Nama lokalnya obrok-obrok. Disebut demikian karena ketika sepeda motornya berjalan di areal perkebunan yang jalannya bergelombang, isi rak jualannya terbanting-banting sehingga menimbulkan suara "obrok-obrok-obrok-obrok".
Obrok-obrokObrok-obrok adalah istilah untuk pedagang makanan yang biasa berkeliaran di areal perkebunan tebu di Lampung. Mereka berkeliling dengan menggunakan sepeda motor. Sementara barang dagangannya disusun di dalam rak yang ada di bagian belakang sepeda motor.
Dagangannya cukup variatif. Mulai dari gorengan sampai nasi uduk. Minuman es pun tersedia, yang paling populer adalah es marijan. Sebenarnya es marijan ini adalah air es dengan campuran minuman energi kuku bimasachet -an. Disebut es marijan karena bintang iklan produk tersebut adalah Mbah Marijan, sang juru kunci Gunung Merapi.
Salah satu menu unik yang biasa ada di obrok-obrok adalah tiwul goreng. Saya agak sangsi untuk memakannya ketika pertama kali tahu makanan ini. Maklum, tiwul identik dengan makananlow-end .
Dagangannya cukup variatif. Mulai dari gorengan sampai nasi uduk. Minuman es pun tersedia, yang paling populer adalah es marijan. Sebenarnya es marijan ini adalah air es dengan campuran minuman energi kuku bima
Salah satu menu unik yang biasa ada di obrok-obrok adalah tiwul goreng. Saya agak sangsi untuk memakannya ketika pertama kali tahu makanan ini. Maklum, tiwul identik dengan makanan
Tiwul GorengTiwul sendiri sederhananya adalah tumbukan singkong yang sudah dikeringkan. Untuk membuat tiwul goreng, tiwul dicampur dengan beras kemudian dimasak menjadi nasi tiwul. Hasilnya kurang lebih seperti campuran nasi dan jagung pada nasi jagung. Selanjutnya nasi tiwul itu dimasak seperti membuat nasi goreng. Inilah yang disebut dengan tiwul goreng. Berbeda dengan ekspektasi awal saya, ternyata tiwul goreng enak juga lho.
Tiwul yang selama ini identik dengan makanan kelas bawah, ternyata jika ditilik dari harganya kini sudah layak untuk "naik kasta". Di daerah Lampung Tengah dan Lampung Timur, harga tiwul mencapai Rp 7000,00 per kilogramnya. bandingkan dengan harga beras kualitas sedang di sini yang hanya Rp 5500,00 - 6000,00 per kilogramnya. Berdirinya beberapa pabrik bioetanol berbasis singkong di Lampung agaknya turut punya andil dalam melambungkan harga tiwul.
Namun demikian, meskipun harganya kian hari makin meroket, rasanya tiwul tidak akan pernah lepas dari asalnya. Ia akan setia bersama penggemarnya semenjak dulu, mereka dari kelas pekerja bawah.
4 tanggapan:
ohh ini th re.. yang lo maksud :D
oh baru tau kalo yg namanya obrok-obrok itu yang kayak gini. makasih infonya
hahha kiri banget
kenapa banyak yang bilang kiri banget sih? padahal kayaknya biasa aja.
Poskan Komentar