggepin secara serius tulisan ini, ya itu masalah dia sendiri. =)

Minggu, Januari 22, 2017

Pangkas Rambut

Sekitar tahun 2000, pertama kalinya Saya melihat tempat pangkas rambut dengan hiasan lampu silinder bercorak putih-biru-merah khas barbershop Eropa dan Amerika Serikat di dekat rumah. Sebagai orang yang masih berkewajiban memakai seragam putih-biru, memangkas rambut di tempat demikian tidak menjadi prioritas. Lebih baik uangnya ditabung untuk membeli pita kaset musik band terbaru.

Kisah potong rambut saya lebih banyak terjadi di tempat pangkas rambut biasa. Saya masih ingat tempat langganan saya ketika SD sampai SMA dulu. Sebuah bangunan kecil seukuran 3x5 meter persegi dengan pintu papan susun yang ditahan dengan sebilah palang. Kios ini biasa buka pukul 08.00. Kalau hari libur, beberapa orang biasanya sudah menunggu sebelum jam buka.

Berteman tumpukan lembaran harian poskota yang diantar tiap hari ke kios itu, orang-orang setia menunggu. Sampai akhirnya bapak pemilik kios ini datang dengan sepeda motor bututnya. Dibukanya pintu papan satu per satu. Lalu menyemburlah ratusan ekor nyamuk dari dalam. Kalau malam, tempat ini memang menjadi sarang nyamuk. Pernah beliau berkelakar, "kalau mau kurus, nginep aja semalem di sini."

Konsumennya sebagian besar anak sekolahan. Mereka yang merasa rambutnya sudah mulai tak sesuai dengan aturan sekolah. Mereka rela melewatkan Doraemon dan Dragonball demi menghindari gunting serampangan guru mereka yang rutin merazia rambut pada Senin, esok harinya lepas upacara bendera.

"Kumisnya gak sekalian dicukur?", kalimat canda ini selalu diulang bapak pencukur ini kepada saya tiap memangkas rambut. Canda belaka, karena sampai akhir SMA, saya memang tidak berkumis.

Kebiasaan bercukur di tempat pangkas rambut seadanya ini terus berlanjut meski saya berpindah-pindah kota. Saya merasa lebih nyaman memangkas rambut di tempat yang dikelola mandiri seperti ini. Pemangkas rambut, merangkap kasir, dan juga pembersih ruangan. Lengkap.

Sampai akhirnya sekitar tiga tahun lalu, mulai menjamur tempat pangkas rambut yang terlihat fancy. Desain interiornya diperhatikan dengan detail. Bukan hanya sekedar poster ragam model rambut dengan judul "Top Collection" yang dibiarkan tergantung bertahun-tahun sampai diliputi debu.

Seiring waktu, rasa penasaran untuk mencoba tempat pangkas rambut yang nyaman, ber-AC, dan sofa ruang tunggu makin meningkat. Ada satu pangkas rambut fancy seperti ini yang buka di dekat rumah ketika bulan puasa tahun lalu. Di depannya ada spanduk bertuliskan "RAMADHAN PROMO: 50% off every 02.00 - 04.00 PM." Melihat potongan harga yang lumayan, makin tertariklah saya. Sayang, sampai lebaran datang, rambut saya belum butuh dipangkas. Gugurlah keinginan mencoba tempat pangkas rambut tersebut dengan harga miring.

Dalam medio singkat semenjak lebaran tersebut sampai sekarang, makin menjamur tempat pangkas rambut keren di sekitar rumah saya. Terbit kembalilah rasa penasaran tersebut.  Mungkin menunggu di ruang yang nyaman tidak akan semembosankan di tempat saya biasa menunggu sambil mengipas-ngipas muka dengan lipatan koran bekas. Mungkin servis tambahan pijat di pangkas rambut keren itu lebih enak. Sampai akhirnya, saya memutuskan bahwa saya akan mencoba sensasinya.

Keputusan sudah dibuat, maka kaki pun melangkah. Dalam perjalanan menuju ke tempat pangkas rambut keren itu, tepat di seberang alfamart yang martabak di parkirannya sering dipanggang kelewat gosong, saya melihat tempat pangkas rambut old-skul mirip dengan yang biasa saya kunjungi ketika bersekolah dulu.  Dari dalam kios terdengar suara sember lagu yang berasal dari radio AM tua yang suaranya timbul tenggelam seiring angin yang berhembus. Ruangan 3x5 meter persegi dengan dua set bangku cukur lengkap dengan cerminnya. Dua set tempat cukur, namun hanya ada satu orang pemangkas rambut. Pemangkas rambut yang duduk setengah jongkok di depan kiosnya membaca koran lusuh. Pemangkas rambut yang tadinya bertandem dengan mertuanya di set tempat cukur sebelahnya.

Seketika itu juga saya mengubah tujuan saya. Tidak jadi pangkas rambut di tempat keren. Saya memutuskan memangkas rambut saya di tempat tersebut. Bukan karena kenyamanan yang ditawarkannya, tapi karena saya merasa inilah hal yang benar.

Lagian kalau dipikir-pikir, ngapain juga saya pangkas rambut di tempat yang kelewat keren. Memangnya saya presiden?

Jumat, Desember 19, 2014

Atribut Keagamaan, Stereotipe, dan Kebebasan Berkeyakinan

Seperti pernah saya ceritakan sebelumnya, guru agama saya pernah mencubit perut saya karena sholat tanpa peci. Padahal peci bukan syarat sah sholat. Peci juga tidak berfungsi menutupi aurat. Orang yang naik haji saja tidak berpenutup kepala. Lalu kenapa saya harus dicubit? Guru saya sudah mencampuradukkan antara kebudayaan dan ibadah.

Peci bukan bagian dari ibadah sholat. Memang peci kerap dipakai ketika orang sholat. Tapi sebenarnya kehadiran peci tidak lebih penting daripada ketupat yang selalu ambil bagian ketika Idul Fitri. Siapa saja bisa makan ketupat. Siapa pun bisa memakai peci. Bahkan ketika masa orde baru, peci menjadi semacam identitas nasional, bukan atribut keagamaan.

Derajat keimanan seseorang tidak bisa dinilai dari pakai peci atau tidak. Maka tidak mungkin juga mengetahui keyakinan seseorang hanya melalui pakai peci atau tidak. Memang peci identik dengan orang Islam, tapi bukan berarti orang bukan Islam tidak boleh memakai peci. Bukan berarti tiap orang yang memakai peci seketika itu juga tiba-tiba menjadi beragama Islam.

Peci hanya stereotipe. Sama saja dengan topi sinterklas. Sama juga dengan ketupat. Saya yakin penganut agama nasrani di awal-awal penyebarannya pun tidak berdakwah dengan cerita seorang kakek di kutub utara yang tiap akhir tahun berkeliling dunia dalam satu malam memberikan hadiah ke rumah-rumah melalui cerobong asap. Bahkan saya tidak yakin apa ada cerobong asap di rumah-rumah Yerusalem ketika itu. Sama tidak yakinnya apakah konsep kutub utara sudah bisa diterima dengan baik ketika itu. Lha, Galileo Galilei yang lahir belakangan dan mengenalkan konsep bumi itu bulat saja tidak langsung diterima pihak gereja.

Ini simbol salju, bukan simbol keagamaan

Diskusi soal bagaimana seharusnya sikap umat Islam dalam menyikapi natal selalu menjadi perbincangan tiap tahun. “Gak selesai-selesai,” kata orang.

Tentu saja tidak akan pernah selesai, lha wong natalnya memang datang tiap tahun. Jadi wajar saja kalau adu argumen soal bagaimana menyikapi natal oleh umat Islam akan terus dibahas tiap tahun. Tiap Ramadhan juga selalu yang dibahas adalah soal berpuasa agar menjadi orang bertaqwa, tapi tidak ada yang komentar, “temanya ini melulu.”

Semua orang boleh berpendapat, memberikan argumen, dan juga dalil. Yang tidak boleh adalah memaksakan pendapatnya. Jika ada orang Islam yang meyakini bahwa mengucapkan selamat natal itu tidak apa-apa, maka orang lain harus menghormatinya. Boleh mempengaruhinya, menasihatinya, dan mengajaknya diskusi. Tapi tidak perlu melarang-larang sambil membawa pentungan. Cukup diingatkan saja.

Di lain sisi, jika ada orang Islam yang meyakini memakai topi sinterklas itu haram, maka orang lain pun tidak punya hak memaksanya. Sekedar memintanya untuk mengenakan sih boleh saja. Tapi kalau yang bersangkutan menolak, ya jangan dipaksa-paksa, tidak usah disindir-sindir. Apalagi diancam potong gaji, diberi surat peringatan, sampai dipecat.


Lalu bagaimana dengan peringatan natal yang rencananya akan dihadiri oleh presiden –yang adalah muslim-. Harusnya tetap berpulang kepada keyakinan pribadi presiden itu sendiri. Kalau menurutnya tidak apa-apa baginya yang seorang muslim untuk datang ke acara tersebut, ya silahkan saja. Toh peringatan natal bukan bagian dari ibadah natal.

Teman-teman yang bukan Islam pun banyak yang datang ke acara buka puasa bersama atau halal bil halal. Tidak ada yang melarang. Lain halnya kalau orang tersebut ikut sholat Ied, bolehlah dikeluarkan dari shaf.

Namun jika presiden memiliki keyakinan bahwa menghadiri acara tersebut bertentangan dengan ajaran yang dia anut, maka keyakinan presiden ini harus dihormati juga. Tidak perlu merengek-rengek dengan berkata bahwa presiden adalah milik rakyat Indonesia, bukan hanya warga muslim Indonesia. Rasanya muslim manapun, mulai dari yang puritan semacam Habib Rizieq sampai yang paling liberal macam Ulil Abshar pun, tidak akan ambil pusing apakah Ahok akan mengucapkan selamat Idul Fitri atau tidak kepada warga DKI Jakarta.



Kalau ada orang yang menolak mengucapkan selamat hari raya kepada umat agama lain, tidak perlu juga dicap sebagai bigot. Selama orang-orang ini tidak mengganggu ibadah orang lain, tidak menutup paksa rumah ibadah agama lain, ya biarkan saja. Keyakinan itu urusan masing-masing. Beda agama jelas beda cara beribadahnya, namun yang satu keyakinan pun bisa jadi beda cara mengamalkan. Di mana pun letak perbedaannya, yang penting tetap saling menghormati. 

Jumat, Juni 27, 2014

Menolak Penolakan "Yuk Keep Smile"

Salah satu adegan “Yuk Keep Smile” (23/6/2014) kembali membuat berang sebagian masyarakat. Membandingkan anjing dengan Alm. Benyamin Sueb tentu amat melukai perasaan penggemar Bang Ben. Namun apakah permintaan menghentikan tayangan “Yuk Keep Smile” adalah solusi yang tepat di tengah masyarakat yang mengaku menjunjung demokrasi?
Seandainya yang meminta “Yuk Keep Smile” berhenti tayang adalah mereka yang tempo hari meminta penganut ajaran Ahmadiyah menghentikan kegiatan keagamaannya, maka saya bisa maklum. Orang-orang ini jelas tidak memahami –atau bahkan tidak mengakui- arti demokrasi. Namun jika ternyata yang meminta “Yuk Keep Smile” berhenti tayang adalah mereka yang membela penganut Ahmadiyah dengan dalih kebebasan beragama, maka maafkan saya apabila saya bilang mereka adalah orang-orang munafik.
Tayangan “Yuk Keep Smile” –sebodoh apapun itu- tetap harus dianggap sebagai manifestasi kebebasan berekspresi. Sama dengan penganut Ahmadiyah yang harusnya dijamin bebas menjalankan ibadahnya sebagai bagian dari kebebasan beragama. Kenapa harus dilarang? 
Apabila benar dihentikan, bukan tidak mungkin “Yuk Keep Smile” akan bermetamorfosis menjadi acara lain, namun esensinya sama-sama saja. Sejarah membuktikan bahwa acara “Empat Mata” yang dihentikan akhirnya lahir kembali sebagai “Bukan Empat Mata”. Bukan hanya kontennya yang tidak berubah, Pemilihan judul “Bukan Empat Mata” sendiri adalah sebuah cemoohan yang terang benderang bagi mereka yang sebelumnya minta acara “Empat Mata” dibredel.
Jika memang ada perlakuan yang tidak pantas dalam sebuah acara televisi, maka harusnya yang dihukum adalah orang-orangnya. Siapa mereka? Pengisi acara yang melakukan penghinaan. Produser acara yang bertanggung jawab atas acara tersebut. Bahkan, bukan tidak mungkin, penonton yang menertawakan hinaan tersebut. Namun jangan pernah sekali-kali meminta acaranya yang dihentikan.
Kondisi ini menunjukkan pada kita bahwa ternyata “demokrasi”, “kebebasan berpendapat”, “kebebasan beragama” tidak diletakkan sebagai pondasi berpikir dan bertindak. Jargon-jargon tersebut ternyata hanya senjata, dikeluarkan jika memang dibutuhkan. 
Setiap orang tentu memiliki kondisi idealnya masing-masing. Ada orang yang merasa resah ketika mengetahui tetangganya adalah penganut Ahmadiyah. Padahal kalau dipikir, solusinya mudah. Batasi saja pergaulan dengan tetangga tersebut. Ada juga orang yang resah ketika tontonan yang tayang di televisi adalah acara yang bodoh. Khawatir anaknya ikut menjadi bodoh. Padahal solusinya juga tidak kalah mudah. Ganti saja kanal televisinya atau sekalian matikan televisinya.

Rabu, November 21, 2012

Orang Madura & Stereotipe di Sekitarnya

Beberapa suku di Indonesia punya stereotipe tertentu mengenai pekerjaannya. Misalnya, orang batak identik dengan sopir bus & angkot, tukang tambel ban, atau pengacara. Contoh lainnya orang padang identik sebagai pedagang.
Selain ada stereotipe yang sifatnya nasional seperti di atas, ada juga yang sifatnya lokal. Maksudnya lokal adalah, stereotipe itu cuma berkembang di daerah tertentu saja. Misal di Jabotabek ada stereotipe kalau orang Tasikmalaya identik sebagai tukang kredit. Orang di Sumatera mungkin tidak akan "ngeh" dengan stereotipe ini.
Orang Madura pun punya stereotipe atas pekerjaannya. Beberapa stereotipe yang sudah level nasional tentu saja adalah tukang sate dan tukang bubur. Selain stereotipe yang sifatnya nasional, orang madura juga punya stereotipe yang sifatnya lokal. Misalnya di Magelang, orang madura sering diasosiasi dengan tukang pangkas rambut. Hal ini tidak dikenal di Jabotabek, karena di Jabotabek tukang pangkas rambut identik dengan para Asgar (Asli Garut).
Satu stereotipe terkenal lain mengenai orang madura adalah sebagai tukang pengumpul besi tua. Sebenarnya stereotipe ini hanya bersifat lokal di Jabotabek, tapi menjadi terkenal karena arus informasi berpusat di Jakarta, lokasi di mana stereotipe ini berkembang.

Jembatan Suramadu (sumber gambar)


Medio 2009 lalu, ketika Jembatan Suramadu baru diresmikan, sempat ada kabar kalau baut-baut di Suramadu hilang. Awalnya Saya tidak percaya, namun ternyata memang benar kabar itu. Kemudian muncul tuduhan bahwa orang Madura, yang menurut orang Jakarta "rajin mungutin" besi-besi di jalan, sebagai penyebabnya.
Sebuah tuduhan yang tidak berdasar menurut Saya. Beberapa argumen yang bisa Saya gali antara lain adalah  sebagai berikut:


Stasiun Kereta Kamal 
  1. Pertama, ada kemungkinan bahwa baut-baut itu memang belum terpasang. Jadi ketiadaan baut-baut dan plat penutup jalan tersebut bukan dikarenakan hilang, namun lebih karena pekerjaannya yang memang belum selesai.
  2. Stereotipe orang Madura adalah pengumpul besi adalah stereotipe lokal. Kebetulan karena stereotipe ini berkembang di Jakarta, kicauan ini lebih cepat tersebar, bahkan sampai masuk ke dalam meja redaksi media-media arus utama.
  3. Kereta api dulu pernah beroperasi di Madura. Sampai saat ini, sisa-sisa rel besinya masih membentang dari Pelabuhan Kamal sampai pusat Kota Bangkalan, bahkan sampai terus ke Sampang di sisi timur. Jika memang orang-orang di Madura memang oportunis dalam mengumpulkan besi, lalu kenapa sisa-sisa rel ini masih tergeletak begitu saja dari tahun 1987 sampai hari ini?
Rel Kereta yang Terbengkalai Masih Ada Sampai Saat Ini

Minggu, Oktober 07, 2012

Ada Tiwul Goreng di Obrok-Obrok

Nama lokalnya obrok-obrok. Disebut demikian karena ketika sepeda motornya berjalan di areal perkebunan yang jalannya bergelombang, isi rak jualannya terbanting-banting sehingga menimbulkan suara "obrok-obrok-obrok-obrok".

Obrok-obrok

Obrok-obrok adalah istilah untuk pedagang makanan yang biasa berkeliaran di areal perkebunan tebu di Lampung. Mereka berkeliling dengan menggunakan sepeda motor. Sementara barang dagangannya disusun di dalam rak yang ada di bagian belakang sepeda motor.

Target pasar obrok-obrok adalah para buruh harian di areal perkebunan. Di mana ada kerumunan manusia, di sanalah obrok-obrok berada. Utamanya adalah di areal tebangan di mana banyak buruh tani memanen batang tebu untuk diangkut ke truk dan dibawa ke pabrik. Di satu areal tebangan, bisa ada dua sampai lima obrok-obrok parkir.

Umumnya pekerja ini membeli dengan sistem bon. Setiap kelompok kerja biasanya sudah punya obrok-obrok langganan. Makanan yang dibeli dicatat oleh si penjual. Pembayaran biasa dilakukan di akhir pekan tiap sabtu, hari ketika para pekerja menerima gaji.

Dagangan yang tersusun di rak obrok-obrok cukup variatif. Mulai dari gorengan sampai nasi uduk. Minuman es pun tersedia, yang paling populer adalah es marijan. Sebenarnya es marijan ini adalah air es dengan campuran minuman energi sachet-an. Disebut es marijan karena bintang iklan produk tersebut adalah almarhum Mbah Marijan, sang juru kunci Gunung Merapi.

Salah satu menu unik yang biasa ada di obrok-obrok adalah tiwul goreng. Saya pertama kali kenal makanan ini karena melihat teman saya, yang sesama pengawas lapangan, makan dengan lahap di atas sepeda motornya.

"Mau, Re?" dia menawarkan. Awalnya saya agak sangsi dengan apa yang ia makan.

"Tiwul goreng. Rasanya kayak nasi goreng," Dengan logat Jogja kota asalnya, ia menjelaskan panganan yang sedang dimakannya.

Dari namanya, tiwul jelas berasal dari Jawa. Tiwul terbawa ke Lampung bersama dengan arus transmigrasi yang demikian masif semenjak awal 1900-an. Demikian masifnya, sampai-sampai wilayah di Lampung pun banyak yang "berbau" Jawa, sebut saja Way Jepara dan Pringsewu. Di pedesaan, jangan heran jika menemui anak-anak bawah lima tahun yang tidak bisa berbahasa Indonesia dan hanya mengenal bahasa Jawa. Umumnya mereka baru mengenal bahasa Indonesia ketika duduk di bangku Sekolah Dasar.


Tiwul Goreng

Kembali ke tiwul. Tiwul sendiri sederhananya adalah tumbukan singkong yang sudah dikeringkan. Untuk membuat tiwul goreng, tiwul dicampur dengan beras kemudian dimasak menjadi nasi tiwul. Hasilnya kurang lebih seperti campuran nasi dan jagung pada nasi jagung. Selanjutnya nasi tiwul itu dimasak seperti membuat nasi goreng. Inilah yang disebut dengan tiwul goreng.

Berbeda dengan ekspektasi awal saya, ternyata rasa tiwul goreng itu enak, bahkan cenderung ke "enak banget". Sebungkus tiwul goreng lengkap dengan sepotong tempe hanya seharga Rp 2.500,00. Citarasanya tidak jauh berbeda jika dibandingkan dengan nasi goreng biasa. Sedikit perbedaan hanya pada teksturnya yang cenderung liat. Selain itu, Tiwul goreng juga lebih "nendang" daripada nasi biasa. Sebungkus kecil tiwul goreng sudah cukup untuk mengganjal perut selama seharian muter-muter di kebun  tebu.

Akhirnya, kegiatan mencari tiwul goreng untuk sarapan ini menjadi kebiasaan baru saya dan teman saya. Setiap pagi, setelah selesai memprogram rencana irigasi dan traktor untuk perawatan tebu bersama anak buah, kami selalu meluncur ke lokasi tebangan, mencari obrok-obrok. Setelah itu, biasanya kami mencari rimbunan tebu yang sepi untuk sarapan. Bersembunyi dari Manajer Wilayah yang sewaktu-waktu bisa saja memergoki kami mencuri waktu sejenak untuk sarapan.

Kebun Tebu

Tiwul yang selama ini identik dengan makanan inferior, ternyata jika ditilik dari harganya kini sudah layak untuk "naik kasta". Bukan karena saya dan teman saya yang orang kota bisa jatuh cinta pada cicipan pertama pada tiwul. Namun karena harga tiwul dari hari ke hari semakin meroket.

Di daerah Lampung Tengah dan Lampung Timur, harga tiwul mencapai Rp 8.000,00 per kilogramnya. bandingkan dengan harga beras kualitas sedang di sini yang hanya Rp 7.000,00 per kilogramnya. Berdirinya beberapa pabrik bioetanol berbasis singkong di Lampung agaknya turut punya andil dalam melambungkan harga tiwul.

Namun demikian, meskipun harganya kian hari makin meroket, rasanya tiwul tidak akan pernah dilupakan oleh penggemar awalnya. Ia akan tetap setia bersama mereka yang semenjak dulu telah mengenalnya,  para pekerja kelas bawah.


Selasa, November 08, 2011

Jarak Antara Syariat Islam dan Islami


Prof. Komarudin Hidayat sabtu lalu (5 Nov 2011) bikin tulisan di kompas dengan judul "Keislaman Indonesia". Beliau banyak ngutip tulisan "How Islamic are Islamic Countries", tulisan Rehman dan Askari yang dimuat di Global Economy Journal 2010 lalu. Intinya, ternyata Indonesia dan negara-negara OKI umumnya gak lebih Islami daripada negara-negara sekuler yang ada di eropa atau bahkan New Zealand sekalipun.

Sementara gerakan keislaman di Indonesia masih banyak menghabiskan tenaganya untuk melabeli hukum dengan nama "syariat islam", di luar sana, negara yang sekuler justru lebih bisa mengedepankan apa-apa yang disyariatkan oleh Islam tanpa ada label syariat atau bahkan mungkin tanpa pernah mendapatkan referensi mengenai syariat Islam tersebut. Ternyata masih ada jarak antara label syariat dan kehidupan Islami itu sendiri.

Tapi tentunya tetap menarik untuk menyimak kelanjutan Undang-Undang Zakat, Infaq, dan Shodaqoh yang baru saja disahkan DPR. Apakah infiltrasi syariat Islam ke dalam hukum positif Indonesia bisa berhasil atau tidak?

NB: Iseng-iseng, nemu spin off dari How Islamic are Islamic Countries yang lebih menitikberatkan pembahasan ke soal ekonomi, An Economic Islamicity Index. Tentunya sektor ekonomi yang dibahas di sini tidak terbatas hanya soal finansial yang sering menggempur konsep bunga (riba). Ada 12 area yang dijadikan parameter, mulai dari sistem finansial sampai ke pengembangan kemakmuran dan struktur sosial dalam upaya menjamin persamaan hak dalam mendapatkan kemakmuran, kesehatan, dan lain sebagainya.

Jumat, Agustus 12, 2011

(A)Politik dalam Lagu

Sebenarnya iklim kebebasan berpendapat di Bandung sangat baik. Banyak muncul diskursus yang menelurkan dan mengembangkan berbagai jenis pemikiran. Mulai dari yang paling idealis sampai yang paling oportunis. Mulai dari kanan habis sampai kiri mentok.
Manifestonya dalam budaya musik mereka bisa dengan terang kita lihat. Mulai dari musik bling-bling urban sampai sampai shoegaze yang muram. Mulai dari pop yang terkena gejala ADHD sampai metal yang mencekam.
Dari sekian banyak lirik yang mengalir, ada satu catatan mengenai sikap politik yang dipilih oleh sebagian musisi kota Ini. Dari sekian banyak lirik politik yang ada, ternyata pilihan untuk menjadi apolitis adalah tema yang paling jamak diramu dalam nomor-nomor yang dihadirkan.
Saya mencatat pertama kali sikap apolitis tersirat dalam lagu "impresi" yang dibawakan Pas Band. Secara gamblang mereka tidak pernah menyatakan sebagai pribadi yan apolitis, tetapi dari liriknya jelas tersirat hal tersebut.
"Aku sudah bosan dengarkan kata-kata, Aku sudah muak dengarkan ceritamu. Dan aku sudah lelah dengar harapan." (Impresi - Pas Band)
Lagu yang video klipnya dilarang untuk diputar di seluruh stasiun TV nasional ini adalah sebuah pernyataan yang lugas bahwa mereka apolitis tanpa harus menyebut bahwa mereka adalah apolitis.
Sikap ini kemudian dipertebal beberapa belas tahun kemudian ketika kemudian Pas Band mengeluarkan lagu "Jengah". "Jengah" adalah sebuah "Impresi 2.0". Jengah adalah Impresi yang di-remake. Untungnya, remake ini adalah remake yang sukses.
"Kita bosan dengarkan banyak alasan. Kita bosan dengarkan cerita." (Jengah - Pas Band)
Lepas dari Pas Band, sikap apolitis juga dihadirkan oleh Homicide. Grup yang dalam salah satu pertunjukannya menyebut bahwa pilihan ideologi mereka adalah ideologi pertemanan. Entah ideologi macam apa itu.
Homicide adalah sebuah grup hip-hop yang berotakkan budayawan kontemporer bernama Ucok. Entah sudah berapa ratus judul literatur yang dilahap sampai Ia mampu merapalkan sikap apolitisnya dalam ide orang berdasi namun dengan "dialek" preman pasar.
Di banyak lagu, Ia menyatakan berbagai hal, namun muaranya sama, apolitis. Mulai dari ketidakpercayaannya pada demokrasi kotak suara sampai pada ajakannya untuk melawan dengan "botol kecap", sebuah pilihan majas yang unik untuk merujuk pada bom molotov.
Salah satu lirik yang patut menjadi sorotan adalah "Barisan Nisan". Sebuah sajak yang dibalut dengan nada monoton yang membangun suasana mencekam. Sebuah sajak yang bercerita mengenai kegundahan dalam menghadapi hidup. Sebuah perenungan mengenai apa perlunya untuk menjadi pribadi yang peduli terhadap politik versus apolitis.

"Jangan ijinkan aku mendisiplinkan diri ke dalam barisan." (Barisan Nisan - Homicide)
Terakhir adalah Cupumanik. Band grunge ini menjadi pelengkap gerbong musisi apolitis. Dalam lagu "Luka Bernegara", Cupumanik menyatakan sikapnya. Dengan lirik yang naratif namun tetap tak kehilangan keindahan yang puitis, Cupumanik mencoba bercerita mengenai keheranan mereka atas keadaan politik negara mereka. Lirik lagu ini adalah sebuah esai kausalitas mengenai pilihan hidup mereka. Sebuah runutan kejadian dan pembenaran atas sikap mereka.

"Tinggal di negara yang sakit, kami harus menjaga diri kami tetap waras." (Luka Bernegara - Cupumanik)
Menjadi apolitis adalah pilihan. Sebuah pilihan yang biasanya diambil setelah dikecewakan oleh sebuah sistem. Inilah dasar dari seorang anarcho (saya menghindari pemakaian kata anarkis, karena biasanya diasosiasikan dengan keadaan yang kacau-balau). Mengutip perkataan orang lain, "Karena sebaik apapun, sebuah sistem tetap beresiko mati oleh potensi mereka sendiri."

Minggu, Juli 04, 2010

Semangkuk Mie Ayam

Semangkuk Mie Ayam Polos


Beberapa meter setelah gerbang Sekolah Dasar di mana saya menimba ilmu dulu, tepat di pojokan depan Gedung Cabang Muhammadiyah, ada tenda mie ayam yang benar-benar laris. Pelanggannya beragam. Mulai dari sopir antar jemput sampai orang tua murid. Dari pedagang mainan yang berjejer di sekitarnya sampai guru-guru. Setiap hari dagangannya hampir pasti habis. Lepas jam satu siang, sang pedagang biasanya sudah berkemas-kemas untuk pulang.



Saya masih ingat harganya. Satu porsi Rp 700,00 dan setengah porsi Rp 500,00. Untuk saya yang ketika itu uang jajannya hanya dijatah Rp 6.000,00 per bulan, tentu saja mie ayam saya kategorikan ke dalam barang mewah. Barang tersier. Bukan hanya untuk saya, teman-teman yang lain pun menganggapnya demikian. Mie ayam adalah sebuah kasta dengan prestise selanjutnya setelah somay dan es serut berbentuk payung kuncup. Makanan para priyayi. Makanan anak orang kaya. Makanan yang oleh sebagian anak lain hanya bisa dinikmati setelah merengek setengah mati ke orang tuanya yang kebetulan sedang menjemput. Makanan yang biasa dihadiahkan orang tua kepada anaknya setelah pembagian raport.



Beberapa kali teman-teman saya patungan untuk membeli mie ayam. seratus rupiah per anak. Jadilah setengah porsi mie ayam dikeroyok lima anak. Saya sendiri lebih memilih untuk menahan-nahan untuk hemat jajan di awal bulan, agar ketika akhir bulan bisa mendapatkan sisa uang untuk membeli mie ayam.



Dulu saya suka sekali menambahkan banyak-banyak saus murahan khas yang biasa ada di tukang mie ayam ke dalam mangkuk. Entah kenapa. Padahal sekarang saya tidak pernah menambahkan saus pun kecap ke dalam mie ayam. Mungkin warna kuning genteng menyalanya yang membuat saya tertarik ketika itu.



Seiring perjalanan waktu, saya menemukan bahwa mie ayam tidak lagi menjadi makanan yang wah. Apalagi setelah berkali-kali menemukan mie ayam dengan rasa gak karuan. Sekarang, tiga belas tahun lebih setelah pengalaman saya ketika sekolah dasar, saya menemukan sekelompok masyarakat yang menganggap mie ayam sebagai lambang kemewahan. Makanan khusus yang dimakan pada waktu khusus pula.



Tersebutlah pasar payroll. Pasar yang hanya hadir di hari sabtu dari siang sampai sore. Disebut pasar payroll karena hadir di dekat loket payroll. Loket pembagian gaji untuk buruh tani di sebuah perusahaan perkebunan tebu di pangkal Sumatera.



Pedagang yang berjualan di sana tidak sampai tiga puluh. Sebagian menjual kaos murah meriah dan kemeja bekas. Sebagian yang lain menjual peralatan rumah tangga. Namun dari sekian banyak pedagang tersebut, yang paling banyak adalah pedagang mie ayam.



Makan mie ayam menjadi semacam lambang penghargaan atas jerih payah buruh tani yang telah seminggu penuh membanting tulang untuk dua sampai tiga ratusan ribu rupiah. Terkadang kurang. Enam sampai delapan jam sehari. Enam hari seminggu, bahkan tujuh. Itulah waktu yang harus mereka setor demi menyambung hidup keluarganya. Untuk semua kerja keras itu, semangkuk mie ayam di akhir pekan adalah cara mereka untuk merayakannya. Sebuah cara yang meriah untuk mereka, tapi mungkin biasa-biasa saja untuk orang-orang kebanyakan.

Kamis, Januari 28, 2010

Sajak Suara

salah satu acara pembuka South to South Film Festival 2010 yang lalu adalah pembacaan puisi oleh dua orang anak korban lumpur Lapindo. dalam acara gladi resik, saya sempat menemani kedua anak itu mencoba sistem suara yang ada di panggung.

dengan lantang salah satu anak itu membacakan beberapa deret kalimat yang tercetak di selembar kertas yang sudah kumal. sementara rekannya memainkan nada-nada diatonik melalui piano mainan sebagai musik latarnya.

sebelumnya saya sempat berpikir bahwa mereka akan memainkan puisi karya mereka sendiri. ternyata yang mereka bawakan adalah milik orang lain. kaget juga mendengar permainan diksi dari puisi yang dibawakan anak itu. bait-baitnya keras menghentak meski tidak kasar. tidak mungkin ini adalah gubahan anak kecil.

setelah dua bait, saya mulai merasakan aroma-aroma HOMICIDE. sambil mengingat-ingat lagu HOMICIDE mana yang mirip dengan puisi tersebut. terus terang saya tidak pernah benar-benar mencoba menghafalkan lirik lagu-lagu HOMICIDE, kecuali barisan nisan. itupun lebih dikarenakan barisan nisan adalah satu-satunya lagu (atau sajak?) yang dilafazkan mereka dengan suara terang.

akhirnya waktunya pentas. sepanjang pembacaan puisi saya bersiap di sisi panggung. maklum, kebagian tugas menyiapkan panggung. lepas pembacaan puisi, kawan di sebelah saya bertanya,"tau gak tadi itu puisi siapa?"

"gak tau.. emang siapa?"

"widji tukul," ujarnya.

namanya memang tidak asing di telinga saya. sebagai salah satu korban keganasan praktik penghilangan orang, nama Widji Tukul telah melegenda jauh sebelum Munir wafat. namun demikian, saya baru satu kali mendengar puisinya. ah, miskin sekali wawasan sastra saya ini. setelah ditelisik lebih jauh, ternyata puisi yang dibawakan malam itu memang begitu melegenda di kalangan ekstrimis aktivis kemanusiaan, sampai-sampai HOMICIDE menginterpretasikan puisi ini ke dalam sebuah lagu dengan judul yang sama. inilah puisi yang dibawakan malam hari itu.

Sajak Suara

sesungguhnya suara itu tak bisa diredam
mulut bisa dibungkam
namun siapa mampu menghentikan nyanyian bimbang
dan pertanyaan-pertanyaan dari lidah jiwaku

suara-suara itu tak bisa dipenjarakan
di sana bersemayam kemerdekaan
apabila engkau memaksa diam
aku siapkan untukmu : pemberontakkan!

sesungguhnya suara itu bukan perampok
yang merayakan hartamu
ia ingin bicara
mengapa kaukokang senjata
dan gemetar ketika suara-suara itu
menuntut keadilan?

sesungguhnya suara itu akan menjadi kata
ia yang mengajari aku untuk bertanya
dan pada akhirnya tidak bisa tidak
engkau harus menjawabnya
apabila engkau tetap bertahan
aku akan memburumu seperti kutukan

Jumat, Juni 12, 2009

Terima Kasih

setiap hari kita selalu mengucapkan terima kasih. namun dari sekian banyak terima kasih yang terucap, rasanya tidak semua benar-benar merupakan ungkapan terima kasih. banyak diantara terima kasih itu hanya sekedar kata-kata. kata-kata tanpa makna, karena terima kasih sudah mulai kehilangan maknanya.

saya masih ingat ketika masih aktif sebagai salah satu anggota pecinta alam tempo hari. setiap selesai diberi hukuman push up beberapa seri, selalu ada rasa dongkol. tapi setiap selesai diberi hukuman itu pula kami diwajibkan mengucapkan terima kasih kepada senior yang sudah memberikan hukuman.

terima kasih sudah tidak lagi diucapkan sebagai bentuk penghargaan atas bantuan yang telah diberikan. kita mengucapkan terima kasih tidak lagi dalam makna yang sebenarnya. kita mengucapkan terima kasih kepada petugas di kecamatan yang baru saja mengenakan pungutan liar pada kita. terima kasih bukan diucapkan oleh pak bos kepada anak buahnya setelah pekerjaannya dirampungkan dengan baik, namun justru malah sebaliknya, diucapkan oleh anak buah kepada pak bosnya setelah bersusah payah mengerjakan pekerjaannya.

berterima kasih di depan namun berkeluh kesah di belakang. dan mungkin tidak hanya terima kasih, senyum kita pun mungkin hanya sekedar senyum penuh kepalsuan. apakah kita masih harus berbangga dengan predikat negara yang paling murah senyum sedunia ketika ternyata senyum itu tidak berasal dari hati lagi?

apakah memang bangsa kita adalah bangsa yang penuh dengan kepalsuan? penuh dengan paradoks?
dianiaya tapi berterima kasih.
susah tapi senyum.
naik haji tapi korupsi.

Jumat, Februari 20, 2009

Mental Pengemis

beberapa hari yang lalu, iseng-iseng bikin note di facebook via ponsel. note itu dibuat sepanjang perjalanan angkot dari terminal laladon bogor sampe balai penelitian teknologi karet yang ada di bogor. maksudnya sih iseng-iseng ngabisin waktu di angkot. eh taunya diskusinya jadi menarik... berikut gue lampirin


Mental pengemis mungkin emang udah ngedarah daging di sebagian warga kita.
Gimana gak ngedarah daging? Lha dari umur balita udah diajakin ngegembel sama ibunya di lampu merah. Nanti kalo udah sanggup jalan sendiri, disuruh beroperasi sendiri. Umur bocah emang paling potensial untuk ngegembel, karena orang biasanya lebih gampang iba.

Di satu sisi kita kasian, tapi di sisi laen kalo kita ngasih recehan itu juga gak ngedidik. Kalo kita ngasih mereka uang, itu sama aja nanemin di otak mereka kalo 'beginilah harusnya cara saya nyari uang'. Semakin sering mereka dapet uang, semakin kuat mental mengemis mereka.

Beberapa orang lantas nganjurin kalo emang kasian sama pengemis, jangan ngasih uang, tapi kasih aja makanan. Temen gue, si iqbal, pernah punya kejadian konyol dengan cara ini. Seorang pengemis minta uang ke dia, alesannya untuk beli makanan. Karena gak mau ngasih uang, maka dibawalah pengemis itu ke warung makan terdekat dan dibeliin soto. Bukannya dimakan, gembel itu malah ninggalin warung makan itu tanpa sedikitpun nyentuh makanannya. Dia cuma mau uang.

Kejadian 3 hari yang lalu yang gue alamin agak beda dengan yang dialamin iqbal. Pas gue lagi makan di warung makan, seorang bocah gembel umur 12 taunan masuk. Dengan suara dibuat-buat melas dia minta-minta duit ke orang di meja sebelah gue. Karena gak mau ngasih duit, si mbak yang dimintain itu malah nawarin makan aja,"makan aja ya, tapi di sini aja," mbak itu ngasih tawaran. Si bocah langsung ngangguk-ngangguk setuju. Mbak itupun akhirnya mempersilahkan si bocah mesen apa yang dimau.

Dengan sigap dan suara lantang si bocah mesen ayam bakar pedes ke pelayannya.

Selesai mesen, dia ngedatengin meja gue, suaranya berubah lagi jadi memelas. Ngeliat itu, si mbak yang tadi ngomong,"udah, jangan minta-minta lagi, kan udah dibeliin makan. Duduk sini," si bocah pun nurut.

Sambil nunggu ayam pesenannya dibakar, si bocah taunya berulah lagi. Tanpa malu-malu dia ngomong,"teh, sekalian jus juga ya. Pengen jus nih!"

Lha ne bocah kok malah ngelunjak? Si mbak dengan muka asem bilang,"yey, saya aja cuma minum es teh, kok kamu malah minta jus. Udah, es teh aja!"

Akhirnya si bocah mesen es teh.


Ngadepin pengemis emang susah-susah gampang. Dikasih uang salah, dikasih makan lha kok malah ngelunjak.
Ck ck ck

ternyata, banyak juga yang nanggepin dan semakin nguak fakta muka pengemis-pengemis di sekitar kita. beberapa komentar yang relevan untuk memperkaya khasanah pengetahuan kita antara lain adalah sebagai berikut:

Arban Khoiri pada 22:32 19 Februari
Gua pernah denger cerita dr supir taksi (dan dah gua liat sendiri orang-orangnya). Ada ibu-ibu yang sekeluarga ngemis semue. Yang miris, anak-anaknya aja yang disuruh ngemis. Dari jaman anaknya masiy kecil mpe sekarang dah layak nikah (diatas 18an). Sekarang anaknya yang paling kecil juga ikut-ikutan disuruh ngemis. Ortunya cuma ngawasin aja. Daerah mangkalnya sama dari dulu mpe sekarang, depan Poins Square Lebak Bulus pas bawah jembatan layang. Katanye lagi, dari hasil ngemis, rumahnya dah gedong. Ya iya lah... Sehari bisa dapet 700-800 ribu.

Kukuh Anggoro Wicaksono pada 23:49 19 Februari
gw juga mau koment ah...
waktu itu gw makan batagor or somay sehabis shalat ashar di mesjid raya bogor. dan waktu itu gw n doni bayar tuh makanan pake duit 100rban. dan tukang batagor or somay tsb gak pny kembalian. trus dia tuker ke pengemis di dpn mesjid raya.
yang buat gw kaget adalah saat pengemis tersebut buka dompetnya...
tada..... trnyata isinya lebih dari 100rb dan itu pendapat bersih sehari (gw yang kerja aje cuma 60 rb/hari). sejak itu gw gak pernah ngasih pengemis di depan msjid raya tsb...

ternyata ada pengemis yang mengemis bukan karena mereka nggak bisa atau gak sanggup untuk bekerja, tapi lebih karena lebih mudah mendapatkan uang dengan mengemis, daripada harus capek-capek kerja. tentunya sekarang yang jadi dilema adalah orang yang mau bersedekah. apakah harus memberi atau tidak. peraturan daerah jakarta yang melarang kegiatan mengemis dan memberi uang ke pengemis rasanya emang bener banget. karena hal seperti itu cuma ngebuat budaya ngemis jadi semakin tertanam.

Minggu, Juli 13, 2008

pack a smile 2006

wess... gara-gara postingan gue yang kampanye hemat listrik kemaren, gue jadi semangat masukin lebih banyak gambar ke dalem blog gue. di bawah ini, bisa lo liat beberapa gambar yang diambil gue maupun temen-temen gue.

sekitar dua tahun lalu, gue sempet bolos dari praktek lapang gue untuk bantuin proyek temen gue. proyek itu namanya PACK A SMILE. intinya adalah kita pengen bikin senyuman di wajah anak-anak sekolah di jogja yang baru aja kena musibah gempa.

banyak pelajaran yang bisa gue ambil dari proyek ini. sebuah proyek yang hampir mustahil, tapi tetep bisa terlaksana. lo bayangin aja, ngegabungin puluhan mahasiswa dari singapura, indonesia, dan jepang yang bahkan kebanyakan diantaranya belum pernah ketemu sebelum proyek ini jalan! tapi karena kita punya satu visi (walopun semuanya gak satu misi) akhirnya proyek ini jalan juga.

friksi, perang dingin, dan segala tantangan akhirnya bisa dituntaskan. makasih untuk semua temen-temen yang udah ngasih gue kesempatan untuk bisa gabung di dalem proyek yang ngasih gue begitu banyak pelajaran dalam waktu kurang dari seminggu!

Jumat, Mei 09, 2008

dewi perssik dan julia perez

dua-duanya seksi. ha ha ha... sementara otak gue mandek mau ngomongin apa. mari kita membicarakan hal-hal yang sedikit tidak berguna ini dalam perspektif gue.

gue gak suka dewi perssik karena pribadinya yang menyebalkan. entah penilaian gue bener atau salah, tapi gue ngeliat dewi perssik sebagai orang yang belagu. masih inget ketika walikota tangerang ngelarang pertunjukan dewi perssik di teritorinya? dewi perssik ngelawan dengan congkaknya. bahkan sampe ngancem-ngancem pak walikota segala. oh sintingnya dewi perssik. bukannya simpati, terus terang gue malah semakin jijik dengan dia. tidakkah ada sedikit celah di hatinya untuk melihat ketidak senonohan dirinya? liat juga dia yang ngebangga-banggain kalo dia besar di lingkungan pesantren. pendidikan macem apa yang diajarin pesantren itu ke dia. atau mungkin dia cuma sekedar jualan gorengan di lingkungan pesantren itu? gak ikutan ngaji kali ye... he he he....

sekarang kita liat julia perez. orang yang diisukan sebagai selebritis indonesia yang paling gak punya otak ini punya derajad elevasi otak yang sama aja miringnya dengan dewi perssik. kelakuannya gak bisa dipahamin orang banyak. mulai dari keeksibisionisan beliau sampe omongan-omongan dia yang jauh-jauh dari alat kelamin dan sekitarnya. tapi... entah kenapa... gue sempet beberapa kali dibuat simpatik dengan julia perez.

kejadian pertama waktu gue kebetulan secara gak sengaja nyetel silat lidah pas lagi gonta ganti channel tv. ada surat pembaca yang bilang kalo dia udah ngegugurin kandungannya karena dia hamil di luar nikah. di saat panelis laen berusaha bersikap diplomatis dan normatif dalam menyikapinya, julia perez justru mengambil sikap yang sangat tegas dan frontal. dia bilang keputusan sang penanya untuk menggugurkan kandungan adalah salah. apapun alasan yang dipake tetep aja itu adalah salah dan gak bakal ngebuat itu menjadi bener. satu poin untuk julia perez.=)

kejadian kedua waktu gue nonton acara selebriti masak yang menghadirkan julia perez sebagai bintang tamunya. tau acara ini kan? kalo gak tau, acaranya itu kurang lebih begini... si seleb, disuruh belanja dengan list belanjaan yang udah ditentuin, tapi budgetnya dibatesin cuma 25ribu. nah, biasanya si seleb bakal manfaatin keseleban dia untuk nawar harga. mulai dari bagi2 tanda tangan, poto bareng, mpe dicipok gratis. ha ha ha... jadi mupeng. nah, dengan modal muka herno, bodi yahud, dan goyangan manstabs si jupe ini berhasil beli semua belanjaan dengan harga total cuma 5000 rupiah. artinya masih nyisa 20000 lagi dong!!! biasanya, duit sisanya ini bakal dikembaliin lagi ke pembawa acara tersebut yang ngerangkep sebagai koki. tapi si julia perez ini laen... begitu dia selesai belanja, dan duitnya masih nyisa 20000, dia justru nyumbangin duit itu ke kotak amal yang dia temuin di dalem pasar itu! dua poin untuk julia perez.=)

kejadian ketiga yang gue tau adalah ketika aksi harm reduction yang dia lakuin yang berupa bagi-bagi kondom barengan dengan album dangdut dia dikecam sama meutya hatta, sang menteri pemberdayaan perempuan. sebenernya harm reduction di luar negeri sana bukanlah barang baru. di indonesia pun aksi bagi-bagi kondom ini bukan yang pertama kalinya. dulu majalah Trax juga pernah ngelakuin hal yang sama. tapi dasar julia perez apes, dia yang kena semprot. gue sendiri gak setuju dengan harm reduction model begini. tapi yang menarik adalah reaksi yang diambil julia perez. kalo dewi perssik langsung marah-marah gak karuan pas dia dicekal, julia perez justru berusaha introspeksi diri dengan nemuin seseorang yang dianggap lebih ngerti agama dibandingin dia. julia perez gak ngelawan orang yang gak suka sama dia dengan membabi buta. justru dia berusaha meminta nasehat dan diberitau di mana letak kesalahan dia. itu tiga poin untuk julia perez.=)



kalo gue disuruh milih antara dewi perssik dan julia perez (NGAREP LU, RE!!!!!!!!!!!), gue bakal milih julia perez. lebih ada bibit kesantunan di dalam dirinya. walopun pilihan itu sebenernya sama aja dengan memilih yang lebih baik diantara yang buruk. yah, semoga aja bibit kesantunan ini nantinya akan menyadarkan dia menjadi orang yang jauuuuuuuuuuuuh lebih baik. bukan gak mungkin kan? toh inneke koesherawati bisa dapet hidayah yang begitu besar.

Jumat, Februari 29, 2008

kita telah memilih agama yang sesat...

weits... judul postingan gue kali ini emang sangat provokatif. dan gue rasa bakalan banyak juga yang pro dan kontra untuk postingan gue kali ini. beberapa bulan yang lalu masalah aliran-aliran sesat sempet merebak. pro dan kontra bergulir mengenai keberadaan aliran-aliran yang ada. aksi pengrusakan terjadi di beberapa tempat. MUI mencoba bereaksi, tapi malah jadi bola panas. apa yang sedang terjadi?!?!?!?!

gue bakal mulai dasar pemikiran seperti yang diutarakan temon, temen gue. dia bilang kurang lebih seperti ini... tuhan itu adalah sebuah konsep yang disepakati oleh semua agama. sedangkan agama adalah sebuah cara atau aturan. temon menyebut agama sebagai sebuah alat atau jalan. di dalam agama, tuhan menjadi punya nama. dengan agama, ada ritual-ritual keagamaan. cara-cara inilah yang berbeda antar agama. mungkin keragaman agama inilah yang membuat kahlil gibran lantas menjadi gamang. dia bilang agama telah merusak konsep tuhan. agama menurut dia menjadi tidak penting. yang penting adalah mencintai tuhan, berbuat baik, bla bla bla...

gue nggak sedang mencoba menjadi seorang pluralis modern yang menyamakan semua agama. gue yakin bahwa hanya ada satu cara yang benar, tapi saya tidak berminat untuk berdebat menentukan mana yang benar. silahkan anda cari sendiri.

permasalahan di ummat islam akhir-akhir ini adalah keresahan akan adanya aliran-aliran yang tidak jelas asalnya dan bertentangan dengan agama islam pada umumnya (katakanlah ahli sunnah wal jamaah). ketika MUI kemudian bereaksi dengan memfatwakan sesat sebuah aliran agama, buat gue itu sah-sah aja. selama fatwa itu hanya sebagai sebuah cara untuk membina ummat yang dia miliki. jadi fatwa tersebut jangan sampai punya konsekuensi dalam hukum positif.

fatwa MUI harusnya tidak lantas disikapi dengan berlebihan. ketika sebuah aliran difatwakan sesat, bukan berarti aliran tersebut harus diberangus. MUI juga memfatwakan haram untuk bunga bank, tapi BNI, Bank Mandiri, BCA, BRI, dan sederet panjang bank komersil lainnya tetap megah bertengger. MUI memfatwakan satu produk pangan tertentu haram, bukan berarti kemudian produk tersebut tidak boleh ada di pasar. harusnya ini juga berlaku untuk aliran agama yang ada.

beberapa orang kemudian mengatakan bahwa aliran-aliran tersebut telah menolak ajaran agama Islam. kalo gue bilang, agama laen juga sama saja, telah menolak ajaran agam Islam. dan agama Islam pun menolak agama laen. lantas apa? kalo kita bisa hidup berdampingan dengan agama laen, kenapa gak bisa dengan aliran - aliran islam laen yang ada?

beberapa orang tersebut kemudian berkata bahwa aliran tersebut telah membawa-bawa nama Islam dan telah menggeser dan bahkan telah menistakan nilai - nilai Islam yang ada. bukankah ini sama saja dengan keberadaan kaum nasrani dan yahudi? tadinya kita adalah satu ummat, kemudian terjadi perpecahan. Allah yang ummat Islam agung - agungkan juga sama dengan Allah yang mereka sembah, kita hanya berbeda dalam cara menyembahnya. sama saja dengan aliran - aliran keagamaan yang lain. kita menyembah tuhan yang sama dengan cara yang berbeda. menurut kita, mereka adalah sesat, tapi menurut mereka, justru "KITA TELAH MEMILIH AGAMA YANG SESAT". sekarang islam bisa hidup berdampingan dengan yahudi dan nasrani (meskipun di beberapa tempat, konflik tetap terjadi). bahkan semenjak zaman Rasulullah SAW. terus kenapa kita nggak bisa hidup berdampingan dengan aliran - aliran yang lain?

kemajemukan gue rasa adalah sebuah keniscayaan. gue bisa ngerti kalo terus john lennon bikin lirik - lirik indah di dalam lagu IMAGINE. tapi menurut gue baris lirik itu lebih menjadi sebuah ungkapan putus asa dengan mencoba memimpikan utopia. ebony and ivory gue rasa adalah sebuah mimpi yang lebih realistis untuk diwujudkan. di mana kita bisa hidup berdampingan, dengan warna apapun yang kita anut.