Sambil mengemudikan mobil bak-nya, Agus bertanya, “Kenapa gak ada jabatan untuk petani yang level atas-atas?”
Kami baru saja melakukan asesmen kompetensi kepada kelompok tani di daerah Pamijahan. Kelompok tani yang beberapa anggotanya bahkan masih kesulitan baca tulis. Ketika mereka mengisi form aplikasi, sempat tidak sengaja terdengar, “Lamun kemis teh kumaha nulisna?”
Bahkan menulis “kamis” pun mereka butuh validasi. K-A-M-I-S.
Sertifikasi profesi di bidang pertanian ini memang lebih banyak berkutat di jenjang-jenjang bawah. Jabatan yang dapat diduduki langsung oleh sekadar tamatan SD. Pekerjaan yang lebih membutuhkan ketrampilan ketimbang daya analisis. Membaca dan menulis jadi tidak penting-penting amat. Makanya pertanyaan Agus tadi cukup mengusik.
Saya menjawab pertanyaan Agus sambil separuh berkilah, ”Lah, kan ada jabatan manajer produksi agribisnis, manajer pemasaran agribisnis, dll. Itu sudah jenjang 6, lho.”
Agus tidak puas dengan jawaban saya, “Itu kan untuk yang kerja di kebun. Di perusahaan. Kalau yang seperti saya ini bagaimana? Yang usaha sendiri. Saya ingin ada jabatan petani, tapi levelnya tinggi. Petani tapi setara dengan manajer, bukan yang level 3.”
Mendengar itu, saya jadi teringat percakapan saya dengan Pak Iman, atasan saya di kantor LSP. Pernah sekali waktu saya menanyakan kenapa nama-nama skema sertifikasi kita terlalu birokratis: pelaksana budidaya sayuran, pelaksana budidaya tanaman anggrek, pelaksana budidaya tanaman buah. Kenapa tidak langsung saja petani sayuran, petani anggrek, dan seterusnya.
Alasan pak Iman ketika itu adalah pelaksana budidaya itu berbeda dengan petani. Pelaksana budidaya itu orang yang bekerja di lahan, sedangkan petani sudah harus memikirkan aspek penjadwalan, penjualan, pemasaran dan lain-lain.
Ternyata pekerjaan “petani” memang tidak rendahan. Ternyata pemahaman saya soal "petani" sudah paripurna sedari lama, hanya tertutupi oleh persepsi umum yang mengasosiasikan petani dengan pekerjaan rendahan.
Mengutip senior saya yang lain di kesempatan yang lain juga, “Petani itu harusnya kaya. Yang miskin itu biasanya buruh tani. Sama dengan buruh pabrik, biasanya miskin. Tapi yang punya pabrik, ya harusnya kaya.”
***
Pada satu kesempatan, saya lupa bagaimana ceritanya, tiba-tiba saya ikut serta di sebuah rapat yang diadakan Kementerian Pertanian. Rapat itu sedang membahas susunan Kualifikasi Kerja Nasional Indonesia (KKNI) untuk bidang hortikultura.
Ketika sedang membahas kemungkinan-kemungkinan jabatan di tiap jenjang, saya ingat dengan kegusaran Agus ketika itu. Saya pun mengusulkan untuk jenjang 5, diisi dengan aneka rupa jabatan dengan awalan petani. Petani sayuran, petani tanaman buah, petani tanaman hias, dan seterusnya.
Salah satu argumen saya ketika itu adalah sebagai penghormatan kepada petani sekaligus menempatkan petani pada posisi yang seharusnya. Bahwa petani bukan sekadar bercocok tanam, tapi juga merencakanan produksi dan berjualan layaknya pengusaha. Terasa populis sekali ya? Hehe
Resistensi terhadap usul tersebut langsung terasa. Walaupun tidak konfrontatif, tapi ada masukan-masukan untuk tidak mengganti istilah “petani”, menjadi “pelaku usaha tani”. Sekali lagi, menurut saya, penamaan jabatan ini terasa sangat birokratis. Argumen mereka yang kontra adalah jabatan “petani” terasa sulit untuk dijual. Argumen yang sangat bisa saya pahami.
Untungnya ada beberapa anggota rapat yang pro terhadap usul jabatan “petani”. Bahwa memang kenyataannya saat ini mulai banyak petani yang tersadarkan bahwa profesinya bukanlah sesuatu yang harus membuatnya minder.
Bahwa saat ini mulai banyak anak-anak muda yang tertarik dengan dunia pertanian. Bahkan Agus yang keluhannya dijadikan pembuka tulisan ini pun selalu bangga bilang bahwa kolom pekerjaan di KTP-nya adalah petani. Tidak seperti petani-petani angkatan lama yang lebih senang berkamuflase di balik kata “wiraswasta”.
Pertanian yang sempat teralienasi, perlahan-lahan mulai kembali ke arus utama. Banyak anak muda kota yang tertarik untuk bercocok tanam. Budidaya hidroponik, pertanian organik, sampai perkebunan kopi menjadi hal yang menarik untuk dipelajari.
Maka hanya soal waktu sampai profesi “petani” menjadi sesuatu yang normal dicita-citakan. Bersanding dengan polisi, dokter, dan presiden.