Tampilkan postingan dengan label info gak guna. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label info gak guna. Tampilkan semua postingan

Rabu, Juli 18, 2012

Bahasa Indonesia: Apa-Apa yang Belum Selesai Darinya

Tugas bahasa Indonesia untuk menjadi bahasa yang sempurna belum tuntas. Masih banyak hal-hal yang harus diputuskan mana yang benar. Kalaupun sudah benar, masih harus dipromosikan untuk digunakan oleh semua kalangan.


Namun sayangnya bahasa Indonesia semakin hari justru semakin rusak. Inkonsistensi pemakai bahasa Indonesia menjadi penyebab utamanya. Padahal secara struktur kalimat, bahasa Indonesia sudah amat baik. Hal ini amat penting, karena semakin baik struktur kalimat, semakin jarang ditemui kalimat-kalimat ambigu.


Struktur Kalimat yang Baik


Struktur kalimat yang baik ditopang dari jelasnya pemisahan antara masing-masing komponen kalimat. Bukan hanya subyek, predikat, obyek, dan keterangan dapat dipisahkan dengan jelas, namun juga antara komponen yang setara. Misalnya pada kalimat yang memiliki subyek atau obyek jamak. Sayangnya, kini seringkali kita jumpai kalimat yang tidak tepat penulisannya di ruang-ruang publik atau bahkan di media cetak atau maya.
Rusdi harus rela kehilangan dompet, uang serta ponsel.
Banyak sekali orang menuliskan kalimat seperti di atas. Padahal kalimat tersebut salah. Struktur kalimat ini memang seringkali ditemui di dalam kalimat bahasa Inggris, entah benar atau tidak. Tapi yang jelas, dalam struktur kalimat Bahasa Indonesia, penulisan tersebut adalah keliru.
Sekarang mari kita penggal komponen kalimat tersebut.
Rusdi = Subyek
harus rela kehilangan = Predikat
dompet = Obyek I
uang = Obyek II
serta ponsel = Obyek III.


Kalimat ini adalah kalimat majemuk setara dengan tiga obyek. Karena subyek dan predikatnya sama, maka kedua komponen tersebut melebur dan menyisakan tiga obyek di belakang yang harus dipisahkan dengan tanda baca koma (","). Kata sambung "serta" hanya digunakan untuk menandakan bahwa kalimat telah mencapai obyek terakhir dan tidak membuat tanda koma sebelum kata "serta" menjadi hilang. Maka penulisan yang benar adalah:
Rusdi harus rela kehilangan dompet, uang, dan ponsel.
Pemakaian tanda koma ini penting untuk menghindari struktur kalimat aneh apabila obyek kalimatnya adalah pasangan. Contoh kalimat nyeleneh yang saya maksud adalah sebagai berikut:
Pesta ini dihadiri oleh pasangan Tarzan dan Jane, Windu dan Devina serta Johan dan Erni.
Kalimat tersebut menjadi berantakan di bagian akhir karena ada banyak kata sambung yang tidak jelas pemenggalannya. Kata sambung "serta" tidak dapat menggantikan tanda baca koma (",") untuk memisahkan antara masing-masing komponen kalimat. Tanda koma (",") penting untuk memisahkan antar pasangan. 
Pesta ini dihadiri oleh pasangan Tarzan dan Jane, Windu dan Devina, serta Johan dan Erni.


Kejanggalan dalam bahasa Indonesia


Meskipun secara struktur kalimat sudah baik, namun bahasa Indonesia masih banyak memiliki kejanggalan yang lazim kita temui dalam percakapan sehari-hari. 
Siapa nama kamu?
Berapa nomor telepon kamu?
Dua kalimat di atas adalah salah satu contoh kalimat yang sebenarnya janggal namun lazim diucapkan. Kalimat pertama menggunakan kata tanya "siapa" untuk menanyakan nama. Sebenarnya lebih tepat menggunakan kata "apa", karena nama adalah benda, bukan orang. Jika ingin menggunakan kata tanya "siapa" maka kalimatnya cukup menjadi:
Siapa Kamu?
 atau
Apa Nama Kamu
Kalimat kedua juga janggal karena menggunakan kata tanya "berapa" untuk menanyakan nomor telepon. Sebenarnya tidak salah jika kemudian dijawab dengan jumlah nomor telepon yang dimiliki, seperti: 
Saya punya 2 buah nomor telepon.
Namun tentu bukan itu yang dimaksud dengan pertanyaan di atas. Fungsi kata tanya "berapa" digunakan untuk menanyakan jumlah. Sedangkan nomor telepon yang dimaksud adalah sebagai sebuah identitas, bukan sebagai jumlah. Maka kalimat yang lebih tepat adalah:
Apa nomor telepon kamu?
Merasa aneh? Mari kita bandingkan padanan dua kalimat tersebut di atas dengan bahasa Inggris. Kejanggalan dua kalimat tersebut tidak ditemukan di bahasa Inggris. 
What is your name?
What is your number?
Dalam bahasa inggris, kata tanya yang digunakan adalah "what" bukan "who" atau "how much". Dalam hal ini, bahasa Indonesia memang ketinggalan. Perlu ada evaluasi dari ahli bahasa untuk mengubah kebiasaan yang sebenarnya salah ini. Namun evaluasi saja hanyalah hal yang sepele. Permasalahan yang kemudian akan terbuka adalah bagaimana mempromosikan penggunaan kata yang benar ini.


Media Massa dan Bahasa Mereka (yang Seenaknya Saja)


Media massa, sebagai pengguna utama bahasa tulisan, sejatinya memegang tanggung jawab moral yang amat berat dalam menjaga kesahihan bahasa Indonesia. Celakanya, yang terjadi justru sebaliknya.


Tidak jarang media massa menggunakan kata yang tidak sesuai dengan maknya. Contoh yang paling mudah adalah "alih-alih". Media kebanyakan mengartikan "alih-alih" sebagai "jangankan" atau "bukannya". Contoh kalimatnya adalah:
Alih-alih turut serta memberantas korupsi, Presiden justru terkesan membiarkannya.
Penggunaan kata alih-alih sudah sedemikian massifnya, hingga semua orang pun kini "sepakat" memang seperti itulah arti kata "alih-alih".  Padahal menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti dari "alih-alih" adalah sebagai berikut:
alih-alih p 1 dengan tidak disangka-sangka 2 kiranya: disangkanya sudah pergi, -- masih tidur
Seakan tidak cukup "memberi" arti baru pada kata yang jarang digunakan, media massa juga merasa perlu merubah kata yang sebenarnya sudah tepat menjadi bentuk baru. Selama ini, kita sudah sepakat bahwa kata yang benar adalah "pembalap", namun media massa merasa perlu mengubahnya menjadi "pebalap". Pergeseran bentuk kata ini bahkan terjadi di media massa besar seperti pada tautan yang tersemat pada kompas.com, republika.co.id, tempo.co, dan detik.com.


Entah bagaimana wartawan dan redaktur-redaktur di media massa mendapat ide gila tersebut. Merujuk pada KBBI pun sudah jelas salah. Jika ditarik perbandingan dengan kata-kata sejenis pun juga salah. Awalan pe jika digabung dengan kata kerja yang berawalan dengan huruf "P" akan membentuk kata benda dengan bentuk melebur menjadi pem-, seperti yang kita temui pada kata pembunuh, pembabat, pembekap, dan tentu saja pembalap.


*          *          *


Bahasa Indonesia adalah bahasa yang masih amat muda. Berakar pada bahasa Melayu, Bahasa Indonesia baru mulai diakui sebagai bahasa sendiri pada 1928, bersamaan dengan ikrar ketiga pada Sumpah Pemuda. Masih banyak hal-hal yang belum tuntas untuk disepakati secara bersama penggunaannya. Masih panjang jalan bagi bahasa Indonesia untuk menemukan bentuk bakunya yang benar-benar solid.


Di tengah perjuangan menuju bahasa yang baku tersebut, rasanya tidak bijak jika kemudian kita membuat jalan menuju ke sana makin berat dengan memberikan arti-arti baru pada apa-apa yang sebenarnya sudah selesai disepakati. Media massa sebagai elemen yang paling sering menggunakan bahasa tulisan harusnya mampu memilih diksi yang tepat, bukannya justru membuka wacana-wacana baru. 

Selasa, Oktober 04, 2011

Cukup Satu Kali Mandi Dalam Sehari


Seperti lazimnya anak-anak Indonesia lainnya, saya mandi dua kali sehari. Namun kebiasaan itu berubah ketika kuliah. Aktifitas yang tak tentu membuat jadwal mandi turut menjadi tak tentu. Akhirnya jatah mandi terpangkas menjadi hanya sekali dalam sehari. Ini adalah kondisi umum, namun ada juga saat-saat di mana saya mandi tetap dua kali sehari.

Semenjak itu, saya biasanya mandi sebelum memulai aktifitas. Mandi di pagi hari atau agak siangan. Mandi sore menjadi jarang dilakukan. Biasanya karena sudah kecapekan dan sudah terlalu larut ketika sampai di kamar kosan. Alasan konservasi air dan penghematan tentunya juga menjadi pertimbangan.

Semenjak itu mandi sore menjadi tidak penting. Mandi pagi sudah cukup mewakili 24 jam yang ada. Namun semua berubah ketika negara api menyerang bekerja di perkebunan tebu. Bergumul dengan tanah dan debu yang beterbangan dari pukul 07.00 sampai (minimal) 16.00 membuat mandi sore menjadi hal yang tak terhindarkan. Mandi sore menjadi penting dan semacam keharusan.

Di titik inilah, kebiasaan saya kembali berubah. Semenjak itu saya menjadi rajin mandi sore (untuk menggantikan mandi pagi).

Kamis, September 15, 2011

Fotokopi


Kenapa Indonesia gak maju-maju padahal banyak orang pinternya? Udah gitu, kenapa orang pinternya justru banyak yang kerja di luar negeri?
Mungkin gak, karena waktu kuliah banyak yang motokopi buku? Buku kan dilindungi hak cipta, gak boleh difotokopi tanpa ijin pemegang hak ciptanya.
Jadi aja ilmunya gak berkah. Gak memberi manfaat. Ilmunya dapet tapi gak bisa dipraktekin. Udah gitu, kena karma juga. Banyak orang pinter Indonesia yang malah kerja di luar negeri. Negaranya si pengarang-pengarang buku yang difotokopi itu. 

"Pohon kebaikan berbuah baik, begitu pun bibit kejahatan yang kau bawa" Sabda Alam // Cupumanik

Moral :
  • beli buku yang asli, jangan bajakan apalagi fotokopian.
  • rajin nyatet waktu di kelas atau perpustakaan.
  • motokopi slide dari dosen saja, jangan buku yang difotokopi. jangan lupa minta ijin ke dosennya dulu untuk digandakan slide-nya.

Jumat, Agustus 12, 2011

Pancoran oh Pancoran

Tidak seperti biasanya, sore tadi Saya memilih TransJakarta ketimbang Kereta Listrik sebagai moda transportasi untuk pulang kerja. Ketika transit di halte Kuningan Barat, Saya mulai berfikir bahwa sepertinya saya salah strategi. Bagaimana tidak, paling tidak 20 menit Saya berdiri di halte Kuningan Barat sampai akhirnya bus yang ditunggu nongol.
Lalu lintas Jakarta sore hari pastinya macet, jadi tidak bisa dijadikan alasan untuk merasa bete, tapi petaka justru datang ketika bus mulai menanjak di fly over pancoran. Mesin mendadak mati total. Bus pun berhenti menahan laju kerumunan kendaraan lain di belakang. Setelah beberapa menit, akhirnya mesin kembali nyala, namun AC tidak bisa dihidupkan. Ketika akhirnya bus sampai di halte Pancoran Tugu, sopir dan ground staff (apa sih istilah pasnya? kalo di airways biasanya disebut ground staff. :-P) sempat berdiskusi apakah perjalanan dapat dilanjutkan dengan penumpang atau penumpang dievakuasi saja di halte tersebut. Lama juga diskusinya. Bikin makin bete. Sementara satu kaki saya di bus, sedangkan kaki lainnya di halte.
Naek-enggak-naek-enggak. Di tengah situasi yang penuh dengan ketidakpastian itu ternyata pemandangan di belakang lumayan bagus. Matahari mulai tenggelam menyisakan mega di langit barat sebagai latar. Sementara lakon yang pentas di ruang lihat adalah Patung Dirgantara atau yang lebih dikenal dengan nama Patung Pancoran.


Lumayanlah, kompensasi bete dapet gambar bagus.
  1. PS1: Halte Kuningan Barat sebenernya lokasinya lebih timur daripada Halte Kuningan Timur. Dan anehnya lagi, Halte Kuningan Timur ternyata posisinya lebih barat daripada Halte Kuningan Barat. Ini yang ngasih nama halte gimana sih? Gak sesuai dengan standar nomenklatur halte yang berlaku secara umum di industri bus kota.
  2. PS2: Setelah dilihat-lihat, ternyata gambarnya gak bagus-bagus amat. *mendadak bete lagi*


Selasa, April 06, 2010

Langit Masih Terlalu Luas

Siapa yang terlanjur kenal dengan uang namun tidak tergoda sedikitpun dengannya? Hampir pasti tidak ada.

Uang memang tidak bisa membeli segalanya, tapi dengan uang, hampir segalanya bisa dibeli. Sebagai sebuah besaran, uang memiliki fleksibilitas yang tinggi hingga hampir semua barang pun jasa bisa dinilai dalam satuan-satuan yang dimilikinya.

Dimanapun, uang akan selalu memiliki dua sisi. Meskipun kedua sisi tersebut selalu berbeda, sifatnya akan selalu sama: seduktif. Sedikit banyak, hal itu juga yang mendorong saya saya untuk pindah dari kenyamanan ala kota Bogor ke tengah perkebunan di Lampung Tengah.

Awalnya agak kaget juga karena ternyata saya harus beradaptasi dengan wilayah yang masih kesulitan untuk mengakses informasi. Sinyal ponsel kelap-kelip, tidak ada jalur telepon kabel, dan warnet terdekat berjarak hampir 11 km (itupun per jamnya Rp 8000,00) membuat aktivitas saya di dunia maya semakin terbatas.

Hah, nikmati saja dulu. Toh pada akhirnya nanti akan ada waktu untuk meredefinisi mimpi. Luasnya langit masih menggoda untuk mengajak kembali berkelana.

Kamis, Maret 04, 2010

Bersalah dan Berdosa

Orang yang tidak membayar pajak bisa dikenai kurungan penjara karena perbuatannya melanggar hukum. Orang yang tidak memiliki SIM bisa ditilang polisi lalu lintas di jalan. Alasannya pun sama, melanggar hukum.

Meskipun bersalah di mata hukum, bukan berarti orang-orang tersebut berdosa. Berdosa dan bersalah adalah dua hal yang berbeda, meskipun seringkali terjadi irisan dari dua himpunan tersebut, bersalah sekaligus berdosa.

Kata "bersalah" akan merujuk pada hukum yang dipakai sebagai kesepakatan bersama. Sedangkan "berdosa" merujuk pada aturan agama. Rasanya tidak ada satupun agama yang menyebutkan kewajiban untuk membayar pajak dan keharusan memiliki SIM untuk orang yang membawa kendaraan. Maka ada perbedaan sumber aturan yang dipakai untuk memutuskan status bersalah dan berdosa.

Hal ini terjadi sebagai konsekuensi atas penerapan hukum yang dibuat dengan konsensus. Suka tidak suka, ini yang harus diterima. Apabila pemerintah kemudian membuat peraturan yang menyatakan bahwa nikah siri dilarang, maka orang yang melakukan nikah siri tersebut akan memiliki status yang sama dengan pengemplang pajak dan pengemudi kendaraan yang tidak memiliki SIM, bersalah tapi tidak berdosa.

Dasi dan Selendang

Memilih pakaian tentunya selalu memperhitungkan dua aspek, fungsi dan estetika. Pakaian yang dapat melindungi tubuh dan nyaman dikenakan harusnya menjadi pertimbangan pertama. Baru kemudian indah tidaknya pakaian tersebut dilihat yang menjadi perhitungan.

Anomali terjadi pada dasi dan selendang. Pada hakikatnya, dasi dan selendang sama sekali tidak memiliki fungsi. Kedua jenis pakaian ini digunakan hanya untuk kepentingan estetika belaka. Mungkin beberapa orang ada yang memfungsikan ujung dasi atau selendang untuk mengelap mulut sehabis makan. Tapi tentu harusnya bukan itu fungsi kedua benda tersebut.

Jika dilihat dari sisi kepentingannya yang hanya untuk memenuhi syarat estetika, maka dasi dan selendang lebih tepat dikatakan sebagai aksesoris, bukan sebagai pakaian. Namun demikian, beberapa orang memposisikan benda ini, khususnya dasi, sebagai batas kepatutat pakaian untuk dikategorikan sebagai pakaian resmi. Beberapa kantor menghendaki karyawannya selalu berdasi. Di pesta-pesta yang sifatnya resmi pun demikian, yang pria berdasi sementara yang perempuan berselendang melengkapi kebayanya.

Maka jadilah dasi dan selendang berada pada status abu-abu. Di antara pakaian dan aksesoris. Tidak bisa disebut pakaian karena tidak memiliki fungsi. Tidak pula bisa dikatakan sebagai sekedar aksesoris karena kehadirannya menjadi syarat formal tidaknya sebuah pakaian.

Kamis, Januari 28, 2010

Sajak Suara

salah satu acara pembuka South to South Film Festival 2010 yang lalu adalah pembacaan puisi oleh dua orang anak korban lumpur Lapindo. dalam acara gladi resik, saya sempat menemani kedua anak itu mencoba sistem suara yang ada di panggung.

dengan lantang salah satu anak itu membacakan beberapa deret kalimat yang tercetak di selembar kertas yang sudah kumal. sementara rekannya memainkan nada-nada diatonik melalui piano mainan sebagai musik latarnya.

sebelumnya saya sempat berpikir bahwa mereka akan memainkan puisi karya mereka sendiri. ternyata yang mereka bawakan adalah milik orang lain. kaget juga mendengar permainan diksi dari puisi yang dibawakan anak itu. bait-baitnya keras menghentak meski tidak kasar. tidak mungkin ini adalah gubahan anak kecil.

setelah dua bait, saya mulai merasakan aroma-aroma HOMICIDE. sambil mengingat-ingat lagu HOMICIDE mana yang mirip dengan puisi tersebut. terus terang saya tidak pernah benar-benar mencoba menghafalkan lirik lagu-lagu HOMICIDE, kecuali barisan nisan. itupun lebih dikarenakan barisan nisan adalah satu-satunya lagu (atau sajak?) yang dilafazkan mereka dengan suara terang.

akhirnya waktunya pentas. sepanjang pembacaan puisi saya bersiap di sisi panggung. maklum, kebagian tugas menyiapkan panggung. lepas pembacaan puisi, kawan di sebelah saya bertanya,"tau gak tadi itu puisi siapa?"

"gak tau.. emang siapa?"

"widji tukul," ujarnya.

namanya memang tidak asing di telinga saya. sebagai salah satu korban keganasan praktik penghilangan orang, nama Widji Tukul telah melegenda jauh sebelum Munir wafat. namun demikian, saya baru satu kali mendengar puisinya. ah, miskin sekali wawasan sastra saya ini. setelah ditelisik lebih jauh, ternyata puisi yang dibawakan malam itu memang begitu melegenda di kalangan ekstrimis aktivis kemanusiaan, sampai-sampai HOMICIDE menginterpretasikan puisi ini ke dalam sebuah lagu dengan judul yang sama. inilah puisi yang dibawakan malam hari itu.

Sajak Suara

sesungguhnya suara itu tak bisa diredam
mulut bisa dibungkam
namun siapa mampu menghentikan nyanyian bimbang
dan pertanyaan-pertanyaan dari lidah jiwaku

suara-suara itu tak bisa dipenjarakan
di sana bersemayam kemerdekaan
apabila engkau memaksa diam
aku siapkan untukmu : pemberontakkan!

sesungguhnya suara itu bukan perampok
yang merayakan hartamu
ia ingin bicara
mengapa kaukokang senjata
dan gemetar ketika suara-suara itu
menuntut keadilan?

sesungguhnya suara itu akan menjadi kata
ia yang mengajari aku untuk bertanya
dan pada akhirnya tidak bisa tidak
engkau harus menjawabnya
apabila engkau tetap bertahan
aku akan memburumu seperti kutukan

Rabu, Januari 27, 2010

Sidang

salah satu acara rutin yang menyebalkan di masa-masa aktif berorganisasi di kampus adalah ketika harus melakukan kongres. kongres, sidang umum, rapat akbar, suksesi, atau apalah namanya bisa menjadi pengalaman mengerikan karena sering membahas hal-hal yang tidak substansif sampai berjam-jam. misalnya, dalam penetapan tata tertib kongres dibahas apakah peserta kongres harus menggunakan sepatu di dalam kongres atau tidak. untuk kasus yang seperti ini, saya punya pengalaman.

saya yang ketika itu kebetulan sedang menjabat sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas pelaksanaan kongres tersebut (ketua pelaksana sidang) dipaksa menjadi pimpinan presidium sementara. tugasnya sih sepele, hanya menentukan presidium tetap untuk kongres. singkat kata, berkat ketegasan dan manuver saya (dengan mengatasnamakan efisiensi waktu) akhirnya saya bisa men-drive keputusan hingga tidak bertele-tele. tidak sampai 5 menit semenjak sidang dimulai pada pukul 9.00, forum sudah mendapatkan presidiumnya.

agenda pertama yang dibahas oleh presidium terpilih tentu saja adalah tata tertib sidang. sekali lagi, sebagai orang yang bertanggung jawab atas terlaksananya kongres ini, saya kembali bermanuver. dengan sigap saya mengusulkan untuk mempertimbangkan tata tertib yang sudah saya buat draftnya. akhirnya draft saya pun dibahas.

senyum optimis sempat mengembang. optimis sidang kali ini tidak akan bertele-tele dan dapat selesai secepat mungkin. namun ternyata dugaan saya meleset. adu argumen akhirnya meletus ketika membahas poin-poin tata tertib. kebanyakan yang dipermasalahkan pun tidak substantif. masalah pakaian yang harus dikenakan lah, masalah parameter kesopanan lah.

sampai satu poin, akhirnya posisi saya justru tersudutkan. salah satu poin yang sedang digodok adalah penggunaan jas almamater sebagai pakaian yang harus digunakan. sementara saya, tidak membawa jas almamater. setelah lobi-lobi dan adu argumentasi akhirnya disahkanlah tata tertib sidang di mana salah satu poinnya adalah: peserta sidang diharuskan mengenakan jas almamater.

maka dengan sangat ironis, orang yang sempat menjadi pimpinan presidium sementara, orang yang paling bertanggung jawab atas pelaksanaan sidang tersebut, harus keluar dari ruang sidang untuk mencari jas almamater.

menyesalkah? oh tidak. justru saya melihat ini sebagai keberuntungan. beruntung karena terbebas dari sidang yang rasanya akan banyak diwarnai dengan perdebatan non-substantif. akhirnya dengan langkah kaki ringan saya pulang ke rumah, makan siang, sholat, lalu bobok siang.

Kamis, Desember 17, 2009

sepenggal cerita dari danau LSI

di kampus saya dulu, ada sebuah danau buatan. kita biasa menyebutnya danau LSI, karena letaknya yang bersebelahan dengan Gedung LSI. danau itu menjadi satu ekosistem yang cukup kompleks karena terdiri dari air, rawa, dan daratan. banyak makhluk yang hidup di sana, mulai dari burung kowak malam kelabu, katak, ular, ilalang, sampai ikan. di siang hari, biasanya ada saja satu dua bapak yang mencoba memancing ikan.

setiap hari mungkin ada ratusan lebih orang yang melintasi tepian danau itu. mulai dari mereka yang tergesa-gesa dengan urusannya di rektorat ataupun yang hanya sekedar ingin menumpang akses internet di perpustakaan. dari sekian banyak orang yang lewat itu, rasanya hanya sedikit yang sering memperhatikan keindahan danau ini. di tepi danau ini, dibangun sebuah kantin. tetapi anehnya si pengelola justru menyekat keindahan di luar sana dengan lembaran plastik tebal.

saya sering menikmati indahnya danau ini, sekedar menikmati terpaan angin sejuk di pinggir danau ketika berjalan melintas. sesekali saya juga mengamati kawanan burung yang mengepakkan sayapnya terbang dan mendarat. jika sedang bosan tidak jarang saya berhenti sejenak hanya untuk menikmati lingkaran-lingkaran yang terbentuk dari tetesan pelimbahan di permukaan danau yang bergerak menjauh dari pusatnya.

banyak keindahan yang terlewat dari bidang lihat mereka yang melintas. bukan karena mereka tidak melihat, tapi karena mereka tidak mau melihat.

buat saya, danau LSI adalah sebuah panggung kesenian megah. setiap saat selalu mempertontonkan kemegahan karya Sang Pencipta. sampai saat malam, ketika tirai panggung utama tersingkap dan orkestrasi jangkrik mengawal ratusan bahkan ribuan kunang-kunang memainkan simfoni cahaya. kerlap-kerlip pendaran hijau-kuning tak putus-putusnya mengalir, apalagi jika hujan baru saja singgah. sesekali jika sedang beruntung, satu kunang-kunang terbang mendekat seakan memberi ucapan terima kasih atas kehadiran saya pada malam itu.

seorang penonton lain yang pernah hadir bersama saya pernah memaksa saya untuk mengeluarkan kamera untuk mengabadikan keindahan tersebut. namun saya tak menggubris, hanya tersenyum dan berkata,"tidak semua keindahan harus diabadikan. yang seperti ini, harus dinikmati langsung tanpa perantara."

Kamis, Desember 10, 2009

redefinisi masakan indonesia ala warteg

saya dulu pernah berpikir kalau warung tegal (warteg) mungkin sebenarnya bisa kita harapkan untuk melestarikan pusaka kuliner nusantara. bagaimana tidak, warung nasi dengan penjual dari tegal ini tersebar di pelosok negeri. tetapi pikiran itu buru-buru saya tarik kembali.

warteg punya kecenderungan untuk meredefinisikan masakan-masakan yang sudah ada. pernah makan atau melihat rendang yang ada di warteg? rendangnya sangat tidak rendang. beda sekali dengan rendang yang ada di rumah makan padang. mungkin karena rendang asli padang sudah sangat kesohor, maka muncul istilah "rendang jawa". ini adalah redefinisi masakan yang pertama.

sekali waktu saya pernah makan di warteg yang ada di bandung. ketika saya sedang makan, seorang pembeli lain meminta penjual untuk membungkuskan pesanannya, "mas, tolong gudegnya tiga ribu."

ternyata yang dimaksud gudeg di warteg ini bukanlah sayur khas jogja dengan rasa legit, tapi sayur nangka dengan kuah santan dan bumbu cabai. pedas, bukan manis. nangka dan hanya nangka, tanpa telur atau potongan ayam. ini adalah redefinisi masakan yang kedua.

redefinisi masakan ketiga akan saya buka dengan sebuah gambar berikut.


ini adalah menu yang biasa saya makan waktu sahur pada bulan puasa yang lalu. ayo kita tebak isinya apa saja. yang utama adalah nasi, kemudian ada sambal goreng kentang yang dicitrakan melalui warna kuning genteng di sisi kanan gambar. selain itu kemudian juga ada orek tempe yang terlihat berwarna coklat panjang-panjang yang mendominasi bagian bawah gambar. lantas apa yang berwarna kuning di atas? potongan-potongan itu memang daging, tepat seperti yang anda pikirkan. jika anda kemudian menebak itu adalah gulai, maka tebakan anda sama seperti saya ketika pertama kali melihatnya. tapi ternyata itu bukan gulai. masakan daging dengan warna dominasi kuning (bukan hitam) itu ternyata adalah RAWON.

gambar rawon
(gambar diambil dari http://commons.wikimedia.org/wiki/File:Rawon_Setan_II.jpg)

Kamis, November 12, 2009

Suara-suara di dalam toilet

akhirnya setelah sekian lama gak nonton ke bioskop, akhirnya tadi nonton lagi! bener-bener pengalaman yang gak nyenengin lho tadi... bukan, bukan karena filmnya yang serem! well, pelmnya emang sadis sih, tapi kejadian di toilet bioskop itu yang bener-bener bikin shock!

berhubung gue anti make urinoir, apalagi setelah diceritain pengalaman buruk seorang temen di urinoir, maka untuk sekedar pipis pun gue milih untuk make kloset. nah.. pas di toilet ini pengalaman buruk itu terjadi.

jadi, toilet ketika itu lagi dalam keadaan sepi. pas lagi sibuk menghadapi kloset, tiba-tiba dari bilik toilet sebelah terdengar suara itu. suara yang berbunyi:




eee.... eeemph... hmmmppffft... *plung*

AAAAARGH!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Moral: musik di dalam toilet adalah inovasi mahsyur untuk mengkamuflasekan suara-suara seperti tadi.

Jumat, Juli 18, 2008

catatan terbuka 15 Juli 2008: Cerita di Lift

udah lewat dari jam sembilan. toko-toko di ekalokasari plasa udah pada tutup. dan gue emang berniat langsung pulang. di depan pintu lift lantai tiga, gue nunggu dengan pakaian standar gue, kaos oblong murahan, jaket windproof, sepatu hiking, dan jeans belel.

pintu lift terbuka, dan segerombolan manusia pun memasukinya, termasuk gue. di dalem lift gue langsung ngambil tempat di sudut kiri belakang. dari tempat gue, panel pengatur pemberhentian lift nggak keliatan karena ketutupan orang-orang. dan begonya gue, taunya lift langsung meluncur ke basement tanpa singgah ke groundfloor. ARGH!!!!!! bego banget...

dan ternyata yang bego bukan cuman gue, karena ada sepasang cowok-cewek yang bernasib serupa. karena dongkol, gue langsung mencet tombol GF untuk memastikan kebodohan yang sama gak bakal terulang kembali. dalam perjalanan dua lantai ke atas itu, tiba-tiba si cewek (yang gue yakinin sebagai pacarnya si cowok itu) tiba-tiba noleh ke belakang, ke arah gue. merhatiin gue, terus senyum.

dicengirin sama cewek kece bikin gue bingung. karena harusnya gue nggak kenal sama tuh cewek. awalnya gue tetep dingin aja, ngebales tatapan dia dengan muka datar. tapi senyum si cewek justru berubah menjadi seringai lebar. oh iya, kejadian ini gak diketahuin sama si cowok, karena si cowok lagi asik mempelajari keterangan isi dari tiap lantai yang ada di dinding lift.

ngeliat seringai yang lebar, gue pun menjadi yakin, bahwa senyum tadi bukan cuma senyum basa-basi ala anjing gonggong-gonggongan. tapi emang senyum yang punya makna. sementara gue masih berusaha tetep cuek pura-pura gak pengen nyapa, otak gue berusaha nginget-nginget siapa sebenernya cewek yang ada di depan gue ini.

.

..

...

....

dan ternyata gue tetep nggak inget...
akhirnya gue nyerah dan mulut gue membuat gerakan seperti berkata "Ya?" tapi tanpa suara ke si cewek dengan menggunakan ekspresi muka "ada-yang-bisa-saya-bantu?". bukannya ngebales pertanyaan bisu gue, dia tetep konsisten senyum-senyum gak jelas ke gue, dan muka gue berubah jadi muka dongkol...

lalu...
TING!!!!
bukan, itu bukan suara otak gue yang teringat ke sesuatu yang berhubungan dengan cewek itu. bukan! itu juga bukan suara microwave yang baru aja selesai masak indomie! itu suara pintu lift yang kebuka karena udah sampai di Ground Floor. dengan muka gondok dan hati penasaran gue lewatin pasangan tadi dan langsung keluar dari gedung.

Minggu, Juli 13, 2008

PINDAHAN!!!! (ada oleh-oleh dari 18 tahun yang lalu juga lho...)

weh...
seminggu ini bener-bener ngures tenaga. pindah rumah ngebuat gue harus packing barang, gotong-gotong kardus, lemari, kulkas, terus unpacking barang.

dari bogor ke bandar lampung gue sempet jadi kernet mobil box. gue terpaksa panas-panasan di dalem mobil carry, sementara ibu dan adek gue naek APV yang dilengkapi dengan pendingin udara. hiks...

perjalanan dari bogor sampe merak relatif lancar tanpa kendala. tapi begitu sampe di bakauheni, lampung ketegangan dimulai. dalam iring-iringan lamban mobil yang lagi nanjak, tiba-tiba sebuah motor tanpa nomer polisi mepet-mepet ke arah sopir. motor itu berisi dua orang usia sekitar akhir dua puluhan.

si orang yang dibonceng tiba-tiba ngomong ke sopir di sebelah gue,"bang, pinggirin dulu. sini gue urusin dulu, daripada di depan kena lagi." sopir gue ini cuek, lempeng aja nerusin nanjakin jalan tanpa peduli dengan omongan si preman yang mau malak. ngeliat dikacangin sama si sopir, motor bergerak mepet-mepet dari kiri, yang mana di sanalah gue berada! sempet deg-degan juga sih... si preman tetep semangat nyuruh mobil gue untuk minggir, tapi gue dengan tampang nggak kalah bloon, cuma ngeliatin dua orang di atas motor kayak lagi ngeliatin binatang dengan bentuk gak lazim, terus ngadep lagi ke depan gak peduli.

untungnya mobil gue nggak sampe diapa-apain.. *fiuh... lega...*

lewat preman, giliran polisi yang rese' nyetop-nyetopin mobil gue. sopir gue udah sempet melanin mobil, terus nanya ke gue,"diuber gak sama polisinya?"

gue jawab,"kayaknya nggak tuh..." dan mobil pun kembali menambah kecepatan...
hwkwkwkwkwk....

lewat polisi, giliran DLLAJR yang rese'!
pas deket-deket jembatan timbang, tau-tau mobil gue disuruh ikut belok untuk ditimbang! plis deh... kan cuma mobil box! sepenuh-penuhnya juga tonasenya gak bakal bikin jebol jalanan! sang sopir pun tetep aja lempeng melaju meskipun disemprit berkali-kali...

edan... tiga kali diberentiin! lampung emang bener-bener keras. parah banget...

sampe rumah, proses unloading berlangsung dengan cepet aja. tapi urusan unpacking itu beda lagi! sampe seminggu juga belum kelar-kelar juga. tapi diantara tumpukan-tumpukan kardus yang ada, gue nemuin gambar-gambar dari jaman gue kecil dulu...

DAN LO TAU APA!!!!!!

taunya gue itu IMUT lho....

hwkwkwkwkwk.... kalo nggak percaya liat aja di poto kelas gue waktu TK di filipina taun 1990.

find me!!! so WHERE'S WALDO RAE?

Sabtu, Mei 31, 2008

IM3 kartunya anak muda, tabloid fantasi tabloidnya anak sd kelas 4?

tulisan ini terinspirasi dari tulisan anan yang bilang kalo IM3 adalah kartunya orang kere anak muda. tapi sebelum ke sana, gue pengen ngomongin tentang tabloid fantasi dulu. (lah? napa jadi tabloid fantasi ya?) gue jadi inget dengan tabloid fantasi gara-gara tulisan anan yang tadi. waktu SD kelas empat dulu, gue sering baca fantasi untuk ngeliat sinopsis pelm saint saiya dan ksatria baja item. walaupun gak rutin beli, tapi dulu gue ngerasa kalo tabloid fantasi itu GUE BANGET! gue ngerasa semua ekspektasi gue sebagai seorang anak kelas 4 SD terpenuhi oleh tabloid fantasi. karena gak sampe nimbulin adiksi, akhirnya gue bener-bener gak pernah baca tabloid itu lagi, sampai pada satu hari di kelas tiga SMP. salah satu temen SMP gue beli tabloid itu dan iseng-iseng gue baca. gue agak terhentak dan terkejut (halah... lebay banget...) melihat isi tabloid itu yang ikut beranjak ABG seperti gue. sinopsis-sinopsis pelm tetep ada, tapi bukan cuma pelm anak-anak yang biasa ditonton anak SD kelas 4. topik utamanya juga ngebahas bintang pelm ganteng serial tipi hollywood dan boyband-boyband yang menurut gue bukan konsumsinya anak kelas 4 SD. rupanya, tabloid fantasi telah bertransformasi mengikuti kebutuhan pelanggannya dan, entah disadari atau nggak, udah ninggalin target awal mereka.

nah sekarang balik lagi ke kartu IM3. apa emang bener yang dibilang sama tulisan anan (belum tentu anan yang bilang, lho...) itu? apa emang IM3 tuh identik dengan kartunya mahasiswa dan ABG? kalo menurut gue nggak begitu, walopun pendapat itu nggak sepenuhnya salah. menurut gue IM3 adalah kartu generasi yang sekarang kebetulan adalah ABG. seiring waktu, gue rasa kartu IM3 bakal jadi kartunya orang-orang tua juga, seperti yang sekarang market sharenya dipegang sama telkomsel dengan produk simPATi dan kartuHALO. ada semacem keterikatan antara pemakai nomer dengan nomer dia itu sendiri. nantinya variabel-variabel kebutuhan pemakai pengguna kartu ini akan berubah dari variabelnya orang-orang muda yang umumnya berorientasi harga ke variabelnya orang-orang yang lebih tua yang umumnya lebih berorientasi pada kemudahan. dengan demikian, indosat sang empunya im3 akan memenuhi variabel-variabel kebutuhan orang-orang tua, dan akan ada provider lain yang akan mengisi hati target yang saat ini diambil oleh IM3.

Rabu, Maret 12, 2008

DANDAN YUUUK.......

yuhuuuuuuuuu................. pasti gue dimarahin anan niiih...
tau kenapa di marahin?

karena kemaren gue bilang ke dia kalo gue adalah seorang blogger yang tugas utamanya adalah membuat tulisan, bukannya mempersolek blog, sementara sekarang....

gue lagi mempersolek blog gue....

Jumat, Februari 29, 2008

open diary (27 february 2008)

hm...
kemaren mig33 error. gak bisa masuk sepanjang malem. kemaren siang juga sempet gak bisa masuk sekitar satu jam. untungnya tadi pagi udah bisa login lagi...

sempet online di room ipb bogor selama sekitar setengah jam, tiba-tiba koneksinya terputus. mau coba masuk lagi, tapi gak bisa-bisa. begituuuuu terus sampe satu jam. udah mulai khawatir aja, jangan-jangan mig33 error lagi kayak tempo hari. akhirnya gue nyerah. tungguin aja deh, kali ntar siang udah beres lagi.

tapi ternyata...
di pagi itu juga...
ketika gue nyoba ngirim SMS, koq nggak bisa juga!!! ternyata pulsa gue abis... pantesan aja nggak bisa online. payah...

hehehe... lagi ngelemesin jari. udah lama nggak ngetik buat blog. mohon maaf untung postingan yang sulit dimengerti ini... =D

Senin, Mei 07, 2007

ready, get set, UP UP AWAY!!! (research status: in progress)

sebelum mulai, gue mau nanya dong, berhubung bahasa inggris gue nggak lebih bagus dari mr. blair, sebenernya yang bener itu,"maybe yes, maybe no," ato,"maybe yes, maybe not," ato,"maybe, maybe not?"

gak penting!!!
tapi yang pasti penelitian gue emang dimulai di mei yang sangat awal. satu mei! coba lo bayangin! satu mei gitu, lho!!! (emang kenapa gitu dengan satu mei?) satu mei itu hari buruh sedunia. (tetep gak ada relevansinya, bengak!)

(sekali lagi) gak penting!!!
setelah beberapa bulan terkatung-katung dalam bahtera kebimbangan, akhirnya dilakukan gerakan satu mei. didalangi oleh gue dan dibantu dua temen gue endah dan endang, gue bergerilya keliling bogor demi nyari taneman aer yang bakal gue jadiin penelitian gue. tempat pertama yang gue kunjungin adalah tukang bunga di bilangan pajajaran. dari segambreng-gambreng pedagang bunga di situ, cuma ada satu pedagang yang jual. itupun cuma empat biji. pas gue tanya,"mbak, bisa mesen lagi gak? saya butuh empat biji lagi niiih." si mbaknya balik nanya,"emang butuhnya kapan? paling baru ada sebulan lagi. di tempat ngambilnya juga kemaren masih bibitan semua."

spesies tanaman yang gue maksud ini emang agak susah nyarinya. bukan karena langka, tapi karena orang-orang agak males makenya. lha wong cuman gulma... tapi gulma koq dihargain di atas 15.000 per embernya, yak?

gue udah agak lemes dengernya. rasanya pengen langsung ke kampus aja dengan cuma bermodal lima taneman, padahal gue butuh sembilan. tapi tiba-tiba tercetus ide untuk ke tempat laen. sekitar 500 meter dari plaza jambu dua akhirnya keempat biji taneman yang hilang itu ditemukan. walopun harus ditebus dengan harga yang (JAUUUUUH) lebih mahal, tapi demi keberlangsungan penelitian, stabilitas ekonomi makro dalam negeri, dan untuk menggerakkan sektor riil yang saat ini dinilai jalan di tempat (apaan sih?) akhirnya keempat taneman yang hilang itu dibeli juga.

12 bak cuci baju, sembilan taneman, 3 suntikan tanpa jarum, dua pipet plastik, satu serbet, satu gayung ukur, satu gulung tissue, satu bundel kertas label, puluhan tabung reaksi, dan satu boneka beruang teddy gue boyong ke fateta. alat2 gue set di belakang TK (bukan taman kanak-kanak, tapi lab Teknik Kimia). selesenya gue jadi gempor gara-gara gotong2 barang, udah gitu ngisi tiap bak dengan 20 liter aer. (20 liter aer kurang lebih setara dengan 20 kg aer).

dengan bekal proposal yang masih carut marut, penelitian gue jalanin duluan. yang laen statusnya masih in progress. mengutip perkataan neil armstrong yang disesuaikan dengan kondisi gue,"mungkin ini adalah langkah kecil bagi seseorang, tapi ini adalah langkah besar bagi seekor siput."
YA IYA LAAAAH!!!!

yang penting sekarang gue udah bisa meninggalkan anekdot (yang udah mulai gak lucu) pra-penelitian.
temen: gimana,re penelitian lo?
rae: alhamdulillah, lagi ngedraft...(dengan wajah tirus...dan ekspresi kosong)
temen:(biasanya langsung antusias) wuiiiiih.... wisuda juli bisa lah ya!!! (sembari memberi semangat)
rae: JULI APAAN!!!! LHA WONG SEKARANG INI NGEDRAFT PROPOSAL!!!!

ps: minta doanya yak!!! seminar? insyaAllah juli.

Jumat, April 27, 2007

cakram

3 minggu yang lalu akhirnya gue punya sim. bikin sim pake calo. sebenernya gue agak dilema juga melakukan hal ini [njissss]. tapi setelah dipikir2, mendingan melakukan kesalahan satu kali (bikin sim pake calo) daripada bikin salah berulang2 kali (bawa motor ke mana-mana nggak pake sim). setelah 3 minggu bikin sim, gue baru bawa motor tadi siang. keliling-keliling bogor. (sebenernya sih beli taneman di pajajaran buat penelitian gue...).

nah... pas di parkiran fateta, gue inget kejadian sekitar setengah taun yang lalu. di tempat parkir fateta, seorang perempuan berteriak panik ke satpam,"pak satpam... pak satpam... ada yang maling kunci cakram saya!!!". si perempuan itu rupanya ketika menaruh motor di tempat parkir, juga menyempatkan diri untuk mengunci cakram motornya. tapi sekarang kunci cakramnya lenyap tak tentu rimbanya. pak satpam segera bertindak. motor si perempuan ditilik dalam-dalam. setiap lekuk dan gores dilihat lekat-lekat. anehnya... tak ada yang hilang di motor tersebut kecuali kunci cakramnya. di bagian cakramnya pun tidak ada tanda-tanda dibuka paksa. tak ada gores, tak ada lecet. si satpam berkata,"aneh... aneh sekali kasus ini... semakin dipikirkan... semakin aneh." menirukan gaya conan edogawa [mulai ngarang nih si rae...]. akhirnya setelah beberapa saat berdiskusi tak tentu arah, si perempuan ngeloyor pergi dari parkiran fateta dengan tanda tanya besar di benaknya.

sekitar setengah jam kemudian, muncullah seorang pemuda di tempat parkir fateta. maksud hati ia ingin pulang dengan mengendarai sepeda motornya. tapi ketika ia sampai di tempat motornya, ia menjerit sekeras-kerasnya,"SIAPA YANG NGUNCI CAKRAM GUE!!!!!".

rupanya si perempuan yang tadi salah ngunci motor. bukannya motor dia yang dikunci, malah motor orang yang dikancing. koq bisa ya....

Selasa, April 03, 2007

tebs

TEBS Tea Cooler Carbonatedada dua alesan kenapa gue suka tebs:

1. tebs adalah sebuah inovasi yang bener-bener cerdas. belum pernah ada produk sejenis sebelumnya. sebagai mahasiswa yang belajar tentang inovasi dan nilai tambah, tentunya gue sangat menghargai kreasi yang ada di tebs. bener-bener cerdas.

2. tebs dibuat oleh pt sosro yang merupakan milik orang indonesia asli. dengan semangat anti globalisasi dan sisa-sisa nasionalisme yang gue punya, gue rasa tebs adalah pilihan pintar untuk dibuat sebagai pernyataan dengan aksi (act statement) atas kedigdayaan produk-produk lokal atas produk-produk serapan.