Selasa, Juli 21, 2026

Tukang Parkir

Kalau memang ada, apa layanan minimal yang harusnya disediakan tukang parkir? Memandu ketika akan parkir dan keluar parkir? Menghentikan arus lalu lintas ketika kita akan masuk ke jalan? Menyingkirkan kendaraan lain yang menghalangi kendaraan kita ketika hendak keluar parkir? Membantu mengeluarkan kendaraan kita dari lautan kendaraan lain ketika kita akan pergi?

Masalahnya, begini. Di Indomaret deket rumah saya. (Iya, Indomaret yang sebenarnya ada tulisan bebas parkir) ada tukang parkir yang bisa dikatakan... apa yah... pemalas minim usaha.

Dia menghabiskan waktunya duduk di undakan depan Indomaret. Kadang bersender di pilar tembok sekitar tumpukan air minum 19 Liter. Tiap ada sepeda motor yang parkir, dia hanya akan meniup peluitnya satu kali. Prit. Seperti wasit yang mendapati seorang pemain dalam posisi offside. Tidak seperti wasit juga ding. Wasit masih ada berpindah tempat. Sementara tukang parkir ini bergeming. Dia meniup peluit dari tempat duduknya. 

Begitu pula ketika akan ada kendaraan yang keluar dari area parkiran. Bahkan pemilik kendaraan yang harus mendekatinya untuk memberikan uang parkir. Nanti si tukang parkir ini hanya akan meniupkan peluitnya beberapa kali sampai kendaraan yang keluar lepas dari parkiran.

Jadi, si tukang parkir satu ini sebenernya penyandang disabilitas. Salah satu kakinya gak sempurna. Gak tau karena kecelakaan atau cacat dari lahir. Ke mana-mana dia biasa bawa kruk. Jadi mobilitasnya emang terbatas.

Pertanyaan saya, kenapa terus dia milih karir sebagai tukang parkir? Jangan pula dijawabnya, "Ya karena bisanya cuma jadi tukang parkir."

Dia itu gak bisa jadi tukang parkir. Sama seperti dia gak akan bisa jadi atlet lari. Terima saja. Jangan disangkal. 

Kenapa gak milih karir yang lebih masuk akal. Misalnya jadi tukang jahit? Atau pedagang tekwan? Dari banyak pilihan, kenapa harus jadi tukang parkir?

Sekali dua kali sih saya masih ngerasa simpatik dengan keterbatasannya. Tapi lama-lama, saya malah ngerasanya dimanfaatkan. Gak dapat servis apa-apa.

Apakah penyandang disabilitas menjadi tukang parkir adalah contoh pemberdayaan ? Atau justru ini hanya eufemisme dari mengemis? Pemberdayaan atau tipu daya?


Selasa, Juni 30, 2026

Sepakbola Dalam Pinjaman



Kegiatan sore paling seru di jaman sekolah dulu adalah main bola bareng temen-temen sekomplek. Walaupun kita main sambil nyeker dan lapangannya berupa tanah merah tanpa rumput, kita gak mau kompromi soal "bola"nya. Kita paling anti pakai bola plastik yang cuma sekali pakai dan arahnya gak bisa ketebak kalo ada angin agak kencang.

Untuk urusan bola ini, kita pernah patungan. Sepakatlah kita untuk beli bola merk molten. Celakanya, bola molten ini kalau lapisan kulit luarnya sudah mulai retak dan terkelupas, mudah menyerap air. Jadi kalau kita main setelah hujan atau ketika hujan, bolanya jadi berat. Nendangnya harus lebih kencang. Akhirnya, orang yang menahan bola ini bisa seperti ditabrak sepeda motor. 

Sebelum patungan, kita biasanya pakai bola salah satu teman kami. Kebetulan dia memang agak berada. Cuma masalahnya, dia ini gak jago-jago amat main bola dan gak tertarik-tertarik amat main bola. Gak tau kenapa dia bisa sampai bisa punya bola. Jadi kalau dia agak ngambek, terpaksa agenda main sepakbola kita batalkan. 

Dari sejarah pinjam-pinjam bola, yang paling unik adalah bola milik satu anak ini. Kita-kita yang main bola ketika itu rata-rata sudah SMP-SMA. Cuma 1-2 orang yang masih SD. Itu pun sudah menjelang lulus. Tapi anak satu ini unik. Dia masih kelas 2 SD, tapi gaulnya dengan kita. Soal permainan jangan ditanya. Sama sekali tidak bisa diharapkan. Ya namanya juga anak kelas 2 SD disuruh berhadapan dengan anak SMA. Kalau bermain, kita sering naruh dia sebagai striker.

"Sana tunggu di dekat gawang. Nanti gua oper," itu instruksi yang biasa kita kasih kalau lagi sial harus satu tim dengannya. Sebenernya itu akal-akalan kita saja supaya permainan kita gak direcokin anak kecil. Kalau ada perebutan bola dan dia terlibat di dalamnya, salah-salah kakinya bisa kena gaprak.

Jadi sebenarnya anak itu tidak menjadi co-factor dalam permainan. Ketidakterlibatannya justru berpengaruh positif kepada timnya. Akhirnya dia jarang mendapat bola walaupun sudah teriak-teriak minta dioper. Kalau ada teman satu timnya yang nembak dan gagal gol, dia langsung mengumpat karena merasa peluangnya akan lebih baik kalau bola dioper ke dia terlebih dahulu. Walaupun dia paling muda, tapi mulut dia yang paling sompral. Segala rupa sumpah serapah acap mengucur deras dari mulut mungilnya. Sementara kakak-kakaknya hanya tertawa sambil geleng-geleng kepala. Saya lupa namanya. Kalaupun ingat, gak akan juga sih saya taruh namanya di sini sih. Hehe. 

Kembali ke bola. Bola yang dipunya anak ini unik. Warnanya kuning, seperti bola yang biasa digunakan di liga jerman atau rusia ketika turun salju. Tapi jangan samakan bola ini dengan bola standar Bundesliga. Bola ini sebenarnya adalah sumbangan natura dari partai golkar ketika pemilu. Selain warnanya yang kuning, logo golkar juga tercap sangat jelas. Kalau biasanya natura itu berupa kaos, baliho, atau bendera partai, ini justru bola sepakbola. Memang sih sepakbola itu olahraga rakyat, dan mendekatkan partai ke rakyat lewat sepakbola menjadi terasa logis. Tapi kalau logonya malah ditendang-tendang, bukannya justru memunculkan makna implisit? He....

Selasa, Januari 20, 2026

Petani vs Pelaku Usaha Tani

Sambil mengemudikan mobil bak-nya, Agus bertanya, “Kenapa gak ada jabatan untuk petani yang level atas-atas?”

Kami baru saja melakukan asesmen kompetensi kepada kelompok tani di daerah Pamijahan. Kelompok tani yang beberapa anggotanya bahkan masih kesulitan baca tulis. Ketika mereka mengisi form aplikasi, sempat tidak sengaja terdengar, “Lamun kemis teh kumaha nulisna?”

Bahkan menulis “kamis” pun mereka butuh validasi. K-A-M-I-S.

Sertifikasi profesi di bidang pertanian ini memang lebih banyak berkutat di jenjang-jenjang bawah. Jabatan yang dapat diduduki langsung oleh sekadar tamatan SD. Pekerjaan yang lebih membutuhkan ketrampilan ketimbang daya analisis. Membaca dan menulis jadi tidak penting-penting amat. Makanya pertanyaan Agus tadi cukup mengusik.

Saya menjawab pertanyaan Agus sambil separuh berkilah, ”Lah, kan ada jabatan manajer produksi agribisnis, manajer pemasaran agribisnis, dll. Itu sudah jenjang 6, lho.”

Agus tidak puas dengan jawaban saya, “Itu kan untuk yang kerja di kebun. Di perusahaan. Kalau yang seperti saya ini bagaimana? Yang usaha sendiri. Saya ingin ada jabatan petani, tapi levelnya tinggi. Petani tapi setara dengan manajer, bukan yang level 3.”

Mendengar itu, saya jadi teringat percakapan saya dengan Pak Iman, atasan saya di kantor LSP. Pernah sekali waktu saya menanyakan kenapa nama-nama skema sertifikasi kita terlalu birokratis: pelaksana budidaya sayuran, pelaksana budidaya tanaman anggrek, pelaksana budidaya tanaman buah. Kenapa tidak langsung saja petani sayuran, petani anggrek, dan seterusnya. 

Alasan pak Iman ketika itu adalah pelaksana budidaya itu berbeda dengan petani. Pelaksana budidaya itu orang yang bekerja di lahan, sedangkan petani sudah harus memikirkan aspek penjadwalan, penjualan, pemasaran dan lain-lain. 

Ternyata pekerjaan “petani” memang tidak rendahan. Ternyata pemahaman saya soal "petani" sudah paripurna sedari lama, hanya tertutupi oleh persepsi umum yang mengasosiasikan petani dengan pekerjaan rendahan.

Mengutip senior saya yang lain di kesempatan yang lain juga, “Petani itu harusnya kaya. Yang miskin itu biasanya buruh tani. Sama dengan buruh pabrik, biasanya miskin. Tapi yang punya pabrik, ya harusnya kaya.”

***

Pada satu kesempatan, saya lupa bagaimana ceritanya, tiba-tiba saya ikut serta di sebuah rapat yang diadakan Kementerian Pertanian. Rapat itu sedang membahas susunan Kualifikasi Kerja Nasional Indonesia (KKNI) untuk bidang hortikultura. 

Ketika sedang membahas kemungkinan-kemungkinan jabatan di tiap jenjang, saya ingat dengan kegusaran Agus ketika itu. Saya pun mengusulkan untuk jenjang 5, diisi dengan aneka rupa jabatan dengan awalan petani. Petani sayuran, petani tanaman buah, petani tanaman hias, dan seterusnya.

Salah satu argumen saya ketika itu adalah sebagai penghormatan kepada petani sekaligus menempatkan petani pada posisi yang seharusnya. Bahwa petani bukan sekadar bercocok tanam, tapi juga merencakanan produksi dan berjualan layaknya pengusaha. Terasa populis sekali ya? Hehe

Resistensi terhadap usul tersebut langsung terasa. Walaupun tidak konfrontatif, tapi ada masukan-masukan untuk tidak mengganti istilah “petani”, menjadi “pelaku usaha tani”. Sekali lagi, menurut saya, penamaan jabatan ini terasa sangat birokratis. Argumen mereka yang kontra adalah jabatan “petani” terasa sulit untuk dijual. Argumen yang sangat bisa saya pahami.

Untungnya ada beberapa anggota rapat yang pro terhadap usul jabatan “petani”. Bahwa memang kenyataannya saat ini mulai banyak petani yang tersadarkan bahwa profesinya bukanlah sesuatu yang harus membuatnya minder. 

Bahwa saat ini mulai banyak anak-anak muda yang tertarik dengan dunia pertanian. Bahkan Agus yang keluhannya dijadikan pembuka tulisan ini pun selalu bangga bilang bahwa kolom pekerjaan di KTP-nya adalah petani. Tidak seperti petani-petani angkatan lama yang lebih senang berkamuflase di balik kata “wiraswasta”.

Pertanian yang sempat teralienasi, perlahan-lahan mulai kembali ke arus utama. Banyak anak muda kota yang tertarik untuk bercocok tanam. Budidaya hidroponik, pertanian organik, sampai perkebunan kopi menjadi hal yang menarik untuk dipelajari. 

Maka hanya soal waktu sampai profesi “petani” menjadi sesuatu yang normal dicita-citakan. Bersanding dengan polisi, dokter, dan presiden.

Senin, Januari 20, 2025

Pengalaman Pertama Wawancara Kerja

Berbeda dengan anak lain yang cita-citanya menjadi guru, dokter, presiden, dan AKABRI (jadi kompleks tentara gitu?), profesi pertama yang jadi cita-cita gua dulu adalah wartawan. Kenapa? Gak tau. Pengen aja. Bahkan cita-cita ini ada jauh sebelum gua punya kebiasaan menulis.

Ibarat jodoh tak akan lari ke mana, kesempatan karir pertama gua pun jadi pewarta. Jadi ceritanya, nama gua direkomendasikan oleh temen ke bosnya yang jadi pimpinan redaksi majalah beroplah kecil.

Singkat cerita, berhadapanlah gua dan pimred itu di ruangannya yang sebenarnya adalah kamar dari sebuah rumah yang sangat luas. Ketika itu gua belum lulus kuliah, hobi ngeblog, dan sebenarnya gak tau-tau banget perihal jadi wartawan. Tulisan gua lebih banyak berupa opini ketimbang reportase. Gak punya ide juga soal gaya tulisan Kompas, Media Indonesia, atau The Jakarta Post. Apalagi kalau ditanya afiliasi politik New York Times atau Washington Post. Blass, gak akan paham.

Produk jurnalistik yang pernah rutin dibaca mungkin hanya majalah HAI waktu SMA. Itu pun karena kebetulan punya uang agak banyak hasil nyisihin beasiswa. Selama kuliah, sesekali aja beli koran.

Wawancara itu gak berlangsung lama. Beliau hanya minta satu contoh tulisan gua. Gua kasih satu contoh tulisan yang menarik dan tidak tendensius yang bisa gua temuin di blog gua. Dia gak banyak komen, cuma dia ngasih pesan. Intinya, jangan sekali-kali memplagiasi karya orang. Secanggih apapun kamu tutupi, pasti akan ketauan. 

Apakah beliau melihat tulisan gua seperti memplagiasi karya orang lain? Gak tau juga. Ya, mungkin juga itu wejangan template beliau untuk reporter-reporter barunya.

Lepas memberi penekanan pada pesannya itu, suaranya berubah menjadi santai dan membesar. Dia nanya, "Lu kalo baca Tempo, apanya dulu yang lu baca?"

Gua kaget denger pertanyaan kayak begini. Karena gua sendiri jarang banget baca Tempo. Pernah beli Tempo beberapa tahun sebelumnya pas lagi seru-serunya rapat di DPR soal bantuan likuiditas Bank Century yang diakhir dengan voting Opsi A, Opsi B, atau Opsi C.

Kenapa mesti Tempo? Kenapa gak Kompas? Kalau yang ditanya koran kan jawabnya gampang, "Halaman olahraga, pak. Terutama sepakbola dan F1."

Kalau Tempo? Tempo kan gak ada rubrik olahraga? Rubrik musik juga kayaknya gak ada. Padahal cuma dua itu yang mestinya jadi pilihan aman untuk gua.

Setelah gelagapan beberapa detik untuk mikir, akhirnya gua inget kalo Goenawan Mohamad punya rubrik Catatan Pinggir yang udah melegenda. Demi membalas defisit kekalahan karena gelagapan tadi, gua pilih ngejawab dengan bercerita ketimbang isian singkat seperti, "Catatan Pinggir, Pak."

Dengan agak belagu, gua bilang,"Gak tau kenapa, saya dari kecil kalau baca majalah itu selalu  dari halaman belakang. Mulai dari majalah Bobo, Aku Anak Saleh, sampai Gatra. Jadi kalau baca Tempo, yang dibaca duluan ya Catatan Pinggir-nya, Mas Goen, Pak."

Catatan Pinggir memang biasanya ditaruh di halaman terakhir. Pak Pemred hanya mengangguk-angguk sambil mikir. Gak tau mikirin apa. Mungkin dalam hatinya dia bilang, "Leh uga nih bocah. Mana sok akrab pula manggil Mas Goen buat Goenawan Mohamad"

Terus dia bilang,"Kalau saya biasa baca rubrik humaniora karena bacaannya santai. Kalau baru mulai baca langsung Catatan Pinggir, saya pusing. Oke, deh. Makasih waktunya untuk wawancara."


Gua cuma angguk-angguk.

Senin, Maret 11, 2024

Hal-hal yang tidak saya setujui tentang IKN Nusantara

Disusun sekenanya aja, bukan berdasarkan derajat kepentingan. 

1. Keputusan diambil sepihak, bahkan oleh 1 orang. Idealnya ide pemindahan ibu kota melalui referendum atau setidaknya lewat konsultasi dengan DPR.

2. Lokasi terlalu jauh dari Jakarta. Hal ini akan mengakibatkan biaya sosial yang tinggi.

3. Membangun kota dari nol. Akan lebih murah jika ibu kota baru dibuat dengan mengembangkan kota yang sudah ada.

4. Mungkin tidak perlu pindah ibu kota, cukup pindah pusat pemerintahan. Pindah ibu kota punya konsekuensi yang tidak hanya ditanggung pemerintah, tapi juga instansi atau organisasi lain. Misal: (1) kedutaan besar negara lain harus ada di ibu kota. Otomatis mereka harus pindah. (2) Mungkin banyak organisasi yang di AD/ART-nya memuat bahwa kedudukan organisasinya harus ada di ibu kota, misal: PSSI di statutanya menyebutkan bahwa PSSI harus ada di ibu kota (bukan Jakarta). Mereka juga harus pindah. 

5. Nama ibu kota "Nusantara" juga ditetapkan secara sepihak tanpa melalui konsultasi publik seperti poin nomor 1. Selama ini istilah "Nusantara" selalu digunakan sebagai sinonim dari "Indonesia" setelah sebelumnya direduksi dari konsep kenegaraan kerajaan Singosari. Menyebut ibu kota negara baru sebagai "Nusantara" adalah ahistoris, mengerdilkan, dan membingungkan. Sebagai usul, sebaiknya nama IKN tetap menggunakan nama wilayah setempat sebagai bentuk penghormatan kepada warga setempat.

6. Terlalu banyak proyek infrastruktur mercusuar. Cont: istana negara. Selain mahal, proyek seperti ini juga kurang fungsional. Penggambaran IKN selama ini lebih banyak dinarasikan sebagai suatu tempat yang "wah" dan menarik untuk dikunjungi. Lebih mirip membangun kota wisata ketimbang pusat pemerintahan. 

Jumat, Mei 06, 2022

Kim Wexler & Saul Goodman: Ketika Dua Dunia Bertumbukan

Better Call Saul bukan serial pertama dengan latar dunia pengacara bagi Rhea Seahorn. Jauh sebelumnya, Ia sudah membintangi serial "Franklin & Bash". Serial yang bercerita tentang dua pengacara muda dengan metode tidak lumrah dan kerapkali mengakali aturan di persidangan. Hmm... Terdenger familiar bukan? :D

Ellen Swatello di dalam lift gedung pengadilan bersama Jared Franklin


Ellen Swatello adalah seorang jaksa yang kemudian berpindah haluan ke sisi pengacara setelah terlibat cinta lokasi dengan Jared Franklin. Walaupun hanya hadir dalam 10 episode selama 4 musim "Franklin & Bash", karakter Ellen sangat kuat. Ellen digambarkan sebagai sosok alpha yang suka mendominasi dalam suatu hubungan. Karakter yang berbeda dengan Kim Waxler. Terus terang, terkadang saya tidak sengaja mencampuradukkan karakter Ellen dan Kim ketika menonton Better Call Saul. Saking kuatnya karakter Ellen Swatello.

Karakter Kim di Better Call Saul menarik untuk dikuliti. Perkembangan karakternya benar-benar tidak bisa ditebak. Di awal, Kim Wexler digambarkan sebagai perempuan yang tangguh, gigih, dan tentu saja cerdas. 

Di awal-awal, saya sempat menebak kalau Jimmy dan Kim akan berpisah jalan karena perbedaan prinsip. Karena sejujurnya, mereka berdua ini benar-benar seperti berasal dari dunia yang berbeda. Kim yang cenderung kaku dengan aturan adalah antitesis dari Jimmy yang tak segan membengkokkkan aturan. Vince Gilligan memang selalu punya cara untuk membuat kita menengok ke arah yang keliru terkait jalan cerita maupun karakternya.

Pada satu titik, kita bisa lihat Kim yang sebenarnya tidak setuju dengan keputusan-keputusan Jimmy. Contoh paling nyata adalah ketika Jimmy memutuskan akan mewakili Lalo Salamanca di pengadilan. Atau ketika Jimmy memutuskan untuk mengganti namanya menjadi Saul Goodman. Contoh lain yang paling baru adalah kita bisa melihat muka Kim yang risau ketika Jimmy berniat menyewa ruang untuk kantornya. 

Kerisauan Kim tak pernah menemukan tepiannya. Tidak sekalipun Kim pernah mengkonfrontasi ide-ide Jimmy. Pada akhirnya, Kim selalu memberikan dukungan kepada Jimmy. 100%!

James Morgan McGill alias Jimmy alias Saul Goodman adalah sisi lembut (soft spot) dari Kim Wexler. Di hadapan Jimmy, Kim berubah dari perempuan yang pintar, tangguh, dan gigih menjadi submisif. Apa pun yang dilakukan Jimmy akan selalu didukung oleh Kim.

Sifat Kim ini mungkin yang -entah bagaimana- pada akhirnya akan membawanya pada perpisahan dengan Jimmy. Harusnya, inilah premis utama Better Call Saul. Bukan tentang klan Salamanca atau sindikat Los Pollos Hermanos. Namun tentang perjalanan cinta Jimmy. 

Jimmy yang malang. Jimmy yang dipandang sebelah mata oleh kakaknya. Jimmy yang tidak pernah dianggap serius oleh rekan-rekan kerjanya. Dan sejauh ini, nasib Kim, satu-satunya orang yang selalu ada di samping Jimmy, tidak jelas. 

Setelah perjalanan selama 8 tahun dan 6 musim (atau 14 tahun, 11 musim, dan 1 episode lepas; jika dihitung dari pertama kali Breaking Bad mengudara), maka bolehlah kita berharap semesta Breaking Bad ini ditutup dengan happy ending dari seorang Saul Goodman.

*tulisan ini dibuat di tengah musim ke-6 Better Call Saul tayang, tepatnya setelah episode 06x04 "Hit & Run"

Selasa, Desember 29, 2020

Kaleng Khong Guan Isi Rengginang: Kenapa Tidak?

Saya merasa kurang cocok dengan lelucon "Tertipu Kaleng Khong Guan Berisi Rengginang". Bukan apa-apa, Saya penggemar rengginang. Setidaknya, lebih suka rengginang daripada biskuit-biskuit Khong Guan. Jadi kalau menemukan kaleng Khong Guan berisi rengginang, sensasinya lebih seperti menemukan uang yang terlupakan di selipan dompet ketimbang merasa tertipu.

Dengan mengesampingkan keringat yang bercucuran di depan kompor, kaki pegal karena berdiri lama, dan kesal karena harus menggunakan banyak minyak makan, sebenarnya kegiatan menggoreng rengginang cukup menyenangkan. Ah, lupa. Urusan cuci wajan yang diliputi minyak juga menyebalkan sih. Biasanya bagian ini saya skip. Hehe.

Menggoreng rengginang cukup menantang. Besar api harus presisi. Tidak terlalu besar sehingga bisa membuat rengginang gosong, tapi juga tak terlalu kecil yang bisa membuat lembar rengginang bantat. Koordinasi tangan kanan dan kiri juga harus baik. Tangan kanan dengan sutil, tangan kiri dengan peniris minyak. Angkat rengginang dengan sutil, taruh di peniris. Masukkan rengginang mentah lain ke wajan sembari tangan kiri meniris minyak. Tunggu rengginang mengembang, lalu balik. Tangan kiri masih meniris minyak. Sesaat sebelum siap diangkat, rengginang di peniris dilepas ke hamparan kertas bekas. Peniris siap menerima rengginang berikutnya. Candunya mungkin mirip-mirip dengan menggebuk drum. Pegal, tapi seru.

Kalau kalian tidak suka rengginang, besar kemungkinan kalian belum mencicipi rengginang premium terbaik di dunia. Rengginang lorjuk. Rengginang asal Pulau Madura. Bukan hanya beras ketan kering yang dibumbu gurih, rengginang lorjuk menjadi istimewa karena ada selipan kerang di antara bulir-bulirnya. Ya, lorjuk adalah semacam kerang kecil khas sana. 

Warnanya kehitaman. Seperti noda di antara bulir ketan yang putih. Tapi jangan ditanya, rasanya gurih. Tiap gigitan yang beruntung akan mendapatkan setitik lorjuk. Walau setitik, tapi citarasanya naik beberapa derajat. 

Selasa, September 15, 2020

Social Justice Warrior Balapan


Lewis Hamilton memenangkan seri Gran Prix F1 di Mugello 13 September 2020. Bukan berita yang mengagetkan. Sudah bertahun-tahun Mercedes mendominasi gelaran F1. Hampir selalu lewat Lewis Hamilton. Yang tidak biasa adalah kaos yang dikenakan Lewis pada saat menerima trofi. Selain berpotensi membuat sponsor kesal karena logo di overall balapannya tertutup, tulisan yang tertera juga sangat tendensius.

Arrest The Cops Who Killed Breonna Taylor

Sementara bagian belakang kaosnya menampakkan gambar Breonna dengan tulisan, "Say her name." Maka tidak heran jika FIA sekarang sedang menginvestigasi apakah Lewis Hamilton melakukan pelanggaran dengan mengenakan kaos tersebut.


Breonna adalah seorang perawat yang ditembak delapan kali oleh polisi di kediamannya pada Maret lalu. Dor dor dor dor dor dor dor dor. Delapan kali. Namanya adalah yang paling sering disebut oleh demonstran Black Lives Matter setelah nama George Floyd.

Musim F1 2020 memang beda dari biasanya. Selain berbagai penyesuaian yang terjadi sebagai imbas dari pandemi Covid-19, Balapan tahun ini juga disusupi agenda pejuang HAM. Motornya siapa lagi kalau bukan Lewis Hamilton.

Mulai dari tagline #WeRaceAsOne, bergantinya desain livery Mercedes dari perak menjadi hitam, sampai seremonial moment of reflection tiap sebelum balapan menjadi hal baru yang sebelumnya belum pernah dilakukan FIA di ajang F1.

Lewis Hamilton sebagai satu-satunya pembalap berkulit hitam di F1 justru seperti merasa pesan yang disampaikan tak pernah cukup. Terlihat dari bagaimana kecewanya dia ketika beberapa pembalap memilih untuk tidak berlutut pada saat moment of reflection. Padahal semua pembalap mendukung, turut hadir, dan mengenakan kaos hitam berisi pesan anti rasisme.

Kejadian podium di Mugello dapat dibaca sebagai usaha Lewis untuk mendobrak batasan yang selama ini. Langkah yang kemungkinan besar akan berbuah teguran dan denda. Namun bukan berarti resiko tersebut tidak diperhitungkan. 

Agenda Black Lives Matter penting dan universal, tapi memasukkan agenda tersebut ke dalam F1 rasanya terlalu berlebihan. Selain tidak bersentuhan langsung, sebenarnya F1 sendiri punya batasan sendiri yang mengatur penyampaian pandangan politik lewat platform F1.

Tapi FIA ternyata merestui agenda ini. Sama seperti FIFA yang manut-manut saja ketika agenda Black Lives Matter dimasukkan ke dalam pertandingan sepakbola. Padahal sebelumnya, setiap ekspresi politik di lapangan sepakbola hampir pasti akan berakhir dengan kartu kuning. Mungkin karena kasus rasisme sepakbola cukup tinggi, maka agenda Black Lives Matter cukup relevan dengan sepakbola dan bisa dikecualikan. 
Semangat Aktivisme Lewis adalah nilai lebih. Namun, lebih baik jika Lewis melanjutkan kampanyenya di luar ajang balapan. Peningkatan kesadaran publik mestinya bisa dilakukannya lewat jejaring media sosial miliknya. Lagipula sejauh ini tidak ada kasus rasisme atau diskriminasi apapun di F1. Jadi relevansinya dengan F1 agak kurang pas.

Mungkin akan lain ceritanya kalau kasusnya seperti yang diutarakan Dandhy Laksono. Dandhy meminta dukungan dari pembalap-pembalap MotoGP untuk memberi perhatian pada pembangunan sirkuit Mandalika yang terlilit sengketa lahan dengan penduduk lokal. 


Terlepas dari setuju tidaknya kita dengan pandangan politik beliau, namun desakan yang dia minta dari para pembalap MotoGP ini relevan. Sirkuit ini rencananya akan dipakai sebagai salah satu seri MotoGP mulai 2021 nanti. Maka meminta perhatian pembalap MotoGP adalah hal yang lumrah.

Meminta kesadaran para pihak yang berhubungan dengan keberadaan sirkuit ini mestinya tidaklah mengada-ada. Bagaimana para pembalap tersebut merespon isu ini adalah perkara lain. Kemungkinan besar pembalap MotoGP tidak akan menggubris seruan Dandhy. 

Namun kalau misalnya nanti mereka sepakat mengadakan moment of reflection berjilid-jilid tiap mau balapan di sisa seri tahun ini untuk memprotes penyerobotan tanah di Sirkuit Mandalika, maka itu sebenarnya akan jauh lebih relevan daripada moment of reflection di F1 untuk mengkampanyekan Black Lives Matter. Terdengar lebay? Ya seperti itulah rasanya melihat F1 yang penuh agenda para Social Justice Warrior mancanegara. Lebay.

Kamis, Desember 07, 2017

Tambah, Uda

Siang itu mendung. Hujan dari pagi turun. Sesekali berhenti. Tak lama kemudian kembali guyur. Beriterasi dalam siklusnya. Di sempitnya salah satu celah waktu itu saya keluar dari ruangan. Menjejaki aspal-aspal basah, melompati satu dua genangan yang memantulkan bayang kanopi pucuk merah. Sesekali saya harus mengalah pada genangan yang menganak sungai. Sumbat serasah yang terlambat diangkat pada selokan di sisi kanan membuat air memintas ke selokan di sisi kiri yang lebih rendah.

Empat menit empat puluh delapan detik kemudian saya sampai di muka pintu rumah makan Padang. Pas pula adzan dzuhur menggaung di udara. Belum ada pembeli lain di ruang makan. Seorang bapak muda melayani saya sembari diusili anaknya yang tingginya baru sedengkul lewat. Bapak sudah hapal lauk-lauk pilihan saya. Asam padeh, kembung bakar, atau ayam goreng. Tiga pilihan itu ditawarkannya. Hari itu saya agak malas makan ikan, maka ayam goreng yang saya pilih. Tak lupa catatan tambahan, "Minta dada ya."

Dengan sigap, ia memilah-milih dari potongan yang ada. Saya pun duduk di salah satu meja. Menghadap meja makan beralas kaca gelap, memunggungi pintu masuk, beralas kursi lipat merah. Tujuh detik berselang, Istri bapak tadi datang membawa segelas belimbing teh tawar hangat bersama air kobokan dalam cawan baja tahan karat - lengkap dengan irisan jeruk nipis a la kadarnya. Belum selesai teh disajikan, sang suami sudah datang bersama sepiring makan siang saya. Setangkup nasi, sejumput daun singkong rebus, sepotong kecil nangka, campuran sayur kacang panjang dan kol, serta tak lupa ayam goreng. Oh, iya. sesendok makan bumbu rendang di sisi dan sesendok sayur kuah gulai mengguyur nasi putih yang uapnya masih menguar. 

Makan siang dimulai. Sesekali mata saya memperhatikan siaran berita di TV yang tergantung di atas lemari. Masih di ruang pandang, ada sebuah etalase tinggi yang tadinya biasa menjajakan berbotol-botol minuman berkarbonasi. Kacanya berhias tulisan R. M. Rimpun Padi dengan motif tulisan yang junjung di bagian tepinya menyerupai rumah gadang. Etalase itu sudah berubah fungsi. Dari balik kaca samar terlihat tumpukan baju yang belum disetrika. Tidak ada lagi warna-warni hitam, hijau, dan merah botol minuman. 

Di balik etalase itu terlihat si bapak yang tadi keluar dari kamar mandi. Wajahnya basah terkena wudhu. Lepas berdoa, dia kenakan sarung kotak-kotak coklat muda. Masuk lewat kepala, dililit di bagian pinggang, dan digulung hingga mata kakinya tampak. Kemudian digelar sejadahnya. Ujungnya nampak menyembul melewati hadangan pandang etalase botol tadi. Ia hendak menunaikan sholatnya. Posisinya sudah menghadap kiblat, namun belum lagi niatnya terucap, Ia justru membalik badannya. Melihat-lihat ke arah pintu masuk. Khawatir jangan-jangan ada pembeli yang datang. Sudah jam 12 lewat, sudah waktunya makan siang. Tapi mungkin karena rintik kembali mengguyur, belum lagi ada pelanggannya yang datang.

Ia atur lagi posisi sholatnya, namun kembali terinterupsi. Kini Ia bicara dengan istrinya. Suaranya tenggelam dibalut gelombang penyiar TV yang sedang mewartakan penggerebekan pabrik narkoba. Dalam percakapan tersebut, beberapa kali lagi ia melongok ke arah pintu masuk. 

Ia kembali ke sejadahnya. Namun sekali lagi dia urungkan dzuhurnya. Kali ini dia keluar dari ruang di balik etalase botol minuman ke arah ruang makan. Masih dengan sarung kotak-kotak coklat mudanya, dihampirinya satu-satunya pelanggan yang ada di ruangan itu lalu berkata, "Tambah, bang?"

Saya pun tersenyum sambil mengacungkan telunjuk kanan. Segera diambilnya sebuah piring kecil, dibukanya termos nasi, lalu dengan centong dari batok kelapa, diambilnya setangkup bulir-bulir putih. Tak lupa diluberinya nasi dengan sedikit kuah gulai, lalu diserahkannya piring tersebut di atas meja.

Ia kembali ke dalam ruang di balik etalase minuman botol. Berdiri di atas sejadahnya, mengangkat kedua tangannya, dan tenggelam dalam khusyuknya iftitah.

Jumat, Juni 09, 2017

Warisan, Tapi Bukan yang Itu

Kebetulan saja kita lahir di Indonesia, jadi bisa pasang avatar "Aku Indonesia, Aku Pancasila". Coba kalo kita lahirnya di Nikaragua, mungkin gak kita teriak-teriak bilang "Aku Nikaragua, Aku Pancasila"?

Kita gak bisa milih lahir di mana, dari rahim siapa. Ke-Indonesia-an kita ini warisan. Pancasilanya juga warisan. Apakah pancasila ini paling benar? Mungkin gak sih ada yang lebih adiluhung dari Pancasila?

Gak semua orang di dunia ini mewarisi pancasila. Orang-orang di Nikaragua itu contohnya. Terus, patutkah kita mengasihani mereka karena tidak kenal pancasila?

Orang Amerika ga kenal pancasila. Negara mereka menjadi adidaya tanpa pancasila. Mereka liberal. Bertentangan dengan pancasila. Tapi adidaya.

Cina itu komunis. Bertentangan dengan pancasila. Tapi maju.

Setau saya, tidak ada negara maju yang kenal pancasila. Patutkah kita mengasihani mereka karena mereka tidak pancasila? Atau justru mereka yang harusnya mengasihani kita karena Negara Indonesia begini-begini saja.

HTI mau dibubarin (sudah dibubarin?) karena bertentangan dengan pancasila. HTI mau menegakkan khilafah berdasarkan syariat Islam.

Kenapa dilarang? Pancasila lebih hebat dari syariat Islam? Mungkin. Belum ada buktinya.

Tapi kalau ada negara Islam yang pernah mahsyur menjadi pusat peradaban dunia dengan para cendikianya, itu sudah ada buktinya. Haruskah kita mengasihani mereka yang mau menegakkan khilafah? atau justru kita yang harusnya dikasihani?

Bangsa kita, ngeliat Tatan masuk 9gag aja udah menggelinjang setengah mati. Liat ada bule belajar jadi dalang bangganya sampe ke bulan pulang-pergi 3 rit. Kata Om Joko Anwar, bangsa kita terlalu inferior. Orang Amerika ngeliat orang Indonesia pake celana jeans biasa aja. Kita, liat bule pake batik langsung mabuk kepayang.

Kalo kata pak presiden, negara lain sudah bicara mobil fantasi masa depan, spaceX, kita masih sibuk dengan urusan cantrang. Terlalu remeh.

Oke, udah mulai melenceng. Kembali ke pancasila. Kenapa kita gak bisa menerima orang yang berideologi lain. Boleh saja fanatik dengan satu ideologi, tapi jangan berlebihan juga. Yang pancasilais ga perlu ngelarang-larang yang Islamis. Yang Islamis, juga mestinya gak perlu ngelarang-larang yang komunis.

Yang nasionalis dipersekusi. Yang agamis dikriminalisasi. Yang komunis digebuk. Terus siapa yang menang?

Kita bisa hidup rukun dengan orang yang beda agama, tapi kenapa kita gak bisa hidup rukun dengan orang yang beda ideologi?

Kalau beragama itu urusan personal, harusnya berideologi juga. Yang dibutuhin tinggal saling pengertian, kurangi rasa curiga. Sekali lagi kita perlu belajar untuk bisa menerima perbedaan.

Semoga Indonesia bisa segera damai.

*) Tulisan ini dibuat untuk lucu-lucuan menanggapi tulisan berjudul Warisan buatan Afi Nihaya Faradisa yang sempat jadi viral dan kontroversi. Kalau ada yang nanggepin secara serius tulisan ini, ya itu masalah dia sendiri. =)

Minggu, Januari 22, 2017

Pangkas Rambut

Sekitar tahun 2000, pertama kalinya Saya melihat tempat pangkas rambut dengan hiasan lampu silinder bercorak putih-biru-merah khas barbershop Eropa dan Amerika Serikat di dekat rumah. Sebagai orang yang masih berkewajiban memakai seragam putih-biru, memangkas rambut di tempat demikian tidak menjadi prioritas. Lebih baik uangnya ditabung untuk membeli pita kaset musik band terbaru.

Kisah potong rambut saya lebih banyak terjadi di tempat pangkas rambut biasa. Saya masih ingat tempat langganan saya ketika SD sampai SMA dulu. Sebuah bangunan kecil seukuran 3x5 meter persegi dengan pintu papan susun yang ditahan dengan sebilah palang. Kios ini biasa buka pukul 08.00. Kalau hari libur, beberapa orang biasanya sudah menunggu sebelum jam buka.

Berteman tumpukan lembaran harian poskota yang diantar tiap hari ke kios itu, orang-orang setia menunggu. Sampai akhirnya bapak pemilik kios ini datang dengan sepeda motor bututnya. Dibukanya pintu papan satu per satu. Lalu menyemburlah ratusan ekor nyamuk dari dalam. Kalau malam, tempat ini memang menjadi sarang nyamuk. Pernah beliau berkelakar, "kalau mau kurus, nginep aja semalem di sini."

Konsumennya sebagian besar anak sekolahan. Mereka yang merasa rambutnya sudah mulai tak sesuai dengan aturan sekolah. Mereka rela melewatkan Doraemon dan Dragonball demi menghindari gunting serampangan guru mereka yang rutin merazia rambut pada Senin, esok harinya lepas upacara bendera.

"Kumisnya gak sekalian dicukur?", kalimat canda ini selalu diulang bapak pencukur ini kepada saya tiap memangkas rambut. Canda belaka, karena sampai akhir SMA, saya memang tidak berkumis.

Kebiasaan bercukur di tempat pangkas rambut seadanya ini terus berlanjut meski saya berpindah-pindah kota. Saya merasa lebih nyaman memangkas rambut di tempat yang dikelola mandiri seperti ini. Pemangkas rambut, merangkap kasir, dan juga pembersih ruangan. Lengkap.

Sampai akhirnya sekitar tiga tahun lalu, mulai menjamur tempat pangkas rambut yang terlihat fancy. Desain interiornya diperhatikan dengan detail. Bukan hanya sekedar poster ragam model rambut dengan judul "Top Collection" yang dibiarkan tergantung bertahun-tahun sampai diliputi debu.

Seiring waktu, rasa penasaran untuk mencoba tempat pangkas rambut yang nyaman, ber-AC, dan sofa ruang tunggu makin meningkat. Ada satu pangkas rambut fancy seperti ini yang buka di dekat rumah ketika bulan puasa tahun lalu. Di depannya ada spanduk bertuliskan "RAMADHAN PROMO: 50% off every 02.00 - 04.00 PM." Melihat potongan harga yang lumayan, makin tertariklah saya. Sayang, sampai lebaran datang, rambut saya belum butuh dipangkas. Gugurlah keinginan mencoba tempat pangkas rambut tersebut dengan harga miring.

Dalam medio singkat semenjak lebaran tersebut sampai sekarang, makin menjamur tempat pangkas rambut keren di sekitar rumah saya. Terbit kembalilah rasa penasaran tersebut.  Mungkin menunggu di ruang yang nyaman tidak akan semembosankan di tempat saya biasa menunggu sambil mengipas-ngipas muka dengan lipatan koran bekas. Mungkin servis tambahan pijat di pangkas rambut keren itu lebih enak. Sampai akhirnya, saya memutuskan bahwa saya akan mencoba sensasinya.

Keputusan sudah dibuat, maka kaki pun melangkah. Dalam perjalanan menuju ke tempat pangkas rambut keren itu, tepat di seberang alfamart yang martabak di parkirannya sering dipanggang kelewat gosong, saya melihat tempat pangkas rambut old-skul mirip dengan yang biasa saya kunjungi ketika bersekolah dulu.  Dari dalam kios terdengar suara sember lagu yang berasal dari radio AM tua yang suaranya timbul tenggelam seiring angin yang berhembus. Ruangan 3x5 meter persegi dengan dua set bangku cukur lengkap dengan cerminnya. Dua set tempat cukur, namun hanya ada satu orang pemangkas rambut. Pemangkas rambut yang duduk setengah jongkok di depan kiosnya membaca koran lusuh. Pemangkas rambut yang tadinya bertandem dengan mertuanya di set tempat cukur sebelahnya.

Seketika itu juga saya mengubah tujuan saya. Tidak jadi pangkas rambut di tempat keren. Saya memutuskan memangkas rambut saya di tempat tersebut. Bukan karena kenyamanan yang ditawarkannya, tapi karena saya merasa inilah hal yang benar.

Lagian kalau dipikir-pikir, ngapain juga saya pangkas rambut di tempat yang kelewat keren. Memangnya saya presiden?

Senin, September 26, 2016

Di Tenda Nasi Goreng

Pria dan wanita itu duduk bersebelahan. Bersisian di bangku panjang, menghadap ke wajan yang pantatnya terpanggang. Di atasnya nasi terguncang-guncang. Teraduk bersama bawang putih cincang dan beberapa kecrot muntahan botol kecap murahan.

Api di depannya terasa membara. Tapi sisa hujan di belakangnya membuatnya diam membeku. Tak tahu harus bagaimana. Apa yang harus dikata.

Hatinya bimbang. Ribuan rasa terpental-pental dalam perutnya. Mulutnya asam, ingin memuntahkan ratusan kata. Tapi seteguk air teh tawar buru-buru  mendorong alfabet itu tenggelam kembali ke dalam kerongkongan. Menambah rasa yang makin tak karuan di perutnya.

Diulang-ulanginya kesimpulan yang telah Ia ambil. Ini fana. Terangnya nyata, tapi pasti akan segera hilang. Kembali ia rapal dua kata itu. Ini fana. Ini fana. Ini fana. Seperti seorang calon dokter yang sedang menghapal susunan belulang.

Sejurus kemudian, keyakinannya terkonversi. Tak mungkin menang besar tanpa bertaruh besar. Ambil tiap kesempatan. Singkirkan semua bimbang.

Desingan sutil beradu dengan wajan. Kobaran api tertiup angin dalam semawar. Ritmis air menetes dari ujung terpal. Hanya itu suara yang terdengar. Sampai Ia memutuskan untuk mulai membuka suara.

Percakapan seadanya di penghujung hujan. Sembari menunggu enam porsi nasi goreng terlipat dalam kertas makan. Dua karet untuk telur yang dipisah. Satu karet untuk yang dicampur. Kertas disobek untuk yang pedas. Kertas mulus untuk yang biasa. Berapa kombinasi bisa tercipta dari selera manusia?

Percakapan itu tak pernah mengerucut. Seperti seorang penulis yang terjebak dalam kombinasi enam bungkus nasi goreng. Telur dipisah atau dicampur. Pedas atau tidak pedas. Bilang atau tidak. Nyalinya kembang-ciut.

"Kenapa harus berpayung kala hujan?"

"Memang kamu mau demam?"

"Sepayung berdua atau masing-masing saja?"

"Kalau masing-masing punya, ya masing-masing saja."

"Kalau salah satunya memaksa untuk berdua?"

"Pasti ada apa-apanya."

"Kenapa?"

"Karena sepayung berdua artinya memaksa punggung lengan menampung hujan."

"Lalu untungnya apa?"

"Hati mereka berdekatan."

Nasi goreng matang. Terbungkus rapi dalam masing-masing lipatan. Potongan acar tercerai dalam plastik transparan, menunggu waktunya terciduk sesuai selera enam orang.

"Ayo kita pulang. Teman-teman pasti sudah lapar."

Gerimis mendaratkan tetesan air jarang-jarang. Yang satu membuka payungnya. Yang lain menahan.

"Sudah, kita pakai yang satu ini saja."

Kamis, Juli 02, 2015

Powerbank Singset, Tenaga Tukang Becak

Apa sih yang bisa jadi keunggulan powerbank? Beda dengan ponsel yang semakin hari makin banyak fitur yang melekat, fitur powerbank ya hanya kemampuannya mengisi tenaga baterai. Kalaupun ada pabrikan yang nyeleneh, paling mereka menambahkan fitur senter dengan membenamkan tiga mata LED sebagai pelengkap.

Meskipun fungsinya amat spesifik, memilih powerbank yang berkualitas bukan perkara yang mudah. Listrik adalah energi yang sangat mudah dipindahkan, tapi sangat sulit disimpan. Maka jangan heran kalau banyak penyimpan tenaga listrik (baterai) yang performanya kedodoran. Jangan sampai tertipu dengan powerbank yang ternyata hanya berisi baterai AA rechargeable kualitas rendah.

Ada harga, ada rupa. Jangan pelit untuk menggali kantong lebih dalam kalau sudah berurusan dengan powerbank. Asus, merk barang elektronik yang lebih terkenal sebagai produsen laptop dan ponsel kini juga mengeluarkan unit powerbank dengan nama seri ZenPower.

Asus mengklaim kalau produknya ini hanya seukuran kartu kredit. Memang benar sih, ukurannya tidak jauh beda dengan kartu kredit, tapi itu kalau anda hidup di dalam dunia dua dimensi. Selain panjang dan lebarnya yang mirip-mirip kartu kredit, ketebalannya jauh dari ukuran kartu kredit. Jadi jangan berandai-andai untuk menyelipkan powerbank ini di dompet apalagi iseng-iseng menggesekkannya ke mesin EDC.

Meskipun ukurannya lebih bongsor daripada yang dijanjikan, powerbank ini sebenarnya masih tergolong singset, mengingat kapasitas daya yang ditampungnya laksana tukang becak, mencapai 10.050 mAh. Dengan kapasitas sebesar ini, anda bisa men-charge ponsel kebanyakan sampai dengan lima kali.

Jika beberapa powerbank merasa perlu membuat dua port USB dengan arus yang berbeda, Asus ZenPower 10.050 mAh ini pede dengan satu port berarus 2,4 Ampere. Jangan takut dengan arus besar ini. Apapun ponsel atau tablet anda, aman disambungkan dengan port ZenPower. Apalagi produk ini sudah dilengkapi dengan fitur pengatur besar arus yang dapat disesuaikan secara otomatis. Arus listrik yang besar tidak berbahaya untuk ponsel anda, yang berbahaya adalah jika tegangannya lebih dari lima volt. Satu hal yang tidak perlu dikhawatirkan dari produk Asus ini.

Jaminan lain yang didapat dari Asus ZenPower ini adalah layanan purna jualnya. Dengan mengandalkan service center yang sudah tersebar di Indonesia, maka tidak sulit untuk melakukan klaim jika terjadi sesuatu di luar ekspektasi.

Jumat, Desember 19, 2014

Atribut Keagamaan, Stereotipe, dan Kebebasan Berkeyakinan

Seperti pernah saya ceritakan sebelumnya, guru agama saya pernah mencubit perut saya karena sholat tanpa peci. Padahal peci bukan syarat sah sholat. Peci juga tidak berfungsi menutupi aurat. Orang yang naik haji saja tidak berpenutup kepala. Lalu kenapa saya harus dicubit? Guru saya sudah mencampuradukkan antara kebudayaan dan ibadah.

Peci bukan bagian dari ibadah sholat. Memang peci kerap dipakai ketika orang sholat. Tapi sebenarnya kehadiran peci tidak lebih penting daripada ketupat yang selalu ambil bagian ketika Idul Fitri. Siapa saja bisa makan ketupat. Siapa pun bisa memakai peci. Bahkan ketika masa orde baru, peci menjadi semacam identitas nasional, bukan atribut keagamaan.

Derajat keimanan seseorang tidak bisa dinilai dari pakai peci atau tidak. Maka tidak mungkin juga mengetahui keyakinan seseorang hanya melalui pakai peci atau tidak. Memang peci identik dengan orang Islam, tapi bukan berarti orang bukan Islam tidak boleh memakai peci. Bukan berarti tiap orang yang memakai peci seketika itu juga tiba-tiba menjadi beragama Islam.

Peci hanya stereotipe. Sama saja dengan topi sinterklas. Sama juga dengan ketupat. Saya yakin penganut agama nasrani di awal-awal penyebarannya pun tidak berdakwah dengan cerita seorang kakek di kutub utara yang tiap akhir tahun berkeliling dunia dalam satu malam memberikan hadiah ke rumah-rumah melalui cerobong asap. Bahkan saya tidak yakin apa ada cerobong asap di rumah-rumah Yerusalem ketika itu. Sama tidak yakinnya apakah konsep kutub utara sudah bisa diterima dengan baik ketika itu. Lha, Galileo Galilei yang lahir belakangan dan mengenalkan konsep bumi itu bulat saja tidak langsung diterima pihak gereja.

Ini simbol salju, bukan simbol keagamaan

Diskusi soal bagaimana seharusnya sikap umat Islam dalam menyikapi natal selalu menjadi perbincangan tiap tahun. “Gak selesai-selesai,” kata orang.

Tentu saja tidak akan pernah selesai, lha wong natalnya memang datang tiap tahun. Jadi wajar saja kalau adu argumen soal bagaimana menyikapi natal oleh umat Islam akan terus dibahas tiap tahun. Tiap Ramadhan juga selalu yang dibahas adalah soal berpuasa agar menjadi orang bertaqwa, tapi tidak ada yang komentar, “temanya ini melulu.”

Semua orang boleh berpendapat, memberikan argumen, dan juga dalil. Yang tidak boleh adalah memaksakan pendapatnya. Jika ada orang Islam yang meyakini bahwa mengucapkan selamat natal itu tidak apa-apa, maka orang lain harus menghormatinya. Boleh mempengaruhinya, menasihatinya, dan mengajaknya diskusi. Tapi tidak perlu melarang-larang sambil membawa pentungan. Cukup diingatkan saja.

Di lain sisi, jika ada orang Islam yang meyakini memakai topi sinterklas itu haram, maka orang lain pun tidak punya hak memaksanya. Sekedar memintanya untuk mengenakan sih boleh saja. Tapi kalau yang bersangkutan menolak, ya jangan dipaksa-paksa, tidak usah disindir-sindir. Apalagi diancam potong gaji, diberi surat peringatan, sampai dipecat.


Lalu bagaimana dengan peringatan natal yang rencananya akan dihadiri oleh presiden –yang adalah muslim-. Harusnya tetap berpulang kepada keyakinan pribadi presiden itu sendiri. Kalau menurutnya tidak apa-apa baginya yang seorang muslim untuk datang ke acara tersebut, ya silahkan saja. Toh peringatan natal bukan bagian dari ibadah natal.

Teman-teman yang bukan Islam pun banyak yang datang ke acara buka puasa bersama atau halal bil halal. Tidak ada yang melarang. Lain halnya kalau orang tersebut ikut sholat Ied, bolehlah dikeluarkan dari shaf.

Namun jika presiden memiliki keyakinan bahwa menghadiri acara tersebut bertentangan dengan ajaran yang dia anut, maka keyakinan presiden ini harus dihormati juga. Tidak perlu merengek-rengek dengan berkata bahwa presiden adalah milik rakyat Indonesia, bukan hanya warga muslim Indonesia. Rasanya muslim manapun, mulai dari yang puritan semacam Habib Rizieq sampai yang paling liberal macam Ulil Abshar pun, tidak akan ambil pusing apakah Ahok akan mengucapkan selamat Idul Fitri atau tidak kepada warga DKI Jakarta.



Kalau ada orang yang menolak mengucapkan selamat hari raya kepada umat agama lain, tidak perlu juga dicap sebagai bigot. Selama orang-orang ini tidak mengganggu ibadah orang lain, tidak menutup paksa rumah ibadah agama lain, ya biarkan saja. Keyakinan itu urusan masing-masing. Beda agama jelas beda cara beribadahnya, namun yang satu keyakinan pun bisa jadi beda cara mengamalkan. Di mana pun letak perbedaannya, yang penting tetap saling menghormati. 

Rabu, Agustus 06, 2014

Kacamata Biru dan Langit yang Tak Pernah Mendung

Jadi ceritanya beberapa bulan yang lalu gua kembali iseng ikut kompetisi-kompetisian. Kompetisi kali ini adalah membuat video klip dari The Fly. Hadiah utamanya adalah dua unit telepon seluler, sedangkan hadiah hiburannya memorabilia dari personil The Fly.


Video klip berhasilkan diselesaikan sesuai dengan tenggat yang disyaratkan. Awalnya sih lumayan optimis menang. Gimana gak optimis, lha wong peserta yang masukin video klip cuma satu orang. hehehe... Eh ternyata, batas pengumpulan video klipnya diundur sampai dua kali. Dalam periode itu masuklah dua video klip dari peserta lain. Di akhir pengumuman jadilah video klip gua di urutan paling bontot. 


Agak gondok juga sih gara-gara batas waktu pengumpulannya diundur dua kali. Kalo gak kan, gua sekarang lagi megang box ponsel baru. Tapi dibandingin dua video klip lainnya, emang video klip gua yang paling sedikit effort-nya sih. Jadi emang pantes di posisi ke-3. Heu...

Nah, salah satu memorabilia yang jadi hadiah ternyata adalah sun glasses warna biru. Dalam hati gua terkekeh karena punya pengalaman konyol dengan kacamata biru (mau nulis istilah "kacamata hitam" kayaknya kurang pas).

Gak jadi dapet Galaxy Champ. Hiks...

Jadi cerita kacamata biru ini terjadi di 2010. Gua masih jadi petani tebu di grup perusahaan tebu yang punya areal kebun paling luas se-Sumatera. Sebagai petani, tentu kerjaan sehari-hari adalah keliling-keliling kebun. Areal yang jadi tanggung jawab gua ketika itu sekitar 4.500 hektar, lumayan luas. Untuk operasional sehari-hari, kendaraan yang dipakai adalah sepeda motor. Beda dengan di jalan aspal di mana standar pelengkapnya adalah helm, di perkebunan ini tradisinya adalah memakai topi cap, slayer, dan kacamata hitam. Memakai helm di tengah cuaca panas dan berdebu membuat kepala mudah berkeringat dan sama sekali gak nyaman. Makanya orang lebih banyak yang milih pakai topi, slayer, dan kacamata sehingga kontak kulit dengan angin lebih banyak.

Sebagai nubie di bidang perkacamataan, gua milih beli sun glasses di abang-abang pinggir jalan yang harganya cuma Rp 15.000,-. Dari beberapa model yang ada di display, gua milih kacamata dengan film berwarna biru.

Sekedar saran, kalau mau beli sun glasses sebaiknya jangan yang dari abang-abang di pinggir jalan. Sun glasses yang baik adalah yang punya anti-UV. Ketika kita memakai sun glasses, pupil kita cenderung membesar karena cahaya yang masuk ke retina sedikit. Walaupun cahaya yang masuk sedikit, sinar ultra violet dari matahari yang masuk tetap banyak. Ketika pupil mata membesar, UV yang masuk tentu makin banyak. Di situlah perlunya sun glasses dengan anti-UV.

Pengalaman pertama gua make kacamata itu adalah dalam perjalanan dari rumah ke areal kebun yang jaraknya sekitar tiga jam perjalanan sepeda motor. Helm full face dengan visor dibuka ditambah sun glasses. Kecepatan motor biasanya di atas 60 km/ jam. Beberapa kali sempat pasang 110 km/ jam di atas aspal mulus Lintas Timur Sumatera. 

Sepanjang perjalanan sebenarnya gua gak khawatir sama sekali dengan perubahan cuaca, langit selalu cerah. Sampai sekitar dua jam perjalanan tiba-tiba tetesan rintik hujan menerpa punggung tangan. Padahal langit masih cerah. Karena merasa aneh, akhirnya gua lepas kacamata murahan itu. Eng ing eng... ternyata mendung berat sudah menggantung. Gara-gara film kacamata yang warna biru, gua ngeliat langit masih biru, padahal kenyataannya sudah kelabu.

Kacamata itu akhirnya hilang. Entah diambil anak buah di meja kantor kontrol radio atau sekedar tertumpuk kertas-kertas laporan harian operasional truk yang tak kunjung diperiksa atasan. 

Sekarang kacamata biru itu "kembali" lagi dengan cara yang tak diduga. Seolah Tuhan hendak berkata pakailah kacamata ini, maka kau akan melihat semua baik-baik saja. Langit masih biru, tidak kelabu.

Rabu, Juli 02, 2014

Janji Joni, Janji Joko Anwar, dan Janji Joko Widodo

Karya pertama Joko Anwar sebagai sutradara film panjang adalah Janji Joni. Wajar jika Janji Joni disebut sebagai manifesto idealisme seorang Joko Anwar. Dalam film yang ringan namun sarat muatan ini Joko hendak mengungkapkan betapa agungnya sebuah janji. Seriusnya Joko memegang janji, sampai-sampai Ia rela bertelanjang bulat di salah satu gerai Circle-K Bintaro pada medio 2009 lalu. Bahkan sebagai bukti, Ia turut melampirkan foto aksi gilanya tersebut (walau sepertinya sekarang sudah dihapus).

Meskipun terbilang nekad, tidak sedikit pula orang yang mengapresiasi Joko Anwar karena mau menepati janjinya. Apalagi dalam kicauannya, Joko turut menyindir politisi-politisi yang kerap mengingkari janji yang sudah dibuat.

A promise is a promise, Mr. Politicians!
(Joko Anwar, 2009)

Waktu bergulir, 5 tahun berlalu. Sebuah acara skala nasional digelar, Pemilihan Presiden. Joko Anwar bersikap untuk mendukung calon presiden dengan nama depan yang sama dengan dirinya, Joko Widodo. Tidak ada yang salah dengan urusan dukung mendukung calon presiden. Semua punya kelebihan dan kekurangannya. Namun ada yang berubah pada Joko Anwar. Jika sebelumnya Joko Anwar tampil sebagai sosok yang begitu menjunjung sebuah janji, kini Joko Anwar justru memberikan pembelaan atas janji yang diingkari.

Menanggapi tudingan Joko Widodo yang mengingkari janji, Joko Anwar justru memberi pembenaran. Tidak ada lagi Joko Anwar yang dengan gagah berkata, “A promise is a promise, Mr. Politicians!


Gini. Janji apapun itu, apalagi janji politik, harus kalah demi kepentingan nasional. Jadi udah deh. Tuduhan gak nepatin janji itu lemah.
(Joko Anwar, 2014)

Sekali lagi, tidak salah mendukung Joko Widodo untuk menjadi presiden. Namun sikap ambivalen Joko Anwar patut dikritisi. Jika hari ini Joko Anwar mentolerir ingkar janjinya seseorang, bukan tidak mungkin di kemudian hari Joko Anwar akan mentolerir penyalahgunaan wewenang dengan dalih “for a greater good”. Joko Anwar harus diingatkan. Bukan diingatkan untuk tidak mengkampanyekan Joko Widodo, namun diingatkan untuk tidak membenarkan perbuatan yang salah.

Mendiamkan ingkar janjinya Joko Widodo mungkin lebih baik daripada membenarkannya. Harusnya Joko Anwar tetap bisa kritis walau mengkampanyekan Joko Widodo. Pandji Pragiwaksono yang juga mengkampanyekan Joko Widodo saja bisa tetap bersikap kritis dengan menolak ide Jusuf Kalla, pasangan Joko Widodo.

Perubahan sikap Joko Anwar tidak ekslusif ada pada dirinya. Kecenderungan seperti ini selalu ada di sekitar kita, bahkan dalam diri kita. Sejarah mencatat Soekarno hancur karena sikap-sikap kritis pada dirinya diberangus. Soeharto pun runtuh karena sikap kritis orang-orang di sekitarnya hilang. Jangan sampai sikap kritis dimatikan oleh pengkultusan.

Jumat, Juni 27, 2014

Menolak Penolakan "Yuk Keep Smile"

Salah satu adegan “Yuk Keep Smile” (23/6/2014) kembali membuat berang sebagian masyarakat. Membandingkan anjing dengan Alm. Benyamin Sueb tentu amat melukai perasaan penggemar Bang Ben. Namun apakah permintaan menghentikan tayangan “Yuk Keep Smile” adalah solusi yang tepat di tengah masyarakat yang mengaku menjunjung demokrasi?
Seandainya yang meminta “Yuk Keep Smile” berhenti tayang adalah mereka yang tempo hari meminta penganut ajaran Ahmadiyah menghentikan kegiatan keagamaannya, maka saya bisa maklum. Orang-orang ini jelas tidak memahami –atau bahkan tidak mengakui- arti demokrasi. Namun jika ternyata yang meminta “Yuk Keep Smile” berhenti tayang adalah mereka yang membela penganut Ahmadiyah dengan dalih kebebasan beragama, maka maafkan saya apabila saya bilang mereka adalah orang-orang munafik.
Tayangan “Yuk Keep Smile” –sebodoh apapun itu- tetap harus dianggap sebagai manifestasi kebebasan berekspresi. Sama dengan penganut Ahmadiyah yang harusnya dijamin bebas menjalankan ibadahnya sebagai bagian dari kebebasan beragama. Kenapa harus dilarang? 
Apabila benar dihentikan, bukan tidak mungkin “Yuk Keep Smile” akan bermetamorfosis menjadi acara lain, namun esensinya sama-sama saja. Sejarah membuktikan bahwa acara “Empat Mata” yang dihentikan akhirnya lahir kembali sebagai “Bukan Empat Mata”. Bukan hanya kontennya yang tidak berubah, Pemilihan judul “Bukan Empat Mata” sendiri adalah sebuah cemoohan yang terang benderang bagi mereka yang sebelumnya minta acara “Empat Mata” dibredel.
Jika memang ada perlakuan yang tidak pantas dalam sebuah acara televisi, maka harusnya yang dihukum adalah orang-orangnya. Siapa mereka? Pengisi acara yang melakukan penghinaan. Produser acara yang bertanggung jawab atas acara tersebut. Bahkan, bukan tidak mungkin, penonton yang menertawakan hinaan tersebut. Namun jangan pernah sekali-kali meminta acaranya yang dihentikan.
Kondisi ini menunjukkan pada kita bahwa ternyata “demokrasi”, “kebebasan berpendapat”, “kebebasan beragama” tidak diletakkan sebagai pondasi berpikir dan bertindak. Jargon-jargon tersebut ternyata hanya senjata, dikeluarkan jika memang dibutuhkan. 
Setiap orang tentu memiliki kondisi idealnya masing-masing. Ada orang yang merasa resah ketika mengetahui tetangganya adalah penganut Ahmadiyah. Padahal kalau dipikir, solusinya mudah. Batasi saja pergaulan dengan tetangga tersebut. Ada juga orang yang resah ketika tontonan yang tayang di televisi adalah acara yang bodoh. Khawatir anaknya ikut menjadi bodoh. Padahal solusinya juga tidak kalah mudah. Ganti saja kanal televisinya atau sekalian matikan televisinya.

Jumat, April 04, 2014

Penting, Tapi Gak Penting-Penting Amat

Musim kampanye kadang memang bikin jengkel. Ada sih elit partai semacam Fadli Zon atau Fahri Hamzah yang gayanya provokatif. Tapi sejujurnya, yang lebih sering bikin sebel itu justru di akar rumputnya. Debat gak karuan ngebela jagoannya sambil nyela lawan.

Histeria penonton memang kadang lebih seru daripada pelakonnya. Supporter sepakbola -yang cuma hiburan- aja bisa bunuh-bunuhan, apalagi supporter politik yang bawa agenda-agenda serius.

Kadang kalau diperhatiin, mereka justru lebih asyik dengan cela-celaannya ketimbang hal yang lebih fundamental, program kerja. Konyol.

Program kerja itu isu utama, yang lainnya cuma isu pinggiran. Tapi isu pinggiran ternyata lebih sering dibawa ke tengah pusaran. Pinjem istilahnya Fahri Hamzah, karnavalisasi. Sementara isu utamanya justru kelempar ke sudut yang gelap. Gak seksi untuk dibahas.

Gimana pemilih bisa jadi cerdas? Levelnya gak naik-naik. Jongkok terus cela-celaan. Gak bisa lompat mikirin program.

Personality mendapat porsi perhatian lebih besar. Yang katanya ingkar janji lah. Yang penjahat HAM lah. Yang pebisnis kotor lah. Selagi yang nyalon bukan malaikat, bakal tetep aja ketemu aibnya. Yakin deh.

Kampanye juga sebelas dua belas kandungan gizinya. Isinya cuma janji rakyat bakal sejahtera, korupsi diberantas, harga beras murah. Itu kan ujungnya. Tapi cara sampai ke sananya gak pernah dibahas. Masuk akal gak cara-cara yang ditawarin? Boro-boro ada yang nawarin, ada yang maparin juga mungkin bisa diitung jari.

Yang ada nantinya, orang milih lebih karena sentimen-sentimen pribadi. Bukan milih karena desain politik yang diusung jagoannya.

Beneran mubadzir yang kayak begini. Ekornya pasti sakit hati pas jagoannya kalah. Orang yang kayak begini mah ga lebih baik daripada penganut golput.

Yang lebih penting dari milih wakil rakyat dan pemimpin itu justru ada di diri kita sendiri. Penguatan kapasitas, bersinergi, itu lebih penting.

Coba, seberapa besar sih peran presiden ato wakil rakyat hasil coblos-coblosan itu buat perjuangan Butet Manurung membuka jendela cakrawala dunia bagi anak-anak suku Kubu? Mungkin nyaris tidak ada. Tapi perubahan tetap terjadi. Itu baru satu contoh.

Tanpa kehadiran sistem yang diproduksi demokrasi a la kotak suara pun kita ternyata tetap bisa melakukan perubahan. Tahun-tahun terakhir ini banyak yang menganggap Indonesia sebagai negara autopilot. Toh negara ini bertahan.

Nyoblos itu penting, tapi gak penting-penting banget.
Dapet pemimpin jelek itu derita, tapi bukan kiamat.

Sekalipun nanti hasil pemilu tidak sesuai keinginan, tetap ada harapan untuk terjadinya perubahan. Caranya ya itu tadi, dari diri sendiri.

Sabtu, Juni 08, 2013

Ketika Indonesia Gagal Menemukan People’s Champion

Sumber: http://loymachedo.com/

William Hung, pria keturunan Asia, dengan kualitas suara di bawah rata-rata sekonyong-konyong menyedot perhatian Amerika Serikat. Kualitas penampilannya yang pas-pasan ternyata menjadi anti-tesis dari pakem yang selama ini dipegang industri musik Amerika Serikat. Angka penjualan album pertamanya mencapai 200.000 keping lebih. Dua album berikutnya juga mencatat hasil yang tidak terlalu mengecewakan, 35.000 dan 7.000 keping. 
Cerita William Hung di atas setidaknya membuktikan bahwa kualitas tidak selalu berbanding lurus dengan popularitas. Begitu banyak penyanyi dengan kualitas baik di dunia, tapi sejarah hanya mencatat segelintir saja. Hal ini amat disadari oleh industri musik dunia, termasuk di Indonesia. Kalau tidak, nama-nama seperti Kangen Band atau Mbah Surip tidak akan pernah menjadi fenomena di negeri ini.

William Hung; Sang Fenomena
Industri musik tidak melulu soal musik. Weird Al Yankovic menggabungkan musik dan humor. U2 memasukkan agenda-agenda politiknya dalam syair, Lady Gaga senantiasa tampil teatrikal. Industri musik bukanlah sekedar hiburan untuk memanjakan telinga. 
Ada sebuah pengalaman yang dituntut untuk bisa dinikmati dalam sebuah paket musik. Tuntutan yang lebih besar ketimbang sekedar suara indah. Maka dari itu, untuk menjadi seorang biduan yang populer dibutuhkan lebih dari teknik vokal yang mumpuni. Dapat dimengerti jika kemudian Simon Cowell mengkritik acara The Voice dengan blind audition-nya dengan berujar,”The Voice should have been on the radio.” 
Sebuah kritik mengenai bagaimana industri musik tidak bisa hanya mengandalkan kualitas vokal artisnya.
Dalam rangka mencari calon orang-orang populer di dunia musik, maka industri membutuhkan riset pasar. Industri berusaha memahami apa yang diinginkan konsumen. Tidak ada urusan soal bagus atau jelek. Apa yang pasar minta, maka itulah yang industri sediakan.
Maka lahirlah ajang pencarian bakat (talent show). Dengan penilaian yang didasarkan pada hasil voting masyarakat, setidaknya penyelenggara kemudian dapat menilai nilai jual seorang peserta dari dukungan yang didapat. Tujuan dari ajang ajang pencarian bakat seperti ini memang bukan mencari yang terbaik secara kualitas. Acara-acara model ini mencari apa yang disebut People’s Champion. Juara yang dipilih oleh rakyat. Serupa tapi tak sama dengan demokrasi.
Ajang pencarian bakat adalah sebuah riset pasar gaya baru. Jika sebelumnya riset pasar membutuhkan biaya yang besar, maka riset pasar melalui talent show tidak demikian. Riset ini justru menyenangkan banyak pihak dan yang utama bagi industri musik adalah: mengundang sponsor. 
Academia, Idol, X-Factor, The Voice, sebut saja yang lain. Semua acara tersebut adalah riset yang dilakukan industri musik untuk mencari tahu keinginan pasar. Terbukti, tak sedikit alumni dari acara-acara tersebut memang menjadi idola baru. Contoh yang paling gres tentu saja adalah One Direction yang merupakan jebolan X-Factor UK.
Indonesia, sebagai bagian dari masyarakat dunia, tentu tidak mau ketinggalan. Berbagai jenis franchise talent show mencoba peruntungannya di Indonesia. Mulai dari Akademi Fantasi, Indonesian Idol, sampai X-Factor berusaha “meriset” keinginan masyarakat Indonesia.
Setidaknya acara-acara model ini sudah berkiprah sekitar satu dasawarsa. Tiap musim acara berakhir, maka riset juga selesai. Idealnya, hasil riset kemudian di-up scale ke dalam skala industri. Namun ternyata, hasil riset yang ada selama ini lebih banyak melempem. Coba, alumni talent show Indonesia mana yang benar-benar sukses. Ada berapa banyak? T2 alumni AFI rasanya cukup lumayan. Kotak dari Dreamband juga cukup sukses. Sisanya? Hilang ditelan bumi. Delon? Justru lebih beruntung sebagai bintang film.

T2; Dari Sedikit yang Sukses (Sumber: http://music.oryn-cell.com
Mengapa riset pasar yang sudah dilakukan industri musik melalui talent show di Indonesia tidak “bunyi” di industri musik? Kalau boleh menduga, mungkin jawabannya adalah karena riset yang dilakukan di Indonesia tidak memenuhi “kaidah riset” yang baik dan benar untuk sebuah ajang pencarian bakat. 
Kegagalan ajang pencarian bakat Indonesia dalam menemukan sang People’s Champion amat berkaitan dengan sistem voting yang digunakan. Sebagai contoh, dalam acara American Idol, voting dilakukan melalui telepon. Satu nomor hanya memiliki jatah satu suara. Hal ini amat berbeda dengan sistem voting pada talent show yang ada di Indonesia di mana, penonton justru diminta untuk sebanyak-banyaknya melakukan voting
Adanya sampel yang terduplikasi dalam proses pemilihan, menjadikan hasil voting bias. Seorang peserta dengan seribu pendukung bisa saja mengalahkan peserta lainnya yang memiliki satu juta pendukung. Asalkan seribu pendukung peserta pertama tadi mengirim voting dengan akumulasi lebih dari satu juta kali. 
Jika hasil riset ini dinaikkan skalanya ke level industri musik sebenarnya, di mana prestasi ditunjukkan dari berapa kopi albumnya yang terjual, maka jelas sang pemenang akan melempem. Hasil maksimal pembelian kopi album hanya berkisar di angka seribu keping. Padahal data risetnya menunjukkan ada satu juta lebih penggemarnya. Realisasinya hanya 0,1%.
Hal ini amat mungkin terjadi. Salah satu faktor pendukung terjadinya hal ini adalah panjangnya durasi voting. Jika di ajang pencarian bakat luar negeri, voting biasanya baru dimulai setelah acara dan berakhir dalam beberapa jam, maka di Indonesia voting nyaris bisa dilakukan selama 24 jam, 7 hari seminggu. Voting terhadap seorang peserta bisa dilakukan bahkan sebelum peserta tersebut unjuk kebolehannya. Luar biasa.
Jumlah dan durasi voting yang begitu terbuka lebar tidak akan pernah menjawab siapa People’s Champion yang sebenarnya. Hasil voting hanya menunjukkan militansi dari pendukung masing-masing peserta. Dukungan terbesar mungkin tidak datang dari penilaian yang obyektif, melainkan dari kedekatan voter dengan peserta, entah itu sebagai keluarga, teman, satu sekolah, satu daerah, rekan kantor, dan sentimen-sentimen lain yang jelas tidak ada hubungannya dengan selera musik masyarakat pada umumnya.
Selain jumlah dan durasi voting, hal lain yang juga menjadi inhibitor ditemukannya sang People’s Champion adalah ongkos voting. Hampir seluruh ajang pencarian bakat di Indonesia menerapkan tarif kepada voter ketika memilih. Bukan hanya tarif biasa, namun tarif premium, yang harganya bisa sepuluh kali dari tarif normal! 
Mahalnya ongkos untuk menjadi seorang voter tentu saja berimbas pada para  swing voters, yang berasal dari masyarakat awam. Masyarakat yang tidak memiliki kedekatan emosional apapun dengan para peserta. Masyarakat yang justru paling obyektif untuk mendeskripsikan bagaimana selera pasar yang sesungguhnya.
Dengan diberlakukannya tarif premium, para swing voters justru akan lebih memilih menjadi golongan putih (golput). Hal yang kontras justru terjadi di Amerika Serikat di mana untuk melakukan voting, voter justru dikenakan layanan bebas pulsa sehingga swing voters tertarik untuk berpartisipasi. Semakin banyak swing voters bersuara, semakin handal hasil riset pasar tersebut.
Selama sistem voting yang diterapkan ajang pencarian bakat di Indonesia tidak berubah, maka jangan terlalu banyak mengharapkan People’s Champion lahir dari acara-acara model ini. Akan ada banyak People’s Champion gagal bersinar karena terkubur timbunan suara hasil voting bertarif premium peserta lain semenjak awal kompetisi.

Minggu, Juni 02, 2013

Kutukan Vokalis The Fly


Semenjak kemunculannya secara nasional di 1997 dengan lagu “Pelangi Semu”, band The Fly seperti tidak kehabisan masalah. Dianggap terlalu nge-U2, frustasi dengan industri musik Indonesia hingga ditinggal beberapa anggota utama, sampai gonta-ganti vokalis.
Setelah gagal secara komersial dengan album pertama, The Fly akhirnya mampu bangkit dari kubur meskipun hampir setengah anggota mereka rontok. Disangkal atau tidak, salah satu faktor kesuksesan The Fly ketika itu ada di warna suara vokalis mereka, B’jah.
Dengan suara syahdu, B’jah mampu menginterpretasikan lagu dengan baik. Coba saja dengarkan rekaman “Berlalu” dan “Izinkan” dari The Fly, cukup menjadi bukti shahih bagaimana B’jah mampu meninggalkan identitas suaranya pada sebuah lagu. Ironisnya Kin Aulia, sang gitaris, justru kerap merasa tidak puas dengan vokal B’Jah ketika membawakan lagu-lagu The Fly.
Namun kerjasama B’jah dan anggota The Fly lain harus berakhir pasca album “Keindahan Dunia”, tepatnya pada 2005. Masalah kedisiplinan dan komunikasi yang memburuk antar mereka diyakini banyak orang sebagai alasan utama keluarnya B’jah. Meskipun dalam beberapa wawancara disebutkan bahwa B’jah ingin berkonsentrasi dengan pendidikannya yang terkatung-katung.
Lepas dari B’Jah, The Fly tetap ngamen ke mana-mana dengan vokalis-vokalis catutan. Nama-nama seperti Ariyo Wahab dan Ipang Lazuardi sempat beberapa kali diplot sebagai vokalis. Sampai pada 2006 akhirnya Firman, yang jebolan Indonesian Idol II, disepakati sebagai vokalis The Fly.
Sebagai catatan, di era ini, The Fly memiliki beberapa ide yang cukup unik ketika manggung. Dalam salah satu acara televisi, mereka tidak hanya memainkan sample suara, namun sample video berisi gambar dan vokal dari Gian. Permainan live dengan sample ini memberi kesan duet antara Gian yang live dan Gian di sample.
Gimmick yang diberikan kepada Firman untuk membangun identitasnya sebagai vokalis The Fly sudah cukup baik. Misalnya saja, tongkrongan Firman disesuaikan dengan imaji The Fly yang rapi dan kerap berkacamata hitam. Selain itu, untuk menghilangkan imaji Indonesian Idol yang begitu melekat, The Fly menyiapkan nama panggung “Gian” yang diambil dari nama KTP-nya sendiri, Firman Siagian. Mungkin nama Firman akan tetap dipakai kalau bandnya bernama “The Prophet”. Sayang kerjasama ini hanya bertahan untuk satu album (If Loving You Is Wrong, I Don’t Want To Be Right) di tahun 2007.
Seakan sejarah berulang, proses keluarnya sang vokalis ternyata meninggalkan cerita tidak enak. Keinginan Firman (atau Gian?) untuk bersolo karir dengan musik melayu mendapatkan resistensi dari anggota The Fly yang lain. Entah karena khawatir The Fly akan dinomorduakan atau pilihan Firman akan musik melayu dianggap akan menodai “darah biru” rock n’ roll The Fly, yang jelas kerjasama mereka bubar jalan.
Nampaknya kehilangan vokalis untuk kedua kalinya cukup memberi trauma pada The Fly. Semenjak keluar pada pertengahan tahun 2009, Sinar The Fly meredup. Tanda-tanda kehidupan band ini mulai kembali terdeteksi pada April 2010. Ketika itu, mereka menjadi salah satu pengisi acara Rolling Stone Release Party bersama Komunal, The Authentics, dan Seringai. Cuma ada yang janggal ketika itu, The Fly tidak memakai nama The Fly, tapi “Project The Fly”.
Dari beberapa review gig yang ada di Internet, penampilan Project The Fly ketika itu tidak mendapat sambutan antusias dari penonton. (Project) The Fly yang sebelumnya dicap U2 banget, sekarang justru dicap ke-“Muse-Muse”-an. Penghakiman ini hadir karena Project The Fly menghadirkan vokalis dengan suara falsetto (yang kemudian diperkenalkan sebagai vokalis The Fly berikutnya). Project The Fly mendapat kritik seperti band yang limbung dan hilang arah. Musik mereka terasa mentah sampai-sampai Kin (mungkin) merasa gak percaya diri dan bertanya ke penonton, “Lagunya agak aneh ya?”
Satu tahun berlalu, paruh kedua 2010, The Fly mulai aktif di sosial media. Mereka pun mengumumkan rencana rilis album baru dengan vokalis baru. Ketika ditanya apakah mereka akan memakai nama “The Fly” atau “Project The Fly”, Kin menjawab, “Namanya tetap The Fly kok.”
Sempat molor beberapa lama, akhirnya album baru The Fly keluar di 2011 (A New Beginning From Another Beginning’s End). Keluarnya album baru ini sekaligus memperkenalkan vokalis baru mereka, Teddy.
Secara musikalitas, The Fly jelas berkembang ke arah yang baik. Suara-suara yang mereka hasilkan semakin rumit, namun di saat yang bersamaan juga indah. Memang nuansa Muse terasa di beberapa sisi. Tapi ayolah, terinspirasi band lain itu kan sah-sah saja.
Mungkin tidak semua orang bisa dengan mudah mencerna musik di album ini, namun boleh dibilang inilah album rekaman The Fly yang paling matang, walaupun tidak semua penggemar mereka menyukai perubahan yang begitu drastis ini.
Entah kutukan atau apa, pada pertengahan 2013, The Fly mengumumkan bahwa posisi vokalis mereka tidak lagi diisi oleh Teddy. Tidak begitu jelas apa yang terjadi di band ini. Setidaknya semoga mereka berpisah dengan baik-baik, tidak seperti dua vokalis sebelumnya. Ketika Kin ditanya mengenai apa yang terjadi dengan Teddy, Ia hanya menjawab bahwa album bersama Teddy hanya sebuah proyek. Ia pun menjanjikan bahwa album berikutnya akan kembali ke akar musik The Fly. Apakah artinya The Fly tidak akan terasa Muse lagi? Apakah The Fly akan kembali terasa seperti U2? Tentu idealnya The Fly akan terdengar seperti The Fly.
Lelah berganti-ganti vokalis akhirnya band ini mempercayai sang frontman Kin Aulia untuk memperluas hegemoninya di band. Kini Kin Aulia juga merangkap sebagai vokalis. Sebuah keputusan yang didukung banyak pihak, bahkan dari Adib Hidayat, Pimpinan Redaksi Rolling Stone Indonesia.
Pengumuman ini sebenarnya tidak terlalu mengejutkan. Hit pertama The Fly, Pelangi Semu, pun vokalnya diisi sepenuhnya oleh Kin. Padahal ketika itu, secara de jure vokalis The Fly adalah B’jah. Pemilihan Pelangi Semu sebagai lagu yang dibuatkan video klipnya membuat B’jah harus puas dengan hanya menggoyang-goyangkan badannya saja di video klip tanpa ikut bernyanyi.
Selain di Pelangi Semu, ada juga beberapa lagu The Fly yang vokalnya diisi oleh Kin seperti di lagu “Cahaya Kalbu”. Duet mautnya dengan B’jah di lagu Terbang juga melengkapi karakter vokal B’jah yang bermain di nada-nada rendah.
Kualitas vokal Kin memang tidak jelek. Dengan suara yang melengking, karakter suaranya memang pas membawakan lagu-lagu rock. Namun suara Kin sekarang bukan lagi sekedar pelengkap seperti Richie Sambora di band Bon Jovi yang hanya bernyanyi sekali-kali dalam sebuah konser. Kin tetap harus membuktikan bahwa dirinya mampu untuk  tampil secara live dengan bernyanyi penuh penghayatan sekaligus bermain gitar dengan repertoir panjang. Penghayatan menjadi faktor kritis dalam karir musik The Fly berikutnya, karena penghayatan lagu adalah ciri khas The Fly selama ini.