Kegiatan sore paling seru di jaman sekolah dulu adalah main bola bareng temen-temen sekomplek. Walaupun kita main sambil nyeker dan lapangannya berupa tanah merah tanpa rumput, kita gak mau kompromi soal "bola"nya. Kita paling anti pakai bola plastik yang cuma sekali pakai dan arahnya gak bisa ketebak kalo ada angin agak kencang.
Untuk urusan bola ini, kita pernah patungan. Sepakatlah kita untuk beli bola merk molten. Celakanya, bola molten ini kalau lapisan kulit luarnya sudah mulai retak dan terkelupas, mudah menyerap air. Jadi kalau kita main setelah hujan atau ketika hujan, bolanya jadi berat. Nendangnya harus lebih kencang. Akhirnya, orang yang menahan bola ini bisa seperti ditabrak sepeda motor.
Sebelum patungan, kita biasanya pakai bola salah satu teman kami. Kebetulan dia memang agak berada. Cuma masalahnya, dia ini gak jago-jago amat main bola dan gak tertarik-tertarik amat main bola. Gak tau kenapa dia bisa sampai bisa punya bola. Jadi kalau dia agak ngambek, terpaksa agenda main sepakbola kita batalkan.
Dari sejarah pinjam-pinjam bola, yang paling unik adalah bola milik satu anak ini. Kita-kita yang main bola ketika itu rata-rata sudah SMP-SMA. Cuma 1-2 orang yang masih SD. Itu pun sudah menjelang lulus. Tapi anak satu ini unik. Dia masih kelas 2 SD, tapi gaulnya dengan kita. Soal permainan jangan ditanya. Sama sekali tidak bisa diharapkan. Ya namanya juga anak kelas 2 SD disuruh berhadapan dengan anak SMA. Kalau bermain, kita sering naruh dia sebagai striker.
"Sana tunggu di dekat gawang. Nanti gua oper," itu instruksi yang biasa kita kasih kalau lagi sial harus satu tim dengannya. Sebenernya itu akal-akalan kita saja supaya permainan kita gak direcokin anak kecil. Kalau ada perebutan bola dan dia terlibat di dalamnya, salah-salah kakinya bisa kena gaprak.
Jadi sebenarnya anak itu tidak menjadi co-factor dalam permainan. Ketidakterlibatannya justru berpengaruh positif kepada timnya. Akhirnya dia jarang mendapat bola walaupun sudah teriak-teriak minta dioper. Kalau ada teman satu timnya yang nembak dan gagal gol, dia langsung mengumpat karena merasa peluangnya akan lebih baik kalau bola dioper ke dia terlebih dahulu. Walaupun dia paling muda, tapi mulut dia yang paling sompral. Segala rupa sumpah serapah acap mengucur deras dari mulut mungilnya. Sementara kakak-kakaknya hanya tertawa sambil geleng-geleng kepala. Saya lupa namanya. Kalaupun ingat, gak akan juga sih saya taruh namanya di sini sih. Hehe.
Kembali ke bola. Bola yang dipunya anak ini unik. Warnanya kuning, seperti bola yang biasa digunakan di liga jerman atau rusia ketika turun salju. Tapi jangan samakan bola ini dengan bola standar Bundesliga. Bola ini sebenarnya adalah sumbangan natura dari partai golkar ketika pemilu. Selain warnanya yang kuning, logo golkar juga tercap sangat jelas. Kalau biasanya natura itu berupa kaos, baliho, atau bendera partai, ini justru bola sepakbola. Memang sih sepakbola itu olahraga rakyat, dan mendekatkan partai ke rakyat lewat sepakbola menjadi terasa logis. Tapi kalau logonya malah ditendang-tendang, bukannya justru memunculkan makna implisit? He....

0 tanggapan:
Posting Komentar