Tampilkan postingan dengan label musik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label musik. Tampilkan semua postingan

Sabtu, Juni 08, 2013

Ketika Indonesia Gagal Menemukan People’s Champion

Sumber: http://loymachedo.com/

William Hung, pria keturunan Asia, dengan kualitas suara di bawah rata-rata sekonyong-konyong menyedot perhatian Amerika Serikat. Kualitas penampilannya yang pas-pasan ternyata menjadi anti-tesis dari pakem yang selama ini dipegang industri musik Amerika Serikat. Angka penjualan album pertamanya mencapai 200.000 keping lebih. Dua album berikutnya juga mencatat hasil yang tidak terlalu mengecewakan, 35.000 dan 7.000 keping. 
Cerita William Hung di atas setidaknya membuktikan bahwa kualitas tidak selalu berbanding lurus dengan popularitas. Begitu banyak penyanyi dengan kualitas baik di dunia, tapi sejarah hanya mencatat segelintir saja. Hal ini amat disadari oleh industri musik dunia, termasuk di Indonesia. Kalau tidak, nama-nama seperti Kangen Band atau Mbah Surip tidak akan pernah menjadi fenomena di negeri ini.

William Hung; Sang Fenomena
Industri musik tidak melulu soal musik. Weird Al Yankovic menggabungkan musik dan humor. U2 memasukkan agenda-agenda politiknya dalam syair, Lady Gaga senantiasa tampil teatrikal. Industri musik bukanlah sekedar hiburan untuk memanjakan telinga. 
Ada sebuah pengalaman yang dituntut untuk bisa dinikmati dalam sebuah paket musik. Tuntutan yang lebih besar ketimbang sekedar suara indah. Maka dari itu, untuk menjadi seorang biduan yang populer dibutuhkan lebih dari teknik vokal yang mumpuni. Dapat dimengerti jika kemudian Simon Cowell mengkritik acara The Voice dengan blind audition-nya dengan berujar,”The Voice should have been on the radio.” 
Sebuah kritik mengenai bagaimana industri musik tidak bisa hanya mengandalkan kualitas vokal artisnya.
Dalam rangka mencari calon orang-orang populer di dunia musik, maka industri membutuhkan riset pasar. Industri berusaha memahami apa yang diinginkan konsumen. Tidak ada urusan soal bagus atau jelek. Apa yang pasar minta, maka itulah yang industri sediakan.
Maka lahirlah ajang pencarian bakat (talent show). Dengan penilaian yang didasarkan pada hasil voting masyarakat, setidaknya penyelenggara kemudian dapat menilai nilai jual seorang peserta dari dukungan yang didapat. Tujuan dari ajang ajang pencarian bakat seperti ini memang bukan mencari yang terbaik secara kualitas. Acara-acara model ini mencari apa yang disebut People’s Champion. Juara yang dipilih oleh rakyat. Serupa tapi tak sama dengan demokrasi.
Ajang pencarian bakat adalah sebuah riset pasar gaya baru. Jika sebelumnya riset pasar membutuhkan biaya yang besar, maka riset pasar melalui talent show tidak demikian. Riset ini justru menyenangkan banyak pihak dan yang utama bagi industri musik adalah: mengundang sponsor. 
Academia, Idol, X-Factor, The Voice, sebut saja yang lain. Semua acara tersebut adalah riset yang dilakukan industri musik untuk mencari tahu keinginan pasar. Terbukti, tak sedikit alumni dari acara-acara tersebut memang menjadi idola baru. Contoh yang paling gres tentu saja adalah One Direction yang merupakan jebolan X-Factor UK.
Indonesia, sebagai bagian dari masyarakat dunia, tentu tidak mau ketinggalan. Berbagai jenis franchise talent show mencoba peruntungannya di Indonesia. Mulai dari Akademi Fantasi, Indonesian Idol, sampai X-Factor berusaha “meriset” keinginan masyarakat Indonesia.
Setidaknya acara-acara model ini sudah berkiprah sekitar satu dasawarsa. Tiap musim acara berakhir, maka riset juga selesai. Idealnya, hasil riset kemudian di-up scale ke dalam skala industri. Namun ternyata, hasil riset yang ada selama ini lebih banyak melempem. Coba, alumni talent show Indonesia mana yang benar-benar sukses. Ada berapa banyak? T2 alumni AFI rasanya cukup lumayan. Kotak dari Dreamband juga cukup sukses. Sisanya? Hilang ditelan bumi. Delon? Justru lebih beruntung sebagai bintang film.

T2; Dari Sedikit yang Sukses (Sumber: http://music.oryn-cell.com
Mengapa riset pasar yang sudah dilakukan industri musik melalui talent show di Indonesia tidak “bunyi” di industri musik? Kalau boleh menduga, mungkin jawabannya adalah karena riset yang dilakukan di Indonesia tidak memenuhi “kaidah riset” yang baik dan benar untuk sebuah ajang pencarian bakat. 
Kegagalan ajang pencarian bakat Indonesia dalam menemukan sang People’s Champion amat berkaitan dengan sistem voting yang digunakan. Sebagai contoh, dalam acara American Idol, voting dilakukan melalui telepon. Satu nomor hanya memiliki jatah satu suara. Hal ini amat berbeda dengan sistem voting pada talent show yang ada di Indonesia di mana, penonton justru diminta untuk sebanyak-banyaknya melakukan voting
Adanya sampel yang terduplikasi dalam proses pemilihan, menjadikan hasil voting bias. Seorang peserta dengan seribu pendukung bisa saja mengalahkan peserta lainnya yang memiliki satu juta pendukung. Asalkan seribu pendukung peserta pertama tadi mengirim voting dengan akumulasi lebih dari satu juta kali. 
Jika hasil riset ini dinaikkan skalanya ke level industri musik sebenarnya, di mana prestasi ditunjukkan dari berapa kopi albumnya yang terjual, maka jelas sang pemenang akan melempem. Hasil maksimal pembelian kopi album hanya berkisar di angka seribu keping. Padahal data risetnya menunjukkan ada satu juta lebih penggemarnya. Realisasinya hanya 0,1%.
Hal ini amat mungkin terjadi. Salah satu faktor pendukung terjadinya hal ini adalah panjangnya durasi voting. Jika di ajang pencarian bakat luar negeri, voting biasanya baru dimulai setelah acara dan berakhir dalam beberapa jam, maka di Indonesia voting nyaris bisa dilakukan selama 24 jam, 7 hari seminggu. Voting terhadap seorang peserta bisa dilakukan bahkan sebelum peserta tersebut unjuk kebolehannya. Luar biasa.
Jumlah dan durasi voting yang begitu terbuka lebar tidak akan pernah menjawab siapa People’s Champion yang sebenarnya. Hasil voting hanya menunjukkan militansi dari pendukung masing-masing peserta. Dukungan terbesar mungkin tidak datang dari penilaian yang obyektif, melainkan dari kedekatan voter dengan peserta, entah itu sebagai keluarga, teman, satu sekolah, satu daerah, rekan kantor, dan sentimen-sentimen lain yang jelas tidak ada hubungannya dengan selera musik masyarakat pada umumnya.
Selain jumlah dan durasi voting, hal lain yang juga menjadi inhibitor ditemukannya sang People’s Champion adalah ongkos voting. Hampir seluruh ajang pencarian bakat di Indonesia menerapkan tarif kepada voter ketika memilih. Bukan hanya tarif biasa, namun tarif premium, yang harganya bisa sepuluh kali dari tarif normal! 
Mahalnya ongkos untuk menjadi seorang voter tentu saja berimbas pada para  swing voters, yang berasal dari masyarakat awam. Masyarakat yang tidak memiliki kedekatan emosional apapun dengan para peserta. Masyarakat yang justru paling obyektif untuk mendeskripsikan bagaimana selera pasar yang sesungguhnya.
Dengan diberlakukannya tarif premium, para swing voters justru akan lebih memilih menjadi golongan putih (golput). Hal yang kontras justru terjadi di Amerika Serikat di mana untuk melakukan voting, voter justru dikenakan layanan bebas pulsa sehingga swing voters tertarik untuk berpartisipasi. Semakin banyak swing voters bersuara, semakin handal hasil riset pasar tersebut.
Selama sistem voting yang diterapkan ajang pencarian bakat di Indonesia tidak berubah, maka jangan terlalu banyak mengharapkan People’s Champion lahir dari acara-acara model ini. Akan ada banyak People’s Champion gagal bersinar karena terkubur timbunan suara hasil voting bertarif premium peserta lain semenjak awal kompetisi.

Minggu, Juni 02, 2013

Kutukan Vokalis The Fly


Semenjak kemunculannya secara nasional di 1997 dengan lagu “Pelangi Semu”, band The Fly seperti tidak kehabisan masalah. Dianggap terlalu nge-U2, frustasi dengan industri musik Indonesia hingga ditinggal beberapa anggota utama, sampai gonta-ganti vokalis.
Setelah gagal secara komersial dengan album pertama, The Fly akhirnya mampu bangkit dari kubur meskipun hampir setengah anggota mereka rontok. Disangkal atau tidak, salah satu faktor kesuksesan The Fly ketika itu ada di warna suara vokalis mereka, B’jah.
Dengan suara syahdu, B’jah mampu menginterpretasikan lagu dengan baik. Coba saja dengarkan rekaman “Berlalu” dan “Izinkan” dari The Fly, cukup menjadi bukti shahih bagaimana B’jah mampu meninggalkan identitas suaranya pada sebuah lagu. Ironisnya Kin Aulia, sang gitaris, justru kerap merasa tidak puas dengan vokal B’Jah ketika membawakan lagu-lagu The Fly.
Namun kerjasama B’jah dan anggota The Fly lain harus berakhir pasca album “Keindahan Dunia”, tepatnya pada 2005. Masalah kedisiplinan dan komunikasi yang memburuk antar mereka diyakini banyak orang sebagai alasan utama keluarnya B’jah. Meskipun dalam beberapa wawancara disebutkan bahwa B’jah ingin berkonsentrasi dengan pendidikannya yang terkatung-katung.
Lepas dari B’Jah, The Fly tetap ngamen ke mana-mana dengan vokalis-vokalis catutan. Nama-nama seperti Ariyo Wahab dan Ipang Lazuardi sempat beberapa kali diplot sebagai vokalis. Sampai pada 2006 akhirnya Firman, yang jebolan Indonesian Idol II, disepakati sebagai vokalis The Fly.
Sebagai catatan, di era ini, The Fly memiliki beberapa ide yang cukup unik ketika manggung. Dalam salah satu acara televisi, mereka tidak hanya memainkan sample suara, namun sample video berisi gambar dan vokal dari Gian. Permainan live dengan sample ini memberi kesan duet antara Gian yang live dan Gian di sample.
Gimmick yang diberikan kepada Firman untuk membangun identitasnya sebagai vokalis The Fly sudah cukup baik. Misalnya saja, tongkrongan Firman disesuaikan dengan imaji The Fly yang rapi dan kerap berkacamata hitam. Selain itu, untuk menghilangkan imaji Indonesian Idol yang begitu melekat, The Fly menyiapkan nama panggung “Gian” yang diambil dari nama KTP-nya sendiri, Firman Siagian. Mungkin nama Firman akan tetap dipakai kalau bandnya bernama “The Prophet”. Sayang kerjasama ini hanya bertahan untuk satu album (If Loving You Is Wrong, I Don’t Want To Be Right) di tahun 2007.
Seakan sejarah berulang, proses keluarnya sang vokalis ternyata meninggalkan cerita tidak enak. Keinginan Firman (atau Gian?) untuk bersolo karir dengan musik melayu mendapatkan resistensi dari anggota The Fly yang lain. Entah karena khawatir The Fly akan dinomorduakan atau pilihan Firman akan musik melayu dianggap akan menodai “darah biru” rock n’ roll The Fly, yang jelas kerjasama mereka bubar jalan.
Nampaknya kehilangan vokalis untuk kedua kalinya cukup memberi trauma pada The Fly. Semenjak keluar pada pertengahan tahun 2009, Sinar The Fly meredup. Tanda-tanda kehidupan band ini mulai kembali terdeteksi pada April 2010. Ketika itu, mereka menjadi salah satu pengisi acara Rolling Stone Release Party bersama Komunal, The Authentics, dan Seringai. Cuma ada yang janggal ketika itu, The Fly tidak memakai nama The Fly, tapi “Project The Fly”.
Dari beberapa review gig yang ada di Internet, penampilan Project The Fly ketika itu tidak mendapat sambutan antusias dari penonton. (Project) The Fly yang sebelumnya dicap U2 banget, sekarang justru dicap ke-“Muse-Muse”-an. Penghakiman ini hadir karena Project The Fly menghadirkan vokalis dengan suara falsetto (yang kemudian diperkenalkan sebagai vokalis The Fly berikutnya). Project The Fly mendapat kritik seperti band yang limbung dan hilang arah. Musik mereka terasa mentah sampai-sampai Kin (mungkin) merasa gak percaya diri dan bertanya ke penonton, “Lagunya agak aneh ya?”
Satu tahun berlalu, paruh kedua 2010, The Fly mulai aktif di sosial media. Mereka pun mengumumkan rencana rilis album baru dengan vokalis baru. Ketika ditanya apakah mereka akan memakai nama “The Fly” atau “Project The Fly”, Kin menjawab, “Namanya tetap The Fly kok.”
Sempat molor beberapa lama, akhirnya album baru The Fly keluar di 2011 (A New Beginning From Another Beginning’s End). Keluarnya album baru ini sekaligus memperkenalkan vokalis baru mereka, Teddy.
Secara musikalitas, The Fly jelas berkembang ke arah yang baik. Suara-suara yang mereka hasilkan semakin rumit, namun di saat yang bersamaan juga indah. Memang nuansa Muse terasa di beberapa sisi. Tapi ayolah, terinspirasi band lain itu kan sah-sah saja.
Mungkin tidak semua orang bisa dengan mudah mencerna musik di album ini, namun boleh dibilang inilah album rekaman The Fly yang paling matang, walaupun tidak semua penggemar mereka menyukai perubahan yang begitu drastis ini.
Entah kutukan atau apa, pada pertengahan 2013, The Fly mengumumkan bahwa posisi vokalis mereka tidak lagi diisi oleh Teddy. Tidak begitu jelas apa yang terjadi di band ini. Setidaknya semoga mereka berpisah dengan baik-baik, tidak seperti dua vokalis sebelumnya. Ketika Kin ditanya mengenai apa yang terjadi dengan Teddy, Ia hanya menjawab bahwa album bersama Teddy hanya sebuah proyek. Ia pun menjanjikan bahwa album berikutnya akan kembali ke akar musik The Fly. Apakah artinya The Fly tidak akan terasa Muse lagi? Apakah The Fly akan kembali terasa seperti U2? Tentu idealnya The Fly akan terdengar seperti The Fly.
Lelah berganti-ganti vokalis akhirnya band ini mempercayai sang frontman Kin Aulia untuk memperluas hegemoninya di band. Kini Kin Aulia juga merangkap sebagai vokalis. Sebuah keputusan yang didukung banyak pihak, bahkan dari Adib Hidayat, Pimpinan Redaksi Rolling Stone Indonesia.
Pengumuman ini sebenarnya tidak terlalu mengejutkan. Hit pertama The Fly, Pelangi Semu, pun vokalnya diisi sepenuhnya oleh Kin. Padahal ketika itu, secara de jure vokalis The Fly adalah B’jah. Pemilihan Pelangi Semu sebagai lagu yang dibuatkan video klipnya membuat B’jah harus puas dengan hanya menggoyang-goyangkan badannya saja di video klip tanpa ikut bernyanyi.
Selain di Pelangi Semu, ada juga beberapa lagu The Fly yang vokalnya diisi oleh Kin seperti di lagu “Cahaya Kalbu”. Duet mautnya dengan B’jah di lagu Terbang juga melengkapi karakter vokal B’jah yang bermain di nada-nada rendah.
Kualitas vokal Kin memang tidak jelek. Dengan suara yang melengking, karakter suaranya memang pas membawakan lagu-lagu rock. Namun suara Kin sekarang bukan lagi sekedar pelengkap seperti Richie Sambora di band Bon Jovi yang hanya bernyanyi sekali-kali dalam sebuah konser. Kin tetap harus membuktikan bahwa dirinya mampu untuk  tampil secara live dengan bernyanyi penuh penghayatan sekaligus bermain gitar dengan repertoir panjang. Penghayatan menjadi faktor kritis dalam karir musik The Fly berikutnya, karena penghayatan lagu adalah ciri khas The Fly selama ini. 

Minggu, Juli 22, 2012

[Review] Taring: Jurus Lama Seringai


Artis: Seringai (Arian13, Ricky Siahaan, Sammy Bramantyo, Khemod)

Lagu:
1. Canis Dirus
2. Dilarang di Bandung
3. Taring
4. Fett, Sang Pemburu
5. Tragedi
6. Serenada Membekukan Api
7. Discotheque
8. Program Party Seringai
9. Lagu Lama
10. Lissoi
11. Infiltrasi
12. Gaza

Di dekat tempat saya tinggal ada satu pedagang nasi, mie, kwetiaw, dan bihun goreng. Meskipun masakannya enak, tapi aneh. Rasa semua masakannya sama. Jadi baik nasi goreng, mie goreng, kwetiaw goreng atau bihun goreng rasanya sama, hanya beda bahan utamanya saja.
Hal yang sama ditawarkan Seringai melalui album terakhirnya, Taring. Agak malas rasanya untuk mengupas masing-masing lagu di album ini karena memang terdengar senada dan seirama. Sebagai sebuah album, Taring gagal memainkan pace bagi pendengarnya. Riff-riff gitar yang sudah sangat kental sebagai ciri khas dan dibalut dengan “paduan suara” di beberapa titik menjadi jurus yang selalu diulang-ulang di hampir semua lagu. Ya, hampir semua lagu kecuali lagu Canis Dirus dan Gaza, itupun lebih karena kedua lagu itu hanya memainkan instrumentalia yang justru menjadi 8 menit 25 detik paling menyegarkan di album ini.
Menggunakan “paduan suara” di beberapa titik lagu sejatinya adalah senjata ampuh yang dapat dijadikan sebagai cue bagi penonton untuk sing along ketika band tampil live. Tapi ketika semua lagu menggunakan senjata yang sama, yang ada justru rasa jenuh di telinga. Apalagi jurus ini pun sudah dipakai di album Seringai sebelumnya. Anti-klimaks dari “penyalahgunaan paduan suara” ini ada di lagu Lissoi. Mendengarkan lagu berbahasa batak yang dinyanyikan secara koor dengan hanya disertai gitar kopong dan kecrekan ini membawa otak saya untuk membayangkan sekumpulan pemuda tanggung pengangguran setengah mabuk yang sedang bernyanyi-nyanyi menghabiskan waktu di pos ronda. Sungguh sebuah aransemen yang amat buruk.
Lalu apakah hal ini membuat album ini menjadi buruk? Jawabannya adalah tergantung. Jika Anda sudah terlanjur menjadi korban gigitan taring dari para serigala militia ini, maka album ini setidaknya akan menemui ekspektasi Anda, meskipun rasanya tidak akan lebih dari itu. Namun bagi mereka yang merasa hidupnya terlalu singkat untuk mendengarkan repetisi yang hanya berganti judul, maka album ini rasanya akan mengakhiri hidupnya pada siklus putaran CD ke-5.
Di awal kemunculannya, Seringai membawa angin baru di industri musik Indonesia. Sepak terjang mereka terus terang mengingatkan saya akan Metallica di awal 90-an (atau akhir 80-an ya?) yang mampu meracik metal yang ear-friendly bagi orang kebanyakan.
Untuk mereka yang baru mengenal Seringai, Taring memang cukup menjanjikan. Tapi untuk mereka yang sudah mengekori kiprah Seringai, album ini berakhir dalam penilaian biasa-biasa saja. Miskinnya inovasi di album Taring membuat Seringai menjadi stagnan sehingga musik mereka menjadi sangat mudah untuk diprediksi.
Tapi terus terang, saya tidak tidak tega juga untuk menyelesaikan review ini tanpa setidaknya sedikit memuji kerja keras pahlawan musik keras Indonesia ini. Kalau boleh ada yang diandalkan dari Taring adalah artwork CD mereka yang amat bagus. Jika musisi ingin pendengarnya tetap membeli karyanya dalam bentuk fisik, bolehlah rasanya mengimitasi usaha Arian13 dalam mengerjakan booklet Taring. Pilihan gambar yang pas, disertai pilihan kombinasi warna font dan latar yang tepat membuat booklet Taring terasa lebih nyaman dibaca dibandingkan dengan booklet album mereka yang sebelumnya, Serigala Militia.
Tidak hanya memperhatikan estetika, konten booklet ini juga tidak hanya berisi ucapan terima kasih, halaman kredit, dan lirik-lirik lagu. Selain tiga konten utama yang sudah biasa kita temui di album musisi-musisi lain itu, kita juga akan disuguhi semacam komentar singkat dari beberapa personil Seringai mengenai masing-masing lagu. Hal yang sama juga sudah mereka lakukan di album sebelumnya. Melalui insight semacam ini kita menjadi tahu latar belakang mengapa sebuah tema diangkat menjadi lagu. Melalui komentar-komentar ini pula kemudian kita (setidaknya Saya) menjadi tahu bahwa, dalam lagu Tragedi, mereka sebal dengan Tifatul Sembiring bukan karena beliau mempercayai adanya korelasi positif antara akhlak buruk dan bencana alam, namun karena Tifatul tidak menggunakan empatinya ketika berkomentar di depan para korban bencana alam. Sesuatu yang rasanya sulit untuk dapat ditangkap dengan hanya membaca lirik lagu saja.
Pilihan tema untuk membangun lirik album Taring kebanyakan masih sama dengan album-album mereka sebelumnya. Tema-tema sosial seperti Lagu Lama dan Serenada Membekukan Api yang mengutarakan ketidaksetujuan mereka akan RUU anti-pornografi (duh, Tifatul lagi kena!) dan tema-tema yang berkaitan dengan skena musik non-arus utama seperti pada lagu Dilarang di Bandung dan Infiltrasi masih mendominasi.
“Pada saat penyusunan album ini, kami sempat berdiskusi tentang topik yang akan diangkat. Seperti apa fenomena sosial yang muncul dalam 5 tahun ke belakang. Ternyata, topik-topik ini sudah kami bahas di album sebelumnya! 5 tahun berlalu, masalahnya masih juga sama. Intoleransi beragama, kekerasan aparat, korupsi, dan lainnya. Ternyata kita stagnan. Rasanya seperti menyanyikan lagu lama yang masih kontekstual hingga saat ini.” – Edy Khemod
Komentar Edy Khemod yang mengantar judul Lagu Lama di dalam booklet menjadi petunjuk bahwa bangsa ini tidak bergerak terlalu jauh dalam lima tahun ke belakang. Ironisnya, Seringai pun ternyata tidak bergerak terlalu banyak dalam lima tahun ini. Bagaimana mungkin mengharapkan perubahan jika masih menggunakan senjata yang sama? Seringai jelas perlu taring baru untuk album ke depan atau nasib mereka akan seperti serigala purba Canis Dirus, punah.

Sabtu, April 07, 2012

/rif, Salami, Lalu Selesai

Awal tahun 2000, saya menukar Rp 20.000,00 dengan selembar tiket konser. Itulah transaksi pertama saya untuk menonton acara musik. Ketika itu saya masih berangkat sekolah dengan menggunakan celana pendek.  Konser musik tersebut menampilkan line up utama /rif, band Bandung yang beraliran rock. Inilah pertama kalinya saya merasa klik dengan sebuah band.
Sebenarnya album pertama mereka, radja, tidak terlalu impresif untuk saya. Saya justru mulai tertarik dengan mereka ketika mereka mengeluarkan album tematis mereka, Salami. Ada beberapa hal yang membuat saya tertarik dengan /rif ketika itu.
Pertama adalah /rif ketika itu adalah band medioker. Namanya kalah besar dibandingkan Jamrud, Slank, atau Boomerang. Saya yang tidak suka menjadi bagian dari arus utama membutuhkan idola baru dari kalangan medioker. Jatuhlah pilihan saya kepada /rif. 
Hal kedua yang membuat saya suka dengan /rif adalah konsep band. /rif sebagai sebuah band memiliki konsep yang jelas sehingga tampak berkharisma. Sering tampil dengan gaya teatrikal dan gaya pakaian yang unik membuat penampilan mereka memiliki nilai lebih ketimbang ketika mendengarkan rekaman audio mereka saja. Ketika saya menonton konser pertama mereka tersebut, Andy, sang vokalis, naik panggung dengan menggunakan tongkat karena kakinya terkilir. Bukannya menjadi pengganggu, tongkat itu justru dimainkan sebagai bagian dari pertunjukan. 
Ketiga, musik yang asyik. Bagus tidaknya musik memang debatable, karena hal ini berkaitan dengan selera masing-masing orang. Ada yang bilang musik /rif tidak ada kekhasannya sama sekali. Tidak memiliki signature yang membedakan dengan band-band sejenis. Tapi saya menilai musik mereka memiliki rentang genre yang cukup luas meskipun masih tetap konsisten di jalur rock. Hal ini membuat musik mereka tidak mudah untuk dicerna. Namun demikian, justru karena itu saya jadi tidak mudah bosan dengan musik mereka. 
Alasan keempat inilah yang paling membuat saya menetapkan hati kepada mereka, lirik. Di tahun 2000, /rif baru mengeluarkan dua album, yang terakhir adalah Salami (1999). Lirik-lirik yang ada di dalam album ini sangat dalam, serius, dan diksi yang digunakan amat baik. 

Salami
Album Salami, singkatan dari Selamatkan Bumi, sendiri memiliki art work yang ciamik. Sampul album ini didominasi warna hitam polos dengan gambar bola dunia dengan ukuran sangat mini di tengah-tengah serta garis putih yang menghubungkan bola dunia tadi ke bagian atas. Di sudut kanan dan kiri bawah album, tertera nama band dan judul album mereka dalam ukuran yang juga kecil. Gambar ini ternyata memiliki filosofi yang dalam dan amat sesuai dengan judul album mereka, selamatkan bumi.
Repertoir dalam album ini pun sangat memuaskan. Tidak hanya lagu-laguyang dibuatkan video klip saja yang  kualitasnya baik. Selain Si Hebat dan Aku Ingin, lagu-lagu seperti Jigsaw, Si Hebat, HIV, Roller Coaster, dan #1. Khusus untuk lagu yang terakhir disebutkan, /rif mendaur ulang lagu ini untuk dimasukkan ke dalam album ke-7 mereka. 
Dari semua lagu yang ada di album ini, salah satu lagu yang perlu diapresiasi lebih adalah lagu "Tanah". Sebuah lagu megah yang dibangun melalui intro panjang dan memberi kesan amat kelam. Sebuah lagu kontemplasi akan keadaan bumi yang makin kacau.


Dekadensi minat
Masuk album ketiga (Nikmati Aja), agaknya /rif mencoba bereksperimen lebih jauh. Lihat saja lagu Loe Toe Ye yang musiknya catchy tapi maknanya hambar. Kalaupun ada yang terinspirasi dari lagu ini, mungkin pencapaian yang paling besar dari lagu ini adalah digunakan sebagai nama franchise sebuah salon bencong terkemuka di Indonesia. Beruntung album ini masih memiliki lagu-lagu asyik seperti You Booze You Lose dan After Glow yang masih bisa dipertanggungjawabkan kualitasnya.
Album keempat "... dan dunia pun tersenyum" sama sekali tidak bisa membuat saya tersenyum. Album ini praktis benar-benar tidak punya soul. Walaupun masih ada lagu asyik seperti Dunia, tapi hal itu tidak banyak membantu. Mungkin karena itu juga kemudian untuk album selanjutnya /rif justru memilih istirahat dengan cuma menelurkan album kompilasi terbaik mereka.
Tiga tahun vakum, akhirnya mereka hadir kembali dengan "Pil Malu". Inilah titik nadir mereka. Di mana secara komersial album ini benar-benar gagal dan secara musikalitas pun tidak banyak diapresiasi. Keberanian mereka untuk bermain-main dengan aroma techno ternyata adalah pilihan yang salah.
Terus terang saja, saya sama sekali tidak berminat dengan album Pil Malu. Ini adalah puncak kekecewaan saya atas berubahnya musik /rif.


Paradoks
Imbas dari kegagalan Pil Malu adalah memudarnya kepercayaan Sony Music sebagai produser. Akhirnya /rif kembali ke khittahnya sebagai band rock di album ke-7. Setelah sukses menjajal pasar dengan hanya mendistribusikan album "7" hanya melalui pemesanan langsung, akhirnya /rif melepas albumnya melalui distributor umum.
Album ini cukup baik, walaupun tidak mampu menyamai Salami atau bahkan Radja sekalipun. Mereka kembali banyak mengeksplorasi kekuatan musik mereka sendiri dan berhenti melakukan monkey business dengan suara-suara aneh. Departemen lirik mereka pun membaik. Diksi lagu-lagu di album "7" menjadi kuat kembali.
Lama tidak melihat aksi langsung mereka di panggung, membuat saya cukup terkejut. Sebenarnya sudah dari dulu gaya panggung mereka slenge'an, tapi dulu permainan mereka tetap rapi. Berbeda dengan sekarang yang jadi agak kacau. Terutama di seksi melodic. Permainan gitar Jikun dan Ovy terasa sulit menjadi harmonis. Permainan kacau mereka terlihat seperti orang mabuk yang sedang pentas.
Mabuk? Mungkin saja mereka memang sedang mabuk ketika itu. Bagaimana tidak, untuk album ini, /rif berhasil menggaet Jack Daniels sebagai sponsor mereka. Dari kabar yang beredar, berbotol-botol Jack Daniels kerap hadir di konser mereka. Di salah satu poin rider mereka pun mensyaratkan adanya 6 bir kaleng menjelang /rif naik panggung. Menjadi paradoks tentunya, sebuah band yang punya single dengan judul You Booze You Lose, justru adalah sosok-sosok alkoholik berat. Then based on your single, you are losers, aight?

Jumat, Agustus 12, 2011

(A)Politik dalam Lagu

Sebenarnya iklim kebebasan berpendapat di Bandung sangat baik. Banyak muncul diskursus yang menelurkan dan mengembangkan berbagai jenis pemikiran. Mulai dari yang paling idealis sampai yang paling oportunis. Mulai dari kanan habis sampai kiri mentok.
Manifestonya dalam budaya musik mereka bisa dengan terang kita lihat. Mulai dari musik bling-bling urban sampai sampai shoegaze yang muram. Mulai dari pop yang terkena gejala ADHD sampai metal yang mencekam.
Dari sekian banyak lirik yang mengalir, ada satu catatan mengenai sikap politik yang dipilih oleh sebagian musisi kota Ini. Dari sekian banyak lirik politik yang ada, ternyata pilihan untuk menjadi apolitis adalah tema yang paling jamak diramu dalam nomor-nomor yang dihadirkan.
Saya mencatat pertama kali sikap apolitis tersirat dalam lagu "impresi" yang dibawakan Pas Band. Secara gamblang mereka tidak pernah menyatakan sebagai pribadi yan apolitis, tetapi dari liriknya jelas tersirat hal tersebut.
"Aku sudah bosan dengarkan kata-kata, Aku sudah muak dengarkan ceritamu. Dan aku sudah lelah dengar harapan." (Impresi - Pas Band)
Lagu yang video klipnya dilarang untuk diputar di seluruh stasiun TV nasional ini adalah sebuah pernyataan yang lugas bahwa mereka apolitis tanpa harus menyebut bahwa mereka adalah apolitis.
Sikap ini kemudian dipertebal beberapa belas tahun kemudian ketika kemudian Pas Band mengeluarkan lagu "Jengah". "Jengah" adalah sebuah "Impresi 2.0". Jengah adalah Impresi yang di-remake. Untungnya, remake ini adalah remake yang sukses.
"Kita bosan dengarkan banyak alasan. Kita bosan dengarkan cerita." (Jengah - Pas Band)
Lepas dari Pas Band, sikap apolitis juga dihadirkan oleh Homicide. Grup yang dalam salah satu pertunjukannya menyebut bahwa pilihan ideologi mereka adalah ideologi pertemanan. Entah ideologi macam apa itu.
Homicide adalah sebuah grup hip-hop yang berotakkan budayawan kontemporer bernama Ucok. Entah sudah berapa ratus judul literatur yang dilahap sampai Ia mampu merapalkan sikap apolitisnya dalam ide orang berdasi namun dengan "dialek" preman pasar.
Di banyak lagu, Ia menyatakan berbagai hal, namun muaranya sama, apolitis. Mulai dari ketidakpercayaannya pada demokrasi kotak suara sampai pada ajakannya untuk melawan dengan "botol kecap", sebuah pilihan majas yang unik untuk merujuk pada bom molotov.
Salah satu lirik yang patut menjadi sorotan adalah "Barisan Nisan". Sebuah sajak yang dibalut dengan nada monoton yang membangun suasana mencekam. Sebuah sajak yang bercerita mengenai kegundahan dalam menghadapi hidup. Sebuah perenungan mengenai apa perlunya untuk menjadi pribadi yang peduli terhadap politik versus apolitis.

"Jangan ijinkan aku mendisiplinkan diri ke dalam barisan." (Barisan Nisan - Homicide)
Terakhir adalah Cupumanik. Band grunge ini menjadi pelengkap gerbong musisi apolitis. Dalam lagu "Luka Bernegara", Cupumanik menyatakan sikapnya. Dengan lirik yang naratif namun tetap tak kehilangan keindahan yang puitis, Cupumanik mencoba bercerita mengenai keheranan mereka atas keadaan politik negara mereka. Lirik lagu ini adalah sebuah esai kausalitas mengenai pilihan hidup mereka. Sebuah runutan kejadian dan pembenaran atas sikap mereka.

"Tinggal di negara yang sakit, kami harus menjaga diri kami tetap waras." (Luka Bernegara - Cupumanik)
Menjadi apolitis adalah pilihan. Sebuah pilihan yang biasanya diambil setelah dikecewakan oleh sebuah sistem. Inilah dasar dari seorang anarcho (saya menghindari pemakaian kata anarkis, karena biasanya diasosiasikan dengan keadaan yang kacau-balau). Mengutip perkataan orang lain, "Karena sebaik apapun, sebuah sistem tetap beresiko mati oleh potensi mereka sendiri."

Jumat, Januari 07, 2011

Lubang Hitam itu Bernama Jakarta

Digdayanya Amerika Serikat sampai-sampai ribuan bahkan jutaan orang di dunia berusaha datang ke sana untuk mengadu nasib. Itulah benang merah dari flm Crossing Over. Diceritakan dalam beberapa fragmen, nasib para imigran dari berbagai latar budaya yang datang bukan hanya untuk uang, tapi juga demi mendapatkan kewarganegaraan. Bagaimana haru-biru perjuangan imigran ini sampai dapat mengucapkan sumpah untuk menjadi warga negara Amerika Serikat.

Hal yang sama mungkin yang mendasari Warga Yahudi "pulang kampung" ke Tanah yang Dijanjikan, The promised land. Merasa Tuhan telah menjanjikan cukilan tanah di perbatasan tiga benua tersebut sebagai haknya, maka apapun akan mereka lakukan. Meraka tidak merasa sedang mengokupasi siapapun. Mereka hanya merasa sedang memperjuangkan haknya.

Untuk mendapatkan hidup yang lebih baik, manusia akan mengusahakan banyak hal, termasuk berpindah. Rasulullah pun mengajarkan hijrah. Lalu bagaimana dengan Jakarta? Dengan segala baik dan buruknya, Jakarta masih mampu menarik banyak orang untuk mengadu peruntungannya di metropolis ini. Sebagian berhasil, sebagian gagal. Di manapun rasanya ceritanya akan sama. Tapi untuk saya, Jakarta punya rasa yang sedikit berbeda dibandingkan dengan Amerika Serkat atau tanah yang dijanjikan. Buat saya, Jakarta lebih mirip lubang hitam. Sesuatu yang tidak hanya menarik, tapi juga menelan apapun yang masuk ke dalamnya.

Apapun itu, sebagai penutup, mari kita nikmati lagu dari Bangkutaman. Sebuah persembahan untuk Jakarta.

Minggu, Desember 13, 2009

the same old richard is back!

it's been a while since my last attendance on their gig. it's more than five years ago at Pekan Raya Jakarta. I remember the night. the night, that made me poke someone there that I don't know and ask, "bang, boleh numpang tidur gak? saya dari bogor nih. udah kemaleman kalo mau balik sekarang." that was freak. yeah, that's one story when I was a young gun, not a rusty revolver like now.

so when i got the information that Pas will play at Taman Mini Indonesia Indah, I think this is something that I couldn't miss. well, not only because I haven't go to any gig in the last few years, but there is some several other reasons:

  1. it's free! free at all! I just bring my ass there, then enjoy the show. thank you so much for Vespa Antique Club that made this event.
  2. Taman Mini Indonesia Indah is not too far away from my residence. it just like two and half hour trip by bus or train.
  3. this is the main reason why i must attending the gig. the drummer for this gig is not Sandy Andarusman, but Mr. Richard Mutter, the former drummer of Pas Band itself. i heard that sandy is on his honeymoon. is it true? ah, just focus to richard mutter.

so this is a reunion concert. if I count it right, this is the third time in the last 2 years, richard sit behind his drum set, again, for Pas Band. He resigned from Pas Band after the Psycho I.D. album. the first reunion was held in Rolling Stone Indonesia Event and the second one was on Jakarta Rock Festival. from what I read on the paper, Richard was giving some influence in those Pas Performance. he's like trigging the bomb that made the gig become much more powerful.

in the first time, I think it just a subjective opinion from peoples that miss Richard so much to play for Pas Band. so I was there, in Taman Mini Indonesia Indah, to prove it by myself.

they start the show at 4.15 PM. well, i'm not really sure about the time precisely. it was pretty crowded and I start bang my head. I lost the repertoir. I don't even remember what was their first song, maybe it was Kembali. I was too excited to release my emotion by sing along, song after song.

trisnoize, richard, and beng-beng (just 2mega pixel phonecamera)

off course my major focus was to the only man who almost always sit during the gig. the drummer, richard mutter. he was so awful. he do not lost the way how to blend his beat to lead every song that Pas played. i feel that i was listening to their record when richard still as the drummer. the beat, the power, the style, name it! it's totally perfect! he is one of the best hard rock drummer that indonesia ever had. even when Pas was playing their soft song, the beat is still powerful, but not excessive. Richard got his style.

if i have to choose between richard and sandy, frankly i have to choose richard. well, sandy is okay, not bad. he is good enough, but the problem is Pas's songs need a powerful, a very very powerful drum beat. that is what Sandy doesn't has.

so the gig was closed by a powerful song, Jengah from their 2.0 album. overall, the show brings my memory back to my days when i was young. yeah, I'm not young anymore. i didn't put myself to the mosh-pit like what i always do when i was a high school boy. not only because i was bringing my lady, but i think i don't have any excess power to slam my body anymore. then the show is over. i ended the evening with a blasting memory from the past. hopely it will give me another stock of flush.

Selasa, September 01, 2009

sekali ini, kita bicara soal orisinalitas

walau hanya sekejap, tapi saya berani bilang bahwa saya pernah berkecimpung di dunia kreatif. sebagaimana anak muda lain yang sedang meraba identitasnya, saya memilih untuk nge-band bersama teman-teman sekolah ketika itu. dengan modal suara pas-pasan dan pengetahuan struktur lagu yang jauh dari memadai, saya masih mampu membuat beberapa lagu. ya, beberapa lagu.

lagu-lagu yang selalu dengan bangga saya dendangkan sambil bersusah payah menarikan jemari mengganti kuncian pada frat-frat gitar. tidak peduli ada atau tidak ada yang mendengar, tidak peduli ada atau tidak ada yang mengapresiasi. untuk saya, dengan kemampuan minimal, mampu merangkai lagu sendiri adalah kebanggaan.

dengan gitar ini, lagu-lagu itu biasa saya mainkan.

tak jarang teman berkomentar tentang lagu-lagu saya. tidak terlalu banyak yang mengapresiasi memang. tetapi sering kali komentar mereka seperti ini, "ini lagu siapa sih? kayaknya gue pernah denger." mahfum mereka menanyakan lagu siapa, karena memang lagu-lagu tersebut baru saya perkenalkan ke telinga mereka. tetapi banyak dari mereka yang seperti sudah familiar dengan lagu-lagu saya. seperti berusaha mengingat, tapi kemudian ingatan tersebut tersangkut di salah satu lekukan otak.

rasanya tidak ada orang yang mau disebut plagiat. namun bagaimanapun juga, pengaruh luar akan selalu ada di dalam setiap karya, termasuk karya musik. dengan wawasan musik yang ada, tentunya saya pun secara tidak sadar menjadi "dituntun" ketika membuat lagu. dituntun oleh wawasan saya. saya dituntun intuisi saya untuk membuat progresi yang enak dilangkahkan, saya dituntun oleh intuisi saya untuk merangkai lirik yang megah, dan intuisi saya digerakkan oleh pengetahuan musik yang saya miliki.

karya-karya saya tidak mungkin orisinil. sama seperti karya orang-orang lain juga. dari pee wee gaskins sampai Sebastian Bach, mereka semua pasti memiliki pengaruh dari luar. bisa dipastikan tidak ada yang orisinil.

maka ketika ribut-ribut lagu kebangsaan Malaysia dituduh menjiplak lagu Terang Bulan, saya memilih untuk tidak ambil pusing. ternyata pilihan sikap saya seperti mendapatkan pembenaran. selang beberapa hari kemudian Remy Silado pun memberi klarifikasi bahwa ternyata lagu Terang Bulan pun menyadur lagu perancis. lucu sekaligus ironis.

untuk apa capek-capek menuduh mereka penjiplak? toh sehebat apapun progresi not yang bisa dibuat tetap saja maksimal berpijak pada 7 not yang ada pada tangga nada diatonis. orisinalitas dalam musik sudah hilang sejak awal. orisinalitas di dalam musik sudah habis ketika bunyi pertama terdengar di dunia ini. orisinalitas itu hanya milik Ia, Yang Maha Mencipta.

Selasa, Agustus 04, 2009

Urip Ariyanto (1949-2009)

di saat anak-anak gamang mencari pegangan akan siapa yang dapat dijadikan sebagai role model, mbah surip hadir untuk manjadi tempat berpegangan sementara. krisis lagu anak-anak membuat lagu tak gendong menjadi sangat dekat dengan dunia anak-anak.

yah, lagu ini sejatinya tidaklah dibuat untuk membidik pasar anak-anak. tetapi lirik dan musik yang sederhana justru membuat lagu ini amat kuat menggamit konstituen anak-anak. lebih dari itu, lagu ini tidak perlu membuat orang tua khawatir, karena temanya bukan sesuatu yang menyangkut selingkuh, putus cinta, dan "blablabla"-nya orang dewasa.

mbah surip bukan anak kemaren sore di dunia musik indonesia. kiprahnya sudah semenjak bertahun-tahun yang lalu. perjuangannya tidak mudah. kalau sekarang ia sesukses saat ini, nyata bahwa ia bukanlah buah karbitan ala acara talent show seperti aindoensian idol. ia adalah buah dari kerja keras dan konsistensi.

maka dari itu, mari lupakan soal kualitas, lupakan keindahan vokal, lupakan kekuatan napas, vibra, falset, lirik puitis, atau apapun itu. karena itu semua bukanlah dagangan yang ada di tiap lapak lagu mbah surip. mbah surip adalah seorang penyanyi yang tidak hanya bernyanyi untuk mereka yang mendengarkan, tapi lebih dari itu, dia bernyanyi untuk dirinya sendiri dengan jujur. setiap nyanyian yang jujur akan selalu dapat diapresiasi dengan baik oleh orang lain, seaneh apapun lagu itu. mbah surip sudah membuktikannya.

Senin, Maret 16, 2009

Ini Soal Selera, Bukan Kualitas

perjalanan musik di setiap generasi pasti punya perjuangannya masing-masing. masih inget gimana koes ploes berusaha melawan Bung Karno yang benci musik rock (Bung Karno menyebutnya musik ngak ngik ngok) karena menilai rock adalah produk barat yang tidak sesuai dengan falsafah budaya indonesia. masih ingat bagaimana koes ploes akhirnya memberikan sederet antitesis melalui lagu Nusantara, Nusantara 2, Nusantara 3, dan seterusnya. mereka berusaha menunjukkan bahwa aliran musik tidak memiliki korelasi apapun dengan nasionalisme.

inget juga gimana musik metal mati-matian berjuang melawan persepsi umum untuk dapat diterima sebagai aliran musik bukan murahan di akhir 80-an. sampai akhirnya metallica membuat "proposal perdamaian" antara "selera pasar" dan "idealisme metal" sehingga musik metal dapat diterima oleh banyak orang.

setiap masa punya perjuangannya masing-masing, hip-hop, grunge, punk, bahkan musik melayupun punya ceritanya masing-masing. dulu banyak orang yang mempertentangkan antara musik major label dengan musik indie label. tapi kemudian perbedaan nilai antara keduanya sudah semakin bias, hingga kemudian orang-orang indie (entah karena pembenaran mereka yang mulai memakai cara-cara major label dalam berdagang) lebih sepakat membedakannya menjadi musik bagus dan musik tidak bagus.

bicara tentang musik, rasanya tidak adil jika menggunakan batasan-batasan objektif sebagai bahan penilaian. musik adalah soal selera, sesuatu yang subjektif, dan tidak bisa disamaratakan antar orang. jika kita ingin memberi cap sebuah musik itu Bagus maka pasti akan mendapatkan resistensinya dari sebagian orang, begitu pula ketika kita menilai sebuah musik itu jelek, pasti akan menimbulkan resistensi dari orang yang lain.

rasanya lebih tepat jika membedakan musik antara Disukai dan Tidak Disukai. tentunya penilaian ini akan menjadi berbeda dari tiap orang. tidak perlu lagi ada cela-celaan terhadap salah satu genre musik tertentu. gak perlu ngehina rock sebagai musik ngak ngik ngok, gak perlu juga david naif ngejelek-jelekin kangen band mulu. musik adalah soal selera, maka dari itu jujurlah kepada diri sendiri tentang selera kita. kalo emang hobinya musik melayu, silahkan garap itu. kalo sukanya musik metal silahkan dengerin lagu itu. perbedaan genre bukan menunjukkan kelas, karena genre tidak dibatasi dengan garis horisontal yang memisahkan atas dan bawah. yang dibutuhkan adalah saling menghormati dan memberi kesempatan bagi semua jenis musik untuk dapat berkembang.

Rabu, Agustus 06, 2008

addiction

you
out of my soul
out of my mind
out of my head
out of my dream
my agenda
my juridiction
and everything

cause you just make me dizzy
and you take me down to the valley

please
out of my soul
out of my mind
out of my head
out of my dream
my concern
my priority
staying away

Jumat, Mei 09, 2008

dewi perssik dan julia perez

dua-duanya seksi. ha ha ha... sementara otak gue mandek mau ngomongin apa. mari kita membicarakan hal-hal yang sedikit tidak berguna ini dalam perspektif gue.

gue gak suka dewi perssik karena pribadinya yang menyebalkan. entah penilaian gue bener atau salah, tapi gue ngeliat dewi perssik sebagai orang yang belagu. masih inget ketika walikota tangerang ngelarang pertunjukan dewi perssik di teritorinya? dewi perssik ngelawan dengan congkaknya. bahkan sampe ngancem-ngancem pak walikota segala. oh sintingnya dewi perssik. bukannya simpati, terus terang gue malah semakin jijik dengan dia. tidakkah ada sedikit celah di hatinya untuk melihat ketidak senonohan dirinya? liat juga dia yang ngebangga-banggain kalo dia besar di lingkungan pesantren. pendidikan macem apa yang diajarin pesantren itu ke dia. atau mungkin dia cuma sekedar jualan gorengan di lingkungan pesantren itu? gak ikutan ngaji kali ye... he he he....

sekarang kita liat julia perez. orang yang diisukan sebagai selebritis indonesia yang paling gak punya otak ini punya derajad elevasi otak yang sama aja miringnya dengan dewi perssik. kelakuannya gak bisa dipahamin orang banyak. mulai dari keeksibisionisan beliau sampe omongan-omongan dia yang jauh-jauh dari alat kelamin dan sekitarnya. tapi... entah kenapa... gue sempet beberapa kali dibuat simpatik dengan julia perez.

kejadian pertama waktu gue kebetulan secara gak sengaja nyetel silat lidah pas lagi gonta ganti channel tv. ada surat pembaca yang bilang kalo dia udah ngegugurin kandungannya karena dia hamil di luar nikah. di saat panelis laen berusaha bersikap diplomatis dan normatif dalam menyikapinya, julia perez justru mengambil sikap yang sangat tegas dan frontal. dia bilang keputusan sang penanya untuk menggugurkan kandungan adalah salah. apapun alasan yang dipake tetep aja itu adalah salah dan gak bakal ngebuat itu menjadi bener. satu poin untuk julia perez.=)

kejadian kedua waktu gue nonton acara selebriti masak yang menghadirkan julia perez sebagai bintang tamunya. tau acara ini kan? kalo gak tau, acaranya itu kurang lebih begini... si seleb, disuruh belanja dengan list belanjaan yang udah ditentuin, tapi budgetnya dibatesin cuma 25ribu. nah, biasanya si seleb bakal manfaatin keseleban dia untuk nawar harga. mulai dari bagi2 tanda tangan, poto bareng, mpe dicipok gratis. ha ha ha... jadi mupeng. nah, dengan modal muka herno, bodi yahud, dan goyangan manstabs si jupe ini berhasil beli semua belanjaan dengan harga total cuma 5000 rupiah. artinya masih nyisa 20000 lagi dong!!! biasanya, duit sisanya ini bakal dikembaliin lagi ke pembawa acara tersebut yang ngerangkep sebagai koki. tapi si julia perez ini laen... begitu dia selesai belanja, dan duitnya masih nyisa 20000, dia justru nyumbangin duit itu ke kotak amal yang dia temuin di dalem pasar itu! dua poin untuk julia perez.=)

kejadian ketiga yang gue tau adalah ketika aksi harm reduction yang dia lakuin yang berupa bagi-bagi kondom barengan dengan album dangdut dia dikecam sama meutya hatta, sang menteri pemberdayaan perempuan. sebenernya harm reduction di luar negeri sana bukanlah barang baru. di indonesia pun aksi bagi-bagi kondom ini bukan yang pertama kalinya. dulu majalah Trax juga pernah ngelakuin hal yang sama. tapi dasar julia perez apes, dia yang kena semprot. gue sendiri gak setuju dengan harm reduction model begini. tapi yang menarik adalah reaksi yang diambil julia perez. kalo dewi perssik langsung marah-marah gak karuan pas dia dicekal, julia perez justru berusaha introspeksi diri dengan nemuin seseorang yang dianggap lebih ngerti agama dibandingin dia. julia perez gak ngelawan orang yang gak suka sama dia dengan membabi buta. justru dia berusaha meminta nasehat dan diberitau di mana letak kesalahan dia. itu tiga poin untuk julia perez.=)



kalo gue disuruh milih antara dewi perssik dan julia perez (NGAREP LU, RE!!!!!!!!!!!), gue bakal milih julia perez. lebih ada bibit kesantunan di dalam dirinya. walopun pilihan itu sebenernya sama aja dengan memilih yang lebih baik diantara yang buruk. yah, semoga aja bibit kesantunan ini nantinya akan menyadarkan dia menjadi orang yang jauuuuuuuuuuuuh lebih baik. bukan gak mungkin kan? toh inneke koesherawati bisa dapet hidayah yang begitu besar.

Rabu, April 23, 2008

/rif jaminan sukses kehidupan ngeband kamu!

kalo lo mau bikin band, dan lo pengen band lo tenar!!! coba deh lo kasih nama band lo pake judul lagu /rif.

yah ini cuma urband legend aja sih (lebih tepatnya gue yang lagi bikin urban legend =P). tapi yang jelas radja dan peterpan sukses berat dengan nama band yang juga merupakan judul lagu /rif. jadi kalo lo punya band dengan lagu-lagu keren dan masih ragu untuk masuk ke industri rekaman, coba ganti nama band lo jadi "si hebat", "bunga", "loe toe ye", "salah jurusan", atau "arah"

Selasa, Oktober 23, 2007

indie dan kebebasan berfikir

satu badge selalu menggantung di bagian belakang tas saya. tulisannya "straight edge drugs free youth xxx". satu-satunya yang tersisa dari diri saya atas pengembaraan yang telah lama saya tinggalkan. pengembaraan bersama komunitas underground yang sangat-sangat independent. komunitas indie diikat oleh budaya musik yang kuat. kalau di era 80-90an sangat kental nuansa undergroundnya, sekarang komunitas indie sudah lebih terbuka dengan masuknya berbagai jenis musik mulai dari trash sampai musik new wave.

sebagai orang lama yang baru selesai dorman dari hiruk pikuk dunia indie, terus terang saya cukup kaget dengan perkembangan scene indie dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. rupanya saya sudah tertinggal jauh. saya tidak lagi bisa memahami jalan berfikir anak-anak indie. bahkan saya melihat orang-orangnya pun sudah berubah.

jika 10 tahun yang lalu anak-anak indie hanyalah orang-orang yang dianggap sebagai sampah masyarakat (dan orang-orang yang menyampahkan diri mereka sendiri), sekarang semua itu sudah berubah. kesederhanaan yang dulu menjadi identitas komunitas indie telah lenyap tak berbekas. tidak ada lagi anak-anak grunge yang cuek mencari-cari sisa makanan orang yang tak habis di meja-meja restoran fast food (seperti yang dulu biasa dilakukan teman-teman saya). anak indie hari ini dibekali mobil yang nyaman, bahkan terkadang lengkap dengan sopirnya.

tidak ada lagi kaos-kaos murahan dengan tulisan yang isinya kritikan. sekarang distro lebih mirip butik ketimbang media propaganda. kalo dulu saya beli badge straight edge dengan harga sampah, sekarang harga barang-barang di distro semakin tidak masuk akal.

dulu fanzine amat ala kadarnya. majalah yang dibuat dengan serampangan, dengan tulisan yang berisi berbagai hal mulai dari referensi band, review gigs, sampai kritikan-kritikan yang sifatnya destruktif, sekarang sudah berubah. fanzine kini telah menjelma dalam halaman maya, bukan lagi lembaran fotokopian lusuh. memang tidak salah, tapi kenapa sekarang isinya berubah? tidak ada lagi tulisan yang mempertanyakan ketidakadilan. sekarang isinya lebih banyak tentang hal-hal yang berifat keduniawian. bahkan saya tidak habis pikir, kenapa harus mereview kehidupan seorang cewek cantik (secara rutin pula!)? fanzine sudah tidak beda dengan majalah-majalah remaja seperti "Hai" yang telah terjebak dalam selera pasar dan tidak lagi jujur dengan hati.

indie yang berasal dari akar kata independent pada awalnya adalah media untuk menyalurkan apa-apa yang disukai oleh orang-orang yang selama ini termarjinalkan. tempat di mana orang-orang kecil bisa didengar dan eksis. sungguh saya tidak dapat membohongi hati saya. siapa orang-orang yang ada di dalam komunitas ini saat ini? mengapa saya merasa dikhianati oleh komunitas yang pernah memberikan banyak pelajaran bagi saya, ataukah saya yang terlampau kolot? kurang terbuka dengan perubahan yang ada saat ini.

semua sah-sah saja. saya tidak berharap komunitas indie kembali seperti dulu lagi. ketika punk masih berjaya, bukannya pop retro. ketika mohawk masih dibuat dengan lem kayu, bukannya hasil tangan-tangan banci salon. saya juga tidak lantas membenci mereka yang ada saat ini. semua itu soal pilihan. dan bagi saya, komunitas kebanyakaan saat ini lebih banyak perbedaannya dengan saya ketimbang persamaan visi yang kita miliki. saat ini saya masih mencari media pembebasan diri saya. karena komunitas indie tidak lagi banyak memiliki saluran untuk hal itu. saat ini media blog lebih menjadi pilihan yang rasional di mana pemikiran terburuk pun dapat disampaikan dengan gamblang.

didedikasikan untuk ditha desfiana yang sudah mengajak saya bernostalgia sekaligus melongok jauh ke depan dalam luapan waktu.

kangen band, nirvana-nya indonesia

wahahaha... jangan marah dulu bos. emang kesannya keterlaluan banget untuk mensejajarkan nama sebesar nirvana dengan band kampung kayak kangen band. tapi sebenernya mereka itu punya banyak banget kesamaan.

cerita nirvana berawal dari daerah northwest amerika serikat. kurt cobain (gitar dan vokal), yang merupakan otak nirvana, berasal dari aberdeen, yang merupakan bagian pesisir washington yang kumuh. sama seperti kangen band, yang hanya anak-anak kampung. anak-anak yang di wawancara-wawancara awal mereka dengan tipi masih dengan lugunya sering ngeluarin bahasa-bahasa indigen mereka seperti "kamu orang", "dia orang", dan "kita orang".

di awal karier nirvana, baik kurt maupun krist novoselic (bass) bukanlah orang yang berkecukupan. masalah keuangan selalu menjadi santapan. bahkan setelah nirvana melambung dengan album perdana mereka, bleach dan hit mereka love buzz, kurt dan krist pernah jadi pembersih ruangan. bahkan setelah smells like teens spirit meledak, kurt juga pernah tidur di kursi belakang mobilnya karena nggak sanggup bayar sewa apartemen. satu contoh lagi yang ngegambarin kalo kehidupan awal nirvana gak jauh beda dengan kangen band yang cuma pedagang sendal dan cendol keliling.

jadi untuk apa mencela orang desa? karena nirvana udah ngebuktiin kalo orang kampung pun bisa melegenda dan dihormati oleh seluruh dunia. labih baek kalo kita lebih jujur menilai hasil ketimbang terpengaruh oleh bayang-bayang yang ada di sekitarnya. seperti kata abraham lincoln, "tangkaplah pohonnya, bukan bayang-bayang yang terbentuk olehnya."

Kamis, September 13, 2007

10 album paling berpengaruh

rolling stones indonesia masuk edisi 32 di bulan desember 2007. dan sebagai hadiah akhir tahun, mereka membuat edisi spesial, yaitu 150 album terbaik yang pernah dihasilkan musisi indonesia. sekedar informasi peringkat pertama didudukin sama "badai pasti berlalu". no wonder lah ya...

ada beberapa fakta yang cukup mengejutkan, karena DUA ALBUM PAS BAND MASUK daftar, bahkan album ep mereka yang berjudul 4 through the sap nemplok di posisi 9. hehehe... agak terlalu personal, tapi emang menarik, selaen itu band indie SORE bisa masukin album mereka di posisi 40. terus terang musik mereka emang cerdas.

yah... urusan ngerangking-rangking gini emang bakal selalu menimbulkan komentar-komentar yang pro maupun kontra. gue gak mau terjebak untuk mereview balik sebuah review, maka dari itu gue hadir dengan 10 album terbaek versi gue! hehehe...

tapi mengingat umur gue yang masih belia (amit-amit dah!) jadi wawasan bermusik gue mungkin hanya terbatas dari awal dekade 90-an aja. tapi gak apa-apa, semua orang berhak untuk menilai.

10 album yang gue anggep paling oke ini gak gue rangking, artinya nomer satu gak lebih baek dari nomer dua, kita anggep aja mereka semua ada pada posisi horisontal.

1. salami (/rif)
album pertama yang gue beli dengan duit gue sendiri. dan gue sama sekali gak nyesel beli album ini. album /rif terbaek karena di album ini musik mereka sangat dewasa, sangat dalam, dan kelam. lirik-lirik yang dibuat andy juga sangat serius, beda dengan album-album lanjutan mereka yang lebih mirip ketoprak.

2. indieVduality (PAS band)
sebenernya gue pengen masukin 4 album PAS band ke dalem daftar ini, tapi nti kesannnya terlalu gimanaaaa gitu...=P akhirnya setelah gue timang-timang inilah album terbaik pas band. di album ini mereka menawarkan lebih dari sekedar musik. mereka menawarkan pengalaman audio yang sampai saat ini belum pernah bisa gue dapetin dari musisi-musisi laen. permainan instrumen yang ciamik, progresi chord yang aneh (gue berusaha menghindari kata pintar), tempo yang berubah dengan drastis dalam satu lagu, dan lirik-lirik yang eksploratif menunjukkan wawasan mereka yang tidak dangkal.

3. the best of (rida sita dewi)
ha ha ha... this badass (still) needs tender, dude! buat gue, trio ini adalah pahlawan musik pop. musik manis, suara lembut gak dibuat-buat, gak ada pamer kualitas vokal. yang bisa gue dapet dari mereka adalah HARMONI. seperti diinfus dengan larutan isotonik, yang bisa bercampur langsung dengan darah. melebur begitu aja. bener-bener manis.

4. terbaik terbaik (dewa 19)
sebuah dilema sebenernya ketika ahmad dhani tiba-tiba kecanduan kahlil gibran. segala sesuatu menjadi berubah. secara musikalitas dhani menjadi lebih kaya dalam bereksplorasi, namun di saat yang sama sebenarnya dhani (dan dewa) mulai memutar navigasi mereka ke arah yang tidak terduga dan meninggalkan akar mereka di rock murni. terbaik terbaik buat gue sebenernya bukan merucuk pada album itu sendiri, tetapi lebih sebagai batas diskografi dewa era ari laso dan once. dewa 19 yang sangat manis dengan nuansa ballad seperti yang tertuang dalam 'cinta kan membawamu kembali' (senada dengan kangen) sampai yang full power di lagu 'cukup siti nurbaya' dengan besetan gitar yang sangat rock. hm... miss that moment.

5. pure saturday (pure saturday)
yupz, gue emang termasuk orang yang kebetulan memantau perkembangan awal musik indie di indonesia (dan kemudian meninggalkannya, dan lalu masuk kembali =P). dan selain pas band, pure saturday adalah second line yang harus kita beri hormat. bicara soal album pertama mereka, (tanpa ada maksud mengecilkan makna lagu-lagu lain seperti "a song' dan "coklat') gak bakal bisa lepas dari lagu 'kosong'. lagu ini punya kekuatan magis yang gak bisa didapet semua band yang pernah bikin hits. satu lagu ini bener-bener lagu yang sangat jujur dan gue rasa menjadi sweetheart untuk siapapun yang ngedengernya. gak bakal ada yang bilang lagu ini jelek.

6. rairaka (AIR)
hahaha. di antara lo semua gue yakin agak gak terlalu ngeh dengan album ini. ini adalah album kedua AIR (sebuah side project dari beng-beng (pas band) dengan adek perempuannya). secara materi lagunya sih biasa-biasa aja. tapi ada kesan unik yang bisa gue tangkep dari album ini. makanya gue suka!=P

7. sheila on 7 (sheila on 7)
ya ya ya... silahkan tertawa. ini emang guilty pleasure gue. tapi sebenernya gak juga, karena menurut gue album ini emang bagus. sekali lagi, gue negesin kalo gue suka musik yang jujur, dan menurut gue album ini emang bener-bener jujur. walaupun gue gak sempet aware dengan lagu 'dan' maupun 'kita' ketika kedua single itu dibuat video klipnya, gue baru tertarik ketika lagu legendaris mereka (yang cuma make 2 kunci itu lho...) 'anugerah terindah yang pernah kumiliki' dan 'kakakku rani' masuk ke Mtv. album bagus, layak untuk kita nyanyiin bareng-bareng sebagai tembang kenangan dua atau tiga puluh tahun lagi.

8. matraman (the upstairs)
pertama gue tau band ini karena mereka muncul sekilas di HAI sebagai the next big thing. di majalah itu dikomentarin bahwa mereka punya vokalis yang tampangnya gak enak buat diliat. waktu itu gue belum denger musik mereka, sampai gue denger matraman... dan inilah awal dari kembalinya gue melirik dunia indie. tanpa pikir panjang, gue langsung nyari temen yang sering nongkrong di distro untuk beliin gue kaset ini. dan emang worth it. album yang pas buat jadi welcome drink gue ke kiprah indie. don't get to drunk, it's just a start!

9. Topeng (Iwa K)
dikit orang yang tau kalo gue sebenernya tertarik dengan musik rap. dari semua album Iwa K (dan juga untuk mewakili album-album rap laen yang pernah nongol di indonesia), gue milih album ini sebagai masterpiece beliau. lagu topeng bener-bener dahsyat. sayang scene rap lokal banyak yang gak fokus dengan yang mereka tuju dan justru ngebuat gue jijik. tapi tetep salut buat iwa k, fade2black, homicide, kripik pedeus, dan saint loco!

10. tanah (Nugie)
album pertama nugie. bagian pertama dari trilogi tanah, air, dan udara. masih kental nuansa seattlesound-nya. lagu-lagu keras yang mengalir cepat tanpa perlu bikin kuping jadi sakit atau otak jadi capek untuk mencerna.

Jumat, Agustus 03, 2007

rock n' roll!!!

musik rock gak pernah mati. rock selalu berevolusi dari waktu ke waktu. kalo mbah-mbah ngomong rock, maka rock yang dimaksud bakalan beda dengan apa yang terbayang oleh angkatan bapak-ibu kita. penafsiran rock dari kedua zaman itu pun bakalan beda dengan apa yang dimaksud dengan rock jaman kita-kita. dedengkot rock emang beatles, tapi sebenernya gue lebih sepakat kalo led zeppelin-lah yang meletakkan dasar-dasar rock n' roll secara kuat.

musik rock adalah musik pemberontakan dan poros utama dari perkembangan aliran musik mainstream saat ini. dari rock kemudian lahir punk dengan dedengkot mereka si sex pistol jahanam itu. dari punk kemudian bergeser lagi jadi grunge yang diaku-akuin asalnya dari seattle. aliran musik yang make embel-embel rock juga gak sedikit, progresif rock yang dimotorin the who sama genesis sempet jadi pedoman musik "pintar" dunia di era 70 sampe 80-an. glam rock juga salah satu cabang rock, walo menurut gue glam rock lebih ke arah attitude si artis ketimbang roh dari musik yang mereka bawain. garage rock yang akhir-akhir ini naek daon lagi menurut gue adalah jenis rock yang paling sederhana sekaligus paling nendang. gue rasa dari jenis inilah rock kemudian bergeser jadi punk. kalo lo liat acara grammy jaman sekarang, nggak jarang pemenang untuk kategori best rock performance ato best rock album justru jatoh ke musisi metal. ini juga nunjukin kalo (r)evolusi rock bener-bener dahsyat. maka dari itu, rock lebih daripada sekedar aliran musik. ngomong-ngomong soal rock n' roll, gak banyak orang yang tau kalo sebenernya jargon rock n' roll ini sebenernya adalah sebuah filosofi hidup. penafsirannya kira-kira begini, hidup itu keras, sekeras batu karang (ROCK), namun demikian, sekeras apapun hidup, hidup tetep harus bergulir (ROLL). [maksa lu!] bodo amat!

sayangnya kayaknya falsafah ini gak dianut oleh banyak rocker. sayang banget kurt cobain harus mati bunuh diri. jim morrisonnya the doors juga sama ajah. sayang juga banyak rocker yang lari ke narkotika. hidup emang keras, tapi hidup harus tetep bergulir.

Selasa, Maret 06, 2007

quo vadis Mtv Indonesia

Mtv Indonesia gue nilai udah gagal dalam mengemban misinya sebagai saluran musik. liat aja acara-acara Mtv yang makin hari makin nggak mutu, vj_yang_sumpah najis_abis, dll.


VJ

gue bener2 sebel sama cathy dan ryanti. kenapa sih ngomongnya mesti dibuat seperti bule-bule yang masih susah ngomong pake bahasa indonesia. bahasa inggeris mereka juga nggak bagus2 amat koq! si daniel juga gak kalah tolol! VJ Mtv paling belagu yang pernah ada. terus terang gue rindu duet sarah sechan dan jamie aditya.

MUSIK
musik di Mtv jauh dari beragam. ke mana perginya alternative nations? music non-stop hits-nya juga itu-itu aja. gak ada perkembangan. Mtv Asia HitList juga udah gak ada. padahal acara itu perlu sebagai barometer musik dunia yang ada saat ini. kalo kayak begini terus kesannya Mtv seperti kucing dalam karung, eh, katak dalam tempurung diing... Mtv gagal memberikan wawasan musik yang lebih luas ke masyarakat Indonesia. musiknya gak beragam dan sangat mainstream... tidak mendukung scene-scene local-indie. kalo pun ada yang didukung, sangat terbatas! wawasan musik dari luar juga gak banyak. banyak video klip2 bagus dari luar yang nggak masuk tayangan Mtv. belom lagi kalo kita mo ngomongin musik-musik asik dari negara-negara Asia yang bisa dijadiin inspirasi. Beeeeh....

ACARA
music remedy, global room, gokil, and else you name it laaaah... gak lebih dari sekedar sampah!!! gak ada acara yang mendidik. kalo mendidik emang bukan target dari Mtv, acara-acara yang ada itu menghibur pun tidak!!! ke mana perginya Mtv bujang ketika host-nya masih vincent-desta, ke mana perginya Mtv Most Wanted?

Gue mau Mtv gue yang dulu di era 90-an!!!!!!

Jumat, Januari 26, 2007

bunga-bunga mulai bermekaran

di awal tahun 2004, temen sekamar gue di asrama (mr. rayadeyaka), beresolusi: pokoknya taun ini gue harus bisa bikin film sama novel. anehnya, gue yang biasanya paling anti ikut-ikutan orang laen, merasa tertantang: kenapa nggak? gue juga harus bisa bikin buku dan film! di tengah perjalanan, gue yang memang sejatinya menggandrungi musik, malah nambah janji yang muluk-muluk: mau bikin lagu yang direkam terus disebarluasin. akhirnya, taun 2004 lewat tanpa ada satupun dari cita-cita itu yang tercapai.

rupanya sekedar semangat untuk ngewujudin sesuatu itu masih jauh dari cukup untuk bisa membuatnya jadi nyata. masih butuh kerja keras, ketekunan, dan persistensi untuk menggapainya. tapi satu per satu impian itu mulai terwujud. sebuah buku yang isinya kumpulan esai berhasil gue selesaiin. beberapa komentar bagus juga dateng dari temen-temen gue (mungkin mereka cuma sekedar ingin berbaik hati aja ama gue, jadi muji-muji =D), tapi ada juga yang bilang buku gue gak mutu (bisa dipastiin orang-orang yang ngomong ini adalah orang-orang yang nggak berwawasan luas =P).

lepas dari 2005, gue mulai pesimis kalo cita-cita gue yang dua (bikin lagu ma bikin film) gak bakal kesampean. tapi tadi sore segala sesuatu berubah dengan drastis. tiba-tiba gue menawarkan diri untuk ikut ngebantu pembuatan sebuah film dokumenter ttg kelas gue. bukan film yang terlalu serius dengan storyboard yang mantabh, tapi okelah untuk pemula. dari empat orang yang berkecimpung di proyek ini, gak ada satupun yang sebelumnya pernah ikut dalam sebuah proyek film. banyak maunya, padahal kemampuannya sedikit banget. alhasil, untuk nyelesein durasi 2 menit 30 detik aja dibutuhkan waktu 3 jam pengeditan. mr odonx (orang yang ngaku-ngaku sebagai kembaran gue) pernah bilang: itulah kalo kemampuan terbatas, tapi banyak maunya, jadinya repot sendiri. emang repot sih, tapi asyik juga belajar sesuatu yang baru. make software juga seadanya aja. seorang temen lama gue yang kini menimba ilmu di depok mr fiki (orang satu ini juga diakui sebagai sodara kembar gue, walo secara fisik lebih mirip langit dan bumi) pernah bilang ke gue: dream a lot, think a lot, do a lot. dan itulah yang kita lakuin, banyak bermimpi, banyak berfikir, dan lebih banyak lagi bekerja. (credits goes to: deri, mayang, and detri)

artinya, tinggal satu misi yang belum terlaksana, bikin rekaman. tapi tenang aja, dalam dua hari ini, gue udah mulai ngebentuk tim untuk mewujudkan cita-cita gue ini.

sampai saatnya nanti gue bakal nikmatin indahnya rekahan mekar kuncup bunga yang gue tanam selama ini.

Minggu, Desember 10, 2006

padang pasir

gue inget dua cerita tentang padang pasir. betapa tidak, padang pasir bisa menceritakan berjuta kisah bijak dalam kemonotonan warna dan komponennya

satu video klip dari scorpions, band gaek dari jerman, yang punya judul "under the same sun". video klip ini bukan cuma nampilin band rock dengan jaket kulit yang maenin musik, tapi juga ada cerita yang dikandungnya.

ceritanya itu kalo nggak salah (maaf, udah lama nggak liat video klipnya sih...) ada tiga orang di padang pasir. mereka tersesat dan mulai kehabisan tenaga. tak lama, mereka melihat sebuah kendi air di kejauhan. mereka bergegas berusaha mendekati kendi tersebut. dengan sisa tenaga mereka berlari. namun kemudian, salah satu dari mereka berusaha menjegal yang lainnya. berlanjut dengan yang lainnya menjegal yang lainnya lagi. mereka bertiga berkelahi dalam perjalanan mendapatkan kendi tersebut. tiga orang berkelahi, dan hanya ada satu yang bertahan hidup meninggalkan dua mayat temannya. akhirnya dengan tertatih-tatih ia mendekati kendi tersebut. sesampainya, diraihnya kendi tersebut dan diangkatnya tinggi-tinggi dengan senyum puas. lalu dia berusaha menuang isi kendi tersebut ke mukanya untuk mendapatkan kesegaran dan melepas dahaganya. namun apa dinyana, rupanya bukan air yang menerpa wajahnya, namun hanya pasir. kendi tersebut hanya berisi pasir. sama seperti yang ada di sekitarnya. kalah jadi abu, menang jadi arang

cause we all live under the same sky
we all look up to the same stars
then why can't we live as one.

(jadi inget cerita invasi amerika serikat ke irak...)

cerita kedua gue ambil dari film "sweat" buatan perancis. ceritanya tentang pengkhianatan yang dilakukan diantara sekomplotan penjahat yang baru saja merampok emas. dalam pelariannya, mereka menempuh rute padang pasir yang ada di maroko dengan menggunakan truk gandeng. salah satu adegan yang menarik adalah manakala salah seorang diantara mereka diturunkan di tengah padang pasir dengan kaki terikat pada sebuah jerigen yang berisi air dengan menggunakan rantai baja yang kuat. akhirnya orang tersebut harus berjalan tertatih-tatih di padang pasir sambil menggeret jerigen yang berisi air yang berat. seperti buah simalakama. air dibuang, artinya mati kehausan. air dibiarkan, artinya memperlambat jalan dia. pada akhir kisah diceritakan rupanya kesemua komplotan tersebut tidak ada yang berhasil mendapatkan emas. emas yang ada diambil oleh rekanan mereka yang mengkhianati mereka dan meninggalkan satu-satunya "survivor" dari komplotan penjahat tersebut di pinggir pantai yang berbatasan langsung dengan padang pasir. di depannya membentang samudera, dan di belakangnya padang pasir panas yang penuh dengan ranjau sisa perang. gambar film tersebut ditutup dengan adegan si survivor yang hanya bisa menghitung burung camar yang lewat sambil menunggu ajalnya.